Tag Archive | USG

USG dan JENIS KELAMIN JANIN

Ingin tahu hal apa yang paling sering ditanyakan oleh pasutri saat datang ke dokter kandungan dan diperiksa USG? Tak lain dan tak bukan adalah jenis kelamin.  Ini buktinya……

Saat kehamilah baru saja terdiagnosa …..

“Alhamdulillah, ibu benar hamil usia 5 minggu.  Sudah tampak kantung kehamilan di dalam rahim, namun belum nampak janin di dalamnya”.

“Dokter, kami ingin anak laki-laki. Bagaimana caranya? Harus makan apa? 

2 bulan kemudian, di usia kehamilan 13 minggu…..

“Alhamdulillah, janin sehat dan aktif. Gerakan banyak meski belum dirasakan oleh ibu.  Denyut jantungnya 150 kali per menit”.

“Dokter, apakah sudah ketahuan jenis kelaminnya? Teman-teman sudah banyak yang menanyakan”.

Dan saat kehamilan mencapai 20 minggu…..

“Alhamdulillah, janinnya sehat.  Tumbuh kembangnya sesuai dengan usia kandungannya. Bla…bla…”.

(Tidak terlalu menyimak keterangan dokter) “Jenis kelaminnya apa, dok?

“In syaa Allah diperkirakan laki/perempuan, ibu”.

“Lho, kok belum pasti begitu, dok?”

Awal trimester 3 , 28 minggu….

“Dok, jenis kelamin bayi saya apa ya?”

“Lho bukannya sudah pernah saya infokan”.

“Bukannya bisa berubah  dok?”

Hampir lahir, 36 minggu

“Alhamdulillah….janin sehat, beratnya sudah 2600 gram. Ketuban masih cukup jumlahnya”.

“Dok, kelaminnya masih laki/perempuan? Belum ada kepastian?”

Hadeuuuuuhhhh…. cape juga ya 9 bulan Cuma mengurusi jenis kelamin?

Padahal jenis kelamin cuma dua. Kalau tidak laki-laki…ya perempuan. Memang mau dikasih Allah di luar yang dua itu?

 

Kapan jenis kelamin ditentukan?

Ayo buka lagi pelajaran biologi.  Kehamilan terjadi apabila terjadi pembuahan, yaitu pertemuan antara sel telur dan sel sperma di dalam saluran telur (tuba Fallopii).  Sel sperma membawa kromosom X dan Y, sedangkan sel telur membawa kromosom X saja.  Apabila yang membuahi sel telur adalah sperma dengan kromosom Y maka jadilah janin laki-laki.  Sedangkan apabila yang membuahi sel telur adalah sel sperma dengan kromosom X maka yang terjadi adalah janin dengan jenis kelamin perempuan.  Kesimpulannya, jenis kelamin sudah ditentukan sejak periode pembuahan.  Pada saat itu bahkan seorang wanita belum menyadari kehamilannya.

Lalu apa yang dilihat dari USG?

Alat ultrasonografi (USG) yang bekerja berdasarkan gelombang suara, dapat menggambarkan janin dalam bentuk fisik.  Maka jenis kelamin baru bisa dilihat dengan USG apabila bentuk alat kelamin sudah jelas.  Jelas bukan perbedaan antara JENIS kelamin dan ALAT/ORGAN kelamin? Pada umumnya, bentuk alat kelamin dapat dengan jelas diidentifikasi setelah usia kehamilan 20 minggu.  Pada beberapa kasus memang bisa dilihat bentuk alat kelamin pada usia kehamilan yang lebih muda, namun kebanyakan gambarannya belum jelas.

Janin laki-laki diindetifikasi dengan tampaknya gambaran skrotum (kantung zakar).  Terkadang tampak lengkap kantung zakar dan penisnya. Bahkan pada janin yang lebih besar bisa tampak buah zakar yang berada dalam kantung zakar.  Janin perempuan diidentifikasi dari gambaran 2 buah bibir kemaluan.  Secara anatomi, identifikasi kelamin laki-laki lebih mudah daripada kelamin perempuan.  Oleh karenanya, tingkat kesalahan identifikasi janin perempuan lebih besar daripada janin laki2.

 

janin-perempuan-dari

tampak bibir kemaluan sebagai interpretasi janin perempuan di usia 28 pekan

 

janin-laki-dari-wikipedia

gambaran skrotum dan penis menunjukkan janin laki2

Betulkah jenis kelamin bisa berubah?

Nah, seperti yang sudah dipaparkan di atas, berhubung identifikasi jenis kelamin janin lewat  USG adalah berdaasarkan bentuk alat kelamin, maka kesalahan persepsi/interpretasi sangat mungkin terjadi.  Kesalahan tersebut dipengaruhi juga oleh usia kehamilan, posisi janin, jumlah air ketuban, ketebalan dinding perut ibu, disamping  jam terbang operator dan juga kualitas mesin USG . Jadi kalau suatu saat dikatakan jenis kelamin tertentu dan beberapa waktu kemudian ternyata berbeda maka hal tersebut wajar saja.  Dikatakan bahwa kesalahan yang dapat ditoleransi adalah 5%.  Jadi sekali lagi, bukan jenis kelamin berubah, melainkan persepsi pemeriksalah yang berubah.

Lalu kapan jenis kelamin tersebut dapat dipastikan?

Kalau kepada saya diajukan pertanyaan tersebut maka dengan mudah saya jawab, “Pastinya kalau sudah lahir”. 

“Ya, iyalah, dok”.

Maksudnya begini, melihat sesuatu yang ada di dalam rahim dengan perantaraan alat, maka sebagai manusia kita tidak berani mendahului kepastian dari Allah SWT.  Meskipun ada juga kelainan bawaan yang dikaitkan dengan jenis kelamin janin.  Artinya, pendeteksian jenis kelamin janin itu dikaitkan dengan hal-hal medis yang terkait kesehatan bayi saat lahirnya nanti.  Bukan sekadar untuk referensi mencari nama atau warna baju bayi.  Apalagi kalau hanya untuk menjawab keingintahuan kakek nenek dan handai taulan.

Contoh, kalau janin terdeteksi laki-laki maka bisa dilihat apakah buah zakar (testis) sudah berada di dalam kantung zakar (skrotum) saat usia cukup bulan? Contoh lain,  Kelainan bawaan tertentu ternyata lebih banyak didapatkan pada janin laki-laki.

Bagaimana Bila Jenis Kelamin Ternyata Tidak Sesuai dengan Prediksi atau Harapan Ortu

“Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaanmu) ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu…(surat An Najm ayat 32)

Tidak ada pilihan lain kecuali menerima dengan ikhlas dan tawakkal. Allah lah yang paling mengetahui yang terbaik.   Jangan sampai terjadi salah pengasuhan pada bayi/anak dikarenakan ia berjenis kelamin tidak sesuai dengan harapan. Misalnya, karena orang tua mendambakan anak perempuan setelah 3 anak sebelumnya laki-laki semua, maka anak laki2 keempat sering dipakaikan rok bahkan jilbab kecil.  Demikian pula sebaliknya. Ingat, banyak sekali kasus-kasus LGBT yang berawal dari salah asuh di masa kecil.

Dalam menghadapi jenis kelamin yang tidak sesuai harapan ini hendaknya juga tidak ada saling menyalahkan di antara kedua orang tua.  Yang sering terjadi adalah suami menyalahkan istri karena tidak bisa memberikan anak dengan jenis kelamin tertentu.  Sedangkan kalau kita simak lagi penjelasan di awal tulisan, kromosom pembawa jenis kelamin ada di sperma.  Maka bisa disimpulkan bahwa yang menentukan jenis kelamin adalah pihak suami. Meskipun demikian ada penelitian yang menunjukkan bahwa suasana vagina memberikan andil untuk sperma berkromosom X atau Y yang bakal eksis dan dapat membuahi. (nin)

 

sumber gambar : wikipedia

 

 

Iklan

Hamil Palsu [Bukan Klenik Bukan Sihir]

Ternate, awal 2000

Seorang wanita muda berbadan subur masuk ke ruang pemeriksaan diiringi oleh wanita lain yang tampak lebih tua, mungkin ibunya. Ternyata tidak hanya berbadan subur, tetapi rupanya si wanita muda itu juga hamil.

“Bu dokter, ini sudah lewat bulannya tapi belum juga lahir. Tolong diperiksa apa masih normal”, itu kata pembuka dari sang ibu. Sedangkan si calon ibu muda tampak tenang-tenang saja. Ia merupakan pasien baru, sehingga sebelum ini saya tak memiliki data apa pun.

Setelah wawancara singkat meliputi tanggal haid terakhir, bagaimana aktivitas gerakan janin dan apakah sudah merasakan kontraksi yang semua saya catat di berkas rekam medik, maka si ibu muda dipersilakan naik ke tempat pemeriksaan oleh bidan asisten saya. Periksa punya periksa….tak teraba batas puncak rahim, yang seharusnya kalau sudah cukup bulan akan sangat mudah ditemukan di bawah tulang dada. Dugaan saya, mungkin karena dinding perutnya terlalu tebal. Meraba bagian tubuh janin sulit, apalagi menemukan denyut jantung janin. Jangan- jangan sudah lewat waktu betulan dan sudah terjadi insufisiensi plasenta sehingga janin akhirnya…..

Jalan terakhir…USG. Ternyata, tak tampak apa pun. Tak ada tanda-tanda kehamilan. Seluruh pemeriksaan fisik dan penunjang selaras tidak ada yang bertentangan. Karena setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium, test kehamilan pun negatif. Maka jelaslah, ini kasus hamil palsu.

Maka sekarang giliran saya yang harus menjelaskan kepada ibu dan putrinya tersebut. Makan waktu, tentunya. Belum lagi mereka harus menjelaskan kepada keluarga yang lain.

###

15 tahun kemudian, di ibukota …..

Pasien berikutnya yang masuk ke ruangan konsultasi adalah nyonya Fulan, dia pasien lama. Bahkan persalinan anaknya yang kedua sayalah yang menolongnya. Riwayatnya cukup mengundang simpati. Empat kali hamil, terdiri dari 2 kali keguguran dan 2 kali lahir normal, namun kedua bayi yang lahir normal tersebut wafat di usia di bawah 1 tahun. Sehingga saya menyambutnya dengan bahagia dan penuh rasa syukur tatkala ia mengabarkan kehamilannya yang sudah mencapai usia 7 bulan.

“Mungkin juga sudah delapan bulan dok, kalau lihat perutnya yang sebesar itu”, ujar ibu nyonya Fulan yang berusia 60an.

“Bu dokter, tapi ada orang yang nyembunyiin bayi saya. Jadi nanti mungkin tidak terlihat ya, dok. Sudah beberapa bidan dan dokter juga tidak bisa melihatnya,” ucapan bu Fulanah saat saya sedang bersiap-siap memeriksa.

“Lho, siapa yang menyembunyikan, bu? Memangnya bisa?”, saya menyahut sambil meraba perutnya dan meraba massa di atas pusatnya. “Jadi selama ini ibu sudah periksa kemana saja?” kali ini mencoba mencari denyut jantung janin yang akhirnya tidak ketemu.

“Yah, namanya orang, pastinya ada saja yang gak suka sama saya, bu dokter. Nah, tidak ada kan bu dokter”, nyonya Fulanah rupanya menangkap raut muka saya yang keheranan dengan tampilan di monitor USG. Kosong. Tak tampak janin, dan bahkan rahim tampak kecil. Rahim normal ukuran tidak hamil!

Naah….ini kasus hamil palsu lagi. Tapi kali ini si ibu menyadari bahwa ‘hanya dia yang merasa hamil’ sedangkan orang lain tidak bisa mendeteksi keberadaan janinnya.

Kembali ke tempat duduk, ibu nyonya Fulanah – yang tentu saja mendengar percakapan kami di balik tirai – kontan jadi resah. Mungkin setelah berkeliling ke beberapa dokter dan bidan yang mengatakan tidak ada kehamilan, akhirnya mereka menyandarkan pada jawaban saya hari ini. Mungkin juga karena ingat, sayalah yang menolong persalinan terakhirnya.

Sepertinya saya harus menjelaskan terlebih dahulu kepada ibunya, yang relatif masih bisa berpikir logis. Maka nyonya Fulanah saya minta pergi ke laboratorium dulu untuk beberapa test dan ibunya saya tahan di ruangan. Membutuhkan beberapa waktu lamanya sampai si ibu mau dan mampu memahami. Meskipun pertanyaan besarnya adalah, “Lalu perutnya yang membuncit itu berisi apa?” Seperti yang sudah diduga, hasil test kehamilan adalah negatif. Akhirnya nyonya Fulanah saya konsulkan ke dokter spesialis penyakit dalam untuk menagani kadar gulanya yang meningkat.

###

janin usia 8 minggu, jantungnya sudah berdenyut

janin usia 8 minggu, jantungnya sudah berdenyut

Hamil palsu bukan masalah santet atau klenik. Meskipun pernah sekali dua kita baca di surat kabar kuning, cerita seorang ibu yang kehamilannya mendadak hilang. Kasus seperti ini dikenal dalam dunia medis dengan sebutan Pseudocyesis. Dasar penyebabnya adalah masalah psikologis, yaitu keinginan yang sangat kuat untuk hamil. Bisa juga karena ketakutan kehilangan orang yang disayanginya (suami). Emosi yang kuat ini menyebabkan perubahan hormonal, yaitu terhentinya produksi hormon gonadotropin sehingga mengakibatkan berhentinya haid. Emosi jugalah yang mendasari timbulnya berbagai keluhan khas hamil, misalnya mual, sebah, payudara tegang, bahkan sampai keluar cairan kolostrum. Adapun perut yang membesar umumnya disebabkan oleh timbunan lemak atau kembung belaka. Pembuktian bahwa tidak ada kehamilan berasal dari pemeriksaan USG, atau ronsen.

Tentu saja diperlukan tata komunikasi yang baik dengan si ibu, suaminya, bahkan dengan keluarga besarnya untuk menjelaskan masalah ini. Siapa yang tidak kaget, saat harap-harap cemas menunggu lahirnya si jabang bayi yang tinggal menghitung hari mendadak ada informasi bahwa perut yang membesar selama ini hanya berisi usus dan lemak, tanpa ada janin di dalamnya. Dokter pun disarankan untuk mendokumentasikan dengan baik semua hasil pemeriksaan yang sudah dikerjakan, karena jangan sampai terjadi pemutarbalikan fakta, malah dokternya yang dituduh menipu, memberikan keterangan palsu. Na’udzubillah.

Mengingat kasus hamil palsu seperti ini umumnya menimpa seseorang yang sangat mendambakan kehamilan, maka saya menyarankan pasangan yang sedang melakukan program hamil untuk senantiasa dekat dengan Allah SWT.  Berdoa kepada Allah selaku pemilik dan pemelihara segala kehidupan. Berusaha,  dengan berkonsultasi kepada ahlinya, yang mana si ahli tersebut adalah juga manusia biasa yang ilmunya juga berasal dari Allah, dan dalam mengobati juga menyadarkan keberhasilannya kepada Allah.  Dan terakhir adalah tawakkal…menyerahkan hasil dari usaha dan doa tersebut – lagi2 – kepada Allah.

Kenapa demikian? Di saat seseorang galau dengan keinginan hadirnya seorang bayi, maka banyak pihak yang dengamn senang hati “membantu” untuk mengeruk keuntungan pribadi.  Acap kali saya temui, seorang wanita dinyatakan hamil oleh “orang pintar” atau “ajengan anu” tapi dengan syarat Pantang untuk diperiksa oleh dokter atau bidan.  Sekali saja ia mendatangi bidan, maka kehamilannya langsung lenyap. Nah!

Bukan FF – Tetap Bertahan

Saat pasien tersebut mendapat giliran masuk ruangan, sudah saya siapkan senyum gembira untuk menyambutnya.  Dari anamnesa (wawancara) awal yang sudah dilakukan oleh bidan, saya tahu bahwa saat ini ia sedang hamil untuk ketigakalinya, setelah sepasang balitanya lahir melalui operasi sesar.  Dan kedua operasi tersebut, saya juga yang melakukannya.

Namun yang  saya jumpai sungguh sangat berbeda! Ia masuk dengan wajah murung, diiringi sang suami dengan wajah tak kalah kusut.  Lho, apa pasal? Apa mereka kelamaan menunggu ya?  Bahkan ucapan salam saya dijawabnya asal-asalan.  Saya tak boleh larut.  Setelah prosedur standar pemeriksaan selesai dilakukan, saya katakan bahwa memang betul ia telah hamil dengan usia 6 pekan.  Kantung kehamilan telah nampak jelas dalam rahimnya, sementara bayangan janin juga tergambar.

Dan di sinilah persoalannya mulai jelas.  Mereka – bukan hanya ibunya, tapi ayahnya juga – tak menghendaki kehamilan ini! Atau jelasnya, “Tolong dikeluarkan saja, dok!”
“Kami belum siap untuk punya anak lagi”, kata suami.
“Kedua anak ini sungguh merepotkan.  Saya lelah mengasuhnya seorang diri”, sambung istri.
Lucunya,  sepasang anak yang dituding jadi biang keladi kerepotan itu justru sedang asyik mewarnai buku bergambar dilantai.  Pas lagi rukun, mungkin.

“Ya Allah, menangkan saya dalam ‘pertandingan’ ini”, demikian saya berdoa.  Bukan apa-apa, memberikan penjelasan kepada pasien yang ‘lagi panas’ begini perlu argumentasi yang tepat dan tentu saja, kepala harus tetap dingin.  Artinya, jangan kita larut dalam emosi karena luapan kemarahan mereka.  Tapi juga jangan ringan tangan mematuhi apapun yang mereka inginkan . Saya selalu mengibaratkan, “ibu sedang bimbang berdiri di pinggir jurang, sudah menjadi kewajiban saya untuk menolong dari kemungkinan jatuh ke dalam jurang. Bukannya malah menjorokkan”.  Namun tak semudah itu mengubah persepsi seseorang yang sedang dalam fase ‘menolak’. 
Akhirnya keluarga tersebut keluar dari ruangan saya dengan muka yang tak berubah.  Masih kusut, dan mungkin tambah kusut karena permintaannya tak dapat diterima.  Sehingga tak heran, saat itu mereka keluar dengan membanting pintu!  Saya pun tak berharap banyak.

Namun siapa sangka, sebulan kemudian mereka datang lagi! Wajah sudah berangsur cerah. Kelihatannya saat ini sudah memasuki fase ‘menerima’.  Saat  saya tunjukkan gambar USG dengan janin kecil bergerak lincah ia pun nampak gembira.  Dan itu berlanjut pada kedatangan-kedatangan selanjutnya.  Meskipun, sesekali ia masih menagih janji, tepatnya mengingatkan saya.
“Nanti setelah kelahiran yang ketiga ini saya tetap disteril kan, dok?” Kali ini jawaban saya terasa ringan karena kalau tindakan yang disebutkannya mempunyai indikasi medis yang jelas.

Peristiwa ini selalu saya ceritakan kembali kepada para pasutri yang berniat serupa di waktu-waktu sesudahnya.

(FF) Berbakti

Terimalah, bu.  Hanya ini yang bisa Fatimah berikan”.

Ibu tak kuasa menahan haru.  Sambil terisak, didekapnya buku kecil itu. Buku tabungan haji  dari sebuah bank syariah.  Isinya  sesuai ONH yang disyaratkan pemerintah.

Lama ia mengubur mimpinya untuk menunaikan rukun Islam ke lima.  Setelah kematian suaminya 5 tahun yang lalu hidupnya jadi hampa.  Anaknya yang  6 orang,  semuanya tinggal di luar kota.  Bahkan si bungsu , Fatimah, tinggal di Hongkong sebagai pekerja migran.  Cita-cita berangkat ke tanah suci  kandas setelah suaminya didiagnosa kanker tulang.  Tabungan haji terpaksa direlakan untuk biaya berobat yang tinggi di awang-awang.  Toh, akhirnya suaminya berpulang. …….


Dua Puluh Empat tahun yang lalu…………………..

Sendirian ia berada di ruang praktek dokter kandungan yang dingin itu.  Wajahnya sembab berbekas air mata.  Di hadapannya tergeletak sebuah  test kehamilan.  Hasilnya positif.   Ingin ia melempar kotak kecil itu ke bak sampah.  Hatinya masygul!

Dokter itu menolak keinginannya.  Ia cuma minta kehamilan ini diakhiri.  Tahu apa dokter  dengan kerepotan dan segala beban rumah tangganya.  Anaknya sudah lima!  Dan sekarang ada janin bersemayam di rahimnya.    Disesalinya dirinya yang abai dengan tanggal  haid yang terlewat. 

Menurut dokter, kandungannya saat ini sudah 10 pekan. Wow…tampak janin kecil bergerak lincah di layar USG.  Benarkah kata-kata dokter itu bisa dipercaya?
“Bersabarlah, bu.  Siapa tahu anak inilah yang akan memberangkatkan ibu ke tanah suci”.

Itulah kata-kata dokter yang ia anggap mimpi di siang bolong. Dan ia pun langsung berbalik, meninggalkan sang dokter tanpa mengucap salam. ……………………………………………………

Janin kecil yang bergerak lincah tampak di layar USG itu, Fatimahlah orangnya.

FF ini menjadi salah satu peserta lomba FF Ibu dan Anak yang diselenggarakan oleh Ummu Aisyah di

http://kedaimoslem.multiply.com/reviews/item/62

Alhamdulillah, dinyatakan masuk 10 besar.Inspirasi dari kasus-kasus yang acap kali ditemui yakni seorang ibu yang dengan berbagai alasan merasa berat untuk hamil lagi dan berkeinginan menggugurkan kandungannya.  Ada yang akhirnya berhasil melaksanakan niatnya….entah dimana dan bagaimana caranya.  Namun, yang urung mengerjakannya lebih banyak lagi dan akhirnya melahirkan anak yang sehat dan semoga …sholeh dan sholihah.

Gambar dari http://www.republika.co.id

Lho….Kok Bayinya Tidak Diperiksa USG?

Gambar
Sekarang ini, utamanya di kota besar, pemeriksaan dengan alat Ultrasonografi (USG) di saat kontrol hamil sudah merupakan keniscayaan. Bahkan, ada yang merasa kurang sreg kalau belum diperiksa dengan USG. Sehingga, hati merasa tenang dan mantap, bayi terjamin 100% tidak ada kelainan karena sudah di USG setiap kali periksa hamil.
Akibatnya, timbul pertanyaan-pertanyaan yang agak menggugat, saat bayi lahir dan dijumpai kondisi tidak seperti yang diharapkan atau dipersepsikan selama ini.
Hal ini menunjukkan bahwa, sebagaimana sebuah peralatan pada umumnya, USG pun punya keterbatasan. Dan yang tak kalah pentingnya adalah si operator dari alat tersebut. Di atas semua itu, ada Allah SWT, yang  Mahaberkehendak dan Membuat keputusan.
APA DAN BAGAIMANA USG ITU?
USG adalah suatu cara untuk memeriksa kondisi kehamilan dengan menggunakan alat yang mengeluarkan gelombang suara berfrekuensi tinggi.  Jadi berbeda dengan pemeriksaan ronsen, USG sama sekali tidak menggunakan radiasi sinar X.  Sehingga relatif aman bagi janin.
FUNGSI PEMERIKSAAN USG :
TRIMESTER 1

  • Memastikan adanya kehamilan,
  • Mengetahui lokasi kehamilan
  • Mengetahui jumlah janin
  • Mengetahui kemungkinan adanya kelainan bawaan

TRIMESTER 2

  • Mengetahui kondisi dan lokasi plasenta
  • Mengetahui jumlah air ketuban
  • Memantau tumbuh kembang janin serta kelainan bawaan tertentu
  • Memrediksi jenis kelamin (apabila dikehendaki dan bukan merupakan tujuan utama)
  • Tidak harus dilakukan pada setiap kali pemeriksaan kehamilan, namun sesuai indikasi

TRIMESTER 3

  • Memantau tumbuh kembang dan posisi janin
  • Memantau jumlah air ketuban
  • Memantau kondisi dan lokasi plasenta
  • Mengevaluasi kelainan bawaan

JENIS USG

1. USG transvaginal : pemeriksaan USG dengan cara memasukkan tranduser melalui vagina. Sebelum digunakan, transduser terlebih dahulu dibubuhkan jeli dan kemudian dilapisi dengan kondom. Pada umumnya digunakan saat kehamilan trimester 1 atau untuk memeriksa kondisi rahim dan sekitarnya pada saat tidak hamil.
Keuntungan : lebih akurat, dan pasien tidak perlu menahan BAK yang seringkali menimbulkan rasa kurang nyaman
Kerugian :tidak dapat digunakan pada mereka yang belum menikah
2. USG Transabdominal : pemeriksaan USG melalui dinding perut. Jeli dioleskan di perut.
Keuntungan : bisa dilakukan untuk siapa saja, baik yang sudah menikah maupun belum menikah.
Kerugian :
  • kurang akurat pada kehamilan muda atau saat memeriksa kondisi organ reproduksi yang tidak hamil.
  • Pada saat memeriksa kehamilan muda, pasien harus dalam kondisi kandung kemih penuh.
  • Pemeriksaan pada dinding perut yang tebal (orang gemuk), agak sulit.

USG 2 DIMENSI
Merupakan mesin USG standar, yang umum digunakan sampai sekarang.

USG 3 real time (4 DIMENSI)
Bentuk janin (terutama kelainan bawaan) serta sirkulasi janin – plasenta dapat lebih jelas terlihat

 

Pemeriksaan USG dipengaruhi oleh kemampuan alat,  kondisi ibu, dan kondisi janin.  Hasil pemeriksaan USG merupakan temuan yang diperoleh pada saat pemeriksaan dilakukan,  yang mungkin dapat berubah dengan berjalannya waktu.  Hasil pemeriksaan USG tidak menjamin sesuai dengan keadaan pasien yang sebenarnya.
(nin)*gambar koleksi pribadi. Janin usia 8-10 pekan.

Baksos USG di Desa Buniseri, Ciamis.

Ini kenangan akhir tahun 2008 :

Hari ini adalah hari pertama mobil sehat keliling Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) – Indosat beroperasi di daerah binaan yaitu di kabupaten Ciamis, setelah sebelumnya sudah diterjunkan ke daerah banjir di kecamatan Bale Endah, Kabupaten Bandung.  Siang harinya berlangsung pengobatan umum dengan kunjungan 100 orang dan pemeriksaan kesehatan ibu hamil dan balita oleh bidan setempat sebanyak 33 orang.  Sedangkan penggunaan mesin USG  baru bisa terlaksana malam harinya.  USG merk Mindray tersebut sudah dilengkapi dengan sebuah printer.  Keberadaan printer ini penting karena sesuai etika pemeriksaan maka pasien harus mendapatkan hasil pemeriksaan yang lengkap sehingga dapat dibaca juga oleh dokter/bidan yang lain.

Pelaksanaan pemeriksaan USG berlangsung di kamar tidur.  Alat USG diletakkan di atas mesin jahit dan pasien berbaring di atas tempat tidur nomor  satu.  Pemeriksa duduk di atas tempat tidur yang sama, sementara para ‘asisten’ dengan gayeng duduk bersimpuh di atas kasur sembari sesekali melontarkan senda gurau.  Asisten yang terdiri dari para ibu setempat tersebut bertugas untuk menata posisi dan busana pasien, mengelap sisa jelly yang ada di perut pasien, serta melakukan pencatatan hasil pemeriksaan di buku besar.  Tetapi jangan dikira pemeriksaan ini main-main, karena setiap kali pemeriksaan USG yang saya lakukan itu selesai, pasien mendapatkan selembar foto USG plus keterangan singkat.  Teks dalam foto itu dapat dengan mudah dipahami oleh bidan yang melakukan pemeriksaan hamil selama ini.

Malam itu, meski pemeriksaan baru dimulai ba’da ‘Isya ternyata tak menyurutkan semangat dan minat para ibu untuk datang memeriksakan  diri.  Maklumlah, seumur-umur baru kali ini lah kehamilan mereka diperiksa dengan ‘komputer’ (baca :USG).  Seperti yang ucapan yang dilontarkan oleh ibu Adah( 38 tahun), janda 3 anak ini terheran-heran ketika perutnya dilap oleh asisten, pertanda pemeriksaan sudah selesai. 

“Lho, kan USG nya belum, kok sudah disuruh bangun?”

Kontan tawa seisi ruangan berderai…”Ibu, ibu, sudah atuh USG nya, kan yang tadi  itu”, celetuk asisten.

Dari evaluasi ke 14 pasien malam itu, 8 orang adalah kasus kehamilan (obstetri) dan  sisanya adalah kasus penyakit kandungan (ginekologi).  Dari kedelapan orang yang hamil, ternyata 5 orang merupakan kehamilan risiko tinggi dikarenakan usia ibu di atas 35 tahun, dan dengan jarak kehamilan dengan anak terkecil cukup jauh (Ny.E,45 th, at 10 th).  Perlu dianalisa, adakah ini dikarenakan penggunaan alat kontrasepsi yang cukup efektif, namun kurangnya informasi saat seseorang sudah mulai bosan dengan cara tertentu dan menginginkan penggatian cara tapi ternyata malah hamil, atau kehamilan dengan infertiltas sekunder?

MP, 18 Mei 2009

Di tahun 2012 ini kegiatan ini masih berjalan, tentu saja pemeriksaan dengan USG sudah bukan saya lagi yang mengerjakan