Tag Archive | masjid pudong

Belajar Pakai Sumpit di Shanghai (1)

Tadinya terasa berat saat suami meminta saya untuk mendampingi beliau presentasi makalah ilmiah di Shanghai.  Pasalnya acara tersebut berlangsung di bulan Ramadhan.  Terbayang puasa yang lebih panjang waktunya, pun saat berbuka tidak bisa makan dengan bebas karena khawatir dengan kehalalannya.

Namun tugas pantang ditolak.  Maka berselancarlah kami  di dunia maya untuk mencari nama dan lokasi masjid di Shanghai.  Rencananya, bertitik tolak dari masjid itulah kami harapkan ada info tentang penyedia makanan halal atau rumah makan muslim.

Shanghai, kami datang!

Kota terbesar sekaligus tersibuk di China ini bagaikan belantara gedung pencakar langit.  Baik gedung perkantoran maupun apartemen seakan berlomba saling tinggi.  Tak heran bila Shanghai menduduki peringat kelima kota dengan pencakar langit terbanyak.  Meskipun pemerintah sudah berusaha menghidupkan paru-paru kota dengan membuat hutan dan taman yang banyak, namun tak urung kesan hutan beton lebih mendominasi.  Bagusnya, warga lebih memilih menggunakan MRT dibandingkan kendaraan pribadi.  Ini tak lepas dari mahalnya pajak mobil yang bahkan bisa melebihi harga mobil tersebut.  Ongkos taksi juga tidak murah.  Tarif buka pintu antara 14-16 Yuan (28-32 ribu rupiah).  Motor sangat sedikit, dan itu pun motor listrik.  Tanpa suara dan tanpa asap knalpot.  Sebaliknya sepeda sangat banyak.  Ada sepeda pribadi, namun yang lebih banyak adalah sepeda umum.  Maka menjadi sangat memprihatinkan saat mengingat bahwa negeri kita ini sangat dibanjiri oleh motor dan nantinya mobil buatan Tiongkok sementara di negeri asalnya justru tidak dipakai.

 

Makan dengan Tangan Jadi Pusat Perhatian di Masjid Pu Dong

Hari kelima Ramadhan pun kami lalui di Shanghai.  Awal Juni, masuk subuh pada jam 3.15 dan maghrib jam 18.54 waktu setempat.  Karena itu puasa berlangsung selama 16 jam, sedikit lebih panjang waktunya dibandingkan dengan di tanah air.  Namun dengan suhu antara 22-26 derajat celcius, Alhamdulillah tidak ada perbedaan yang bermakna dalam hal haus dan lapar.

Semua masjid di Shanghai pada dasarnya menyediakan makan untuk berbuka puasa.  Jumlahnya pun tak tanggung-tanggung, sampai ratusan porsi.  Dananya berasal dari infaq para jamaah.

Masjid Pu Dong adalah masjid yang pertama kami kunjungi.   Masjid ini beralamat di 375 Yuansheng Road, Pudong District, Shanghai (上海市浦东新区源深路375号).  Sedikit nyasar yang menyebabkan harus jalan kaki balik arah, kami tiba saat adzan magrib menjelang.  Petugas sudah melambai-lambaikan tangan agar kami segera bergegas.  Berbeda dengan di negeri kita, tidak ada lesehan di sini.  Kami ditunjukkan untuk segera masuk ke sebuah ruangan yang ternyata adalah ruang makan.  Penataannya mirip kantin mahasiswa.   Penuh sesak dan hiruk pikuk.   Sayangnya saya tak mengerti apa yang mereka obrolkan.  Jamaah pria dan wanita berada dalam satu ruangan bahkan satu meja.    Sementara itu di meja sudah tersedia takjil berupa seiris semangka, seiris melon, roti, dan semangkuk kuah.  Tak lupa ada teh di gelas plastik.  Roti dan kurma langsung digeletakkan begitu saja di meja yang sudah dialas plastik tipis.

Masjid Pu Dong Couple

Masuknya waktu maghrib ditandai dengan aba-aba dari imam dan didahului dengan doa berbuka puasa.  Tidak ada adzan di sini.  Saat imam selesai berdoa, makanan segera diserbu.  Orang-orang makan dengan cepat.  Roti dicemplungkan ke kuah, dimakan dengan sumpit.  Sisa kuah diminum langsung dari  mangkuknya.  Rampung takjil dilanjutkan dengan sholat maghrib secara cepat dan jamaah segera masuk lagi ke ruang makan yang tadi untuk makan malam.  Kali ini meja sudah dibersihkan dari sisa takjil, berganti dengan makan malam.  Menunya berupa nasi, sayur kangkung, ayam masak mentega, tumis mentimun dan semangkuk kuah tomat.  Keseluruhan hidangan tersebut disajikan dalam sebuah ompreng (nampan stainless seperti di rumah sakit jaman dulu). Dan tidak sama sekali yang namanya sendok atau garpu. Hanya sumpit semata.  Sekali duakali saya masih bisa “memungut” mentimun dengan sumpit.  Tapi nasi? Lolos terus. Tak kurang akal, saya pun makan pakai tangan.  “Muluk” bahasa jawanya.  Bukannya dulu almarhum Haji Agus Salim juga percaya diri makan dengan tangan di suatu jamuan internasional a la Barat?

Masjid Pu Dong Makan Malam Bakda Isya

Tapi ternyata perbuatan saya itu jadi perhatian ibu-ibu tua teman semeja.  Dia kasak kusuk bertanya ke teman-temannya yang lain sesama ibu.  Sepertinya mereka mencari sesuatu.  Naah…akhirnya dapat! Disodorkanlah seperangkat sumpit kepada saya.

“Ayo makan pakai ini.  Jangan pakai tangan”, begitu mungkin ucapannya dalam bahasa Tiongkok. “Ayo terimalah sumpit ini!” si ibu tua terus mendesak.

Haaaa…..rupanya mereka mengira saya makan dengan tangan karena tidak kebagian sumpit.   (nin)

Iklan