Tag Archive | Hamil

USG dan JENIS KELAMIN JANIN

Ingin tahu hal apa yang paling sering ditanyakan oleh pasutri saat datang ke dokter kandungan dan diperiksa USG? Tak lain dan tak bukan adalah jenis kelamin.  Ini buktinya……

Saat kehamilah baru saja terdiagnosa …..

“Alhamdulillah, ibu benar hamil usia 5 minggu.  Sudah tampak kantung kehamilan di dalam rahim, namun belum nampak janin di dalamnya”.

“Dokter, kami ingin anak laki-laki. Bagaimana caranya? Harus makan apa? 

2 bulan kemudian, di usia kehamilan 13 minggu…..

“Alhamdulillah, janin sehat dan aktif. Gerakan banyak meski belum dirasakan oleh ibu.  Denyut jantungnya 150 kali per menit”.

“Dokter, apakah sudah ketahuan jenis kelaminnya? Teman-teman sudah banyak yang menanyakan”.

Dan saat kehamilan mencapai 20 minggu…..

“Alhamdulillah, janinnya sehat.  Tumbuh kembangnya sesuai dengan usia kandungannya. Bla…bla…”.

(Tidak terlalu menyimak keterangan dokter) “Jenis kelaminnya apa, dok?

“In syaa Allah diperkirakan laki/perempuan, ibu”.

“Lho, kok belum pasti begitu, dok?”

Awal trimester 3 , 28 minggu….

“Dok, jenis kelamin bayi saya apa ya?”

“Lho bukannya sudah pernah saya infokan”.

“Bukannya bisa berubah  dok?”

Hampir lahir, 36 minggu

“Alhamdulillah….janin sehat, beratnya sudah 2600 gram. Ketuban masih cukup jumlahnya”.

“Dok, kelaminnya masih laki/perempuan? Belum ada kepastian?”

Hadeuuuuuhhhh…. cape juga ya 9 bulan Cuma mengurusi jenis kelamin?

Padahal jenis kelamin cuma dua. Kalau tidak laki-laki…ya perempuan. Memang mau dikasih Allah di luar yang dua itu?

 

Kapan jenis kelamin ditentukan?

Ayo buka lagi pelajaran biologi.  Kehamilan terjadi apabila terjadi pembuahan, yaitu pertemuan antara sel telur dan sel sperma di dalam saluran telur (tuba Fallopii).  Sel sperma membawa kromosom X dan Y, sedangkan sel telur membawa kromosom X saja.  Apabila yang membuahi sel telur adalah sperma dengan kromosom Y maka jadilah janin laki-laki.  Sedangkan apabila yang membuahi sel telur adalah sel sperma dengan kromosom X maka yang terjadi adalah janin dengan jenis kelamin perempuan.  Kesimpulannya, jenis kelamin sudah ditentukan sejak periode pembuahan.  Pada saat itu bahkan seorang wanita belum menyadari kehamilannya.

Lalu apa yang dilihat dari USG?

Alat ultrasonografi (USG) yang bekerja berdasarkan gelombang suara, dapat menggambarkan janin dalam bentuk fisik.  Maka jenis kelamin baru bisa dilihat dengan USG apabila bentuk alat kelamin sudah jelas.  Jelas bukan perbedaan antara JENIS kelamin dan ALAT/ORGAN kelamin? Pada umumnya, bentuk alat kelamin dapat dengan jelas diidentifikasi setelah usia kehamilan 20 minggu.  Pada beberapa kasus memang bisa dilihat bentuk alat kelamin pada usia kehamilan yang lebih muda, namun kebanyakan gambarannya belum jelas.

Janin laki-laki diindetifikasi dengan tampaknya gambaran skrotum (kantung zakar).  Terkadang tampak lengkap kantung zakar dan penisnya. Bahkan pada janin yang lebih besar bisa tampak buah zakar yang berada dalam kantung zakar.  Janin perempuan diidentifikasi dari gambaran 2 buah bibir kemaluan.  Secara anatomi, identifikasi kelamin laki-laki lebih mudah daripada kelamin perempuan.  Oleh karenanya, tingkat kesalahan identifikasi janin perempuan lebih besar daripada janin laki2.

 

janin-perempuan-dari

tampak bibir kemaluan sebagai interpretasi janin perempuan di usia 28 pekan

 

janin-laki-dari-wikipedia

gambaran skrotum dan penis menunjukkan janin laki2

Betulkah jenis kelamin bisa berubah?

Nah, seperti yang sudah dipaparkan di atas, berhubung identifikasi jenis kelamin janin lewat  USG adalah berdaasarkan bentuk alat kelamin, maka kesalahan persepsi/interpretasi sangat mungkin terjadi.  Kesalahan tersebut dipengaruhi juga oleh usia kehamilan, posisi janin, jumlah air ketuban, ketebalan dinding perut ibu, disamping  jam terbang operator dan juga kualitas mesin USG . Jadi kalau suatu saat dikatakan jenis kelamin tertentu dan beberapa waktu kemudian ternyata berbeda maka hal tersebut wajar saja.  Dikatakan bahwa kesalahan yang dapat ditoleransi adalah 5%.  Jadi sekali lagi, bukan jenis kelamin berubah, melainkan persepsi pemeriksalah yang berubah.

Lalu kapan jenis kelamin tersebut dapat dipastikan?

Kalau kepada saya diajukan pertanyaan tersebut maka dengan mudah saya jawab, “Pastinya kalau sudah lahir”. 

“Ya, iyalah, dok”.

Maksudnya begini, melihat sesuatu yang ada di dalam rahim dengan perantaraan alat, maka sebagai manusia kita tidak berani mendahului kepastian dari Allah SWT.  Meskipun ada juga kelainan bawaan yang dikaitkan dengan jenis kelamin janin.  Artinya, pendeteksian jenis kelamin janin itu dikaitkan dengan hal-hal medis yang terkait kesehatan bayi saat lahirnya nanti.  Bukan sekadar untuk referensi mencari nama atau warna baju bayi.  Apalagi kalau hanya untuk menjawab keingintahuan kakek nenek dan handai taulan.

Contoh, kalau janin terdeteksi laki-laki maka bisa dilihat apakah buah zakar (testis) sudah berada di dalam kantung zakar (skrotum) saat usia cukup bulan? Contoh lain,  Kelainan bawaan tertentu ternyata lebih banyak didapatkan pada janin laki-laki.

Bagaimana Bila Jenis Kelamin Ternyata Tidak Sesuai dengan Prediksi atau Harapan Ortu

“Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaanmu) ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu…(surat An Najm ayat 32)

Tidak ada pilihan lain kecuali menerima dengan ikhlas dan tawakkal. Allah lah yang paling mengetahui yang terbaik.   Jangan sampai terjadi salah pengasuhan pada bayi/anak dikarenakan ia berjenis kelamin tidak sesuai dengan harapan. Misalnya, karena orang tua mendambakan anak perempuan setelah 3 anak sebelumnya laki-laki semua, maka anak laki2 keempat sering dipakaikan rok bahkan jilbab kecil.  Demikian pula sebaliknya. Ingat, banyak sekali kasus-kasus LGBT yang berawal dari salah asuh di masa kecil.

Dalam menghadapi jenis kelamin yang tidak sesuai harapan ini hendaknya juga tidak ada saling menyalahkan di antara kedua orang tua.  Yang sering terjadi adalah suami menyalahkan istri karena tidak bisa memberikan anak dengan jenis kelamin tertentu.  Sedangkan kalau kita simak lagi penjelasan di awal tulisan, kromosom pembawa jenis kelamin ada di sperma.  Maka bisa disimpulkan bahwa yang menentukan jenis kelamin adalah pihak suami. Meskipun demikian ada penelitian yang menunjukkan bahwa suasana vagina memberikan andil untuk sperma berkromosom X atau Y yang bakal eksis dan dapat membuahi. (nin)

 

sumber gambar : wikipedia

 

 

Iklan

Hamil Palsu [Bukan Klenik Bukan Sihir]

Ternate, awal 2000

Seorang wanita muda berbadan subur masuk ke ruang pemeriksaan diiringi oleh wanita lain yang tampak lebih tua, mungkin ibunya. Ternyata tidak hanya berbadan subur, tetapi rupanya si wanita muda itu juga hamil.

“Bu dokter, ini sudah lewat bulannya tapi belum juga lahir. Tolong diperiksa apa masih normal”, itu kata pembuka dari sang ibu. Sedangkan si calon ibu muda tampak tenang-tenang saja. Ia merupakan pasien baru, sehingga sebelum ini saya tak memiliki data apa pun.

Setelah wawancara singkat meliputi tanggal haid terakhir, bagaimana aktivitas gerakan janin dan apakah sudah merasakan kontraksi yang semua saya catat di berkas rekam medik, maka si ibu muda dipersilakan naik ke tempat pemeriksaan oleh bidan asisten saya. Periksa punya periksa….tak teraba batas puncak rahim, yang seharusnya kalau sudah cukup bulan akan sangat mudah ditemukan di bawah tulang dada. Dugaan saya, mungkin karena dinding perutnya terlalu tebal. Meraba bagian tubuh janin sulit, apalagi menemukan denyut jantung janin. Jangan- jangan sudah lewat waktu betulan dan sudah terjadi insufisiensi plasenta sehingga janin akhirnya…..

Jalan terakhir…USG. Ternyata, tak tampak apa pun. Tak ada tanda-tanda kehamilan. Seluruh pemeriksaan fisik dan penunjang selaras tidak ada yang bertentangan. Karena setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium, test kehamilan pun negatif. Maka jelaslah, ini kasus hamil palsu.

Maka sekarang giliran saya yang harus menjelaskan kepada ibu dan putrinya tersebut. Makan waktu, tentunya. Belum lagi mereka harus menjelaskan kepada keluarga yang lain.

###

15 tahun kemudian, di ibukota …..

Pasien berikutnya yang masuk ke ruangan konsultasi adalah nyonya Fulan, dia pasien lama. Bahkan persalinan anaknya yang kedua sayalah yang menolongnya. Riwayatnya cukup mengundang simpati. Empat kali hamil, terdiri dari 2 kali keguguran dan 2 kali lahir normal, namun kedua bayi yang lahir normal tersebut wafat di usia di bawah 1 tahun. Sehingga saya menyambutnya dengan bahagia dan penuh rasa syukur tatkala ia mengabarkan kehamilannya yang sudah mencapai usia 7 bulan.

“Mungkin juga sudah delapan bulan dok, kalau lihat perutnya yang sebesar itu”, ujar ibu nyonya Fulan yang berusia 60an.

“Bu dokter, tapi ada orang yang nyembunyiin bayi saya. Jadi nanti mungkin tidak terlihat ya, dok. Sudah beberapa bidan dan dokter juga tidak bisa melihatnya,” ucapan bu Fulanah saat saya sedang bersiap-siap memeriksa.

“Lho, siapa yang menyembunyikan, bu? Memangnya bisa?”, saya menyahut sambil meraba perutnya dan meraba massa di atas pusatnya. “Jadi selama ini ibu sudah periksa kemana saja?” kali ini mencoba mencari denyut jantung janin yang akhirnya tidak ketemu.

“Yah, namanya orang, pastinya ada saja yang gak suka sama saya, bu dokter. Nah, tidak ada kan bu dokter”, nyonya Fulanah rupanya menangkap raut muka saya yang keheranan dengan tampilan di monitor USG. Kosong. Tak tampak janin, dan bahkan rahim tampak kecil. Rahim normal ukuran tidak hamil!

Naah….ini kasus hamil palsu lagi. Tapi kali ini si ibu menyadari bahwa ‘hanya dia yang merasa hamil’ sedangkan orang lain tidak bisa mendeteksi keberadaan janinnya.

Kembali ke tempat duduk, ibu nyonya Fulanah – yang tentu saja mendengar percakapan kami di balik tirai – kontan jadi resah. Mungkin setelah berkeliling ke beberapa dokter dan bidan yang mengatakan tidak ada kehamilan, akhirnya mereka menyandarkan pada jawaban saya hari ini. Mungkin juga karena ingat, sayalah yang menolong persalinan terakhirnya.

Sepertinya saya harus menjelaskan terlebih dahulu kepada ibunya, yang relatif masih bisa berpikir logis. Maka nyonya Fulanah saya minta pergi ke laboratorium dulu untuk beberapa test dan ibunya saya tahan di ruangan. Membutuhkan beberapa waktu lamanya sampai si ibu mau dan mampu memahami. Meskipun pertanyaan besarnya adalah, “Lalu perutnya yang membuncit itu berisi apa?” Seperti yang sudah diduga, hasil test kehamilan adalah negatif. Akhirnya nyonya Fulanah saya konsulkan ke dokter spesialis penyakit dalam untuk menagani kadar gulanya yang meningkat.

###

janin usia 8 minggu, jantungnya sudah berdenyut

janin usia 8 minggu, jantungnya sudah berdenyut

Hamil palsu bukan masalah santet atau klenik. Meskipun pernah sekali dua kita baca di surat kabar kuning, cerita seorang ibu yang kehamilannya mendadak hilang. Kasus seperti ini dikenal dalam dunia medis dengan sebutan Pseudocyesis. Dasar penyebabnya adalah masalah psikologis, yaitu keinginan yang sangat kuat untuk hamil. Bisa juga karena ketakutan kehilangan orang yang disayanginya (suami). Emosi yang kuat ini menyebabkan perubahan hormonal, yaitu terhentinya produksi hormon gonadotropin sehingga mengakibatkan berhentinya haid. Emosi jugalah yang mendasari timbulnya berbagai keluhan khas hamil, misalnya mual, sebah, payudara tegang, bahkan sampai keluar cairan kolostrum. Adapun perut yang membesar umumnya disebabkan oleh timbunan lemak atau kembung belaka. Pembuktian bahwa tidak ada kehamilan berasal dari pemeriksaan USG, atau ronsen.

Tentu saja diperlukan tata komunikasi yang baik dengan si ibu, suaminya, bahkan dengan keluarga besarnya untuk menjelaskan masalah ini. Siapa yang tidak kaget, saat harap-harap cemas menunggu lahirnya si jabang bayi yang tinggal menghitung hari mendadak ada informasi bahwa perut yang membesar selama ini hanya berisi usus dan lemak, tanpa ada janin di dalamnya. Dokter pun disarankan untuk mendokumentasikan dengan baik semua hasil pemeriksaan yang sudah dikerjakan, karena jangan sampai terjadi pemutarbalikan fakta, malah dokternya yang dituduh menipu, memberikan keterangan palsu. Na’udzubillah.

Mengingat kasus hamil palsu seperti ini umumnya menimpa seseorang yang sangat mendambakan kehamilan, maka saya menyarankan pasangan yang sedang melakukan program hamil untuk senantiasa dekat dengan Allah SWT.  Berdoa kepada Allah selaku pemilik dan pemelihara segala kehidupan. Berusaha,  dengan berkonsultasi kepada ahlinya, yang mana si ahli tersebut adalah juga manusia biasa yang ilmunya juga berasal dari Allah, dan dalam mengobati juga menyadarkan keberhasilannya kepada Allah.  Dan terakhir adalah tawakkal…menyerahkan hasil dari usaha dan doa tersebut – lagi2 – kepada Allah.

Kenapa demikian? Di saat seseorang galau dengan keinginan hadirnya seorang bayi, maka banyak pihak yang dengamn senang hati “membantu” untuk mengeruk keuntungan pribadi.  Acap kali saya temui, seorang wanita dinyatakan hamil oleh “orang pintar” atau “ajengan anu” tapi dengan syarat Pantang untuk diperiksa oleh dokter atau bidan.  Sekali saja ia mendatangi bidan, maka kehamilannya langsung lenyap. Nah!

Puasa Bumil dan Puasa Busui, Bagaimana Baiknya?

makanansehat republika.co.id

 

Bulan Ramadhan telah berjalan 3 hari. Namun pertanyaan dari para bumil, busui, serta bumil merangkap busui masih banyak mengalir.  Dalam prakteknya, sejak awal Sya’ban saya sudah mulai memberikan penyuluhan tentang puasa ini kepada para pasien.

Sebenarnya untuk seorang bumil yang sehat, baik dirinya maupun janinnya, tak ada hambatan untuk berpuasa. Namun hal ini tentu saja tak dapat disamakan untuk semua orang. Simak dulu kriteria bumil sehat, yaitu sebagai berikut :

1. Berat badan sebelum hamil tidak termasuk kategori underweight.  Untuk itu perlu dihitung dulu dengan rumus IMT atau Indeks Massa Tubuh

yaitu :

                                  IMT = BB (kilogram)/TB (meter) kuadrat

Setelah mendapatkan hasil IMTnya, cocokkan ke dalam tabel berikut :

< 22                   + BB kurang (underweight)

22 – 25               = BB normal

25 – 29               = BB berlebih (overweight)

> 29                    = obesitas

2. Kenaikan berat badan selama hamil normal. Lebih jelasnya bisa dibaca di postingan sebelum ini.

3. Berat badan janin normal sesuai usia kandungannya

4. Kehamilan tidak disertai dengan anemia (kurang darah) yaitu kadar Hb < 10,5 g%

5. Kehamilan sudah memasuki usia aman, yakni trimester 2 ( 4 bulan ke atas)

6. Kehamilan tidak disertai dengan komplikasi penyakit tertentu, misalnya preeklamsia, hipertensi, diabetes, penyakit jantung, paru, asma, ginjal, dll

Nah, untuk bumil yang memenuhi kriteria tersebut di atas, silakan berpuasa.

Namun bila dalam menjalani puasa bumil mengalami hipoglikemia (penurunan kadar gula darah), maka diwajibkan berbuka.

Tanda dan gejala hipoglikemia adalah sbb :

1. Badan lemas tak bertenaga

2. Keluar keringat dingin

3. Gemetaran

4. Kliyengan atau pandangan berkunang-kunang

Jangan sampai memaksakan diri dikarenakan sayang membatalkan puasa yang sudah terlanjur sampai tengah hari, misalnya.

Demikian juga bila dalam menjalani puasa ternyata terdapat penurunan BB > 5% berat sebelumnya, maka dianjurkan untuk tidak melanjutkan puasa.

Bagaimana dengan Busui?

Tentu saja yang kita bicarakan di sini adalah busui yang sudah selesai nifasnya yaaa.

Ini syarat dan ketentuannya :

1. Bayi sudah berusia lebih dari 3 bulan.  Dengan asumsi, pada usia tersebut bayi sudah pintar menyusu, demikian pula produksi ASI sudah lancar. Ibu juga sudah bisa menyesuaikan diri dengan peran barunya sebagai ibu

2. Untuk busui yang masih dalam fase ASI Eksklusif  (ASIX), harus tersedia stok ASI Perah (ASIP) yang cukup

3. BB Bayi menunjukkan kenaikan yang standar sesuai dengan umurnya. Sesuai dengan grafik BB yang ada di Kartu Menuju Sehat (KMS)

4. Ibu dalam kondisi sehat dan telah pulih 100% .  Bila setelah puasa ternyata produksi ASI jauh menurun atau bayi menjadi rewel, maka jangan pikir panjang, sudahilah puasa ibu

Bagaimana kalau si ibu punya jabatan rangkap, yaitu menyusui sambil hamil atau sebaliknya…

Khusus yang double job seperti ini, mohon pengertiannya untuk tidak puasa! Kasihan dong si janin dalam rahim. Janin ini tanpa bisa memilih harus rela dinomortigakan…teganya…teganya….egoisnya sang ibu…. 😦

Jangan juga melakukan ini, demi ingin ikut puasa, bayi disapih dan ASI diganti dengan Sufor. Duuuh……………….

Karena, kalau kita kembali kepada hakikatnya, maka sebenarnya bumil dan busui itu masuk golongan yang dapat keringanan untuk tidak puasa. Hanya saja setelah mengetahui bahwa puasa yang ditinggalkan harus diqodho, maka para bumil dan busui pada ngotot pingin puasa. Ya kan…ya kan…..?

Meskipun memang harus diakui bahwa aura bulan Ramadhan beserta ibadah puasa memang magis.  Hari-hari yang sama terus berganti, namun kenapa semuanya jadi terasa beda kala Ramadhan tiba. Untuk itulah diperlukan keikhlasan dari para bumil dan busui (untuk tidak ikut berpuasa).  Percayalah, pahala ibadah tidak hilang. Lagipula masih banyak ibadah dan amal perbuatan lain yang ganjarannya berlipat-lipat hari biasa, yang masih bisa dilakukan.

Landasan :

1. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (Surat Al Baqarah 183). Yaitu dalam beberapa hari tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblahbaginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.  Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka berpuasa) membaya fidyah (yaitu) memberi makan seorang miskin.  Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya.  Dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (Al Baqarah 184)

2. “Sesungguhnya Allah melepaskan kewajiban berpuasa serta meringkas sholat kepada musafir, dan kewajiban puasa kepada ibu hamil dan menyusui (HR Tirmidzi)

3. Ibnu Abbas berkata:” Ibu menyusui dan wanita hamil apabila takut akan kesehatan anak mereka, hendaknya berbuka lalu (membayar fidyah dengan) memberi makan (HR Abu Dawud)

 

 

Berapa Idealnya Kenaikan Berat Badan Ibu Hamil?

Kehamilan yang sembilan bulan lamanya itu terbagi menjadi 3 periode, dimana setiap periodenya dinamakan trimester.  Sehingga dari awal hamil sampai saat persalinan seorang bumil menjalani 3 trimester. Dalam tiap trimester tersebut nafsu makan seorang bumil berubah-ubah.  Dalam trimester 1, umumnya nafsu makan menurun.  Bahkan tak jarang disertai rasa mual dan muntah sampai beberapa kali sehari.  Sebagian ibu mengalami penurunan berat badan. Penurunan berat badan ini masih dianggap wajar asalkan tidak melebihi 5% dari berat badan awal.

Memasuki trimester 2, kondisi mulai membaik.  Mual dan muntah berkurang, sehingga nafsu makan mulai timbul.  Bahkan mulai pekan ke 20 nafsu makan justru meningkat pesat.  Berat badan pun melonjak tinggi.  Kondisi ini berlangsung sampai usia kehamilan 30 pekan.  Di usia hamil 8 bulan nafsu makan kembali normal.  Sebagian ibu mengeluh begah, yaitu rasa penuh di lambung dan cepat kenyang.  Tak perlu khawatir, karena ini disebabkan oleh desakan janin pada diafragma.  Di usia 36 pekan, rasa begah dan sesak agak berkurang disebabkan kepala bayi mulai memasuki pintu atas panggul.

bumil1 dari republika.co.id

Pertanyaannya, berapa idealnya kenaikan berat badan ibu hamil? Kalau dulu, kenaikan berat badan setiap bumil ditarget sama yaitu sekitar 12 kilogram.  Tapi sekarang ketentuan tersebut telah mengalami perubahan.  Kondisi setiap bumil berbeda, demikian pula berat badan awal pun berbeda.  Intinya, semakin tinggi berat badan awal, maka semakin sedikit diperlukan kenaikan berat badan selama hamil.  Nah, untuk menentukan berat badan awal itu masuk kategori normal, kurang, atau lebih, digunakan rumus Indeks Massa Tubuh (IMT).

Cara menghitung IMT  sebagai berikut :

Berat Badan sebelum hamil (kilogram) / Tinggi Badan (meter) kuadrat .  Silakan dihitung !

Berapa hasilnya?

Simak tabel berikut :

BB kurang  (BMI < 18,5)                      kenaikan ideal selama hamil 13 – 18 kg

BB normal (BMI 18,5 – 24,9)             kenaikan ideal selama hamil 11 – 16 kg

BB lebih     (BMI 25 – 29,9)                  kenaikan ideal selama hamil 7 – 11 kg

Obesitas     (BMI  > 30 )                        kenaikan ideal selama hamil < 9 kg

Catatan :  rumus ini bukan untuk kehamilan kembar

Nah, jadi tidak perlu naik setinggi-tingginya kan? Dan kenaikan berat badan sampai 20 an kilogram itu sudah tidak jamannya lagi.

Takut bayinya kecil?

Berat bayi baru lahir normal minimal adalah 2500 gram.  Berapa maksimalnya? Sebenarnya tidak ada batasan untuk maksimal, namun di atas 3500 gram sudah masuk kategori besar, dan tidak dianjurkan berat bayi baru lahir di atas 4000 gram.  Di bawah 2500 gram masuk kategori Bayi Berat Lahir Rendah, sedangkan di atas 4000 gram disebut makrosomia.  Bayi besar memang tampak lucu di mata kita, namun sebenarnya bayi demikian berisiko mengalami hipoglikemia.

Makrosomia

Bagaimana mengerem laju pertambahan berat badan? Sebetulnya gampang.  Cukup dengan mengurangi makanan manis dan berlemak.  Hindari makanan dan minuman yang manisnya berasal dari gula pasir atau gula merah.  Sirop? Teh manis? Kue berlapis krim? Kolak buat buka puasa? Es krim? Hmmmm….stop dulu ya.  Bagaimana menyiasati rasa lapar yang menyerang di malam hari? Makan saja buah-buahan yang berair banyak atau minum air putih.

Nah, sepekan lagi bulan Ramadhan tiba.  Gunakan kesempatan ini untuk berdiit, disamping meraih pahala sebanyak-banyaknya.

Selamat menjalankan ibadah di bulan Ramadhan!

 

Keterangan foto :

1. sumber http://www.republika.co.id

2. bayi makrosomia yang dilahirkan dengan operasi sesar, berat lahirnya 4800 gram

“LAHIR NORMAL” … Apa dan Bagaimana? [P3]

Faktor Keberhasilan lahir normal yang ketiga adalah Passenger (penumpang)

Setelah mengetahui kedua unsur sebelumnya yaitu Power dan Passage (jalan lahir), maka penumpang yang melintasi jalan lahir menjadi penentu berikutnya.  Penumpang tersebut tak lain dan tak bukan adalah si jabang bayi.

Ada 2 faktor terkait bayi ini, yaitu :

1. Ukuran bayi :

Ukuran bayi meliputi berat badan secara umum dan ukuran kepala secara khusus. Berat badan bayi dianggap besar apabila taksirannya melebihi 3500 gram. Bila lebih dari 4000 gram maka sudah termasuk bayi besar (makrosomia).  Karena itu, bagi bumil yang trend kenaikan berat badannya cenderung cepat, perlu waspada.  Anggapan bahwa bayi makin gemuk berarti makin sehat tidak berlaku di sini (juga di masa-masa selanjutnya).  Bayi dianggap normal apabila dilahirkan pada usia cukup bulan (38-42 minggu) dan berat minimalnya 2500 gram.  Sebagai patokan garis besar, minimal berat badan janin di usia 28 minggu adalah 1000 gram dan di usia 34 minggu adalah 2000 gram.  Di usia 36-37  minggu, angka 2500 gram umumnya telah tercapai.

Beberapa  faktor yang memengaruhi berat bayi antara lain :  genetik,  konstitusi,  nutrisi, dan penyakit ibu.  Faktor genetik dan konsitusi sudah merupakan bawaan dari ibu, maka yang bisa dimanipulasi adalah faktor nutrisi dan penyakit.  Nutrisi tinggi kalori, selain menggemukkan ibu juga menggemukkan janin dalam rahim.  Karena itu, kalau tidak ingin bayi menjadi “giant”, perhatikan asupan kalori agar tidak berlebihan.  Untuk bumil dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) normal (22-25), kenaikan berat badan bisa 10-12 kg selama hamil.  Bila IMT >25, kenaikan di bawah 10 kg sudah cukup.  Komposisi makanan mengacu kepada piramida makanan.

Penyakit yang dampaknya ke berat badan janin adalah diabetes.  Kehamilan bersifat “diabetogenik”, artinya membangkitkan penyakit diabetes yang selama ini tersembunyi, dan memunculkan kondisi serupa diabetes.  Kalau kadar gula darah ibu tidak terkontrol, otomatis bayi hidup dalam kondisi kadar gula darah tinggi selama di dalam rahim.  Tumbuhlah ia menjadi “bayi gede”, dan saat lahir- hubungan dengan ibu lewat plasenta terputus – berisiko hipoglikemia. Bagi bumil yang di antara keluarganya (terutama orang tua) yang menderita penyakit diabetes, ada baiknya berkonsultasi ke dokter terlebih dahulu sebelum hamil.  Apabila sudah terlanjur hamil, perhatikan komposisi makanan agar rendah kalori namun penuh gizi. Pada saat kontrol hamil biasanya akan diperiksa gula darah untuk penapisan terhadap penyakit diabetes

IMG_0129

Bayi gemuk, rawan terjadi kemacetan persalinan akibat disproporsi kepala panggul.  Dan ada kemungkinan terjadinya kemacetan bahu di saat persalinan, yaitu suatu kondisi dimana kepala sudah lahir namun bahu sulit lahir.  Ini kondisi yang sangat tidak diharapkan oleh siapa pun.

Diameter kepala janin juga memegang unsur penting untuk mulusnya perjalanan lewat jalan lahir.  Diameter kepala sampai dengan 9,5 cm masih dianggap normal namun di atas itu sudah masuk kategori besar, yang rawan terjadi disproporsi kepala panggul juga.

2. Posisi bayi

Allah SWT sudah mengatur posisi bayi agar kepalanya cukup melewati panggul ibu.  Posisi tersebut adalah pada saat lahir  kepala bayi menunduk sehingga ubun-ubun kecil berada di depan ( arah tulang kemaluan).  Untuk mencapai posisi tersebut itu dalam perjalanannya bayi mengadakan 2 kali rotasi kepala.  Posisi tersebut sangat penting karena membuat diameter kepala menjadi paling kecil.  Sedikit saja bayi mendongak maka diameter sudah berubah lagi yang bisa mengakibatkan kemacetan persalinan.

Sekitar 3-4% bayi berada dalam posisi sungsang (kepala di atas, bokong atau kaki di bawah) saat lahir.  Meskipun posisi ini membujur, namun memperkecil peluang untuk lahir normal terutama untuk kehamilan pertama dan bayi besar.  Untuk persalinan berikutnya, dan bayi tidak terlalu besar, persalinan normal pada letak sungsang masih dimungkinkan.

Kelainan letak yang lebih jarang adalah janin melintang.  Kejadiannya sekitar 1:500 kehamilan.  Bila posisi lintang ini menetap, maka tidak ada jalan lain kecuali lahir lewat operasi sesar.

Macam-macam Letak Sungsang

“LAHIR NORMAL”, Apa dan Bagaimana? [P2]

lanjutan …………..

Tibalah kini saatnya P 2, yakni Passage atau Jalan.

Berhubung bahasan ini tentang proses persalinan, maka tentu saja “jalan: yang dimaksud adalah Jalan Lahir.

Ada 2 jenis jalan lahir yakni jalan lahir keras dan jalan lahir lunak.  Ini penjelasannya :

1. Jalan Lahir Keras

Sesuai dengan namanya, jalan lahir keras adalah tulang-tulang panggul.  Panggul seorang wanita mempunyai bentuk yang khas, istimewa.  Bentuk ini memungkinkan seorang bayi melewati rongganya. Seorang ilmuwan bernama Caldwell Molloy membagi bentuk panggul manusia menjadi 4, yaitu panggul ginekoid, panggul platipeloid, panggul android, dan panggul   anthropoid.  Panggul wanita normal adalah panggul ginekoid.  Rongga Panggul terbentuk  dari 3 pasang tulang yang bergandengan.  Bedakan juga antara pinggul (yang suka goyang ) dan panggul.  Kalau pinggul bisa tampak dari luar, dan lebarnya bisa diukur oleh seorang tukang jahit, maka panggul lebih berkonotasi ke tulang, dan luas tidaknya untuk keberlangsungan sebuah persalinan diukur oleh dokter.

Apakah orang yang gemuk lantas berpanggul luas dan orang kurus panggulnya sempit? Belum tentu! Karena ternyata luas panggul tidak terkait dengan gemuk kurusnya seseorang melainkan dengan ukuran tinggi badannya.  Dari hasil penelitian batas tinggi badan yang rawan berpanggul sempit adalah 145 cm! Meskipun begitu hal ini tidak mutlak.  Ada orang yang tingginya 143 cm namun mampu melahirkan bayi-bayi dengan berat normal, namun sebaliknya, ada juga orang dengan tinggi 170 cm tetapi ternyata kepala bayi tak muat lewat panggulnya. Mungkin saja si 170 cm ini panggulnya bertipe android, alias panggul laki-laki 🙂

Ada juga, panggulnya sempit namun bayinya juga kecil, sehingga muat dan lahir normal.  Namun ada juga panggul normal tapi bayinya kelewat besar, sehingga tak muat.  Nah, yang begini ini namanya disproporsi kepala panggul.  Allah pun sudah mempersiapkan jalan lahir keras ini dengan paripurna.  Menjelang kelahiran ada hormon yang berfungsi untuk melongarkan sendi-sendi dan jaringan ikat sehingga memudahkan proses persalinan

Bidang Stasion Nol

2. Jalan lahir lunak

Jalan lahir lunak terbentuk dari jaringan otot.  Mulai dari rahim, mulut rahim, sampai vagina…itulah jalan lahir lunak.  Apakah bentuk rahim normal? Adakah tumor yang menghalangi keluarnya bayi? Apakah mulut rahim dapat membuka sinkron dengan dorongan kontraksi dan tekanan kepala bayi? Demikian juga di vagina, adakah yang menghalangi keluarnya jabang bayi? Semua itu harus diobservasi dan dievaluasi. Mulut rahim sebagai pintu keluar memegang peranan penting.  Sel-sel di mulut rahim ini pada saat yang sudah ditentukan akan berespon terhadap hormon inisiasi persalinan sehingga mulut rahim akan menipis dan membuka.  Padahal, selama 9 bulan mulut rahim tersebut “terkunci” erat demi menahan sang jabang bayi agar tak meluncur keluar. Allahu Akbar !! (nin)

 

keterangan gambar : kepala bayi memasuki pintu panggul (gambar dari buku Ilmu Kebidanan, Prof. Sarwono)

Bersambung

 

“LAHIR NORMAL” …Apa dan Bagaimana? [P1]

“Lahir Normal”….sepertinya menjadi kata mutiara baru di kalangan ibu hamil (bumil).

Pasalnya semua bumil berharap bisa lahir normal.  Ini ditandai dengan pertanyaan standar dan klasik setiap bumil, yaitu “Dokter, apakah saya nanti bisa lahir normal?”  Ya, kalau pertanyaan ini ditanyakan ketika usia kehamilan sudah menginjak trimester 3 memang masih relevan.  Tetapi terkadang baru didiagnosa hamil, dengan usia kehamilan baru 7 atau 8 minggu, sudah terlontar pertanyaan tersebut, maka tentu saja jawabannya adalah ….”Semoga….berdoalah agar Allah memudahkan kehamilan dan persalinannya nanti. Jalan masih panjang”.

Kehamilan adalah peristiwa yang dinamis.  Artinya dari waktu ke waktu selalu ada perubahan yang terjadi.  Beberapa perubahan memang sudah ada standar normalnya, jadi sedikit banyak bisa diprediksi.  Tetapi kita harus selalu siap dengan perubahan yang tidak disangka-sangka.  Karena itu diperlukan kontrol hamil secara berkala.  Dan di atas semuanya peran doa, dzikir, dan ibadah yang lain tetap mutlak adanya.

Kembali ke masalah lahir normal.  Yang diistilahkan dengan lahir normal adalah melahirkan bayi cukup bulan dengan berat badan cukup,  melalui jalan lahir, dalam hal ini adalah vagina.  Sedangkan lawannya adalah melahirkan lewat operasi sesar. Sebagaimana kehamilan,  peristiwa persalinan juga dinamis, bisa lancar dan mudah namun bisa juga terjadi hambatan di tengah perjalanan.  Selama ini yang menjadi patokan untuk keberhasilan lahir normal adalah faktor 5P  .  Apakah itu…..

P1 : POWER

Power adalah kekuatan yang berasal dari ibu. Ada 2 macam power, yaitu kontraksi dan tenaga mengejan.  Kontraksi yang dimaksud adalah kontraksi rahim yang datang secara teratur dan adekuat. Disebut adekuat apabila kontraksi tersebut mengakibatkan pembukaan dan penipisan mulut rahim, serta mampu mendorong bayi turun memasuki jalan lahir.  Kontraksi yang adekuat bersifat sebagai berikut : timbul setiap 2-3 menit, lamanya 40-45 detik, kekuatannya cukup, dan ada masa istirahatnya.  Kontraksi adekuat ini biasanya nyeri.  Meskipun kontraksi ini hilang timbulnya di luar kendali ibu, namun pada ibu yang lemah dan kehabisan tenaga, kontraksi biasanya juga ikut-ikutan melemah.  Demikian juga pada ibu yang menderita anemia (kurang darah), kontraksinya juga kurang kuat sehingga mengakibatkan persalinan lama.

IMG_0150

Power kedua adalah tenaga mengejan.  Berbeda dengan kontraksi, tenaga mengejan ini sepenuhnya dalam kendali ibu.  Ibu yang sehat insya Allah akan mempunyai tenaga yang cukup untuk mengejan.  Hanya saja yang sering terjadi adalah cara mengejan yang tidak efektif.  Akibatnya, ibu lelah karena sudah terlalu lama mengejan, namun bayi tak kunjung lahir.  Persalinan yang begini, kalau kepala bayi sudah berada di dasar panggul (tinggal keluar saja) bisa dibantu dengan alat, misalnya ditarik dengan alat vakum atau forseps (tang).  Persoalannya, bagaimana cara mengejan yang efektif itu? Allah SWT sebenarnya sudah menyiapkan refleks mengejan saat kepala bayi menekan persarafan yang ada di dasar panggul.  Namun sering karena gelisah dan panik di tengah-tengah rasa nyeri yang mendera maka refleks tersebut menjadi tidak terkoordinasi.  Untuk mempelajari teknik pernapasan dan cara mengejan bisa mengikuti kelas senam hamil atau pregnancy class.  Selain itu, ibu bisa melakukan olahraga berenang.  Cara menarik dan menghembuskan napas tatkala berenang sangat mirip dengan saat persalinan.  Dan yang tak boleh dilupakan, ibu bersalin harus tenang dan rileks sehingga terjalin kerjasama yang baik dengan penolong persalinan  (bersambung………..)

 

Keterangan Gambar : Kurva yang menggambarkan standar kemajuan persalinan