Tag Archive | FK Unair

Kisah Panjang Hijab di Kamar Operasi

Tulisan kisah nyata ini merupakan salah satu penugasan di Wonderful Writing Class yang dipandu oleh penulis kondang pak Cahyadi Takariawan dan istri beliau, bu Ida Nur Laila. 

Yang ingin bisa “Menulis Semudah Bernafas” silakan ikut WWC gelombang berikutnya…

Prita Kusumaningsih “Jadi berapa meter kain yang dibutuhkan?” “Jenis bahannya sudah dicek belum? Warnanya juga harus sama persis, lho”. “Bagaimana kalau kita pinjam saja sepasang baju dan celana itu barang sehari? Buat contoh ke penjahit” “Kamu jadi kan, bicara dengan ibu kepala ruangan kemarin?” Itulah sebagian kasak kusuk kami, mahasiswi berhijab Fakultas Kedokteran semester 9 […]

melalui KISAH PANJANG HIJAB DI KAMAR OPERASI — Wonderful Writing Class

Iklan

Berkunjung ke Fakultas Kedokteran Tertua di Indonesia – Museum Kebangkitan Nasional

R. Musium Dokter - Pintu Masuk

Museum sejarah kedokteran ini adalah museum kedua yang saya kunjungi setelah kunjungan ke museum serupa di fakultas kedokteran Universitas Airlangga Surabaya beberapa tahun yang lalu. Museum kedokteran di Jakarta bernama resmi Museum Kebangkitan Nasional, berada di gedung STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) yang berlokasi di jalan Abdul Rahman Saleh no 26, tidak jauh dari RSPAD Gatot Subroto. Gedung bertembok putih dengan deretan jendela abu-abu inilah tempat menimba ilmu para dokter yang kemudian menjadi pelopor tidak saja dunia kedokteran Indonesia namun juga dunia pergerakan kemerdekaan. Sebagaimana bangunan yang dibuat pada jaman Belanda, gedung yang dibangun pada 1899 ini masih tampak kokoh. Bentuk gedung masih asli, demikian pula tegel lantai yang berbentuk segi enam berwarna abu-abu, masih asli. Dikarenakan jumlah mahasiswa yang terus membengkak,maka pada 1920 STOVIA dipindahkan ke bangunan baru di Salemba, yang sekarang menjadi Fakultas Kedokteran UI. Gedung lama selanjutnya berfungsi menjadi asrama mahasiswa dan Lembaga Pendidikan AMS (setingkat SMA) dan MULO (setingkat SMP). Perkembangan selajutnya, pada 1974 presiden Soeharto meresmikan gedung ex Stovia menjadi Gedung Kebangkitan Nasional. Sepuluh tahun kemudian, beberapa museum yang ada di Gedung Kebangkitan Nasional yaitu museum Boedi Oetomo, museum Pers, museum Kesehatan, dan museum Wanita melebur menjadi satu yaitu Museum Kebangkitan Nasional (Muskitnas)

Sebagaimana museum lain di Indonesia, karcis masuk untuk mengelilingi museum ini adalah 2000 rupiah untuk orang dewasa dan 1000 rupiah untuk anak-anak. Sebuah harga yang sangat murah, bahkan lebih murah dari tarif parkir mobil. Tentunya dengan tarif semurah itu diharapkan akan menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap sejarahnya sendiri. Jadwal buka Muskitnas juga sama dengan museum lainnya di Indonesia, yaitu setiap hari kecuali Senin. Penjaga tiket merangkap pemandu museum hari itu adalah seorang anak muda bernama Sada, berstatus pegawai honorer Kemendikbud. Sebenarnya tidak ada keharusan menggunakan jasa pemandu, namun terasa lebih afdhol apabila berkeliling gedung yang cukup luas itu bersama seseorang yang mengetahui seluk beluknya. Meskipun dalam prakteknya, terkadang kamilah yang meluruskan info yang diberikan Sada, khususnya tentang alat-alat kedokteran.

Tiga ruang pertama menunjukkan perkembangan dunia kedokteran semenjak abad ke 19 sampai sekitar tahun 1970an.

Ruang selanjutnya adalah asrama tempat mahasiswa kedokteran tersebut menginap. Pemandangan sama dengan asrama pada umumnya yakni deretan tempat tidur berseprai putih, di sebelahnya ada lemari pakaian, dan di kolong tempat tidur terletak sebuah kopor baju. Yang membedakan dengan asrama lain adalah adanya jas dokter yang berwarna putih tercantel di setiap sisi lemari. Di ujung kamar ada diorama 3 orang mahasiswa mengenakan sarung sedang mengobrol. Ada sebuah informasi tentang latar belakang para mahasiswa yang berasal dari seluruh Indonesia tersebut, yang ternyata dibagi menjadi 3 golongan yakni golongan atas, menengah, dan bawah. Dari seorang raja sampai seorang pembantu!

R. Musium Dokter - Dalam Asrama

 

Masuk ke ruang praktikum anatomi, suasana menjadi magis. Di tengah ruangan, seorang dosen dan 3 orang mahasiswa sedang menghadapi sesosok mayat yang terbuka rongga dadanya. Sementara itu tak jauh dari meja praktikum, kerangka manusia berdiri tegak mengawasi. Tak perlu takut, karena semua itu hanya diorama belaka, kecuali sang kerangka yang memang asli. Di belakang mahasiswa praktek terdapat jajaran kursi rotan yang digunakan untuk mahasiswa lain mengamati jalannya praktikum. Dari sekitar 15 buah kursi, ada dua yang diijinkan untuk diduduki guna berfoto selfi. Di depan kerangka asli, saya bacakan surat Al Fatihah. Untuk dia – orang tak bernama- yang telah mengikhlaskan tubuhnya digunakan sebagai sarana pembelajaran.

R. Musium Dokter - Ruang Praktikum Anatomi

Yang juga menarik adalah adanya 4 buah ruang kelas terbuka. Dinamakan terbuka karena memang kelas tersebut tidak menempati sebuah ruangan melainkan ada di selasar. Para mahasiswa dengan mengenakan surjan dan blangkon duduk di meja siswa sementara seorang dosen sedang berdiri menerangkan materi ajar. Saya jelaskan kepada anak-anak tentang model bangku yang mirip dengan bangku sekolah saya semasa SD dan SMP. Tentu saja para dosen dalam mengajar para murid yang bersurjan blangkon tersebut menggunakan bahasa Belanda.

Ruang-ruang berikutnya berisi diorama, patung dada, foto dan informasi sejarah seputar pergerakan kemerdekaan. Sejak era Multatuli, politik etis, sampai tumbuhnya Boedi Oetomo, SDI, SI, sampai Muhammadiyah dan Sumpah Pemuda. Satu ruang kecil berisi diorama Ibu Kartini sedang mengajar beberapa murid wanita. Kunjungan berakhir di halaman, dimana terdapat patung tangan patah sedang berjabatan. Patung tangan ini diresmikan oleh presiden Soeharto. Ada satu ruang yang dipersiapkan untuk menjadi kafe dan penjualan suvenir. Dan ada ruangan yang difungsikan sebagai mushola lengkap dengan tempat wudhunya.

“Umi, serem banget musholanya”, ujar si bungsu tatkala masuk ke mushola yang gelap dan sedikit pengap itu. Pantas dia berkata seperti itu. Musholanya adalah ruangan tua, sajadah lusuh dengan jendela besar yang berderak saat dibuka….. (nin)