Tag Archive | fakultas kedokteran

Kisah Panjang Hijab di Kamar Operasi

Tulisan kisah nyata ini merupakan salah satu penugasan di Wonderful Writing Class yang dipandu oleh penulis kondang pak Cahyadi Takariawan dan istri beliau, bu Ida Nur Laila. 

Yang ingin bisa “Menulis Semudah Bernafas” silakan ikut WWC gelombang berikutnya…

Prita Kusumaningsih “Jadi berapa meter kain yang dibutuhkan?” “Jenis bahannya sudah dicek belum? Warnanya juga harus sama persis, lho”. “Bagaimana kalau kita pinjam saja sepasang baju dan celana itu barang sehari? Buat contoh ke penjahit” “Kamu jadi kan, bicara dengan ibu kepala ruangan kemarin?” Itulah sebagian kasak kusuk kami, mahasiswi berhijab Fakultas Kedokteran semester 9 […]

melalui KISAH PANJANG HIJAB DI KAMAR OPERASI — Wonderful Writing Class

Iklan

Lomba Cerita Jilbab Berkesan – Kolaborasi Jilbab

“Jadi berapa meter kain yang dibutuhkan?”

“Jenis bahannya sudah dicek belum? Warnanya juga harus sama persis, lho”.

“Bagaimana kalau kita pinjam saja sepasang baju dan celana itu barang sehari?”

“Kamu jadi kan, bicara dengan ibu kepala ruangan kemarin?”

Itulah sebagian kasak kusuk kami, mahasiswi Fakultas Kedokteran semester 9 di sebuah universitas negeri di Surabaya di tahun 1988. Bukan.  Kami bukan teroris yang sedang merencanakan pengeboman.  Tapi merencanakan sebuah kerja besar.  Kerja yang tampaknya mustahil, tapi akan kami coba. Berbekal keyakinan dan prasangka baik saja.

Tahun ini,  tiba waktunya kami masuk ke kamar operasi secara penuh.  Sudah menyandang gelar Dra.Med (sekarang SKed) alias dokter muda (bahasa Belandanya: Co Ass).  Angkatan kami boleh dikatakan adalah angkatan perintis mahasiswi kedokteran berjilbab.  Kakak angkatan, ada juga yang berjilbab, tapi cuma 2 orang kalau tidak salah.  Jadi daya gebraknya tidak bisa besar.  Sedangkan kami bersembilan.  Dan ada banyak kawan mahasiswa yang seide, sejalan, serta siap mendukung perjuangan.

Apa yang hendak diperjuangkan? Dan apa kerja besar itu?
Mungkin bagi sebagian orang terasa sepele.  Yaitu, memasukkan seragam kamar operasi khusus buat yang berbusana muslimah.  Seragam  aslinya adalah kemeja lengan pendek, berleher V yang cukup rendah, dan celana panjang.  Tutup kepalanya  bermodel seperti shower cap.  Sandalnya juga  khusus.  Tentu saja dengan model sedemikian, masih banyak aurat yang terbuka.  Pernah, kami mengenakan jilbab di balik showercap itu.  Baru beberapa langkah memasuki lorong,  semprotan pengawas kamar operasi (yang kamarnya memang terletak di dekat pintu utama) bakal menggema ke seluruh area.  Akibatnya bisa diduga. Tinggal pilih, lepas jilbab atau batal masuk!

Rapat kilat antara grup jilbab dengan rekan mahasiswa yang simpati membuahkan keputusan.  Harus buat seragam sendiri,  dan kemudian didaftarkan jadi inventaris kamar operasi.  Maka dibentuklah beberapa seksi.  Seksi-seksi tersebut meliputi bagian perijinan (pedekate ke kepala ruangan dan merayu bagian perbajuan) , beli kain, dan tentu saja seksi keuangan alias ‘treasury’ . Saya sendiri kebagian seksi penjahitan.  Bukan karena bisa menjahit, tapi karena punya kenalan tukang jahit.  Yang mengharukan, sumbangan dana terbesar ternyata datang dari rekan-rekan mahasiswa simpati!

10 hari kemudian, jadilah 10 set seragam kamar operasi plus jilbab hasil kolaborasi mahasiswi muslimah dan rekan mahasiswanya.  Baju-baju tersebut tetap jadi inventaris  bahkan sampai 6  tahun kemudian  saat saya kembali ke rumah sakit tersebut untuk menempuh pendidikan spesialis.  Tentu saja seragam spesial tersebut sudah beranak pinak dan membentuk tumpukan tersendiri dengan judul “jilbab”. (nin)

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba di sini http://uriagustiono.multiply.com/journal/item/52

Alhamdulillah, menyabet juara pertama dengan hadiah suvenir Aussie. Terimakasih, mbak Uri…

Foto : model busana olahraga muslimah tahun 1980 an rancangan Anne Rufaidah

[Ultah Cambai – Kisah Nyata] Ditolak Masuk Kamar Operasi

Kalau sekarang kamar operasi ibaratnya sudah jadi habitat saya kedua setelah kamar bersalin, maka 24 tahun yang lalu saya pernah mengalami kejadian ditolak masuk kamar operasi!

Tahun 1987….
Malam baru  beranjak.  Dengan bergegas saya kembali ke  kamar bersalin. Tadi saya ijin untuk menunaikan sholat maghrib.  Malam itu memang giliran kelompok kami untuk bertugas di bagian kebidanan dan kandungan rumah sakit umum terbesar di Jawa Timur itu.  Sebagai mahasiswa fakultas kedokteran semester 8, tugas kami hanyalah melihat dan mengobservasi berbagai kasus yang ada di kamar bersalin.
Pasien memenuhi ruangan yang berkapasitas 12 tempat tidur itu.  Suasana agak riuh.  Detik-detik menjelang persalinan sepertinya memang menyakitkan.   Saya langsung menuju bed nomor 4, tempat pasien yang harus saya observasi.  Namun ternyata penghuninya sudah tidak ada.

“Ny. S? Ooh, dia sudah dibawa ke kamar operasi”, ujar teman yang saya  mintai tolong untuk menggantikan sementara saya sholat tadi.
“Sekalian saja kamu ke sana.  Sekarang giliranmu, kan?”sambung teman saya itu.

Tugas di kamar operasi tak berat, hanya menjadi observer.  Ini tugas di kamar operasi kebidanan yang kedua buat saya.  Jadi, saya tak ragu lagi saat membuka pintu kecil yang sebenarnya merupakan pintu tembusan.  Jalan yang terdekat dari kamar bersalin menuju kamar operasi, ya lewat pintu yang terbuat dari besi itu.

Saya langsung menuju ke kamar ganti.  Saya ambil semacam jubah besar dan kemudian mengenakannya di atas seragam jaga.  Kami sebagai observer, memang tak perlu berganti baju.  Konsekuensinya,  pandangan terbatas karena hanya bisa melihat dari jarak tertentu.  Saya masih mengagumi seorang dokter muda perempuan (atau co ass), yaitu mahasiswa yang sudah semester 12.  Tampaknya di mata saya yang culun ini ia begitu gagah dengan gaun operasi warna hijau itu.

Operasi akan dimulai.  Pasien siap dibius. Semua petugas sudah siap di sekeliling meja operasi.  Yang masuk terakhir adalah sang operator.  Dokter residen itu masuk dengan tangan di angkat sampai sedada.  Memang begitu standarnya. Kalau sudah cuci tangan maka diharamkan untuk berlenggang kangkung masuk kamar operasi, sampai kita sudah mengenakan gaun yang lengkap.  Beliau memandang sekeliling, mengamati siapa saja yang hadir pada operasi kali ini.  Dua orang asisten sudah siap di tempat.  Salah satunya adalah dokter muda yang saya kagumi tadi.  Perawat yang menjadi petugas instrumen sudah siap.  Demikian juga dokter anestesi yang sudah dalam posisi membius.  Lalu tibalah pandangan mata sang operator pada diri saya.  Dilihat dari atas ke bawah, lalu dari bawah ke atas.  Ada yang aneh rupanya.

“Heh ! Kenapa kamu pakai baju panjang?” suaranya menggelegar sambil menunjuk gamis saya yang tampak di balik jubah setinggi lutut itu.
Saya langsung mengkerut.  Tapi masih berusaha menjawab.  “Maaf, dok.  Ini memang baju saya”.

“Keluar kamu! Pakai baju yang bener!” untuk kedua kalinya suaranya menggelegar. Saya  tak berpikir dua kali,  langsung beringsut mundur, melepas jubah, menggantungkan di tempat semula, dan langsung melesat kembali ke kamar bersalin.

“Lho, kok cepat? Memang sudah selesai?” teman saya heran.
“Saya gak boleh masuk OK. Soalnya pakai jilbab dan baju panjang. Sudah gantian kamu saja, daripada nanti dicari-cari”, jawab saya.
Alhamdulillah….jaga observer hanya sampai jam 9 malam.  Saya bisa langsung pulang sambil membawa hati yang agak jengkel tapi  tak bisa melawan.

1988 – 1989 ………………
Angkatan saya sudah berhak menggunakan ‘gelar’ dokter muda.  Dengan kewajiban masuk kamar operasi dan menjadi asisten, kami ( mahasiswi berjilbab dan mahasiswa simpati) bergotong royong untuk membuat 10 pasang baju seragam kamar operasi beserta jilbabnya.  Sebuah perjuangan berat untuk bisa melegalisasi seragam ‘made in sendiri’ itu resmi masuk  kamar operasi.  Kejadian ditolak masuk kamar operasi semoga tak terulang lagi.

1995………………
Saya dokter residen obstetri dan ginekologi.  Sudah harus berakrab ria dengan kamar operasi.  Tak nyana…baju bertuliskan nama saya ternyata masih setia menunggu di lemari OK.

Tulisan ini diikutkan dalam lomba yang diadakan khusus untuk kontak Cambai di

http://cambai.multiply.com/journal/item/420

Jumlah kata 598 (nyarisssss…)

Alhamdulillah, dapat menyomot hadiah juara 1 berupa suvenir Palembang yang cantik dan gemerlap.  Terimakasih, mbak Dian