Tag Archive | busana muslimah

Kisah Panjang Hijab di Kamar Operasi

Tulisan kisah nyata ini merupakan salah satu penugasan di Wonderful Writing Class yang dipandu oleh penulis kondang pak Cahyadi Takariawan dan istri beliau, bu Ida Nur Laila. 

Yang ingin bisa “Menulis Semudah Bernafas” silakan ikut WWC gelombang berikutnya…

Prita Kusumaningsih “Jadi berapa meter kain yang dibutuhkan?” “Jenis bahannya sudah dicek belum? Warnanya juga harus sama persis, lho”. “Bagaimana kalau kita pinjam saja sepasang baju dan celana itu barang sehari? Buat contoh ke penjahit” “Kamu jadi kan, bicara dengan ibu kepala ruangan kemarin?” Itulah sebagian kasak kusuk kami, mahasiswi berhijab Fakultas Kedokteran semester 9 […]

melalui KISAH PANJANG HIJAB DI KAMAR OPERASI — Wonderful Writing Class

Iklan

“Modeblaad” Busana Muslimah

Saat liburan Idul Fitri yang baru lalu, ada waktu 3 hari buat mengunjungi orang tua di Surabaya.  Ternyata saya menemukan 1 buku lama.  Bukan novel atau textbook, tapi modeblaad (buku mode – bahasa Belanda).  Bukan modeblaad lux, hanya fotokopian.  Tapi modeblaad ini cukup bersejarah terutama bagi pengguna busana muslimah di tahun-tahun awal 1980 an. Di tahun-tahun awal dipakainya busana muslimah oleh mahasiswa, belum ada konveksi dan koleksi busana muslimah.  Belum ada pula kerudung yang bisa dibeli jadi, baik segi empat, segi tiga maupun kerudung instan siap pakai.    Model busana muslimah buat mahasiswi atau pelajar enaknya seperti apa? Terserah masing-masinglah.  Kami masih berdasarkan naluri dan panduan fiqih saja.  Yang penting, menutup aurat – termasuk kaki-,  longgar, dan tidak tipis menerawang.

Bahkan, terkadang masih pakai baju-baju lama yang dimodifikasi demi memenuhi syarat syariat. Seperti apa modifikasinya?  Macam-macam.  Bisa dengan membongkar kupnat, maka blus jadi lebih longgar, tidak pas badan.  Keliman rok dibuka demi mendapatkan tambahan panjang beberapa senti.  Bahkan kalau perlu disambung dengan renda atau kain yang lain!

Bagaimana dengan kerudung? Gampang, beli saja kain meteran kemudian dipotong sesuai lebarnya.  Jadilah bentuk bujur sangkar. Tinggal dilipat dua,  jadi segitiga, beres.  Untuk pinggiran bisa dibawa ke tukang neci,  bayar beberapa ratus (harga tahun 1984, lho), maka kerudung buat kuliah pun jadi sudah.  Kalau agak rajin dan telaten maka pinggiran kerudung itu dipasangi renda atau dirajut, lebih indah memang.  Sayangnya, saya tidak termasuk yang golongan rajin telaten.  Maklum, mahasiswi FK…he..he… Atau bisa juga sedikit kreatif dengan menarik benang-benang pada pinggiran kain kerudung, maka jadilah pinggiran yang suwir-suwir! Kalau yang ini, selain kreatif juga irit karena tidak perlu mengeluarkan ongkos merapihkan pinggiran sepeser pun!

Kepingin pakai gamis! Maka, sepulang kuliah kami berkumpul di rumah seorang kawan yang pintar menjahit dan mendapatkan kursus singkat membuat gamis. (terimakasih, dr. Wita, SpOG) Bahkan, kawan yang tidak punya mesin jahit (karena di kos-kosan), cukup rela manjahit gamis dengan tangan! Alhamdulillah, saat itu saya bisa pakai mesin jahit Singer buatan tahun 1920 milik ibu.

Kembali ke Saat liburan Idul Fitri yang baru lalu, ada waktu 3 hari buat mengunjungi orang tua di Surabaya.  Ternyata saya menemukan 1 buku lama.  Bukan novel atau textbook, tapi modeblaad (buku mode – bahasa Belanda).  Bukan modeblaad lux, hanya fotokopian.  Tapi modeblaad ini cukup bersejarah terutama bagi pengguna busana muslimah di tahun-tahun awal 1980 an. Di tahun-tahun awal dipakainya busana muslimah oleh mahasiswa, belum ada konveksi dan koleksi busana muslimah.  Belum ada pula kerudung yang bisa dibeli jadi, baik segi empat, segi tiga maupun kerudung instan siap pakai.    Model busana muslimah buat mahasiswi atau pelajar enaknya seperti apa? Terserah masing-masinglah.  Kami masih berdasarkan naluri dan panduan fiqih saja.  Yang penting, menutup aurat – termasuk kaki-,  longgar, dan tidak tipis menerawang.
Bahkan, terkadang masih pakai baju-baju lama yang dimodifikasi demi memenuhi syarat. Seperti apa modifikasinya?  Macam-macam.  Bisa dengan membongkar kupnat, maka blus jadi lebih longgar, tidak pas badan.  Keliman rok dibuka demi mendapatkan tambahan panjang beberapa senti.  Bahkan kalau perlu disambung dengan renda atau kain yang lain!


Bagaimana dengan kerudung? Gampang, beli saja kain meteran kemudian dipotong sesuai lebarnya.  Jadilah bentuk bujur sangkar. Tinggal dilipat dua,  jadi segitiga, beres.  Untuk pinggiran bisa dibawa ke tukang neci,  bayar beberapa ratus, maka kerudung buat kuliah pun jadi sudah.  Kalau agak rajin dan telaten maka pinggiran kerudung itu dipasangi renda atau dirajut, lebih indah memang.  Sayangnya, saya tidak termasuk yang golongan rajin telaten.  Maklum, mahasiswi FK…he..he… Atau bisa juga sedikit kreatif dengan menarik benang-benang pada pinggiran kain kerudung, maka jadilah pinggiran yang suwir-suwir! Kalau yang ini, selain kreatif juga irit karena tidak perlu mengeluarkan ongkos merapihkan pinggiran sepeser pun! 


Kepingin pakai gamis! Maka, sepulang kuliah kami berkumpul di rumah seorang kawan yang pintar menjahit dan mendapatkan kursus singkat membuat gamis. (terimakasih, dr. Wita, SpOG) Bahkan, kawan yang tidak punya mesin jahit (karena di kos-kosan), cukup rela manjahit gamis dengan tangan! Alhamdulillah, saat itu saya bisa pakai mesin jahit Singer buatan tahun 1920 milik ibu.

Kembali ke modeblaad tadi.  Saat buku mode karangan mbak Anne Rufaidah itu terbit, kami sungguh sangat terbantu.  Paling tidak secara moril.  Karena, meski tidak ada sepotong pun busana saya yang meniru modeblaad tersebut, tapi wawasan terasa agak luas.  Dan merasa bahwa busana muslimah juga bisa dibuat macam-macam model.  Maka buku tersebut lantas beredar dari tangan ke tangan, dan difotokopi untuk keperluan pribadi.  *maaf mbak Anne, tidak bermaksud membajak* Bahkan saya sampai punya 2 eksemplar.  Karena, selain saya pribadi punya satu, ternyata saat menikah, suami juga punya satu!   *Oalah, jadi kaum ikhwan jaman itu juga merasa harus punya referensi! *
Buku tersebut memuat gambar-gambar rancangan Anne Rufaidah dari pakaian olahraga sampai busana pengantin dan busana daerah, yang diperagakan di Jakarta pada Tahun Baru Hijriyah 1406.

Dilengkapi dengan puisi Taufiq Ismail “Subuh sampai Maghrib, Suatu Hari pada Awal Abad Lima Belas”.  Bahkan foto pernikahan Anne Rufaidah dengan menggunakan busana muslimah merupakan foto yang wajib dimiliki mahasiswi siap nikah. Semua itu tinggal kenangan kini.  Semoga menjadi amal jariyah buat Anne.  Dan semoga mbak Anne tetap konsisten dengan rancangan busana muslimah yang syar’i.(nin)

migrasi MP 20 Sepetember 2010

keterangan foto :

1. Cover modeblaad (fotokopian)

2. Rancangan gaun pengantin muslimah

3. Rancangan busana olahraga muslimah