Tag Archive | angciu

[Halal is My Life] Makan Makanan “Halal”, Tetap Harus Waspada

Tulisan ini,bersama tulisan yang lain, bisa dibaca juga di majalah AULIA edisi Februari 2013. Terkadang kita merasa tenang saja karena makan di resto yang sudah jelas halal. “Lho, kok tahu dengan jelas kehalalannya?” “Ya, kan cuma sea food. Gak jual masakan B2 dan gak pakai minyak B2 juga” “Betulkah seperti itu? Pengalaman dari komunitas Halal Baik Enak saat melaksanakan wisata kuliner halal menemukan bahwa hanya kurang dari 10% resto yang ada di mal-mal ternama, yang mempunyai sertifikat halal. Dari 40an resto, hanya 1 atau paling banyak 2, yang sudah bersertifikat halal.  Itu pun didominasi oleh resto fastfood berwaralaba”. “Jadi sisanya jualan makanan haram, dong?” “Makanan yang disajikan memang halal.  Tapi yang bikin tidak halal bisa dari bumbu, penyedap, pencelup, dll.  Jadi yang asalnya halal bisa berubah menjadi haram gara-gara bahan-bahan tambahan tersebut”. Kiat-kiat inilah yang Insya Allah saya (dan keluarga) lakukan saat makan di luar: 1.  Untuk makanan di resto, kami sekeluarga selalu memilih yang sudah bersertifikat halal, yang ditandai dengan adanya logo Halal MUI (lihat gambar)  Kalau ragu, tentu ditanyakan saja secara langsung.  Kalau tidak punya sertifikat halal dan jenis makanannya berisiko tidak halal, misalnya rawan penggunaan angciu atau rhum, maka saya tanyakan langsung ke dapurnya. Jangan menanyakan ke pramusaji, karena mereka biasanya tidak tahu menahu tentang proses pengolahan masakan. Melongok ke dapur, saya tanyakan bahan-bahan tambahan yang dipakainya serta saya minta ditunjukkan botol kemasannya. Misalnya: “Pak, pakai angciu tidak? Terkadang mereka jawab langsung “ya atau tidak”. Tapi bisa juga berkilah, “Kalau ibu gak mau angciu juga bisa kok”. Nah, yang jawab belakangan ini biasanya memang pakai angciu. Hati-hati! Kalau jawabannya “tidak pakai angciu”, jangan selesai dulu karena angciu bisa tampil dengan berbagai macam nama, misalnya ‘cuka beras’, ‘arak beras’, ‘saos raja rasa’.   Alhamdulillah, karena mata sudah terlatih mengamati merk, maka kita bisa menyimpulkan ada tidaknya sertifikat halal dari penambah rasa tersebut. Kalau meragukan, tinggalkan saja. Bagaimana kalau terpaksa? Pilih makanan yang aman dari penambahan bahan halal, misalnya soto, rawon, dsb.  Jangan pilih masakan sea food, atau tumis2an (misalnya: cah kangkung), karena biasanya ditambah angciu. Alhamdulillah, selama ini masih dilindungi Allah karena kami sekeluarga termasuk yang konservatif, jarang makan di luar, atau kalau pun makan, hanya di resto tertentu yang sudah dikenal dengan baik. Pernah ding, satu kali terjebak makan di resto yang sekarang sedang ramai dibicarakan karena sangat ramai padahal belum bersertifikat halal, yaitu Sol**ia.  Ternyata sepulang dari resto itu, ada anggota keluarga yang terkena diare. Semenjak itu kapok makan di sana lagi.  Pertama dan terakhir! 2.  Makan di rumah makan kecil atau warung tenda atau makanan keliling. Di sini kita lebih mudah lagi dalam memeriksa bahan2 tambahannya.  Cara bertanyanya sama dengan di resto, dan malah kita bisa lihat satu persatu botolnya.  Ada satu rumah makan yang justru malah berkonsultasi tentang kehalalan berbagai macam bumbu tambahan.  Saya mengajari bagaimana mencari logo halal MUI di sebuah produk yang merupakan jaminan kehalalan produk tersebut.  Kalau ternyata bahan2nya Insya Allah sudah halal, saya himbau agar mereka mendaftarkan produknya agar bersertifikat halal MUI 3.  Ada selebaran tentang makanan yang berisiko tidak halal gara-gara ada tambahan bahan haram.  Selebaran tersebut saya gandakan.  Ditaruh di tempat umum, di kantin RS untuk diambil oleh pengunjung kantin,dan dibagikan kepada para penjual makanan keliling.  Reaksi mereka adalah : “Kok saya baru tahu sekarang, sih!” “Kenapa tidak disosialisasikan sejak dulu.  Bagaimana dong selama ini yang saya makan?”.  Jadi kesimpulannya,  sebagian dari masyarakat itu BELUM TAHU.  Tugas kitalah untuk menyebarkan pengetahuan ini.  Namun ada juga segolongan masyarakat yang tahu risiko2 keharaman suatu makanan gara2 bahan tambahan, namun mereka TIDAK BERANI untuk menanyakan ke pemilik/petugas resto. Itu baru resto.  Masih ada lagi kerawanan pada produk-produk roti, donat, dan cake dari bakery ternama.  Belum lagi makanan hotel, terutama hotel berbintang. Dan juga makanan dari catering, saat kita menghadiri undangan pernikahan.  Jadi….hati-hati! Jadilah auditor untuk diri kita sendiri, keluarga, dan kerabat terdekat terlebih dahulu.  

 
 

 

Iklan