Denyut Jantung Janin, Bagaimana Memantaunya? (episode 2)

Bagaimana Cara Mendengarkan DJJ?

Ada berbagai cara untuk mendengarkan denyut jantung janin. Cara yang paling sederhana adalah menempelkan telinga ke perut ibu. Sering kita lihat foto-foto romantis seorang calon bapak dalam pose menempelkan telinga di perut hamil istrinya. Betulkah ia bisa mendengar denyut jantung tersebut? Atau hanya sekedar bergaya selfie untuk diunggah ke media sosial? Hanya yang bersangkutan yang bisa menjawabnya. Kalau di foto itu perut hamil sudah tampak besar, maka kemungkinan besar denyut jantung tersebut memang bisa didengar. Tempelkan telinga langsung ke dinding perut dan berkonsentrasilah. Maka akan terdengar suara detakan halus dan teratur. Untuk bisa didengarkan secara langsung suara jantungnya, si janin sudah harus berada di usia trimester 3 (di atas 7 bulan).

Dulu para bidan (dan juga dokter) menggunakan alat bantu berupa semacam stetoskop dari kayu yang disebut dengan funanduskop. Bentuknya seperti corong atau terompet pendek. Penggunannya, bagian mulut terompet ditempelkan di dinding perut ibu hamil dan telinga kita menempel di pangkal terompet. Cukup melelahkan terutama apa bila dinding perut si ibu hamil cukup tebal, alias bumil tersebut sangat gemuk. Dengan menggunakan funanduskop ini, denyut jantung janin sudah bisa dideteksi semenjak kehamilan 20 pekan. Tentu saja sebelum terjun memeriksa bumil bersenjatakan terompet kayu tersebut, terlebih dahulu ada sesi latihannya. Tujuannya adalah mengenali bunyi jantung di antara suara-suara lain didalam rongga perut. Lho, memang ada acara apa di perut bumil kok sampai ramai ? Ha..ha…bukan acara pesta, namun beberapa organ lain di dalam perut bisa mengeluarkan bunyi juga. Di antaranya adalah bunyi usus, dan bunyi pembuluh darah ibu. Untuk itu si pemeriksa harus tahu perbedaannya.

Cara belajar mengenali denyut jantung janin ala mahasiswa kedokteran jaman dulu cukup unik. Yaitu, sebuah jam tangan yang berdetik ditaruh di bawah bantal dan kita harus bisa mendengarkannya dari atas bantal. Silakan dicoba! Sulit? Pantaslah saat tes kesehatan, calon mahasiswa kedokteran harus dipastikan punya pendengaran yang prima.

Kalau sekarang, sudah ada alat pemantau DJJ yang jauh lebih praktis, yaitu Doppler. Bentuknya macam-macam, ada yang portable ukuran saku, sampai yang seukuran textbook tebal. Bertenaga batere yang bisa diisi ulang. Dengan alat doppler ini, janin berusia 12 pekan sudah bisa dideteksi denyut jantungnya. Untuk usia yang lebih dini, pemantauan DJJ bisa menggunakan doppler yang tertanam dalam alat USG. Jantung sebagai organ vital yang mengalirkan darah ke seluruh tubuh sudah mulai bekerja semenjak janin berusia 6 minggu – saat panjangnya baru 1 sentimeter! MahaBesar ALLAH!

Bagaimana memantau DJJ secara kontinyu?

Terkadang DJJ perlu dipantau secara kontinyu tanpa terputus. Apabila pemantauan kontinyu tersebut direkam bersamaan dengan perekaman kontraksi rahim dan gerak janin maka akan tampak sebuah pola.   Pola tersebut secara keseluruhan menggambarkan kesejahteraan janin di dalam rahim. Alat yang digunakan untuk merekam DJJ tersebut adalah Kardiotokografi. Cara pemakaiannya adalah dengan menempelkan 2 sabuk ke perut ibu hamil. Pada sabuk pertama terdapat alat penyadap (transduser) untuk merekam DJJ. Sabuk ini ditempelkan di lokasi paling keras terdengarnya DJJ (punktum maksimum). Sedangkan di sabuk kedua terdapat alat penyadap untuk mendeteksi kontraksi rahim. Sabuk kedua ini ditempelkan di bagian rahim yang mengalami kontraksi paling kencang, yaitu di puncak rahim. Kedua sabuk dihubungkan ke alat KTG. Untuk mendeteksi pergerakan janin, ada sebuah tombol yang dikendalikan oleh ibu. Bila janin bergerak maka ibu harus memencet tombol itu.   Durasi perekaman rata-rata selama 10 menit, namun apabila ada hal-hal yang mencurigakan tidak ada salahnya untuk memperpanjang perekaman.

Dengan mengamati grafik hasil perekaman DJJ akan bisa disimpulkan apakah janin masih sejahtera atau tidak. Apabila ternyata kondisi janin gawat, maka harus segera diambil tindakan untuk melahirkannya.

 

DENYUT JANTUNG JANIN (episode 1)

Setiap kali memeriksa seorang ibu hamil selalu saya perdengarkan denyut jantung janin yang iramanya seperti derap kaki kuda tersebut. Dengan alat doppler, denyut jantung sudah bisa didengar sejak usia kehamilan duabelas pekan, tatkala janin masih berukuran 2 sentimeter. Dengan doppler USG kita bisa mendengar denyut jantung di usia yang lebih dini lagi, yaitu 7 pekan. Saat itu ukuran janin masih satu sentimeter. Masya Allah!

 

 

Selain memperdengarkan saya juga menghitung frekuensinya. Dengan USG, frekuensi harus dihitung terlebih dahulu, sedangkan dengan alat doppler,frekuensi langsung muncul dalam angka digital. Tak dinyana ternyata para ibu sangat perhatian dan mengingat hasil pemeriksaan pekan sebelumnya. Tatkala saya menyebutkan angka 145 x per menit, misalnya, maka segera disusul dengan pertanyaan, “Kok minggu lalu 153 kali, dok? Mengapa frekuensinya menurun?”

Atau bisa juga begini, saat saya menyebutkan sebuah angka, 137 kali per menit, maka pertanyaan selanjutnya adalah, “Kenapa secepat itu? Normal tidak?”

Sehingga pertanyaan besarnya adalah berapa normalnya Frekuensi Denyut Jantung Janin?

Mari kita telusuri ……

Jantung memang salah satu organ yang dibentuk dan berfungsi paling awal. Hal ini wajar sehubungan dengan tugasnya sebagai pemompa darah ke seluruh tubuh. Dengan aktifnya sirkulasi maka kehidupan akan terpelihara dan tumbuh kembang akan berlangsung. Sekali jantung berdenyut maka pantang untuk berhenti. Ibarat syair Khairil Anwar …”sekali berhenti, sudah itu mati”

Berhubung janin dalam rahim tidak bisa dilihat secara langsung, maka harus ada indikator yang menunjukkan bahwa janin tersebut baik-baik saja, atau justru sedang dalam masalah yang gawat. Indikator tersebut adalah Denyut Jantung Janin (DJJ). DJJ dihitung frekuensinya, dipantau iramanya dan dikorelasikan dengan kondisi ibu. Frekuensi normal DJJ adalah 120 – 160 kali per menit. Jauh lebih cepat daripada denyut jantung manusia dewasa yang 60-80 kali per menit . Karena itu sangat normal apabila DJJ hari ini 145 dan pekan kemarin 153 kali per menit.

Peningkatan DJJ bisa terjadi dari faktor janin, misalnya janin banyak bergerak. Dari faktor ibu, misalnya ibu demam. Atau bisa juga faktor lingkungan, misalnya saat rahim berkontraksi, kompresi kepala janin saat berada di dasar panggul, atau keadaan dimana terjadi hipoksia (penurunan suplai oksigen ke janin). Masih dibilang aman apabila kondisi DJJ cepat itu segera pulih kembali menjadi normal apabila gangguan dihilangkan. Namun apabila gangguan tersebut tidak bisa segera dihilangkan, maka DJJ cepat (takikardia) bisa berpotensi membuat jantung “lelah”, maka akibatnya akan terjadi sebaliknya yaitu DJJ melambat (bradikardia). Ini kondisi bahaya

Bagaimana Memantau DJJ Secara Kontinyu??

Bersambung ………

 

UANG RUSAK, BAGAIMANA SOLUSINYA?

Musibah tak dapat ditolak. Pada suatu saat lemari kayu jati – yang waktu beli digaransi bebas rayap- ternyata kalah juga oleh serbuan rayap yang berasal dari lantai. Maka terjadilah, semua barang habis dilahap oleh hewan kecil-kecil itu. Dari buku, kain batik, baju,termasuk….uang kertas. Memang primitif sekali saya ini menyimpan uang kertas di dalam lemari! Saya ingat, waktu itu dalam kondisi tergesa-gesa harus pergi, sehingga belum sempat menyetorkan ke bank.

Uang sobek masih bisa diselotip. Tapi kalau geripis sampai hampir separuh bagian….tentu hilang nilainya. Sempat termangu-mangu juga untuk beberapa lamanya. Menyesali betapa cerobohnya saya. Belum lagi memikirkan buku-buku yang terpaksa harus direlakan masuk keranjang sampah. Kalau kebanjiran atau kebakaran, masih bisa digolongkan force majeure. Naudzubillah min dzaalik! Tapi ini kemakan rayap….! Salah siapa? Rayap? Lemari?

Sampai akhirnya saya memberanikan diri menanyakan apakah saya bisa menukarkan uang rusak tersebut ke bank syariah langganan saya. Bank syariah tertua di Indonesia, dimana saya menjadi nasabahnya semenjak pertama kali berdiri di negeri ini, demi menghindari yang syubhat-syubhat. Jawaban dari petugas bank syariah, saya disuruh menanyakan hal ini ke bank konvensional plat merah.

“Kalau bank Mandiri bilang bisa ditukar, maka insya Allah bisa, bu”, demikian penjelasannya.

Maka beberapa waktu kemudian saya ke bank tersebut. Penjelasannya sebagai berikut :

Uang rusak yang bisa ditukar melaui Bank Mandiri (BM) atau langsung ke Bank Indonesia (BI). Kalau ke BM sifatnya adalah kita menyetor uang rusak tersebut ke rekening kita sendiri. Nantinya oleh bank akan diteruskan ke BI. Adapun syarat yang diajukan oleh BM adalah sbb:

  1. Bentuk fisik uang masih bisa dikenali
  2. Kerusakan tidak melebihi 1/3 bagian uang
  3. Nomor seri masih ada yang utuh (lengkap)
  4. Bagian yang robek ditambal dengan kertas sehingga menjadi seukuran aslinya
  5. Mendapatkan pemotongan 15% dari pihak bank
  6. Bank Indonesia mungkin akan pemotongan juga tapi tidak diketahui prosentasenya

Alternatif kedua adalah langsung menukarkan ke BI dan nanti akan diganti dengan uang tunai utuh. Ada dua cara menukarkan ke BI. Cara pertama adalah datang langsung ke kantor BI Pusat. Cara kedua adalah dengan memanfaatkan kantor BI keliling yang sudah ada jadwal tetapnya.

Info di dapat dari twitter BI yaitu @bank_indonesia , hotline BI di (021)131

Link : bit.ly/1CwG7Eo

Dari informasi per telepon , ternyata untuk penukaran uang rusak langsung ke BI tidak perlu melakukan penambalan uang yang sungguh menyita waktu tersebut. Alhamdulillah

 

Akhirnya dilakukanlah penukaran uang rusak tersebut ke BI, tepatnya di gedung C. Petugas menghitung uang tersebut sekaligus menyeleksinya apakah masih memenuhi syarat untuk ditukarkan. Kesimpulannya semua lembaran merah tersebut memenuhi syarat, yang artinya akan ada penggantian sesuai jumlah nominal. Alhamdulillah!!

Berikut ini petunjuk BI sebagai panduan menangani uang rusak :

1. Masyarakat dapat menukarkan uang rupiah yang tidak layak edar dengan uang rupiah layak edar di BI atau di kantor kas keliling BI, atau bank lain yang disetujui BI

2. Yang termasuk golongan uang tidak layak edar adalah : uang lusuh, uang cacat, uang rusak, uang yang sudah ditarik dari peredaran. Uang rusak sehingga tidak layak edar adalah uang yang hilang sebagian (lebih dari 50mm2), ada lubang (lebih dari 10 mm2), ada coretan, sobek (lebih dari 8 mm), dan uang ditambal selotip (lebih dari 225 mm2)

3. Uang rusak yang diberi penggantian sesuai nominal adalah sbb :

A. Fisik uang lebih dari 2/3 ukuran aslinya dan uang masih dapat dikenali ciri keasliannya

B. Uang rusak masih merupakan suatu kesatuan dengan atau tanpa nomor seri yang lengkap dan ukurannya lebih dari 2/3 ukuran aslinya serta masih dapat dikenali keasliannya

3. Uang rusak tidak merupakan satu kesatuan tetapi terbagi paling banyak 2 bagian terpisah dan kedua nomor seri uang tersebut lengkap serta ukurannya lebih dari 2/3 ukuran aslinya

 

 

Mudah?

Ya…kemudahaan penukaran ini didukung juga dengan kemudahan akses menuju Bank Indonesia. Akan lain ceritanya apabila kita berdomisili di lokasi 3T (Tertinggal, Terpencil, Terluar). Patut diapresiasi dan didukung kerja para petugas Bank Indonesia yang mau bersusah payah menempuh perjalanan panjang dan sulit guna mencapai lokasi 3T tersebut. Untuk apa gerangan? Tak lain dan tak bukan adalah untuk memberikan fasilitas bagi warga di daerah tersebut untuk menukarkan uang-uangnya yang sudah tak layak edar dengan uang baru. Uang lama yang sudah ditarik dari peredaran, uang lusuh, uang rusak , semuanya diganti dengan yang baru. Semua itu adalah kewajiban pemerintah yang kalau perlu ditingkatkan frekuensinya. Kalau tidak, jangan heran apabila WNI di perbatasan lebih kenal ringgit Malaysia dan Peso Philipina daripada rupiah.  

Nyeri Haid, Kapan Harus ke Dokter? (episode dua)

Berkebalikan dengan yang primer, pada dismenore sekunder, nyeri haid yang timbul diakibatkan oleh adanya kelainan pada organ reproduksi. Sifat nyerinya juga berbeda, yaitu :

  1. Baru timbul di usia dewasa, dimana sebelumnya tidak pernah mengalami nyeri haid .
  2. Nyeri mulai timbul di hari pertama haid, namun semakin lama semakin meningkat sejalan dengan makin banyaknya darah haid yang keluar. Bahkan bisa saja nyeri haid bertahan sampai dengan haid berakhir!
  3. Derajat nyeri juga lebih berat sehingga hampir selalu dibutuhkan obat penghilang nyeri
  4. Terkadang disertai dengan nyeri di tempat lain, misalnya nyeri saat BAB atau BAK

Kelainan organ yang dihubungkan dengan nyeri haid antara lain adalah :

  1. Endometriosis
  2. Mioma uterus (tumor jinak rahim)
  3. Penyakit Radang Panggul
  4. Tumor Indung Telur, terutama kista endometriosis
  5. Kelainan letak rahim
  6. Kelainan bawaan saluran genitalia
  7. Penyempitan atau striktura leher rahim
  8. Penggunaan AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim)
  9. Faktor psikis

Bila yang dirasakan selama ini menjurus ke nyeri haid sekunder, apalagi bila disertai dengan nyeri saat berhubungan intim, maka segeralah berkonsultasi ke dokter kandungan.

endometriosisdiag dari www.med.yale.eduFoto : endometriosis, salah satu penyebab tersering nyeri haid sekunder

Olahraga Bisa Ringankan Nyeri Haid

Yang menarik adalah bahwa nyeri haid ternyata berkaitan juga dengan kondisi psikologis seseorang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wanita yang kepribadiannya belum matang, yang merasa tidak nyaman saat dirinya sedang haid, yang mengalami konflik berkaitan dengan kewanitaannya, kebanyakan mengalami nyeri haid yang lebih berat. Demikian juga, wanita yang kurang berolahraga, atau yang mengalami kurang gizi ternyata lebih sering menderita akibat nyeri haid.

Kapan Harus ke Dokter?

Nyeri haid tak selalu harus diobati, namun apabila dirasakan perlu, jangan ragu-ragu untuk berkonsultasi ke dokter. Pengobatan medis dianjurkan apabila ada kecurigaan nyeri haid sekunder. Untuk nyeri haid primer namun membuat tidak nyaman dalam beraktivitas bisa mengonsumsi obat penghilang nyeri yang beredar bebas, misalnya golongan parasetamol. Namun hendaknya mengonsumsi obat tersebut sesuai dengan dosis yang dianjurkan dan tidak menggunakannya secara sembarangan dan berlebihan. Akan lebih baik lagi bila dilakukan perubahan pola hidup dan pola makan yang bertujuan mengurangi derajat nyeri haid. Karena itu , daripada tergantung dengan obat2an mulailah melakukan hal-hal di bawah ini :

  1. Berolahraga secara teratur
  2. Makan makanan yang sehat dan diperbanyak sayur dan buah-buahan
  3. Mengurangi konsumsi garam, gula, dan lemak
  4. Kompres hangat di bagian perut yang terasa nyeri

[nin]

Nyeri Haid, Kapan Harus ke Dokter? (episode satu)

Haid yang sering diibaratkan sebagai tamu bulanan, terkadang kehadirannya membawa penderitaan. Meskipun bagi sebagian besar wanita tidak merasa terganggu karenanya, namun untuk sebahagian yang lain datangnya haid bagaikan horor. Horor tersebut berwujud nyeri haid (dismenore). Dalam menghadapi nyeri haid dengan berbagai bentuknya tak sedikit yang siap tempur bersenjatakan macam-macam jenis ramuan dan obat-obatan. Yang tumbang, terpaksa harus meringkuk di tempat tidur dan aktivitas harian pun terpaksa diurungkan.

Prosentase wanita yang mengalami nyeri haid sebetulnya cukup besar, namun jarang di antara mereka yang datang berobat ke dokter dikarenakan nyerinya. Di Amerika, 30-50% wanita mengalami nyeri haid, bahkan 10-30% di antaranya harus meninggalkan pekerjaan atau sekolahnya. Di Swedia, sebanyak 72,42% wanita usia19 tahun mengalami nyeri haid. Bagaimana dengan di Indonesia? Sebuah penelitian yang melibatkan 733 orang siswi SMP di Jakarta, ternyata 74,1% mengalami nyeri haid derajat ringan sampai berat.   Para siswi tersebut juga mengeluh pusing, sakit kepala, dan mual sebagai gejala yang menyertai nyeri haid. Sebuah penelitian lain di Amerika mengungkapkan bahwa nyeri haid dialami oleh 20% – 90% wanita di usia reproduksi

Mengapa Bisa Timbul Nyeri Haid?

Nyeri haid digambarkan dengan nyeri yang ringan sampai berat di area perut bagian bawah. Nyeri tersebut bersifat spasmodik yaitu nyeri mirip kram dan berdenyut-denyut.   Dari perut bagian bawah, nyeri bisa menjalar sampai ke paha bagian dalam atau ke area bokong. Derajat nyeri bisa berbeda antar satu wanita dengan wanita lain. Bila nyeri haid yang digambarkan di atas tersebut dibarengi dengan mual, muntah, diare, bahkan ada yang sampai pingsan, maka nyeri tersebut digolongkan sebagai nyeri haid berat.

dismenore.www.fetus.org

Dalam dunia medis, nyeri haid disebut dismenore, berasal dari kata “dis” (sulit, nyeri, abnormal) , “meno” (haid) dan “rhea” (aliran). Ada dua jenis dismenore, yakni primer dan sekunder. Disebut dismenore primer apabila tidak diketemukan kelainan organik.   Sifat nyerinya, timbul sejak hari pertama haid dan menghilang atau berkurang banyak di hari kedua. Penyebabnya adalah kontraksi rahim ditambah dengan pengaruh beberapa hormon. Meskipun mekanisme bagaimana terjadinya dismenore primer ini belum jelas benar, namun diduga nyeri timbul akibat keluarnya hormon prostaglandin yang berlebihan. Prostaglandin ini menyebabkan kontraksi rahim sehingga timbul nyeri. Kadar Prostaglandin yang tinggi diakibatkan oleh rendahnya hormon Progesteron yang dihasilkan dari korpus luteum.

(kalau dismenore sekunder yang bagaimana? ……)

PUASA IBU HAMIL DAN IBU MENYUSUI. BAGAIMANA SEBAIKNYA DAN APA KIATNYA?

Bulan Ramadhan menjelang. Persiapan-persiapan telah dilakukan. Broadcast penyemangat dan nasihat telah bertebaran di media sosial bahkan semenjak bulan Rajab. Namun para ibu hamil terkadang galau. Antara semangat untuk menjalankan ibadah yang harus didukung fisik prima namun sangat sarat muatan ruhiyah, dengan kekhawatiran terhadap kondisi janin dalam kandungan, atau bahkan terhadap dirinya sendiri. Kuatkah?

Berbahayakah? Bagaimana seharusnya puasa ibu hamil?

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tidak didapatkan perbedaan yang bermakna terhadap keluaran bayi yang ibunya menjalankan ibadah puasa. Namun syarat dan ketentuan yang berlaku adalah : ibu harus dalam kondisi sehat demikian pula janinnya. Syarat ini hendaknya dipatuhi agar tidak ada yang dirugikan oleh sebab puasa. Karena pada dasarnya Allah Subhanahu wa Ta’ala sudah memberikan keringanan untuk tidak berpuasa bagi ibu hamil . Sebagai Sang Pencipta manusia, tentu Allah mengetahui bahwa ada kemungkinan puasa memberikan dampak negatif apabila dilakukan tanpa aturan yang bersifat kondisional.

Apa syarat dan ketentuan tersebut?

Puasa diperbolehkan apabila kondisi ibu sehat dan perkembangan janin normal. Ibu tidak ada gangguan makan, atau fase gangguan nafsu makan berupa mual dan muntah sudah terlewati. Keadaan semacam ini biasanya tercapai setelah kehamilan sudah melewati trimester 1, jadi usia kehamilan di atas 3 bulan. Kalau berdasarkan pengalaman saya, pada usia 5 bulan ibu sudah merasa nyaman dan nafsu makan sudah kembali normal. Dan jangan lupa, berat badan ibu sebelum hamil termasuk normal, dihitung dengan Indeks Massa Tubuh (IMT). Rumus menghitung IMT adalah TB (dalam meter) kuadrat dibagi dengan BB (dalam kilogram). Angka 22-25 menunjukkan normal. Selain itu kehamilan hendaknya tidak berkomplikasi dengan penyakit apa pun. Yang terbanyak dialami oleh ibu hamil adalah anemia (kurang darah) diakibatkan oleh kekurangan zat besi. Untuk mengetahuinya dapat dilakukan dengan pemeriksaan darah di laboratorium. Kondisi anemia ditandai dengan kadar Hemoglobin (Hb) kurang dari 11 gram%, atau kurang dari 10,5 gram% di trimester 2. Karena itu sebelum menjalankan ibadah puasa sebaiknya berkonsultasi ke dokter yang merawat selama ini. Pastikan bahwa kadar hemoglobin normal, berat badan normal, dan tidak ada penyakit yang menyertai. Demikian juga si janin harus dipastikan timbuh kembangnya normal sesuai dengan usianya.

Kondisi bagaimana seorang ibu hamil tidak boleh berpuasa?

Bila ada komplikasi pada kehamilannya, misalnya anemia (kadar Hb kurang dari 10,5 gr%), hipertensi, mual muntah yang berlebihan, berat badan di bawah normal, atau ada penyakit kronik yang menyertai kehamilan. Demikian juga apabila saat tengah menjalankan puasa tiba-tiba terjadi penurunan kadar gula darah (hipoglikemia) yang ditandai dengan sakit kepala, keringat dingin, pandangan kunang2, badan terasa lemas tak bertenaga, sebaiknya ibu hamil segera berbuka. Jangan merasa sayang dengan puasanya yang sudah sampai tengah hari, misalnya. Demikian juga jangan memaksakan diri berpuasa (dikuat-kuatkan) dengan alasan malas mengganti puasa (Qadha) di kemudian hari.

Bagaimana dampaknya jika seorang ibu hamil memaksakan berpuasa tanpa memahami syarat dan ketentuan tersebut?

Memaksakan diri puasa sedangkan diri sendiri dalam kondisi tidak sehat dan kekurangan nutrisi dikhawatirkan akan berdampak ke janin berupa Pertumbuhan Janin Terhambat (PJT) dan/atau BBLR (Berat Badan Lahir Rendah). Ibu anemia bisa berdampak bayi anemia. Kondisi kekurangan oksigen bisa menyebabkan kesejahteraan janin menurun dan stres dalam rahim. Seperti diketahui, anemia ditandai dengan rendahnya kadar hemoglobin, sedangkan hemoglobin tersebut merupakan sejenis protein yang berfungsi mengangkut oksigen ke seluruh sel-sel tubuh.

Apa kesalahan terjamak yg paling umum dilakukan ibu hamil saat berpuasa sehingga membuat tubuhnya drop, lemas, bahkan jatuh sakit?

Inilah kondisi yang sering dijumpai :

– Ibu memaksakan diri puasa karena merasa “kuat”

– Ibu tidak sahur, atau sahur terlalu awal

– Ibu tidak memperhatikan keseimbangan gizi dan keanekaragaman makanan selama berbuka dan malam hari

– Ibu kurang asupan cairan. Selama puasa seharusnya asupan cairan tetap, yaitu tidak kurang dari 2000 cc per hari, dimana waktu untuk memenuhi kebutuhan cairan tersebut semakin pendek, sehingga memang ibu harus menyengajakan diri untuk minum meski tidak merasa haus

Bagaimana sebaiknya olahraga atau aktivitas fisik untuk ibu hamil selama puasa?

Olahraga dan aktivitas fisik dilakukan sore hari menjelang berbuka atau malam hari. Lakukan saja olahraga ringan, seperti senam ringan atau jalan kaki.

Berikut ini tips dan saran

1. Konsumsilah makanan dan minuman tetap sebagaimana biasanya, perhatikan keanekaragaman komposisi makanan untuk menjamin kecukupan gizi.

2. Niat berpuasa semata-mata hanya untuk Allah , adalah sangat penting, tentunya setelah dipastikan bahwa fisik ibu dan janin sehat. Hari-hari pertama jangan terlalu banyak aktivitas, kalau bisa jangan banyak keluar rumah mengingat saat Ramadhan nanti berada di musim kemarau yang panas.

3. Waktu sahur dianjurkan makan protein tinggi. Diakhiri dengan minum air putih. Suplemen dan susu tetap dikonsumsi seperti biasa.

4. Ibu hamil yang juga sedang menyusui anak yang lebih tua, hendaknya tidak berpuasa. Ini terjadi apabila jarak kehamilan terlalu dekat sehingga kehamilan sudah terjadi saat si kakak belum berusia 2 tahun. Jangan memaksa menyapih anak yang belum berusia 2 tahun dan masih menyusu hanya karena ingin berpuasa.

5. Ibu menyusui yang sedang dalam masa ASI Eksklusif seyogyanya tidak berpuasa. Ini karena selama 6 bulan bayi tidak mendapat nutrisi lain kecuali dari ibu dan selama berpuasa bisa terjadi penurunan produksi ASI. Selepas masa menyusui eksklusif (bayi usia 6 bulan ke atas), silakan berpuasa setelah memastikan bahwa tumbuh kembang bayi normal. Bagi ibu menyusui eksklusif yang mempunyai stok ASI Perah cukup banyak dan berlebih, bisa mencoba berpuasa.

Kapan waktu yang tepat untuk mengqadha puasanya untuk ibu hamil dan menyusui?

Mengqadha puasa dilakukan setelah melampaui masa pemberian ASI Eksklusif (setelah 6 bulan pasca persalinan). Karena itu dianjurkan untuk tidak hamil lagi dalam waktu dekat dengan menggunakan kontrasepsi.

MASJID NABAWI 2005-2015 [catatan umroh 2]

Masjid Nabawi tetap anggun. Mempesona. Setelah tahun 2005 menginjak lantai dinginnya untuk kali pertama, sepuluh tahun kemudian saya diberikan Allah kesempatan untuk kembali bersua. Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat, wajar sekali apabila banyak sekali perubahan. Meskipun demikian tetap saja beberapa hal masih sama, tetap menjadi ciri khas masjid nabi ini. Catatan saya tentang perubahan-perubahan tersebut antara lain : Nabawi - Sunrise Nabawi-Peringatan Batas Imam

  1. Payung-payung di pelataran. Dulu pelataran sangat panas di siang hari. Paling terasa di saat sholat dhuhur. Selama duduk menunggu waktu sholat, bolehlah pakai payung. Tapi di saat sholat tentu tidak mungkin. Bahkan saya sering menjumpai pemandangan seperti ini : jamaah sholat perempuan duduk berleret mengikuti bayangan tiang. Sekadar berlindung di keteduhan bayangan memanjang. Saya tersenyum saat melihat pemandangan itu. Sekarang dengan adanya payung-payung raksasa tersebut pelataran jadi teduh. Payung membuka dan menutup secara mekanis. Di saat malam, masjid dan menaranya bertaburan cahaya. Payung dalam kondisi menutup. Beranjak siang dan matahari meninggi maka mengembanglah payung-payung tersebut laksana jamur raksasa merekah. Dalam foto di atas tampak bola matahari baru terbit dan payung baru menutup.
  2. Inspeksi tas. Pemeriksaan tas atas semua jamaah perempuan masih dilakukan namun tak seketat dulu. Yang penting jangan masukkan ponsel berkamera ke dalam tas yang akan diperiksa. Apalagi kamera DSLR, jangan sekali-kali ya. Kamera saku atau kamera HP masukkan ke dalam saku baju. Kemudian sodorkan tas untuk diperiksa sebelum diminta. Sekarang bahkan orang sibuk berfoto ria hatta itu di balik punggung asykar. Di dalam masjid, berselfi, wefi atau sekadar memotret bagian-bagian masjid menjadi pemandangan yang sangat biasa. Meskipun demikian di setiap pintu masuk masih tertulis dengan running text “dilarang memotret di dalam masjid”. Sebenarnya sungguh sayang kalau keindahan interior maupun aktivitas di dalam masjid tidak terabadikan. Ini menurut pendapat saya. Asalkan kegiatan tersebut jangan sampai mengganggu waktu sholat dan mengganggu kenyamanan jamaah lain.
  3. Pemisahan tempat sholat untuk jamaah perempuan dan laki-laki masih diberlakukan. Sama seperti dulu. Pintu perempuan ada 2 buah, salah satunya adalah pintu Utsman.   Namun di dalam area perempuan masih dipisahkan lagi antara perempuan yang membawa bayi/anak dan yang tidak. Area dibatasi dengan pintu kayu tebal yang bisa digrendel. Ada peringatan di setiap pintu, ditambah asykar yang berjaga di sana untuk mengarahkan para jamaah. Uniknya, peringatan dalam bahasa Indonesia ada salah tulis , yakni  “tanpa” ditulis “tanap” . Pintu tersebut juga akan dikunci saat giliran jamaah perempuan berziarah ke Raudhah. Setelah diumumkan bahwa waktu ziarah ke Raudhah telah tiba, maka rombongan yang akan ziarah digiring ke shaf terdepan kemudian pintu dikunci. Yah, semacam penyeterilan area begitulah. Namun harus saya akui bahwa sistim pengaturan ke Raudhah sekarang sudah lebih baik dibandingkan 10 tahun yang lalu. Bahkan antara jamaah asal Asia Tenggara yang mereka sebut dengan Melayu, dan Asia Tengah/Selatan yang fisiknya lebih besar pun dilakukan pemisahan saat persiapan menuju ke Raudhah. Alhamdulillah, pada kali ini saya dapat “menikmati” ziarah ke Raudhah. Mengetahui batas-batas mana Masjid Nabawi yang awal dan yang perluasan, melihat mimbar imam, dan mengetahui Raudhah tidak hanya dari warna karpetnya saja.

Nabawi - Bahagian Khusus Wanita Tanap Anak

  1. Para jamaah yang sudah lansia dan sudah sulit untuk melakukan sholat secara normal alias harus duduk di kursi, dulu harus menenteng sendiri kursi lipat mereka. Sekarang tak perlu membawa-bawa kursi kemana-mana, karena di dalam masjid sudah disediakan kursi lipat. Ada wadahnya. Siapa yang butuh tinggal ambil, buka kursi, dan duduk. Setelah selesai tentu harus dikembalikan ke tempatnya.

Madinah-Wadah Kursi Lipat

  1. Perubahan yang lain tentu semua sudah tahu….tak lain adalah makin banyaknya hotel. Sehingga hampir keseluruhan sisi dari Masjid Nabawi sudah berhadapan dengan pintu hotel. Namun Alhamdulillah, masih tersisa lahan untuk bangunan megah non hotel. Yaitu gedung The Exhibition of The Beautiful of Allah names. Ada apa saja di dalam gedung pameran ini? Mohon sabar menunggu tulisan saya berikutnya…..(nin)