Arsip

Hati-hati! Buku Anak Promotor Hubungan Sejenis

Ribut-ribut buku Why:Puberty.

Komik ensiklopedia mini ini ternyata dalam salah satu percakapannya berisi tentang kebolehan hubungan sesama jenis. Sebuah bujukan yang halus dan sangat bisa mempengaruhi jiwa para remaja yang membacanya.

Berikut ini adalah surat keberatan yang saya tujukan kepada penerbit buku tersbut, penerbit kondang yaitu PT Elex Media Komputindo. Atas kebaikan hati ibu @fahiraidris , anggota DPD terpilih DKI Jakarta 2014-2019, beliau membawa langsung ke hadapan pimpinan penerbit tersebut kemarin, 7 Agustus 2014

 

Kepada yang saya hormati

Penerbit ELEX MEDIA KOMPUTINDO

Di Jakarta

 

Dengan Hormat,

Melalui surat ini ijinkan saya, seorang dokter kandungan, ibu dari 5 anak, dan pengurus organisasi sosial kemanusiaan Bulan Sabit Merah Indonesia, menyatakan keprihatinan saya atas isi buku terbitan Elex Media Komputindo serial “Why” edisi “Puberty”.

  1. Isi buku tersebut sama sekali tidak mencerminkan pendidikan reproduksi yang sehat dan bermartabat. Dan ini bertentangan dengan tujuan utama diterbitkannya buku tersebut.
  2. Isi buku yang mengenalkan bentuk relasi lawan jenis yang tidak wajar, tidak normal, dan tentu saja tidak sehat dalam bentuk komik percakapan antar anak sangat berpotensi bahaya besar bagi generasi masa depan Indonesia.
  3. Isi buku juga tidak menghormati nilai-nilai adab dan etika pergaulan yang dianut oleh bangsa Indonesia yang berlandaskan Ketuhanan YangMaha Esa
  4. Isi buku yang sedemikian itu juga mencerminkan keteledoran – untuk tidak mengatakan kesengajaan – secara berantai mulai dari penterjemah, penyelaras bahasa, editor, dan pimpinan penerbitan.
  5. Isi buku juga berpotensi bahaya yang lebih besar yaitu makin merebaknya kasus HIV/AIDS yang sekarang sedang giat-giatnya diberantas. Perlu diketahui bahwa kasus HIV/AIDS di Indonesia tidak menunjukkan penurunan. Meskipun Indonesia mendapatkan pujian dalam hal upaya2 pemberantasan. Hal ini menunjukkan bahwa upaya pemberantasan selama ini sama sekali tidak menyentuh akar permasalahan yaitu makin maraknya pergaulan LGBT.
  6. Sejalan dengan poin 5, nantinya akan makin banyak lahir bayi-bayi tak berdosa penyandang HIV/AIDS . Bisakah dibayangkan bagaimana jadinya nasib bangsa ini ke depannya?

Karena itu saya meminta kepada penerbit Elex Media Komputindo , hendaknya :

  1. Sekarang juga menarik buku tersebut dari peredarannya di Indonesia. Penarikan tersebut tidak hanya di toko2 buku Gramedia, melainkan juga di toko-toko buku lainnya termasuk toko buku daring.
  2. Menyatakan permohonan maaf dari pihak penterjemah, penyelaras bahasa, editor dan penerbit secara terbuka kepada masyarakat luas yang dimuat di koran nasional.
  3. Kedepannya, penerbit harus lebih selektif dalam menerbitkan sebuah buku. Selektif dalam hal ini adalah dengan mempertimbangkan isi buku dan pengaruhnya terhadap tata krama, etika pergaulan yang dianut oleh bangsa Indonesia , yang tidak dapat dilepaskan dari dasar negara yaitu Pancasila

Untuk ibu Fahira Idris, selaku anggota DPD RI terpilih tahun 2014-2019, semoga dapat mengemban amanah surat ini dengan sebaik-baiknya

Terimakasih

Jakarta, 7 Agustus 2014-08-07

 

Dr. Prita Kusumaningsih, SpOG

Why Puberty

My_Wondering_Body_-_Inilah_Tubuhku

 

Keterangan gambar :

1. Kover dan sebagian isi buku Why: Puberty yang sangat memprihatinkan

2. Kover buku My Wondering Body

Bacaan lain yang disarankan, tulisan seorang psikolog Dwi Estiningsih : http://chirpstory.com/li/223140

 

Iklan

Mengeja Seribu Wajah Indonesia lewat Love Journey #2

Alhamdulillah, akhirnya buku antologi travelling yang ditunggu-tunggu telah terbit, yaitu Love Journey#2; Mengeja Seribu Wajah Indonesia.

Merasa akrab dengan judulnya? Ya , buku ini adalah sekuel kedua dari serial Love Journey yang digagas oleh Mb. Dee dan Mas Lalu Abdul Fattah. Keunikan keduanya berbeda.  Kalau Love Journey #1 berkisah tentang Cinta dalam Setiap Perjalanan , maka di Love Journey #2 ini berbicara tentang seribu wajah Indonesia.  Setting dalam setiap tulisannya adalah negeri jamrud khatulistiwa, Indonesia.

Indonesia, tempat lahir beta, demikian senandung Ismail Marzuki. Tentu kita pun cinta Indonesia. Meskipun Indonesia tidak selalu indah, tidak selalu makmur,  tidak selalu aman, tidak selalu nyaman.  Namun lebih banyak yang tetap cinta, lebih banyak yang merasa bahagia, dan lebih banyak masih kerasan tinggal di negeri ini.  Karena itulah, judul seribu wajah Indonesia tidak selalu mengungkapkan yang indah-indah saja, tentang Indonesia.

Dari 20 kontributor, terselip nama saya. Keduapuluh penulis ini terpilih dari 68 peserta audisi. Dalam buku ini saya mengisahkan tentang pengalaman hidup di Ternate selama 6 bulan, semasa menjadi anggota tim Kesehatan Gabungan TNI-Depkes pada 1999-2000. Selebihnya, silakan baca sendiri bukunya.

Berikut ini adalah spesifikasi buku yang diterbitkan oleh Diva Press ini:

 

LJ#2

          Oleh : Lalu Abdul Fatah dkk
Harga : Rp. 58000
Ukuran : 13 x 19 cm
Tebal : 368 hlm
Terbit : Desember 2013

Sedangkan para kontributor adalah sbb:

Kontributor: 
  1. Dinar Okti Satitah – Menolak Lupa
  2. Huzer Apriansyah – Orang Akit, Orang Rimba, dan Sisi Lain Nusantara
  3. Dina Y. Sulaeman – Orang-Orang Subaltern
  4. M. Saipul – Dayung Sang Hudoq
  5. Bustomi Menggugat – Eksotisme Madura 2013
  6. Dian Onasis – Mengeja Cinta di Permukaan Batang Hari Sembilan
  7. Farchan Noor Rachman – Lasem
  8. Dwi AR – Gadis Polos dalam Kotak Ajaib
  9. Lina W. Sasmita – Mendapati Banyak Hikmah di Pulau Karas
  10. Meinilwita Yulia – Perempuan Perkasa Pembuat Saka
  11. Helene Jeane Koloway – Hell in Paradise
  12. Feni Kurniati – Perjuanganku Belum Usai
  13. Arabia – Kabar dari Ujung Negeri
  14. dr. Prita Kusumaningsih – Warna-Warni Ternate
  15. Katerina – Anak Penjual Tebu di Lembah Harau
  16. Arini Tathagati – Di Balik Warna-Warni Batik Pekalongan
  17. Lomar Dasika – Terlalu Turis Bikin Meringis
  18. Eaz Eryanda – Lupa Rinca
  19. Manik Priandani – Rampai Kehidupan di Kaki Merapi
  20. Viola Malta Ramadhani – Lindungan Impian

“Love Journey#2 membuka mata saya tentang cara baru menikmati bumi Indonesia, tak melulu tentang keindahan alam dan pariwisata yang memukau. Namun lebih dari itu, ada petualangan yang seru, pelajaran hidup penuh hikmah hingga realitas pahit negeri yang kita cintai ini”.
[ Ihwan Hariyanto, owner Mozaik Indie Publisher]

Selain mencari di toko buku, teman-teman yang berminat bisa PO ke saya.  Syarat dan ketentuan berlaku, ya…..

Pembeli lewat saya berhak dapat harga 52 ribu saja. Plus dapat 2 bonus yaitu , 1 exp majalah BSMI terbaru dan sudah tercatat sebagai donatur BSMI sebesar 5 ribu rupiah! Sedangkan kewajiban pembeli cuma 1, yaitu membayar ongkos kirim. Menarik bukan? 😀

 

 

 

“Membalut Luka Gaza” versi Republika

Hari Jum’at ini koran Republika berkenan meresensi buku antologi saya Membalut Luka Gaza.  Bagi yang tidak sempat membaca, atau tidak kebagian korannya, silakan membacanya di sini. Terimakasih untuk pak Irwan Kelana yang telah membaca dan menuliskan resensi ini.

Bedah buku yamg pertama Insya Allah akan diadakan di Pekan Baru pada 14 Juni 2013 yad, bertepatan dengan Mukernas BSMI yang ke-4.  Saya tunggu kehadiran para sahabat di kota minyak tersebut

republika 24 mei 2013

(Buku Baru) TERSENYUM DI GAZA, TANPA DARAH DAN AIR MATA

2013-04-17-10-21-32_membalut luka gaza_thumb_150_

Gaza adalah kota sebagaimana kota-kota lain di dunia. Meskipun fakta menunjukkan bahwa Palestina adalah satu-satunya negera di dunia yang terjajah secara fisik, dan 8.184 warga Palestina terbunuh oleh Israel sejak 1987.  Fakta-fakta tersebut adalah dua dari delapan fakta tentang Palestina yang menjadi pembuka buku setebal 167 halaman yang diterbutkan oleh Salsabila ini.

Sebagaimana judulnya, Membalut Luka dikonotasikan sebagai tindakan untuk membantu penyembuhan sebuah luka.  Sehingga tulisan para dokter dan relawan BSMI lain saat bertugas di Gaza lebih banyak yang bersifat ringan dan bahkan canda. Wahai dunia, lihatlah Gaza ini.  Tengoklah keseharian warganya. Bagaimana mereka menyikapi kepedihan akan kehilangan keluarga tercinta, rumah tinggal, maupun kesempatan hidup bebas? Ternyata semangat itu masih ada.  Bahkan kita belajar banyak dari mereka.

Bacalah tulisan dr. Basuki, spesialis bedah tulang, bagaimana ia mengungkapkan kebahagiaannya saat sekardus bola kaki yang dibawanya diterima dengan penuh kehangatan oleh Perdana Menteri Ismail Haniyya.  Bola ‘made in Indonesia’ itu adalah lambang persahabatan yang universal.  Di tiap sudut jalan kumuh atau tanah lapang coklat berdebu di kota Gaza, akan mudah kita jumpai anak-anak dan pemuda bermain bola. (Kembalikan Semangat dengan Bola, halaman 33)

Atau ‘ketakutan’ dr. Jamal, seorang spesialis mata saat mendengar ledakan bom jarak dekat untuk pertama kalinya.   “Jantungku serasa melorot ke kaki.  Aku terduduk di lantai. Saat itu yang terpikir hanya satu: aku akan mati”. “Kamu takut?” ayah Yasi menepuk pundakku.  “Bom seperti itu sudah biasa”, ujarnya. (Takut Mati, halaman 45)

Dr. Erick, seorang spesialis anestesi, menyatakan keheranannya karena daya tahan nyeri yang luar biasa dari seorang pasien tatkala luka bakar akibat bomnya sedang dibersihkan.  Atau makanan yang tetap hangat saat ditinggalkan untuk operasi selama beberapa jam (Keajaiban-keajaiban Itu, halaman 67)

Atau, ibu Sinta Yudisia, sang novelis yang merasakan kehangatan di perkebunan zaitun.

Saya sendiri menyumbangkan beberapa tulisan di buku ini.  Rekaman saya di Gaza meliputi beberapa hal, dari kegembiraan warga  Gaza akan dibangunnya sebuah water bom yang mereka sebut “mad water” sampai keidahan craft berupa tusuk silang yang menghiasi banyak properti.

Tak seperti buku lain yang memaparkan perang, luka, darah, dan tangis.  Kita bisa ringan membaca buku ini.

Pemesanan bisa langsung lewat saya, dengan diskon 10% dari harga toko yang 29.000.  Ongkir gratis untuk wilayah Jabodetabek!

Atau silakan berburu Membalut Luka Gaza di toko-thttps://drprita1.wordpress.com/wp-admin/post.php?post=1007&action=editoko buku yang ada ……..

 

Film Habibie-Ainun, Pelajaran Sejarah Sekaligus Pelajaran untuk Pasutri

“Ibu Ainun, berbahagialah anda.  Tidak banyak istri yang berangkat dengan jemari tergenggam suami terkasih saat berpulang kepada Sang Kekasih, Pencipta kita semua.  Tak semua suami bisa berkata tegar, menemukan kesabaran setelah meredam jerit yang kalau melengking pun sebenarnya wajar.  Setelah menekan rasa dalam-dalam di dada, kami semua mendengar, langsung atau tidak, suamimu berkata,”Kami sekeluarga rela melepasnya.  Kami menyintai, tetapi Allah jauh lebih menyintainya” (mengutip tulisan Darmawan Sepriyosa dalam Republika 240510), berkenaan dengan wafatnya dr. Hasri Ainun Habibie, SpA.  Innalillahi wa innailaihi roji’uun.(QN saya di MP pada 24 Mei 2010)

Kover buku Habibie Ainun dalam 4 bahasa.detik hot

Film Habibie Ainun termasuk film yang dibuat tanpa gembar gembor.  Berita bahwa film ini sudah dirilis justru saya dapatkan setelah melihat foto SBY usai menonton di sebuah bioskop XXI.  Konon kabarnya SBY dan bu Ani tampak lebih dari satu kali menyusut matanya selama film berlangsung.  Sementara buku Habibie-Ainun sendiri telah saya baca semenjak baru terbitnya di akhir 2010.  Buku setebal 323 halaman ini ditulis sendiri oleh Prof. DR. Ing. Bacharuddin Jusuf Habibie tanpa editor.  Hal ini tampak dari bahasanya yang Habibie banget.  Sering terjadi pengulangan kata-kata, tidak mengindahkan penempatan titik maupun koma.  Namun semua itu justru saya rasakan sebagai aura keaslian dan kesejatian dalam proses pembuatannya.  Tidak dipungkiri bahwa Habibie menulis buku ini dalam kondisi excited yang menyala-nyala dalam kalbunya.  Benaknya dipenuhi oleh kata-kata yang  mendesak untuk segera ditumpahkan.  Saat itu belum lama dari wafatnya belahan jiwanya.  Sehingga hatinya baru merasa lega dan plong setelah tulisan tersebut selesai. (referensi dari sini)  Bayangkan, Ibu Ainun wafat pada 22 Mei 2010 dan buku terbit pada bulan November tahun yang sama.

Film dibuat based on buku.  Tentu saja – dengan berbagai pertimbangan baik teknik, politik  maupun komersial- tidak semua bagian buku dapat diterjemahkan dalam bahasa film.  Peristiwa penting seperti pembentukan ICMI, ada di buku namun tidak ada di film.  Sebaliknya, beberapa scene di film ternyata tidak ada di buku.  Misalnya, adanya tokoh pengusaha Sumohadi yang diceritakan ingin menguasai proyek strategis Habibie namun ditolak, tidak didapatkan di buku.  Padahal di filmnya, ditunjukkan berbagai strategi , Sumohadi dalam menaklukkan Habibie.  Dari yang sekedar mengirim parcel dengan diselipi sekotak jam tangan mewah, menyodorkan uang sekoper penuh, sampai menggunakan senjata primitif yaitu wanita cantik.  Bahkan sampai-sampai bu Ainun berkomentar, “Wah, habis ketemu wanita cantik, ya”.  Habibie dengan lugunya menjawab, “Oh, saya nggak lihat.  Si Rubi (Rubiyanto, ajudan beliau) yang tahu”. Memang pada saat si wanita mulai membuka blazernya tiba-tiba pak Rubi masuk ruangan dan langsung meringkusnya. Sedangkan Habibie masih asyik mempelajari sebuah proposal.

Film dibuka dengan suasana di sebuah SMA, dimana Rudi dan Ainun muda sama-sama bersekolah di tahun 1955.  Peristiwa yang direkam adalah saat guru ilmu pasti menjejerkan mereka berdua – yang dikenal karena kepintarannya – dan mengatakan “kalian cocok untuk menjadi suami istri”.  Kontan teman-teman sekelasnya bersorak ramai.  Setelah adegan Habibie mengata-ngatai Ainun dengan ‘gemuk’, ‘hitam’, seperti ‘gula jawa’ langsung melompat ke Jerman.  Di tahun 1960 an Habibie ambruk di ruang kelas dan dilanjutkan dengan perawatan di rumah sakit akibat sakit TBC Tulang (hanya disebutkan di film).  Demikian juga saat ia menuliskan “sumpahku” yang berisi tekadnya untuk mengandikan ilmunya untuk bumi pertiwi.

Film ini tidak melulu berisi keharuan-keharuan.  Diselipkan juga adegan-adegan memancing tawa, misalnya saat mereka sedang ‘berpacaran’ di dalam becak yang tertutup karena hujan.  Tiba-tiba becak berhenti dan tukang becak membuka penutup depan.  Kaget.  “Lho, pak, tidak usah dibuka dulu.  Biarkan saja”.

“Tapi ini sudah berhenti hujannya”, ujar pak becak .

“Ya tidak apa-apa.  Biarkan saja tertutup”, lanjut Habibie yang agak gusar karena acaranya terganggu.

“Tapi, ini juga sudah sampai”, pak becak menjawab kalem.

Atau di adegan ini. Usai  presentasi tentang prototipe pesawat untuk dibuat di Indonesia Habibie memasuki toilet dan mendengar obrolan 2 orang yang sedang BAK. Yang seorang menceritakan tentang pesawat AS yang ditembak jatuh di perang Irak- Iran.  “Tiba-tiba terdengar bunyi nguuuuung…nguuuuung.  Pesawat Indonesia lewat.  Tentara di bawah mau menembak tapi dicegah oleh temannya.  Kata tentara satunya, kalau pesawat Indonesia sih gak ditembak juga bakal jatuh sendiri!” Pas di saat itu lewatlah Habibie  yang membuat kedua orang itu langsung ‘jleb!’

Namun ada juga adegan yang tidak bermaksud melucu namun terasa ‘lucu’ (semoga ini tidak mengurangi nilai film ini), yakni saat Habibie diangkat jadi wapres.  Usai adegan mengucapkan sumpah jabatan, tampak foto Habibie (Reza) disandingkan dengan foto Pak Harto (asli).  Tentu saja tidak cocok! Bikin ketawa! Kenapa tidak pakai foto Habibie asli saja?

Saya sebelumnya skeptis dengan pemeran pak Habibie maupun bu Ainun.  Sepertinya bakal ‘jauh’ banget kalau pak Habibie diperankan Reza Rahardian dan bu Ainun oleh BCL.  Tapi ternyata mereka berdua mampu membawakan peran berat tersebut dengan baik.  Terutama Reza, yang meskipun terlalu jangkung, namun berhasil menirukan gerak gerik dan raut muka khas Habibie.  Dari cara bicara yang cepat sambil mata membelalak, cara berjalan yang mirip Mr. Bean (kata anak saya), sampai cara meredam kegelisahan dengan memainkan jemarinya. Demikian juga BCL yang kesehariannya lincah ternyata mampu bersikap anggun dan kalem seperti bu Ainun.  Konon, BCL memerankan bu Ainun ini atas rekomendasi langsung dari eyang Habibie. Pujian juga untuk sang sutradara Faozan Rizal.  Hanung Bramantyo yang tadinya diisukan jadi sutradara, berperan menjadi Sumohadi, si pengusaha misterius.

Setting beberapa kota di Jerman turut menambah keindahan film ini.

Kalaupun ada kekurangan adalah pesan sponsor yang terlalu vulgar.  Ada sirop cap buah pinang ikut nampang. Bu Ainun mau potret resmi kenegaraan dimake up dulu dengan kosmetik Wardah. Apa iya harus sampai sebegitunya?

Film ini ditujukan untuk remaja mengingat ada beberapa adegan romantis, meskipun dibawakan dengan santun.  Pertimbangkan apabila akan membawa anak-anak, meskipun saya sendiri juga membawa anak usia 13 dan 10 tahun.  Cucu Habibie yang berusia 4 dan 6 tahun juga ikutan menonton. (nin)

Resensi Kecil Film-film

  • Ironis, film Emak Ingin Naik Haji tak menyabet satu gelar pun di FFI. Komentar MPer :@saya tentang film “Garuda di Dadaku”
    begini, pada suatu hari…. ;-D. Ada bukunya juga kok. Tentang Bayu, seorang anak yatim, hidup bersama ibu dan kakeknya. Bayu hobi dan berprestasi di bidang sepak bola. Namun si kakek tak menyukainya, karena anaknya (ayah Bayu) dulu lebih memilih sepak bola daripada jadi PNS. Akibatnya, ayah Bayu cuma jadi sopir taksi. Bayu menekuni sepakbola secara diam2 dan sembunyi2 dibantu oleh Heri teman sekelasnya yg anak hartawan namun kesepian dan lumpuh. Heri memfasilitasi Bayu utk dapat masuk klub sepak bola ternama agar bisa lolos ujian tim nasional. Bagaimana Bayu (dan Heri) menyiasati jadwal latihan yg padat diantara pengawawan ketat kakeknya? Meskipun kakek sempat serangan jantung saat memergoki Bayu berada di klub padahal pamitnya ke toko buku….namun kisah ini berakhir happy ending dan mengharukan. Maaf ya, saya tdk review…habis cuma anak2 yg pergi nonton. Saya cuma baca bukunya.

    arifah89
    arifah89 menulis on Dec 21, ’09
    drprita} berkata

    Garuda di Dadaku dari Mizan Production masih nyangkut

    klo ini critanya gmn Mb Prita?

    drprita
    drprita menulis on Dec 17, ’09

    inilah saatnya Islam harus menunjukkan dakwah nya di dunia per film-an Indonesia

    Setuju. Karena itu saya sedikit kecewa. Tadinya berpikir, paling tidak peran utama wanita bakal kena, tapi ternyata tidak. Alhamdulillah, Garuda di Dadaku dari Mizan Production masih nyangkut

    drprita
    drprita menulis on Dec 17, ’09
    laxita} berkata

    belum pernah nonton film film yang menang FFI kemarin euy…..termasuk emak naik haji ;))

    saya juga. belum (dan mungkin tidak) menonton film pemenang FFI…kecuali Emak Ingin Naik Haji 😀

    semangatdafa
    semangatdafa menulis on Dec 17, ’09
    kalau saya salut mba sm film Emak Ingin Naik Haji… karena film ini masih sangat baru tetapi sudah bisa masuk ke FFI, selain itu para pemainnya pun sdh masuk nominasi. walaupun tak membawa piala. Sedangkan nominator yg lainnya adalah film2 yang tayangnya sdh lama (maaf). inilah saatnya Islam harus menunjukkan dakwah nya di dunia per film-an Indonesia

    salam kenal ya mba… ^^

    laxita
    laxita menulis on Dec 17, ’09
    saya belum pernah nonton film film yang menang FFI kemarin euy…..termasuk emak naik haji ;))

  • Nonton aktingnya Amek (penyandang labioschizis) dalam “Serdadu Kumbang” bersama anak-anak (yang masih SD).  Settingnyanya Sumbawa, tapi kurang dieksplor keindahan alamnya. Temanya pendidikan, cq ujian nasional.

  • Jangan nonton film “?” ,sebelum baca tulisan DR. Adian Husaini di link ini. http://adianhusaini.com/index.php?option=com_content&view=article&id=59:film-apa-maunya&catid=34:cap&Itemi . Saya belum (tidak) nonton, tapi dari resensi2 di media massa  sudah kelihatan bahwa film yang menurut sang sutradara menggambarkan toleransi beragama dalam realitas di Indonesia ini menempatkan Islam dan muslim di kasta terbawah dan pecundang!  Betul kata Prof. Yunahar Ilyas, bahwa Hanung semestinya memperdalam islamnya terlebih dahulu sebelum sombong! Komentar  MPer :
    saya sudah lihat dan baca, cuma belum sempat komen. Pembelaan Hanung benar adanya.Tapi lihatlah…peranapa saja yang dia berikanuntuk orang Islam? Orang murtad…orang berperan jadi Jesus…orang cerai ….semuanya pecundang! Bukankah film itu media pengajaran dan pendidikan. Taruhlah dia memotret masyarakat kita apa adanya. Mengapa tak ada peran Islam dan keagungan agamanya.. (baru sepersekian dari keseluruhan pendapat saya)

    mawaddah1985
    mawaddah1985 menulis on Apr 15, ’11

    drprita
    drprita menulis on Apr 15, ’11
    cambai} berkata

    apalagi sepupu2 dian banyak yang condong ke JIL..:(((

    owww…hati-hati mbak Dian. Soalnya, tema yang paling laku untuk memperoleh pengikut baru dari kalangan wanita adalah faham feminisme…sebuah emansipasi yang kebablasan

    cambai
    cambai menulis on Apr 13, ’11
    drprita} berkata

    statement mbak Dian bikin merinding! Hati-hati kena biusnya! Yang banyak tertarik memang kaum intelektual. Mungkin sejalan dengan luasnya pergaulan mereka. Padahal, isme yang baru ini bertujuan memecah belah umat. Perang pemikiran (ghowzul fikri) memang ampuh untuk membelokkan akidah.Perkuat diri sendiri dan orang-orang terdekat, mbak.

    betul mbak pritta, harus bisa kuat2 diri menghadapi semua. apalagi sepupu2 dian banyak yang condong ke JIL..:(((

    kadang memang sulit menghadapi gerilya pemikiran ini. satu2nya cara memang mengmotong kemungkinan untuk menonton film2 sejenis ini. cari alternatif informasi lain yang jauh lebih baik….

    drprita
    drprita menulis on Apr 12, ’11

    Bagiku agamaku dan bagimu agamamu, that’s it!

    Betul. Konsep toleransi yang diajarkan oleh Islam. Tidak perlu menggadaikan akidah hanya untuk hidup rukun dengan tetangga!

    drprita
    drprita menulis on Apr 12, ’11
    itsmearni} berkata

    baca-baca perdebatannya eh malah jadi penasaran

    perkuat akidah dulu kalau tetap mau nonton

    drprita
    drprita menulis on Apr 12, ’11

    belum nonton sii.. tapi sejak baca ini jadi gak mau nonton…

    gak perlu nonton. Dengan baca resensinya saja sudah bisa dibayangkan betapa Islam cuma ditempatkan sebagai pecundang. Rela menggadaikan akidahnya demi apa yang dinamakan toleransi. Padahal toleransinya dijungkirbalikkan

    drprita
    drprita menulis on Apr 12, ’11
    ianaja} berkata

    iklannya memenuhi 1/4 halaman koran re*u*lika.

    sepertinya produsernya dari Mahaka Media yang juga penerbit Republika?

    drprita
    drprita menulis on Apr 12, ’11
    zaafaran} berkata

    syerem dengernya.

    lebih serem lagi akibatnya, kalau masyarakat kita sudah terbius ajaran pluralisme.

    drprita
    drprita menulis on Apr 12, ’11
    lollytadiah} berkata

    mungkin itu strategi jualannya, sekalian mengusung “isme” yang diyakininya….:(

    melawannya harus dengan cara yang sama. Bikin film tandingan, atau event apa pun yang mengounter isme mereka. Paling tidak…BOIKOT untuk TIDAK nonton

    drprita
    drprita menulis on Apr 12, ’11

    ke TKP segera. 🙂

    nemuin apa..? Korbannya belum dibawa ke RS kan?

    drprita
    drprita menulis on Apr 12, ’11
    simplyndah} berkata

    Sedih liat perfilm-an Indonesia, merusak moral, merusak aqidah 😦

    Diserahkan ke rakyat sendiri, mau nonton film apa. Orang-orang yang kita percayai untuk duduk di parlemen mewakili kita bungkam semua

    liesemargaretha
    liesemargaretha menulis on Apr 12, ’11
    udah saya baca, mbak. Dan nampak jelaslah, bahkan hanya dengan meragukannya saja sudah masuk murtad. Menarik ketika pak Adian mendeskripsikan kalimat, kita sedang menuju tuhan yang sama dengan cara ‘menyembah’ tuhan di tiap agama.

    Bagiku agamaku dan bagimu agamamu, that’s it!

    *sudah dipastikan gak bakalan nonton nih film*

    itsmearni
    itsmearni menulis on Apr 12, ’11
    belom nonton sih…tapi ada beberapa temen yang rekomendasi juga
    baca-baca perdebatannya eh malah jadi penasaran
    ngintip linknya dulu ya dok………

    mawaddah1985
    mawaddah1985 menulis on Apr 12, ’11
    waaah saya baru tahu… belum nonton sii.. tapi sejak baca ini jadi gak mau nonton…(padahal juga gak akan sempet nonton :D)
    terima kasih dok sharingya 🙂

    ianaja
    ianaja menulis on Apr 11, ’11
    minggu lalu baca iklannya memenuhi 1/4 halaman koran re*u*lika. agak tercengang jg, ternyata cara jualan film ini jg pake acara kuis. jadi, siapa saja yg bisa kasih judul terbaik utk film ini maka dapat hadiah 100 jt. sedih campur miris.

    zaafaran
    zaafaran menulis on Apr 11, ’11
    syerem dengernya. Baiklah saya ke TKP dulu mba.. Syukron infonya..

    drprita
    drprita menulis on Apr 11, ’11

    Perang pemikiran dari sesama muslim.

    itu adalah jalan terampuh untuk membelokkan akidah umat Islam. Halus, lembut, jadi gak nyadar sudah sudah murtad! Bagaimana? Sudah baca kan di link nya pak Adian? Kalau mau yang lebih ringan dalam memahami pluralis, baca novel berjudul Kemi, terbitan GIP

    drprita
    drprita menulis on Apr 11, ’11
    cambai} berkata

    dia jual sesuatu yang diinginkan sebagian besar penduduk indonesia… menjadi liberal.

    statement mbak Dian bikin merinding! Hati-hati kena biusnya! Yang banyak tertarik memang kaum intelektual. Mungkin sejalan dengan luasnya pergaulan mereka. Padahal, isme yang baru ini bertujuan memecah belah umat. Perang pemikiran (ghowzul fikri) memang ampuh untuk membelokkan akidah.Perkuat diri sendiri dan orang-orang terdekat, mbak.

    drprita
    drprita menulis on Apr 11, ’11
    umi2aulya} berkata

    menuai banyak kontroversi…

    karena itu hati2. Benteng akidah kita harus kuat. Kemasan pluralisme itu cantik2 dan membius

    lollytadiah
    lollytadiah menulis on Apr 11, ’11
    untung gak suka nonton…. emang film2 Hanung yang katanya islami selalu menuai banyak perdebatan, mungkin itu strategi jualannya, sekalian mengusung “isme” yang diyakininya….:(

    hukmashabiyya
    hukmashabiyya menulis on Apr 11, ’11
    ke TKP segera. 🙂

    simplyndah
    simplyndah menulis on Apr 11, ’11
    hanung emang rajin mengusung liberalisme dan prularisme.

    Sedih liat perfilm-an Indonesia, merusak moral, merusak aqidah 😦

    liesemargaretha
    liesemargaretha menulis on Apr 11, ’11
    meluncur dulu ke TKP, bingung juga liat rame-rame di twitter, berbeda kepala berbeda pandangan. Perang pemikiran dari sesama muslim.

    cambai
    cambai menulis on Apr 11, ’11
    tapi film2nya hanung selalu laku, karena dia jual sesuatu yang diinginkan sebagian besar penduduk indonesia… menjadi liberal.

    suntuk juga lihat film2nya yang katanya “islam” tapi pada dasar konsepnya ia kehilangan ruh islamnya.

    film terbarunya itu, sangaaaat komersil. menjual sesuatu yang selama ini takut diungkapkan. sempat terpikir.. apa link atau benang merah film itu ya… karena islam tak mungkin bisa disamain dengan agama lain. ? hemmmm

    hanung memang jago jualan kog mbak pritta..:)

    kebetulan dian belum pernah nonton film berbau2 islam ala hanung… satu2nya film yang dian tonton via vcd karya hanung itu cuma brownies.. film percintaan remaja, itupun nemenin sepupu..heheheh

    umi2aulya
    umi2aulya menulis on Apr 11, ’11
    Jazakillah sharing nya dok…
    Sejak AAC memang mulai menuai banyak kontroversi…

  • Terpaku di depan film  “Hafalan Sholat Delisa”.…. Komentar MPer : @yunizalabella :
    Alhamdulillah sudah menonton film ini bersama adik dan teman 🙂

    Sedihnya lebih terasa karena ilustrasi tsunaminya …

    rialearntoblog
    rialearntoblog menulis on Dec 25, ’11
    menurut banyak temen juga lebih seru baca bukunya c, dok. Tapi, berhubung saya ‘g kuat’ baca novel, nonton filmnya aja udah terharu 🙂

    drprita
    drprita menulis on Dec 25, ’11

    *kran air mata ngalir teruuus

    kok saya merasa lebih mengharukan baca bukunya ya

    drprita
    drprita menulis on Dec 25, ’11
    miapiyik} berkata

    mau nonton ah, sama anak-anak

    iya, saya juga berdua suami plus 3 anak. Nanti reviewnya kita bikin, mbak

    drprita
    drprita menulis on Dec 25, ’11
    jampang} berkata

    kayanya nggak nonton di bioskop 🙂

    tapi jangan nonton di CD bajakan ya

    drprita
    drprita menulis on Dec 25, ’11
    mylathief} berkata

    Ih, budokter g ajak2. 🙂

    tunggu saja tanggal mainnya di Bontang, pak :-))

    drprita
    drprita menulis on Dec 25, ’11
    fetryz} berkata

    aku ndak kebagian tiket 😦

    ooh, dimana itu? Kami nonton berlima, alhamdulillah dapat tiket, meski datangnya agak telat

    rialearntoblog
    rialearntoblog menulis on Dec 25, ’11
    udah nonton. seru, mengharu biru *kran air mata ngalir teruuus

    miapiyik
    miapiyik menulis on Dec 25, ’11
    insya Allah mau nonton ah, sama anak-anak

    drprita
    drprita menulis on Dec 25, ’11
    @azita : cocok sekali

    drprita
    drprita menulis on Dec 25, ’11
    @liese : beda di endingnya

    azitafebriani
    azitafebriani menulis on Dec 25, ’11
    Film ini cocok untuk anak sd kah?
    Janji ngajakin ponakan nonton bioskop tapi belum pernah nemu film yg cocok.

    drprita
    drprita menulis on Dec 25, ’11
    @katerinas : saya juga, tapi tidak sederas yg saya khawatirkan 😥

    jampang
    jampang menulis on Dec 25, ’11
    soalnya udah lama nggak ke bioskop

    jampang
    jampang menulis on Dec 25, ’11
    kayanya nggak nonton di bioskop 🙂

    liesemargaretha
    liesemargaretha menulis on Dec 25, ’11
    dok, sama kah bagusnya dg novelnya?

    katerinas
    katerinas menulis on Dec 25, ’11
    Saya nangis nontonnya bu

    beautterfly
    beautterfly menulis on Dec 25, ’11
    drprita} berkata

    @beauterfly : besok kan masih libur…

    hehehe.. di temanggung ndak ada bioskop..
    kudu ke ‘kota’ semarang dan jogja… hehe

    mylathief
    mylathief menulis on Dec 25, ’11
    Ih, budokter g ajak2. 🙂

    fetryz
    fetryz menulis on Dec 25, ’11
    aku ndak kebagian tiket 😦
    adanya malam..kayaknya br besok kesini lg 😦

    drprita
    drprita menulis on Dec 25, ’11
    @Yuni : ayo, nonton. Ajak adik dan Ipin

    drprita
    drprita menulis on Dec 25, ’11
    @ajeng : insya Allah…semoga sempat. Insya Allah nanti sore mau ke Medan

    drprita
    drprita menulis on Dec 25, ’11
    @beauterfly : besok kan masih libur…

    yuniezalabella
    yuniezalabella menulis on Dec 25, ’11
    Aku blm kesampean nonton. Baca novelnya aja aku terharu bgt.

    umi2aulya
    umi2aulya menulis on Dec 25, ’11
    review nya bu dokter….*ngajak suami belum dpt balasan…

    Sari,nonton sini;-)

    beautterfly
    beautterfly menulis on Dec 25, ’11
    kata ipar saya, ponakan ajah yg baru 4tahun nangis liat film ini. huhuhu pengen nonton
  • Alhamdulillah, film “Negeri 5 Menara” cukup natural dan memuaskan. *mungkin karena shootingnya di tempat aslinya*

Menara 5 Negara.jpg

  • Komentar MPer : @desthaonly :
    dulu ad film yg tokoh utamanya joshua n di bukukan, tapi buku komik bu =) (lupa judulnya)

    drprita
    drprita menulis on Mar 5
    desthaonly} berkata

    Kl ad buku dfilmkn lbh seneng nonton =D

    yang belum ada : film dibukukan ya.

    desthaonly
    desthaonly menulis on Mar 5
    Kl sy skrg males baca fiksi yg tebel2 bu (cuma kuat Laskar Pelangi thok, krn mmg saat itu different and the first) =D. Mending kl tebel siroh sekalian. Kl ad buku dfilmkn lbh seneng nonton =D

    drprita
    drprita menulis on Mar 5
    imadr} berkata

    Pengen nonton jdinya..

    segera meluncur…mumpung masih kebagian

    imadr
    imadr menulis on Mar 5
    Pengen nonton jdinya..

    drprita
    drprita menulis on Mar 4
    tintin1868} berkata

    asik baca bukunya saja dulu..

    ooo..mbak Tin belum selesai bacanya? Tidak jauh berbeda kok dengan bukunya. Paling2 saya merasa bahwa pemeran amaknya Alif (Lulu Tobing) tampak terlalu muda.

    drprita
    drprita menulis on Mar 4
    jampang} berkata

    belum nonton 🙂

    segera jadwalkan, sebelum kehabisan. Kemarin nonton, penuh.

    tintin1868
    tintin1868 menulis on Mar 4
    saya blum nonton bukdokter.. asik baca bukunya saja dulu..

    drprita
    drprita menulis on Mar 4
    @Ira : ringan dan mengalir, meski tiap adegan jadi terasa singkat. Demikian jufa adegan terakhir di London, ikut2an singkat

    jampang
    jampang menulis on Mar 4
    belum nonton 🙂

    prajuritkecil
    prajuritkecil menulis on Mar 4
    Ringaan ya dok, menurutku…

Catatan : sumber foto dari http://id.wikipedia.org

Buku-Buku, Hanya Resensi Singkat a la QN

  • Baru saja menyelesaikan novel “The Jacatra Secret” karangan Rizki Ridyasmara.  Masih tercekam dan tercengang dengan begitu banyaknya jejak masonis dan luciferian di sekujur kota Jakarta.  Betapa kuatnya belitan gurita Yahudi dalam keseharian kita.  Melecut semangat kita agar bangkit…. berdiri…. bersatu, dan berlari! (11 Februari 2010)

The Jacatra Secret

  • Mulai membaca buku 270 halaman “Hingga Detak Jantungku Berhenti”, karangan Nurul F. Huda (alm), Maret 2011.   Diberi endorsment oleh dr. Budi Yuli setianto, SpPD (K), SpJP (K), dan diberi kata pengantar oleh ust. Cahyadi Takariawan. (30 Mei 2011)

Hingga Detak Jantungku Berhenti

  • Sedang membaca “KEMI”, karangan Adian Husaini – bukan NOVEL Biasa.  Buku terbitan GIP ini mengupas pemikiran dan sepak terjang islam liberal.  Kata sastrawan Taufiq Ismail dalam endorsement nya :”Setelah wajah pesantren dicoreng moreng dalam film Perempuan Berkalung Sorban, novel Adian Husaini ini berhasil menampilkan wajah pesantren sebagai lembaga pendidikanIslam yang ideal dan tokoh-tokoh pesantren yang berwawasan luas,sekaligus gigih membendung gelombang liberalisme” (30 April 2011) Komentar MP :
    @mbakje : haha… ya bener, novel & filmnya sama saja…bikin gregetan. Semoga novel Adian Husaini diangkat ke layar lebar juga utk menampilkan wajah pesantren yg sesungguhnya
    Kemi: Cinta Kebebasan yang Tersesat

    arifah89
    arifah89 menulis on Apr 4, ’11
    karya Pak Adian mmg hebat

    alwaysselalu
    alwaysselalu menulis on Apr 4, ’11
    insyaALlah ada agenda beli.. TFS bu

    hukmashabiyya
    hukmashabiyya menulis on Apr 3, ’11
    hmm… sepertinya “a must read” ya bu?

     

    • LKS (Lembar Kegiatan Siswa) “Ceria” memuat narasi tak pantas untuk anak SD. Ortu sebaiknya ikut membaca buku pelajaran anak2nya.  Di buku LKS Ceria utk kelas 2 bab Budaya dan Lingkungan Jakarta ada kisah bang Maman dari Kalipasir yg punya istri simpanan. Komentar MPer : @keluargapanda : tentang “istri simpanan” itu ya, saya juga kaget, kok bisa materi seperti itu masuk buku lks, apa penerbitnya ga ngecek gitu/ ortu harus jeli memang./ komik juga harus hati2 banyak yg mengandung unsur kekerasan dan pornografi*sebagai mantan pembaca komik* banyak dirental2 komik dengan bebasnya disewakan, jadi kalau lihat anaknya baca komik, jangan di kira aman juga.., vi disual di dalamnya kadang “serem2” dok:(, @mbakje : Memang sebaik2 kisah adalah kisah para nabi & sahabat, bukan dongeng rakyat yg seringkali mengandung unsur seksualitas & kekerasan, @embunpagi :
      Ada lagi yang kelas 1 Bu, pancing aje dengan perempuan, @saya : tanpa disadari, dongeng yang sudah legendaris kita kenal sejak kecil, ternyata bernuatan moral yang kurang baik juga, misalnya cerita Sangkuriang (anak menikah ibunya sendiri), atau Ande2 Lumut (para gadis, klenthing Abang/Ijo yang ‘digagahi’ oleh Yuyu Kangkang).

       

      • Maniak buku jangan kecewa ya, hari ini Indonesian Book Fair LIBUR. Komentar MPer : @diancambai : gak apa2.. dirumah aja, nunggu pihak KPK berani gak ngitungin perbandingan uang di kantong pejabat tersebut dengan biaya yang dikeluarkan..:)

        *baru abis baca blog ttg pernikahan anak kedua presiden iran yang hanya menghabiskan 35 juta rupiah untuk 200 undangan…:) kontras amat ya ama kita…:), @iraprajuritkecil : hari ini saya banyak kosongnya.. besok padat merayap…
        maaf ya… buat yang sayang sama pak pres…
        tapi beneran nyebeliiiiiiiiiin……, @nur4hini : aneh ya, pernikahan aja bisa sampai mengganggu acara public begitu , @dhanidong : Buat yg nyari buku anak-anak impor worthed banget di stand aksara itu @20ribu dan beli 5 gratis 1 (sayangnya gw tau belakangan bhw itu gak berlaku kelipatan, jd rugi gw cuma dpt gratis 1buku, mustinya 4..huhuhu)

        Trus penerbit buku islam banyak yg berpartisipasi

        Periplus ada di pintu masuk kok, jadi seru

        Buku2 gramedia + mizan ya diskonnya biasaa cuma 20%, tp ada jg yg special price

        Sayangnyaaa pamerannya kurang meriaaaaaaaaah, kurang banyak participantnyaaaaaa

       

      catatan : foto cover Jacatra Secret, Hingga Detak Jantungku Berhenti, dan Kemi diambil dari http://www.goodreads.com, dan LKS Ceria diambil edukasi.kompas.com