Arsip

Ketemu Gadis Berbahasa Inggris di Masjid Huxie (2)

 

Masjid Huxi adalah tujuan berbuka selanjutnya, dengan pertimbangan lokasinya tidak jauh dari hotel.  Bahkan resepsionis mengatakan, “Very close from here”.

Meskipun sudah memegang alamat, yaitu di : 3 Lane, 1328 Changde Road, Putuo District, Shanghai (上海市普陀区常德路1328弄3).

tetap harus konfirmasi ke bagian navigator hotel.  Minta navigator menulis alamat tersebut dalam bahasa dan huruf China.  Baru ditunjukkan ke sopir taksi.  Ini penting mengingat sopir taksi hanya bicara bahasa China, sehingga kita tidak bisa berkomunikasi apa pun selama perjalanan.

Khusus di masjid Huxi, porsi yang disiapkan bisa sampai 300-400an setiap harinya.  Dan dananya juga murni dari swadaya jamaah!  Bedanya dengan di masjid Pu Dong, di Huxi ada pemisahan ruang makan antara jamaah laki dan perempuan.  Laki-laki menempati tempat yang tetap yaitu di sebelah ruang sholat utama, sedangkan kaum wanita biasa menempati beranda depan masjid atau di beranda lantai 2.  Seorang teman menengarai masjid ini berdasarkan banyaknya tanaman baik asli maupun sintetik.  Contohnya, di beranda depan dipercantik dengan adanya naungan pergola dan hiasan tanaman rambat sintetis. Beranda lantai 2 labih cantik lagi dengan tulisan Allahu Akbar yang tersusun dari rangkaian bunga.

Komposisi takjil berupa teh tawar hangat, kurma, roti (bisa Nan diiris 8 atau semacam roti tawar yang tebal) dan kuah.  Kuah ini gunanya untuk mencelupkan roti dan dimakan dengan sumpit.  Setelah roti habis kuahnya diminum.  Kuah selalu berasa gurih, bisa kuah tomat, kuah kacang merah atau  semacam barley berkuah putih.  Karena selama tiga kali berbuka di masjid Huxie saya tidak menemukan nasi, maka insiden sumpit tidak terjadi.

Di masjid ini saya berkenalan dengan muslimah muda Shanghai, yaitu Fatimah dan Aminah. Kaum muslimin biasanya mempunyai 2 nama, yaitu nama china dan nama islam.  Nah, kedua gadis ini sungguh tipikal wanita Tiongkok yang makin elok dengan hijabnya.  Pakaiannya khas anak muda jaman sekarang, celana jins, sepatu kets, kemeja lengan panjang dipadu cardigan.  Dan keuntungannya….mereka bisa bahasa Inggris!  Ini cukup melegakan mengingat sejak kemarin saya bicara body language terus.  Dari kedua mereka saya dapat info tentang sebuah masjid lagi yang bisa dijadikan destinasi berbuka.  Masjid Fu You Road, namanya.  Supaya jelas saya minta mereka menuliskan dalam bahasa dan huruf China.  Dan saya terpukau mengamati betapa lincah jemari tersebut mengukirkan huruf Hanzi yang mirip kaligrafi.

Masjid Huxi Persiapan Menjelang Berbuka

Persiapan berbuka di Masjid Huxie

Masjid Huxi Tampak Depan dan Toko Daging Halal

Tampak Depan Masjid Huxi dan Toko Daging Halal di Sebelah Kiri

 

Diajari Pakai Sumpit di Masjid Fu You Road

Berbekal alamat dari Fatimah, sampailah kami ke masjid Fu You Road yang beralamat di 378 Fuyou Rd, Huangpu Qu.  Masjid ini terbilang kuno karena dibangun pada 1870.  Lokasinya pun berada di kawasan kota tua, tak jauh dari taman yang berasal dari dinasti Ming, yaitu Yu Garden

Masjid Fu You Road

Tampak Depan Masjid Fu You Road

 

Masjid Fu You Road Sholat Wanita

Ruang Sholat Wanita di Masjid Fu You Road

Keseluruhan masjid bernuansa kayu, bahkan lantainya pun dari parquette.  Demikian pula ruang makan yang terletak di sebelah ruang sholat utama.  Hanya ada satu ruang makan sehingga jamaah laki dan perempuan berada di ruang yang sama.  Saya semeja dengan ibu Aisyah, yang selalu mengira saya berasal dari Malaysia.  Sudah dijelaskan bahwa saya dari Indonesia, dan ia pun juga berkali-kali melafalkan kata Indonesia, namun di kesempatan berikutnya yang tercetus adalah Malaysia lagi…Malaysia lagi!

Di masjid Fu You Road ini makanan berbuka lebih banyak dan terkesan mewah.  Ada sepiring besar kweetiau yang gemuk-gemuk, roti Nan tergeletak di meja dalam keadaan sudah diiris 8 bagian, semangkuk besar mie daging sapi, dan sepaket buah-buahan warna-warni.  Saya katakana warna-warni karena memang banyak warna, antara lain anggur merah dan hijau masing-masing 2 butir, ceri merah dan hitam juga masing-masing 2 butir, sebuah leci, seiris jeruk dan seiris kiwi.  Nah, bisa dibayangkan kan, betapa colorfulnya.  Bisa ditebak, baru meneguk teh dan menelan sepotong roti dicelup kuah mie maka kenyanglah saya.  Sementara orang-orang makan dengan lahap dan diakhiri dengan meneguk kuah mie lagsung dari magkuk.  Ibu Aisyah mengamati saya makan rupanya gemas, langsung saja dia pegang tangan saya dan mengajari cara memegang sumpit.

“Ayo dipraktekkan”, kira-kira demikian katanya.

“Seandainya mangkuk ini ada tutupnya tentu sudah kubawa pulang mie sapi ini”, batin saya.  Ini karena melihat orang lain sudah beranjak pergi untuk menunaikan sholat maghrib berjamaah.  Bagaikan bisa membaca pikiran saya, bu Aisyah datang membawa kantung plastik dan tutup mangkuk.  Cekatan dibereskannya mangkuk saya, dimasukkan ke kantung plastik.

“Nah, siap dibawa pulang,” ujarnya sambil menggamit lengan saya menuju ruang sholat.

Aah…..persaudaraan Islam tak kenal sekat wilayah dan bahasa.  Yang ada hanyalah keimanan dan ketaqwaan yang sama. [nin]

 

Iklan

Belajar Pakai Sumpit di Shanghai (1)

Tadinya terasa berat saat suami meminta saya untuk mendampingi beliau presentasi makalah ilmiah di Shanghai.  Pasalnya acara tersebut berlangsung di bulan Ramadhan.  Terbayang puasa yang lebih panjang waktunya, pun saat berbuka tidak bisa makan dengan bebas karena khawatir dengan kehalalannya.

Namun tugas pantang ditolak.  Maka berselancarlah kami  di dunia maya untuk mencari nama dan lokasi masjid di Shanghai.  Rencananya, bertitik tolak dari masjid itulah kami harapkan ada info tentang penyedia makanan halal atau rumah makan muslim.

Shanghai, kami datang!

Kota terbesar sekaligus tersibuk di China ini bagaikan belantara gedung pencakar langit.  Baik gedung perkantoran maupun apartemen seakan berlomba saling tinggi.  Tak heran bila Shanghai menduduki peringat kelima kota dengan pencakar langit terbanyak.  Meskipun pemerintah sudah berusaha menghidupkan paru-paru kota dengan membuat hutan dan taman yang banyak, namun tak urung kesan hutan beton lebih mendominasi.  Bagusnya, warga lebih memilih menggunakan MRT dibandingkan kendaraan pribadi.  Ini tak lepas dari mahalnya pajak mobil yang bahkan bisa melebihi harga mobil tersebut.  Ongkos taksi juga tidak murah.  Tarif buka pintu antara 14-16 Yuan (28-32 ribu rupiah).  Motor sangat sedikit, dan itu pun motor listrik.  Tanpa suara dan tanpa asap knalpot.  Sebaliknya sepeda sangat banyak.  Ada sepeda pribadi, namun yang lebih banyak adalah sepeda umum.  Maka menjadi sangat memprihatinkan saat mengingat bahwa negeri kita ini sangat dibanjiri oleh motor dan nantinya mobil buatan Tiongkok sementara di negeri asalnya justru tidak dipakai.

 

Makan dengan Tangan Jadi Pusat Perhatian di Masjid Pu Dong

Hari kelima Ramadhan pun kami lalui di Shanghai.  Awal Juni, masuk subuh pada jam 3.15 dan maghrib jam 18.54 waktu setempat.  Karena itu puasa berlangsung selama 16 jam, sedikit lebih panjang waktunya dibandingkan dengan di tanah air.  Namun dengan suhu antara 22-26 derajat celcius, Alhamdulillah tidak ada perbedaan yang bermakna dalam hal haus dan lapar.

Semua masjid di Shanghai pada dasarnya menyediakan makan untuk berbuka puasa.  Jumlahnya pun tak tanggung-tanggung, sampai ratusan porsi.  Dananya berasal dari infaq para jamaah.

Masjid Pu Dong adalah masjid yang pertama kami kunjungi.   Masjid ini beralamat di 375 Yuansheng Road, Pudong District, Shanghai (上海市浦东新区源深路375号).  Sedikit nyasar yang menyebabkan harus jalan kaki balik arah, kami tiba saat adzan magrib menjelang.  Petugas sudah melambai-lambaikan tangan agar kami segera bergegas.  Berbeda dengan di negeri kita, tidak ada lesehan di sini.  Kami ditunjukkan untuk segera masuk ke sebuah ruangan yang ternyata adalah ruang makan.  Penataannya mirip kantin mahasiswa.   Penuh sesak dan hiruk pikuk.   Sayangnya saya tak mengerti apa yang mereka obrolkan.  Jamaah pria dan wanita berada dalam satu ruangan bahkan satu meja.    Sementara itu di meja sudah tersedia takjil berupa seiris semangka, seiris melon, roti, dan semangkuk kuah.  Tak lupa ada teh di gelas plastik.  Roti dan kurma langsung digeletakkan begitu saja di meja yang sudah dialas plastik tipis.

Masjid Pu Dong Couple

Masuknya waktu maghrib ditandai dengan aba-aba dari imam dan didahului dengan doa berbuka puasa.  Tidak ada adzan di sini.  Saat imam selesai berdoa, makanan segera diserbu.  Orang-orang makan dengan cepat.  Roti dicemplungkan ke kuah, dimakan dengan sumpit.  Sisa kuah diminum langsung dari  mangkuknya.  Rampung takjil dilanjutkan dengan sholat maghrib secara cepat dan jamaah segera masuk lagi ke ruang makan yang tadi untuk makan malam.  Kali ini meja sudah dibersihkan dari sisa takjil, berganti dengan makan malam.  Menunya berupa nasi, sayur kangkung, ayam masak mentega, tumis mentimun dan semangkuk kuah tomat.  Keseluruhan hidangan tersebut disajikan dalam sebuah ompreng (nampan stainless seperti di rumah sakit jaman dulu). Dan tidak sama sekali yang namanya sendok atau garpu. Hanya sumpit semata.  Sekali duakali saya masih bisa “memungut” mentimun dengan sumpit.  Tapi nasi? Lolos terus. Tak kurang akal, saya pun makan pakai tangan.  “Muluk” bahasa jawanya.  Bukannya dulu almarhum Haji Agus Salim juga percaya diri makan dengan tangan di suatu jamuan internasional a la Barat?

Masjid Pu Dong Makan Malam Bakda Isya

Tapi ternyata perbuatan saya itu jadi perhatian ibu-ibu tua teman semeja.  Dia kasak kusuk bertanya ke teman-temannya yang lain sesama ibu.  Sepertinya mereka mencari sesuatu.  Naah…akhirnya dapat! Disodorkanlah seperangkat sumpit kepada saya.

“Ayo makan pakai ini.  Jangan pakai tangan”, begitu mungkin ucapannya dalam bahasa Tiongkok. “Ayo terimalah sumpit ini!” si ibu tua terus mendesak.

Haaaa…..rupanya mereka mengira saya makan dengan tangan karena tidak kebagian sumpit.   (nin)

Mencari Makanan Halal di Ljubljana

Di Ljubljana dimana muslim hanya sekitar 5% maka urusan makanan halal harus disikapi dengan serius.  Atas pertimbangan ini pula, kami memilih menginap di hotel Grand Union  tak jauh dari kawasan kota tua di Center.  Hotel ini agak mahal, namun menyediakan daging halal pada hidangan sarapannya.  Daging tersebut didatangkan dari Turki. Daging halal ditempatkan terpisah, sayang petunjuknya terlalu kecil.  Kami baru menemukannya setelah mengitari seisi restoran dan itu pun atas petunjuk petugas.

Resto Balkan

Tempat makan halal yang pertama kali kami kunjungi setelah menginjakkan kaki di kota Ljubljana adalah resto bergaya Balkan, tepatnya Bosnia.  Resto ini kami dapatkan atas petunjuk Muri, si supir taksi bandara. Berlokasi di Cesta Andreja Bitenca no 70.  Lokasinya sangat sepi, jauh dari jalan raya.  Berada di tengah kawasan perumahan yang rimbun dan nyaman.  Restonya tidak terlalu besar namun cukup apik dan homy.  Pelayannya ramah, profesional dan menguasai bahasa Inggris.  Di salah satu sisi dinding tertutup dengan foto masjid di Bosnia.   Menu yang kami nikmati siang itu adalah Bosanski Lonac.  Makanan berkuah berisi daging dan sayuran semacam caserole ini nikmat dimakan hangat bersama roti.

Bosanski Lonac

Bosanski Lonac

 

Di sisi depan resto terdapat mushola.  Lengkap dengan toilet dan tempat wudhu pria/wanita.  Jadi, sambil makan siang bisa sekalian sholat di mushola tersebut. Dan tepat di depan pintu mushola terdapat sebuah ruangan yang ternyata adalah kantor dari sebuah yayasan foundation dari Qatar.  Kami berkenalan dengan Elvira dan Sanela, dua muslimah asal Bosnia yang bekerja di sana.

“Islam di sini ada dua golongan,”ujar Sanela.  Ada golongan formal, yaitu mereka yang menjalankan perintah agama dengan tertib, misalnya memakai hijab seperti kamu ini.  Dan satu lagi golongan non formal”.  Mungkin maksudnya Islam KTP seperti istilah di negeri kita.  “Apa pun Sanela, mereka itu saudara kita”, kata saya dalam hati.

Doner Kebab Halal

Tak jauh dari GR, kependekan dari Gospodasko Raztavisce sebutan lokal untuk gedung konferensi tempat acara diselenggarakan,  ada kios Doner kebab.   Penjualnya Imran, anak muda muslim asal Kroasia.   Ia menjamin daging kebabnya halal.  “Saya mendatangkan khusus dari Jerman”, ujarnya.   Kiosnya sangat ramai.  Karenanya, meski sudah dibantu seorang asisten Imran tampak selalu sibuk melayani pembeli.  Akhirnya kami jadi sering ke kios Imran.  Beli Doner Kebab cukup 1 buah saja dimakan berdua karena ukurannya cukup besar.  Kalau sedang santai kami pilih jadi pembeli terakhir sekedar bisa mengobrol.   Terkadang kami minta tolong ditelponkan taksi.

20160930_171938

Imran di Kios Doner Kebab

Imran sepertinya ia masuk golongan non formal sesuai istilah Sanela.  Itu karena saat hari Jum’at ia tak beranjak dari kiosnya, melayani antrian pembeli.

Resto Habibi

Masih di Dunajska Cesta no 105/107, berjarak lebih kurang 1 kilometer dari RG terdapat sebuah restoran Timur Tengah.  Resto Habibi namanya.  Pemiliknya, Ahmad, pemuda Mesir yang menikah dengan mualaf Ljubljana.  Usia restoran ini baru 6 bulan.  “Belum ada website.  Kami baru punya facebook”, saat kami utarakan sulitnya mencari resto halal. Hidangannya sebagaimana resto Timur Tengah pada umumnya dengan harga yang tidak terlalu mahal.  Meski rasa nasi Bryani tidak sama dengan aslinya namun karena baru ketemu nasi, kami pun bersantap dengan nikmat.  Di resto ini kartu kredit saya (dari bank besar plat merah) bisa berfungsi.

resto-habibie-bryani.jpg

 

Alhamdulillah, sambil menunggu pesanan siap,  kami bisa mendirikan sholat jamak qashar.  Untuk itu Ahmad menyediakan dua sajadah.  Sholat dikerjakan di ruangan yang berkarpet karena tidak terdapat mushola.

Hidangan Kongres

Bagaimana dengan hidangan makan siang di kongres? Mengingat kongres Sport Medicine ini berskala Internasional, banyak juga para pakar yang datang dari negeri Islam, seperti Malaysia, Brunei Darussalaam, Iran, dan tentu saja Turki dan Qatar sebagai negara pendukung utama.  Untuk itu panitia menyediakan  makan siang di dalam kotak dengan kode warna.  Disediakan 3 warna kotak, yaitu merah, biru, dan hijau.  Kotak merah berarti mengandung babi, kotak biru mengandung daging non babi, dan kotak hijau adalah hidangan vegetarian.   Isi  berupa roti burger isi daging (atau sayur khusus untuk vegetarian), muffins, minuman kotak, dan buah. [nin]

 

 

Tur Jalan Kaki di Ljubljana (2)

Hari kedua di Ljubljana adalah hari bebas buat saya. Sendirian lagi! Ini karena suami mengikuti sebuah workshop sedangkan saya tidak. Sementara kongres baru resmi dibuka pada malam harinya.

Maka di pagi hari yang menggigil dan berkabut itu saya menghangatkan diri sejenak di kafe sebelah dengan secangkir teh sembari merancang itinerary.  Kemana enaknya? Dan naik apa? Peta kota sudah bolak balik dibuka.  Sayangnya Tourist Guide Book yang kemarin dicomot dari bandara ternyata berbahasa Jerman.  Duuh…. Siapa yang bisa ditanya?

Di depan gedung Ljubljana Exhibition and Convention Centre (warga setempat menyebutnya GR singkatan dari Gospodarsko raztavische) terdapat sebuah kios majalah.  Penjualnya bernama Dunja, seorang wanita setengah baya yang ternyata ramah dan yang terpenting…bisa bahasa Inggris!  Atas petunjuk Dunja inilah,  saya pun mulai menyusuri jalan Slovenska Cesta .

“Lurus saja, kira-kira 1 kilometer lantas belok kiri”, begitu pesannya.  Tak lupa ia tambahkan, “Tenang saja, di kota ini semua serba dekat.

Dan ternyata, kata-kata “serba dekat”, “cepat saja”, “tidak makan waktu lama” banyak diucapkan oleh warga setempat.  Baik oleh sopir taksi, penjaga kios, resepsionis hotel, maupun oleh pramusaji rumah makan.  Ini untuk menunjukkan betapa kecil kota ini, sehingga kita tidak perlu khawatir tersesat.

Menyusuri trotoar, jalan kaki sendirian adalah hal yang sudah jarang saya kerjakan di Jakarta.  Maka kesempatan ini betul-betul saya nikmati.  Jalan kaki dengan nyaman dan santai.  Saat tungkai mulai pegal tinggal istirahat sejenak di bangku-bangku yang tersedia di pedestrian.  Seperti umumnya kota di Eropa, pedestrian di Ljubljana bersih dan indah. Tampak ada sesuatu yang cantik dan menarik, berhenti dulu buat difoto.  Kalau mulai ragu karena tak kunjung sampai, cukup mampir ke kios terdekat sekadar  memastikan jalan. Alhasil setengah jam saya baru tiba di tujuan.

20160929_100457

Pedestrian Slovenska Cesta

Memasuki jalan Copova Ulica sepanjang lebih kurang 100 meter, tibalah saya di kawasan kota tua atau Center.  Terdapat sebuah plasa yaitu Presernov Trg tempat  orang banyak berkumpul.  Di tengah terdapat sebuah patung laki-laki berwarna hijau.  Itulah patung Preseren, seorang penyair yang salah satu puisinya “Zdravljica”  diadaptasi menjadi lagu kebangsaan Slovenia.

preseren-square-or-presernov-trg

Preseren Square. Tampak patung Preseren di kejauhan

Tak jauh dari patung, terdapat jembatan yang menjadi landmark kota, yaitu Triple Bridge.  Dinamakan demikian karena jembatan putih ini terdiri dari tiga jembatan yang menyatu di pangkalnya dan pecah tiga di ujungnya. Triple Bridge dibangun pada 1929 sampai 1932 oleh arsitek Joze Plecnik ini kecil dan pendek saja. Di bawahnya mengalir tenang sungai Ljubljanica yang airnya berwarna hijau tenang.  Sesekali kapal kecil cantik dan sarat penumpang melintas, membelah sungai dan membuat itik-itik yang berenang berebutan menepi.  Di pinggir sungai berderet meja kursi restoran tertata cantik.   Sementara  tanaman rambat menutupi dinding bangunan yang memagari sungai.  Dedaunan yang mulai berubah warna pertanda musim gugur telah tiba.  Ingin mengabarkan keindahan ini kepada suami, namun apa daya alat komunikasi tak berfungsi.

multi-color-leaves

warna warni daun rambat musim gugur

Puas memandangi sungai, saya beralih ke deretan penjual suvenir.  Tempatnya masih di pinggiran sungai.  Sebenarnya hanya lapak-lapak sederhana berupa  meja-meja terbuka semacam bazaar di negeri kita.  Aneka benda dijual di sana.  Mulai yang murah meriah, seperti kartu pos, gantungan kuci, magnet kulkas, sampai kerajinan kayu, botol hias dan keramik.  Awasss….jangan lapar mata! Dalam hati mulai menghitung-hitung…siapa saja yang bakal dikasih oleh-oleh.  Inilah kelebihan bangsa Indonesia saat di luar negeri….yang dipikirkan adalah buat tangan untuk orang-orang rumah, kantor, keluarga besar…dan seterusnya.

 

suvenir-kaca

Deretan Botol Hias sebagai Suvenir

Kebelet? Tenang saja karena di setiap ujung jembatan disediakan toilet.  Perlu turun tangga untuk menuju toilet tersebut.  Bersih dan gratis.  Oya, sistim pelistrikan  hemat  efisien yang berlaku di Ljubljana awalnya membuat saya kaget.  Jadi lampu di toilet dan menyala berdasarkan sensor gerak.    Bila sedang kosong otomatis ruang toilet akan gelap.  Kagetnya karena saat memasuki ruangan, tiba-tiba lampu menyala sebelum kita menyentuh steker (yang memang tidak ada).  Dan saat di dalam toilet pastikan jangan sampai berdiam diri terlalu lama karena lampu bisa tiba-tiba mati sendiri.  Ha..ha…betul-betul kaget saat mengalami untuk pertama kalinya.

 

kafe-dan-suvenir-di-tepi-sungai

restoran di tepi sungai Ljubljanica

Capek keliling, akhirnya saya masuk ke Tourist Information Centre di ujung Preseren Trg.  Tadinya saya cuma mau cari Tourist Information Book yang versi Inggris yang ternyata banyak sekali bertumpukan di rak brosur  .  Mendadak saya terpikir untuk ikut tur.  Ada banyak sekali pilihan tur.  Mau seharian, atau jam-jaman, mau jalan kaki atau naik sepeda, atau naik kapal, semua tersedia programnya.  Mau tur kuliner, jalan ke kastil, wisata museum, wisata alam, sejarah…Pakai guide orang atau digital….tinggal pilih saja.  Rupanya wisata digarap habis-habisan di kota kecil ini.  Dengan memperhitungkan waktu tersedia dan uang euro yang tidak banyak, maka pilihan jatuh ke tur keliling center selama 2 jam dengan biaya 10 euro.    Cukuplah sampai sore hari saat saya harus kembali ke GR untuk menjemput suami.  (bersambung)

Catatan tentang ponsel.

Belajar dari pengalaman keluar negeri sebelumnya, termasuk waktu umroh, maka saya manfaatkan paket kuota yang ditawarkan oleh provider telepon seluler.  Karena saya pengguna T**koms*l maka sebelum berangkat sudah saya isi pulsa “secukupnya”, yang dalam hitungan keseharian di Indonesia lumayan mahal.  Saya pun mendaftar untuk paket roaming hemat yang tersedia.  Namun apa daya, ternyata komunikasi tak berfungsi.  Kecuali di tempat-tempat dengan wifi gratis.  Awalnya, dipikir salah settingan hape.  Kotak-katik sana sini bahkan sampai dipandu dari Jakarta saking gapteknya.  Tetap gagal berkomunikasi.  Mengandalkan SMS bisa bangkrut.  Apalagi kalau sampai berbicara.  Biaya melambung fantastis.  Sampai akhirnya tiba waktu kepulangan kuotanya tetap tidak berfungsi.  Dan ternyata di Indoneisa setelah ditanyakan provider tersebut di atas, rupanya memang tidak tersedia layanan kuota hemat untuk negeri Slovenia.  Lalu bagaimana dengan ratusan ribu yang sudah kami relakan untuk daftar kuota???? Raib begitu saja tanpa ada kejelasan!!

Pelajaran yang bisa diambil : jangan sekali-kali daftar kuota dan membayar sejumlah biaya apabila TIDAK ADA PENAWARAN dari provider yang bersangkutan.  Risikonya, uang tidak kembali seperti yang saya alami.

Alhamdulillah….di Ljubljana dalam sehari ada 1 jam Wifi gratis di seluruh penjuru kota.  Cirinya, tiba-tiba bertubi-tubi masuk pesan WA.  Sayangnya terkadang saya tidak menyadarinya, sehingga pas mau membalas pesan-pesan tersebut ternyata waktu sudah habis.

 

Ljubljana, Si Mungil yang Cantik (1)

Kalau bukan karena keikutsertaan pada perhelatan FIMS16 yang merupakan kongres tahunan dari Federation of Sport Medicine di kota Ljubljana mungkin sampai sekarang saya juga tidak tahu dimana letak kota ini.  Keikutsertaan itu pun karena ada tugas yang diemban oleh suami tercinta untuk membacakan papernya di kongres tersebut.  Makin besar keingintahuan tentang kota yang katanya kecil dan sepi ini.

posisi-slovenia

Slovenia

Slovenia adalah sebuah negeri kecil di Eropa Tengah, berbatasan dengan Italia di sebelah barat, Hungaria dan Austria di sebelah utara, Kroasia di sebelah timur, dan laut Adriatik di sebelah selatan.  Negeri seluas 20.273 kilometer persegi ini berpenduduk sekitar 2,1 juta orang, yang mayoritas beretnis Slovenia (83%), etnis Bosnia dan Kroasia (dahulu tergabung dalam Yugoslavia) sebanyak 5,3%, dan sisanya Italia, Hungaria dll.  Sebelum tahun 1990 Slovenia merupakan negara bagian dari Yugoslavia, dan baru pada 25 Juni 1991 resmi mendeklarasikan diri sebagai negara merdeka dengan ibukotanya Ljubljana.  Slovenia menjadi anggota Uni Eropa sejak Mei 2004 dan baru 2007 menggunakan mata uang Euro.

Ljubljana sebagai ibukota Slovenia merupakan kota kecil yang cantik.  Dengan luas 275 km2, dan penduduknya hanya 280 ribu jiwa membuat kota yang terletak 298 dpl ini sangat nyaman untuk ditinggali.  Uniknya, Ljubljana dengan status sebagai ibukota, mempunyai bendera sendiri yang berbeda dengan negara Slovenia.  Bendera tersebut berwarna hijau putih dan di tengah-tengahnya terdapat seekor naga hijau di atas kastil warna merah.

Naga hijau sangat ngetop di Ljubljana karena ia merupakan maskot kota.  Ini ada kaitannya dengan mitos jaman Yunani dulu. Dimana Jason, si pendiri kota Ljubljana ternyata kalah dalam pertempuran melawan naga hijau di Ljubljana Marsh. Kenapa musuh malah jadi maskot, itu pertanyaan yang belum terjawab. Naga hijau ada di puncak kastil tercetak di bendera, di Dragon Bridge betengger 4 naga hijau di keempat gapuranya, ada naga di kaos-kaos, di kartu pos, di gelas, magnet kulkas, dan di gantungan kunci.

Pesawat Turkish Air yang kami tumpangi landing dengan mulus di bandara  Jozeta Pucnika setelah menempuh penerbangan selama 3 jam dari Istanbul.  Selamat datang di Ljubljana!  Hawa sejuk awal musim gugur menerpa muka tatkala kami melangkah keluar dari bandara kecil itu.  Hanya tampak beberapa orang di area kedatangan. Sepi.  Saya celingak celinguk mencari taksi.  Sampai akhirnya bertanya ke salah seorang penjemput.  Agak suprise juga dengan responnya yang sangat ramah untuk ukuran orang Eropa.  Orang tersebut mau mengantar untuk mendapatkan taksi dan bahkan teriak untuk memangil sopirnya.

welcome-to-ljubljana

Kejutan kedua kami dapatkan di dalam taksi.  Pengemudiya yang bernama Muri ternyata seorang muslim.  Ia imigran Bosnia yang sudah puluhan tahun tinggal di Ljubljana.  Saya merasa Allah menjawab kekhawatiran kami menjelang berangkat.  Khawatir apa? Tidak lain dan tidak bukan adalah tentang makanan halal…..

MASJID NABAWI 2005-2015 [catatan umroh 2]

Masjid Nabawi tetap anggun. Mempesona. Setelah tahun 2005 menginjak lantai dinginnya untuk kali pertama, sepuluh tahun kemudian saya diberikan Allah kesempatan untuk kembali bersua. Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat, wajar sekali apabila banyak sekali perubahan. Meskipun demikian tetap saja beberapa hal masih sama, tetap menjadi ciri khas masjid nabi ini. Catatan saya tentang perubahan-perubahan tersebut antara lain : Nabawi - Sunrise Nabawi-Peringatan Batas Imam

  1. Payung-payung di pelataran. Dulu pelataran sangat panas di siang hari. Paling terasa di saat sholat dhuhur. Selama duduk menunggu waktu sholat, bolehlah pakai payung. Tapi di saat sholat tentu tidak mungkin. Bahkan saya sering menjumpai pemandangan seperti ini : jamaah sholat perempuan duduk berleret mengikuti bayangan tiang. Sekadar berlindung di keteduhan bayangan memanjang. Saya tersenyum saat melihat pemandangan itu. Sekarang dengan adanya payung-payung raksasa tersebut pelataran jadi teduh. Payung membuka dan menutup secara mekanis. Di saat malam, masjid dan menaranya bertaburan cahaya. Payung dalam kondisi menutup. Beranjak siang dan matahari meninggi maka mengembanglah payung-payung tersebut laksana jamur raksasa merekah. Dalam foto di atas tampak bola matahari baru terbit dan payung baru menutup.
  2. Inspeksi tas. Pemeriksaan tas atas semua jamaah perempuan masih dilakukan namun tak seketat dulu. Yang penting jangan masukkan ponsel berkamera ke dalam tas yang akan diperiksa. Apalagi kamera DSLR, jangan sekali-kali ya. Kamera saku atau kamera HP masukkan ke dalam saku baju. Kemudian sodorkan tas untuk diperiksa sebelum diminta. Sekarang bahkan orang sibuk berfoto ria hatta itu di balik punggung asykar. Di dalam masjid, berselfi, wefi atau sekadar memotret bagian-bagian masjid menjadi pemandangan yang sangat biasa. Meskipun demikian di setiap pintu masuk masih tertulis dengan running text “dilarang memotret di dalam masjid”. Sebenarnya sungguh sayang kalau keindahan interior maupun aktivitas di dalam masjid tidak terabadikan. Ini menurut pendapat saya. Asalkan kegiatan tersebut jangan sampai mengganggu waktu sholat dan mengganggu kenyamanan jamaah lain.
  3. Pemisahan tempat sholat untuk jamaah perempuan dan laki-laki masih diberlakukan. Sama seperti dulu. Pintu perempuan ada 2 buah, salah satunya adalah pintu Utsman.   Namun di dalam area perempuan masih dipisahkan lagi antara perempuan yang membawa bayi/anak dan yang tidak. Area dibatasi dengan pintu kayu tebal yang bisa digrendel. Ada peringatan di setiap pintu, ditambah asykar yang berjaga di sana untuk mengarahkan para jamaah. Uniknya, peringatan dalam bahasa Indonesia ada salah tulis , yakni  “tanpa” ditulis “tanap” . Pintu tersebut juga akan dikunci saat giliran jamaah perempuan berziarah ke Raudhah. Setelah diumumkan bahwa waktu ziarah ke Raudhah telah tiba, maka rombongan yang akan ziarah digiring ke shaf terdepan kemudian pintu dikunci. Yah, semacam penyeterilan area begitulah. Namun harus saya akui bahwa sistim pengaturan ke Raudhah sekarang sudah lebih baik dibandingkan 10 tahun yang lalu. Bahkan antara jamaah asal Asia Tenggara yang mereka sebut dengan Melayu, dan Asia Tengah/Selatan yang fisiknya lebih besar pun dilakukan pemisahan saat persiapan menuju ke Raudhah. Alhamdulillah, pada kali ini saya dapat “menikmati” ziarah ke Raudhah. Mengetahui batas-batas mana Masjid Nabawi yang awal dan yang perluasan, melihat mimbar imam, dan mengetahui Raudhah tidak hanya dari warna karpetnya saja.

Nabawi - Bahagian Khusus Wanita Tanap Anak

  1. Para jamaah yang sudah lansia dan sudah sulit untuk melakukan sholat secara normal alias harus duduk di kursi, dulu harus menenteng sendiri kursi lipat mereka. Sekarang tak perlu membawa-bawa kursi kemana-mana, karena di dalam masjid sudah disediakan kursi lipat. Ada wadahnya. Siapa yang butuh tinggal ambil, buka kursi, dan duduk. Setelah selesai tentu harus dikembalikan ke tempatnya.

Madinah-Wadah Kursi Lipat

  1. Perubahan yang lain tentu semua sudah tahu….tak lain adalah makin banyaknya hotel. Sehingga hampir keseluruhan sisi dari Masjid Nabawi sudah berhadapan dengan pintu hotel. Namun Alhamdulillah, masih tersisa lahan untuk bangunan megah non hotel. Yaitu gedung The Exhibition of The Beautiful of Allah names. Ada apa saja di dalam gedung pameran ini? Mohon sabar menunggu tulisan saya berikutnya…..(nin)

Perjuangan Mencapai Gua Hira [Catatan Umroh 1]

Dalam rangkaian ibadah haji atau umroh, kunjungan ke gua Hira sama sekali bukan merupakan syarat apalagi rukun. Gua yang terletak di Jabal Nur (jabal = gunung) ini lebih merupakan situs sejarah. Pendakian Jabal Nur juga merupakan optional dari city tour Makkah al Mukarromah. Maka tak semua anggota grup mendaftarkan untuk kunjungan ke gua Hira. Sewaktu ibadah haji tahun 2005, kami hanya ditunjukkan ancar-ancar lokasi gua dari kejauhan. Melihat leretan manusia di Jabal Nur yang terjal sembari dipanggang terik matahari membuat keinginan jadi surut seketika.

Namun, ada resep jitu untuk yang mau hiking ke gua Hira, yaitu berangkat sebelum subuh. Otomatis, “Harus ikhlas kehilangan sholat subuh di Masjidil Haram”. Meskipun tawaran ini ditujukan buat para usia muda – dan anak-anak tentu menyambut dengan antusias – suami tetap ingin kami berdua ikut. “Jangan khawatir, kalau sekiranya tidak kuat kita duduk-duduk saja di bawah”, demikian janji beliau.

Maka jam 4 dini hari kami sudah berkemas dan 30 menit kemudian sudah duduk berimpitan di minibus sewaan, meluncur ke Jabal Nur yang berjarak sekitar 5 kilometer dari Masjidil Haram. Tidak menggunakan bus resmi grup umroh karena tur ini tidak tercantum dalam daftar kunjungan. Sudah disepakati bahwa untuk 1 orang dikenakan biaya 30 SR.

Mobil berhenti di dekat sebuah mushola. Kami akan menunaikan sholat subuh terlebih dahulu. Tapi ternyata mushola tersebut masih terkunci. Maklumlah, model mushola di Saudi Arabia ini pakai pintu layaknya rumah tinggal. Beberapa saat kami celingak celinguk tiba-tiba muncullah seorang pemuda bergamis putih berjalan sedikit tergesa. Rupanya dia si pembawa kunci. Setelah membuka pintu ia pun langsung menuju ke depan mimbar dan melantunkan adzan. Merdu suaranya. Usai adzan, imam datang dan memimpin sholat subuh.

Suasana di lokasi awal pendakian mirip dengan di desa Penanjakan, menjelang naik ke gunung Bromo. Perumahan penduduk, terdapat warung-warung makanan dan cindera mata, dan raungan mesin-mesin mobil angkutan. Bedanya, angkutan di sini didominasi taksi. Hebat juga taksi Mekkah yang berupa sedan dan mobil SUV sekelas Avanza mampu naik dengan menderum-derum.

Menengok ke atas, tampak bayang-bayang hitam Jabal Nur tinggi menjulang. Seketika nyali ciut mengingat hiking terakhir saya adalah saat SMA, 32 tahun lampau!

Bismillah…mulailah perjalanan ini. Hawa sejuk segar, matahari belum terbit membuat kami semangat dalam melangkahi tiap anak tangga. Pemandangan sekeliling didominasi oleh bebatuan, gunung batu maupun jurang yang makin lama makin tampak dalam. Sekitar 15 menit mendaki di sebelah kiri mulai tampak kerlap kerlip cahaya. Kota Mekkah di keremangan subuh! Beberapa meter lagi menanjak mulai tampak jam raksasa Makkah, Royal Clock Tower atau Abraj al Bayt yang tingginya mencapai 601 meter. Sangat memukau! Dulu…..Rasulullah mengamati Ka,bah dari ketinggian sini.  Namun sekarang bangunan Ka’bah tak tampak karena sudah ‘tenggelam’ oleh bangunan hotel.

Dan langit di timur pun semakin memerah pertanda sang surya akan beranjak naik. Maka berpalinglah ke kanan….akan tampak pemandangan yang membuat diri ini begitu kecil di tengah kemegahan alam semesta yang diciptakan Allah SWT. Kita akan melihat bola merah matahari berada di tengah-tengan pegunungan batu dalam berbagai gradasi. Allahu Akbar!

Pemandangan Kota Makkah di Saat Subuh dari Jabal Nur

Fajar Menyingsing

Beberapa puluh meter mendaki bersama suami, terpaksa kami harus mengaso sejenak untuk memulihkan napas dan denyutan jantung. Haus…! Tapi apa daya air minum terbawa oleh anak-anak yang sudah tak tampak lagi sosoknya karena langkah mereka jauh lebih cepat. Beberapa kali kami berpapasan atau bersalipan dengan para jamaah berbagai negara yang juga mengaso.

Tiba-tiba seorang ibu tua – tampaknya jamaah asal Turki – yang sedang dalam perjalanan turun menggamit saya, dan dengan bahasa isyarat dia menyerahkan tongkatnya kepada saya. Saya terkejut dan menolak sambil mengucap terimakasih. Bayangkan, melihat keriput wajahnya usia si ibu saya taksir sudah 60an, lha kok malah tongkatnya mau dikasihkan ke orang yang lebih muda. Tapi si ibu tetap memaksa sambil mengisyaratkan bahwa perjalanan turun sudah tak memerlukan tongkat lagi. Maka saya terima tongkat tersebut dengan ucapan terimakasih yang tulus.  Ia ingin berbuat baik mengapa kita hambat? Nanti pada gilirannya, tongkat itu juga dapat jadi sarana saya berbuat baik.

Dengan melawan haus dan jantung yang seolah mau copot, akhirnya tibalah kami di puncak Jabal Nur! Tepat jam menunjukkan pukul 7.30 WSA. Yang terpikir saat itu adalah, betapa prima fisik Rasulullah SAW juga istrinya Khadijah ra. Terbukti hampir setiap malam gelap gulita beliau mengunjungi tempat ini yang pastinya waktu itu belum ada tangga-tangga yang memudahkan pendakian. Demikian pula ibu Khadijah yang konon beberapa kali mengunjugi Rasulullah saat sedang berada di dalam gua.

Sudah selesai? Ternyata belum, karena untuk mencapai gua tempat Rasulullah menerima wahyu pertama itu rupanya kita harus turun sedikit ke arah barat dan kemudian sampai pada jejeran beberapa batu raksasa yang membentuk celah. Terdapat tulisan di batu tersebut : “Baab Ghaar” yang bermakna Pintu Gua. Nah, kita harus melewati celah sangat sempit yang hanya muat satu orang tersebut. Sudah begitu, harus bergantian dengan jamaah yang juga mau lewat dari arah yang berlawanan, yaitu mereka yang sudah selesai kunjungan ke gua. Baru teringat peran penting pak Ogah di perempatan-perempatan jalan di Jakarta!

Singkatnya, setelah berhasil melewati celah tersebut kami tiba di sebuah tempat datar yang terbuka. Ada batu besar lagi bertuliskan lafadz surat Al Alaq ayat 1-5 , itulah pintu gua. Gua Hira sendiri ternyata sempit saja, berukuran sekitar 1 x 2 meter. Lantainya sebagian batu dan sebagian keramik. Ada 2 lembar sajadah terhampar. Jamaah berebutan untuk sholat di atasnya. Sebuah perbuatan yang tidak ada tuntunannya.

Di Depan Gua HiraPintu Gua

Memori saya langsung terbang ke masa hampir 1500 tahun lampau. Saat seorang laki-laki berusia 40 tahun, sedang sendirian dalam keheningan dan kegelapan tiba-tiba dikagetkan dengan kemunculan sosok laki-laki lain bercahaya putih. Jibril, laki-laki bercahaya tak dikenal itu, kemudian mendekapnya seraya memintanya melakukan sesuatu yang tak mampu diperbuatnya. Membaca! Ya, membaca! Menelusuri huruf demi huruf ternyata dapat menambah ilmu. Apa daya, Muhammad seorang yang buta huruf saat itu. Padahal, membaca adalah perintah Allah yang pertama bagi utusanNya. Sekaligus perintah bagi seluruh umatnya kelak. Tak pelak, sang malaikat penyampai wahyu harus mengeja untuk kemudian ditirukannya. Wajar, saking takut dan gemetarnya, bergegaslah ia turun gunung terjal berbatu itu menuju kehangatan rumahnya, menuju belahan jiwa yang menenangkannya, Khadijah binti Khuwailid.

Sejenak pandangan saya layangkan ke sekitar gua. Gunung batu di mana-mana. Nuansa coklat menyergap mata. Syukurlah, cuaca sangat bersahabat di pagi itu. Kami kembali ke puncak menuju “rest area”. Ada warung minuman dan makanan kecil, dan ada pula warung suvenir. Jangan heran apabila di antara makan kecil di warung terselip mi instan buatan Indonesia! Sambil makan jeruk kami ikut mendengarkan taushiyah berbahasa Inggris dari grup asal Kanada.  Di pojok sana, grup jamaah asal Pakistan berdzikir keras. sedangkan di luar warung sekelompok jamaah Turki sedang sholat sunnah.

Khawatir terlalu panas, kami segera beranjak turun.  Perjalanan turun Alhamdulillah bisa dijalani tanpa istirahat. Memakan waktu kira-kira setengah jam. Di turunan yang lebih santai ini, sempat bersua dengan beberapa satwa yang sudah pada bangun. Monyet, kucing, dan kawanan burung Merpati seolah menyapa jamaah.

Monyet Gunung

Yang unik adalah ide anak ke 4, Abdillah KF. Tiba-tiba saja dia sudah menyalip dengan membawa tas plastik besar. Rupanya jengkel dengan banyaknya sampah yang bertebaran di sepanjang undakan, dia berinisiatif memunguti sampah-sampah kering tersebut. “Aku mau GPS. Gerakan Pungut Sampah”, ujarnya sambil memasukkan botol plastik dan kaleng minuman ke dalam tasnya. Apa daya, baru turun beberapa meter, sampah sudah memenuhi 2 tas besar yang ditentengnya. Sebenarnya, kalau saya boleh saran ke pemerintah Kerajaan Saudi Arabia, situs-situs sejarah Islam seyogyanya dipelihara, dirawat, dan dijaga kebersihannya.   Apatah jadinya kalau nanti 20 – 30 tahun lagi generasi muda sudah tidak dapat menikmati keelokan Jabal Nur dikarenakan dipenuhi gunungan sampah?

Sesuai janji, dalam perjalanan turun ini saya memberikan tongkat kepada seorang ibu yang mendaki sendirian dan tampak kepayahan.  Semoga sedikit dapat mengurangi bebannya. (nin)