Arsip

Mencari Makanan Halal di Ljubljana

Di Ljubljana dimana muslim hanya sekitar 5% maka urusan makanan halal harus disikapi dengan serius.  Atas pertimbangan ini pula, kami memilih menginap di hotel Grand Union  tak jauh dari kawasan kota tua di Center.  Hotel ini agak mahal, namun menyediakan daging halal pada hidangan sarapannya.  Daging tersebut didatangkan dari Turki. Daging halal ditempatkan terpisah, sayang petunjuknya terlalu kecil.  Kami baru menemukannya setelah mengitari seisi restoran dan itu pun atas petunjuk petugas.

Resto Balkan

Tempat makan halal yang pertama kali kami kunjungi setelah menginjakkan kaki di kota Ljubljana adalah resto bergaya Balkan, tepatnya Bosnia.  Resto ini kami dapatkan atas petunjuk Muri, si supir taksi bandara. Berlokasi di Cesta Andreja Bitenca no 70.  Lokasinya sangat sepi, jauh dari jalan raya.  Berada di tengah kawasan perumahan yang rimbun dan nyaman.  Restonya tidak terlalu besar namun cukup apik dan homy.  Pelayannya ramah, profesional dan menguasai bahasa Inggris.  Di salah satu sisi dinding tertutup dengan foto masjid di Bosnia.   Menu yang kami nikmati siang itu adalah Bosanski Lonac.  Makanan berkuah berisi daging dan sayuran semacam caserole ini nikmat dimakan hangat bersama roti.

Bosanski Lonac

Bosanski Lonac

 

Di sisi depan resto terdapat mushola.  Lengkap dengan toilet dan tempat wudhu pria/wanita.  Jadi, sambil makan siang bisa sekalian sholat di mushola tersebut. Dan tepat di depan pintu mushola terdapat sebuah ruangan yang ternyata adalah kantor dari sebuah yayasan foundation dari Qatar.  Kami berkenalan dengan Elvira dan Sanela, dua muslimah asal Bosnia yang bekerja di sana.

“Islam di sini ada dua golongan,”ujar Sanela.  Ada golongan formal, yaitu mereka yang menjalankan perintah agama dengan tertib, misalnya memakai hijab seperti kamu ini.  Dan satu lagi golongan non formal”.  Mungkin maksudnya Islam KTP seperti istilah di negeri kita.  “Apa pun Sanela, mereka itu saudara kita”, kata saya dalam hati.

Doner Kebab Halal

Tak jauh dari GR, kependekan dari Gospodasko Raztavisce sebutan lokal untuk gedung konferensi tempat acara diselenggarakan,  ada kios Doner kebab.   Penjualnya Imran, anak muda muslim asal Kroasia.   Ia menjamin daging kebabnya halal.  “Saya mendatangkan khusus dari Jerman”, ujarnya.   Kiosnya sangat ramai.  Karenanya, meski sudah dibantu seorang asisten Imran tampak selalu sibuk melayani pembeli.  Akhirnya kami jadi sering ke kios Imran.  Beli Doner Kebab cukup 1 buah saja dimakan berdua karena ukurannya cukup besar.  Kalau sedang santai kami pilih jadi pembeli terakhir sekedar bisa mengobrol.   Terkadang kami minta tolong ditelponkan taksi.

20160930_171938

Imran di Kios Doner Kebab

Imran sepertinya ia masuk golongan non formal sesuai istilah Sanela.  Itu karena saat hari Jum’at ia tak beranjak dari kiosnya, melayani antrian pembeli.

Resto Habibi

Masih di Dunajska Cesta no 105/107, berjarak lebih kurang 1 kilometer dari RG terdapat sebuah restoran Timur Tengah.  Resto Habibi namanya.  Pemiliknya, Ahmad, pemuda Mesir yang menikah dengan mualaf Ljubljana.  Usia restoran ini baru 6 bulan.  “Belum ada website.  Kami baru punya facebook”, saat kami utarakan sulitnya mencari resto halal. Hidangannya sebagaimana resto Timur Tengah pada umumnya dengan harga yang tidak terlalu mahal.  Meski rasa nasi Bryani tidak sama dengan aslinya namun karena baru ketemu nasi, kami pun bersantap dengan nikmat.  Di resto ini kartu kredit saya (dari bank besar plat merah) bisa berfungsi.

resto-habibie-bryani.jpg

 

Alhamdulillah, sambil menunggu pesanan siap,  kami bisa mendirikan sholat jamak qashar.  Untuk itu Ahmad menyediakan dua sajadah.  Sholat dikerjakan di ruangan yang berkarpet karena tidak terdapat mushola.

Hidangan Kongres

Bagaimana dengan hidangan makan siang di kongres? Mengingat kongres Sport Medicine ini berskala Internasional, banyak juga para pakar yang datang dari negeri Islam, seperti Malaysia, Brunei Darussalaam, Iran, dan tentu saja Turki dan Qatar sebagai negara pendukung utama.  Untuk itu panitia menyediakan  makan siang di dalam kotak dengan kode warna.  Disediakan 3 warna kotak, yaitu merah, biru, dan hijau.  Kotak merah berarti mengandung babi, kotak biru mengandung daging non babi, dan kotak hijau adalah hidangan vegetarian.   Isi  berupa roti burger isi daging (atau sayur khusus untuk vegetarian), muffins, minuman kotak, dan buah. [nin]

 

 

Tur Jalan Kaki di Ljubljana (2)

Hari kedua di Ljubljana adalah hari bebas buat saya. Sendirian lagi! Ini karena suami mengikuti sebuah workshop sedangkan saya tidak. Sementara kongres baru resmi dibuka pada malam harinya.

Maka di pagi hari yang menggigil dan berkabut itu saya menghangatkan diri sejenak di kafe sebelah dengan secangkir teh sembari merancang itinerary.  Kemana enaknya? Dan naik apa? Peta kota sudah bolak balik dibuka.  Sayangnya Tourist Guide Book yang kemarin dicomot dari bandara ternyata berbahasa Jerman.  Duuh…. Siapa yang bisa ditanya?

Di depan gedung Ljubljana Exhibition and Convention Centre (warga setempat menyebutnya GR singkatan dari Gospodarsko raztavische) terdapat sebuah kios majalah.  Penjualnya bernama Dunja, seorang wanita setengah baya yang ternyata ramah dan yang terpenting…bisa bahasa Inggris!  Atas petunjuk Dunja inilah,  saya pun mulai menyusuri jalan Slovenska Cesta .

“Lurus saja, kira-kira 1 kilometer lantas belok kiri”, begitu pesannya.  Tak lupa ia tambahkan, “Tenang saja, di kota ini semua serba dekat.

Dan ternyata, kata-kata “serba dekat”, “cepat saja”, “tidak makan waktu lama” banyak diucapkan oleh warga setempat.  Baik oleh sopir taksi, penjaga kios, resepsionis hotel, maupun oleh pramusaji rumah makan.  Ini untuk menunjukkan betapa kecil kota ini, sehingga kita tidak perlu khawatir tersesat.

Menyusuri trotoar, jalan kaki sendirian adalah hal yang sudah jarang saya kerjakan di Jakarta.  Maka kesempatan ini betul-betul saya nikmati.  Jalan kaki dengan nyaman dan santai.  Saat tungkai mulai pegal tinggal istirahat sejenak di bangku-bangku yang tersedia di pedestrian.  Seperti umumnya kota di Eropa, pedestrian di Ljubljana bersih dan indah. Tampak ada sesuatu yang cantik dan menarik, berhenti dulu buat difoto.  Kalau mulai ragu karena tak kunjung sampai, cukup mampir ke kios terdekat sekadar  memastikan jalan. Alhasil setengah jam saya baru tiba di tujuan.

20160929_100457

Pedestrian Slovenska Cesta

Memasuki jalan Copova Ulica sepanjang lebih kurang 100 meter, tibalah saya di kawasan kota tua atau Center.  Terdapat sebuah plasa yaitu Presernov Trg tempat  orang banyak berkumpul.  Di tengah terdapat sebuah patung laki-laki berwarna hijau.  Itulah patung Preseren, seorang penyair yang salah satu puisinya “Zdravljica”  diadaptasi menjadi lagu kebangsaan Slovenia.

preseren-square-or-presernov-trg

Preseren Square. Tampak patung Preseren di kejauhan

Tak jauh dari patung, terdapat jembatan yang menjadi landmark kota, yaitu Triple Bridge.  Dinamakan demikian karena jembatan putih ini terdiri dari tiga jembatan yang menyatu di pangkalnya dan pecah tiga di ujungnya. Triple Bridge dibangun pada 1929 sampai 1932 oleh arsitek Joze Plecnik ini kecil dan pendek saja. Di bawahnya mengalir tenang sungai Ljubljanica yang airnya berwarna hijau tenang.  Sesekali kapal kecil cantik dan sarat penumpang melintas, membelah sungai dan membuat itik-itik yang berenang berebutan menepi.  Di pinggir sungai berderet meja kursi restoran tertata cantik.   Sementara  tanaman rambat menutupi dinding bangunan yang memagari sungai.  Dedaunan yang mulai berubah warna pertanda musim gugur telah tiba.  Ingin mengabarkan keindahan ini kepada suami, namun apa daya alat komunikasi tak berfungsi.

multi-color-leaves

warna warni daun rambat musim gugur

Puas memandangi sungai, saya beralih ke deretan penjual suvenir.  Tempatnya masih di pinggiran sungai.  Sebenarnya hanya lapak-lapak sederhana berupa  meja-meja terbuka semacam bazaar di negeri kita.  Aneka benda dijual di sana.  Mulai yang murah meriah, seperti kartu pos, gantungan kuci, magnet kulkas, sampai kerajinan kayu, botol hias dan keramik.  Awasss….jangan lapar mata! Dalam hati mulai menghitung-hitung…siapa saja yang bakal dikasih oleh-oleh.  Inilah kelebihan bangsa Indonesia saat di luar negeri….yang dipikirkan adalah buat tangan untuk orang-orang rumah, kantor, keluarga besar…dan seterusnya.

 

suvenir-kaca

Deretan Botol Hias sebagai Suvenir

Kebelet? Tenang saja karena di setiap ujung jembatan disediakan toilet.  Perlu turun tangga untuk menuju toilet tersebut.  Bersih dan gratis.  Oya, sistim pelistrikan  hemat  efisien yang berlaku di Ljubljana awalnya membuat saya kaget.  Jadi lampu di toilet dan menyala berdasarkan sensor gerak.    Bila sedang kosong otomatis ruang toilet akan gelap.  Kagetnya karena saat memasuki ruangan, tiba-tiba lampu menyala sebelum kita menyentuh steker (yang memang tidak ada).  Dan saat di dalam toilet pastikan jangan sampai berdiam diri terlalu lama karena lampu bisa tiba-tiba mati sendiri.  Ha..ha…betul-betul kaget saat mengalami untuk pertama kalinya.

 

kafe-dan-suvenir-di-tepi-sungai

restoran di tepi sungai Ljubljanica

Capek keliling, akhirnya saya masuk ke Tourist Information Centre di ujung Preseren Trg.  Tadinya saya cuma mau cari Tourist Information Book yang versi Inggris yang ternyata banyak sekali bertumpukan di rak brosur  .  Mendadak saya terpikir untuk ikut tur.  Ada banyak sekali pilihan tur.  Mau seharian, atau jam-jaman, mau jalan kaki atau naik sepeda, atau naik kapal, semua tersedia programnya.  Mau tur kuliner, jalan ke kastil, wisata museum, wisata alam, sejarah…Pakai guide orang atau digital….tinggal pilih saja.  Rupanya wisata digarap habis-habisan di kota kecil ini.  Dengan memperhitungkan waktu tersedia dan uang euro yang tidak banyak, maka pilihan jatuh ke tur keliling center selama 2 jam dengan biaya 10 euro.    Cukuplah sampai sore hari saat saya harus kembali ke GR untuk menjemput suami.  (bersambung)

Catatan tentang ponsel.

Belajar dari pengalaman keluar negeri sebelumnya, termasuk waktu umroh, maka saya manfaatkan paket kuota yang ditawarkan oleh provider telepon seluler.  Karena saya pengguna T**koms*l maka sebelum berangkat sudah saya isi pulsa “secukupnya”, yang dalam hitungan keseharian di Indonesia lumayan mahal.  Saya pun mendaftar untuk paket roaming hemat yang tersedia.  Namun apa daya, ternyata komunikasi tak berfungsi.  Kecuali di tempat-tempat dengan wifi gratis.  Awalnya, dipikir salah settingan hape.  Kotak-katik sana sini bahkan sampai dipandu dari Jakarta saking gapteknya.  Tetap gagal berkomunikasi.  Mengandalkan SMS bisa bangkrut.  Apalagi kalau sampai berbicara.  Biaya melambung fantastis.  Sampai akhirnya tiba waktu kepulangan kuotanya tetap tidak berfungsi.  Dan ternyata di Indoneisa setelah ditanyakan provider tersebut di atas, rupanya memang tidak tersedia layanan kuota hemat untuk negeri Slovenia.  Lalu bagaimana dengan ratusan ribu yang sudah kami relakan untuk daftar kuota???? Raib begitu saja tanpa ada kejelasan!!

Pelajaran yang bisa diambil : jangan sekali-kali daftar kuota dan membayar sejumlah biaya apabila TIDAK ADA PENAWARAN dari provider yang bersangkutan.  Risikonya, uang tidak kembali seperti yang saya alami.

Alhamdulillah….di Ljubljana dalam sehari ada 1 jam Wifi gratis di seluruh penjuru kota.  Cirinya, tiba-tiba bertubi-tubi masuk pesan WA.  Sayangnya terkadang saya tidak menyadarinya, sehingga pas mau membalas pesan-pesan tersebut ternyata waktu sudah habis.

 

Ljubljana, Si Mungil yang Cantik (1)

Kalau bukan karena keikutsertaan pada perhelatan FIMS16 yang merupakan kongres tahunan dari Federation of Sport Medicine di kota Ljubljana mungkin sampai sekarang saya juga tidak tahu dimana letak kota ini.  Keikutsertaan itu pun karena ada tugas yang diemban oleh suami tercinta untuk membacakan papernya di kongres tersebut.  Makin besar keingintahuan tentang kota yang katanya kecil dan sepi ini.

posisi-slovenia

Slovenia

Slovenia adalah sebuah negeri kecil di Eropa Tengah, berbatasan dengan Italia di sebelah barat, Hungaria dan Austria di sebelah utara, Kroasia di sebelah timur, dan laut Adriatik di sebelah selatan.  Negeri seluas 20.273 kilometer persegi ini berpenduduk sekitar 2,1 juta orang, yang mayoritas beretnis Slovenia (83%), etnis Bosnia dan Kroasia (dahulu tergabung dalam Yugoslavia) sebanyak 5,3%, dan sisanya Italia, Hungaria dll.  Sebelum tahun 1990 Slovenia merupakan negara bagian dari Yugoslavia, dan baru pada 25 Juni 1991 resmi mendeklarasikan diri sebagai negara merdeka dengan ibukotanya Ljubljana.  Slovenia menjadi anggota Uni Eropa sejak Mei 2004 dan baru 2007 menggunakan mata uang Euro.

Ljubljana sebagai ibukota Slovenia merupakan kota kecil yang cantik.  Dengan luas 275 km2, dan penduduknya hanya 280 ribu jiwa membuat kota yang terletak 298 dpl ini sangat nyaman untuk ditinggali.  Uniknya, Ljubljana dengan status sebagai ibukota, mempunyai bendera sendiri yang berbeda dengan negara Slovenia.  Bendera tersebut berwarna hijau putih dan di tengah-tengahnya terdapat seekor naga hijau di atas kastil warna merah.

Naga hijau sangat ngetop di Ljubljana karena ia merupakan maskot kota.  Ini ada kaitannya dengan mitos jaman Yunani dulu. Dimana Jason, si pendiri kota Ljubljana ternyata kalah dalam pertempuran melawan naga hijau di Ljubljana Marsh. Kenapa musuh malah jadi maskot, itu pertanyaan yang belum terjawab. Naga hijau ada di puncak kastil tercetak di bendera, di Dragon Bridge betengger 4 naga hijau di keempat gapuranya, ada naga di kaos-kaos, di kartu pos, di gelas, magnet kulkas, dan di gantungan kunci.

Pesawat Turkish Air yang kami tumpangi landing dengan mulus di bandara  Jozeta Pucnika setelah menempuh penerbangan selama 3 jam dari Istanbul.  Selamat datang di Ljubljana!  Hawa sejuk awal musim gugur menerpa muka tatkala kami melangkah keluar dari bandara kecil itu.  Hanya tampak beberapa orang di area kedatangan. Sepi.  Saya celingak celinguk mencari taksi.  Sampai akhirnya bertanya ke salah seorang penjemput.  Agak suprise juga dengan responnya yang sangat ramah untuk ukuran orang Eropa.  Orang tersebut mau mengantar untuk mendapatkan taksi dan bahkan teriak untuk memangil sopirnya.

welcome-to-ljubljana

Kejutan kedua kami dapatkan di dalam taksi.  Pengemudiya yang bernama Muri ternyata seorang muslim.  Ia imigran Bosnia yang sudah puluhan tahun tinggal di Ljubljana.  Saya merasa Allah menjawab kekhawatiran kami menjelang berangkat.  Khawatir apa? Tidak lain dan tidak bukan adalah tentang makanan halal…..

MASJID NABAWI 2005-2015 [catatan umroh 2]

Masjid Nabawi tetap anggun. Mempesona. Setelah tahun 2005 menginjak lantai dinginnya untuk kali pertama, sepuluh tahun kemudian saya diberikan Allah kesempatan untuk kembali bersua. Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat, wajar sekali apabila banyak sekali perubahan. Meskipun demikian tetap saja beberapa hal masih sama, tetap menjadi ciri khas masjid nabi ini. Catatan saya tentang perubahan-perubahan tersebut antara lain : Nabawi - Sunrise Nabawi-Peringatan Batas Imam

  1. Payung-payung di pelataran. Dulu pelataran sangat panas di siang hari. Paling terasa di saat sholat dhuhur. Selama duduk menunggu waktu sholat, bolehlah pakai payung. Tapi di saat sholat tentu tidak mungkin. Bahkan saya sering menjumpai pemandangan seperti ini : jamaah sholat perempuan duduk berleret mengikuti bayangan tiang. Sekadar berlindung di keteduhan bayangan memanjang. Saya tersenyum saat melihat pemandangan itu. Sekarang dengan adanya payung-payung raksasa tersebut pelataran jadi teduh. Payung membuka dan menutup secara mekanis. Di saat malam, masjid dan menaranya bertaburan cahaya. Payung dalam kondisi menutup. Beranjak siang dan matahari meninggi maka mengembanglah payung-payung tersebut laksana jamur raksasa merekah. Dalam foto di atas tampak bola matahari baru terbit dan payung baru menutup.
  2. Inspeksi tas. Pemeriksaan tas atas semua jamaah perempuan masih dilakukan namun tak seketat dulu. Yang penting jangan masukkan ponsel berkamera ke dalam tas yang akan diperiksa. Apalagi kamera DSLR, jangan sekali-kali ya. Kamera saku atau kamera HP masukkan ke dalam saku baju. Kemudian sodorkan tas untuk diperiksa sebelum diminta. Sekarang bahkan orang sibuk berfoto ria hatta itu di balik punggung asykar. Di dalam masjid, berselfi, wefi atau sekadar memotret bagian-bagian masjid menjadi pemandangan yang sangat biasa. Meskipun demikian di setiap pintu masuk masih tertulis dengan running text “dilarang memotret di dalam masjid”. Sebenarnya sungguh sayang kalau keindahan interior maupun aktivitas di dalam masjid tidak terabadikan. Ini menurut pendapat saya. Asalkan kegiatan tersebut jangan sampai mengganggu waktu sholat dan mengganggu kenyamanan jamaah lain.
  3. Pemisahan tempat sholat untuk jamaah perempuan dan laki-laki masih diberlakukan. Sama seperti dulu. Pintu perempuan ada 2 buah, salah satunya adalah pintu Utsman.   Namun di dalam area perempuan masih dipisahkan lagi antara perempuan yang membawa bayi/anak dan yang tidak. Area dibatasi dengan pintu kayu tebal yang bisa digrendel. Ada peringatan di setiap pintu, ditambah asykar yang berjaga di sana untuk mengarahkan para jamaah. Uniknya, peringatan dalam bahasa Indonesia ada salah tulis , yakni  “tanpa” ditulis “tanap” . Pintu tersebut juga akan dikunci saat giliran jamaah perempuan berziarah ke Raudhah. Setelah diumumkan bahwa waktu ziarah ke Raudhah telah tiba, maka rombongan yang akan ziarah digiring ke shaf terdepan kemudian pintu dikunci. Yah, semacam penyeterilan area begitulah. Namun harus saya akui bahwa sistim pengaturan ke Raudhah sekarang sudah lebih baik dibandingkan 10 tahun yang lalu. Bahkan antara jamaah asal Asia Tenggara yang mereka sebut dengan Melayu, dan Asia Tengah/Selatan yang fisiknya lebih besar pun dilakukan pemisahan saat persiapan menuju ke Raudhah. Alhamdulillah, pada kali ini saya dapat “menikmati” ziarah ke Raudhah. Mengetahui batas-batas mana Masjid Nabawi yang awal dan yang perluasan, melihat mimbar imam, dan mengetahui Raudhah tidak hanya dari warna karpetnya saja.

Nabawi - Bahagian Khusus Wanita Tanap Anak

  1. Para jamaah yang sudah lansia dan sudah sulit untuk melakukan sholat secara normal alias harus duduk di kursi, dulu harus menenteng sendiri kursi lipat mereka. Sekarang tak perlu membawa-bawa kursi kemana-mana, karena di dalam masjid sudah disediakan kursi lipat. Ada wadahnya. Siapa yang butuh tinggal ambil, buka kursi, dan duduk. Setelah selesai tentu harus dikembalikan ke tempatnya.

Madinah-Wadah Kursi Lipat

  1. Perubahan yang lain tentu semua sudah tahu….tak lain adalah makin banyaknya hotel. Sehingga hampir keseluruhan sisi dari Masjid Nabawi sudah berhadapan dengan pintu hotel. Namun Alhamdulillah, masih tersisa lahan untuk bangunan megah non hotel. Yaitu gedung The Exhibition of The Beautiful of Allah names. Ada apa saja di dalam gedung pameran ini? Mohon sabar menunggu tulisan saya berikutnya…..(nin)

Perjuangan Mencapai Gua Hira [Catatan Umroh 1]

Dalam rangkaian ibadah haji atau umroh, kunjungan ke gua Hira sama sekali bukan merupakan syarat apalagi rukun. Gua yang terletak di Jabal Nur (jabal = gunung) ini lebih merupakan situs sejarah. Pendakian Jabal Nur juga merupakan optional dari city tour Makkah al Mukarromah. Maka tak semua anggota grup mendaftarkan untuk kunjungan ke gua Hira. Sewaktu ibadah haji tahun 2005, kami hanya ditunjukkan ancar-ancar lokasi gua dari kejauhan. Melihat leretan manusia di Jabal Nur yang terjal sembari dipanggang terik matahari membuat keinginan jadi surut seketika.

Namun, ada resep jitu untuk yang mau hiking ke gua Hira, yaitu berangkat sebelum subuh. Otomatis, “Harus ikhlas kehilangan sholat subuh di Masjidil Haram”. Meskipun tawaran ini ditujukan buat para usia muda – dan anak-anak tentu menyambut dengan antusias – suami tetap ingin kami berdua ikut. “Jangan khawatir, kalau sekiranya tidak kuat kita duduk-duduk saja di bawah”, demikian janji beliau.

Maka jam 4 dini hari kami sudah berkemas dan 30 menit kemudian sudah duduk berimpitan di minibus sewaan, meluncur ke Jabal Nur yang berjarak sekitar 5 kilometer dari Masjidil Haram. Tidak menggunakan bus resmi grup umroh karena tur ini tidak tercantum dalam daftar kunjungan. Sudah disepakati bahwa untuk 1 orang dikenakan biaya 30 SR.

Mobil berhenti di dekat sebuah mushola. Kami akan menunaikan sholat subuh terlebih dahulu. Tapi ternyata mushola tersebut masih terkunci. Maklumlah, model mushola di Saudi Arabia ini pakai pintu layaknya rumah tinggal. Beberapa saat kami celingak celinguk tiba-tiba muncullah seorang pemuda bergamis putih berjalan sedikit tergesa. Rupanya dia si pembawa kunci. Setelah membuka pintu ia pun langsung menuju ke depan mimbar dan melantunkan adzan. Merdu suaranya. Usai adzan, imam datang dan memimpin sholat subuh.

Suasana di lokasi awal pendakian mirip dengan di desa Penanjakan, menjelang naik ke gunung Bromo. Perumahan penduduk, terdapat warung-warung makanan dan cindera mata, dan raungan mesin-mesin mobil angkutan. Bedanya, angkutan di sini didominasi taksi. Hebat juga taksi Mekkah yang berupa sedan dan mobil SUV sekelas Avanza mampu naik dengan menderum-derum.

Menengok ke atas, tampak bayang-bayang hitam Jabal Nur tinggi menjulang. Seketika nyali ciut mengingat hiking terakhir saya adalah saat SMA, 32 tahun lampau!

Bismillah…mulailah perjalanan ini. Hawa sejuk segar, matahari belum terbit membuat kami semangat dalam melangkahi tiap anak tangga. Pemandangan sekeliling didominasi oleh bebatuan, gunung batu maupun jurang yang makin lama makin tampak dalam. Sekitar 15 menit mendaki di sebelah kiri mulai tampak kerlap kerlip cahaya. Kota Mekkah di keremangan subuh! Beberapa meter lagi menanjak mulai tampak jam raksasa Makkah, Royal Clock Tower atau Abraj al Bayt yang tingginya mencapai 601 meter. Sangat memukau! Dulu…..Rasulullah mengamati Ka,bah dari ketinggian sini.  Namun sekarang bangunan Ka’bah tak tampak karena sudah ‘tenggelam’ oleh bangunan hotel.

Dan langit di timur pun semakin memerah pertanda sang surya akan beranjak naik. Maka berpalinglah ke kanan….akan tampak pemandangan yang membuat diri ini begitu kecil di tengah kemegahan alam semesta yang diciptakan Allah SWT. Kita akan melihat bola merah matahari berada di tengah-tengan pegunungan batu dalam berbagai gradasi. Allahu Akbar!

Pemandangan Kota Makkah di Saat Subuh dari Jabal Nur

Fajar Menyingsing

Beberapa puluh meter mendaki bersama suami, terpaksa kami harus mengaso sejenak untuk memulihkan napas dan denyutan jantung. Haus…! Tapi apa daya air minum terbawa oleh anak-anak yang sudah tak tampak lagi sosoknya karena langkah mereka jauh lebih cepat. Beberapa kali kami berpapasan atau bersalipan dengan para jamaah berbagai negara yang juga mengaso.

Tiba-tiba seorang ibu tua – tampaknya jamaah asal Turki – yang sedang dalam perjalanan turun menggamit saya, dan dengan bahasa isyarat dia menyerahkan tongkatnya kepada saya. Saya terkejut dan menolak sambil mengucap terimakasih. Bayangkan, melihat keriput wajahnya usia si ibu saya taksir sudah 60an, lha kok malah tongkatnya mau dikasihkan ke orang yang lebih muda. Tapi si ibu tetap memaksa sambil mengisyaratkan bahwa perjalanan turun sudah tak memerlukan tongkat lagi. Maka saya terima tongkat tersebut dengan ucapan terimakasih yang tulus.  Ia ingin berbuat baik mengapa kita hambat? Nanti pada gilirannya, tongkat itu juga dapat jadi sarana saya berbuat baik.

Dengan melawan haus dan jantung yang seolah mau copot, akhirnya tibalah kami di puncak Jabal Nur! Tepat jam menunjukkan pukul 7.30 WSA. Yang terpikir saat itu adalah, betapa prima fisik Rasulullah SAW juga istrinya Khadijah ra. Terbukti hampir setiap malam gelap gulita beliau mengunjungi tempat ini yang pastinya waktu itu belum ada tangga-tangga yang memudahkan pendakian. Demikian pula ibu Khadijah yang konon beberapa kali mengunjugi Rasulullah saat sedang berada di dalam gua.

Sudah selesai? Ternyata belum, karena untuk mencapai gua tempat Rasulullah menerima wahyu pertama itu rupanya kita harus turun sedikit ke arah barat dan kemudian sampai pada jejeran beberapa batu raksasa yang membentuk celah. Terdapat tulisan di batu tersebut : “Baab Ghaar” yang bermakna Pintu Gua. Nah, kita harus melewati celah sangat sempit yang hanya muat satu orang tersebut. Sudah begitu, harus bergantian dengan jamaah yang juga mau lewat dari arah yang berlawanan, yaitu mereka yang sudah selesai kunjungan ke gua. Baru teringat peran penting pak Ogah di perempatan-perempatan jalan di Jakarta!

Singkatnya, setelah berhasil melewati celah tersebut kami tiba di sebuah tempat datar yang terbuka. Ada batu besar lagi bertuliskan lafadz surat Al Alaq ayat 1-5 , itulah pintu gua. Gua Hira sendiri ternyata sempit saja, berukuran sekitar 1 x 2 meter. Lantainya sebagian batu dan sebagian keramik. Ada 2 lembar sajadah terhampar. Jamaah berebutan untuk sholat di atasnya. Sebuah perbuatan yang tidak ada tuntunannya.

Di Depan Gua HiraPintu Gua

Memori saya langsung terbang ke masa hampir 1500 tahun lampau. Saat seorang laki-laki berusia 40 tahun, sedang sendirian dalam keheningan dan kegelapan tiba-tiba dikagetkan dengan kemunculan sosok laki-laki lain bercahaya putih. Jibril, laki-laki bercahaya tak dikenal itu, kemudian mendekapnya seraya memintanya melakukan sesuatu yang tak mampu diperbuatnya. Membaca! Ya, membaca! Menelusuri huruf demi huruf ternyata dapat menambah ilmu. Apa daya, Muhammad seorang yang buta huruf saat itu. Padahal, membaca adalah perintah Allah yang pertama bagi utusanNya. Sekaligus perintah bagi seluruh umatnya kelak. Tak pelak, sang malaikat penyampai wahyu harus mengeja untuk kemudian ditirukannya. Wajar, saking takut dan gemetarnya, bergegaslah ia turun gunung terjal berbatu itu menuju kehangatan rumahnya, menuju belahan jiwa yang menenangkannya, Khadijah binti Khuwailid.

Sejenak pandangan saya layangkan ke sekitar gua. Gunung batu di mana-mana. Nuansa coklat menyergap mata. Syukurlah, cuaca sangat bersahabat di pagi itu. Kami kembali ke puncak menuju “rest area”. Ada warung minuman dan makanan kecil, dan ada pula warung suvenir. Jangan heran apabila di antara makan kecil di warung terselip mi instan buatan Indonesia! Sambil makan jeruk kami ikut mendengarkan taushiyah berbahasa Inggris dari grup asal Kanada.  Di pojok sana, grup jamaah asal Pakistan berdzikir keras. sedangkan di luar warung sekelompok jamaah Turki sedang sholat sunnah.

Khawatir terlalu panas, kami segera beranjak turun.  Perjalanan turun Alhamdulillah bisa dijalani tanpa istirahat. Memakan waktu kira-kira setengah jam. Di turunan yang lebih santai ini, sempat bersua dengan beberapa satwa yang sudah pada bangun. Monyet, kucing, dan kawanan burung Merpati seolah menyapa jamaah.

Monyet Gunung

Yang unik adalah ide anak ke 4, Abdillah KF. Tiba-tiba saja dia sudah menyalip dengan membawa tas plastik besar. Rupanya jengkel dengan banyaknya sampah yang bertebaran di sepanjang undakan, dia berinisiatif memunguti sampah-sampah kering tersebut. “Aku mau GPS. Gerakan Pungut Sampah”, ujarnya sambil memasukkan botol plastik dan kaleng minuman ke dalam tasnya. Apa daya, baru turun beberapa meter, sampah sudah memenuhi 2 tas besar yang ditentengnya. Sebenarnya, kalau saya boleh saran ke pemerintah Kerajaan Saudi Arabia, situs-situs sejarah Islam seyogyanya dipelihara, dirawat, dan dijaga kebersihannya.   Apatah jadinya kalau nanti 20 – 30 tahun lagi generasi muda sudah tidak dapat menikmati keelokan Jabal Nur dikarenakan dipenuhi gunungan sampah?

Sesuai janji, dalam perjalanan turun ini saya memberikan tongkat kepada seorang ibu yang mendaki sendirian dan tampak kepayahan.  Semoga sedikit dapat mengurangi bebannya. (nin)

Berkunjung ke Fakultas Kedokteran Tertua di Indonesia – Museum Kebangkitan Nasional

R. Musium Dokter - Pintu Masuk

Museum sejarah kedokteran ini adalah museum kedua yang saya kunjungi setelah kunjungan ke museum serupa di fakultas kedokteran Universitas Airlangga Surabaya beberapa tahun yang lalu. Museum kedokteran di Jakarta bernama resmi Museum Kebangkitan Nasional, berada di gedung STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) yang berlokasi di jalan Abdul Rahman Saleh no 26, tidak jauh dari RSPAD Gatot Subroto. Gedung bertembok putih dengan deretan jendela abu-abu inilah tempat menimba ilmu para dokter yang kemudian menjadi pelopor tidak saja dunia kedokteran Indonesia namun juga dunia pergerakan kemerdekaan. Sebagaimana bangunan yang dibuat pada jaman Belanda, gedung yang dibangun pada 1899 ini masih tampak kokoh. Bentuk gedung masih asli, demikian pula tegel lantai yang berbentuk segi enam berwarna abu-abu, masih asli. Dikarenakan jumlah mahasiswa yang terus membengkak,maka pada 1920 STOVIA dipindahkan ke bangunan baru di Salemba, yang sekarang menjadi Fakultas Kedokteran UI. Gedung lama selanjutnya berfungsi menjadi asrama mahasiswa dan Lembaga Pendidikan AMS (setingkat SMA) dan MULO (setingkat SMP). Perkembangan selajutnya, pada 1974 presiden Soeharto meresmikan gedung ex Stovia menjadi Gedung Kebangkitan Nasional. Sepuluh tahun kemudian, beberapa museum yang ada di Gedung Kebangkitan Nasional yaitu museum Boedi Oetomo, museum Pers, museum Kesehatan, dan museum Wanita melebur menjadi satu yaitu Museum Kebangkitan Nasional (Muskitnas)

Sebagaimana museum lain di Indonesia, karcis masuk untuk mengelilingi museum ini adalah 2000 rupiah untuk orang dewasa dan 1000 rupiah untuk anak-anak. Sebuah harga yang sangat murah, bahkan lebih murah dari tarif parkir mobil. Tentunya dengan tarif semurah itu diharapkan akan menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap sejarahnya sendiri. Jadwal buka Muskitnas juga sama dengan museum lainnya di Indonesia, yaitu setiap hari kecuali Senin. Penjaga tiket merangkap pemandu museum hari itu adalah seorang anak muda bernama Sada, berstatus pegawai honorer Kemendikbud. Sebenarnya tidak ada keharusan menggunakan jasa pemandu, namun terasa lebih afdhol apabila berkeliling gedung yang cukup luas itu bersama seseorang yang mengetahui seluk beluknya. Meskipun dalam prakteknya, terkadang kamilah yang meluruskan info yang diberikan Sada, khususnya tentang alat-alat kedokteran.

Tiga ruang pertama menunjukkan perkembangan dunia kedokteran semenjak abad ke 19 sampai sekitar tahun 1970an.

Ruang selanjutnya adalah asrama tempat mahasiswa kedokteran tersebut menginap. Pemandangan sama dengan asrama pada umumnya yakni deretan tempat tidur berseprai putih, di sebelahnya ada lemari pakaian, dan di kolong tempat tidur terletak sebuah kopor baju. Yang membedakan dengan asrama lain adalah adanya jas dokter yang berwarna putih tercantel di setiap sisi lemari. Di ujung kamar ada diorama 3 orang mahasiswa mengenakan sarung sedang mengobrol. Ada sebuah informasi tentang latar belakang para mahasiswa yang berasal dari seluruh Indonesia tersebut, yang ternyata dibagi menjadi 3 golongan yakni golongan atas, menengah, dan bawah. Dari seorang raja sampai seorang pembantu!

R. Musium Dokter - Dalam Asrama

 

Masuk ke ruang praktikum anatomi, suasana menjadi magis. Di tengah ruangan, seorang dosen dan 3 orang mahasiswa sedang menghadapi sesosok mayat yang terbuka rongga dadanya. Sementara itu tak jauh dari meja praktikum, kerangka manusia berdiri tegak mengawasi. Tak perlu takut, karena semua itu hanya diorama belaka, kecuali sang kerangka yang memang asli. Di belakang mahasiswa praktek terdapat jajaran kursi rotan yang digunakan untuk mahasiswa lain mengamati jalannya praktikum. Dari sekitar 15 buah kursi, ada dua yang diijinkan untuk diduduki guna berfoto selfi. Di depan kerangka asli, saya bacakan surat Al Fatihah. Untuk dia – orang tak bernama- yang telah mengikhlaskan tubuhnya digunakan sebagai sarana pembelajaran.

R. Musium Dokter - Ruang Praktikum Anatomi

Yang juga menarik adalah adanya 4 buah ruang kelas terbuka. Dinamakan terbuka karena memang kelas tersebut tidak menempati sebuah ruangan melainkan ada di selasar. Para mahasiswa dengan mengenakan surjan dan blangkon duduk di meja siswa sementara seorang dosen sedang berdiri menerangkan materi ajar. Saya jelaskan kepada anak-anak tentang model bangku yang mirip dengan bangku sekolah saya semasa SD dan SMP. Tentu saja para dosen dalam mengajar para murid yang bersurjan blangkon tersebut menggunakan bahasa Belanda.

Ruang-ruang berikutnya berisi diorama, patung dada, foto dan informasi sejarah seputar pergerakan kemerdekaan. Sejak era Multatuli, politik etis, sampai tumbuhnya Boedi Oetomo, SDI, SI, sampai Muhammadiyah dan Sumpah Pemuda. Satu ruang kecil berisi diorama Ibu Kartini sedang mengajar beberapa murid wanita. Kunjungan berakhir di halaman, dimana terdapat patung tangan patah sedang berjabatan. Patung tangan ini diresmikan oleh presiden Soeharto. Ada satu ruang yang dipersiapkan untuk menjadi kafe dan penjualan suvenir. Dan ada ruangan yang difungsikan sebagai mushola lengkap dengan tempat wudhunya.

“Umi, serem banget musholanya”, ujar si bungsu tatkala masuk ke mushola yang gelap dan sedikit pengap itu. Pantas dia berkata seperti itu. Musholanya adalah ruangan tua, sajadah lusuh dengan jendela besar yang berderak saat dibuka….. (nin)

Bandara atau Garasi? [wamena 2]

Wamena adalah ibukota kabupaten Jayawijaya, provinsi Papua. Kota ini terletak di sebuah lembah yang indah dikelilingi oleh pegunungan Jayawijaya.  Maka, satu-satunya jalur transportasi ke Wamena  adalah lewat udara. Dari Jakarta, Wamena bisa ditempuh dengan dua kali penerbangan.  Jakarta – Jayapura yang memakan waktu 4,5 jam dan dilanjutkan dengan Jayapura – Wamena selama 30 menit.

Kami menggunakan jasa Garuda Indonesia (tergabung dalam skyteam–iklan) untuk penerbangan langsung dari SoekarnoHatta ke Sentani di Jayapura. Berangkat jam 23.50 WIB dan tiba jam 7 pagi WIT. Sholat subuh dilakukan di pesawat. Dan pemandangan matahari terbit juga dapat dinikmati dari jendela pesawat.  Subhanallah! Selama 4,5 jam penerbangan mendapatkan dua kali konsumsi. Malam dapat roti dan paginya sarapan.  Yang unik…dalam perjalanan pulang dengam Garuda Indonesia juga, makan siangnya berupa ubi rebus sebagai pengganti nasi.

Fajar dari Jendela

Bandara Sentani di pagi hari.  Belum terlalu ramai.  Kami minta jasa portir untuk mengurus bagasi sejumlah 5 koli berupa barang-barang bantuan untuk aksi kemanusiaan. Nah, portir tersebut tidak antri melainkan langsung mengambil bagasi2  tersebut di mobil pengangkutnya.  Setelah itu kami berjalan ke ruang keberangkatan yang letaknya bersebelahan melalui sebuah pintu penghubung.

Uniknya di Sentani ini….dimana-mana ada tulisan peringatan “Dilarang Membuah Ludah Pinang” ditempel di tembok. Rupanya, kebiasaan makan sirih pinang yang mengakibatkan ludah berwarna merah ini dibarengi dengan kebiasaan meludah sembarangan.  Hmmmmh……

Peringatan Dilarang Makan Pinang

Penerbangan ke Wamena dengan pesawat TriganaAir jenis Boeing 737-200.  Lumayan stabil.  Karena ada jenis lain ATR yang ukuran lebih kecil dan berbaling-baling, saya bayangkan akan kurang nyaman.  Ada konsumsi berupa teh kotak.  “Baru mau ngliyep….kok sudah sampai”, ujar suami.  Sedangkan mata saya tak mungkin terpejam karena pandangan tak lepas dari jendela “melahap” semua keindahan hutan dengan warna hijau yang bergradasi bagaikan relief di peta timbul.  Masya Allah…indah sungguh Indonesia ini ya Allah.

IMG_6158

Mendaratlah kami di bandara Wamena.  Tidak ada yang namanya ruang kedatangan, yang ada hanyalah lantai beralas semen dengan ban berjalan kecil untuk bagasi.  Demikian juga tampak depan bandara….Lho, kok seperti garasi ya…?

Namun hawa dingin sejuk beserta deretan penjual pinang yang menggelar dagangan di depan pagar bandara segera mengalihkan perhatian saya tentang bandara yang mirip garasi itu.  Hanya suami yang menggumam tentang “kemana larinya dana otsus untuk Papua. Kalau sekedar bikin bandara yang agak nggenah saja pasti bisa lah”

Ruang Kedatangan Bandara Wamena

SELAMAT DATANG DI WAMENA!!

 

Keterangan foto :

1. Terbit fajar di timur tampak dari jendela pesawat

2. Peringatan dilarang makan pinang

3. Pemandangan Elok di Atas Danau Sentani – Bagai Sepotong Surga jatuh ke Bumi

4. Ruang kedatangan bandara Wamena