Arsip

[Mozaik Blog Competition] Kado Itu…….Ya Buku

Kolom hobi dalam formulir riwayat hidup saya tidak pernah berubah sejak puluhan tahun yang lalu.  Sederhana saja dan tidak neko-neko, yakni ‘membaca’.   Hobi membaca terbentuk sejak saya dilanggankan majalah Si Kuncung oleh ibu pada awal 1970. Inilah majalah anak-anak pertama di jamannya.  Kertasnya koran, tanpa dijilid.  Jadi majalah itu berbentuk lembaran-lembaran saja.  Sedangkan koleksi buku mulai saya lakukan beberapa tahun sesudahnya.

Maka, toko buku adalah salah satu tempat destinasi wisata keluarga di malam minggu yang cukup efektif.  Nah, di Surabaya, kota kelahiran dan kehidupan saya, toko buku pertama dan satu-satunya yang berskala besar saat itu adalah “Sari Agung”.  Lokasinya di jalan Tunjungan.  Saat ini toko itu sudah almarhum. Namun saya masih punya kenangan berupa kertas pembungkus buku beserta struk pembayarannya.  Buatan tahun 1980,  dengan harga buku 264 halaman cuma seribu tujuh ratus lima puluh rupiah.  Yang juga masih saya ingat, harga komik Tintin ukuran besar adalah seribu dua ratus rupiah.  Di tahun 1977-1978 untuk membeli sebuah komik Tintin maka kami (3 bersaudara) mesti patungan uang saku, masing-masing 400 rupiah. Konsekuensinya, di buku komik itu mesti tercantum tiga nama sebagai pemilik.  Hmmm…alangkah bahagianya seandainya buku saat ini masih ‘semurah’ itu.

Singkat cerita, sebagai penggemar buku yang sudah merasakan asam garam manfaatnya, maka saya ingin orang lain juga merasakan hal yang sama.  Awalnya kami bersaudara membuat perpustakaan kecil di rumah dan dikelola bersama. Kemudian seiring dengan perkembangan hidup berkeluarga dengan anak-anak yang sebagian sudah dewasa akhirnya buku-buku kami pindah tangan diwariskan ke anak masing-masing.  Jadi jangan heran apabila di lemari buku saya masih tersimpan buku-buku terbitan Balai Pustaka yang jadul-jadul itu.  Malah ada buku warisan dari ayah saya, antara lain “Di Medan Perang”nya Trisnojoewono dan “Pending Emas”nya Herlina!

Adapun kebiasaan memberikan kado berupa buku, sudah berjalan sekitar sepuluh tahun terakhir ini.  Jadi, acara apa pun – pernikahan, aqiqah, ulang tahun, khitanan, dan lain-lain – kalau saya berkesempatan dapat undangan, maka Insya Allah akan saya beri kado berupa buku.   Tentu saja judul bukunya disesuaikan dengan tema acara dan siapa penerimanya.  Meskipun demikian, hobi memberi kado buku ini sempat terhenti saat para mempelai “demam  minta kado amplop” saja.  Tandanya, di kartu undangan tertera kode gambar celengan.  Kalau ada tanda celengan itu, jengah juga kalau kita datang dengan membawa barang.  Untunglah, demam tersebut hanya semusim. Sekarang tidak pernah lagi saya jumpai kode celengan tersebut.

Seninya memberi kado berupa buku :
1. Kita harus jeli memilih judul.  Kalau judul yang terlalu populer, bukan tak mungkin ada beberapa undangan lain yang memberi kado serupa.
2. Buku-buku referensi yang ber “hardcover”  dan harganya selangit, memang afdol buat dibungkus.  Kesannya bungkusannya besar dan berat, yang bawa jadi pede.  Tapi harus dipertimbangkan apakah referensi itu kira-kira bermanfaat untuk si penerima.
3. Buku tak terlalu tebal, namun isinya sangat bermanfaat dan sesuai dengan profesi serta hobi si penerima, mungkin cocok dibuat kado. Kalau kurang pede karena kadonya kecil sehingga takut terselip lantaran acara diadakan di gedung mewah, bisa memberi beberapa buah atau digabung dengan barang lain.  Atau patungan dengan teman lain, tentu
saja.
4.  Dan ternyata, kado buku itu secara nominal bisa lebih mahal dari kado amplop, lho.
5. Terakhir, beberapa buku yang saya terima sebagai kado pernikahan dulu  (usia pernikahan hampir dirayakan perak),  sampai sekarang masih tersimpan di lemari buku. Tentu saja dengan kertas yang makin menguning……
(nin)

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba

http://mozaikpublishouse.multiply.com/journal/item/17/Mozaik_Blog_Competition_Arti_Buku_Buatku

Lomba Cerita Jilbab Berkesan – Kolaborasi Jilbab

“Jadi berapa meter kain yang dibutuhkan?”

“Jenis bahannya sudah dicek belum? Warnanya juga harus sama persis, lho”.

“Bagaimana kalau kita pinjam saja sepasang baju dan celana itu barang sehari?”

“Kamu jadi kan, bicara dengan ibu kepala ruangan kemarin?”

Itulah sebagian kasak kusuk kami, mahasiswi Fakultas Kedokteran semester 9 di sebuah universitas negeri di Surabaya di tahun 1988. Bukan.  Kami bukan teroris yang sedang merencanakan pengeboman.  Tapi merencanakan sebuah kerja besar.  Kerja yang tampaknya mustahil, tapi akan kami coba. Berbekal keyakinan dan prasangka baik saja.

Tahun ini,  tiba waktunya kami masuk ke kamar operasi secara penuh.  Sudah menyandang gelar Dra.Med (sekarang SKed) alias dokter muda (bahasa Belandanya: Co Ass).  Angkatan kami boleh dikatakan adalah angkatan perintis mahasiswi kedokteran berjilbab.  Kakak angkatan, ada juga yang berjilbab, tapi cuma 2 orang kalau tidak salah.  Jadi daya gebraknya tidak bisa besar.  Sedangkan kami bersembilan.  Dan ada banyak kawan mahasiswa yang seide, sejalan, serta siap mendukung perjuangan.

Apa yang hendak diperjuangkan? Dan apa kerja besar itu?
Mungkin bagi sebagian orang terasa sepele.  Yaitu, memasukkan seragam kamar operasi khusus buat yang berbusana muslimah.  Seragam  aslinya adalah kemeja lengan pendek, berleher V yang cukup rendah, dan celana panjang.  Tutup kepalanya  bermodel seperti shower cap.  Sandalnya juga  khusus.  Tentu saja dengan model sedemikian, masih banyak aurat yang terbuka.  Pernah, kami mengenakan jilbab di balik showercap itu.  Baru beberapa langkah memasuki lorong,  semprotan pengawas kamar operasi (yang kamarnya memang terletak di dekat pintu utama) bakal menggema ke seluruh area.  Akibatnya bisa diduga. Tinggal pilih, lepas jilbab atau batal masuk!

Rapat kilat antara grup jilbab dengan rekan mahasiswa yang simpati membuahkan keputusan.  Harus buat seragam sendiri,  dan kemudian didaftarkan jadi inventaris kamar operasi.  Maka dibentuklah beberapa seksi.  Seksi-seksi tersebut meliputi bagian perijinan (pedekate ke kepala ruangan dan merayu bagian perbajuan) , beli kain, dan tentu saja seksi keuangan alias ‘treasury’ . Saya sendiri kebagian seksi penjahitan.  Bukan karena bisa menjahit, tapi karena punya kenalan tukang jahit.  Yang mengharukan, sumbangan dana terbesar ternyata datang dari rekan-rekan mahasiswa simpati!

10 hari kemudian, jadilah 10 set seragam kamar operasi plus jilbab hasil kolaborasi mahasiswi muslimah dan rekan mahasiswanya.  Baju-baju tersebut tetap jadi inventaris  bahkan sampai 6  tahun kemudian  saat saya kembali ke rumah sakit tersebut untuk menempuh pendidikan spesialis.  Tentu saja seragam spesial tersebut sudah beranak pinak dan membentuk tumpukan tersendiri dengan judul “jilbab”. (nin)

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba di sini http://uriagustiono.multiply.com/journal/item/52

Alhamdulillah, menyabet juara pertama dengan hadiah suvenir Aussie. Terimakasih, mbak Uri…

Foto : model busana olahraga muslimah tahun 1980 an rancangan Anne Rufaidah

Batam FF Perjuangan – Menjelang Kelahiran

Ruangan ini kurasakan semakin sempit. Agak menyulitkanku untuk berakrobat sebagaimana beberapa pekan silam.  Itu karena beberapa hari ini terkadang kurasakan tekanan dari dinding ruangan yang menyelimutiku.

Aku terus merasakan tekanan itu.  Bahkan semakin sering.  Dalam kegelapan,  tekanan itu membuat napasku sesak.   Kemudian, bersamaan dengan  semakin derasnya tekanan kurasakan pula sensasi  dorongan.  Lho…apa pula ini? Yang jelas, ini bukan gerakan tubuh ibuku. Guncangan dari tubuh ibu yang kualami selama ini lebih mirip buaian.

Perlu beberapa waktu lamanya hingga aku tiba pada titik kesadaran.  Kesadaran bahwa inilah  saatnya aku harus meninggalkan tempat persemayaman ini. Persemayaman yang hangat dan nyaman, yang telah membesarkanku selama 280 hari.  Perjuangan telah dimulai.  Semenjak Allah SWT telah mengambil janjiku di usia 120 hari dengan firmanNya, “Alastu Birabbikum!”*

Dan aku pun menjawab takzim, “Balaa syahidna”.*

Bukankah Penciptaku telah menawarkan mandat kekhalifahan di muka bumi kepada  berbagai makhlukNya, namun ternyata hanya dari bangsakulah – manusia – yang begitu lugu untuk menerimanya. Maka inilah konsekuensi logis dari penerimaan mandat tersebut.  Hidup di dunia!

Oooh….dorongan dan himpitan itu makin menyesakkan napasku. Jantungku pun makin cepat berdetak.  Kepalaku terasa agak mampat.  Lamat-lamat kudengar pula lantunan dzikir berselingan dengan erangan dan desahan napas yang memburu.  Hei…bukankah itu suara ibuku.  Suara yang biasanya lemah lembut saat menyapa diriku, sekarang sepertinya sedang menanggung nyeri yang amat sangat.  Ah,  ibu pun rupanya sedang berjuang pula sebagaimana diriku.

Tiba-tiba mataku silau oleh cahaya yang sangat terang.  Badanku diterpa oleh rasa dingin yang sangat.  Aku pun bersuara untuk pertama kalinya…menangis! Terus menangis sampai  ayah melantunkan adzan di telingaku.

*Surat Al Isra : 172

NB. Jumlah kata 248 (tanpa judul dan catatan kaki)
Diikutsertakan dalam lomba di sini http://dieend18.multiply.com/journal/item/151

[the unthinkable thing around us] Penjual Pisang Penunggu Malam


Ada beberapa cara orang berjualan pisang. Pedagang kecil biasanya menaruh   pisang-pisang itu  keranjang lalu dipikul, atau  didorong dengan gerobak.  Sebagai pelindung panas, buah-buah pisang itu ditutup dengan daun pisang kering.  Pedangang yang agak bermodal bisa membuka lapak di pinggir jalan, sehingga tak perlu berpanas-panas menyusuri jalanan. Sedang yang bermodal tinggi, tentu lebih suka membuka kios atau menyewa ruko.  Dan yang disebut terakhir ini dagangannya tidak hanya pisang namun ditambah dengan beraneka buah yang lain.Bagaimana pun caranya, umumnya mereka berjualan pada jam kerja.  Siang sampai sore hari.  Yang punya lapak atau kios bisa  lebih larut, sekitar jam 9 atau 10 malam baru tutup.  Lain lagi dengan pedagang di pasar induk.  Justru di malam harilah mereka aktif.  Karena sebenarnya pedagang di pasar induk ini lebih berfungsi sebagai pedagang grosir atau distributor.Namun ada sesosok penjual pisang yang agak aneh, menurut saya.  Ia laki-laki tua berbadan kurus dan berperawakan kecil.  Pici hitamnya lusuh bertengger di atas kepalanya, dan kemejanya selalu berwarna putih.  Tentu saja putih yang juga tak kalah lusuh dengan sang pici.  Waktunya ketemunya sama, ia selalu saya jumpai pada malam yang larut.  Mendekati tengah malam, bahkan di awal dini hari.  Posisinya juga selalu sama, berjongkok di bawah pohon angsana muda. Menunggui sekeranjang pisang.  Dan,  jenis pisang dagangannya pun selalu sama, pisang susu.  Ia selalu setia di larut yang sama, tempat yang sama. Bahkan di kala rintik hujan  dan berangin.  Dirinya selalu saya jumpai  setiap malam dalam perjalanan pulang ke rumah.

Sekali dua, saya berhenti sejenak membeli sesisir pisang susu.  Saya tak pernah menawar lagi karena ia selalu ‘keukeuh’ mempertahankan harga.  Kesannya, tak butuh barangnya laku. Namun pernah juga saya hanya memberi uang tanpa membeli pisang.  Maklumlah, penggemar pisang-pisangan di rumah hanya anak saya si bungsu.  Lagipula, pisang susu hanya enak dimakan mentah. Tak bisa diolah menjadi makanan lain.  Dan…setelah menerima pemberian uang, ia hanya mengucapkan terimakasih dengan datar-datar saja.  Seolah tak terlalu membutuhkan.

Dan memang sejatinya sayalah yang terkadang membutuhkannya. Bukan hanya untuk pisangnya, tapi juga sebagai lahan pemberian sedekah saya.  Di kala ada persoalan membelit dan belum nampak solusinya, maka saya merasa harus berbagi lebih dari biasanya.  Dan sasaran yang paling mudah adalah pak tua penjual pisang.  Dan bukankah disitu letak keadilan Allah SWT dalam penciptaan alam dan semua penghuninya ini.  DIA ciptakan segala hal berpasang-pasangan demi keseimbangan.  DIA jadikan segolongan kaum menjadi kurang berpunya dan yang segolongan lagi berkecukupan.  Agar kedua golongan tersebut bisa saling memberi manfaat.

Seperti malam ini.  Setelah menghadapi kasus persalinan yang sulit dan berisiko, maka dari balik jendela ambulans mata saya mulai mencari-cari sosok di bawah pohon angsana muda itu.  Lho, kok malam ini dia tidak jualan ya?  Kemanakah gerangan engkau pak tua penunggu malam?

Tulisan di atas diikutkan lomba menulis dengan tema The Unthinkable Things Around Us di http://darnia.multiply.com/journal/item/385

Gambar diambil dari http://www.forum.detik.com

Alhamdulillah, tulisan ini mendapatkan juara ke 3, dengan hadiah sehelai kain sasirangan… 

[Ultah Cambai – Kisah Nyata] Ditolak Masuk Kamar Operasi

Kalau sekarang kamar operasi ibaratnya sudah jadi habitat saya kedua setelah kamar bersalin, maka 24 tahun yang lalu saya pernah mengalami kejadian ditolak masuk kamar operasi!

Tahun 1987….
Malam baru  beranjak.  Dengan bergegas saya kembali ke  kamar bersalin. Tadi saya ijin untuk menunaikan sholat maghrib.  Malam itu memang giliran kelompok kami untuk bertugas di bagian kebidanan dan kandungan rumah sakit umum terbesar di Jawa Timur itu.  Sebagai mahasiswa fakultas kedokteran semester 8, tugas kami hanyalah melihat dan mengobservasi berbagai kasus yang ada di kamar bersalin.
Pasien memenuhi ruangan yang berkapasitas 12 tempat tidur itu.  Suasana agak riuh.  Detik-detik menjelang persalinan sepertinya memang menyakitkan.   Saya langsung menuju bed nomor 4, tempat pasien yang harus saya observasi.  Namun ternyata penghuninya sudah tidak ada.

“Ny. S? Ooh, dia sudah dibawa ke kamar operasi”, ujar teman yang saya  mintai tolong untuk menggantikan sementara saya sholat tadi.
“Sekalian saja kamu ke sana.  Sekarang giliranmu, kan?”sambung teman saya itu.

Tugas di kamar operasi tak berat, hanya menjadi observer.  Ini tugas di kamar operasi kebidanan yang kedua buat saya.  Jadi, saya tak ragu lagi saat membuka pintu kecil yang sebenarnya merupakan pintu tembusan.  Jalan yang terdekat dari kamar bersalin menuju kamar operasi, ya lewat pintu yang terbuat dari besi itu.

Saya langsung menuju ke kamar ganti.  Saya ambil semacam jubah besar dan kemudian mengenakannya di atas seragam jaga.  Kami sebagai observer, memang tak perlu berganti baju.  Konsekuensinya,  pandangan terbatas karena hanya bisa melihat dari jarak tertentu.  Saya masih mengagumi seorang dokter muda perempuan (atau co ass), yaitu mahasiswa yang sudah semester 12.  Tampaknya di mata saya yang culun ini ia begitu gagah dengan gaun operasi warna hijau itu.

Operasi akan dimulai.  Pasien siap dibius. Semua petugas sudah siap di sekeliling meja operasi.  Yang masuk terakhir adalah sang operator.  Dokter residen itu masuk dengan tangan di angkat sampai sedada.  Memang begitu standarnya. Kalau sudah cuci tangan maka diharamkan untuk berlenggang kangkung masuk kamar operasi, sampai kita sudah mengenakan gaun yang lengkap.  Beliau memandang sekeliling, mengamati siapa saja yang hadir pada operasi kali ini.  Dua orang asisten sudah siap di tempat.  Salah satunya adalah dokter muda yang saya kagumi tadi.  Perawat yang menjadi petugas instrumen sudah siap.  Demikian juga dokter anestesi yang sudah dalam posisi membius.  Lalu tibalah pandangan mata sang operator pada diri saya.  Dilihat dari atas ke bawah, lalu dari bawah ke atas.  Ada yang aneh rupanya.

“Heh ! Kenapa kamu pakai baju panjang?” suaranya menggelegar sambil menunjuk gamis saya yang tampak di balik jubah setinggi lutut itu.
Saya langsung mengkerut.  Tapi masih berusaha menjawab.  “Maaf, dok.  Ini memang baju saya”.

“Keluar kamu! Pakai baju yang bener!” untuk kedua kalinya suaranya menggelegar. Saya  tak berpikir dua kali,  langsung beringsut mundur, melepas jubah, menggantungkan di tempat semula, dan langsung melesat kembali ke kamar bersalin.

“Lho, kok cepat? Memang sudah selesai?” teman saya heran.
“Saya gak boleh masuk OK. Soalnya pakai jilbab dan baju panjang. Sudah gantian kamu saja, daripada nanti dicari-cari”, jawab saya.
Alhamdulillah….jaga observer hanya sampai jam 9 malam.  Saya bisa langsung pulang sambil membawa hati yang agak jengkel tapi  tak bisa melawan.

1988 – 1989 ………………
Angkatan saya sudah berhak menggunakan ‘gelar’ dokter muda.  Dengan kewajiban masuk kamar operasi dan menjadi asisten, kami ( mahasiswi berjilbab dan mahasiswa simpati) bergotong royong untuk membuat 10 pasang baju seragam kamar operasi beserta jilbabnya.  Sebuah perjuangan berat untuk bisa melegalisasi seragam ‘made in sendiri’ itu resmi masuk  kamar operasi.  Kejadian ditolak masuk kamar operasi semoga tak terulang lagi.

1995………………
Saya dokter residen obstetri dan ginekologi.  Sudah harus berakrab ria dengan kamar operasi.  Tak nyana…baju bertuliskan nama saya ternyata masih setia menunggu di lemari OK.

Tulisan ini diikutkan dalam lomba yang diadakan khusus untuk kontak Cambai di

http://cambai.multiply.com/journal/item/420

Jumlah kata 598 (nyarisssss…)

Alhamdulillah, dapat menyomot hadiah juara 1 berupa suvenir Palembang yang cantik dan gemerlap.  Terimakasih, mbak Dian

Bukan FF – Tetap Bertahan

Saat pasien tersebut mendapat giliran masuk ruangan, sudah saya siapkan senyum gembira untuk menyambutnya.  Dari anamnesa (wawancara) awal yang sudah dilakukan oleh bidan, saya tahu bahwa saat ini ia sedang hamil untuk ketigakalinya, setelah sepasang balitanya lahir melalui operasi sesar.  Dan kedua operasi tersebut, saya juga yang melakukannya.

Namun yang  saya jumpai sungguh sangat berbeda! Ia masuk dengan wajah murung, diiringi sang suami dengan wajah tak kalah kusut.  Lho, apa pasal? Apa mereka kelamaan menunggu ya?  Bahkan ucapan salam saya dijawabnya asal-asalan.  Saya tak boleh larut.  Setelah prosedur standar pemeriksaan selesai dilakukan, saya katakan bahwa memang betul ia telah hamil dengan usia 6 pekan.  Kantung kehamilan telah nampak jelas dalam rahimnya, sementara bayangan janin juga tergambar.

Dan di sinilah persoalannya mulai jelas.  Mereka – bukan hanya ibunya, tapi ayahnya juga – tak menghendaki kehamilan ini! Atau jelasnya, “Tolong dikeluarkan saja, dok!”
“Kami belum siap untuk punya anak lagi”, kata suami.
“Kedua anak ini sungguh merepotkan.  Saya lelah mengasuhnya seorang diri”, sambung istri.
Lucunya,  sepasang anak yang dituding jadi biang keladi kerepotan itu justru sedang asyik mewarnai buku bergambar dilantai.  Pas lagi rukun, mungkin.

“Ya Allah, menangkan saya dalam ‘pertandingan’ ini”, demikian saya berdoa.  Bukan apa-apa, memberikan penjelasan kepada pasien yang ‘lagi panas’ begini perlu argumentasi yang tepat dan tentu saja, kepala harus tetap dingin.  Artinya, jangan kita larut dalam emosi karena luapan kemarahan mereka.  Tapi juga jangan ringan tangan mematuhi apapun yang mereka inginkan . Saya selalu mengibaratkan, “ibu sedang bimbang berdiri di pinggir jurang, sudah menjadi kewajiban saya untuk menolong dari kemungkinan jatuh ke dalam jurang. Bukannya malah menjorokkan”.  Namun tak semudah itu mengubah persepsi seseorang yang sedang dalam fase ‘menolak’. 
Akhirnya keluarga tersebut keluar dari ruangan saya dengan muka yang tak berubah.  Masih kusut, dan mungkin tambah kusut karena permintaannya tak dapat diterima.  Sehingga tak heran, saat itu mereka keluar dengan membanting pintu!  Saya pun tak berharap banyak.

Namun siapa sangka, sebulan kemudian mereka datang lagi! Wajah sudah berangsur cerah. Kelihatannya saat ini sudah memasuki fase ‘menerima’.  Saat  saya tunjukkan gambar USG dengan janin kecil bergerak lincah ia pun nampak gembira.  Dan itu berlanjut pada kedatangan-kedatangan selanjutnya.  Meskipun, sesekali ia masih menagih janji, tepatnya mengingatkan saya.
“Nanti setelah kelahiran yang ketiga ini saya tetap disteril kan, dok?” Kali ini jawaban saya terasa ringan karena kalau tindakan yang disebutkannya mempunyai indikasi medis yang jelas.

Peristiwa ini selalu saya ceritakan kembali kepada para pasutri yang berniat serupa di waktu-waktu sesudahnya.

(FF) Berbakti

Terimalah, bu.  Hanya ini yang bisa Fatimah berikan”.

Ibu tak kuasa menahan haru.  Sambil terisak, didekapnya buku kecil itu. Buku tabungan haji  dari sebuah bank syariah.  Isinya  sesuai ONH yang disyaratkan pemerintah.

Lama ia mengubur mimpinya untuk menunaikan rukun Islam ke lima.  Setelah kematian suaminya 5 tahun yang lalu hidupnya jadi hampa.  Anaknya yang  6 orang,  semuanya tinggal di luar kota.  Bahkan si bungsu , Fatimah, tinggal di Hongkong sebagai pekerja migran.  Cita-cita berangkat ke tanah suci  kandas setelah suaminya didiagnosa kanker tulang.  Tabungan haji terpaksa direlakan untuk biaya berobat yang tinggi di awang-awang.  Toh, akhirnya suaminya berpulang. …….


Dua Puluh Empat tahun yang lalu…………………..

Sendirian ia berada di ruang praktek dokter kandungan yang dingin itu.  Wajahnya sembab berbekas air mata.  Di hadapannya tergeletak sebuah  test kehamilan.  Hasilnya positif.   Ingin ia melempar kotak kecil itu ke bak sampah.  Hatinya masygul!

Dokter itu menolak keinginannya.  Ia cuma minta kehamilan ini diakhiri.  Tahu apa dokter  dengan kerepotan dan segala beban rumah tangganya.  Anaknya sudah lima!  Dan sekarang ada janin bersemayam di rahimnya.    Disesalinya dirinya yang abai dengan tanggal  haid yang terlewat. 

Menurut dokter, kandungannya saat ini sudah 10 pekan. Wow…tampak janin kecil bergerak lincah di layar USG.  Benarkah kata-kata dokter itu bisa dipercaya?
“Bersabarlah, bu.  Siapa tahu anak inilah yang akan memberangkatkan ibu ke tanah suci”.

Itulah kata-kata dokter yang ia anggap mimpi di siang bolong. Dan ia pun langsung berbalik, meninggalkan sang dokter tanpa mengucap salam. ……………………………………………………

Janin kecil yang bergerak lincah tampak di layar USG itu, Fatimahlah orangnya.

FF ini menjadi salah satu peserta lomba FF Ibu dan Anak yang diselenggarakan oleh Ummu Aisyah di

http://kedaimoslem.multiply.com/reviews/item/62

Alhamdulillah, dinyatakan masuk 10 besar.Inspirasi dari kasus-kasus yang acap kali ditemui yakni seorang ibu yang dengan berbagai alasan merasa berat untuk hamil lagi dan berkeinginan menggugurkan kandungannya.  Ada yang akhirnya berhasil melaksanakan niatnya….entah dimana dan bagaimana caranya.  Namun, yang urung mengerjakannya lebih banyak lagi dan akhirnya melahirkan anak yang sehat dan semoga …sholeh dan sholihah.

Gambar dari http://www.republika.co.id