Arsip

[Ramadhan Sehat] Puasa Mencegah Penuaan Dini

Saat ini kita sudah memasuki sepuluh hari yang kedua di bulan Ramadhan. Tubuh sudah menyesuaikan diri dengan kondisi lapar dan haus.  Dan sudah nampakkah manfaat tersebunyi dari ibadah spesial ini? Salah satu di antaranya, puasa ternyata juga bisa berfungsi sebagai terapi “anti aging”, lho.

Puasa, yang arti harfiahnya adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkannya secara khusus, ternyata dari segi medis pun mempunyai banyak manfaat yang sangat hebat.  Di samping kita mendapatkan pahala langsung dari Allah SWT serta  pengampunan dosa dikarenakan menjalankannya, kita juga mendapatkan bonus manfaat kesehatan yang tidak sedikit.

Manfaat puasa yang dikaitkan dengan perbaikan beberapa penyakit misalnya, hipertensi (tekanan darah tinggi), hiperkholesterol, atau penyakit lambung telah banyak dibahas dan dibuktikan.  Namun belakangan diketahui bahwa  puasa juga bisa mencegah penuaan dini.

Rasulullah bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah,

“Puasa adalah perisai”. 

Makna perisai adalah sesuatu yang digunakan untuk melindungi tubuh dari bahaya atau serangan.  Lingkungan  yang penuh polusi ditambah dengan gaya hidup serta pola makan yang tidak sehat membuat lemahnya daya tahan tubuh terhadap penyakit.  Sehari-hari kita menghisap  polusi yang pada hakekatnya adalah racun atau toksin. Toksin tersebut berasal dari jalan raya, pembakaran sampah, asap rokok, serta bahan kimia di sekeliling kita.   Bahkan disinyalir setiap hari kita menghirup racun sebanyak 500 cm3. Toksin tersebut tertimbun dalam tubuh dan tentu saja dapat mempengaruhi metabolisme sel.

Namun, Allah SWT telah menciptakan sebuah organ penting yang berfungsi sebagai penetral racun dalam tubuh.  Organ itu adalah “hati” atau yang biasa disebut dengan “liver”.  Pada saat puasa cadangan lemak dibongkar dialirkan ke liver sebagai  tambahan tenaga mengusir racun.  Demikian juga cadangan glukosa di dalam liver dibongkar untuk tambahan tenaga dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.  Dengan demikian, pada saat puasa,  fungsi katabolisme (pembongkaran) lebih besar daripada anabolisme (penimbunan).

Puasa juga diketahui merangsang terjadinya proses pembaruan  sel.  Seperti diketahui, sel-sel tubuh manusia selalu mengalami pergantian sepanjang hidupnya.  Dalam waktu 1 detik, jumlah sel yang mati bisa mencapai 125 juta sel.  Namun dalam waktu yang sama, jumlah sel baru yang tumbuh lebih banyak lagi.  Hanya saja, semakin tua usia manusia, jumlah sel baru yang tumbuh akan semakin berkurang.

Saat sedang berpuasa, pembaruan sel terjadi melalu beberapa jalur, yaitu :

1) Terjadi konversi zat makanan menjadi asam amino melalui proses katabolisme dan selanjutnya asam amino tersebut memenuhi kebutuhan sel untuk menjalankan fungsinya,

2) Asam Lemak Esensial dari makanan digunakan untuk memroduksi lipoprotein yang rendah kepekatannya (very low density lipoprotein= VLDL).  Kemudian VLDL tersebut bersama asam fosfat dan glisoterol dari liver beredar ke seluruh tubuh guna memperbarui sel-sel tubuh.  Aktivitas semacam ini tidak terjadi apabila makanan yang dikonsumsi mengandung lemak dalam jumlah tinggi (yaitu apabila tidak dalam kondisi puasa).

3) Sel liver memroduksi enzim alkali phosphatase yang bersama senyawa lain berperan membentuk sel-sel baru.

Sehingga saat berpuasa terjadi peningkatan fungsi liver dalam membentuk sel-sel baru, selain juga membersihkan sel liver dari lemak yang mengendap selama dalam kondisi tidak puasa. Dengan demikian hasil akhirnya adalah tubuh yang bugar, dengan sel-sel baru yang membuat tampak awet muda. Wallahu a’lam (nin)

 

Daftar Pustaka :

  1. 1.       Jamal Elzaky, Dr. Buku Induk Mukjizat Kesehatan Ibadah, Zaman, Jakarta, 2011
  2. 2.       Wahjoetomo, DR, Puasa dan Kesehatan, Gema Insani Press, Jakarta, 1997

[Ramadhan Sehat] Sholat, Olahraga Paripurna Sepanjang Usia

Sebagai ibadah fisik, sholat merupakan sejenis olahraga yang manfaatnya tidak hanya berupa peningkatan kesehatan jasmani, namun secara bersamaan juga meningkatkan kesehatan mental dan emosional.  Tidak seperti jenis-jenis olahraga lain, sholat dikerjakan sepanjang hayat dikandung badan.  Tidak harus berada di arena tertentu atau menggunakan kostum khusus apalagi mengeluarkan biaya.  Sholat juga merupakan olahraga yang bebas risiko cedera, malahan bisa meningkatkan kesehatan tulang, otot, dan sendi.  Waktu pelaksanaan sholat yang terbagi menjadi 5 kali dalam sehari, menyelaraskan dengan perputaran jam biologis manusia.

Sholat Meredakan Gangguan Tulang, Otot, dan Sendi

Massa tulang tersusun dari mineral kalsium dan fosfor. Sementara itu sumsum tulang yang terdapat di dalam tulang panjang merupakan pabrik pembuatan sel-sel darah.    Semakin banyak aktivitas fisik, maka kekuatan tulang akan meningkat.  Demikian pula dengan otot, semakin dilatih maka akan semakin kuat.  Otot yang tidak pernah digerakkan, makin lama akan mengecil (atropi).  Aktivitas sholat yang lima kali sehari, merupakan sarana pelatihan yang baik untuk tulang, otot, dan sendi, karena gerakan-gerakan sholat melibatkan keseluruhannya.   Apabila seorang muslim tidak hanya mengerjakan sholat wajib, namun juga sholat-sholat sunnah, maka dalam sehari semalam ia telah sholat sekitar 2 jam.  Maka berarti dua jam pulalah ia telah melakukan aktivitas fisik yang menyehatkan tulang, otot, dan persendiannya.

Seorang dokter dari Mesir,  Muhammad Walid Al Sya’ranie melakukan penelitian terhadap 881 orang dewasa.  Sebelumnya, ia menanyakan  tentang penyakit tulang dan nyeri sendi yang mereka derita.  Pertanyaan berikutnya adalah tentang kebiasaan sholat serta lamanya mengerjakan sholat dari masing-masing orang tersebut.  Hasilnya, orang yang sudah terbiasa mengerjakan sholat semenjak berusia 10 tahun ternyata tidak pernah mengalami gangguan tulang ataupun nyeri sendi. Sebaliknya, dari orang-orang yang tidak pernah sholat ternyata sebanyak 70% mengalami berbagai gangguan sendi dan tulang.

Diketahui bahwa gangguan tulang dan sendi pada umumnya disebabkan oleh berkurangnya cairan pelumas sendi, berkurangnya zat-zat pembentuk tulang, serta perubahan struktur tulang belakang.  Nah, gerakan sholat dan peralihan-peralihannya dinyatakan dapat menjaga kelenturan persendian serta menjaga keutuhan cairan sendi.

Penelitian yang dilakukan dr. Syafiq Zayyat memberikan hasil yang tak jauh berbeda. Kali ini yang diteliti adalah 40 orang penderita gangguan tulang belakang. Mereka diminta untuk mengerjakan sholat secara teratur, disiplin. Hasilnya, keluhan rasa sakit pada tulang dan persendian berkurang secara signifikan.

Khusus di bulan Ramadhan, dr. Salwi Muhammad Rusydi dari Kairo melakukan penelitian tentang pengaruh  mengerjakan 8 rakaat sholat tarawih terhadap vertebra lumbalis (tulang belakang bagian pinggang).  Hasilnya, pada akhir Ramadhan didapatkan perbaikan pada otot tulang belakang, struktur tulang, serta bantalan antar ruas tulang.  Itulah hasil dari gerakan-gerakan sholat dari berdiri tegak, rukuk, sujud, duduk, dan salam, yang nyaris melibatkan seluruh persendian tubuh.

Jelas kiranya, kasih sayang Allah di bulan Ramadhan ini.  Ia perbanyak sholat, Ia perbanyak pahala, dan Ia sehatkan tubuh manusia.

Wallahu a’lam (nin)

Gambar dari : http://www.ikadijatim.org

[Ramadhan Sehat] Wudhu Bisa Bikin Awet Muda

Meskipun pada hakikatnya semua amal perbuatan kita dapat bernilai ibadah, namun ritual ibadah yang frekuensinya meningkat di bulan Ramadhan adalah sholat dan tilawah Al Qur’an.  Dan aktivitas ibadah tersebut mensyaratkan pelakunya bersuci terlebih dahulu.  Tak pelak aktivitas berwudhupun akan meningkat.  Sebagai sarana pembersihan fisik dan batin yang mengandung nilai pahala, ternyata berwudhu pun bermanfaat secara medis.

  1. Dengan berwudhu maka terjadi pembersihan kulit.  Dan sebagaimana diketahui bahwa membasuh kulit selain membersihkan dari debu, keringat, dan kotoran lain yang menempel, juga dapat menghilangkan 90% mikroba patogen penyebab penyakit.  Selain itu, siraman air (wudhu) dapat meminimalkan pengaruh buruk dari pajanan sinar matahari yang mengandung ultraviolet.
  2. Gerakan wudhu paling awal yaitu membasuh dengan menggosok tangan, bermanfaat ganda yaitu,  selain dapat meminimalkan penularan penyakit virus, juga merupakan sarana melancarkan peredaran darah di bagian tangan tersebut.  Publikasi di British Medical Journal tahun 1997 menyebutkan bahwa kebiasaan mencuci tangan dapat menurunkan insidens penularan penyakit infeksi saluran napas (ISPA), dan temuan tersebut diadopsi berupa “gerakan mencuci tangan” yang marak akhir-akhir ini.
  3. Berkumur , beristinsyak (menghirup air sedikit dengan hidung), dan beristinsyar (mengeluarkan kembali), selain sangat berfaedah untuk membersihkan rongga mulut dari sisa-sisa makanan juga bermanfaat untuk membersihkan hidung. Hidung kita merupakan organ tubuh yang berfungsi untuk menyaring debu dan kotoran yang masuk ke saluran pernafasan.  Penelitian di universitas Iskandaria, Mesir,  menunjukkan bahwa rongga hidung dan langit-langit orang yang jarang bahkan tidak pernah  berwudhu lebih banyak mengandung kuman dan kotoran dibandingkan dengan milik orang yang selalu berwudhu.
  4. Membasuh wajah, selain membersihkan dari kotoran, kuman, dan debu, juga membuat wajah bersinar cemerlang.  Wajah juga terlihat awet muda dan kencang dikarenakan kelembaban kulitnya selalu terjaga.  Aliran air, diketahui merupakan masase alami yang dapat memperlancar peredaran darah di daerah kepala.  Lancarnya aliran darah dapat memberikan kesegaran dan menghilangkan kantuk.  Sehingga dapat dipastikan bahwa kita merasa segar saat mengerjakan sholat.  Secara psikis, berwudhu dapat menghilangkan keresahan dan kegelisahan sehingga dapat meredakan gejolak emosi.  Itulah sebabnya, Rasulullah menganjurkan umatnya untuk berwudhu tatkala mereka sedang dikuasai oleh emosi negatif yaitu amarah.
  5.  Membersihkan telinga luar dan dalam, sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah SAW tatkala berwudhu (diriwayatkan dari Ibnu Abbas), mempunyai manfaat medis yang besar dikarenakan telinga juga menjadi tempat berkumpulnya kotoran, debu, dan kuman.  Apabila telinga jarang atau tidak pernah dibersihkan maka kumpulan kotoran dan debu tersebut akan mengeras dan akan mengganggu pendengaran.  Sesuai dengan  anatomi telinga dimana susunan saraf dan tulang-tulang pendengarannya berkoneksi langsung dengan otak serta adanya saluran Eustachius yang menghubungkan antara telinga dan hidung, maka gangguan pendengaran dapat mempengaruhi fungsi indra yang lain, demikian juga sebaliknya.
  6. Bagian badan yang mendapat giliran terakhir untuk dibersihkan adalah kaki.  Kaki merupakan bagian tubuh yang harus bekerja berat dikarenakan fungsinya sebagai penyangga berat tubuh.  Ditambah lagi dengan berbagai aktivitas kita sehari-hari, maka kaki juga menjadi tempat berkumpulnya kotoran dan kuman sehingga rentan terkena infeksi.  Telapak kaki juga diketahui menjadi tempat berkumpulnya jaringan-jaringan saraf dari berbagai organ tubuh.  Kondisi inilah yang kemudian dimanfaatkan dalam metode pengobatan pijat refleksi. Maka, berwudhu seperti yang dilakukan oleh Rasulullah yaitu membersihkan sela-sela jari kaki dengan kelingking (sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah), selain  membersihkan juga berfungsi untuk merangsang ujung-ujung saraf pada jari kaki. Penelitian yang dilakukan oleh Prof. DR. Mujahid Abu al Mujjid dari universitas Al Manshurah, Mesir terhadap 5000 orang penderita diabetes yang rutin mengerjakan sholat menemukan fakta bahwa hanya 6% di antara mereka yang menderita luka kronik (ulcus diabeticum) di kaki.  Sementara data statistik menunjukkan bahwa angka kesakitan akibat luka tersebut mencapai 25%. (nin)

Gambar diambil dari http://www.republika.co.id

[Idul Fitri 1432 H] Surabaya….Surabaya…oh Surabaya

Setelah meninggalkan Surabaya selama 12 tahun, mata saya jadi lain dalam memandang kota kelahiran ini. Sekarang, perjumpaan dengan Surabaya adalah saat menengok orang tua.  Pastinya adalah saat Idul Fitri, yang lamanya tak lebih dari sepekan. Selain itu, ada saat-saat dimana saya harus menghadiri acara ilmiah atau acara BSMI.  Sedapat mungkin disempatkan untuk singgah.

Kunjungan terakhir saat Idul Fitri kemarin membuahkan tulisan ini:
1.      SURABAYA BERTAMBAH HIJAU
Kalau dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu, kesan bertambah hijau ini semakin nyata.  Mungkin ini dampak dari walikotanya yang seorang ibu ditambah dengan riwayatnya yang mantan kepala dinas pertamanan. (bukan kampanye lho rek, red)


Tapi memang keberhasilan penghijauan ini juga pernah dibahas tuntas oleh surat kabar nasional terbesar di negeri ini.  Bahkan di berita itu ditulis bahwa trotoar pun dipel!  Jadi tidak hanya disapu, tapi dipel.  Saya sih belum pernah melihat pekerjaan mengepel trotoar ini.  Yang sudah saya saksikan adalah betapa rajinnya “pasukan kuning” menyapu jalan dan menyiram tanaman, hatta di hari libur lebaran.  Dampaknya lagi, hawa kota jadi tidak terlalu panas dibanding tahun-tahun lalu.
Dua tahun yang lalu, di hari Jum’at pagi saya juga pernah menyaksikan para PNS yang turun ke jalan membersihkan riool (saluran air) di jalan Tunjungan.

2.      SIOLA SUDAH, KAPAN TUNJUNGAN MENYUSUL?

Masih ingat lagunya Mus Mulyadi, “Rek ayo rek…mlaku-mlaku nang Tunjungan”.  Lagu yang ngetop pada tahun 70 an itu menceritakan tentang ikon belanja kota Surabaya, yaitu kawasan Tunjungan.  Sebenarnya Tunjungan hanyalah sepotong jalan sepanjang lebih kurang 1 kilometer yang membentang dari jalan Genteng Besar sampai pecah menjadi 2, yaitu jalan Embong Malang dan jalan Pemuda (cmiiw ya, takut kadaluwarsa). Jalan Tunjungan menyimpan banyak kenangan masa kecil.  Setiap malam ahad kami sekeluarga berjalan kaki menyusuri jalan ini.  Tak sampai ujung karena keburu cape.
Belum lagi mampir ke toko buku terbesar di kota Surabaya, Sari Agung.  Ada gading Murni, toko ATK mewah, toko sepatu Bata, dan di pangkal Tunjungan ada Siola.  Di ujung seberangnya ada toko Nam, dan toko Metro. Toko-toko itu semua sekarang tinggal nama.  Sebagian, bangkainya masih ada. Sebagian lagi sudah berubah wujud.
Dalam hati saya bergumam, “Mosok sih gak ada investor yang mau peduli dengan aset sejarah seperti ini.  Seharusnya pemkot ambil alih dan dijadikan musium perbelanjaan.  Isinya: etalase kuno beserta isinya.  Ada boneka SPG yang sedang membungkus belanjaan dengan kertas merang kemudian mengikatnya dengan karet”.
Tahun ini, angan itu sedikit terkabul (sedikit saja). Yaitu dengan bersinarnya kembali toko Siola.  Meski berlabel “Matahari Department Store” namun eksteriornya tak berubah.  Sayangnya, baru Siola yang dapat polesan.  Sari Agung (si toko buku bersejarah, saksi bisu kekemarukan saya terhadap buku) masih tetap mangkrak….. (nin)     

Keterangan Foto (dokumentasi pribadi):

1. Para PNS melakukan kerja bakti di hari Jum’at pagi

2. “Siola” semasa mangkrak (2010). Sekarang sudah lebih cantik, meski belum optimal dengan adanya Matahari dan sebuah cafe

[Ramadhan 1432 H] Anak Sakit Ibu Ngaji

Malam ke 29 di bulan mulia.  Karena puncaknya sudah lewat, maka jamaah i’tikaf masjid At Tin sudah tak berjubel seperti 2 hari yang lalu.  Meskipun  demikian tak bisa dibilang sepi juga.

Malam itu sengaja saya banyak berada di posko kesehatan Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI).  Berbeda dengan malam sebelumnya dimana saya cuma mampir dan sekedar menyapa  adik – adik sejawat dari cabang Jakarta Timur yang bertugas jaga.

Di meja BSMI pelayanannya adalah konsultasi kesehatan dan pengobatan ringan.  Semuanya bebas biaya.  Selain itu ada pemeriksaan kadar gula darah, kholesterol, dan asam urat.  Nah, 3 pemeriksaan yang disebutkan terakhir ini tentu saja ada tarifnya.

Di meja sebelahnya…terletak beberapa tumpukan leaflet dan majalah untuk dibagikan kepada pengunjung.  Cuma-Cuma.  Ada juga beberapa macam merchandise.  Sisa suvenir Gaza pun turut dipajang.  Yang juga numpang nangkring di meja tersebut adalah buku saya, “Membentangkan Surga di Rahim Bunda”.  Alhamdulillah…15 eksemplar habis di sepanjang 10 hari terakhir Ramadhan ini.

Pasien yang datang pun silih berganti dengan berbagai macam keluhannya.  Umumnya keluhan ringan semacam sakit gigi, sakit kepala sampai sariawan.  Umumnya juga, yang datang adalah orang dewasa, ataupun kalau anak-anak pasti didampingi orang dewasa.
Tiba-tiba datang seorang anak laki-laki sekitar 8 tahunan. “Kalau minta obat di sini bayar enggak?”, tanyanya.
“Tidak bayar. Gratis. Siapa yang sakit?”
“Adik saya….”, sambil berlari dia menjawab.

Tak lama…datang seorang anak perempuan terengah-engah menggendong adiknya.  Keberatan memang, karena gendongannya berkali-kali melorot.  Wajar, karena usianya baru sekitar 10 tahun.  Sedangkan adiknya, 5 tahunan.  Sementara itu, si anak laki 8 tahun mengiringi.  Kelihatannya mereka bersaudara.  Adik mereka tampak sakit.  Wajahnya sayu, bibirnya kering kemerahan.  Saya raba…demam!

“Dimana orang tuamu?”
“Ada di sana”.  Kakak perempuan menunjuk satu arah.
“Kenapa ibumu tidak kesini? Adikmu ini sakit.  Sejak kapan dia seperti ini?”
“Sejak dari rumah kemarin, dia sudah panas”, kali ini kakak laki-laki 8 tahun yang menjawab.
“Ibu tidak kesini karena masih mengaji”, sahut si anak perempuan.

Sementara itu dokter jaga sudah selesai memeriksa dan kemudian menyiapkan obat.  Radang tenggorokan. Tentu menderita.  Bagaimana sih rasanya faringitis? Mau bicara saja malas karena nyerinya.

Jam sudah tengah malam.  Posko kesehatan tutup sementara.  Istirahat sampai jam 3.  Memang begitu jadwalnya. Tapi saya masih juga terngiang  jawaban si anak perempuan,   “Ibu tidak kesini karena masih mengaji”
(nin)    

[Ramadhan 1432 H] Fenomena I’tikaf

Sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan.  Meskipun tidak setiap hari, kami (saya dan suami) usahakan beri’tikaf.  Tahun- tahun kemarin, ada 2 masjid dekat rumah yang biasa disambangi.  Tapi karena suasana kurang kondusif, tahun ini i’tikaf dilakukan di masjid  At Tin.

Dulu, kami agak malas ke Masjid agung itu.  Bukan apa-apa.  Suasananya yang ramai dan berjubel bak penampungan pengungsi itu kami rasakan kurang pas.  Namun di masjid dekat rumah ternyata ternyata sudah tak menggelar program i’tikaf.  Jadinya, i’tikaf sendirian, suasana remang, gerah dan banyak nyamuk,  ujung-ujungnya jadi cepat ngantuk.  Masjid yang satu lagi, terlalu dekat ke jalan raya.  Deru motor berknalpot sember yang tak henti-hentinya bikin rusak konsentrasi.  Dan menjelang pukul 2, panitia sahur sudah ribut memukul bedug bersahut-sahutan.  Akhirnya, kami mengalah, mengundurkan diri.

Mau tak mau kembali ke At Tin.  Masjid tersebut di malam hari memang benar-benar agung.  Auranya memancar di tengah kegelapan.  Namun, di kurun sepuluh hari terakhir Ramadhan, suasana benar-benar berubah.  Hiruk pikuk.  Di pelataran, penuh berderet para pedagang.  Bukan hanya pedagang makanan – biasanya laris pas sahur – namun juga pedagang baju, pici, sajadah, buku, dan tak ketinggalan mainan kanak-kanak.  Sedangkan di halaman parkir, penuh oleh deretan mobil.  Tidak hanya dari Jakarta, banyak juga mobil bernomor polisi F, yang menunjukkan asalnya dari Bogor.  Mudah dimengerti karena lokasi Pondok Gede sangat dekat dengan tol Jagorawi.

Di malam ke duapuluh tujuh, keramaian makin menjadi.  Parkir mobil tidak muat lagi di halaman parkir.  Terpaksa menggunakan halaman gedung di belakang masjid, yaitu Gedung Pewayangan.     Penitipan sandal penuh sesak, bertumpuk-tumpuk.  Untuk tanda titip, petugas terpaksa menyobek saja karton-karton seadanya kemudian ditulis nomor. Hampir tidak ada ruang kosong dalam masjid.  Di saat seperti ini, muncul sifat asli seseorang.  Apakah dia egois, mau menguasai lahan supaya bisa tidur selonjor, atau bersifat penuh keikhlasan, rela bergeser untuk mereka yang baru datang (diantaranya…saya!).  Di tempat wudhu dan toilet…waah jangan dibayangkan.  Di malam ganjil yang lain saja sudah antri berbelasmenit, apalagi di malam 27.  (tips : usahakan selalu dalam keadaan berwudhu.  Sekeluarnya dari toilet segera berwudhu lagi.  Tidak perlu menunggu aba-aba dari panitia, “Sholat tahajud segera dimulai, mohon para jamaah segera berwudhu”) Mendekati saat sahur, pedagang makanan dan minuman asongan sudah berderet memenuhi depan selasar masjid menawarkan berbagai macam dagangannya.

Keadaan yang sangat kontras bisa dilihat di malam genap dan malam ke 29.  Halaman parkir longgar, pedagang jauh berkurang.  Dan, pasar kaget mendadak sirna di malam 29.  Lengang. Di dalam masjid, meski tampaknya penuh, kita masih bisa pilih-pilih tempat yang strategis. Sempat tercetus sebuah idaman, beri’tikaf di sebuah masjid  yang hening, sejuk, namun tetap hidup dan makmur.  Mungkin saya perlu cuti semalam dan mengungsi ke sebuah masjid di Puncak. (nin)

“Apabila tiba Lailatul Qadar, maka Jibril turun ke dunia bersama kumpulan malaikat dan akan berdoa bagi orang yang berdiri sholat malam dan duduk mengingat Allah.  Dan pada hari Idul Fitri, Allah akan membangga-banggakan mereka di hadapan para malaikat” (Hadits Rasulullah riwayat Baihaqi)

foto : dokpri, sebuah masjid di daerah Pekalongan

Saat Ramadhan (1432 H) Diperpanjang Satu Hari

Malam itu, 30 Ramadhan, di pintu rumah, bungsu saya melapor, “Aku belum sholat tarawih!”
“Kenapa? Sekarang kan sudah jam 8 lewat?”, saya agak heran. Maklum baru selesai pekerjaan rutin.
Rupanya mereka sedang mengerumuni  televisi mungil kami.
“Lagi nunggu hasil sidang itsbat, Mi”, ujar kakak-kakaknya.    

Ketika akhirnya diputuskan bahwa 1 Syawal jatuh di hari Rabu, 31 Agustus 2011, barulah mereka beranjak untuk melaksanakan sholat tarawih.  Namun tak urung si bungsu komplain juga, “Huaaah…besok masih puasa, dong!”

Memang, meskipun dikesankan bahwa bangsa Indonesia makin dewasa dengan adanya perbedaan-perbedaan, tak urung perbedaan hari raya sedikit banyak menimbulkan problema juga.  Dari sekedar ketupat dan opor yang sudah terlanjur dimasak dan akhirnya jadi lauk makan sahur, sampai ke masalah undangan halal bil halal padahal yang diundang masih puasa.

Harapan ke depan – semoga tidak tinggal harapan, mengingat peristiwa seperti ini sudah acap kali terjadi – para pengambil keputusan itu mampu bersepakat.  Dalam penentuan tanggal-tanggal penting, seperti 1 Ramadhan, 1 Syawal, dan 10 Dzulhijjah, harus jelas sistim apa yang dipakai, dan siapa yang berhak memutuskan.  Kalau sudah ada yang berhak memutuskan, maka keputusannya adalah tunggal dan mengikat.

Ihwal anak-anak yang komplain karena masih harus puasa sehari lagi, saya pompa semangat mereka untuk menyelesaikan target tilawah Qur’an masing-masing.  Alhasil, si nomor empat seharian nglembur tilawah sampai akhirnya tercapai khatam menjelang maghrib.  Alhamdulillah…hikmah dari “perpanjangan” Ramadhan.  (nin)