Arsip

Ketemu Gadis Berbahasa Inggris di Masjid Huxie (2)

 

Masjid Huxi adalah tujuan berbuka selanjutnya, dengan pertimbangan lokasinya tidak jauh dari hotel.  Bahkan resepsionis mengatakan, “Very close from here”.

Meskipun sudah memegang alamat, yaitu di : 3 Lane, 1328 Changde Road, Putuo District, Shanghai (上海市普陀区常德路1328弄3).

tetap harus konfirmasi ke bagian navigator hotel.  Minta navigator menulis alamat tersebut dalam bahasa dan huruf China.  Baru ditunjukkan ke sopir taksi.  Ini penting mengingat sopir taksi hanya bicara bahasa China, sehingga kita tidak bisa berkomunikasi apa pun selama perjalanan.

Khusus di masjid Huxi, porsi yang disiapkan bisa sampai 300-400an setiap harinya.  Dan dananya juga murni dari swadaya jamaah!  Bedanya dengan di masjid Pu Dong, di Huxi ada pemisahan ruang makan antara jamaah laki dan perempuan.  Laki-laki menempati tempat yang tetap yaitu di sebelah ruang sholat utama, sedangkan kaum wanita biasa menempati beranda depan masjid atau di beranda lantai 2.  Seorang teman menengarai masjid ini berdasarkan banyaknya tanaman baik asli maupun sintetik.  Contohnya, di beranda depan dipercantik dengan adanya naungan pergola dan hiasan tanaman rambat sintetis. Beranda lantai 2 labih cantik lagi dengan tulisan Allahu Akbar yang tersusun dari rangkaian bunga.

Komposisi takjil berupa teh tawar hangat, kurma, roti (bisa Nan diiris 8 atau semacam roti tawar yang tebal) dan kuah.  Kuah ini gunanya untuk mencelupkan roti dan dimakan dengan sumpit.  Setelah roti habis kuahnya diminum.  Kuah selalu berasa gurih, bisa kuah tomat, kuah kacang merah atau  semacam barley berkuah putih.  Karena selama tiga kali berbuka di masjid Huxie saya tidak menemukan nasi, maka insiden sumpit tidak terjadi.

Di masjid ini saya berkenalan dengan muslimah muda Shanghai, yaitu Fatimah dan Aminah. Kaum muslimin biasanya mempunyai 2 nama, yaitu nama china dan nama islam.  Nah, kedua gadis ini sungguh tipikal wanita Tiongkok yang makin elok dengan hijabnya.  Pakaiannya khas anak muda jaman sekarang, celana jins, sepatu kets, kemeja lengan panjang dipadu cardigan.  Dan keuntungannya….mereka bisa bahasa Inggris!  Ini cukup melegakan mengingat sejak kemarin saya bicara body language terus.  Dari kedua mereka saya dapat info tentang sebuah masjid lagi yang bisa dijadikan destinasi berbuka.  Masjid Fu You Road, namanya.  Supaya jelas saya minta mereka menuliskan dalam bahasa dan huruf China.  Dan saya terpukau mengamati betapa lincah jemari tersebut mengukirkan huruf Hanzi yang mirip kaligrafi.

Masjid Huxi Persiapan Menjelang Berbuka

Persiapan berbuka di Masjid Huxie

Masjid Huxi Tampak Depan dan Toko Daging Halal

Tampak Depan Masjid Huxi dan Toko Daging Halal di Sebelah Kiri

 

Diajari Pakai Sumpit di Masjid Fu You Road

Berbekal alamat dari Fatimah, sampailah kami ke masjid Fu You Road yang beralamat di 378 Fuyou Rd, Huangpu Qu.  Masjid ini terbilang kuno karena dibangun pada 1870.  Lokasinya pun berada di kawasan kota tua, tak jauh dari taman yang berasal dari dinasti Ming, yaitu Yu Garden

Masjid Fu You Road

Tampak Depan Masjid Fu You Road

 

Masjid Fu You Road Sholat Wanita

Ruang Sholat Wanita di Masjid Fu You Road

Keseluruhan masjid bernuansa kayu, bahkan lantainya pun dari parquette.  Demikian pula ruang makan yang terletak di sebelah ruang sholat utama.  Hanya ada satu ruang makan sehingga jamaah laki dan perempuan berada di ruang yang sama.  Saya semeja dengan ibu Aisyah, yang selalu mengira saya berasal dari Malaysia.  Sudah dijelaskan bahwa saya dari Indonesia, dan ia pun juga berkali-kali melafalkan kata Indonesia, namun di kesempatan berikutnya yang tercetus adalah Malaysia lagi…Malaysia lagi!

Di masjid Fu You Road ini makanan berbuka lebih banyak dan terkesan mewah.  Ada sepiring besar kweetiau yang gemuk-gemuk, roti Nan tergeletak di meja dalam keadaan sudah diiris 8 bagian, semangkuk besar mie daging sapi, dan sepaket buah-buahan warna-warni.  Saya katakana warna-warni karena memang banyak warna, antara lain anggur merah dan hijau masing-masing 2 butir, ceri merah dan hitam juga masing-masing 2 butir, sebuah leci, seiris jeruk dan seiris kiwi.  Nah, bisa dibayangkan kan, betapa colorfulnya.  Bisa ditebak, baru meneguk teh dan menelan sepotong roti dicelup kuah mie maka kenyanglah saya.  Sementara orang-orang makan dengan lahap dan diakhiri dengan meneguk kuah mie lagsung dari magkuk.  Ibu Aisyah mengamati saya makan rupanya gemas, langsung saja dia pegang tangan saya dan mengajari cara memegang sumpit.

“Ayo dipraktekkan”, kira-kira demikian katanya.

“Seandainya mangkuk ini ada tutupnya tentu sudah kubawa pulang mie sapi ini”, batin saya.  Ini karena melihat orang lain sudah beranjak pergi untuk menunaikan sholat maghrib berjamaah.  Bagaikan bisa membaca pikiran saya, bu Aisyah datang membawa kantung plastik dan tutup mangkuk.  Cekatan dibereskannya mangkuk saya, dimasukkan ke kantung plastik.

“Nah, siap dibawa pulang,” ujarnya sambil menggamit lengan saya menuju ruang sholat.

Aah…..persaudaraan Islam tak kenal sekat wilayah dan bahasa.  Yang ada hanyalah keimanan dan ketaqwaan yang sama. [nin]

 

Iklan

Belajar Pakai Sumpit di Shanghai (1)

Tadinya terasa berat saat suami meminta saya untuk mendampingi beliau presentasi makalah ilmiah di Shanghai.  Pasalnya acara tersebut berlangsung di bulan Ramadhan.  Terbayang puasa yang lebih panjang waktunya, pun saat berbuka tidak bisa makan dengan bebas karena khawatir dengan kehalalannya.

Namun tugas pantang ditolak.  Maka berselancarlah kami  di dunia maya untuk mencari nama dan lokasi masjid di Shanghai.  Rencananya, bertitik tolak dari masjid itulah kami harapkan ada info tentang penyedia makanan halal atau rumah makan muslim.

Shanghai, kami datang!

Kota terbesar sekaligus tersibuk di China ini bagaikan belantara gedung pencakar langit.  Baik gedung perkantoran maupun apartemen seakan berlomba saling tinggi.  Tak heran bila Shanghai menduduki peringat kelima kota dengan pencakar langit terbanyak.  Meskipun pemerintah sudah berusaha menghidupkan paru-paru kota dengan membuat hutan dan taman yang banyak, namun tak urung kesan hutan beton lebih mendominasi.  Bagusnya, warga lebih memilih menggunakan MRT dibandingkan kendaraan pribadi.  Ini tak lepas dari mahalnya pajak mobil yang bahkan bisa melebihi harga mobil tersebut.  Ongkos taksi juga tidak murah.  Tarif buka pintu antara 14-16 Yuan (28-32 ribu rupiah).  Motor sangat sedikit, dan itu pun motor listrik.  Tanpa suara dan tanpa asap knalpot.  Sebaliknya sepeda sangat banyak.  Ada sepeda pribadi, namun yang lebih banyak adalah sepeda umum.  Maka menjadi sangat memprihatinkan saat mengingat bahwa negeri kita ini sangat dibanjiri oleh motor dan nantinya mobil buatan Tiongkok sementara di negeri asalnya justru tidak dipakai.

 

Makan dengan Tangan Jadi Pusat Perhatian di Masjid Pu Dong

Hari kelima Ramadhan pun kami lalui di Shanghai.  Awal Juni, masuk subuh pada jam 3.15 dan maghrib jam 18.54 waktu setempat.  Karena itu puasa berlangsung selama 16 jam, sedikit lebih panjang waktunya dibandingkan dengan di tanah air.  Namun dengan suhu antara 22-26 derajat celcius, Alhamdulillah tidak ada perbedaan yang bermakna dalam hal haus dan lapar.

Semua masjid di Shanghai pada dasarnya menyediakan makan untuk berbuka puasa.  Jumlahnya pun tak tanggung-tanggung, sampai ratusan porsi.  Dananya berasal dari infaq para jamaah.

Masjid Pu Dong adalah masjid yang pertama kami kunjungi.   Masjid ini beralamat di 375 Yuansheng Road, Pudong District, Shanghai (上海市浦东新区源深路375号).  Sedikit nyasar yang menyebabkan harus jalan kaki balik arah, kami tiba saat adzan magrib menjelang.  Petugas sudah melambai-lambaikan tangan agar kami segera bergegas.  Berbeda dengan di negeri kita, tidak ada lesehan di sini.  Kami ditunjukkan untuk segera masuk ke sebuah ruangan yang ternyata adalah ruang makan.  Penataannya mirip kantin mahasiswa.   Penuh sesak dan hiruk pikuk.   Sayangnya saya tak mengerti apa yang mereka obrolkan.  Jamaah pria dan wanita berada dalam satu ruangan bahkan satu meja.    Sementara itu di meja sudah tersedia takjil berupa seiris semangka, seiris melon, roti, dan semangkuk kuah.  Tak lupa ada teh di gelas plastik.  Roti dan kurma langsung digeletakkan begitu saja di meja yang sudah dialas plastik tipis.

Masjid Pu Dong Couple

Masuknya waktu maghrib ditandai dengan aba-aba dari imam dan didahului dengan doa berbuka puasa.  Tidak ada adzan di sini.  Saat imam selesai berdoa, makanan segera diserbu.  Orang-orang makan dengan cepat.  Roti dicemplungkan ke kuah, dimakan dengan sumpit.  Sisa kuah diminum langsung dari  mangkuknya.  Rampung takjil dilanjutkan dengan sholat maghrib secara cepat dan jamaah segera masuk lagi ke ruang makan yang tadi untuk makan malam.  Kali ini meja sudah dibersihkan dari sisa takjil, berganti dengan makan malam.  Menunya berupa nasi, sayur kangkung, ayam masak mentega, tumis mentimun dan semangkuk kuah tomat.  Keseluruhan hidangan tersebut disajikan dalam sebuah ompreng (nampan stainless seperti di rumah sakit jaman dulu). Dan tidak sama sekali yang namanya sendok atau garpu. Hanya sumpit semata.  Sekali duakali saya masih bisa “memungut” mentimun dengan sumpit.  Tapi nasi? Lolos terus. Tak kurang akal, saya pun makan pakai tangan.  “Muluk” bahasa jawanya.  Bukannya dulu almarhum Haji Agus Salim juga percaya diri makan dengan tangan di suatu jamuan internasional a la Barat?

Masjid Pu Dong Makan Malam Bakda Isya

Tapi ternyata perbuatan saya itu jadi perhatian ibu-ibu tua teman semeja.  Dia kasak kusuk bertanya ke teman-temannya yang lain sesama ibu.  Sepertinya mereka mencari sesuatu.  Naah…akhirnya dapat! Disodorkanlah seperangkat sumpit kepada saya.

“Ayo makan pakai ini.  Jangan pakai tangan”, begitu mungkin ucapannya dalam bahasa Tiongkok. “Ayo terimalah sumpit ini!” si ibu tua terus mendesak.

Haaaa…..rupanya mereka mengira saya makan dengan tangan karena tidak kebagian sumpit.   (nin)

[Ramadhan Sehat] Puasa Mencegah Penuaan Dini

Saat ini kita sudah memasuki sepuluh hari yang kedua di bulan Ramadhan. Tubuh sudah menyesuaikan diri dengan kondisi lapar dan haus.  Dan sudah nampakkah manfaat tersebunyi dari ibadah spesial ini? Salah satu di antaranya, puasa ternyata juga bisa berfungsi sebagai terapi “anti aging”, lho.

Puasa, yang arti harfiahnya adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkannya secara khusus, ternyata dari segi medis pun mempunyai banyak manfaat yang sangat hebat.  Di samping kita mendapatkan pahala langsung dari Allah SWT serta  pengampunan dosa dikarenakan menjalankannya, kita juga mendapatkan bonus manfaat kesehatan yang tidak sedikit.

Manfaat puasa yang dikaitkan dengan perbaikan beberapa penyakit misalnya, hipertensi (tekanan darah tinggi), hiperkholesterol, atau penyakit lambung telah banyak dibahas dan dibuktikan.  Namun belakangan diketahui bahwa  puasa juga bisa mencegah penuaan dini.

Rasulullah bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah,

“Puasa adalah perisai”. 

Makna perisai adalah sesuatu yang digunakan untuk melindungi tubuh dari bahaya atau serangan.  Lingkungan  yang penuh polusi ditambah dengan gaya hidup serta pola makan yang tidak sehat membuat lemahnya daya tahan tubuh terhadap penyakit.  Sehari-hari kita menghisap  polusi yang pada hakekatnya adalah racun atau toksin. Toksin tersebut berasal dari jalan raya, pembakaran sampah, asap rokok, serta bahan kimia di sekeliling kita.   Bahkan disinyalir setiap hari kita menghirup racun sebanyak 500 cm3. Toksin tersebut tertimbun dalam tubuh dan tentu saja dapat mempengaruhi metabolisme sel.

Namun, Allah SWT telah menciptakan sebuah organ penting yang berfungsi sebagai penetral racun dalam tubuh.  Organ itu adalah “hati” atau yang biasa disebut dengan “liver”.  Pada saat puasa cadangan lemak dibongkar dialirkan ke liver sebagai  tambahan tenaga mengusir racun.  Demikian juga cadangan glukosa di dalam liver dibongkar untuk tambahan tenaga dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.  Dengan demikian, pada saat puasa,  fungsi katabolisme (pembongkaran) lebih besar daripada anabolisme (penimbunan).

Puasa juga diketahui merangsang terjadinya proses pembaruan  sel.  Seperti diketahui, sel-sel tubuh manusia selalu mengalami pergantian sepanjang hidupnya.  Dalam waktu 1 detik, jumlah sel yang mati bisa mencapai 125 juta sel.  Namun dalam waktu yang sama, jumlah sel baru yang tumbuh lebih banyak lagi.  Hanya saja, semakin tua usia manusia, jumlah sel baru yang tumbuh akan semakin berkurang.

Saat sedang berpuasa, pembaruan sel terjadi melalu beberapa jalur, yaitu :

1) Terjadi konversi zat makanan menjadi asam amino melalui proses katabolisme dan selanjutnya asam amino tersebut memenuhi kebutuhan sel untuk menjalankan fungsinya,

2) Asam Lemak Esensial dari makanan digunakan untuk memroduksi lipoprotein yang rendah kepekatannya (very low density lipoprotein= VLDL).  Kemudian VLDL tersebut bersama asam fosfat dan glisoterol dari liver beredar ke seluruh tubuh guna memperbarui sel-sel tubuh.  Aktivitas semacam ini tidak terjadi apabila makanan yang dikonsumsi mengandung lemak dalam jumlah tinggi (yaitu apabila tidak dalam kondisi puasa).

3) Sel liver memroduksi enzim alkali phosphatase yang bersama senyawa lain berperan membentuk sel-sel baru.

Sehingga saat berpuasa terjadi peningkatan fungsi liver dalam membentuk sel-sel baru, selain juga membersihkan sel liver dari lemak yang mengendap selama dalam kondisi tidak puasa. Dengan demikian hasil akhirnya adalah tubuh yang bugar, dengan sel-sel baru yang membuat tampak awet muda. Wallahu a’lam (nin)

 

Daftar Pustaka :

  1. 1.       Jamal Elzaky, Dr. Buku Induk Mukjizat Kesehatan Ibadah, Zaman, Jakarta, 2011
  2. 2.       Wahjoetomo, DR, Puasa dan Kesehatan, Gema Insani Press, Jakarta, 1997

[Ramadhan Sehat] Sholat, Olahraga Paripurna Sepanjang Usia

Sebagai ibadah fisik, sholat merupakan sejenis olahraga yang manfaatnya tidak hanya berupa peningkatan kesehatan jasmani, namun secara bersamaan juga meningkatkan kesehatan mental dan emosional.  Tidak seperti jenis-jenis olahraga lain, sholat dikerjakan sepanjang hayat dikandung badan.  Tidak harus berada di arena tertentu atau menggunakan kostum khusus apalagi mengeluarkan biaya.  Sholat juga merupakan olahraga yang bebas risiko cedera, malahan bisa meningkatkan kesehatan tulang, otot, dan sendi.  Waktu pelaksanaan sholat yang terbagi menjadi 5 kali dalam sehari, menyelaraskan dengan perputaran jam biologis manusia.

Sholat Meredakan Gangguan Tulang, Otot, dan Sendi

Massa tulang tersusun dari mineral kalsium dan fosfor. Sementara itu sumsum tulang yang terdapat di dalam tulang panjang merupakan pabrik pembuatan sel-sel darah.    Semakin banyak aktivitas fisik, maka kekuatan tulang akan meningkat.  Demikian pula dengan otot, semakin dilatih maka akan semakin kuat.  Otot yang tidak pernah digerakkan, makin lama akan mengecil (atropi).  Aktivitas sholat yang lima kali sehari, merupakan sarana pelatihan yang baik untuk tulang, otot, dan sendi, karena gerakan-gerakan sholat melibatkan keseluruhannya.   Apabila seorang muslim tidak hanya mengerjakan sholat wajib, namun juga sholat-sholat sunnah, maka dalam sehari semalam ia telah sholat sekitar 2 jam.  Maka berarti dua jam pulalah ia telah melakukan aktivitas fisik yang menyehatkan tulang, otot, dan persendiannya.

Seorang dokter dari Mesir,  Muhammad Walid Al Sya’ranie melakukan penelitian terhadap 881 orang dewasa.  Sebelumnya, ia menanyakan  tentang penyakit tulang dan nyeri sendi yang mereka derita.  Pertanyaan berikutnya adalah tentang kebiasaan sholat serta lamanya mengerjakan sholat dari masing-masing orang tersebut.  Hasilnya, orang yang sudah terbiasa mengerjakan sholat semenjak berusia 10 tahun ternyata tidak pernah mengalami gangguan tulang ataupun nyeri sendi. Sebaliknya, dari orang-orang yang tidak pernah sholat ternyata sebanyak 70% mengalami berbagai gangguan sendi dan tulang.

Diketahui bahwa gangguan tulang dan sendi pada umumnya disebabkan oleh berkurangnya cairan pelumas sendi, berkurangnya zat-zat pembentuk tulang, serta perubahan struktur tulang belakang.  Nah, gerakan sholat dan peralihan-peralihannya dinyatakan dapat menjaga kelenturan persendian serta menjaga keutuhan cairan sendi.

Penelitian yang dilakukan dr. Syafiq Zayyat memberikan hasil yang tak jauh berbeda. Kali ini yang diteliti adalah 40 orang penderita gangguan tulang belakang. Mereka diminta untuk mengerjakan sholat secara teratur, disiplin. Hasilnya, keluhan rasa sakit pada tulang dan persendian berkurang secara signifikan.

Khusus di bulan Ramadhan, dr. Salwi Muhammad Rusydi dari Kairo melakukan penelitian tentang pengaruh  mengerjakan 8 rakaat sholat tarawih terhadap vertebra lumbalis (tulang belakang bagian pinggang).  Hasilnya, pada akhir Ramadhan didapatkan perbaikan pada otot tulang belakang, struktur tulang, serta bantalan antar ruas tulang.  Itulah hasil dari gerakan-gerakan sholat dari berdiri tegak, rukuk, sujud, duduk, dan salam, yang nyaris melibatkan seluruh persendian tubuh.

Jelas kiranya, kasih sayang Allah di bulan Ramadhan ini.  Ia perbanyak sholat, Ia perbanyak pahala, dan Ia sehatkan tubuh manusia.

Wallahu a’lam (nin)

Gambar dari : http://www.ikadijatim.org

[Ramadhan Sehat] Wudhu Bisa Bikin Awet Muda

Meskipun pada hakikatnya semua amal perbuatan kita dapat bernilai ibadah, namun ritual ibadah yang frekuensinya meningkat di bulan Ramadhan adalah sholat dan tilawah Al Qur’an.  Dan aktivitas ibadah tersebut mensyaratkan pelakunya bersuci terlebih dahulu.  Tak pelak aktivitas berwudhupun akan meningkat.  Sebagai sarana pembersihan fisik dan batin yang mengandung nilai pahala, ternyata berwudhu pun bermanfaat secara medis.

  1. Dengan berwudhu maka terjadi pembersihan kulit.  Dan sebagaimana diketahui bahwa membasuh kulit selain membersihkan dari debu, keringat, dan kotoran lain yang menempel, juga dapat menghilangkan 90% mikroba patogen penyebab penyakit.  Selain itu, siraman air (wudhu) dapat meminimalkan pengaruh buruk dari pajanan sinar matahari yang mengandung ultraviolet.
  2. Gerakan wudhu paling awal yaitu membasuh dengan menggosok tangan, bermanfaat ganda yaitu,  selain dapat meminimalkan penularan penyakit virus, juga merupakan sarana melancarkan peredaran darah di bagian tangan tersebut.  Publikasi di British Medical Journal tahun 1997 menyebutkan bahwa kebiasaan mencuci tangan dapat menurunkan insidens penularan penyakit infeksi saluran napas (ISPA), dan temuan tersebut diadopsi berupa “gerakan mencuci tangan” yang marak akhir-akhir ini.
  3. Berkumur , beristinsyak (menghirup air sedikit dengan hidung), dan beristinsyar (mengeluarkan kembali), selain sangat berfaedah untuk membersihkan rongga mulut dari sisa-sisa makanan juga bermanfaat untuk membersihkan hidung. Hidung kita merupakan organ tubuh yang berfungsi untuk menyaring debu dan kotoran yang masuk ke saluran pernafasan.  Penelitian di universitas Iskandaria, Mesir,  menunjukkan bahwa rongga hidung dan langit-langit orang yang jarang bahkan tidak pernah  berwudhu lebih banyak mengandung kuman dan kotoran dibandingkan dengan milik orang yang selalu berwudhu.
  4. Membasuh wajah, selain membersihkan dari kotoran, kuman, dan debu, juga membuat wajah bersinar cemerlang.  Wajah juga terlihat awet muda dan kencang dikarenakan kelembaban kulitnya selalu terjaga.  Aliran air, diketahui merupakan masase alami yang dapat memperlancar peredaran darah di daerah kepala.  Lancarnya aliran darah dapat memberikan kesegaran dan menghilangkan kantuk.  Sehingga dapat dipastikan bahwa kita merasa segar saat mengerjakan sholat.  Secara psikis, berwudhu dapat menghilangkan keresahan dan kegelisahan sehingga dapat meredakan gejolak emosi.  Itulah sebabnya, Rasulullah menganjurkan umatnya untuk berwudhu tatkala mereka sedang dikuasai oleh emosi negatif yaitu amarah.
  5.  Membersihkan telinga luar dan dalam, sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah SAW tatkala berwudhu (diriwayatkan dari Ibnu Abbas), mempunyai manfaat medis yang besar dikarenakan telinga juga menjadi tempat berkumpulnya kotoran, debu, dan kuman.  Apabila telinga jarang atau tidak pernah dibersihkan maka kumpulan kotoran dan debu tersebut akan mengeras dan akan mengganggu pendengaran.  Sesuai dengan  anatomi telinga dimana susunan saraf dan tulang-tulang pendengarannya berkoneksi langsung dengan otak serta adanya saluran Eustachius yang menghubungkan antara telinga dan hidung, maka gangguan pendengaran dapat mempengaruhi fungsi indra yang lain, demikian juga sebaliknya.
  6. Bagian badan yang mendapat giliran terakhir untuk dibersihkan adalah kaki.  Kaki merupakan bagian tubuh yang harus bekerja berat dikarenakan fungsinya sebagai penyangga berat tubuh.  Ditambah lagi dengan berbagai aktivitas kita sehari-hari, maka kaki juga menjadi tempat berkumpulnya kotoran dan kuman sehingga rentan terkena infeksi.  Telapak kaki juga diketahui menjadi tempat berkumpulnya jaringan-jaringan saraf dari berbagai organ tubuh.  Kondisi inilah yang kemudian dimanfaatkan dalam metode pengobatan pijat refleksi. Maka, berwudhu seperti yang dilakukan oleh Rasulullah yaitu membersihkan sela-sela jari kaki dengan kelingking (sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah), selain  membersihkan juga berfungsi untuk merangsang ujung-ujung saraf pada jari kaki. Penelitian yang dilakukan oleh Prof. DR. Mujahid Abu al Mujjid dari universitas Al Manshurah, Mesir terhadap 5000 orang penderita diabetes yang rutin mengerjakan sholat menemukan fakta bahwa hanya 6% di antara mereka yang menderita luka kronik (ulcus diabeticum) di kaki.  Sementara data statistik menunjukkan bahwa angka kesakitan akibat luka tersebut mencapai 25%. (nin)

Gambar diambil dari http://www.republika.co.id

[Idul Fitri 1432 H] Surabaya….Surabaya…oh Surabaya

Setelah meninggalkan Surabaya selama 12 tahun, mata saya jadi lain dalam memandang kota kelahiran ini. Sekarang, perjumpaan dengan Surabaya adalah saat menengok orang tua.  Pastinya adalah saat Idul Fitri, yang lamanya tak lebih dari sepekan. Selain itu, ada saat-saat dimana saya harus menghadiri acara ilmiah atau acara BSMI.  Sedapat mungkin disempatkan untuk singgah.

Kunjungan terakhir saat Idul Fitri kemarin membuahkan tulisan ini:
1.      SURABAYA BERTAMBAH HIJAU
Kalau dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu, kesan bertambah hijau ini semakin nyata.  Mungkin ini dampak dari walikotanya yang seorang ibu ditambah dengan riwayatnya yang mantan kepala dinas pertamanan. (bukan kampanye lho rek, red)


Tapi memang keberhasilan penghijauan ini juga pernah dibahas tuntas oleh surat kabar nasional terbesar di negeri ini.  Bahkan di berita itu ditulis bahwa trotoar pun dipel!  Jadi tidak hanya disapu, tapi dipel.  Saya sih belum pernah melihat pekerjaan mengepel trotoar ini.  Yang sudah saya saksikan adalah betapa rajinnya “pasukan kuning” menyapu jalan dan menyiram tanaman, hatta di hari libur lebaran.  Dampaknya lagi, hawa kota jadi tidak terlalu panas dibanding tahun-tahun lalu.
Dua tahun yang lalu, di hari Jum’at pagi saya juga pernah menyaksikan para PNS yang turun ke jalan membersihkan riool (saluran air) di jalan Tunjungan.

2.      SIOLA SUDAH, KAPAN TUNJUNGAN MENYUSUL?

Masih ingat lagunya Mus Mulyadi, “Rek ayo rek…mlaku-mlaku nang Tunjungan”.  Lagu yang ngetop pada tahun 70 an itu menceritakan tentang ikon belanja kota Surabaya, yaitu kawasan Tunjungan.  Sebenarnya Tunjungan hanyalah sepotong jalan sepanjang lebih kurang 1 kilometer yang membentang dari jalan Genteng Besar sampai pecah menjadi 2, yaitu jalan Embong Malang dan jalan Pemuda (cmiiw ya, takut kadaluwarsa). Jalan Tunjungan menyimpan banyak kenangan masa kecil.  Setiap malam ahad kami sekeluarga berjalan kaki menyusuri jalan ini.  Tak sampai ujung karena keburu cape.
Belum lagi mampir ke toko buku terbesar di kota Surabaya, Sari Agung.  Ada gading Murni, toko ATK mewah, toko sepatu Bata, dan di pangkal Tunjungan ada Siola.  Di ujung seberangnya ada toko Nam, dan toko Metro. Toko-toko itu semua sekarang tinggal nama.  Sebagian, bangkainya masih ada. Sebagian lagi sudah berubah wujud.
Dalam hati saya bergumam, “Mosok sih gak ada investor yang mau peduli dengan aset sejarah seperti ini.  Seharusnya pemkot ambil alih dan dijadikan musium perbelanjaan.  Isinya: etalase kuno beserta isinya.  Ada boneka SPG yang sedang membungkus belanjaan dengan kertas merang kemudian mengikatnya dengan karet”.
Tahun ini, angan itu sedikit terkabul (sedikit saja). Yaitu dengan bersinarnya kembali toko Siola.  Meski berlabel “Matahari Department Store” namun eksteriornya tak berubah.  Sayangnya, baru Siola yang dapat polesan.  Sari Agung (si toko buku bersejarah, saksi bisu kekemarukan saya terhadap buku) masih tetap mangkrak….. (nin)     

Keterangan Foto (dokumentasi pribadi):

1. Para PNS melakukan kerja bakti di hari Jum’at pagi

2. “Siola” semasa mangkrak (2010). Sekarang sudah lebih cantik, meski belum optimal dengan adanya Matahari dan sebuah cafe

[Ramadhan 1432 H] Anak Sakit Ibu Ngaji

Malam ke 29 di bulan mulia.  Karena puncaknya sudah lewat, maka jamaah i’tikaf masjid At Tin sudah tak berjubel seperti 2 hari yang lalu.  Meskipun  demikian tak bisa dibilang sepi juga.

Malam itu sengaja saya banyak berada di posko kesehatan Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI).  Berbeda dengan malam sebelumnya dimana saya cuma mampir dan sekedar menyapa  adik – adik sejawat dari cabang Jakarta Timur yang bertugas jaga.

Di meja BSMI pelayanannya adalah konsultasi kesehatan dan pengobatan ringan.  Semuanya bebas biaya.  Selain itu ada pemeriksaan kadar gula darah, kholesterol, dan asam urat.  Nah, 3 pemeriksaan yang disebutkan terakhir ini tentu saja ada tarifnya.

Di meja sebelahnya…terletak beberapa tumpukan leaflet dan majalah untuk dibagikan kepada pengunjung.  Cuma-Cuma.  Ada juga beberapa macam merchandise.  Sisa suvenir Gaza pun turut dipajang.  Yang juga numpang nangkring di meja tersebut adalah buku saya, “Membentangkan Surga di Rahim Bunda”.  Alhamdulillah…15 eksemplar habis di sepanjang 10 hari terakhir Ramadhan ini.

Pasien yang datang pun silih berganti dengan berbagai macam keluhannya.  Umumnya keluhan ringan semacam sakit gigi, sakit kepala sampai sariawan.  Umumnya juga, yang datang adalah orang dewasa, ataupun kalau anak-anak pasti didampingi orang dewasa.
Tiba-tiba datang seorang anak laki-laki sekitar 8 tahunan. “Kalau minta obat di sini bayar enggak?”, tanyanya.
“Tidak bayar. Gratis. Siapa yang sakit?”
“Adik saya….”, sambil berlari dia menjawab.

Tak lama…datang seorang anak perempuan terengah-engah menggendong adiknya.  Keberatan memang, karena gendongannya berkali-kali melorot.  Wajar, karena usianya baru sekitar 10 tahun.  Sedangkan adiknya, 5 tahunan.  Sementara itu, si anak laki 8 tahun mengiringi.  Kelihatannya mereka bersaudara.  Adik mereka tampak sakit.  Wajahnya sayu, bibirnya kering kemerahan.  Saya raba…demam!

“Dimana orang tuamu?”
“Ada di sana”.  Kakak perempuan menunjuk satu arah.
“Kenapa ibumu tidak kesini? Adikmu ini sakit.  Sejak kapan dia seperti ini?”
“Sejak dari rumah kemarin, dia sudah panas”, kali ini kakak laki-laki 8 tahun yang menjawab.
“Ibu tidak kesini karena masih mengaji”, sahut si anak perempuan.

Sementara itu dokter jaga sudah selesai memeriksa dan kemudian menyiapkan obat.  Radang tenggorokan. Tentu menderita.  Bagaimana sih rasanya faringitis? Mau bicara saja malas karena nyerinya.

Jam sudah tengah malam.  Posko kesehatan tutup sementara.  Istirahat sampai jam 3.  Memang begitu jadwalnya. Tapi saya masih juga terngiang  jawaban si anak perempuan,   “Ibu tidak kesini karena masih mengaji”
(nin)