Arsip

Mencari Makanan Halal di Ljubljana

Di Ljubljana dimana muslim hanya sekitar 5% maka urusan makanan halal harus disikapi dengan serius.  Atas pertimbangan ini pula, kami memilih menginap di hotel Grand Union  tak jauh dari kawasan kota tua di Center.  Hotel ini agak mahal, namun menyediakan daging halal pada hidangan sarapannya.  Daging tersebut didatangkan dari Turki. Daging halal ditempatkan terpisah, sayang petunjuknya terlalu kecil.  Kami baru menemukannya setelah mengitari seisi restoran dan itu pun atas petunjuk petugas.

Resto Balkan

Tempat makan halal yang pertama kali kami kunjungi setelah menginjakkan kaki di kota Ljubljana adalah resto bergaya Balkan, tepatnya Bosnia.  Resto ini kami dapatkan atas petunjuk Muri, si supir taksi bandara. Berlokasi di Cesta Andreja Bitenca no 70.  Lokasinya sangat sepi, jauh dari jalan raya.  Berada di tengah kawasan perumahan yang rimbun dan nyaman.  Restonya tidak terlalu besar namun cukup apik dan homy.  Pelayannya ramah, profesional dan menguasai bahasa Inggris.  Di salah satu sisi dinding tertutup dengan foto masjid di Bosnia.   Menu yang kami nikmati siang itu adalah Bosanski Lonac.  Makanan berkuah berisi daging dan sayuran semacam caserole ini nikmat dimakan hangat bersama roti.

Bosanski Lonac

Bosanski Lonac

 

Di sisi depan resto terdapat mushola.  Lengkap dengan toilet dan tempat wudhu pria/wanita.  Jadi, sambil makan siang bisa sekalian sholat di mushola tersebut. Dan tepat di depan pintu mushola terdapat sebuah ruangan yang ternyata adalah kantor dari sebuah yayasan foundation dari Qatar.  Kami berkenalan dengan Elvira dan Sanela, dua muslimah asal Bosnia yang bekerja di sana.

“Islam di sini ada dua golongan,”ujar Sanela.  Ada golongan formal, yaitu mereka yang menjalankan perintah agama dengan tertib, misalnya memakai hijab seperti kamu ini.  Dan satu lagi golongan non formal”.  Mungkin maksudnya Islam KTP seperti istilah di negeri kita.  “Apa pun Sanela, mereka itu saudara kita”, kata saya dalam hati.

Doner Kebab Halal

Tak jauh dari GR, kependekan dari Gospodasko Raztavisce sebutan lokal untuk gedung konferensi tempat acara diselenggarakan,  ada kios Doner kebab.   Penjualnya Imran, anak muda muslim asal Kroasia.   Ia menjamin daging kebabnya halal.  “Saya mendatangkan khusus dari Jerman”, ujarnya.   Kiosnya sangat ramai.  Karenanya, meski sudah dibantu seorang asisten Imran tampak selalu sibuk melayani pembeli.  Akhirnya kami jadi sering ke kios Imran.  Beli Doner Kebab cukup 1 buah saja dimakan berdua karena ukurannya cukup besar.  Kalau sedang santai kami pilih jadi pembeli terakhir sekedar bisa mengobrol.   Terkadang kami minta tolong ditelponkan taksi.

20160930_171938

Imran di Kios Doner Kebab

Imran sepertinya ia masuk golongan non formal sesuai istilah Sanela.  Itu karena saat hari Jum’at ia tak beranjak dari kiosnya, melayani antrian pembeli.

Resto Habibi

Masih di Dunajska Cesta no 105/107, berjarak lebih kurang 1 kilometer dari RG terdapat sebuah restoran Timur Tengah.  Resto Habibi namanya.  Pemiliknya, Ahmad, pemuda Mesir yang menikah dengan mualaf Ljubljana.  Usia restoran ini baru 6 bulan.  “Belum ada website.  Kami baru punya facebook”, saat kami utarakan sulitnya mencari resto halal. Hidangannya sebagaimana resto Timur Tengah pada umumnya dengan harga yang tidak terlalu mahal.  Meski rasa nasi Bryani tidak sama dengan aslinya namun karena baru ketemu nasi, kami pun bersantap dengan nikmat.  Di resto ini kartu kredit saya (dari bank besar plat merah) bisa berfungsi.

resto-habibie-bryani.jpg

 

Alhamdulillah, sambil menunggu pesanan siap,  kami bisa mendirikan sholat jamak qashar.  Untuk itu Ahmad menyediakan dua sajadah.  Sholat dikerjakan di ruangan yang berkarpet karena tidak terdapat mushola.

Hidangan Kongres

Bagaimana dengan hidangan makan siang di kongres? Mengingat kongres Sport Medicine ini berskala Internasional, banyak juga para pakar yang datang dari negeri Islam, seperti Malaysia, Brunei Darussalaam, Iran, dan tentu saja Turki dan Qatar sebagai negara pendukung utama.  Untuk itu panitia menyediakan  makan siang di dalam kotak dengan kode warna.  Disediakan 3 warna kotak, yaitu merah, biru, dan hijau.  Kotak merah berarti mengandung babi, kotak biru mengandung daging non babi, dan kotak hijau adalah hidangan vegetarian.   Isi  berupa roti burger isi daging (atau sayur khusus untuk vegetarian), muffins, minuman kotak, dan buah. [nin]

 

 

Kantung Plastik Halal. Seperti Apa?

Bahwa makanan atau minuman yang masuk ke mulut kita- kemudian dicerna dan selanjutnya sari pati atau zat gizinya diserap oleh tubuh lewat pembuluh-pembuluh darah – harus halal sesuai dengan ketentuan Allah SWT, pastinya kita semua sudah tahu. Bahwa apa saja jenis makanan yang halal atau yang haram, itu pun kita semua juga sudah tahu. Namun dengan berkembangnya teknologi pengolahan pangan, kondisi sekarang tidak lagi sesederhana jaman puluhan tahun yang lalu. Sekarang, bisa saja makanan yang “halal” namun dalam pembuatannya mendapatkan tambahan zat yang belum jelas kehalalannya, maka otomatis makanan jadi tersebut juga ikut-ikutan tidak jelas kehalalannya. Misalnya, es krim atau permen empuk. Halal, kan mestinya? Tapi kalau gelatin yang berfungsi sebagai pengemulsi dan penstabil itu berasal dari hewan haram, maka otomatis makanan seremeh permen empuk pun menjadi haram. Repot? Sebetulnya tidak juga karena kita bisa berpatokan pada adanya jaminan kehalalan yang dikeluarkan oleh lembaga yang berwenang. Di Indonesia lembaga penjamin kehalalan tersebut adalah MUI. Melalui LPPOM MUI, diterbitkanlah sertifikat halal MUI, yang ditandai dengan logo khusus.

Namun ternyata…persoalannya tak sekedar bahan makanan saja. Tapi juga bahan pembungkus makanan tersebut, dalam hal ini, bahan yang dipakai secara luas adalah :
Kantung Plastik. Kantung plastik punya potensi tidak halal melalui 2 jalur.
1. Salah satu bahan bakunya ada yang berpotensi tidak halal, yaitu asam stearat (bisa vegetable base atau animal base)
2. Mesin produksi plastik, bagian rodanya diolesi lemak untuk menghindari macet. Lemak ini bisa berasal dari hewan (sapi atau babi) atau tumbuhan (vegetable base)

Tisu , titik kritisnya ada di bahan pewarna, pelarut, dan pewanginya. Merk tisu yang sudah halal diantaranya : Paseo, dan Toply (kalau ada yang terlewat mohon ditambahkan)

Untuk plastik, menurut bp. Fajar Budiono dari PT Polytama Propindo (www.detikfood), hampir seluruh plastik produksi dalam negeri sudah dinyatakan halal. Kecuali plastik impor, tentunya. Karena dari 2,5 juta tom kebutuhan plastik dalam negeri, 30%nya masih impor.

kantung plastik halal

Bagaimana tips mengenali plastik halal?
1. Cari dan amati label halal pada pembungkusnya. Jadi bukan pada masing-masing lembar kantung tersebut, namun pada pembungkus plastik kalau kita beli dalam bentuk paket 50 lembaran (lihat gambar)
2. Setelah lembaran kantong plastik dikeluarkan, gulunglah kantung plastik tersebut dan kemudian hirup baunya. Bila tercium bau minyak goreng maka palstik tersebut menggunakan bahan vegetable base, sedangkan bila tercium bau gurih, maka yang digunakan adalah bahan dari animal base. *catatan: berlatihlah terlebih dahulu untuk bisa menerapkan tips ini  * [nin]

Tidak Ada Sertifikat Halal? Belum Tentu Halal Makan di Resto Ini…

logo Halal MUI

Berikut ini adalah pernyataan dari seorang anggota Komisi Fatwa MUI, ust. Irfan Helmi.

Sehubungan dengan banyaknya pertanyaan terkait produk pangan yang beredar di masyarakat, saya sampaikan hal-hal sebagai berikut :

1.Bahwa produk JCo Donuts and Cofee, roti Bread Talk, Roti Boy, Papa Ronz Pizza, Izzi Pizza, es krim Baskin ‘n Robbins. Dapur Coklat, Starbuck Coffee, Richeese Keju, Coffee Bean, juga  Hanamasa, Rice Bowl, Dead Bean, , semuanya BELUM BERSERTIFIKAT HALAL, sehingga MUI tidak menjamin kehalalannya. Namun tidak otomatis semua produk tersebut pasti haram.

2. Bahwa tidak benar jika dikatakan “MUI mengeluarkan pengumuman bahwa restoran berikut haram” dan bahwa “ini semua mengandung gelatin dari daging dan lemak babi”, karena untuk memastikannya harus melalui proses audit.

3. MUI tidak pernah mengeluarkan “Sertifikat Haram”, karena istilah tersebut tidak dikenal di lingkungan MUI.

4. Hendaknya hati-hati dalam menyebarkan info yang dapat meresahkan masyarakat. Lakukanlah klarifikasi (tabayyun) terlebih dahulu. Ingat surat Al Hujuraat ayat 6

5. Untuk mengetahui produk apa saja yang sudah halal, bisa dilihat di buku Direktori Halal tahun 2013-2014

Ditulis di Bogor 31 Agustus 2013
Saya mengutipnya dari majalah Oase

Tambahan dari saya, sebenarnya masih banyak lagi daftar produk makanan dan resto yang belum terjamin kehalalannya. Bahkan, untuk resto, jumlahnya masih lebih banyak daripada yang sudah tersertifikasi halal. Karena itu, diperlukan sikap kritis dan kehati-hatian dari kita sendiri. Selain sikap bisa menahan diri, yaitu tidak makan sembarangan juga diperlukan pengetahuan tentang bahan-bahan makanan yang berpotensi haram.
Di samping menghimbau MUI agar bersikap aktif dalam melakukan sertifikasi halal serta memberikan pencerahan ke masyarakat, kita sendiri juga bisa mendorong agar sebuah resto/tempat makan/minum melakukan sertifikasi halal untuk produknya. Bisa dengan memberikan masukan di laman/medsos mereka, bisa juga melakukan gerakan untuk ‘memboikot’ kunjungan ke resto tertentu. Selama ini pihak pengusaha tidak tergerak untuk melakukan sertifikasi karena mereka berpikir, ada atau tidak sertifikat halal, toh pengnjung tetap berbondong-bondong antri untuk makan/beli produk. Dan saya yakin bahwa para pengunjung tersebut sebagian besarnya adalah muslim.
Kalau pengusaha mendapatkan keuntungan dari konsumen muslim, maka sudah sewajarnyalah kalau mereka memrioritaskan kehalalan produknya. Sebagai konsumen, kita BERHAK untuk mendapatkan konsumsi halal, minimal di negeri kita sendiri!

[Halal is My Life] Bahan Pembuat Produk Bakery dan Kue , Pilihlah yang Halal!

Sebentar lagi Idul Fitri. Rasanya hampir tak ada rumah tanpa aneka kue kering dan cake di meja tamunya. Buat para pecinta kue, cermati bahan-bahan pembuatnya karena ada peluang syubhat di dalam TBM, ovalet, TP, Roombutter, dll. Pastikan ada lago Halal MUI di setiap kemasannya.

Info Halal

 

Dr. Ir. Anton Apriyantono

 

Halal Watch

 

Bahan Pengembang

 

            Bahan pengembang adalah bahan tambahan pangan yang digunakan dalam pembuatan roti dan kue yang berfungsi untuk mengembangkan adonan supaya adonan menggelembung, bertambah volumenya, demikian juga pada saat adonan dipanggang dapat lebih mengembang.  Jika bahan pengembang dicampurkan kedalam adonan maka akan terbentuk gas karbon dioksida, gas inilah yang kemudian terperangkap didalam gluten (komponen protein yang ada dalam tepung terigu) sehingga adonan menjadi mengembang karena gas yang dihasilkan semakin lama akan semakin banyak.  Bahan yang biasa digunakan yang pertama disebut sebagai baking soda, yang disebut pula dengan nama soda kue, yang isi sebetulnya adalah bahan kimia yang bernama sodium bikarbonat.  Bahan ini dibuat secara sintesis kimia dan tidak ada masalah dari segi kehalalannya.

 

            Bahan pengembang jenis kedua yaitu apa yang disebut sebagai baking powder yang merupakan campuran antara sodium karbonat (baking soda) dengan asam…

Lihat pos aslinya 1.280 kata lagi

Justru Ayam yang Tidak Halal

moslem meal di SQ

Di kartu menu, untuk light meal tertulis Seared Chicken in Basil Beloute with Seasonal Vegetables and Roasted Potatoes untuk pilihan pertama. Sedangkan pilihan keduanya adalah Gulai Kambing (bahasa kulinernya seperti ini : Indonesian Lamb Curry with Stirfried Vegetables and Steamed Rice).  Karena di rute sebelumnya (Jakarta Singapura) saya sudah makan daging, maka saya sudah berniat untuk makan ayam saja.

Jam 2 dinihari pembagian makanan dimulai.  Setengah mengantuk saya menyebutkan menu pilihan saya itu, dan setengah mengantuk pula saya sekilas mendengar pramugara yang berkulit agak gelap itu menyebut-nyebut non halal untuk pilihan chicken.  Namun karena sudah tersetting dalam pikiran saya yang masih setengah sadar itu untuk memilih chicken, maka saya tetap meminta diberikan ayam.  Sang pramugara memberikan menu yang saya minta, namun ia mengatakan

“Ini tidak halal.  Bukannya anda muslim?”

Setelah suami saya mengingatkan saya sekali lagi, barulah saya mulai “bangun”.

“Kenapa sih tadi dia ngotot bilang ayam ini gak halal? Ini kan cuma ayam campur sayur dan kentang?” saya setengah protes.

“Gak tahu, ya.  Tanya saja sendiri”, suami menjawab sambil mulai menyendok nasi gulainya.  Biasanya, kalau di pesawat, saya dan suami sudah janjian untuk memilih menu yang berbeda.  Tujuannya supaya bisa saling menyicipi 🙂

Penasaran, saat si pramugara etnis India itu lewat, saya cegatlah dia untuk minta penjelasan.

Yes, madame, this is a western chicken.  So the chicken in non halal. Sedangkan yang kambing, ia disembelih di Singapura, yang saya tahu pasti, halal”, ungkapnya menjelaskan. Khas pramugari/a di Singapore Airlines, saat bercakap-cakap dengan penumpang mereka selalu berlutut di sebelah kita.

“Oooh, kalau begitu ini informasi yang sangat berharga, sehingga saya patut berterimakasih kepada anda”, saya menjawab jujur.

Dan saya melirik penumpang di sebelah saya yang mengganti menu chickennya dengan kambing.

Dan ternyata request “moslem meal” saat check in tidak berlaku di semua rute.  (nin)

(SQ, Singapura – Dubai, 26 Maret 2013)

Foto : menu di SQ pada rute Jakarta Singapura.  Ada kode MOML, Moslem Meal, sesuai request saat check in.  Sayangnya request tersebut tidak berlaku di penerbangan lanjutannya.

[Halal is My Life] Makan Makanan “Halal”, Tetap Harus Waspada

Tulisan ini,bersama tulisan yang lain, bisa dibaca juga di majalah AULIA edisi Februari 2013. Terkadang kita merasa tenang saja karena makan di resto yang sudah jelas halal. “Lho, kok tahu dengan jelas kehalalannya?” “Ya, kan cuma sea food. Gak jual masakan B2 dan gak pakai minyak B2 juga” “Betulkah seperti itu? Pengalaman dari komunitas Halal Baik Enak saat melaksanakan wisata kuliner halal menemukan bahwa hanya kurang dari 10% resto yang ada di mal-mal ternama, yang mempunyai sertifikat halal. Dari 40an resto, hanya 1 atau paling banyak 2, yang sudah bersertifikat halal.  Itu pun didominasi oleh resto fastfood berwaralaba”. “Jadi sisanya jualan makanan haram, dong?” “Makanan yang disajikan memang halal.  Tapi yang bikin tidak halal bisa dari bumbu, penyedap, pencelup, dll.  Jadi yang asalnya halal bisa berubah menjadi haram gara-gara bahan-bahan tambahan tersebut”. Kiat-kiat inilah yang Insya Allah saya (dan keluarga) lakukan saat makan di luar: 1.  Untuk makanan di resto, kami sekeluarga selalu memilih yang sudah bersertifikat halal, yang ditandai dengan adanya logo Halal MUI (lihat gambar)  Kalau ragu, tentu ditanyakan saja secara langsung.  Kalau tidak punya sertifikat halal dan jenis makanannya berisiko tidak halal, misalnya rawan penggunaan angciu atau rhum, maka saya tanyakan langsung ke dapurnya. Jangan menanyakan ke pramusaji, karena mereka biasanya tidak tahu menahu tentang proses pengolahan masakan. Melongok ke dapur, saya tanyakan bahan-bahan tambahan yang dipakainya serta saya minta ditunjukkan botol kemasannya. Misalnya: “Pak, pakai angciu tidak? Terkadang mereka jawab langsung “ya atau tidak”. Tapi bisa juga berkilah, “Kalau ibu gak mau angciu juga bisa kok”. Nah, yang jawab belakangan ini biasanya memang pakai angciu. Hati-hati! Kalau jawabannya “tidak pakai angciu”, jangan selesai dulu karena angciu bisa tampil dengan berbagai macam nama, misalnya ‘cuka beras’, ‘arak beras’, ‘saos raja rasa’.   Alhamdulillah, karena mata sudah terlatih mengamati merk, maka kita bisa menyimpulkan ada tidaknya sertifikat halal dari penambah rasa tersebut. Kalau meragukan, tinggalkan saja. Bagaimana kalau terpaksa? Pilih makanan yang aman dari penambahan bahan halal, misalnya soto, rawon, dsb.  Jangan pilih masakan sea food, atau tumis2an (misalnya: cah kangkung), karena biasanya ditambah angciu. Alhamdulillah, selama ini masih dilindungi Allah karena kami sekeluarga termasuk yang konservatif, jarang makan di luar, atau kalau pun makan, hanya di resto tertentu yang sudah dikenal dengan baik. Pernah ding, satu kali terjebak makan di resto yang sekarang sedang ramai dibicarakan karena sangat ramai padahal belum bersertifikat halal, yaitu Sol**ia.  Ternyata sepulang dari resto itu, ada anggota keluarga yang terkena diare. Semenjak itu kapok makan di sana lagi.  Pertama dan terakhir! 2.  Makan di rumah makan kecil atau warung tenda atau makanan keliling. Di sini kita lebih mudah lagi dalam memeriksa bahan2 tambahannya.  Cara bertanyanya sama dengan di resto, dan malah kita bisa lihat satu persatu botolnya.  Ada satu rumah makan yang justru malah berkonsultasi tentang kehalalan berbagai macam bumbu tambahan.  Saya mengajari bagaimana mencari logo halal MUI di sebuah produk yang merupakan jaminan kehalalan produk tersebut.  Kalau ternyata bahan2nya Insya Allah sudah halal, saya himbau agar mereka mendaftarkan produknya agar bersertifikat halal MUI 3.  Ada selebaran tentang makanan yang berisiko tidak halal gara-gara ada tambahan bahan haram.  Selebaran tersebut saya gandakan.  Ditaruh di tempat umum, di kantin RS untuk diambil oleh pengunjung kantin,dan dibagikan kepada para penjual makanan keliling.  Reaksi mereka adalah : “Kok saya baru tahu sekarang, sih!” “Kenapa tidak disosialisasikan sejak dulu.  Bagaimana dong selama ini yang saya makan?”.  Jadi kesimpulannya,  sebagian dari masyarakat itu BELUM TAHU.  Tugas kitalah untuk menyebarkan pengetahuan ini.  Namun ada juga segolongan masyarakat yang tahu risiko2 keharaman suatu makanan gara2 bahan tambahan, namun mereka TIDAK BERANI untuk menanyakan ke pemilik/petugas resto. Itu baru resto.  Masih ada lagi kerawanan pada produk-produk roti, donat, dan cake dari bakery ternama.  Belum lagi makanan hotel, terutama hotel berbintang. Dan juga makanan dari catering, saat kita menghadiri undangan pernikahan.  Jadi….hati-hati! Jadilah auditor untuk diri kita sendiri, keluarga, dan kerabat terdekat terlebih dahulu.  

 
 

 

Makan Sea Food Bisa Haram, Lho

Hati-hati! Makan seafood pun jangan lantas tenang2 saja karena yakin  akan kehalalannya. Banyak resto seafoood yang menambahkan angciu (arak ) ke dalam masakannya.

  • @mawaddah1985 : sebenarnya saya miris juga lihat banyak orang dengan mudahnya makan tanpa mempertimbangkan kemungkinan halal haamnya… contoh selain seafood adalah makanan jepang… sushi.. yaa emang dari ikan, tapi kalo di negara asalnya sushi itu pake arak bikinnya….
    but they dont think that important thing…

    sekali ada resto baru, langsung dicoba tanpa mikir kehalalannya… 😥

 

  • @nunksubarga : Iya…teman saya kerja di resto sebuah mall ga pernah mau makan di restoran nya sendiri…karena tau prosesi masak nya pakai arak
  • @enkoos : Jangankan resto seafood, warung mie pojok kampungpun ada yang menggunakan arak. Penjualnya berjilbab.  Salah satu bahan pembuat dessert (seperti cake, bread, pudding dan sejenisnya) adalah vanilla. Kalau di Indonesia, banyak menggunakan vanilla bubuk walaupun bisa juga menggunakan vanilla bean yang tumbuh subur di Indonesia tapi lebih banyak di ekspor. Sedangkan di US, lebih banyak menggunakan vanilla extract yang berupa vanilla bean direndam cairan beralkohol seperti bourbon atau vodka. Alkoholnya inilah yang digunakan. Vanilla bean mahal sekali.

    Alhamdulillah semahal mahalnya vanilla bean, masih lebih murah di Indonesia yang harganya 200ribu/kg. Beli sekilo, dibagi bagikan ke sanak sodara teman dekat teman jauh sekampung senegera tetangga handai taulan masih juga nyisa banyakkkk sampe detik ini. Itupun kalau saya pake baking, sangat boros. Takarannya dilebihkan dari resep.  Aku beli tahun 2008 di Sulawesi, langsung dari petaninya. Waktu itu lagi dijemur 🙂 Karena murah, ya aku beli sekilo karena bandingannya dengan harga di US yang sebatangnya dua dolar lebih. Wedew…
    Sekilo itu dapet satu tas kresek penuh.

    Kalau di Jakarta, coba cari supermarket yang banyak menyediakan bahan2 kue impor seperti Ranch Market, Hero Kemang, Kemchick atau TBK (toko bahan bahan kue). Tetapi aku gak tau apakah kualitasnya sama dengan yang aku beli di petaninya langsung.

    Tadi barusan googling, nemu link ini http://organicindonesianvanilla.blogspot.com/2010/06/local-customer-order.html
    Jualan vanilla bean tanpa minimum order. Kebunnya di Jawa Barat. Selain jualan vanilla bean, juga jualan produk olahan vanilla maupun bibit vanilla.Insya Allah enggak semua sushi menggunakan mirin dan sake (bukan arak tetapi sama sama mengandung alkohol). Yang perlu kita waspadai adalah
    1. Soy sauce yang digunakan sebagai saus celupan yang biasanya berdampingan dengan wasabi. Ada soy sauce yang mengandung mirin ada yang tidak.
    2. Saus kecap untuk bahan perendam smoke eel yang hampir selalu mengandung mirin.
    3. Cairan yang digunakan untuk nasi sushi. Kebanyakan hanya menggunakan rice vinegar (cuka) dan gula.
    4. California roll yang salah satu bahan utamanya adalah imitation crab, dimana setelah saya baca pada labelnya ada kandungan mirin.
    Berbagai cake yang sudah dikenal seperti tiramisu dan black forest cake. Yang saya tahu tiramisu menggunakan liqour. Black forest diberi percikan rhum pada tiap lapisan cakenya supaya cake tetep moist.

    Kalau kita gak yakin, lebih baik bertanya ke pembuatnya apa saja bahan yang digunakan dalam pembuatan cake / makanan yang kita pesan. Sebagai konsumen kita memiliki hak untuk bertanya.
    Jadi paling aman, ya bikin sushi sendiri.

  • @Iraprajuritkecil : Tiramisu pake kahlua, sejenis minuman beralkohol rasa kopi. Tapi ga semua cakeshop pake itu. Di NCC, diajarin kok bikin tiramisu tanpa kahlua. Sama juga dgn black forest yg pake kirsch, minuman alkohol pula. Ada subtitusinya…Yang rada ngeselin sebenernya banyak orang kita bikin makanan pake tambahan yang gak perlu…
    ada ice chocolate di cafe, dipakein rhum…
    bikin es coklat mah biasa aja kali…. gak usah tambah2an segala…
  • @lolytadiah : Bener Dok, sekarang rasanya masak pake angciu itu udah jadi kewajaran, bahkan restaurant yang memasang tanda halal pun kadang pas kita tanya ternyata pake angciu…:(
    belu lagi cake2 yang pake rhum…. memang lebih aman masak sendiri, aman dan murah…:)
  • @miapiyik : iya, alasannya supaya seafood tidak amis pake arak 😦 duh, mending beli yang pasti aja, masak sendiri ya dok
  • @subhanallahu :

Banyak juga sebenarnya yang pake barang haram seperti Ang Ciu bukan hanya seafood, beberapa waktu lalu ketika main ke sebuah Mall besar di Jogja dan makan di sebuah food corner, saya memperhatikan proses pembuatan nasi gorengnya. Ternyata ya pake Ang Ciu juga…  Pengalaman saya juga ada tentang seafood ini: http://subhanallahu.multiply.com/journal/item/151/Saya_ga_mau_makan_seafood_lagi .  Ini fotonya: