Arsip

Ketemu Gadis Berbahasa Inggris di Masjid Huxie (2)

 

Masjid Huxi adalah tujuan berbuka selanjutnya, dengan pertimbangan lokasinya tidak jauh dari hotel.  Bahkan resepsionis mengatakan, “Very close from here”.

Meskipun sudah memegang alamat, yaitu di : 3 Lane, 1328 Changde Road, Putuo District, Shanghai (上海市普陀区常德路1328弄3).

tetap harus konfirmasi ke bagian navigator hotel.  Minta navigator menulis alamat tersebut dalam bahasa dan huruf China.  Baru ditunjukkan ke sopir taksi.  Ini penting mengingat sopir taksi hanya bicara bahasa China, sehingga kita tidak bisa berkomunikasi apa pun selama perjalanan.

Khusus di masjid Huxi, porsi yang disiapkan bisa sampai 300-400an setiap harinya.  Dan dananya juga murni dari swadaya jamaah!  Bedanya dengan di masjid Pu Dong, di Huxi ada pemisahan ruang makan antara jamaah laki dan perempuan.  Laki-laki menempati tempat yang tetap yaitu di sebelah ruang sholat utama, sedangkan kaum wanita biasa menempati beranda depan masjid atau di beranda lantai 2.  Seorang teman menengarai masjid ini berdasarkan banyaknya tanaman baik asli maupun sintetik.  Contohnya, di beranda depan dipercantik dengan adanya naungan pergola dan hiasan tanaman rambat sintetis. Beranda lantai 2 labih cantik lagi dengan tulisan Allahu Akbar yang tersusun dari rangkaian bunga.

Komposisi takjil berupa teh tawar hangat, kurma, roti (bisa Nan diiris 8 atau semacam roti tawar yang tebal) dan kuah.  Kuah ini gunanya untuk mencelupkan roti dan dimakan dengan sumpit.  Setelah roti habis kuahnya diminum.  Kuah selalu berasa gurih, bisa kuah tomat, kuah kacang merah atau  semacam barley berkuah putih.  Karena selama tiga kali berbuka di masjid Huxie saya tidak menemukan nasi, maka insiden sumpit tidak terjadi.

Di masjid ini saya berkenalan dengan muslimah muda Shanghai, yaitu Fatimah dan Aminah. Kaum muslimin biasanya mempunyai 2 nama, yaitu nama china dan nama islam.  Nah, kedua gadis ini sungguh tipikal wanita Tiongkok yang makin elok dengan hijabnya.  Pakaiannya khas anak muda jaman sekarang, celana jins, sepatu kets, kemeja lengan panjang dipadu cardigan.  Dan keuntungannya….mereka bisa bahasa Inggris!  Ini cukup melegakan mengingat sejak kemarin saya bicara body language terus.  Dari kedua mereka saya dapat info tentang sebuah masjid lagi yang bisa dijadikan destinasi berbuka.  Masjid Fu You Road, namanya.  Supaya jelas saya minta mereka menuliskan dalam bahasa dan huruf China.  Dan saya terpukau mengamati betapa lincah jemari tersebut mengukirkan huruf Hanzi yang mirip kaligrafi.

Masjid Huxi Persiapan Menjelang Berbuka

Persiapan berbuka di Masjid Huxie

Masjid Huxi Tampak Depan dan Toko Daging Halal

Tampak Depan Masjid Huxi dan Toko Daging Halal di Sebelah Kiri

 

Diajari Pakai Sumpit di Masjid Fu You Road

Berbekal alamat dari Fatimah, sampailah kami ke masjid Fu You Road yang beralamat di 378 Fuyou Rd, Huangpu Qu.  Masjid ini terbilang kuno karena dibangun pada 1870.  Lokasinya pun berada di kawasan kota tua, tak jauh dari taman yang berasal dari dinasti Ming, yaitu Yu Garden

Masjid Fu You Road

Tampak Depan Masjid Fu You Road

 

Masjid Fu You Road Sholat Wanita

Ruang Sholat Wanita di Masjid Fu You Road

Keseluruhan masjid bernuansa kayu, bahkan lantainya pun dari parquette.  Demikian pula ruang makan yang terletak di sebelah ruang sholat utama.  Hanya ada satu ruang makan sehingga jamaah laki dan perempuan berada di ruang yang sama.  Saya semeja dengan ibu Aisyah, yang selalu mengira saya berasal dari Malaysia.  Sudah dijelaskan bahwa saya dari Indonesia, dan ia pun juga berkali-kali melafalkan kata Indonesia, namun di kesempatan berikutnya yang tercetus adalah Malaysia lagi…Malaysia lagi!

Di masjid Fu You Road ini makanan berbuka lebih banyak dan terkesan mewah.  Ada sepiring besar kweetiau yang gemuk-gemuk, roti Nan tergeletak di meja dalam keadaan sudah diiris 8 bagian, semangkuk besar mie daging sapi, dan sepaket buah-buahan warna-warni.  Saya katakana warna-warni karena memang banyak warna, antara lain anggur merah dan hijau masing-masing 2 butir, ceri merah dan hitam juga masing-masing 2 butir, sebuah leci, seiris jeruk dan seiris kiwi.  Nah, bisa dibayangkan kan, betapa colorfulnya.  Bisa ditebak, baru meneguk teh dan menelan sepotong roti dicelup kuah mie maka kenyanglah saya.  Sementara orang-orang makan dengan lahap dan diakhiri dengan meneguk kuah mie lagsung dari magkuk.  Ibu Aisyah mengamati saya makan rupanya gemas, langsung saja dia pegang tangan saya dan mengajari cara memegang sumpit.

“Ayo dipraktekkan”, kira-kira demikian katanya.

“Seandainya mangkuk ini ada tutupnya tentu sudah kubawa pulang mie sapi ini”, batin saya.  Ini karena melihat orang lain sudah beranjak pergi untuk menunaikan sholat maghrib berjamaah.  Bagaikan bisa membaca pikiran saya, bu Aisyah datang membawa kantung plastik dan tutup mangkuk.  Cekatan dibereskannya mangkuk saya, dimasukkan ke kantung plastik.

“Nah, siap dibawa pulang,” ujarnya sambil menggamit lengan saya menuju ruang sholat.

Aah…..persaudaraan Islam tak kenal sekat wilayah dan bahasa.  Yang ada hanyalah keimanan dan ketaqwaan yang sama. [nin]

 

Iklan

Belajar Pakai Sumpit di Shanghai (1)

Tadinya terasa berat saat suami meminta saya untuk mendampingi beliau presentasi makalah ilmiah di Shanghai.  Pasalnya acara tersebut berlangsung di bulan Ramadhan.  Terbayang puasa yang lebih panjang waktunya, pun saat berbuka tidak bisa makan dengan bebas karena khawatir dengan kehalalannya.

Namun tugas pantang ditolak.  Maka berselancarlah kami  di dunia maya untuk mencari nama dan lokasi masjid di Shanghai.  Rencananya, bertitik tolak dari masjid itulah kami harapkan ada info tentang penyedia makanan halal atau rumah makan muslim.

Shanghai, kami datang!

Kota terbesar sekaligus tersibuk di China ini bagaikan belantara gedung pencakar langit.  Baik gedung perkantoran maupun apartemen seakan berlomba saling tinggi.  Tak heran bila Shanghai menduduki peringat kelima kota dengan pencakar langit terbanyak.  Meskipun pemerintah sudah berusaha menghidupkan paru-paru kota dengan membuat hutan dan taman yang banyak, namun tak urung kesan hutan beton lebih mendominasi.  Bagusnya, warga lebih memilih menggunakan MRT dibandingkan kendaraan pribadi.  Ini tak lepas dari mahalnya pajak mobil yang bahkan bisa melebihi harga mobil tersebut.  Ongkos taksi juga tidak murah.  Tarif buka pintu antara 14-16 Yuan (28-32 ribu rupiah).  Motor sangat sedikit, dan itu pun motor listrik.  Tanpa suara dan tanpa asap knalpot.  Sebaliknya sepeda sangat banyak.  Ada sepeda pribadi, namun yang lebih banyak adalah sepeda umum.  Maka menjadi sangat memprihatinkan saat mengingat bahwa negeri kita ini sangat dibanjiri oleh motor dan nantinya mobil buatan Tiongkok sementara di negeri asalnya justru tidak dipakai.

 

Makan dengan Tangan Jadi Pusat Perhatian di Masjid Pu Dong

Hari kelima Ramadhan pun kami lalui di Shanghai.  Awal Juni, masuk subuh pada jam 3.15 dan maghrib jam 18.54 waktu setempat.  Karena itu puasa berlangsung selama 16 jam, sedikit lebih panjang waktunya dibandingkan dengan di tanah air.  Namun dengan suhu antara 22-26 derajat celcius, Alhamdulillah tidak ada perbedaan yang bermakna dalam hal haus dan lapar.

Semua masjid di Shanghai pada dasarnya menyediakan makan untuk berbuka puasa.  Jumlahnya pun tak tanggung-tanggung, sampai ratusan porsi.  Dananya berasal dari infaq para jamaah.

Masjid Pu Dong adalah masjid yang pertama kami kunjungi.   Masjid ini beralamat di 375 Yuansheng Road, Pudong District, Shanghai (上海市浦东新区源深路375号).  Sedikit nyasar yang menyebabkan harus jalan kaki balik arah, kami tiba saat adzan magrib menjelang.  Petugas sudah melambai-lambaikan tangan agar kami segera bergegas.  Berbeda dengan di negeri kita, tidak ada lesehan di sini.  Kami ditunjukkan untuk segera masuk ke sebuah ruangan yang ternyata adalah ruang makan.  Penataannya mirip kantin mahasiswa.   Penuh sesak dan hiruk pikuk.   Sayangnya saya tak mengerti apa yang mereka obrolkan.  Jamaah pria dan wanita berada dalam satu ruangan bahkan satu meja.    Sementara itu di meja sudah tersedia takjil berupa seiris semangka, seiris melon, roti, dan semangkuk kuah.  Tak lupa ada teh di gelas plastik.  Roti dan kurma langsung digeletakkan begitu saja di meja yang sudah dialas plastik tipis.

Masjid Pu Dong Couple

Masuknya waktu maghrib ditandai dengan aba-aba dari imam dan didahului dengan doa berbuka puasa.  Tidak ada adzan di sini.  Saat imam selesai berdoa, makanan segera diserbu.  Orang-orang makan dengan cepat.  Roti dicemplungkan ke kuah, dimakan dengan sumpit.  Sisa kuah diminum langsung dari  mangkuknya.  Rampung takjil dilanjutkan dengan sholat maghrib secara cepat dan jamaah segera masuk lagi ke ruang makan yang tadi untuk makan malam.  Kali ini meja sudah dibersihkan dari sisa takjil, berganti dengan makan malam.  Menunya berupa nasi, sayur kangkung, ayam masak mentega, tumis mentimun dan semangkuk kuah tomat.  Keseluruhan hidangan tersebut disajikan dalam sebuah ompreng (nampan stainless seperti di rumah sakit jaman dulu). Dan tidak sama sekali yang namanya sendok atau garpu. Hanya sumpit semata.  Sekali duakali saya masih bisa “memungut” mentimun dengan sumpit.  Tapi nasi? Lolos terus. Tak kurang akal, saya pun makan pakai tangan.  “Muluk” bahasa jawanya.  Bukannya dulu almarhum Haji Agus Salim juga percaya diri makan dengan tangan di suatu jamuan internasional a la Barat?

Masjid Pu Dong Makan Malam Bakda Isya

Tapi ternyata perbuatan saya itu jadi perhatian ibu-ibu tua teman semeja.  Dia kasak kusuk bertanya ke teman-temannya yang lain sesama ibu.  Sepertinya mereka mencari sesuatu.  Naah…akhirnya dapat! Disodorkanlah seperangkat sumpit kepada saya.

“Ayo makan pakai ini.  Jangan pakai tangan”, begitu mungkin ucapannya dalam bahasa Tiongkok. “Ayo terimalah sumpit ini!” si ibu tua terus mendesak.

Haaaa…..rupanya mereka mengira saya makan dengan tangan karena tidak kebagian sumpit.   (nin)

Mencari Makanan Halal di Ljubljana

Di Ljubljana dimana muslim hanya sekitar 5% maka urusan makanan halal harus disikapi dengan serius.  Atas pertimbangan ini pula, kami memilih menginap di hotel Grand Union  tak jauh dari kawasan kota tua di Center.  Hotel ini agak mahal, namun menyediakan daging halal pada hidangan sarapannya.  Daging tersebut didatangkan dari Turki. Daging halal ditempatkan terpisah, sayang petunjuknya terlalu kecil.  Kami baru menemukannya setelah mengitari seisi restoran dan itu pun atas petunjuk petugas.

Resto Balkan

Tempat makan halal yang pertama kali kami kunjungi setelah menginjakkan kaki di kota Ljubljana adalah resto bergaya Balkan, tepatnya Bosnia.  Resto ini kami dapatkan atas petunjuk Muri, si supir taksi bandara. Berlokasi di Cesta Andreja Bitenca no 70.  Lokasinya sangat sepi, jauh dari jalan raya.  Berada di tengah kawasan perumahan yang rimbun dan nyaman.  Restonya tidak terlalu besar namun cukup apik dan homy.  Pelayannya ramah, profesional dan menguasai bahasa Inggris.  Di salah satu sisi dinding tertutup dengan foto masjid di Bosnia.   Menu yang kami nikmati siang itu adalah Bosanski Lonac.  Makanan berkuah berisi daging dan sayuran semacam caserole ini nikmat dimakan hangat bersama roti.

Bosanski Lonac

Bosanski Lonac

 

Di sisi depan resto terdapat mushola.  Lengkap dengan toilet dan tempat wudhu pria/wanita.  Jadi, sambil makan siang bisa sekalian sholat di mushola tersebut. Dan tepat di depan pintu mushola terdapat sebuah ruangan yang ternyata adalah kantor dari sebuah yayasan foundation dari Qatar.  Kami berkenalan dengan Elvira dan Sanela, dua muslimah asal Bosnia yang bekerja di sana.

“Islam di sini ada dua golongan,”ujar Sanela.  Ada golongan formal, yaitu mereka yang menjalankan perintah agama dengan tertib, misalnya memakai hijab seperti kamu ini.  Dan satu lagi golongan non formal”.  Mungkin maksudnya Islam KTP seperti istilah di negeri kita.  “Apa pun Sanela, mereka itu saudara kita”, kata saya dalam hati.

Doner Kebab Halal

Tak jauh dari GR, kependekan dari Gospodasko Raztavisce sebutan lokal untuk gedung konferensi tempat acara diselenggarakan,  ada kios Doner kebab.   Penjualnya Imran, anak muda muslim asal Kroasia.   Ia menjamin daging kebabnya halal.  “Saya mendatangkan khusus dari Jerman”, ujarnya.   Kiosnya sangat ramai.  Karenanya, meski sudah dibantu seorang asisten Imran tampak selalu sibuk melayani pembeli.  Akhirnya kami jadi sering ke kios Imran.  Beli Doner Kebab cukup 1 buah saja dimakan berdua karena ukurannya cukup besar.  Kalau sedang santai kami pilih jadi pembeli terakhir sekedar bisa mengobrol.   Terkadang kami minta tolong ditelponkan taksi.

20160930_171938

Imran di Kios Doner Kebab

Imran sepertinya ia masuk golongan non formal sesuai istilah Sanela.  Itu karena saat hari Jum’at ia tak beranjak dari kiosnya, melayani antrian pembeli.

Resto Habibi

Masih di Dunajska Cesta no 105/107, berjarak lebih kurang 1 kilometer dari RG terdapat sebuah restoran Timur Tengah.  Resto Habibi namanya.  Pemiliknya, Ahmad, pemuda Mesir yang menikah dengan mualaf Ljubljana.  Usia restoran ini baru 6 bulan.  “Belum ada website.  Kami baru punya facebook”, saat kami utarakan sulitnya mencari resto halal. Hidangannya sebagaimana resto Timur Tengah pada umumnya dengan harga yang tidak terlalu mahal.  Meski rasa nasi Bryani tidak sama dengan aslinya namun karena baru ketemu nasi, kami pun bersantap dengan nikmat.  Di resto ini kartu kredit saya (dari bank besar plat merah) bisa berfungsi.

resto-habibie-bryani.jpg

 

Alhamdulillah, sambil menunggu pesanan siap,  kami bisa mendirikan sholat jamak qashar.  Untuk itu Ahmad menyediakan dua sajadah.  Sholat dikerjakan di ruangan yang berkarpet karena tidak terdapat mushola.

Hidangan Kongres

Bagaimana dengan hidangan makan siang di kongres? Mengingat kongres Sport Medicine ini berskala Internasional, banyak juga para pakar yang datang dari negeri Islam, seperti Malaysia, Brunei Darussalaam, Iran, dan tentu saja Turki dan Qatar sebagai negara pendukung utama.  Untuk itu panitia menyediakan  makan siang di dalam kotak dengan kode warna.  Disediakan 3 warna kotak, yaitu merah, biru, dan hijau.  Kotak merah berarti mengandung babi, kotak biru mengandung daging non babi, dan kotak hijau adalah hidangan vegetarian.   Isi  berupa roti burger isi daging (atau sayur khusus untuk vegetarian), muffins, minuman kotak, dan buah. [nin]

 

 

Kantung Plastik Halal. Seperti Apa?

Bahwa makanan atau minuman yang masuk ke mulut kita- kemudian dicerna dan selanjutnya sari pati atau zat gizinya diserap oleh tubuh lewat pembuluh-pembuluh darah – harus halal sesuai dengan ketentuan Allah SWT, pastinya kita semua sudah tahu. Bahwa apa saja jenis makanan yang halal atau yang haram, itu pun kita semua juga sudah tahu. Namun dengan berkembangnya teknologi pengolahan pangan, kondisi sekarang tidak lagi sesederhana jaman puluhan tahun yang lalu. Sekarang, bisa saja makanan yang “halal” namun dalam pembuatannya mendapatkan tambahan zat yang belum jelas kehalalannya, maka otomatis makanan jadi tersebut juga ikut-ikutan tidak jelas kehalalannya. Misalnya, es krim atau permen empuk. Halal, kan mestinya? Tapi kalau gelatin yang berfungsi sebagai pengemulsi dan penstabil itu berasal dari hewan haram, maka otomatis makanan seremeh permen empuk pun menjadi haram. Repot? Sebetulnya tidak juga karena kita bisa berpatokan pada adanya jaminan kehalalan yang dikeluarkan oleh lembaga yang berwenang. Di Indonesia lembaga penjamin kehalalan tersebut adalah MUI. Melalui LPPOM MUI, diterbitkanlah sertifikat halal MUI, yang ditandai dengan logo khusus.

Namun ternyata…persoalannya tak sekedar bahan makanan saja. Tapi juga bahan pembungkus makanan tersebut, dalam hal ini, bahan yang dipakai secara luas adalah :
Kantung Plastik. Kantung plastik punya potensi tidak halal melalui 2 jalur.
1. Salah satu bahan bakunya ada yang berpotensi tidak halal, yaitu asam stearat (bisa vegetable base atau animal base)
2. Mesin produksi plastik, bagian rodanya diolesi lemak untuk menghindari macet. Lemak ini bisa berasal dari hewan (sapi atau babi) atau tumbuhan (vegetable base)

Tisu , titik kritisnya ada di bahan pewarna, pelarut, dan pewanginya. Merk tisu yang sudah halal diantaranya : Paseo, dan Toply (kalau ada yang terlewat mohon ditambahkan)

Untuk plastik, menurut bp. Fajar Budiono dari PT Polytama Propindo (www.detikfood), hampir seluruh plastik produksi dalam negeri sudah dinyatakan halal. Kecuali plastik impor, tentunya. Karena dari 2,5 juta tom kebutuhan plastik dalam negeri, 30%nya masih impor.

kantung plastik halal

Bagaimana tips mengenali plastik halal?
1. Cari dan amati label halal pada pembungkusnya. Jadi bukan pada masing-masing lembar kantung tersebut, namun pada pembungkus plastik kalau kita beli dalam bentuk paket 50 lembaran (lihat gambar)
2. Setelah lembaran kantong plastik dikeluarkan, gulunglah kantung plastik tersebut dan kemudian hirup baunya. Bila tercium bau minyak goreng maka palstik tersebut menggunakan bahan vegetable base, sedangkan bila tercium bau gurih, maka yang digunakan adalah bahan dari animal base. *catatan: berlatihlah terlebih dahulu untuk bisa menerapkan tips ini  * [nin]

Tidak Ada Sertifikat Halal? Belum Tentu Halal Makan di Resto Ini…

logo Halal MUI

Berikut ini adalah pernyataan dari seorang anggota Komisi Fatwa MUI, ust. Irfan Helmi.

Sehubungan dengan banyaknya pertanyaan terkait produk pangan yang beredar di masyarakat, saya sampaikan hal-hal sebagai berikut :

1.Bahwa produk JCo Donuts and Cofee, roti Bread Talk, Roti Boy, Papa Ronz Pizza, Izzi Pizza, es krim Baskin ‘n Robbins. Dapur Coklat, Starbuck Coffee, Richeese Keju, Coffee Bean, juga  Hanamasa, Rice Bowl, Dead Bean, , semuanya BELUM BERSERTIFIKAT HALAL, sehingga MUI tidak menjamin kehalalannya. Namun tidak otomatis semua produk tersebut pasti haram.

2. Bahwa tidak benar jika dikatakan “MUI mengeluarkan pengumuman bahwa restoran berikut haram” dan bahwa “ini semua mengandung gelatin dari daging dan lemak babi”, karena untuk memastikannya harus melalui proses audit.

3. MUI tidak pernah mengeluarkan “Sertifikat Haram”, karena istilah tersebut tidak dikenal di lingkungan MUI.

4. Hendaknya hati-hati dalam menyebarkan info yang dapat meresahkan masyarakat. Lakukanlah klarifikasi (tabayyun) terlebih dahulu. Ingat surat Al Hujuraat ayat 6

5. Untuk mengetahui produk apa saja yang sudah halal, bisa dilihat di buku Direktori Halal tahun 2013-2014

Ditulis di Bogor 31 Agustus 2013
Saya mengutipnya dari majalah Oase

Tambahan dari saya, sebenarnya masih banyak lagi daftar produk makanan dan resto yang belum terjamin kehalalannya. Bahkan, untuk resto, jumlahnya masih lebih banyak daripada yang sudah tersertifikasi halal. Karena itu, diperlukan sikap kritis dan kehati-hatian dari kita sendiri. Selain sikap bisa menahan diri, yaitu tidak makan sembarangan juga diperlukan pengetahuan tentang bahan-bahan makanan yang berpotensi haram.
Di samping menghimbau MUI agar bersikap aktif dalam melakukan sertifikasi halal serta memberikan pencerahan ke masyarakat, kita sendiri juga bisa mendorong agar sebuah resto/tempat makan/minum melakukan sertifikasi halal untuk produknya. Bisa dengan memberikan masukan di laman/medsos mereka, bisa juga melakukan gerakan untuk ‘memboikot’ kunjungan ke resto tertentu. Selama ini pihak pengusaha tidak tergerak untuk melakukan sertifikasi karena mereka berpikir, ada atau tidak sertifikat halal, toh pengnjung tetap berbondong-bondong antri untuk makan/beli produk. Dan saya yakin bahwa para pengunjung tersebut sebagian besarnya adalah muslim.
Kalau pengusaha mendapatkan keuntungan dari konsumen muslim, maka sudah sewajarnyalah kalau mereka memrioritaskan kehalalan produknya. Sebagai konsumen, kita BERHAK untuk mendapatkan konsumsi halal, minimal di negeri kita sendiri!

Cerita Ponsel (di Pesawat)

IMG_7081

Masih segar dalam ingatan kita tatkala media ramai memberitakan tentang pramugari yang dipukul penumpang karena tidak terima saat ditegur karena masih menggunakan ponsel dalam pesawat.

Dasar hukum prelarangan tersebut adalah UU no 1 tahun 2009 tentang Penerbangan pasal 412 ayat 5-7 tentang penggunaan HP di dalam pesawat bisa dihukum penjara 2 tahun atau denda 200 juta. Bila mengakibatkan kecelakaan maka dihukum penjara 5 tahun atau denda 2,5 M. Bila mengakibatkan matinya orang dihukum 15 tahun penjara.
Nah, berikut ini adalah kejadian yang saya alami berkenaan dengan ponsel di dalam pesawat.

Begini ceritanya….
Di pesawat plat merah, beberapa tahun yang lalu. Pesawat siap-siap taxi, tiba-tiba lagu nada panggil berbunyi. Oh, rupanya ada penumpang yang belum mematikan ponsel. Segera didengungkan peringatan. Seorang bapak tampak berusaha mematikan ponselnya. Tampaknya berhasil. Tapi tak berapa lama ponsel tersebut kembali bernyanyi. Maka pramugari pun menghampiri kursi bapak tersebut. Sang bapak kembali berkutat dengan ponselnya, berusaha mematikan. Berhasil? Ternyata belum. Nada panggil kembali menggema. Ia semakin gelisah karena pramugari mulai bermuka tegang. Dengan sedikit panik, karena semua tombol sudah dipencet namun tak juga off, maka usaha terakhir adalah melepas batere ponsel tersebut. Naah…baru beres!

Kejadian sepekan yang lalu, justru pramugari tidak terlalu tegas saat menjumpai penumpang berponsel.
Di pesawat cap singa jurusan Surabaya-Banjarmasin, seorang nenek tua asyik mengobrol dengan kerabatnya dengan suara keras yang saya perkirakan bisa didengar oleh seisi pesawat. Pramugari sudah memberikan pengumuman persiapan tinggal landas, di antaranya tentang kewajiban mematikan HP, namun ia masih terus mengobrol. Anehnya, beberapa kali pramugari berseliweran di dekatnya, karena kebetulan ia duduk di gang, tak ada seorang pun yang menegurnya. Pengumuman untuk mematikan HP akhirnya diulangi. Entah tak mendengar karena asyik mengobrol, atau memang sengaja karena materi obrolannya belum selesai, ia masih asyik berbincang dengan suara kerasnya. Pesawat pun mulai menggelinding, melakukan taxi. Nenek tak bergeming. Saya yang duduk di gang sebelahnya sudah merasa gemas, ingin segera mencolek, mengingatkan. Tapi suami saya mencegah.
“Saya mau tahu, apa tindakan pramugari”, katanya.
Saat ada pramugari melintas menuju ke kursi awak kabin, saya tak tahan untuk tidak memanggilnya.
“Mbak, mohon diingatkan beliau ini”, saya menghentikan langkahnya seraya menunjuk sang nenek.
Pramugari berhenti dan terdiam. Rupanya ia menunggu nenek jeda bicara, baru menegur. Tapi dasarnya orang sedang ngobrol seperti mitraliur, mana ada jeda?
“Mbak, mohon ditegur, dong” , saya igatkan sekali lagi. Bukannya apa-apa, telinga ini juga sudah protes karena desibel suara nenek demikian tinggi.
Namun rupanya pramugari merasa tak senang dengan teguran saya kepadanya. Nampak hal itu pada wajahnya. Ia pun menegur nenek seperti terpaksa.
Apa reaksi nenek? Ia mengomel panjang pendek sambil menyudahi pembicaraannya.
“Memangnya saya gak pernah apa naik pesawat. Ini kan belum terbang, kenapa ribut soal hape!”
Alhamdulillah, beberapa detik kemudian pesawat tinggal landas. Nenek kelelahan mengomel, ia pun tertidur.
Satu jam dua puluh menit kemudian, pesawat pun mendarat di bandara Syamsudin Noor. Nenek membenahi rambutnya, rapi-rapi. Eeeh…ternyata jepit rambutnya terlepas dan menggelinding ke kursi depan, di kelas eksekutif. Tanpa ragu, ia melepas seat belt dan berlari mengejar jepit rambut. Pramugari yang masih terikat di kursi awak kabin hanya melongo………… (nin)

Paket Keripik Pisang Itu…..

Paket berupa kardus besar itu datang lagi untuk kesekian kalinya. Dari nama pengirimya, saya sudah menduga isinya. Bermacam-macam keripik dan kue kecil. Kue dan keripik itu tentu saja tak habis oleh kami sekeluarga. Sehingga banyak kerabat dan sejawat yang dapat bagian pula. Semoga menjadi bagian dari amal ibadah pengirimnya juga.

Siapa pengirim keripik itu?
Sebelumnya saya tak pernah mengenalnya. Di suatu pagi, tiba-tiba saja ia muncul. Tentang bagaimana ia bisa menemukan saya di belantara Jakarta ini ternyata unik.
Bayangkan, ia adalah seorang janda dengan 2 anak laki-laki yang masih sekolah.  Aslinya orang Makassar, tapi karena tinggal di Jawa Tengah, maka ia pun fasih berbahasa jawa halus. Di kota kecil P,  ia mengontrak sebuah rumah kecil menempel di rumah induk.  Ia beruntung karena si pemilik rumah itu orang baik.  Seperti biasanya, kegiatan sehari-harinya adalah memasak. Hingga di suatu pagi ia bertandang ke warung langganannya, berbelanja ala kadarnya. Tapi sesobek kertas pembungkus bawang menarik perhatiannya, begitu tuturnya kepada saya. Di kertas itu, yang ternyata potongan sebuah majalah lama, ada nama dan alamat saya waktu diwawancara.  Meskipun demikian, sampai sekarang saya juga tidak tahu apa nama majalah itu.

Lalu…..entah apa yang mendorongnya untuk datang menemui saya, berdasarkan data dari sesobek majalah! Katanya, ia mau bekerja. Menghidupi dua anaknya yang tanpa bapak semenjak bertahun-tahun yang lalu. Ya, ia janda dengan dua anak laki-laki yatim.
Sebenarnya saya tidak setuju dengan rencananya itu. Meninggalkan  anak yang masih butuh bimbingan ibu dengan bekerja di Jakarta yang terkenal ganas. Tapi ia memaksa. Alhamdulillah, tak berapa lama ada yang bersedia menampungnya bekerja sebagai perawat orang tua. Namun pekerjaan itu tak lama dilakoninya. Saya kira, itu bukan panggilan jiwanya. Kembalilah ia kepada saya.
Akhirnya, saya anjurkan ia balik ke kampung halamannya. Dua anaknya akan saya bantu biaya sekolahnya, Insya Allah. Untuk dirinya, sedikit modal buat berdagang.

“Saya punya keahlian bikin keripik”, akunya.

Seperti itulah yang ia jalani sampai sekarang. Usahanya terus berkembang, dari keripik pisang, bikin tambahan rempeyek,dan sekarang sudah kewalahan mengatasi pesanan. Terutama saat lebaran.
Dan, dengan pemilik rumahnya pun kami jadi kenalan.  Sering juga induk semang tersebut memberikan kesaksian tentang putra-putra si janda yang rajin sholat malam dan membersihkan masjid. Di saat shubuh datang paling awal untuk melantunkan adzan. Yang sungguh taat kepada ibunya, orang tua tunggalnya. Komunikasi kami adalah dengan SMS. Lho…punya ponsel?? Tidak. Ia cuma pinjam ponsel pemilik rumah untuk SMS. SMS nya panjang…penuh dengan ucapan terimakasih dan doa.

Berita yang membuat saya terpesona adalah saat anaknya yang sulung diberi hadiah pergi umroh oleh pak Kiai di masjid tempat ia beradzan tiap subuh. Tapi oleh anaknya, karena cinta dan terimakasih kepada ibundanya, hadiah umroh itu diserahkan kepada nya. Maka berangkatlah sang janda untuk umroh! Naik pesawat… Tinggal di hotel……. Masya Allah!

Dan siang ini, datang lagi paket kardus besar untuk yang kesekian kalinya. Dari nama pengirimnya, saya sudah menduga isinya…. (nin)

 Saat ini anak pertama si janda sudah lulus SMA dan bekerja di sebuah pertambangan di NTB.  Sembari bekerja, ia kuliah dengan biaya sendiri.  Adiknya, juga sudah menamatkan SMAnya, tetap tinggal di rumah menemani sang ibu. Ia pun berkuliah di sebuah akademi.  Dua tahun terakhir ini ibunya yang sudah semakin tua sering sakit-sakitan. Aktivitas berdagangnya pun sudah berkurang.  Semoga Allah SWT selalu merahmati keluarga kecil itu. 

gambar dari antarafoto.com