Arsip

USG dan JENIS KELAMIN JANIN

Ingin tahu hal apa yang paling sering ditanyakan oleh pasutri saat datang ke dokter kandungan dan diperiksa USG? Tak lain dan tak bukan adalah jenis kelamin.  Ini buktinya……

Saat kehamilah baru saja terdiagnosa …..

“Alhamdulillah, ibu benar hamil usia 5 minggu.  Sudah tampak kantung kehamilan di dalam rahim, namun belum nampak janin di dalamnya”.

“Dokter, kami ingin anak laki-laki. Bagaimana caranya? Harus makan apa? 

2 bulan kemudian, di usia kehamilan 13 minggu…..

“Alhamdulillah, janin sehat dan aktif. Gerakan banyak meski belum dirasakan oleh ibu.  Denyut jantungnya 150 kali per menit”.

“Dokter, apakah sudah ketahuan jenis kelaminnya? Teman-teman sudah banyak yang menanyakan”.

Dan saat kehamilan mencapai 20 minggu…..

“Alhamdulillah, janinnya sehat.  Tumbuh kembangnya sesuai dengan usia kandungannya. Bla…bla…”.

(Tidak terlalu menyimak keterangan dokter) “Jenis kelaminnya apa, dok?

“In syaa Allah diperkirakan laki/perempuan, ibu”.

“Lho, kok belum pasti begitu, dok?”

Awal trimester 3 , 28 minggu….

“Dok, jenis kelamin bayi saya apa ya?”

“Lho bukannya sudah pernah saya infokan”.

“Bukannya bisa berubah  dok?”

Hampir lahir, 36 minggu

“Alhamdulillah….janin sehat, beratnya sudah 2600 gram. Ketuban masih cukup jumlahnya”.

“Dok, kelaminnya masih laki/perempuan? Belum ada kepastian?”

Hadeuuuuuhhhh…. cape juga ya 9 bulan Cuma mengurusi jenis kelamin?

Padahal jenis kelamin cuma dua. Kalau tidak laki-laki…ya perempuan. Memang mau dikasih Allah di luar yang dua itu?

 

Kapan jenis kelamin ditentukan?

Ayo buka lagi pelajaran biologi.  Kehamilan terjadi apabila terjadi pembuahan, yaitu pertemuan antara sel telur dan sel sperma di dalam saluran telur (tuba Fallopii).  Sel sperma membawa kromosom X dan Y, sedangkan sel telur membawa kromosom X saja.  Apabila yang membuahi sel telur adalah sperma dengan kromosom Y maka jadilah janin laki-laki.  Sedangkan apabila yang membuahi sel telur adalah sel sperma dengan kromosom X maka yang terjadi adalah janin dengan jenis kelamin perempuan.  Kesimpulannya, jenis kelamin sudah ditentukan sejak periode pembuahan.  Pada saat itu bahkan seorang wanita belum menyadari kehamilannya.

Lalu apa yang dilihat dari USG?

Alat ultrasonografi (USG) yang bekerja berdasarkan gelombang suara, dapat menggambarkan janin dalam bentuk fisik.  Maka jenis kelamin baru bisa dilihat dengan USG apabila bentuk alat kelamin sudah jelas.  Jelas bukan perbedaan antara JENIS kelamin dan ALAT/ORGAN kelamin? Pada umumnya, bentuk alat kelamin dapat dengan jelas diidentifikasi setelah usia kehamilan 20 minggu.  Pada beberapa kasus memang bisa dilihat bentuk alat kelamin pada usia kehamilan yang lebih muda, namun kebanyakan gambarannya belum jelas.

Janin laki-laki diindetifikasi dengan tampaknya gambaran skrotum (kantung zakar).  Terkadang tampak lengkap kantung zakar dan penisnya. Bahkan pada janin yang lebih besar bisa tampak buah zakar yang berada dalam kantung zakar.  Janin perempuan diidentifikasi dari gambaran 2 buah bibir kemaluan.  Secara anatomi, identifikasi kelamin laki-laki lebih mudah daripada kelamin perempuan.  Oleh karenanya, tingkat kesalahan identifikasi janin perempuan lebih besar daripada janin laki2.

 

janin-perempuan-dari

tampak bibir kemaluan sebagai interpretasi janin perempuan di usia 28 pekan

 

janin-laki-dari-wikipedia

gambaran skrotum dan penis menunjukkan janin laki2

Betulkah jenis kelamin bisa berubah?

Nah, seperti yang sudah dipaparkan di atas, berhubung identifikasi jenis kelamin janin lewat  USG adalah berdaasarkan bentuk alat kelamin, maka kesalahan persepsi/interpretasi sangat mungkin terjadi.  Kesalahan tersebut dipengaruhi juga oleh usia kehamilan, posisi janin, jumlah air ketuban, ketebalan dinding perut ibu, disamping  jam terbang operator dan juga kualitas mesin USG . Jadi kalau suatu saat dikatakan jenis kelamin tertentu dan beberapa waktu kemudian ternyata berbeda maka hal tersebut wajar saja.  Dikatakan bahwa kesalahan yang dapat ditoleransi adalah 5%.  Jadi sekali lagi, bukan jenis kelamin berubah, melainkan persepsi pemeriksalah yang berubah.

Lalu kapan jenis kelamin tersebut dapat dipastikan?

Kalau kepada saya diajukan pertanyaan tersebut maka dengan mudah saya jawab, “Pastinya kalau sudah lahir”. 

“Ya, iyalah, dok”.

Maksudnya begini, melihat sesuatu yang ada di dalam rahim dengan perantaraan alat, maka sebagai manusia kita tidak berani mendahului kepastian dari Allah SWT.  Meskipun ada juga kelainan bawaan yang dikaitkan dengan jenis kelamin janin.  Artinya, pendeteksian jenis kelamin janin itu dikaitkan dengan hal-hal medis yang terkait kesehatan bayi saat lahirnya nanti.  Bukan sekadar untuk referensi mencari nama atau warna baju bayi.  Apalagi kalau hanya untuk menjawab keingintahuan kakek nenek dan handai taulan.

Contoh, kalau janin terdeteksi laki-laki maka bisa dilihat apakah buah zakar (testis) sudah berada di dalam kantung zakar (skrotum) saat usia cukup bulan? Contoh lain,  Kelainan bawaan tertentu ternyata lebih banyak didapatkan pada janin laki-laki.

Bagaimana Bila Jenis Kelamin Ternyata Tidak Sesuai dengan Prediksi atau Harapan Ortu

“Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaanmu) ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu…(surat An Najm ayat 32)

Tidak ada pilihan lain kecuali menerima dengan ikhlas dan tawakkal. Allah lah yang paling mengetahui yang terbaik.   Jangan sampai terjadi salah pengasuhan pada bayi/anak dikarenakan ia berjenis kelamin tidak sesuai dengan harapan. Misalnya, karena orang tua mendambakan anak perempuan setelah 3 anak sebelumnya laki-laki semua, maka anak laki2 keempat sering dipakaikan rok bahkan jilbab kecil.  Demikian pula sebaliknya. Ingat, banyak sekali kasus-kasus LGBT yang berawal dari salah asuh di masa kecil.

Dalam menghadapi jenis kelamin yang tidak sesuai harapan ini hendaknya juga tidak ada saling menyalahkan di antara kedua orang tua.  Yang sering terjadi adalah suami menyalahkan istri karena tidak bisa memberikan anak dengan jenis kelamin tertentu.  Sedangkan kalau kita simak lagi penjelasan di awal tulisan, kromosom pembawa jenis kelamin ada di sperma.  Maka bisa disimpulkan bahwa yang menentukan jenis kelamin adalah pihak suami. Meskipun demikian ada penelitian yang menunjukkan bahwa suasana vagina memberikan andil untuk sperma berkromosom X atau Y yang bakal eksis dan dapat membuahi. (nin)

 

sumber gambar : wikipedia

 

 

Iklan

Infeksi Saluran Kemih pada Kehamilan, Jangan Disepelekan

Tampaknya sederhana, hanya “anyang-anyangan” tapi ternyata bisa berdampak serius. Ya, “anyang-anyangan” ini adalah istilah dalam bahasa Jawa untuk menggembarkan rasa tidak nyaman tatkala berkemih. Rasa tidak nyaman tersebut bisa berupa nyeri saat mengeluarkan air seni maupun rasa tidak tuntas saat selesai buang air kecil. Serangan berat bisa membuat terhambatnya proses Buang air Kecil (BAK) dan menjadikan yang mengalaminya sampai mengaduh aduh.

Infeksi saluran kemih bisa menyerang baik wanita maupun pria, dewasa atau anak-anak. Namun kenyataannya kaum wanitalah yang lebih sering mengalaminya. Dan dari kalangan wanita tersebut, ibu hamil menduduki peringkat teratas sebagai penderita Infeksi Saluran kemih (ISK). Apa sebab demikian? Hal ini tidak terlepas dari anatomi saluran kemih dimana saluran kemih (urethra) pada wanita lebih pendek daripada urethra laki-laki. Sehingga peluang terpapar bakteri atau jamur lebih besar pada wanita.

Saat seorang wanita hamil terjadilah beberapa perubahan terkait saluran kemih yang meningkatkan risiko terjadinya ISK. Di antara perubahan tersebut adalah :

  • Melebarnya pelvis ginjal dan ureter menyebabkan kondisi statis sehingga mudah timbul kolonisasi bakteri
  • Melemahnya otot detrusor pada kandung kemih akibat peningkatan hormon progesteron. Akibatnya, meskipun daya tampung air seni meningkat namun daya pengosongan menurun sehingga terdapat sisa air seni yang memudahkan kolonisasi bakteri.
  • Higiene pribadi rendah, bisa karena kesadaran individu maupun kondisi kehamilan yang meningkatkan kelembaban

–          Aktivitas seksual, menyebabkan mikrotrauma pada urethra sehingga terjadi invasi bakteri. Perineum sebagai area transisi dari anus menyebabkan invasi bakteri dari saluran pencernaan menuju ke saluran kemih

PENYEBAB DAN GEJALA

ISK tersering disebabkan oleh bakteri, baik dari golongan gram positif maupn gram negatif. Dari golongan gram positif, 90% nya adalah Eschericia colli. Bakteri ini aslinya berkoloni di usus. Dengan perantaraan perineum ditambah dengan kebiasaan cebok yang salah sesudah BAB, maka makin leluasalah bakteri ini menginvasi saluran kemih. Jenis bakteri lain yang ditemukan adalah Staphylococcus saprophyticus, Mycobacterium tuberculosis, Klebsiella pneumoniaae, dan Proteus mirabillis . Dua yang terakhir merupakan golongan gram negatif. Selain itu bisa ditemukan koloni jamur yang berasal dari Candida albicans. Ada bakteri yang dikenal menyebabkan Ketuban Pecah Dini dan infeksi pada bayi baru lahir yakni Streptococcus B

 

 

Sudah disebutkan di atas, bahwa gejala ISK yang umum dikenal dengan “anyang-anyangan” bisa sangat bervariasi. Dari yang tanpa gejala khas, hanya seperti nyeri panggul bawah, sampai ke air seni mengandung darah, nyeri saat berkemih, berkemih sedikit-sedikit dan tidak tuntas, sampai ke demam dibarengi dengan mual dan muntah. Hati-hatilah, karena semakin parah gejala menunjukkan bahwa infeksi sudah semakin menjalar naik menuju ke saluran ginjal.

PENATALAKSANAAN

Agar tidak semakin parah, maka mereka yang mengalami gejala tidak nyaman saat BAK dianjurkan untuk segera berobat. Demikian juga para ibu hamil yang mengalami keputihan agar melaporkan kepada dokter/bidan. Ini mengingat bahwa kuman-kuman dari keputihan sangat bisa menginvasi ke saluran kemih karena posisinya yang berdekatan. Tujuan berobat sedini mungkin agar dapat mencegah infeksi asenden, yaitu infeksi yang menjalar ke arah saluran ginjal. Bila terjadi demikian tentu pengobatan menjadi semakin mahal dan penyakit akan berkomplikasi. Perlu diketahui bahwa seeseorang yang mempunyai riwayat ISK akan berisiko terjadi infeksi ulangan. Karena itu harus ada kewaspadaan ekstra.

Sebelum memberikan obat, terlebih dahulu dokter akan meminta pemeriksaan urinalisa di laboratorium. Tujuannya adalah mengetahui derajat dan kemungkinan penyebab infeksi. Dengan demikian pengobatan akan lebih terarah. Bila ditemukan ISK yang sangat membandel, tidak kunjung sembuh atau sangat sering berulang, maka bisa dilakukan pemeriksaan kultur air seni dan test sensitivitas antibiotika. Pada pemeriksaan ini, kuman di dalam air seni akan dibiakkan dan sekaligus diuji kepekaannya dengan berbagai antibiotika.        

PENCEGAHAN

Agar terhindar dari ISK atau yang sudah pernah ISK tidak mengalami lagi penyakit yang sangat tidak nyaman tersebut, maka perhatian khusus harus diberikan kepada genitalia dan sekitarnya. Untuk para wanita dan ibu hamil khususnya, harus selalu diingat untuk cebok dari arah depan (vagina) ke belakang (anus). Jaga jangan sampai timbul kondisi lembab berkepanjangan dengan sering mengganti pakaian dalam. Pakailah bahan pakaian yang menyerap keringat dan tidak ketat. Jangan asal mengikuti arus mode, yang selain tidak sesuai dengan ketentuan berpakaian secara Islam, juga ternyata tidak sehat sama sekali. Contohnya adalah pakaian ketat (jins ketat, legging ) yang membungkus area genitalia terlalu rapat. (nin)

 

Bahan : PNPK ISK pada Kehamilan, HUGI

Denyut Jantung Janin, Bagaimana Memantaunya? (episode 2)

Bagaimana Cara Mendengarkan DJJ?

Ada berbagai cara untuk mendengarkan denyut jantung janin. Cara yang paling sederhana adalah menempelkan telinga ke perut ibu. Sering kita lihat foto-foto romantis seorang calon bapak dalam pose menempelkan telinga di perut hamil istrinya. Betulkah ia bisa mendengar denyut jantung tersebut? Atau hanya sekedar bergaya selfie untuk diunggah ke media sosial? Hanya yang bersangkutan yang bisa menjawabnya. Kalau di foto itu perut hamil sudah tampak besar, maka kemungkinan besar denyut jantung tersebut memang bisa didengar. Tempelkan telinga langsung ke dinding perut dan berkonsentrasilah. Maka akan terdengar suara detakan halus dan teratur. Untuk bisa didengarkan secara langsung suara jantungnya, si janin sudah harus berada di usia trimester 3 (di atas 7 bulan).

Dulu para bidan (dan juga dokter) menggunakan alat bantu berupa semacam stetoskop dari kayu yang disebut dengan funanduskop. Bentuknya seperti corong atau terompet pendek. Penggunannya, bagian mulut terompet ditempelkan di dinding perut ibu hamil dan telinga kita menempel di pangkal terompet. Cukup melelahkan terutama apa bila dinding perut si ibu hamil cukup tebal, alias bumil tersebut sangat gemuk. Dengan menggunakan funanduskop ini, denyut jantung janin sudah bisa dideteksi semenjak kehamilan 20 pekan. Tentu saja sebelum terjun memeriksa bumil bersenjatakan terompet kayu tersebut, terlebih dahulu ada sesi latihannya. Tujuannya adalah mengenali bunyi jantung di antara suara-suara lain didalam rongga perut. Lho, memang ada acara apa di perut bumil kok sampai ramai ? Ha..ha…bukan acara pesta, namun beberapa organ lain di dalam perut bisa mengeluarkan bunyi juga. Di antaranya adalah bunyi usus, dan bunyi pembuluh darah ibu. Untuk itu si pemeriksa harus tahu perbedaannya.

Cara belajar mengenali denyut jantung janin ala mahasiswa kedokteran jaman dulu cukup unik. Yaitu, sebuah jam tangan yang berdetik ditaruh di bawah bantal dan kita harus bisa mendengarkannya dari atas bantal. Silakan dicoba! Sulit? Pantaslah saat tes kesehatan, calon mahasiswa kedokteran harus dipastikan punya pendengaran yang prima.

Kalau sekarang, sudah ada alat pemantau DJJ yang jauh lebih praktis, yaitu Doppler. Bentuknya macam-macam, ada yang portable ukuran saku, sampai yang seukuran textbook tebal. Bertenaga batere yang bisa diisi ulang. Dengan alat doppler ini, janin berusia 12 pekan sudah bisa dideteksi denyut jantungnya. Untuk usia yang lebih dini, pemantauan DJJ bisa menggunakan doppler yang tertanam dalam alat USG. Jantung sebagai organ vital yang mengalirkan darah ke seluruh tubuh sudah mulai bekerja semenjak janin berusia 6 minggu – saat panjangnya baru 1 sentimeter! MahaBesar ALLAH!

Bagaimana memantau DJJ secara kontinyu?

Terkadang DJJ perlu dipantau secara kontinyu tanpa terputus. Apabila pemantauan kontinyu tersebut direkam bersamaan dengan perekaman kontraksi rahim dan gerak janin maka akan tampak sebuah pola.   Pola tersebut secara keseluruhan menggambarkan kesejahteraan janin di dalam rahim. Alat yang digunakan untuk merekam DJJ tersebut adalah Kardiotokografi. Cara pemakaiannya adalah dengan menempelkan 2 sabuk ke perut ibu hamil. Pada sabuk pertama terdapat alat penyadap (transduser) untuk merekam DJJ. Sabuk ini ditempelkan di lokasi paling keras terdengarnya DJJ (punktum maksimum). Sedangkan di sabuk kedua terdapat alat penyadap untuk mendeteksi kontraksi rahim. Sabuk kedua ini ditempelkan di bagian rahim yang mengalami kontraksi paling kencang, yaitu di puncak rahim. Kedua sabuk dihubungkan ke alat KTG. Untuk mendeteksi pergerakan janin, ada sebuah tombol yang dikendalikan oleh ibu. Bila janin bergerak maka ibu harus memencet tombol itu.   Durasi perekaman rata-rata selama 10 menit, namun apabila ada hal-hal yang mencurigakan tidak ada salahnya untuk memperpanjang perekaman.

Dengan mengamati grafik hasil perekaman DJJ akan bisa disimpulkan apakah janin masih sejahtera atau tidak. Apabila ternyata kondisi janin gawat, maka harus segera diambil tindakan untuk melahirkannya.

 

DENYUT JANTUNG JANIN (episode 1)

Setiap kali memeriksa seorang ibu hamil selalu saya perdengarkan denyut jantung janin yang iramanya seperti derap kaki kuda tersebut. Dengan alat doppler, denyut jantung sudah bisa didengar sejak usia kehamilan duabelas pekan, tatkala janin masih berukuran 2 sentimeter. Dengan doppler USG kita bisa mendengar denyut jantung di usia yang lebih dini lagi, yaitu 7 pekan. Saat itu ukuran janin masih satu sentimeter. Masya Allah!

 

 

Selain memperdengarkan saya juga menghitung frekuensinya. Dengan USG, frekuensi harus dihitung terlebih dahulu, sedangkan dengan alat doppler,frekuensi langsung muncul dalam angka digital. Tak dinyana ternyata para ibu sangat perhatian dan mengingat hasil pemeriksaan pekan sebelumnya. Tatkala saya menyebutkan angka 145 x per menit, misalnya, maka segera disusul dengan pertanyaan, “Kok minggu lalu 153 kali, dok? Mengapa frekuensinya menurun?”

Atau bisa juga begini, saat saya menyebutkan sebuah angka, 137 kali per menit, maka pertanyaan selanjutnya adalah, “Kenapa secepat itu? Normal tidak?”

Sehingga pertanyaan besarnya adalah berapa normalnya Frekuensi Denyut Jantung Janin?

Mari kita telusuri ……

Jantung memang salah satu organ yang dibentuk dan berfungsi paling awal. Hal ini wajar sehubungan dengan tugasnya sebagai pemompa darah ke seluruh tubuh. Dengan aktifnya sirkulasi maka kehidupan akan terpelihara dan tumbuh kembang akan berlangsung. Sekali jantung berdenyut maka pantang untuk berhenti. Ibarat syair Khairil Anwar …”sekali berhenti, sudah itu mati”

Berhubung janin dalam rahim tidak bisa dilihat secara langsung, maka harus ada indikator yang menunjukkan bahwa janin tersebut baik-baik saja, atau justru sedang dalam masalah yang gawat. Indikator tersebut adalah Denyut Jantung Janin (DJJ). DJJ dihitung frekuensinya, dipantau iramanya dan dikorelasikan dengan kondisi ibu. Frekuensi normal DJJ adalah 120 – 160 kali per menit. Jauh lebih cepat daripada denyut jantung manusia dewasa yang 60-80 kali per menit . Karena itu sangat normal apabila DJJ hari ini 145 dan pekan kemarin 153 kali per menit.

Peningkatan DJJ bisa terjadi dari faktor janin, misalnya janin banyak bergerak. Dari faktor ibu, misalnya ibu demam. Atau bisa juga faktor lingkungan, misalnya saat rahim berkontraksi, kompresi kepala janin saat berada di dasar panggul, atau keadaan dimana terjadi hipoksia (penurunan suplai oksigen ke janin). Masih dibilang aman apabila kondisi DJJ cepat itu segera pulih kembali menjadi normal apabila gangguan dihilangkan. Namun apabila gangguan tersebut tidak bisa segera dihilangkan, maka DJJ cepat (takikardia) bisa berpotensi membuat jantung “lelah”, maka akibatnya akan terjadi sebaliknya yaitu DJJ melambat (bradikardia). Ini kondisi bahaya

Bagaimana Memantau DJJ Secara Kontinyu??

Bersambung ………

 

PUASA IBU HAMIL DAN IBU MENYUSUI. BAGAIMANA SEBAIKNYA DAN APA KIATNYA?

Bulan Ramadhan menjelang. Persiapan-persiapan telah dilakukan. Broadcast penyemangat dan nasihat telah bertebaran di media sosial bahkan semenjak bulan Rajab. Namun para ibu hamil terkadang galau. Antara semangat untuk menjalankan ibadah yang harus didukung fisik prima namun sangat sarat muatan ruhiyah, dengan kekhawatiran terhadap kondisi janin dalam kandungan, atau bahkan terhadap dirinya sendiri. Kuatkah?

Berbahayakah? Bagaimana seharusnya puasa ibu hamil?

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tidak didapatkan perbedaan yang bermakna terhadap keluaran bayi yang ibunya menjalankan ibadah puasa. Namun syarat dan ketentuan yang berlaku adalah : ibu harus dalam kondisi sehat demikian pula janinnya. Syarat ini hendaknya dipatuhi agar tidak ada yang dirugikan oleh sebab puasa. Karena pada dasarnya Allah Subhanahu wa Ta’ala sudah memberikan keringanan untuk tidak berpuasa bagi ibu hamil . Sebagai Sang Pencipta manusia, tentu Allah mengetahui bahwa ada kemungkinan puasa memberikan dampak negatif apabila dilakukan tanpa aturan yang bersifat kondisional.

Apa syarat dan ketentuan tersebut?

Puasa diperbolehkan apabila kondisi ibu sehat dan perkembangan janin normal. Ibu tidak ada gangguan makan, atau fase gangguan nafsu makan berupa mual dan muntah sudah terlewati. Keadaan semacam ini biasanya tercapai setelah kehamilan sudah melewati trimester 1, jadi usia kehamilan di atas 3 bulan. Kalau berdasarkan pengalaman saya, pada usia 5 bulan ibu sudah merasa nyaman dan nafsu makan sudah kembali normal. Dan jangan lupa, berat badan ibu sebelum hamil termasuk normal, dihitung dengan Indeks Massa Tubuh (IMT). Rumus menghitung IMT adalah TB (dalam meter) kuadrat dibagi dengan BB (dalam kilogram). Angka 22-25 menunjukkan normal. Selain itu kehamilan hendaknya tidak berkomplikasi dengan penyakit apa pun. Yang terbanyak dialami oleh ibu hamil adalah anemia (kurang darah) diakibatkan oleh kekurangan zat besi. Untuk mengetahuinya dapat dilakukan dengan pemeriksaan darah di laboratorium. Kondisi anemia ditandai dengan kadar Hemoglobin (Hb) kurang dari 11 gram%, atau kurang dari 10,5 gram% di trimester 2. Karena itu sebelum menjalankan ibadah puasa sebaiknya berkonsultasi ke dokter yang merawat selama ini. Pastikan bahwa kadar hemoglobin normal, berat badan normal, dan tidak ada penyakit yang menyertai. Demikian juga si janin harus dipastikan timbuh kembangnya normal sesuai dengan usianya.

Kondisi bagaimana seorang ibu hamil tidak boleh berpuasa?

Bila ada komplikasi pada kehamilannya, misalnya anemia (kadar Hb kurang dari 10,5 gr%), hipertensi, mual muntah yang berlebihan, berat badan di bawah normal, atau ada penyakit kronik yang menyertai kehamilan. Demikian juga apabila saat tengah menjalankan puasa tiba-tiba terjadi penurunan kadar gula darah (hipoglikemia) yang ditandai dengan sakit kepala, keringat dingin, pandangan kunang2, badan terasa lemas tak bertenaga, sebaiknya ibu hamil segera berbuka. Jangan merasa sayang dengan puasanya yang sudah sampai tengah hari, misalnya. Demikian juga jangan memaksakan diri berpuasa (dikuat-kuatkan) dengan alasan malas mengganti puasa (Qadha) di kemudian hari.

Bagaimana dampaknya jika seorang ibu hamil memaksakan berpuasa tanpa memahami syarat dan ketentuan tersebut?

Memaksakan diri puasa sedangkan diri sendiri dalam kondisi tidak sehat dan kekurangan nutrisi dikhawatirkan akan berdampak ke janin berupa Pertumbuhan Janin Terhambat (PJT) dan/atau BBLR (Berat Badan Lahir Rendah). Ibu anemia bisa berdampak bayi anemia. Kondisi kekurangan oksigen bisa menyebabkan kesejahteraan janin menurun dan stres dalam rahim. Seperti diketahui, anemia ditandai dengan rendahnya kadar hemoglobin, sedangkan hemoglobin tersebut merupakan sejenis protein yang berfungsi mengangkut oksigen ke seluruh sel-sel tubuh.

Apa kesalahan terjamak yg paling umum dilakukan ibu hamil saat berpuasa sehingga membuat tubuhnya drop, lemas, bahkan jatuh sakit?

Inilah kondisi yang sering dijumpai :

– Ibu memaksakan diri puasa karena merasa “kuat”

– Ibu tidak sahur, atau sahur terlalu awal

– Ibu tidak memperhatikan keseimbangan gizi dan keanekaragaman makanan selama berbuka dan malam hari

– Ibu kurang asupan cairan. Selama puasa seharusnya asupan cairan tetap, yaitu tidak kurang dari 2000 cc per hari, dimana waktu untuk memenuhi kebutuhan cairan tersebut semakin pendek, sehingga memang ibu harus menyengajakan diri untuk minum meski tidak merasa haus

Bagaimana sebaiknya olahraga atau aktivitas fisik untuk ibu hamil selama puasa?

Olahraga dan aktivitas fisik dilakukan sore hari menjelang berbuka atau malam hari. Lakukan saja olahraga ringan, seperti senam ringan atau jalan kaki.

Berikut ini tips dan saran

1. Konsumsilah makanan dan minuman tetap sebagaimana biasanya, perhatikan keanekaragaman komposisi makanan untuk menjamin kecukupan gizi.

2. Niat berpuasa semata-mata hanya untuk Allah , adalah sangat penting, tentunya setelah dipastikan bahwa fisik ibu dan janin sehat. Hari-hari pertama jangan terlalu banyak aktivitas, kalau bisa jangan banyak keluar rumah mengingat saat Ramadhan nanti berada di musim kemarau yang panas.

3. Waktu sahur dianjurkan makan protein tinggi. Diakhiri dengan minum air putih. Suplemen dan susu tetap dikonsumsi seperti biasa.

4. Ibu hamil yang juga sedang menyusui anak yang lebih tua, hendaknya tidak berpuasa. Ini terjadi apabila jarak kehamilan terlalu dekat sehingga kehamilan sudah terjadi saat si kakak belum berusia 2 tahun. Jangan memaksa menyapih anak yang belum berusia 2 tahun dan masih menyusu hanya karena ingin berpuasa.

5. Ibu menyusui yang sedang dalam masa ASI Eksklusif seyogyanya tidak berpuasa. Ini karena selama 6 bulan bayi tidak mendapat nutrisi lain kecuali dari ibu dan selama berpuasa bisa terjadi penurunan produksi ASI. Selepas masa menyusui eksklusif (bayi usia 6 bulan ke atas), silakan berpuasa setelah memastikan bahwa tumbuh kembang bayi normal. Bagi ibu menyusui eksklusif yang mempunyai stok ASI Perah cukup banyak dan berlebih, bisa mencoba berpuasa.

Kapan waktu yang tepat untuk mengqadha puasanya untuk ibu hamil dan menyusui?

Mengqadha puasa dilakukan setelah melampaui masa pemberian ASI Eksklusif (setelah 6 bulan pasca persalinan). Karena itu dianjurkan untuk tidak hamil lagi dalam waktu dekat dengan menggunakan kontrasepsi.

Hamil Palsu [Bukan Klenik Bukan Sihir]

Ternate, awal 2000

Seorang wanita muda berbadan subur masuk ke ruang pemeriksaan diiringi oleh wanita lain yang tampak lebih tua, mungkin ibunya. Ternyata tidak hanya berbadan subur, tetapi rupanya si wanita muda itu juga hamil.

“Bu dokter, ini sudah lewat bulannya tapi belum juga lahir. Tolong diperiksa apa masih normal”, itu kata pembuka dari sang ibu. Sedangkan si calon ibu muda tampak tenang-tenang saja. Ia merupakan pasien baru, sehingga sebelum ini saya tak memiliki data apa pun.

Setelah wawancara singkat meliputi tanggal haid terakhir, bagaimana aktivitas gerakan janin dan apakah sudah merasakan kontraksi yang semua saya catat di berkas rekam medik, maka si ibu muda dipersilakan naik ke tempat pemeriksaan oleh bidan asisten saya. Periksa punya periksa….tak teraba batas puncak rahim, yang seharusnya kalau sudah cukup bulan akan sangat mudah ditemukan di bawah tulang dada. Dugaan saya, mungkin karena dinding perutnya terlalu tebal. Meraba bagian tubuh janin sulit, apalagi menemukan denyut jantung janin. Jangan- jangan sudah lewat waktu betulan dan sudah terjadi insufisiensi plasenta sehingga janin akhirnya…..

Jalan terakhir…USG. Ternyata, tak tampak apa pun. Tak ada tanda-tanda kehamilan. Seluruh pemeriksaan fisik dan penunjang selaras tidak ada yang bertentangan. Karena setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium, test kehamilan pun negatif. Maka jelaslah, ini kasus hamil palsu.

Maka sekarang giliran saya yang harus menjelaskan kepada ibu dan putrinya tersebut. Makan waktu, tentunya. Belum lagi mereka harus menjelaskan kepada keluarga yang lain.

###

15 tahun kemudian, di ibukota …..

Pasien berikutnya yang masuk ke ruangan konsultasi adalah nyonya Fulan, dia pasien lama. Bahkan persalinan anaknya yang kedua sayalah yang menolongnya. Riwayatnya cukup mengundang simpati. Empat kali hamil, terdiri dari 2 kali keguguran dan 2 kali lahir normal, namun kedua bayi yang lahir normal tersebut wafat di usia di bawah 1 tahun. Sehingga saya menyambutnya dengan bahagia dan penuh rasa syukur tatkala ia mengabarkan kehamilannya yang sudah mencapai usia 7 bulan.

“Mungkin juga sudah delapan bulan dok, kalau lihat perutnya yang sebesar itu”, ujar ibu nyonya Fulan yang berusia 60an.

“Bu dokter, tapi ada orang yang nyembunyiin bayi saya. Jadi nanti mungkin tidak terlihat ya, dok. Sudah beberapa bidan dan dokter juga tidak bisa melihatnya,” ucapan bu Fulanah saat saya sedang bersiap-siap memeriksa.

“Lho, siapa yang menyembunyikan, bu? Memangnya bisa?”, saya menyahut sambil meraba perutnya dan meraba massa di atas pusatnya. “Jadi selama ini ibu sudah periksa kemana saja?” kali ini mencoba mencari denyut jantung janin yang akhirnya tidak ketemu.

“Yah, namanya orang, pastinya ada saja yang gak suka sama saya, bu dokter. Nah, tidak ada kan bu dokter”, nyonya Fulanah rupanya menangkap raut muka saya yang keheranan dengan tampilan di monitor USG. Kosong. Tak tampak janin, dan bahkan rahim tampak kecil. Rahim normal ukuran tidak hamil!

Naah….ini kasus hamil palsu lagi. Tapi kali ini si ibu menyadari bahwa ‘hanya dia yang merasa hamil’ sedangkan orang lain tidak bisa mendeteksi keberadaan janinnya.

Kembali ke tempat duduk, ibu nyonya Fulanah – yang tentu saja mendengar percakapan kami di balik tirai – kontan jadi resah. Mungkin setelah berkeliling ke beberapa dokter dan bidan yang mengatakan tidak ada kehamilan, akhirnya mereka menyandarkan pada jawaban saya hari ini. Mungkin juga karena ingat, sayalah yang menolong persalinan terakhirnya.

Sepertinya saya harus menjelaskan terlebih dahulu kepada ibunya, yang relatif masih bisa berpikir logis. Maka nyonya Fulanah saya minta pergi ke laboratorium dulu untuk beberapa test dan ibunya saya tahan di ruangan. Membutuhkan beberapa waktu lamanya sampai si ibu mau dan mampu memahami. Meskipun pertanyaan besarnya adalah, “Lalu perutnya yang membuncit itu berisi apa?” Seperti yang sudah diduga, hasil test kehamilan adalah negatif. Akhirnya nyonya Fulanah saya konsulkan ke dokter spesialis penyakit dalam untuk menagani kadar gulanya yang meningkat.

###

janin usia 8 minggu, jantungnya sudah berdenyut

janin usia 8 minggu, jantungnya sudah berdenyut

Hamil palsu bukan masalah santet atau klenik. Meskipun pernah sekali dua kita baca di surat kabar kuning, cerita seorang ibu yang kehamilannya mendadak hilang. Kasus seperti ini dikenal dalam dunia medis dengan sebutan Pseudocyesis. Dasar penyebabnya adalah masalah psikologis, yaitu keinginan yang sangat kuat untuk hamil. Bisa juga karena ketakutan kehilangan orang yang disayanginya (suami). Emosi yang kuat ini menyebabkan perubahan hormonal, yaitu terhentinya produksi hormon gonadotropin sehingga mengakibatkan berhentinya haid. Emosi jugalah yang mendasari timbulnya berbagai keluhan khas hamil, misalnya mual, sebah, payudara tegang, bahkan sampai keluar cairan kolostrum. Adapun perut yang membesar umumnya disebabkan oleh timbunan lemak atau kembung belaka. Pembuktian bahwa tidak ada kehamilan berasal dari pemeriksaan USG, atau ronsen.

Tentu saja diperlukan tata komunikasi yang baik dengan si ibu, suaminya, bahkan dengan keluarga besarnya untuk menjelaskan masalah ini. Siapa yang tidak kaget, saat harap-harap cemas menunggu lahirnya si jabang bayi yang tinggal menghitung hari mendadak ada informasi bahwa perut yang membesar selama ini hanya berisi usus dan lemak, tanpa ada janin di dalamnya. Dokter pun disarankan untuk mendokumentasikan dengan baik semua hasil pemeriksaan yang sudah dikerjakan, karena jangan sampai terjadi pemutarbalikan fakta, malah dokternya yang dituduh menipu, memberikan keterangan palsu. Na’udzubillah.

Mengingat kasus hamil palsu seperti ini umumnya menimpa seseorang yang sangat mendambakan kehamilan, maka saya menyarankan pasangan yang sedang melakukan program hamil untuk senantiasa dekat dengan Allah SWT.  Berdoa kepada Allah selaku pemilik dan pemelihara segala kehidupan. Berusaha,  dengan berkonsultasi kepada ahlinya, yang mana si ahli tersebut adalah juga manusia biasa yang ilmunya juga berasal dari Allah, dan dalam mengobati juga menyadarkan keberhasilannya kepada Allah.  Dan terakhir adalah tawakkal…menyerahkan hasil dari usaha dan doa tersebut – lagi2 – kepada Allah.

Kenapa demikian? Di saat seseorang galau dengan keinginan hadirnya seorang bayi, maka banyak pihak yang dengamn senang hati “membantu” untuk mengeruk keuntungan pribadi.  Acap kali saya temui, seorang wanita dinyatakan hamil oleh “orang pintar” atau “ajengan anu” tapi dengan syarat Pantang untuk diperiksa oleh dokter atau bidan.  Sekali saja ia mendatangi bidan, maka kehamilannya langsung lenyap. Nah!

Puasa Bumil dan Puasa Busui, Bagaimana Baiknya?

makanansehat republika.co.id

 

Bulan Ramadhan telah berjalan 3 hari. Namun pertanyaan dari para bumil, busui, serta bumil merangkap busui masih banyak mengalir.  Dalam prakteknya, sejak awal Sya’ban saya sudah mulai memberikan penyuluhan tentang puasa ini kepada para pasien.

Sebenarnya untuk seorang bumil yang sehat, baik dirinya maupun janinnya, tak ada hambatan untuk berpuasa. Namun hal ini tentu saja tak dapat disamakan untuk semua orang. Simak dulu kriteria bumil sehat, yaitu sebagai berikut :

1. Berat badan sebelum hamil tidak termasuk kategori underweight.  Untuk itu perlu dihitung dulu dengan rumus IMT atau Indeks Massa Tubuh

yaitu :

                                  IMT = BB (kilogram)/TB (meter) kuadrat

Setelah mendapatkan hasil IMTnya, cocokkan ke dalam tabel berikut :

< 22                   + BB kurang (underweight)

22 – 25               = BB normal

25 – 29               = BB berlebih (overweight)

> 29                    = obesitas

2. Kenaikan berat badan selama hamil normal. Lebih jelasnya bisa dibaca di postingan sebelum ini.

3. Berat badan janin normal sesuai usia kandungannya

4. Kehamilan tidak disertai dengan anemia (kurang darah) yaitu kadar Hb < 10,5 g%

5. Kehamilan sudah memasuki usia aman, yakni trimester 2 ( 4 bulan ke atas)

6. Kehamilan tidak disertai dengan komplikasi penyakit tertentu, misalnya preeklamsia, hipertensi, diabetes, penyakit jantung, paru, asma, ginjal, dll

Nah, untuk bumil yang memenuhi kriteria tersebut di atas, silakan berpuasa.

Namun bila dalam menjalani puasa bumil mengalami hipoglikemia (penurunan kadar gula darah), maka diwajibkan berbuka.

Tanda dan gejala hipoglikemia adalah sbb :

1. Badan lemas tak bertenaga

2. Keluar keringat dingin

3. Gemetaran

4. Kliyengan atau pandangan berkunang-kunang

Jangan sampai memaksakan diri dikarenakan sayang membatalkan puasa yang sudah terlanjur sampai tengah hari, misalnya.

Demikian juga bila dalam menjalani puasa ternyata terdapat penurunan BB > 5% berat sebelumnya, maka dianjurkan untuk tidak melanjutkan puasa.

Bagaimana dengan Busui?

Tentu saja yang kita bicarakan di sini adalah busui yang sudah selesai nifasnya yaaa.

Ini syarat dan ketentuannya :

1. Bayi sudah berusia lebih dari 3 bulan.  Dengan asumsi, pada usia tersebut bayi sudah pintar menyusu, demikian pula produksi ASI sudah lancar. Ibu juga sudah bisa menyesuaikan diri dengan peran barunya sebagai ibu

2. Untuk busui yang masih dalam fase ASI Eksklusif  (ASIX), harus tersedia stok ASI Perah (ASIP) yang cukup

3. BB Bayi menunjukkan kenaikan yang standar sesuai dengan umurnya. Sesuai dengan grafik BB yang ada di Kartu Menuju Sehat (KMS)

4. Ibu dalam kondisi sehat dan telah pulih 100% .  Bila setelah puasa ternyata produksi ASI jauh menurun atau bayi menjadi rewel, maka jangan pikir panjang, sudahilah puasa ibu

Bagaimana kalau si ibu punya jabatan rangkap, yaitu menyusui sambil hamil atau sebaliknya…

Khusus yang double job seperti ini, mohon pengertiannya untuk tidak puasa! Kasihan dong si janin dalam rahim. Janin ini tanpa bisa memilih harus rela dinomortigakan…teganya…teganya….egoisnya sang ibu…. 😦

Jangan juga melakukan ini, demi ingin ikut puasa, bayi disapih dan ASI diganti dengan Sufor. Duuuh……………….

Karena, kalau kita kembali kepada hakikatnya, maka sebenarnya bumil dan busui itu masuk golongan yang dapat keringanan untuk tidak puasa. Hanya saja setelah mengetahui bahwa puasa yang ditinggalkan harus diqodho, maka para bumil dan busui pada ngotot pingin puasa. Ya kan…ya kan…..?

Meskipun memang harus diakui bahwa aura bulan Ramadhan beserta ibadah puasa memang magis.  Hari-hari yang sama terus berganti, namun kenapa semuanya jadi terasa beda kala Ramadhan tiba. Untuk itulah diperlukan keikhlasan dari para bumil dan busui (untuk tidak ikut berpuasa).  Percayalah, pahala ibadah tidak hilang. Lagipula masih banyak ibadah dan amal perbuatan lain yang ganjarannya berlipat-lipat hari biasa, yang masih bisa dilakukan.

Landasan :

1. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (Surat Al Baqarah 183). Yaitu dalam beberapa hari tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblahbaginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.  Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka berpuasa) membaya fidyah (yaitu) memberi makan seorang miskin.  Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya.  Dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (Al Baqarah 184)

2. “Sesungguhnya Allah melepaskan kewajiban berpuasa serta meringkas sholat kepada musafir, dan kewajiban puasa kepada ibu hamil dan menyusui (HR Tirmidzi)

3. Ibnu Abbas berkata:” Ibu menyusui dan wanita hamil apabila takut akan kesehatan anak mereka, hendaknya berbuka lalu (membayar fidyah dengan) memberi makan (HR Abu Dawud)