Arsip

Kisah Panjang Hijab di Kamar Operasi

Tulisan kisah nyata ini merupakan salah satu penugasan di Wonderful Writing Class yang dipandu oleh penulis kondang pak Cahyadi Takariawan dan istri beliau, bu Ida Nur Laila. 

Yang ingin bisa “Menulis Semudah Bernafas” silakan ikut WWC gelombang berikutnya…

Prita Kusumaningsih “Jadi berapa meter kain yang dibutuhkan?” “Jenis bahannya sudah dicek belum? Warnanya juga harus sama persis, lho”. “Bagaimana kalau kita pinjam saja sepasang baju dan celana itu barang sehari? Buat contoh ke penjahit” “Kamu jadi kan, bicara dengan ibu kepala ruangan kemarin?” Itulah sebagian kasak kusuk kami, mahasiswi berhijab Fakultas Kedokteran semester 9 […]

melalui KISAH PANJANG HIJAB DI KAMAR OPERASI — Wonderful Writing Class

Mencari Makanan Halal di Ljubljana

Di Ljubljana dimana muslim hanya sekitar 5% maka urusan makanan halal harus disikapi dengan serius.  Atas pertimbangan ini pula, kami memilih menginap di hotel Grand Union  tak jauh dari kawasan kota tua di Center.  Hotel ini agak mahal, namun menyediakan daging halal pada hidangan sarapannya.  Daging tersebut didatangkan dari Turki. Daging halal ditempatkan terpisah, sayang petunjuknya terlalu kecil.  Kami baru menemukannya setelah mengitari seisi restoran dan itu pun atas petunjuk petugas.

Resto Balkan

Tempat makan halal yang pertama kali kami kunjungi setelah menginjakkan kaki di kota Ljubljana adalah resto bergaya Balkan, tepatnya Bosnia.  Resto ini kami dapatkan atas petunjuk Muri, si supir taksi bandara. Berlokasi di Cesta Andreja Bitenca no 70.  Lokasinya sangat sepi, jauh dari jalan raya.  Berada di tengah kawasan perumahan yang rimbun dan nyaman.  Restonya tidak terlalu besar namun cukup apik dan homy.  Pelayannya ramah, profesional dan menguasai bahasa Inggris.  Di salah satu sisi dinding tertutup dengan foto masjid di Bosnia.   Menu yang kami nikmati siang itu adalah Bosanski Lonac.  Makanan berkuah berisi daging dan sayuran semacam caserole ini nikmat dimakan hangat bersama roti.

Bosanski Lonac

Bosanski Lonac

 

Di sisi depan resto terdapat mushola.  Lengkap dengan toilet dan tempat wudhu pria/wanita.  Jadi, sambil makan siang bisa sekalian sholat di mushola tersebut. Dan tepat di depan pintu mushola terdapat sebuah ruangan yang ternyata adalah kantor dari sebuah yayasan foundation dari Qatar.  Kami berkenalan dengan Elvira dan Sanela, dua muslimah asal Bosnia yang bekerja di sana.

“Islam di sini ada dua golongan,”ujar Sanela.  Ada golongan formal, yaitu mereka yang menjalankan perintah agama dengan tertib, misalnya memakai hijab seperti kamu ini.  Dan satu lagi golongan non formal”.  Mungkin maksudnya Islam KTP seperti istilah di negeri kita.  “Apa pun Sanela, mereka itu saudara kita”, kata saya dalam hati.

Doner Kebab Halal

Tak jauh dari GR, kependekan dari Gospodasko Raztavisce sebutan lokal untuk gedung konferensi tempat acara diselenggarakan,  ada kios Doner kebab.   Penjualnya Imran, anak muda muslim asal Kroasia.   Ia menjamin daging kebabnya halal.  “Saya mendatangkan khusus dari Jerman”, ujarnya.   Kiosnya sangat ramai.  Karenanya, meski sudah dibantu seorang asisten Imran tampak selalu sibuk melayani pembeli.  Akhirnya kami jadi sering ke kios Imran.  Beli Doner Kebab cukup 1 buah saja dimakan berdua karena ukurannya cukup besar.  Kalau sedang santai kami pilih jadi pembeli terakhir sekedar bisa mengobrol.   Terkadang kami minta tolong ditelponkan taksi.

20160930_171938

Imran di Kios Doner Kebab

Imran sepertinya ia masuk golongan non formal sesuai istilah Sanela.  Itu karena saat hari Jum’at ia tak beranjak dari kiosnya, melayani antrian pembeli.

Resto Habibi

Masih di Dunajska Cesta no 105/107, berjarak lebih kurang 1 kilometer dari RG terdapat sebuah restoran Timur Tengah.  Resto Habibi namanya.  Pemiliknya, Ahmad, pemuda Mesir yang menikah dengan mualaf Ljubljana.  Usia restoran ini baru 6 bulan.  “Belum ada website.  Kami baru punya facebook”, saat kami utarakan sulitnya mencari resto halal. Hidangannya sebagaimana resto Timur Tengah pada umumnya dengan harga yang tidak terlalu mahal.  Meski rasa nasi Bryani tidak sama dengan aslinya namun karena baru ketemu nasi, kami pun bersantap dengan nikmat.  Di resto ini kartu kredit saya (dari bank besar plat merah) bisa berfungsi.

resto-habibie-bryani.jpg

 

Alhamdulillah, sambil menunggu pesanan siap,  kami bisa mendirikan sholat jamak qashar.  Untuk itu Ahmad menyediakan dua sajadah.  Sholat dikerjakan di ruangan yang berkarpet karena tidak terdapat mushola.

Hidangan Kongres

Bagaimana dengan hidangan makan siang di kongres? Mengingat kongres Sport Medicine ini berskala Internasional, banyak juga para pakar yang datang dari negeri Islam, seperti Malaysia, Brunei Darussalaam, Iran, dan tentu saja Turki dan Qatar sebagai negara pendukung utama.  Untuk itu panitia menyediakan  makan siang di dalam kotak dengan kode warna.  Disediakan 3 warna kotak, yaitu merah, biru, dan hijau.  Kotak merah berarti mengandung babi, kotak biru mengandung daging non babi, dan kotak hijau adalah hidangan vegetarian.   Isi  berupa roti burger isi daging (atau sayur khusus untuk vegetarian), muffins, minuman kotak, dan buah. [nin]

 

 

PUASA IBU HAMIL DAN IBU MENYUSUI. BAGAIMANA SEBAIKNYA DAN APA KIATNYA?

Bulan Ramadhan menjelang. Persiapan-persiapan telah dilakukan. Broadcast penyemangat dan nasihat telah bertebaran di media sosial bahkan semenjak bulan Rajab. Namun para ibu hamil terkadang galau. Antara semangat untuk menjalankan ibadah yang harus didukung fisik prima namun sangat sarat muatan ruhiyah, dengan kekhawatiran terhadap kondisi janin dalam kandungan, atau bahkan terhadap dirinya sendiri. Kuatkah?

Berbahayakah? Bagaimana seharusnya puasa ibu hamil?

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tidak didapatkan perbedaan yang bermakna terhadap keluaran bayi yang ibunya menjalankan ibadah puasa. Namun syarat dan ketentuan yang berlaku adalah : ibu harus dalam kondisi sehat demikian pula janinnya. Syarat ini hendaknya dipatuhi agar tidak ada yang dirugikan oleh sebab puasa. Karena pada dasarnya Allah Subhanahu wa Ta’ala sudah memberikan keringanan untuk tidak berpuasa bagi ibu hamil . Sebagai Sang Pencipta manusia, tentu Allah mengetahui bahwa ada kemungkinan puasa memberikan dampak negatif apabila dilakukan tanpa aturan yang bersifat kondisional.

Apa syarat dan ketentuan tersebut?

Puasa diperbolehkan apabila kondisi ibu sehat dan perkembangan janin normal. Ibu tidak ada gangguan makan, atau fase gangguan nafsu makan berupa mual dan muntah sudah terlewati. Keadaan semacam ini biasanya tercapai setelah kehamilan sudah melewati trimester 1, jadi usia kehamilan di atas 3 bulan. Kalau berdasarkan pengalaman saya, pada usia 5 bulan ibu sudah merasa nyaman dan nafsu makan sudah kembali normal. Dan jangan lupa, berat badan ibu sebelum hamil termasuk normal, dihitung dengan Indeks Massa Tubuh (IMT). Rumus menghitung IMT adalah TB (dalam meter) kuadrat dibagi dengan BB (dalam kilogram). Angka 22-25 menunjukkan normal. Selain itu kehamilan hendaknya tidak berkomplikasi dengan penyakit apa pun. Yang terbanyak dialami oleh ibu hamil adalah anemia (kurang darah) diakibatkan oleh kekurangan zat besi. Untuk mengetahuinya dapat dilakukan dengan pemeriksaan darah di laboratorium. Kondisi anemia ditandai dengan kadar Hemoglobin (Hb) kurang dari 11 gram%, atau kurang dari 10,5 gram% di trimester 2. Karena itu sebelum menjalankan ibadah puasa sebaiknya berkonsultasi ke dokter yang merawat selama ini. Pastikan bahwa kadar hemoglobin normal, berat badan normal, dan tidak ada penyakit yang menyertai. Demikian juga si janin harus dipastikan timbuh kembangnya normal sesuai dengan usianya.

Kondisi bagaimana seorang ibu hamil tidak boleh berpuasa?

Bila ada komplikasi pada kehamilannya, misalnya anemia (kadar Hb kurang dari 10,5 gr%), hipertensi, mual muntah yang berlebihan, berat badan di bawah normal, atau ada penyakit kronik yang menyertai kehamilan. Demikian juga apabila saat tengah menjalankan puasa tiba-tiba terjadi penurunan kadar gula darah (hipoglikemia) yang ditandai dengan sakit kepala, keringat dingin, pandangan kunang2, badan terasa lemas tak bertenaga, sebaiknya ibu hamil segera berbuka. Jangan merasa sayang dengan puasanya yang sudah sampai tengah hari, misalnya. Demikian juga jangan memaksakan diri berpuasa (dikuat-kuatkan) dengan alasan malas mengganti puasa (Qadha) di kemudian hari.

Bagaimana dampaknya jika seorang ibu hamil memaksakan berpuasa tanpa memahami syarat dan ketentuan tersebut?

Memaksakan diri puasa sedangkan diri sendiri dalam kondisi tidak sehat dan kekurangan nutrisi dikhawatirkan akan berdampak ke janin berupa Pertumbuhan Janin Terhambat (PJT) dan/atau BBLR (Berat Badan Lahir Rendah). Ibu anemia bisa berdampak bayi anemia. Kondisi kekurangan oksigen bisa menyebabkan kesejahteraan janin menurun dan stres dalam rahim. Seperti diketahui, anemia ditandai dengan rendahnya kadar hemoglobin, sedangkan hemoglobin tersebut merupakan sejenis protein yang berfungsi mengangkut oksigen ke seluruh sel-sel tubuh.

Apa kesalahan terjamak yg paling umum dilakukan ibu hamil saat berpuasa sehingga membuat tubuhnya drop, lemas, bahkan jatuh sakit?

Inilah kondisi yang sering dijumpai :

– Ibu memaksakan diri puasa karena merasa “kuat”

– Ibu tidak sahur, atau sahur terlalu awal

– Ibu tidak memperhatikan keseimbangan gizi dan keanekaragaman makanan selama berbuka dan malam hari

– Ibu kurang asupan cairan. Selama puasa seharusnya asupan cairan tetap, yaitu tidak kurang dari 2000 cc per hari, dimana waktu untuk memenuhi kebutuhan cairan tersebut semakin pendek, sehingga memang ibu harus menyengajakan diri untuk minum meski tidak merasa haus

Bagaimana sebaiknya olahraga atau aktivitas fisik untuk ibu hamil selama puasa?

Olahraga dan aktivitas fisik dilakukan sore hari menjelang berbuka atau malam hari. Lakukan saja olahraga ringan, seperti senam ringan atau jalan kaki.

Berikut ini tips dan saran

1. Konsumsilah makanan dan minuman tetap sebagaimana biasanya, perhatikan keanekaragaman komposisi makanan untuk menjamin kecukupan gizi.

2. Niat berpuasa semata-mata hanya untuk Allah , adalah sangat penting, tentunya setelah dipastikan bahwa fisik ibu dan janin sehat. Hari-hari pertama jangan terlalu banyak aktivitas, kalau bisa jangan banyak keluar rumah mengingat saat Ramadhan nanti berada di musim kemarau yang panas.

3. Waktu sahur dianjurkan makan protein tinggi. Diakhiri dengan minum air putih. Suplemen dan susu tetap dikonsumsi seperti biasa.

4. Ibu hamil yang juga sedang menyusui anak yang lebih tua, hendaknya tidak berpuasa. Ini terjadi apabila jarak kehamilan terlalu dekat sehingga kehamilan sudah terjadi saat si kakak belum berusia 2 tahun. Jangan memaksa menyapih anak yang belum berusia 2 tahun dan masih menyusu hanya karena ingin berpuasa.

5. Ibu menyusui yang sedang dalam masa ASI Eksklusif seyogyanya tidak berpuasa. Ini karena selama 6 bulan bayi tidak mendapat nutrisi lain kecuali dari ibu dan selama berpuasa bisa terjadi penurunan produksi ASI. Selepas masa menyusui eksklusif (bayi usia 6 bulan ke atas), silakan berpuasa setelah memastikan bahwa tumbuh kembang bayi normal. Bagi ibu menyusui eksklusif yang mempunyai stok ASI Perah cukup banyak dan berlebih, bisa mencoba berpuasa.

Kapan waktu yang tepat untuk mengqadha puasanya untuk ibu hamil dan menyusui?

Mengqadha puasa dilakukan setelah melampaui masa pemberian ASI Eksklusif (setelah 6 bulan pasca persalinan). Karena itu dianjurkan untuk tidak hamil lagi dalam waktu dekat dengan menggunakan kontrasepsi.

MASJID NABAWI 2005-2015 [catatan umroh 2]

Masjid Nabawi tetap anggun. Mempesona. Setelah tahun 2005 menginjak lantai dinginnya untuk kali pertama, sepuluh tahun kemudian saya diberikan Allah kesempatan untuk kembali bersua. Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat, wajar sekali apabila banyak sekali perubahan. Meskipun demikian tetap saja beberapa hal masih sama, tetap menjadi ciri khas masjid nabi ini. Catatan saya tentang perubahan-perubahan tersebut antara lain : Nabawi - Sunrise Nabawi-Peringatan Batas Imam

  1. Payung-payung di pelataran. Dulu pelataran sangat panas di siang hari. Paling terasa di saat sholat dhuhur. Selama duduk menunggu waktu sholat, bolehlah pakai payung. Tapi di saat sholat tentu tidak mungkin. Bahkan saya sering menjumpai pemandangan seperti ini : jamaah sholat perempuan duduk berleret mengikuti bayangan tiang. Sekadar berlindung di keteduhan bayangan memanjang. Saya tersenyum saat melihat pemandangan itu. Sekarang dengan adanya payung-payung raksasa tersebut pelataran jadi teduh. Payung membuka dan menutup secara mekanis. Di saat malam, masjid dan menaranya bertaburan cahaya. Payung dalam kondisi menutup. Beranjak siang dan matahari meninggi maka mengembanglah payung-payung tersebut laksana jamur raksasa merekah. Dalam foto di atas tampak bola matahari baru terbit dan payung baru menutup.
  2. Inspeksi tas. Pemeriksaan tas atas semua jamaah perempuan masih dilakukan namun tak seketat dulu. Yang penting jangan masukkan ponsel berkamera ke dalam tas yang akan diperiksa. Apalagi kamera DSLR, jangan sekali-kali ya. Kamera saku atau kamera HP masukkan ke dalam saku baju. Kemudian sodorkan tas untuk diperiksa sebelum diminta. Sekarang bahkan orang sibuk berfoto ria hatta itu di balik punggung asykar. Di dalam masjid, berselfi, wefi atau sekadar memotret bagian-bagian masjid menjadi pemandangan yang sangat biasa. Meskipun demikian di setiap pintu masuk masih tertulis dengan running text “dilarang memotret di dalam masjid”. Sebenarnya sungguh sayang kalau keindahan interior maupun aktivitas di dalam masjid tidak terabadikan. Ini menurut pendapat saya. Asalkan kegiatan tersebut jangan sampai mengganggu waktu sholat dan mengganggu kenyamanan jamaah lain.
  3. Pemisahan tempat sholat untuk jamaah perempuan dan laki-laki masih diberlakukan. Sama seperti dulu. Pintu perempuan ada 2 buah, salah satunya adalah pintu Utsman.   Namun di dalam area perempuan masih dipisahkan lagi antara perempuan yang membawa bayi/anak dan yang tidak. Area dibatasi dengan pintu kayu tebal yang bisa digrendel. Ada peringatan di setiap pintu, ditambah asykar yang berjaga di sana untuk mengarahkan para jamaah. Uniknya, peringatan dalam bahasa Indonesia ada salah tulis , yakni  “tanpa” ditulis “tanap” . Pintu tersebut juga akan dikunci saat giliran jamaah perempuan berziarah ke Raudhah. Setelah diumumkan bahwa waktu ziarah ke Raudhah telah tiba, maka rombongan yang akan ziarah digiring ke shaf terdepan kemudian pintu dikunci. Yah, semacam penyeterilan area begitulah. Namun harus saya akui bahwa sistim pengaturan ke Raudhah sekarang sudah lebih baik dibandingkan 10 tahun yang lalu. Bahkan antara jamaah asal Asia Tenggara yang mereka sebut dengan Melayu, dan Asia Tengah/Selatan yang fisiknya lebih besar pun dilakukan pemisahan saat persiapan menuju ke Raudhah. Alhamdulillah, pada kali ini saya dapat “menikmati” ziarah ke Raudhah. Mengetahui batas-batas mana Masjid Nabawi yang awal dan yang perluasan, melihat mimbar imam, dan mengetahui Raudhah tidak hanya dari warna karpetnya saja.

Nabawi - Bahagian Khusus Wanita Tanap Anak

  1. Para jamaah yang sudah lansia dan sudah sulit untuk melakukan sholat secara normal alias harus duduk di kursi, dulu harus menenteng sendiri kursi lipat mereka. Sekarang tak perlu membawa-bawa kursi kemana-mana, karena di dalam masjid sudah disediakan kursi lipat. Ada wadahnya. Siapa yang butuh tinggal ambil, buka kursi, dan duduk. Setelah selesai tentu harus dikembalikan ke tempatnya.

Madinah-Wadah Kursi Lipat

  1. Perubahan yang lain tentu semua sudah tahu….tak lain adalah makin banyaknya hotel. Sehingga hampir keseluruhan sisi dari Masjid Nabawi sudah berhadapan dengan pintu hotel. Namun Alhamdulillah, masih tersisa lahan untuk bangunan megah non hotel. Yaitu gedung The Exhibition of The Beautiful of Allah names. Ada apa saja di dalam gedung pameran ini? Mohon sabar menunggu tulisan saya berikutnya…..(nin)

Perjuangan Mencapai Gua Hira [Catatan Umroh 1]

Dalam rangkaian ibadah haji atau umroh, kunjungan ke gua Hira sama sekali bukan merupakan syarat apalagi rukun. Gua yang terletak di Jabal Nur (jabal = gunung) ini lebih merupakan situs sejarah. Pendakian Jabal Nur juga merupakan optional dari city tour Makkah al Mukarromah. Maka tak semua anggota grup mendaftarkan untuk kunjungan ke gua Hira. Sewaktu ibadah haji tahun 2005, kami hanya ditunjukkan ancar-ancar lokasi gua dari kejauhan. Melihat leretan manusia di Jabal Nur yang terjal sembari dipanggang terik matahari membuat keinginan jadi surut seketika.

Namun, ada resep jitu untuk yang mau hiking ke gua Hira, yaitu berangkat sebelum subuh. Otomatis, “Harus ikhlas kehilangan sholat subuh di Masjidil Haram”. Meskipun tawaran ini ditujukan buat para usia muda – dan anak-anak tentu menyambut dengan antusias – suami tetap ingin kami berdua ikut. “Jangan khawatir, kalau sekiranya tidak kuat kita duduk-duduk saja di bawah”, demikian janji beliau.

Maka jam 4 dini hari kami sudah berkemas dan 30 menit kemudian sudah duduk berimpitan di minibus sewaan, meluncur ke Jabal Nur yang berjarak sekitar 5 kilometer dari Masjidil Haram. Tidak menggunakan bus resmi grup umroh karena tur ini tidak tercantum dalam daftar kunjungan. Sudah disepakati bahwa untuk 1 orang dikenakan biaya 30 SR.

Mobil berhenti di dekat sebuah mushola. Kami akan menunaikan sholat subuh terlebih dahulu. Tapi ternyata mushola tersebut masih terkunci. Maklumlah, model mushola di Saudi Arabia ini pakai pintu layaknya rumah tinggal. Beberapa saat kami celingak celinguk tiba-tiba muncullah seorang pemuda bergamis putih berjalan sedikit tergesa. Rupanya dia si pembawa kunci. Setelah membuka pintu ia pun langsung menuju ke depan mimbar dan melantunkan adzan. Merdu suaranya. Usai adzan, imam datang dan memimpin sholat subuh.

Suasana di lokasi awal pendakian mirip dengan di desa Penanjakan, menjelang naik ke gunung Bromo. Perumahan penduduk, terdapat warung-warung makanan dan cindera mata, dan raungan mesin-mesin mobil angkutan. Bedanya, angkutan di sini didominasi taksi. Hebat juga taksi Mekkah yang berupa sedan dan mobil SUV sekelas Avanza mampu naik dengan menderum-derum.

Menengok ke atas, tampak bayang-bayang hitam Jabal Nur tinggi menjulang. Seketika nyali ciut mengingat hiking terakhir saya adalah saat SMA, 32 tahun lampau!

Bismillah…mulailah perjalanan ini. Hawa sejuk segar, matahari belum terbit membuat kami semangat dalam melangkahi tiap anak tangga. Pemandangan sekeliling didominasi oleh bebatuan, gunung batu maupun jurang yang makin lama makin tampak dalam. Sekitar 15 menit mendaki di sebelah kiri mulai tampak kerlap kerlip cahaya. Kota Mekkah di keremangan subuh! Beberapa meter lagi menanjak mulai tampak jam raksasa Makkah, Royal Clock Tower atau Abraj al Bayt yang tingginya mencapai 601 meter. Sangat memukau! Dulu…..Rasulullah mengamati Ka,bah dari ketinggian sini.  Namun sekarang bangunan Ka’bah tak tampak karena sudah ‘tenggelam’ oleh bangunan hotel.

Dan langit di timur pun semakin memerah pertanda sang surya akan beranjak naik. Maka berpalinglah ke kanan….akan tampak pemandangan yang membuat diri ini begitu kecil di tengah kemegahan alam semesta yang diciptakan Allah SWT. Kita akan melihat bola merah matahari berada di tengah-tengan pegunungan batu dalam berbagai gradasi. Allahu Akbar!

Pemandangan Kota Makkah di Saat Subuh dari Jabal Nur

Fajar Menyingsing

Beberapa puluh meter mendaki bersama suami, terpaksa kami harus mengaso sejenak untuk memulihkan napas dan denyutan jantung. Haus…! Tapi apa daya air minum terbawa oleh anak-anak yang sudah tak tampak lagi sosoknya karena langkah mereka jauh lebih cepat. Beberapa kali kami berpapasan atau bersalipan dengan para jamaah berbagai negara yang juga mengaso.

Tiba-tiba seorang ibu tua – tampaknya jamaah asal Turki – yang sedang dalam perjalanan turun menggamit saya, dan dengan bahasa isyarat dia menyerahkan tongkatnya kepada saya. Saya terkejut dan menolak sambil mengucap terimakasih. Bayangkan, melihat keriput wajahnya usia si ibu saya taksir sudah 60an, lha kok malah tongkatnya mau dikasihkan ke orang yang lebih muda. Tapi si ibu tetap memaksa sambil mengisyaratkan bahwa perjalanan turun sudah tak memerlukan tongkat lagi. Maka saya terima tongkat tersebut dengan ucapan terimakasih yang tulus.  Ia ingin berbuat baik mengapa kita hambat? Nanti pada gilirannya, tongkat itu juga dapat jadi sarana saya berbuat baik.

Dengan melawan haus dan jantung yang seolah mau copot, akhirnya tibalah kami di puncak Jabal Nur! Tepat jam menunjukkan pukul 7.30 WSA. Yang terpikir saat itu adalah, betapa prima fisik Rasulullah SAW juga istrinya Khadijah ra. Terbukti hampir setiap malam gelap gulita beliau mengunjungi tempat ini yang pastinya waktu itu belum ada tangga-tangga yang memudahkan pendakian. Demikian pula ibu Khadijah yang konon beberapa kali mengunjugi Rasulullah saat sedang berada di dalam gua.

Sudah selesai? Ternyata belum, karena untuk mencapai gua tempat Rasulullah menerima wahyu pertama itu rupanya kita harus turun sedikit ke arah barat dan kemudian sampai pada jejeran beberapa batu raksasa yang membentuk celah. Terdapat tulisan di batu tersebut : “Baab Ghaar” yang bermakna Pintu Gua. Nah, kita harus melewati celah sangat sempit yang hanya muat satu orang tersebut. Sudah begitu, harus bergantian dengan jamaah yang juga mau lewat dari arah yang berlawanan, yaitu mereka yang sudah selesai kunjungan ke gua. Baru teringat peran penting pak Ogah di perempatan-perempatan jalan di Jakarta!

Singkatnya, setelah berhasil melewati celah tersebut kami tiba di sebuah tempat datar yang terbuka. Ada batu besar lagi bertuliskan lafadz surat Al Alaq ayat 1-5 , itulah pintu gua. Gua Hira sendiri ternyata sempit saja, berukuran sekitar 1 x 2 meter. Lantainya sebagian batu dan sebagian keramik. Ada 2 lembar sajadah terhampar. Jamaah berebutan untuk sholat di atasnya. Sebuah perbuatan yang tidak ada tuntunannya.

Di Depan Gua HiraPintu Gua

Memori saya langsung terbang ke masa hampir 1500 tahun lampau. Saat seorang laki-laki berusia 40 tahun, sedang sendirian dalam keheningan dan kegelapan tiba-tiba dikagetkan dengan kemunculan sosok laki-laki lain bercahaya putih. Jibril, laki-laki bercahaya tak dikenal itu, kemudian mendekapnya seraya memintanya melakukan sesuatu yang tak mampu diperbuatnya. Membaca! Ya, membaca! Menelusuri huruf demi huruf ternyata dapat menambah ilmu. Apa daya, Muhammad seorang yang buta huruf saat itu. Padahal, membaca adalah perintah Allah yang pertama bagi utusanNya. Sekaligus perintah bagi seluruh umatnya kelak. Tak pelak, sang malaikat penyampai wahyu harus mengeja untuk kemudian ditirukannya. Wajar, saking takut dan gemetarnya, bergegaslah ia turun gunung terjal berbatu itu menuju kehangatan rumahnya, menuju belahan jiwa yang menenangkannya, Khadijah binti Khuwailid.

Sejenak pandangan saya layangkan ke sekitar gua. Gunung batu di mana-mana. Nuansa coklat menyergap mata. Syukurlah, cuaca sangat bersahabat di pagi itu. Kami kembali ke puncak menuju “rest area”. Ada warung minuman dan makanan kecil, dan ada pula warung suvenir. Jangan heran apabila di antara makan kecil di warung terselip mi instan buatan Indonesia! Sambil makan jeruk kami ikut mendengarkan taushiyah berbahasa Inggris dari grup asal Kanada.  Di pojok sana, grup jamaah asal Pakistan berdzikir keras. sedangkan di luar warung sekelompok jamaah Turki sedang sholat sunnah.

Khawatir terlalu panas, kami segera beranjak turun.  Perjalanan turun Alhamdulillah bisa dijalani tanpa istirahat. Memakan waktu kira-kira setengah jam. Di turunan yang lebih santai ini, sempat bersua dengan beberapa satwa yang sudah pada bangun. Monyet, kucing, dan kawanan burung Merpati seolah menyapa jamaah.

Monyet Gunung

Yang unik adalah ide anak ke 4, Abdillah KF. Tiba-tiba saja dia sudah menyalip dengan membawa tas plastik besar. Rupanya jengkel dengan banyaknya sampah yang bertebaran di sepanjang undakan, dia berinisiatif memunguti sampah-sampah kering tersebut. “Aku mau GPS. Gerakan Pungut Sampah”, ujarnya sambil memasukkan botol plastik dan kaleng minuman ke dalam tasnya. Apa daya, baru turun beberapa meter, sampah sudah memenuhi 2 tas besar yang ditentengnya. Sebenarnya, kalau saya boleh saran ke pemerintah Kerajaan Saudi Arabia, situs-situs sejarah Islam seyogyanya dipelihara, dirawat, dan dijaga kebersihannya.   Apatah jadinya kalau nanti 20 – 30 tahun lagi generasi muda sudah tidak dapat menikmati keelokan Jabal Nur dikarenakan dipenuhi gunungan sampah?

Sesuai janji, dalam perjalanan turun ini saya memberikan tongkat kepada seorang ibu yang mendaki sendirian dan tampak kepayahan.  Semoga sedikit dapat mengurangi bebannya. (nin)

[Ramadhan Sehat] Wudhu Bisa Bikin Awet Muda

Meskipun pada hakikatnya semua amal perbuatan kita dapat bernilai ibadah, namun ritual ibadah yang frekuensinya meningkat di bulan Ramadhan adalah sholat dan tilawah Al Qur’an.  Dan aktivitas ibadah tersebut mensyaratkan pelakunya bersuci terlebih dahulu.  Tak pelak aktivitas berwudhupun akan meningkat.  Sebagai sarana pembersihan fisik dan batin yang mengandung nilai pahala, ternyata berwudhu pun bermanfaat secara medis.

  1. Dengan berwudhu maka terjadi pembersihan kulit.  Dan sebagaimana diketahui bahwa membasuh kulit selain membersihkan dari debu, keringat, dan kotoran lain yang menempel, juga dapat menghilangkan 90% mikroba patogen penyebab penyakit.  Selain itu, siraman air (wudhu) dapat meminimalkan pengaruh buruk dari pajanan sinar matahari yang mengandung ultraviolet.
  2. Gerakan wudhu paling awal yaitu membasuh dengan menggosok tangan, bermanfaat ganda yaitu,  selain dapat meminimalkan penularan penyakit virus, juga merupakan sarana melancarkan peredaran darah di bagian tangan tersebut.  Publikasi di British Medical Journal tahun 1997 menyebutkan bahwa kebiasaan mencuci tangan dapat menurunkan insidens penularan penyakit infeksi saluran napas (ISPA), dan temuan tersebut diadopsi berupa “gerakan mencuci tangan” yang marak akhir-akhir ini.
  3. Berkumur , beristinsyak (menghirup air sedikit dengan hidung), dan beristinsyar (mengeluarkan kembali), selain sangat berfaedah untuk membersihkan rongga mulut dari sisa-sisa makanan juga bermanfaat untuk membersihkan hidung. Hidung kita merupakan organ tubuh yang berfungsi untuk menyaring debu dan kotoran yang masuk ke saluran pernafasan.  Penelitian di universitas Iskandaria, Mesir,  menunjukkan bahwa rongga hidung dan langit-langit orang yang jarang bahkan tidak pernah  berwudhu lebih banyak mengandung kuman dan kotoran dibandingkan dengan milik orang yang selalu berwudhu.
  4. Membasuh wajah, selain membersihkan dari kotoran, kuman, dan debu, juga membuat wajah bersinar cemerlang.  Wajah juga terlihat awet muda dan kencang dikarenakan kelembaban kulitnya selalu terjaga.  Aliran air, diketahui merupakan masase alami yang dapat memperlancar peredaran darah di daerah kepala.  Lancarnya aliran darah dapat memberikan kesegaran dan menghilangkan kantuk.  Sehingga dapat dipastikan bahwa kita merasa segar saat mengerjakan sholat.  Secara psikis, berwudhu dapat menghilangkan keresahan dan kegelisahan sehingga dapat meredakan gejolak emosi.  Itulah sebabnya, Rasulullah menganjurkan umatnya untuk berwudhu tatkala mereka sedang dikuasai oleh emosi negatif yaitu amarah.
  5.  Membersihkan telinga luar dan dalam, sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah SAW tatkala berwudhu (diriwayatkan dari Ibnu Abbas), mempunyai manfaat medis yang besar dikarenakan telinga juga menjadi tempat berkumpulnya kotoran, debu, dan kuman.  Apabila telinga jarang atau tidak pernah dibersihkan maka kumpulan kotoran dan debu tersebut akan mengeras dan akan mengganggu pendengaran.  Sesuai dengan  anatomi telinga dimana susunan saraf dan tulang-tulang pendengarannya berkoneksi langsung dengan otak serta adanya saluran Eustachius yang menghubungkan antara telinga dan hidung, maka gangguan pendengaran dapat mempengaruhi fungsi indra yang lain, demikian juga sebaliknya.
  6. Bagian badan yang mendapat giliran terakhir untuk dibersihkan adalah kaki.  Kaki merupakan bagian tubuh yang harus bekerja berat dikarenakan fungsinya sebagai penyangga berat tubuh.  Ditambah lagi dengan berbagai aktivitas kita sehari-hari, maka kaki juga menjadi tempat berkumpulnya kotoran dan kuman sehingga rentan terkena infeksi.  Telapak kaki juga diketahui menjadi tempat berkumpulnya jaringan-jaringan saraf dari berbagai organ tubuh.  Kondisi inilah yang kemudian dimanfaatkan dalam metode pengobatan pijat refleksi. Maka, berwudhu seperti yang dilakukan oleh Rasulullah yaitu membersihkan sela-sela jari kaki dengan kelingking (sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah), selain  membersihkan juga berfungsi untuk merangsang ujung-ujung saraf pada jari kaki. Penelitian yang dilakukan oleh Prof. DR. Mujahid Abu al Mujjid dari universitas Al Manshurah, Mesir terhadap 5000 orang penderita diabetes yang rutin mengerjakan sholat menemukan fakta bahwa hanya 6% di antara mereka yang menderita luka kronik (ulcus diabeticum) di kaki.  Sementara data statistik menunjukkan bahwa angka kesakitan akibat luka tersebut mencapai 25%. (nin)

Gambar diambil dari http://www.republika.co.id

Falsafah Warna-Warna

Warna selalu ada dalam hidup kita.  Sadar atau tidak, kita pun terpengaruh oleh warna itu. Berawal dari rangsangan visual, kemudian dipersepsikan oleh otak, mempengaruhi hati dan jiwa, dan pada akhirnya bisa berdampak ke fisik.

Menurut pakar komunikasi visual, ada tiga kategori warna, yakni

1. Warna hangat : merah, merah muda, jingga, ungu, emas. Warna ini berefek meningkatkan kegairahan, menstimulasi

semangat.

2. Warna dingin : hijau, pirus, perak. Warna ini menenangkan serta membawa rasa sejuk.  Orang bertubuh gemuk, akan tampak lebih kurus jika mengenakan pakaian dengan warna dingin

3. Warna netral : coklat, gading, abu-abu, hitam

Daniar Wikan (http://daniarwikan.deviantart.com/journal/) mengistilahkan bahwa warna adalah bahasa yang disembunyikan.  Penjelasannya begini :

1. Warna bisa mewakili usia teretentu  : warna remaja cenderung cerah dan bersaturasi tinggi

2. Warna bisa mewakili suasana hati: orang berduka cenderung mengenakan pakaian hitam/gelap

3. Warna bisa menunjukkan kepribadian: merah menunjukkan berani, kuning percaya diri

4. Warna menunjukkan status sosial tertentu : sosek tinggi warna keemasan dan berkilau

5. Warna menunjukkan jenis  kelamin : ada warna maskulin (biru tua) dan warna feminin (pink)

6. Warna sebagai penanda waktu : di ruangan dgn warna panas waktu rasanya lebih cepat berlalu sehingga suasan kerja terburu-buru

Silakan diperiksa dan diterapkan sendiri, apakah benar begitu??

Sedangkan Al Qur’an punya konsep sendiri tentang warna.

Merah  : “Dan di antara gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang bermacam-macamwarnanya, dan ada (pula) yang hitam pekat”  (QS 35:27)

Putih menunjukkan sedih dan duka yang mendalam : “Aduhai duka citaku terhadap Yusuf,” dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan (QS 12:84)

Namun putih juga menunjukkan bersih dan berseri : ” Pada hari yang pada waktu itu ada muka yang menjadi putih berseri…”  “Adapun orang-orang yang menjadi putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (Surga)…) [QS 3:106-107)

Hijau dipakai untuk melambangkan surga dan kesuburan : “Dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelas emas dan memakai pakaian hijau dari sutra” (QS 18:31) atau “Apakah kamu tidak melihat, bahwasanya Allah menurunkan air dari langit lalu jadilah bumi itu hijau?”  (QS 22:63) atau “Yaitu Tuhan yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau …(QS 36:80)

Kuning  menunjukkan warna hewan (sapi) tapi juga untuk tumbuhan yang layu :” Musa menjawab:”Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning …”(QS 2:69) atau  ” Seolah-olah ia iringan unta yang kuning” (QS 77:33), atau ” Kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya menjadi kuning dan hancur ” (QS 57:20)

Hitam, menujukkan kelam, muram dan gelap :” Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap ALlah mukanya akan menjadi hitam” (39:60) atau “Dan dalam naungan asap yang hitam…” ( 56:43)

 

Bahan dan inspirasi :  Tarbawi no 285/XIV

Gambar : pixabay.com