Arsip

PUASA IBU HAMIL DAN IBU MENYUSUI. BAGAIMANA SEBAIKNYA DAN APA KIATNYA?

Bulan Ramadhan menjelang. Persiapan-persiapan telah dilakukan. Broadcast penyemangat dan nasihat telah bertebaran di media sosial bahkan semenjak bulan Rajab. Namun para ibu hamil terkadang galau. Antara semangat untuk menjalankan ibadah yang harus didukung fisik prima namun sangat sarat muatan ruhiyah, dengan kekhawatiran terhadap kondisi janin dalam kandungan, atau bahkan terhadap dirinya sendiri. Kuatkah?

Berbahayakah? Bagaimana seharusnya puasa ibu hamil?

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tidak didapatkan perbedaan yang bermakna terhadap keluaran bayi yang ibunya menjalankan ibadah puasa. Namun syarat dan ketentuan yang berlaku adalah : ibu harus dalam kondisi sehat demikian pula janinnya. Syarat ini hendaknya dipatuhi agar tidak ada yang dirugikan oleh sebab puasa. Karena pada dasarnya Allah Subhanahu wa Ta’ala sudah memberikan keringanan untuk tidak berpuasa bagi ibu hamil . Sebagai Sang Pencipta manusia, tentu Allah mengetahui bahwa ada kemungkinan puasa memberikan dampak negatif apabila dilakukan tanpa aturan yang bersifat kondisional.

Apa syarat dan ketentuan tersebut?

Puasa diperbolehkan apabila kondisi ibu sehat dan perkembangan janin normal. Ibu tidak ada gangguan makan, atau fase gangguan nafsu makan berupa mual dan muntah sudah terlewati. Keadaan semacam ini biasanya tercapai setelah kehamilan sudah melewati trimester 1, jadi usia kehamilan di atas 3 bulan. Kalau berdasarkan pengalaman saya, pada usia 5 bulan ibu sudah merasa nyaman dan nafsu makan sudah kembali normal. Dan jangan lupa, berat badan ibu sebelum hamil termasuk normal, dihitung dengan Indeks Massa Tubuh (IMT). Rumus menghitung IMT adalah TB (dalam meter) kuadrat dibagi dengan BB (dalam kilogram). Angka 22-25 menunjukkan normal. Selain itu kehamilan hendaknya tidak berkomplikasi dengan penyakit apa pun. Yang terbanyak dialami oleh ibu hamil adalah anemia (kurang darah) diakibatkan oleh kekurangan zat besi. Untuk mengetahuinya dapat dilakukan dengan pemeriksaan darah di laboratorium. Kondisi anemia ditandai dengan kadar Hemoglobin (Hb) kurang dari 11 gram%, atau kurang dari 10,5 gram% di trimester 2. Karena itu sebelum menjalankan ibadah puasa sebaiknya berkonsultasi ke dokter yang merawat selama ini. Pastikan bahwa kadar hemoglobin normal, berat badan normal, dan tidak ada penyakit yang menyertai. Demikian juga si janin harus dipastikan timbuh kembangnya normal sesuai dengan usianya.

Kondisi bagaimana seorang ibu hamil tidak boleh berpuasa?

Bila ada komplikasi pada kehamilannya, misalnya anemia (kadar Hb kurang dari 10,5 gr%), hipertensi, mual muntah yang berlebihan, berat badan di bawah normal, atau ada penyakit kronik yang menyertai kehamilan. Demikian juga apabila saat tengah menjalankan puasa tiba-tiba terjadi penurunan kadar gula darah (hipoglikemia) yang ditandai dengan sakit kepala, keringat dingin, pandangan kunang2, badan terasa lemas tak bertenaga, sebaiknya ibu hamil segera berbuka. Jangan merasa sayang dengan puasanya yang sudah sampai tengah hari, misalnya. Demikian juga jangan memaksakan diri berpuasa (dikuat-kuatkan) dengan alasan malas mengganti puasa (Qadha) di kemudian hari.

Bagaimana dampaknya jika seorang ibu hamil memaksakan berpuasa tanpa memahami syarat dan ketentuan tersebut?

Memaksakan diri puasa sedangkan diri sendiri dalam kondisi tidak sehat dan kekurangan nutrisi dikhawatirkan akan berdampak ke janin berupa Pertumbuhan Janin Terhambat (PJT) dan/atau BBLR (Berat Badan Lahir Rendah). Ibu anemia bisa berdampak bayi anemia. Kondisi kekurangan oksigen bisa menyebabkan kesejahteraan janin menurun dan stres dalam rahim. Seperti diketahui, anemia ditandai dengan rendahnya kadar hemoglobin, sedangkan hemoglobin tersebut merupakan sejenis protein yang berfungsi mengangkut oksigen ke seluruh sel-sel tubuh.

Apa kesalahan terjamak yg paling umum dilakukan ibu hamil saat berpuasa sehingga membuat tubuhnya drop, lemas, bahkan jatuh sakit?

Inilah kondisi yang sering dijumpai :

– Ibu memaksakan diri puasa karena merasa “kuat”

– Ibu tidak sahur, atau sahur terlalu awal

– Ibu tidak memperhatikan keseimbangan gizi dan keanekaragaman makanan selama berbuka dan malam hari

– Ibu kurang asupan cairan. Selama puasa seharusnya asupan cairan tetap, yaitu tidak kurang dari 2000 cc per hari, dimana waktu untuk memenuhi kebutuhan cairan tersebut semakin pendek, sehingga memang ibu harus menyengajakan diri untuk minum meski tidak merasa haus

Bagaimana sebaiknya olahraga atau aktivitas fisik untuk ibu hamil selama puasa?

Olahraga dan aktivitas fisik dilakukan sore hari menjelang berbuka atau malam hari. Lakukan saja olahraga ringan, seperti senam ringan atau jalan kaki.

Berikut ini tips dan saran

1. Konsumsilah makanan dan minuman tetap sebagaimana biasanya, perhatikan keanekaragaman komposisi makanan untuk menjamin kecukupan gizi.

2. Niat berpuasa semata-mata hanya untuk Allah , adalah sangat penting, tentunya setelah dipastikan bahwa fisik ibu dan janin sehat. Hari-hari pertama jangan terlalu banyak aktivitas, kalau bisa jangan banyak keluar rumah mengingat saat Ramadhan nanti berada di musim kemarau yang panas.

3. Waktu sahur dianjurkan makan protein tinggi. Diakhiri dengan minum air putih. Suplemen dan susu tetap dikonsumsi seperti biasa.

4. Ibu hamil yang juga sedang menyusui anak yang lebih tua, hendaknya tidak berpuasa. Ini terjadi apabila jarak kehamilan terlalu dekat sehingga kehamilan sudah terjadi saat si kakak belum berusia 2 tahun. Jangan memaksa menyapih anak yang belum berusia 2 tahun dan masih menyusu hanya karena ingin berpuasa.

5. Ibu menyusui yang sedang dalam masa ASI Eksklusif seyogyanya tidak berpuasa. Ini karena selama 6 bulan bayi tidak mendapat nutrisi lain kecuali dari ibu dan selama berpuasa bisa terjadi penurunan produksi ASI. Selepas masa menyusui eksklusif (bayi usia 6 bulan ke atas), silakan berpuasa setelah memastikan bahwa tumbuh kembang bayi normal. Bagi ibu menyusui eksklusif yang mempunyai stok ASI Perah cukup banyak dan berlebih, bisa mencoba berpuasa.

Kapan waktu yang tepat untuk mengqadha puasanya untuk ibu hamil dan menyusui?

Mengqadha puasa dilakukan setelah melampaui masa pemberian ASI Eksklusif (setelah 6 bulan pasca persalinan). Karena itu dianjurkan untuk tidak hamil lagi dalam waktu dekat dengan menggunakan kontrasepsi.

MENJADI AYAH ASI , HARUS BAGAIMANA? (Menyambut Pekan ASI Sedunia)

Breastfeeding Father

Anggota keluarga baru telah hadir. Rumah yang tadinya sepi mendadak ramai oleh tangis bayi. Kesibukan kantor terlupakan. Bayi merampas hampir 100 persen waktu ibu. Pekerjaan ibu baru hanya nguplek di dalam kamar. Setelah adzan subuh, bayi baru merem, setelah semalaman bergadang. Ibu pun masih sedikit pusing karena tidur bangun setengah jam sekali. Tapi apa daya, jam 6 pagi sudah waktunya mandi. He..he..siapkan ember, air hangat, baju bayi dan perlengkapannya. Bayi yang masih tidur pun digotong ke meja mandi. Di dalam air hangat biasanya mereka akan melek dan segar. Setelah mandi, dan menyusu sampai kenyang, barulah makhluk mungil itu tidur nyenyak.

Kesibukan baru yang menyita waktu tersebut bukannya tak menimbulkan masalah. Mulai dari sang ibu baru yang terampas “me time” nya, stres mendengarkan tangisan bayi yang melengking-lengking, apalagi kalau pemberian ASIX juga tak selancar yang diharapkan. Eh, ternyata sang ayah baru pun bisa juga bermasalah. Suami merasa tak dapat perhatian lagi dari istri. Ia merasa istri lebih sibuk dengan bayinya daripada melayaninya seperti waktu-waktu sebelumnya. Singkatnya, si ayah “cemburu” dengan anaknya sendiri. *lho*

Padahal, ada banyak yang bisa dilakukan ayah baru dalam menangani bayi baru lahir tersebut. Dengan turun tangannya suami, ada beberapa manfaat :

  1. Suami jadi terlibat penuh dalam pengurusan bayi mereka. Bukankah adanya bayi juga hasil “kerjasama” suami istri?
  2. Suami tidak merasa disisihkan, karena ia pun turut merasakan sibuk dan repotnya mengurus bayi baru
  3. Istri jadi punya waktu untuk beristirahat dan mengurus dirinya (baca : merawat dan merias diri)
  4. Kemesraan suami istri akan muncul sejalan dengan lebih longgarnya waktu istri.

Pertanyaannya, apa saja yang bisa dilakukan oleh suami? Banyak, ini diantaranya :

  1. Memberikan dukungan penuh kepada istri untuk menyusui bayi secara eksklusif. Jadi, suami harus ada di pihak istri dalam menghadapi ujian dari keluarga dan para tetua di keluarga dan lingkungan tempat tinggal. Lho, memangnya ujian kenaikan tingkat? He..he…tentu saja tidak. Namun sudah umum diketahui dan dialami bahwa godaan memberikan sufor kebanyakan justru datang dari keluarga sendiri. Melihat bayi menangis, ibu masih belum luwes dalam posisi menyusui, ASI yang baru keluar sedikit, bahkan ASI yang cukup banyak namun masih bening. Itu semua bisa jadi alasan untuk migrasi ke sufor. Pembenarannya pun bermacam-macam. “Cuma sedikit, kok” atau “ASInya sih tetap dikasih, sufornya buat tambahan saja” atau “Dikasih dotnya sekedar kalau pas ibunya lagi mandi saja”
  2. Menggendong bayi dan membawanya ke ibunya saat mau disusui di malam hari. Untuk yang ini, mau tak mau memang kaum suami harus belajar menggendong bayi. Tak perlu takut, bayi tak serapuh yang dibayangkan. Tubuh bayi juga cukup lentur. Yang penting diperhatikan adalah, jangan lupa untuk menyangga leher dan kepala bayi. Jangan menggendong dengan posisi tegak tanpa menyangga kedua bagian itu. Saat menggendong dengan posisi bayi berbaring, letakkan leher bayi di lekukan siku tangan kita. Istri pasti bahagia melihat suami mau turun tangan menggendong bayi sehingga dirinya bisa mandi dengan nyaman.
  3. Bayi bangun di malam hari tak selalu minta susu. Terkadang ia mengompol. Bisa juga merasa gerah atau kebalikannya, kedinginan. Bisa juga sekedar rewel karena sulit memulai tidur. Bagaimana mengetahui keinginan bayi tersebut? Memang diperlukan eksplorasi. Namun test sederhana ini bisa diterapkan untuk mengetahui apakan bayi ingin menetek atau sekedar rewel. Taruhlah jari di sudut mulut bayi, usapkan dengan lembut dan lihat reaksi bayi. Bila ia menoleh dan menyorongkan mulutnya ke arah jari kita maka ia memang ingin menyusu.
  4. Bila bayi bangun karena mengompol, tak perlulah membangunkan istri. Belajar mengganti popok sendiri tak terlalu sulit. Baik popok kain maupun diaper sekali pakai. Jangan pula beranggapan bahwa kalau sudah pakai diaper maka bayi akan dijamin nyenyak dan tak perlu ganti popok semalaman. Apalagi kalau bayi BAB. Bayangkan sendiri dengan diri kita, nyamankah tidur dengan feses di dalam diaper??
  5. Beri istri kejutan spesial. Jangan mentang-mentang mau menunjukkan jadi ortu yang baik mengurus anak lantas melupakan hobi dan kesenangan berdua. Tak ada salahnya membawakan istri makanan kesukaannya, atau oleh-oleh yang lain. Bisa juga, “menculik” istri barang 1 atau 2 jam untuk pergi jalan-jalan keluar. Kalau istri mau nyalon sebentar guna luluran atau sekedar potong rambut pun. Monggo. Ingat ya….jangan lebih dari 2 jam. Dan pastikan ada stok ASI perah yang cukup untuk persediaan
  6. Beri istri kado spesial. Tak ada salahnya membawakan oleh-oleh spesial untuk istri. Sehelai daster cantik, sebuah buku novel, atau chicken soup ibu-ibu baru, bisa jadi kejutan yang menyenangkan. Ingat saja kado-kado dari para penjenguk…rata-rata yang diberi kado adalah bayinya. Hanya sedikit – kalau bisa dikatakan tidak ada – yang ingat akan ibunya. Nah, kado buat ibunya datang dari suami tercinta…ehm.

SELAMAT MERAYAKAN PEKAN ASI SEDUNIA

diadaptasi dari sleepingshouldbeeasy.com

(Pekan ASI Sedunia) Menyusui di Kantor, Bagaimana Enaknya?

 

MENJELANG KEMBALI BEKERJA

 

Hari-hari menjelang habisnya masa cuti bersalin bagi ibu menyusui terkadang membuat galau.  Bukan hanya karena harus meninggalkan si bayi yang baru berusia 3 bulan (bahkan ada yang cuti bersalin  hanya dijatah 2 bulan, atau yang lebih ekstrem lagi, 40 hari!), tapi juga memikirkan bagaimana kelanjutan dari pemberian ASI eksklusif (selanjutnya disingkat ASIX).

 

Disambung dengan susu formula?

 

“Oh, tidaaaaakkk! Aku tidak sekejam itu”, demikian tanggapan para ibu sejati.

 

Memang, semua itu bisa disiasati, asalkan tahu hak dan kewajiban ibu bekerja yang juga menyusui. Demikian juga si ibu juga mesti rela bersusah payah dan sedikit repot dalam hari-harinya.

 

Awalnya, sekitar 1 bulan sampai 2 pekan sebelum masa cuti habis, mulailah dengan mengumpulkan  ASI perah (selanjutnya disingkat ASIP).  Ini nantinya sebagai stok awal ASIP.  Caranya tentu saja dengan memerah ASI dari payudara dan menyimpannya dalam berbagai wadah.  Mengapa saya katakan berbagai wadah? Ya, karena banyak pilihan wadah untuk menyimpan ASIP tersebut. Di antaranya:

 

  1. Botol kaca (ada yang bertutup karet dan ada yang bertutup plastik), ada yang khusus untuk ASIP, ada pula yang menggunakan botol bekas minuman You C 1000
  2. Botol plastik (pastikan keamanan bahannya), atau botol  bermerk yang biasanya digunakan untuk dot
  3. Kantung plastik seukuran es mambo atau yang lebih besar
  4. Kantung klip plastik khusus untuk ASIP
  5. Wadah lain yang bertutup dan berbahan aman.

 

Nah, biasanya bayi cukup kenyang dengan menyedot habis ASI dari satu payudara, dan kemudian tertidur. Saat itulah, kosongkan ASI pada payudara sebelahnya dengan cara memerah. Ada berbagai macam cara untuk mendapatkan ASIP, yaitu :

 

  1. Memerah dengan tangan (ini yang paling dianjurkan)
  2. Memerah dengan pompa elektrik (bisa agak santai, tapi harga lebih mahal)
  3. Memerah dengan pompa manual

 

Alat atau cara apa pun yang dipilih, pastikan bahwa kondisinya bersih.  Tangan harus dicuci dulu sebelum memerah. Demikian juga apabila memerah menggunakan alat, maka peralatan tersebut harus dalam keadaan telah dicuci sehingga bersih, baik sebelum maupun sesudah penggunaan.  Bila produksi ASI baik, sekali memerah bisa mendapatkan minimal 100 cc dari kedua payudara. Ingat, memerah ASI harus dalam situasi dan kondisi yang tenang dan menyenangkan.  Bahkan ada yang menganjurkan si ibu untuk melihat foto bayinya sembari memerah.  [nin]

bersambung

 

 

 

Penghargaan untuk Para Ibu! Hak Menyusui pun Dijamin Undang-Undang

UNDANG-UNDANG

REPUBLIK  INDONESIA

NOMOR 36 TAHUN 2009

TENTANG

KESEHATAN

PASAL 126

(1) Upaya kesehatan ibu harus ditujukan untuk menjaga kesehatan ibu sehingga mampu melahirkan generasi yang sehat

dan berkualitas serta mengurangi angka kematian ibu.

(2) Upaya kesehatan ibu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi upaya promotif, preventif, kuratif, dan

rehabilitatif

(3) Pemerintah menjamin ketersediaan tenaga, fasilitas, alat, dan obat dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan ibu

secara aman, bermutu, dan terjangkau.

PASAL 128

(1) Setiap bayi berhak mendapatkan air susu ibu eksklusif sejak dilahirkan sampai 6 (enam) bulan, kecuali atas indikasi

medis.

(2) Selama pemberian air susu ibu, pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara

penuh dengan penyediaan waktu dan  fasilitas khusus.

(3) Penyediaan fasilitas khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diadakan di tempat kerja dan tempat sarana umum.

PASAL 129

(1) Pemerintah bertanggung jawab menetapkan kebijakan dalam rangka menjamin hak bayi untuk mendapatkan air susu

secara eksklusif.

(2) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah

PASAL 200

Setiap orang yang dengan sengaja menghalangi program pemberian air susu ibu eksklusif sebagaimana dimaksud dalam pasal 128 ayat (2), dipidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah)

Penjelasan:

Pasal 128  ayat (1) : yang dimaksud dengan “pemberian air susu ibu eksklusif” dalam ketentuan  ini adalah pemberian hanya air susu ibu selama 6 bulan dan dilanjutkan sampai dengan 2 (dua) tahun dengan memberikan makanan pendamping ASI (MP-ASI) sebagai tambahan makanan sesuai dengan kebutuhan bayi.

Yang dimaksud dengan “indikasi medis” dalam ketentuan ini adalah kondisi kesehatan ibu yang tidak memungkinkan memberikan air susu ibu berdasarkan indikasi medis yang telah ditetapkan oleh tenaga medis.

Sehingga….. tidak memberikan ASI eksklusif bisa dikategorikan melanggar hak bayi dan dengan demikian melanggar undang-undang!

Wahai kaumku, Selamat hari ibu!

Kisah Seorang Dokter dan Perjuangan ASInya

PROLOG :

Tulisan dibawah ini saya kutip dari http://kesehatan.kompasiana.com/ibu-dan-anak/2012/12/14/asi-dan-energi-cinta-yang-meluap-luap-516650.html.  Ditulis oleh seorang SpOG muda yang menimba ilmu di tempat yang sama dengan saya.  Meskipun berbeda jarak bilangan tahun yang cukup jauh, namun ternyata energi yang menggerakkan tetap sama.  Silakan menyusuri kalimat demi kalimatnya. Semoga mendapatkan limpahan energi yang semakin meluap…..

ASI dan Energi Cinta yang Meluap-luap

Niken A. Zafrullah, dokter kandungan, ibu 2 anak

Sudah banyak orang tahu, ASI adalah makanan terbaik untuk bayi. Banyak pula yang paham, ASI tak tergantikan oleh susu formula termahal manapun. Banyak yang bertekad untuk menyusui bayinya secara eksklusif, atau bahkan sampai dua tahun penuh seperti anjuran kitab suci. Pun tak perlu pengesahan dari Komnas HAM maupun Komnas Perlindungan Anak untuk memahami bahwa ASI adalah hak bayi, dan kewajiban ibu untuk memberikan. Namun, tak sedikit yang kecewa karena gagal untuk menggenapkan penyususan hingga 6 bulan, lupakan target 2 tahun penuh itu. Banyak di antara wanita, dan suaminya, yang mengeluhkan berbagai kendala, sehingga tujuan mulia penyusuan harus terhenti di tengah jalan. Diiringi isak tangis dan perasaan teriris, banyak pasangan yang terpaksa membuka kaleng, membuatkan susu formula lalu memberikannya pada buah hati mereka.

Perkenalkan, saya seorang dokter kandungan, ibu 2 orang anak. Di mata beberapa sahabat, saya dipandang ‘sukses’ menyusui. Sebagai ibu bekerja, saya berhasil menyusui Abel, anak pertama saya, sampai 2 tahun penuh, termasuk di dalamnya tetap menyusui Abel saat dia berusia 18 bulan dan saya dinyatakan hamil lagi. Kemudian saya juga menyusui Adam, anak kedua, sampai sekarang ia berusia 11 bulan. Di samping itu, saya menjadi ibu donor ASI bagi 6 bayi lainnya.

Benarkah saya ‘sukses’? Anda yang menilai. Banyak rekan yang ingin tahu apa rahasia sukses saya. Tak terhitung yang datang kepada saya mengeluhkan berbagai halangan dalam proses penyusuan, dan ingin dicarikan solusi. Tak sedikit yang menangis dan ‘mutung’ menghadapi perjuangan dalam menyusui. Ya, meskipun semua orang tahu menyusui adalah hal normal dan natural, hanya mereka yang masuk dan ikut berproseslah yang tahu bahwa menyusui adalah sebuah perjuangan. Perjuangan yang menguras keringat, darah dan airmata.

Keringat? Ya, karena memposisikan bayi pertama kali untuk bisa menyusu efektif itu tak jarang sampai berkeringat. Menghadapi situasi ‘bingung puting’, keringat menetes tanpa segan-segan. Memompa ASI saat ibu bekerja itu memerlukan usaha yang tak enteng. Menyusui itu berkorban keringat. Darah? Tak percaya bahwa menyusui itu meneteskan darah? Tanyakan pada mereka yang merasakan putingnya lecet. Nyerinya tak terkira. Wahai para ayah, pernahkhh Anda merasakan lecet di lutut karena jatuh menggores aspal? Hanya lecet saja, tidak sampai luka. Perih kan? Nah, bayangkan lecet itu terjadi di puting payudara ibu menyusui dengan saraf sensoris yang 100 kali lipat dari sensoris lutut, belum tentu Anda sanggup menanggung. Lalu jika lecet itu tak berkesudahan, disebabkan posisi dan pelekatan mulut bayi ke payudara ibu yang tak kunjung diperbaiki, maka lecet itu akan mengerung, membentuk ulkus terbuka dengan darah yang tampak nyata. Menyusui itu membutuhkan pengorbanan darah nyata yang mengalir. Ngeri? Tak hanya ngeri, juga nyeri. Karena itulah menyusui juga menguras airmata. Meski telah menguras keringat dan berdarah-darah, ibu menyusui juga harus menyaksikan bayinya masih terus rewel meski telah menyusu terus-menerus. Keadaan yang membuat ibu mertua dan suami atau bahkan tetangga meragukan ‘keabsahan’ ASI untuk bayi. Tudingan ‘ASI-mu tak cukup’ atau ‘ASI-mu tak berkualitas’ yang kerap datang, disertai jerit tangis buah hati, tak urung menggoyahkan pertahanan ibu yang telah bertekad bulat sekalipun untuk menyusui. Bimbang, itu yang terasa. Airmata, itu yang mengalir.

Semua yang saya sebut di atas, pernah saya jalani. Meski saat hamil saya sudah mencari tahu seluk-beluk ASI dan laktasi, sayapun pernah di titik terendah sebagai ibu baru dalam kubangan keringat, darah dan air mata. Ironisnya, mental saya sampai jatuh oleh kata-kata orang yang harusnya tidak saya hiraukan. Dia, asisten yang saya bayar untuk membantu mengasuh anak saya kelak saya bekerja. Seorang asisten yang hanya lulusan SD. Dia berkata, “ Adek Abel nangis terus, Bu. ASI Ibu kurang. Majikan-majikan saya sebelum ini pakai susu yang mahal-mahal, anaknya sehat-sehat semua lho, Bu.” Dengan kondisi sebagai ibu baru yang kurang tidur, menderita puting lecet dan mendengar anaknya menangis tak terputus, tak diragukan lagi, airmata sayapun berderai-derai.

Tapi lihatlah saya kini, bekerja sebagi dokter kandungan. Jam kerja relatif lebih panjang daripada pekerja kantoran, disertai panggilan-panggilan mendadak karena pasien melahirkan. Jam memompa ASI yang tak jarang baru 6 jam kemudian terulang, tak tunduk pada ketentuan 2 – 3 jam sekali ASI harus dikeluarkan, karena memenuhi jadwal operasi dan praktik di polikliniik kebidanan dan kandungan. Belum lagi beban stres pekerjaan yang tak jarang membuat ASI hanya malu-malu menetes saat diperah. Tapi Abel berhasil tak tersentuh susu formula (selain yang diam-diam diminumkan asisten saya itu, dari kaleng susu yang dibawakan rumah bersalin sebagai ‘sangu’) sampai 2 tahun. Adam juga ‘suci’ karena hanya minum ASI, selain MPASI rumahan yang saya buat.

Apa rahasia ‘sukses’ saya itu? Cinta. Hanya itu.

Okelah, saya akan membagi beberapa pemikiran yang melandasi tindakan saya untuk menyusui. Yang pertama, adalah pemahaman bahwa ASI yang terbaik. Dalam pengetahuan saya sebagai dokter, ASI tak tergantikan oleh apapun. Sebagai dokter kandungan yang saat itu sedang cuti melahirkan, saya tahu bagaimana kesibukan pekerjaan saya ‘mengancam’ kelangsungan proses menyusui saya. Sebagai seorang adik, saya bergidik menyaksikan kakak perempuan saya yang bekerja, jungkir balik memompa ASI bagi anaknya, yang kebetulan ASI-nya boleh dibilang ‘kejar tayang’. Padahal kakak saya adalah pekerja kantoran, yang ritme hidupnya teratur, jam kerjanya ‘9 to 5’, 5 hari kerja dalam seminggu. Sedangkan pekerjaan saya? Tapi, sebagai seorang ibu yang melihat bayi yang baru dilahirkannya, saya merasakan jatuh cinta yang sangat dalam.

Tak lulus saya sebagai peserta didik dokter spesialis kebidanan dan kandungan, bila otak saya tidak bisa diputar untuk menguasai keadaan. Dengan dukungan suami yang penuh cinta, keterpurukan dalam keringat, darah dan airmata yang berderai-derai saya hentikan dengan menghubungi konselor laktasi. Saya dibantu untuk memperbaiki pelekatan mulut Abel ke payudara saya. Beres, puting menyembuh, darah tak lagi mengucur, dan Abelpun menggendut dalam waktu sebulan bertambah 1800 gram dari berat lahir. Keyakinanpun memuncak, ASI saya bagus dan cukup. Sayapun menyusun strategi untuk mendepo ASI sebanyak-banyak sebelum mulai bekerja lagi. Tepat di pagi hari sebelum masuk kerja, saya berhasil mengumpulkan 120 botol ASI dalam kurun 5 minggu pasca kelahiran. Sayapun melenggang dengan tenang untuk kembali ke ‘pelukan’ pasien-pasien saya. Akan halnya asisten yang telah menjatuhkan mental saya? Akhirnya dia terbukti ‘telah lancung ke ujian’. Selain diam-diam meminumkan susu formula ke Abel, diapun terbukti mencuri, dan gemar bergunjing ke tetangga. Nah, Allah telah membukakan jalan bagi saya. Asisten itu saya berhentikan. Maaf, saya tidak butuh energi negatif macam itu.

Muluskah proses menyusui setelah itu? Telah saya katakan, menyusui itu perjuangan. Stres pekerjaan, jam kerja yang menyambung jam jaga dilanjutkan jam kerja lagi, sehingga harus meninggalkan rumah 36 jam nonstop, 2 kali seminggu, tidak saya sombongkan sebagai hal yang mudah. Ciutnya nyali saat melihat ASI segan menetes saat dipompa, kerap menghampiri. Beratnya mata saat harus tetap berjaga untuk tetap menyusui atau memompa ASI di tengah malam sungguh menggoda untuk menyudahi semuanya dan memilih tidur saja.

Tapi kemudian saya tanya diri sendiri. Untuk apa saya masih di rumah sakit, pukul 1 dini hari, dan dengan baju yang berlumuran darah orang lain? Untuk pasien. Bayi siapa yang saya lahirkan pukul 4 shubuh? Bayi orang lain. Lalu, pantaskah saya mengeluh malas memompa ASI demi bayi saya sendiri di rumah? If you’ve gone that far for someone else’s baby, how far would you go for your own baby? Pertanyaan itu membentuk repetisi di benak saya. Lalu saya pandangi Abel dalam tidurnya. Wajah yang damai itu. Wajah yang lucu itu. Wajah yang tak berdaya itu. Menimbulkan keinginan untuk melindunginya, memberinya yang terbaik, mengorbankan apapun deminya, termasuk jiwa raga saya. Belum lagi perasaan yang timbul saat menyusuinya. Perasaan dicintai secara absolut oleh seorang makhluk hidup di dunia ini. Perasaan yang membuat cinta yang telah ada ini semakin meluap-luap. Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya tersadar bahwa di dunia ini ada yang lebih daripada menjalani hidup sebagai dokter dan sebagai istri.

Adalah menjadi Ibu, membuat hidup saya sangat berarti karena dibutuhkan mutlak oleh manusia mini yang ternyata hidup dan punya masa depan. Melindunginya menimbulkan cinta. Mencintainya menimbulkan rela. Mencintainya membutuhkan media pengungkapan. Media itu adalah menyusui. Jika orang menyebutkan bahwa ASI adalah hak bayi, maka saya memandang menyusui adalah hak ibu. Ibu berhak untuk mengungkapkan cintanya yang meluap-luap. Ibu berhak merasakan bahwa dari organ terintimnya, yaitu payudara, bisa memuaskan anaknya, darah dagingnya. Ibu juga berhak merasakan adanya koneksi yang menghubungkan ia dengan bayinya meski tanpa ada kata terucap. Ibu berhak untuk mendapatkan pendengar absolut, yang setia mendengarkan dendangnya walaupun sumbang tak tentu nada. Ibu berhak untuk tetap dicium, apapun aroma yang menguar dari tubuhnya. Ibu berhak atas perasaan nyaman yang tak terlukiskan saat menyusui bayinya. Ibu juga berhak merasa yakin, bahwa saat ia bekerja, sang buah hati di rumah tetap merasakan ‘sari’ sang ibu, melalui ASI perah. Sayalah ibu itu. Saya berhak atas semua itu. Menyusui adalah hak saya.

Maka, timbullah energi untuk menguasai keadaan. Energi untuk menerobos segala halangan yang menghadang. Energi untuk membangunkan saya di malam hari. Energi untuk mengenyahkan kemalasan. Demi cinta saya untuk Abel, juga Adam kini. Juga cinta untuk suami, yang darinya saya bisa punya dua anak mengagumkan. Jadi, apa rahasia saya untuk sukses menyusui? Tak ada. Saya hanya punya cinta yang meluap-luap. Itu saja.

EPILOG :

Ternyata energi itu tetap ada, bukan? Semoga setelah ini para ibu akan kembali terpompa semangatnya, yang dengan semangat itu mampu mengalirkan kembali ASI (yang katanya) hanya tersendat-sendat.  Ketahuilah bahwa yang betul-betul tidak bisa menyusui dikarenakan kelainan genetik/hormonal hanya sekitar 1% saja, bahkan kurang dari itu.  Semoga setelah membaca, para bapak akan bersemangat untuk mendukung dan melindungi istrinya, ibu dari anaknya agar terjaga pemberian ASInya.  Dan juga buat para ibu dan ibu mertua, sang nenek dengan cucu baru, sadar dan bahagia, bahwa demi kualitas keturunannya, maka sang putri rela bersusah payah.  Karena itu perlu diberi semangat dan penguatan mental.

NB. Boleh tengok tulisan terkait di sini

Fakta dan Pemikiran tentang ASI (2) Kumpulan QN MP

  • ASI membangun OTAK, sedangkan SUSU FORMULA  membangun OTOT” (Satgas ASI PP IDAI, Republika 31/3/2011) Prihatin….baru 15,3% Ibu yang memberikan ASI EKSKLUSIF!
  • Keberhasilan menyusui adalah keberhasilan ayah. Kegagalan menyusui adalah kegagalan ayah.  Dari 115 ibu yang tahu manfaat ASI, hanya 26.9% yang berhasil menyusui tanpa dukungan ayah.  Namun jika ayah mendukung, keberhasilan meningkat jadi 98,1% ! (Dr. Utami Roesli, Ketua Sentra Laktasi Indonesia dalam Parents Indonesia Juni 2011) Komentar MP : @Mawaddah1985 : ada kayak sertifikat gitu bu dari AIMI utk anak yang lulus ASIX disebutnya S.ASIX
    kalo sampe 12 tahun Master ASI (M.ASI)
    kalo 2tahun apa ya lupa…

    bisa didownlad di sini bu: http://aimi-asi.org/about/sertifikat-asi/
    ada sertifikat buat ayahnya dan keluarga lain juga 😀

 

  • 1 – 7 Agustus 2011 adalah pekan ASI sedunia.  Ibu-ibu yang sedang ASI eksklusif….mengalah dulu untuk tidak puasa ya.  Insya Allah ganjarannya akan dilipatgandakan Allah. Komentar MP : @ayudiahrespatih : wah anak saya udah 2 thn lebih sepertinya ga apa2 donk shaum meski masih menyusui:D, @diancambai : inget 3 tahun lalu, sebulan gak puasa..:), @bundaaznin: Aku 2 kali nyusuin ASI eksklusif pas ketemu puasa…
    4 hari kmrn aku ngga puasa krn msh ASIX baby nida (2.5 bln). Hari ini aku coba puasa, mau liat kondisiku&hasil perahan sambil nyusuin.tp klo ngga kuat atau hsl perahan menurun dan encer aku batalin.
    Dokter, klo kita paksain puasa apa pengaruh ke kualitas ASi ya?, @mawaddah1985 : saya dapat info dr milis AIMI bu, bahwa tidak apa2 puasa saat masih ASIX, asalkan saat sahur diperhatikan banget komposisi makanannya,
    diperbanyak lebih baik. lalu di malam hari dari buka sampai sahur diperbanyak asupan air putih (tetep minimal 3 liter per hari)
    InsyaAllah si tidak pengaruh ke kualitas dan kuantitas ASI…
    Dan cukup banyak ibu menyusui ASIX berhasil tetap puasa..

    mohon koreksi… , @saya : pada umumnya kuantitas berkurang. Mungkin ada beberapa ibu yg dianugerahi ASInya berlebihan, jadi stok ASIPnya juga banyak. Allah SWT sudah memberi keringanan, tentu ada hikmahnya. Kalau saya melihatnya, para ibu memaksakan puasa lebih karena ‘malez’ punya kewajiban bayar hutang. Hayooo…ngaku

  • Anak ASI lebih cerdas daripada anak non ASI. Skor IQ anak ASI 3 bulan : 2,1 lebih tinggi daripada non ASI. ASI 4-6 bulan : 2,6 lebih tinggi, dan ASI > 6 bulan: 3,8 lebih tinggi. (penelitian dilakukan pada 468 anak yang dilahirkan dari ibu non perokok selama 7 tahun di Polandia. (22/11/11).  Komentar MP : @nozy99 : alhamdulillah, walau sempet ga begitu deras, alhamdulillah sampai saat ini ASI nya thoriq masih ngocor kaya keran 😀
    jzk infonya dok, @diancambai : hihhi, si Billa 2 thn 10 bulan ASI mbak pritta..:) mudah2an ntar adiknya bisa 2 tahun juga.. amin, @myelectricaldiary : dan anak ASI biasanya jauh lebih kebal daya tahan tubuhnya ^^, @wliyand : Semangaaaattt pumping terus nih,.. cadangan di kulkas hampir menipis. alhamdulilah si bani sehari habis 700 cc, tapi yg di pumping dr pagi sd sore max dapet 550 cc. jadi PRnya hari libur mengisi botol2 asip itu. apalagi di cibinong kalo hujan kecil aja mati listrik,.. deg-degan asipku harus segera diselamatkan!!!.. betul bu,..harusnya punya termos es skrg cuma punya ice bag (cuma cukup 6 botol 100 mili saja) yg biasa dibawa ke kantor.@ratusitimariam : Semangat!!! *baru kehilangan 19 botol asip beku karena kelalaian sendiri*sy klupaan set balik suhu kulkas stlh defrost, baru ketauan stlh pulang kerja krna yang di rumah juga gak ngeh.., @amaliacelebi : ingat awal perjuangan memulai asi, sampe berdarah2x krn luka iritasi *mungkin jg salah caranya* sampe akhirnya anak saya skrg sdh berumur 36blnpun msh berjuang utk menyapihnya ;D Masha Allah ASI memang luar biasa ya dok, slain ke perkembangan otak, jg ke daya tahan tubuh sekaligus obat ketika virus menyerangnya….Alhamdulillah seminimal mungkin menghindari pemberian obat2xan selagi terkena flu, home treatment dan ASI andalannya *selain DOA pastinya :D*
  • SATU LAGI! Hikmah dan keuntungan ASI Eksklusif :  sebagai metode kontrasepsi (Metode Amenore Laktasi) yang cukup efektif asalkan memenuhi syarat yang cukup ketat : memberikan ASI eksklusif, ibu belum haid (kembali), anak belum berusia 6 bulan.  (posting dalam rangka hari kontrasepsi dunia, 26 September)Komentar MP: @rhedina : Oohhh…belum haid kembali ya Dok..he..he.. dulu ndak tau..eaalaaaahhh…kebobolaaan…:D, @Azitafebriani : Kira2 kalau untuk ibu yang udah ga menyusui lagi, metode kontrasepsi apa yang paling sedikit efek sampingnya ya dok?

ASI, Pemikiran dan Fakta-Fakta (1) Kumpulan QN

  • Mengapa para ibu di era terkini (termasuk para muslimahnya) , saat baru melahirkan bayinya, yang terpikir adalah : “susu formula merk apa, ya yang terbaik untuk kuberikan kepada bayiku?”  Rupanya gempuran iklan dan promosi membuat ‘lupa’ terhadap fasilitas eksklusif dari Allah SWT, yaitu ASI (uneg-uneg berdasarkan pengalaman) @Jasmine : gak nyadar ,kalau susu terbaik ada pada dirinya………..korban iklan ………….kasihan ya.. ;@ Intan 0812: aku gak gt kok dr….. gak kepikiran
    itu mah ibu2 yang mau gampang aja kali ; @Dinithea: aku gak kok 🙂 malah hunting cari dokter yg mau inisiasi dini ; @ lembarkertas : masak sih Mbak? Aku nggak gitu kok. Ibu yang nggak tahu manfaat ASI aja kalee… emang berapa persen responden yang bilang seperti itu? (pengin tahu mode on) :); @wulan : kalo sampelnya para MPers hipotesis saya 90% pro-ASI. pintar2 dan kritis2. orang2 yg sadar teknologi biasanya sadar pengetahuan juga.
    lain lg klo sampelnya d RS swasta yg kurang kuat program ASInya dan terinfiltrasi merk susu bayi tertentu =(
  • (BERITA GEMBIRA BUAT FANS ASI EKSKLUSIF! )  Ternyata, sejak bulan November 2009 telah disahkan UU no 36 thn 2009 ttg kesehatan khususnya ttg ASI. Intinya menyatakan bahwa semua pihak diminta untuk mendukung pemberian ASI secara eksklusif kpd bayi baru lahir hingga usia 6 bulan. Selanjutnya dari pasal 200 UU tsb tertulis konsekwensi bila tdk mendukung ASI yg ditetapkan pada pasal 135 akan di beri sanksi hukuman 1 tahun kurungan atau denda 100jt ( utk perorangan). Bila institusi atau rumah sakit akan dikenakan 3 x lipatnya.
    Dikutip dari majalah IDAI bln april 2010 halaman 44 (copas dari MISS)
  • “Dalam dunia perhewanan: anak kucing menyusu kepada induk kucing, anak kelinci menyusu kepada induk kelinci, demikian juga anak macan menyusu kepada induk macan. Cuma anak manusia yang tidak selalu minum susu manusia.  Kalau ibunya tidak mau kasih ASI, jadinya minum susu sapi.  Kalah dong sama anak hewan?”  (pertanyaan retoris dr. Utami Roesli, SpA, MBA, pakar ASI dan IMD saat presentasi di PIT POGI 18) Komentar : @ Diahluvummi : beuhhhh
    dalem…:D
    klo ASInyah kaga’ keluar, gmana dr?
    hmm, pake ibu susu?
    trus, yang lebih bagus…susu sapi atau susu kedelai? @Jaraway : siipplahhh.. jangan mau anak kita jadi anak sapi..ehehehehe..
    asi eksklusif seperti apa yang disunnahkan rosulullaah saw.. 2 tahun..=); @Intan : itu mah alesannya ibu2 yang ga mau kasih asi… secara alami keluar kok.. hanya saja harus dirangsang.. dan untuk beberapa orang perlu diatur makanannya… ya kan dok? @Saya : definisi ‘kaga keluar’ itu perlu diluruskan. Sering disangka, bahwa segera setelah bayi lahir, ASI langsung mengucur deras dan bayi akan menyedot dengan lahap. Padahal kenyataannya, ASI baru akan keluar dengan deras kalau ada rangsang hisap dari bayi. Sering disangka bahwa bayi baru lahir itu dalam kondisi kehausan sehingga harus dapat kucuran ASI yang deras padahal sebenarnya bayi sudah membawa cadangan cairan dan zat gula yang cukup untuk 24 jam pertama kehidupannya. Sehingga sering disimpulkan bahwa ASI yang keluar baru setetes atau baru keluar setelah beberapa jam bayi lahir, sudah langsung disebut KAGA KELUAR, dan akhirnya bayi diberi susu sapi. Tentang susu kedelai…ini dipakai pada bayi yang mengalami intoleransi (alergi) laktosa (protein susu hewani). Ibu susu…seperti yang dijalankan pada masa Rasulullah adalah salah satu alternatif bayi tetap dapat ASI, meski bukan dari ibunya sendiri. Hayo…siapa mau jadi ibu susu??? ; @Diancambai : setuju mbak… yang penting kemauan para ibunya.
    Namun ada kalanya ada sebagian ibu yang mungkin mengalami trauma pasca melahirkan ataupun hal psikologis lainnya yang erat dengan hormon penunjang air susu, sehingga ketika ia stress air susunya menurun produksinya. lama-lama hilang.
    Dian pikir, kita juga tidak boleh menjudge para ibu yang sebenarnya ingin menyusui, namun kondisi tak memungkinkan.contohnya yang kena sydrome pasca melahirkan, ataupun akibat buru-buru kb [ibu saya hanya menyusui adek saya 2 bulan, karena KB tau-tau asi nya berhenti, padahal dengan saya beliau sampai 1 tahun dan dengan adek saya yang bungsu 2.5 tahun].

    Kadang-kadang komentar sinis juga tak boleh kita lontarkan pada ibu-ibu yang mungkin juga tak mau anak-anaknya diberi susu sapi ya kan mbak pritta ya ? hehehe

    *sekedar wacana, karena dian punya sahabat yang merasa sedih sekali dikomentari tak mau kasih asi, padahal secara psikologis dia lagi trauma… ^_^ ; @ saya : betul,mbak Dian…ini introspeksi juga buat para dokter, bidan, termasuk petugas KB. Karena seharusnya mereka semua memberikan dorongan kepada para ibu yang ‘baby blues’ atau yang kemampuan memberikan ASI nya masih di level awal. he..he..he…soalnya iklan sufor itu sedemikian bombastis lho. Demikian juga para provider KB seharusnya memberikan informasi tentang jenis2 kontrasepsi yang dikhususkan buat ibu menyusui supaya ASInya tidak berhenti. Masih banyak ya Pe Er kita….! ; @ iraprajuritkecil : Alhamdulillah, udah lewat fase gigit2 pd… Biar bengkak, meriang, tetep ASI. Sekalipun udah coba merah, dibeliin training cup dan botol , hamzah gak mau. Mending minumdi gelas. Tapi akhirnya brenti gigitin, dan kembali meng-ASI dengan damai. Ajaib emang kekuatan pikiran tuh. Oh yang lebih oke, suami saya bu… Dia yang marahin suster waktu hamzah baru lahir gara2 dikasih sufor. Sekarang, dia yg banguntengah malam kalo istrinya kecapekan nyusuin… Dia pijitin, dia juga yang timang2 bayi kalo gak tidur2…. The best breastfeeding father deh; @hilyahfamily : Bu dokter, saya IRT yang bukan berbasis ilmu kedokteran, sangat berminat jadi kaunselor laktasi. Bagaimana caranya?
    Saya agak miris melihat kawan dan adik2 yang mudah sekali beralih ke sufor karena alasan kerja atau kuliah. Alhamdulillah saya punya 5 anak dan semuanya full asi tanpa sufor.

  • STOP!!  Iklan susu formula untuk anak di bawah usia 1 tahun, di tahun 2011. Demikian janji ibu Menkes di pertemuan Strategic Alliance for Achieving MDG’s di Unpad, 22 Oktober 2010.  Untuk itu akan diterbitkan sebuah PP yang akan mengatur pembatasan iklan tersebut. Hal ini dilatarbelakangi oleh kenyataan, hanya sekitar 22% ibu bersalin yang memberikan ASI Eksklusif untuk bayinya.  (Kompas 23/10/210)