Arsip

Bandara atau Garasi? [wamena 2]

Wamena adalah ibukota kabupaten Jayawijaya, provinsi Papua. Kota ini terletak di sebuah lembah yang indah dikelilingi oleh pegunungan Jayawijaya.  Maka, satu-satunya jalur transportasi ke Wamena  adalah lewat udara. Dari Jakarta, Wamena bisa ditempuh dengan dua kali penerbangan.  Jakarta – Jayapura yang memakan waktu 4,5 jam dan dilanjutkan dengan Jayapura – Wamena selama 30 menit.

Kami menggunakan jasa Garuda Indonesia (tergabung dalam skyteam–iklan) untuk penerbangan langsung dari SoekarnoHatta ke Sentani di Jayapura. Berangkat jam 23.50 WIB dan tiba jam 7 pagi WIT. Sholat subuh dilakukan di pesawat. Dan pemandangan matahari terbit juga dapat dinikmati dari jendela pesawat.  Subhanallah! Selama 4,5 jam penerbangan mendapatkan dua kali konsumsi. Malam dapat roti dan paginya sarapan.  Yang unik…dalam perjalanan pulang dengam Garuda Indonesia juga, makan siangnya berupa ubi rebus sebagai pengganti nasi.

Fajar dari Jendela

Bandara Sentani di pagi hari.  Belum terlalu ramai.  Kami minta jasa portir untuk mengurus bagasi sejumlah 5 koli berupa barang-barang bantuan untuk aksi kemanusiaan. Nah, portir tersebut tidak antri melainkan langsung mengambil bagasi2  tersebut di mobil pengangkutnya.  Setelah itu kami berjalan ke ruang keberangkatan yang letaknya bersebelahan melalui sebuah pintu penghubung.

Uniknya di Sentani ini….dimana-mana ada tulisan peringatan “Dilarang Membuah Ludah Pinang” ditempel di tembok. Rupanya, kebiasaan makan sirih pinang yang mengakibatkan ludah berwarna merah ini dibarengi dengan kebiasaan meludah sembarangan.  Hmmmmh……

Peringatan Dilarang Makan Pinang

Penerbangan ke Wamena dengan pesawat TriganaAir jenis Boeing 737-200.  Lumayan stabil.  Karena ada jenis lain ATR yang ukuran lebih kecil dan berbaling-baling, saya bayangkan akan kurang nyaman.  Ada konsumsi berupa teh kotak.  “Baru mau ngliyep….kok sudah sampai”, ujar suami.  Sedangkan mata saya tak mungkin terpejam karena pandangan tak lepas dari jendela “melahap” semua keindahan hutan dengan warna hijau yang bergradasi bagaikan relief di peta timbul.  Masya Allah…indah sungguh Indonesia ini ya Allah.

IMG_6158

Mendaratlah kami di bandara Wamena.  Tidak ada yang namanya ruang kedatangan, yang ada hanyalah lantai beralas semen dengan ban berjalan kecil untuk bagasi.  Demikian juga tampak depan bandara….Lho, kok seperti garasi ya…?

Namun hawa dingin sejuk beserta deretan penjual pinang yang menggelar dagangan di depan pagar bandara segera mengalihkan perhatian saya tentang bandara yang mirip garasi itu.  Hanya suami yang menggumam tentang “kemana larinya dana otsus untuk Papua. Kalau sekedar bikin bandara yang agak nggenah saja pasti bisa lah”

Ruang Kedatangan Bandara Wamena

SELAMAT DATANG DI WAMENA!!

 

Keterangan foto :

1. Terbit fajar di timur tampak dari jendela pesawat

2. Peringatan dilarang makan pinang

3. Pemandangan Elok di Atas Danau Sentani – Bagai Sepotong Surga jatuh ke Bumi

4. Ruang kedatangan bandara Wamena

Melangkah ke Wamena (1)

Peta Papua

Sebagai orang Indonesia, malu juga kalau sampai usia setengah abad ini belum menginjak pulau tertimur di Indonesia , Papua.  Tiga kali BSMI terjun ke Papua.  Yang pertama dan kedua adalah saat terjadi gempa bumi di Nabire, dan yang terakhir saat terjadi banjir bandang di Wasior.  Namun di tiga kesempatan itu, saya tidak terpilih untuk berangkat.

Karena itu, saat menjalin kontak dengan relawan BSMI di Wamena, dr. Mukri Nasution via twitter,  saya sengaja minta supaya beliau mengadakan satu acara bakti sosial sehingga dengan demikian saya bisa menengok bumi cendrawasih tersebut.  Alhamdulillah, harapan jadi kenyataan (semoga, ya Allah).  BSMI cabang kabupaten Jayawijaya akhirnya siap untuk dideklarasikan!

Tak hanya deklarasi, tetapi digelar juga berbagai acara penunjang, salah satunya adalah bedah buku.  Saya tawarkan untuk membedah buku saya yang pertama, Membentangkan Surga di Rahim Bunda. Dokter Mukri menyambut baik acara ini dan antusias menyiapkan segala sesuatunya.  Salah satu yang mendasari keantusiasan dokter asal Padang ini adalah tingginya kasus PMS (Penyakit Menular Seksual) di kalangan para ibu di sana.  Bahkan,  kasus HIV sudah menjadi ‘makanan sehari-hari’.

Beberapa pekan menjelang acara – yang baru digelar hari Sabtu yad – mereka sudah memesan buku tersebut.  Saat saya katakan bahwa akan lebih hemat kalau bukunya saya bawa nanti pas berangkat saja, mereka menolak.  Alasannya, sudah banyak yang antri mau beli.  Lho kok? Pas kebetulan ada seorang relawan BSMI Jayawijaya yang sedang ada keperluan pulang kampung dan mampir ke Jakarta, pak Bambang nama relawan tersebut, membawa 20 eksemplar buku MSRB.  Memang lebih hemat kalau dibawa sebagai bagasi, karena ongkir JNE ke Papua harganya….wah!! Pakai kilat khusus bisa sedikit lebih ekonomis.

Tak disangka, sepekan kemudian masuk laporan bahwa 20 eksemplar buku tersebut telah habis terjual.  Lho, jadi nanti pas acara bedah buku jualan apa, dong?

“Tolong nanti ibu dokter bawa lagi saja, bu. Karena ini pun sudah ada yang pre order 20 orang”.

Ndilalah, stok di gudang penerbit Qultum Media pun habis.  Pesanan 40 eksemplar hanya dikirim 32. *kalau kehabisan di penerbit, alhamdulillah juga. Semoga bisa segera masuk cetakan ke 2. aamiin*

Saat iseng saya tanya, “Dijual berapa bukunya? Kan untuk BSMI sudah ada diskon”.

Jawabannya mengagetkan.  Mereka bilang harga buku saya yang di toko 59.000 terdongkrak menjadi 80.000! Hah…kok bisa segitu? Memang begitu, ibu.  Coba saja hitung kalau pakai ongkir, mahal sekali bukan.

Memang tak salah apa yang mereka katakan.  Pengalaman hidup di Maluku Utara 14 tahun yang lalu menunjukkan hal yang sama.  Harga di Indonesia Timur bisa 3X lipat harga di Jawa.  Bahkan, harga premium yang mencapai 50 ribu seliter pun bisa terjadi.  Oooh…negeriku.

Insya Allah beberapa jam lagi pesawat Garuda akan tinggal landas menuju Jayapura, dan dari sana akan dilanjutkan dengan pesawat Trigana menuju Wamena.  Setidaknya, itulah rute yang akan kami jalani. Semoga Allah memudahkan dan menlindungi perjalanan ini. Semoga membawa berkah dan manfaat untuk para saudara muallaf di Wamena.  Aamiin.

Nantikan cerita selanjutnya……..

 

Keluar ‘Neraka’ : Catatan Seorang Dokter di Tengah Tragedi Mesir

Karena saya ikut protest sit-in di Rabaa, saya ada di sana Rabu pagi. Sekitar 6 pagi ada alarm dari Square, mengajak semua orang untuk meninggalkan tenda mereka dan hadir di lokasi sit-in. Suasana darurat terasa kental saat itu. Sekitar 6.30, sinyal internet menjadi jelek. Pada 6.40 saya ada di belakang Mall Tiba. Dari sana saya tahu, penyerangan dimulai. Gas air mata disemburkan ke tempat masuk sit-in.

Dalam hitungan menit, saya melihat lelaki bersimbah darah. Lengannya luka parah. Karena saya dokter Trauma dan Anesthesist, saya memutuskan untuk menuju RS lapangan atau darurat. RS lapangan itu tertata dengan baik dan belajar banyak dari dua pembantaian yang lalu. Tapi, karena korban yang terus berdatangan, kondisi mulai kacau.

Sejak pembantaian di Republican Guards atau Alazhar saya tidak ke sini, jadi saya tercengang melihat luka-luka yang parah ini. Dalam waktu tiga jam, RS dan hall sebelah penuh dengan janasah dan korban luka. Luka-luka beragam, ada yang kena tembakan senapan ringan (bird-shot) sampai peluru timah. Sebagian besar luka mengenai badan bagian atas; kepala dan leher sehingga luka itu fatal.

Antara pukul 10.00-10.30 gas air mata mulai dilemparkan dekat RS. Udara di dalam jadi demikian memerihkan sehingga staf RS terpaksa menggunakan masker. Karena saya tidak terdaftar di RS, saya tidak mendapatkan masker yang tahan gas air mata sehingga saya sulit bernafas. Saya meninggalkan lantai pertama tempat pasien diterima, menuju lantai atas, mencari masker dari ruangan logistik.

Di lantai dua, ruangan penuh perempuan membawa anak-anak mereka, mencari perlindungan dari udara yang penuh gas air mata. Di ruangan lain, saya mendapatkan masker biasa. Saya meneruskan pekerjaan mengobati pasien yang baru datang. Situasi makin parah. Pasien terus berdatangan, luka mereka teramat parah untuk diobati di RS lapangan atau RS darurat. Udara penuh gas air mata. Kemudian saya tahu, gas air mata dilemparkan helikopter ke dalam RS.

Suara tembakan makin dekat ke RS. Pada pukul 12, datang perintah untuk bersiap segera mengevakuasi RS. Ditakutkan RS diserbu. Semua orang disuruh menyembunyikan identitas medis mereka, sarung tangan, atau jas putih guna menghindari penahanan militer.

Saya meninggalkan RS melewati hall besar yang penuh dengan jenasah. Lalu satu hall lagi penuh dengan korban yang tidak terlalu parah (kalau saya sebut ‘tidak terlalu parah’, artinya mereka bisa hidup beberapa jam lagi tanpa pengobatan emergency, tapi dalam keadaan normal, seharusnya mereka sudah dioperasi). Yang membuat hati saya perih, para perempuan, lelaki tua yang menangis di sebelah keluarga mereka yang terluka, dan tidak ada yang bisa memberikan mereka bantuan di tengah penyerbuan seperti ini.

Saya berhenti di koridor di belakang RS, dekat Mesjid Rabaa. Di sini sebagian demonstran yang luka tapi tidak bisa lagi masuk ke hall tadi karena sudah penuh. Salah satu yang luka kakinya menatap saya dan berkata, “Dokter, kenapa kamu berdiri begini? Tolonglah bantu memindahkan pasien atau mengobati mereka.”

Dia tidak meminta saya mengobati dia, tapi teman-temannya di lapangan yang sedang diserang. Saya tidak tahu harus pergi ke mana setelah RS dievakuasi. Jadi, saya berdiam di dekat mesjid tempat banyak perempuan dan lelaki tua.

Bunyi tembakan berterusan. Asap gas air mata memenuhi udara. Tak beberapa menit kemudian, asap putih gas air mata memenuhi koridor tadi. Bagaimana dengan yang terluka di sana? Anak muda itu?

Orang mengibaskan kain dan kertas untuk mengurangi pengaruh gas air mata. Setelah satu jam, saya bertemu seseorang yang tahu kalau saya membantu di RS darurat. Dia memberitahu kalau RS Rabaa charity society membuka pintu dan menerima pasien. Saya ke sana dan langsung bekerja. Nyaman rasanya bekerja di RS yang sebenarnya. Sebagian kawan dari RS darurat bisa membawa logistik dari sana saat evakuasi.

Kami mulai mengobati pasien baru. Jumlah pasien yang datang menurun. Saya pikir, mungkin militer menghentikan penyerangan. Saya terus bekerja mengobati pasien yang ada semampu saya. Di antara mereka ada pasien-pasien dengan kasus parah. Salah satunya reporter asing (dari temannya, saya tahu mereka bekerja di Skynews. (Mick Deane: Ed).

Dia ditembak peluru timah di bagian dada bawah. Dia kehilangan banyak darah. Wajahnya pucat sekali. Saya memberikan pengobatan emergency dan menerangkan pada temannya kalau lelaki ini (Mick) perlu operasi segera. Saya tidak bisa menemukan mereka beberapa menit kemudian. Saya tidak tahu apakah dia masih hidup atau tidak.

Saya ingat, saya meminta pada tim Skynews untuk menyebarkan SOS (permintaan bantuan) pada dunia supaya RS berhenti dihujani gas air mata dan tembakan peluru.

Saat suasana mulai reda, saya ke ruang basement, beristirahat. Di sana saya mendapati dua lelaki asal kota saya. Dua-duanya tertembak di kaki dan tungkai. Dibandingkan yang lain, kondisi mereka lebih baik. Saya sempat memberikan CPR pada salah satu pasien dan dia tidak bisa diselamatkan. Saya menolong memindahkan dia, tapi kami diberitahu kulkas RS sudah penuh oleh jenasah. Kami pindahkan dia ke lantai tiga. Saya pikir dia jenasah pertama di sana, tapi saya dapati hall besar itu sudah terisi 30-40 mayat.

Saya letakkan dia di sebelah yang lain dan segera ke bawah. Saat itu saya tahu, jalan masuk-keluar RS menjadi target sniper yang menembak orang yang masuk dan keluar pintu RS. Menyedihkan melihat orang berlari cepat membawa pasien atau logistik, menghindari tembakan sniper. Sniper juga menembak siapapun yang melihat keluar jendela RS.

Peluru kemudian menembak pintu RS hingga kacanya pecah. Pada pukul 3, ketenangan di RS terputus. Pasien berdatangan dalam jumlah banyak dan tak henti. Kondisi ini lebih parah dari tadi pagi. Luka mereka lebih fatal dan berbahaya.

Saya melihat pasien yang batok kepalanya terbuka kena tembak. Otak mereka di lantai. Saya melihat pasien dengan lobang tembakan di leher dan kepala. Pukul 4 saja, basement dan lantai satu penuh dengan mayat dan korban luka. Saya tahu lantai atas juga demikian.

Ambulans berusaha mentransfer pasien dari pintu belakang, tapi melihat keadaan, saya pikir mereka hanya bisa memindahkan 5% pasien yang membutuhkan operasi emergency. Situasi demikian parahnya, kami tidak bisa mengobati semua yang datang. Akhirnya, yang dipilih untuk diobati adalah korban yang memiliki kemungkinan hidup.

Lantai penuh darah. Pasien baru dipindahkan, melewati pasien lama yang tergolek di lantai. Saya bekerja seperti mesin. Tidak percaya kalau saya menjadi saksi kebrutalan di negeri ini.

Saya juga bekerja di Tahrir pada 2011, tapi kondisinya tidak bisa dibandingkan dengan yang sekarang. Saya tidak bisa mengambil foto untuk mendokumentasikan karena terlalu sibuk mencoba menyelamatkan jiwa.

Bau kematian di mana-mana. Baju saya telah berlumuran darah. Jika akan menceritakan pasien-pasien ini, mungkin saya perlu menulis satu buku. Pukul 5, pintu kaca sepenuhnya hancur ditembak. Suara rentetan peluru begitu dekat dan mencekam.

Setengah jam kemudian, ruang reception Gawat Darurat yang penuh staf medis dan pasien juga jadi sasaran tembak. Teror menyelimuti RS. Semua orang terjebak di sini. Sepuluh menit kemudian, polisi masuk. Mereka mengenakan pakaian hitam dan membawa senapan besar yang tidak saya lihat sebelumnya. Mereka memerintahkan semua orang meninggalkan RS.

Terjadi debat. Bagaimana dengan ratusan yang terluka ini? Apakah kita bisa mempercayai militer? Tapi, begitu salah satu polisi memasuki ruangan kami, semua keluar. Saat akan pergi, saya beritahu polisi bahwa ada pasien terluka di dalam. Dia membentak saya, “Biarkan mereka mati!! Biarkan mati!!” sambil maju, mengarahkan senjatanya ke muka saya.

Saya buru-buru mencari jalan keluar, meninggalkan RS melalui pintu kaca yang sudah pecah itu. Dia sibuk dengan orang-orang yang keluar ke arah berlawanan dengan saya. Di luar, suasana demikian seram. Mayat di jalan. Api di mana-mana.

Kami berjalan di sebelah dinding, di bawah tembakan peluru. Saya tidak tahu apakah di belakang saya ada yang kena tembak tidak. Saya ke jalan, cemas apakah akan kena tembak atau ditahan. Tapi, agaknya militer sibuk dengan demonstran di lokasi sit-in sehingga mereka meninggalkan kami.

Saat menengok ke belakang, asap tebal keluar dari RS. Mereka membakar RS bersama jenasah dan pasien luka yang masih di dalam. Sampai saat ini, saya tidak akan melupakan salah satu pasien terakhir saya. Dia ditembak di kepala tapi masih hidup. Dia ditemani ponakan lelakinya yang berusia sekitar 15 tahun.

Saya memberikan perawatan emergency, mengintubasi dua dan meminta ponakannya memberikan pernafasan menggunakan ampu. Saat jalan keluar RS, ponakan itu mencari bantuan untuk pamannya. Wajahnya begitu tak berdaya.

Pamannya besar kemungkinan terbakar bersama RS, Tapi, bagaimana dengan pemuda kecil itu? Yang menyerbu ini manusia apa bukan? Mereka menembak benar-benar untuk membunuh.

Tak pernah terbayangkan saya akan menyaksikan bangsa Mesir terbantai di jalan, terbakar bersama RS. Kalau yang melakukannya adalah sesama bangsa Mesir, tak terbayangkan jika yang menyerbu adalah pasukan asing.

Saya menulis ini, masih tidak percaya, Saya harap ini hanya mimpi buruk dan saya terbangun segera. (nabawia)

*Diterjemahkan oleh Maimon Herawati (dosen, wartawati independen)

Dikutip dari :

Keluar ‘Neraka’; Catatan Dokter Rabaa | Muslimina.

(Buku Baru) TERSENYUM DI GAZA, TANPA DARAH DAN AIR MATA

2013-04-17-10-21-32_membalut luka gaza_thumb_150_

Gaza adalah kota sebagaimana kota-kota lain di dunia. Meskipun fakta menunjukkan bahwa Palestina adalah satu-satunya negera di dunia yang terjajah secara fisik, dan 8.184 warga Palestina terbunuh oleh Israel sejak 1987.  Fakta-fakta tersebut adalah dua dari delapan fakta tentang Palestina yang menjadi pembuka buku setebal 167 halaman yang diterbutkan oleh Salsabila ini.

Sebagaimana judulnya, Membalut Luka dikonotasikan sebagai tindakan untuk membantu penyembuhan sebuah luka.  Sehingga tulisan para dokter dan relawan BSMI lain saat bertugas di Gaza lebih banyak yang bersifat ringan dan bahkan canda. Wahai dunia, lihatlah Gaza ini.  Tengoklah keseharian warganya. Bagaimana mereka menyikapi kepedihan akan kehilangan keluarga tercinta, rumah tinggal, maupun kesempatan hidup bebas? Ternyata semangat itu masih ada.  Bahkan kita belajar banyak dari mereka.

Bacalah tulisan dr. Basuki, spesialis bedah tulang, bagaimana ia mengungkapkan kebahagiaannya saat sekardus bola kaki yang dibawanya diterima dengan penuh kehangatan oleh Perdana Menteri Ismail Haniyya.  Bola ‘made in Indonesia’ itu adalah lambang persahabatan yang universal.  Di tiap sudut jalan kumuh atau tanah lapang coklat berdebu di kota Gaza, akan mudah kita jumpai anak-anak dan pemuda bermain bola. (Kembalikan Semangat dengan Bola, halaman 33)

Atau ‘ketakutan’ dr. Jamal, seorang spesialis mata saat mendengar ledakan bom jarak dekat untuk pertama kalinya.   “Jantungku serasa melorot ke kaki.  Aku terduduk di lantai. Saat itu yang terpikir hanya satu: aku akan mati”. “Kamu takut?” ayah Yasi menepuk pundakku.  “Bom seperti itu sudah biasa”, ujarnya. (Takut Mati, halaman 45)

Dr. Erick, seorang spesialis anestesi, menyatakan keheranannya karena daya tahan nyeri yang luar biasa dari seorang pasien tatkala luka bakar akibat bomnya sedang dibersihkan.  Atau makanan yang tetap hangat saat ditinggalkan untuk operasi selama beberapa jam (Keajaiban-keajaiban Itu, halaman 67)

Atau, ibu Sinta Yudisia, sang novelis yang merasakan kehangatan di perkebunan zaitun.

Saya sendiri menyumbangkan beberapa tulisan di buku ini.  Rekaman saya di Gaza meliputi beberapa hal, dari kegembiraan warga  Gaza akan dibangunnya sebuah water bom yang mereka sebut “mad water” sampai keidahan craft berupa tusuk silang yang menghiasi banyak properti.

Tak seperti buku lain yang memaparkan perang, luka, darah, dan tangis.  Kita bisa ringan membaca buku ini.

Pemesanan bisa langsung lewat saya, dengan diskon 10% dari harga toko yang 29.000.  Ongkir gratis untuk wilayah Jabodetabek!

Atau silakan berburu Membalut Luka Gaza di toko-thttps://drprita1.wordpress.com/wp-admin/post.php?post=1007&action=editoko buku yang ada ……..

 

IBF : dari Bolehkah Ibu Hamil minum Es sampai Membalut Luka Gaza

Jakarta – Dokter sekaligus pengurus pusat Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI), dr. Prita Kusumaningsih, Sp.OG, dalam sebuah acara di Islamic Book Fair 2013 mengatakan, dari hasil yang diamati untuk masalah kehamilan, masih banyak pertanyaan  mengenai konsumsi Es bagi ibu hamil diantaranya apakah bisa bikin bayi membesar.

“Sebenarnya bukan Es yang bikin gemuk melainkan campurannya,” terangnya dalam bedah buku Membentangkan Surga di Rahim Bunda, Ahad (10/3), di ruang anggrek, Istora Gelora Bung Karno, Senayan Jakarta.

Saat hamil, sambungnya, susu itu masih menempati posisi konsumsi terpenting bagi ibu hamil, namun ada juga yang tidak mau minum susu saat hamil. Dari hasil penelitian, Indonesia termasuk negara yang rendah konsumsi susunya, padahal negara agraris. “Susu masih peringkat satu dan Rasulullah SAW sangat suka minum susu, bahkan dikabarkan di Surga ada sungai yang berisikan susu,” ujarnya.

Prita juga menjelaskan faktor-faktor yang berpengaruh saat melahirkan. “Pengaruh saat melahirkan adalah 5 P,” terangnya.

Pertama, Power atau tenaga ibu ditambah kontraksi rahim.

Kedua, Passage dalam hal ini jalan lahir atau pintu atas panggul.

Ketiga, Passenger yakni penumpang atau bayi itu sendiri.

Keempat, Psikis ibu hamil perlu menghibur atau dihibur.

Kelima, Penolong atau pendamping. “Inilah yang akan berpengaruh saat melahirkan,” jelasnya.

Menurut Prita, hamil itu bisa menderita dan sengsara, namun yang jelas menyenangkan dan membahagiakan. “Hamil itu membuka kesempatan untuk mendapatkan pahala yang besar dari Allah SWT,” tuturnya.

Diakhir acara ini, Prita juga menyampaikan bahwa sebetulnya 50 % kehamilan itu berakhir dengan keguguran tanpa disadari. Sebelum menutup acara ini, dilakukan juga launching buku Membalut Luka Gaza.[]inshany/ibf

Dicopas dari sini

NB. nantikan terbitnya buku Membalut Luka Gaza.  Diterbitkan oleh Salsabila, lini dari Al Kautsar, buku ini berisi catatan para relawan kemanusiaan dalam interaksinya dengan warga Gaza.  Tidak seperti dibayangkan, bahwa kalau berbicara tentang relawan kemanusiaan dan aktivitasnya, apalagi di daerah perang, pasti akan berkisar tentang darah,air mata, dan kesedihan.  Buku ini lain.  Ternyata warga Gaza juga bisa melucu, tertawa, bahkan berwisata di pantai.  Ternyata warga Gaza masih penuh semangat, bahkan mungkin melebihi semangat kita saat menghadapi  kehidupan yang porak poranda.  Penasaran?  Silakan preorder lewat saya.  Harga 25 ribu rupiah saja.  Untuk jabodetabek bebas ongkos kirim

BSMI Goes to Gaza

Solidaritas BSMI untuk Palestina
Jakarta (26/11/2012). Memasuki dua minggu  sejak serangan Israel ke Palestina pada Rabu (14/11) pekan lalu, gencatan senjata telah disepakati Israel . Meski begitu, kondisi Palestina masih belum bisa dikatakan aman dan terkendali. Sebagai bentuk kepedulian merekonstruksi Gaza kembali, bantuan  terus dilancarkan. BSMI sebagai salah satu lembaga kemanusiaan yang bergerak aktif dalam solidaritas kemanusiaan untuk Palestina, siap membantu dengan mengirimkan dua relawan ke Gaza pada Selasa (27/11).
Sebuah lampiran berisi dokumen daftar kebutuhan alat kesehatan dari RS. Al Shifa Gaza, sampai ke surel resmi BSMI. Berdasarkan data tersebut, BSMI mengerahkan donasi masyarakat untuk Palestina dengan membelikan alat kesehatan berupa alat orthopedi  dan instrumen operasi serta obat-obatan. Alat kesehatan yang dikirimkan BSMI, menyesuaikan dengan permintaan tersebut. RS. Al Shifa Gaza telah lama berhubungan baik dengan BSMI. Yakni sejak kedatangan BSMI di Palestina pada tahun 2009 dan 2010.
Dana donasi lainnya dimaksimalkan untuk program beasiswa mahasiswa Palestina di Indonesia. Program ini merupakan program yang sedang berjalan dan berkembang. Menjadi sebuah program khas tersendiri dedikasi BSMI untuk Palestina. Saat ini, empat mahasiswa asal Palestina sedang melakukan studinya di Universitas di Indonesia. Dua mahasiswa jenjang S1 yang menempuh pendidikan kedokteran di Universitas Islam Negeri. Dua lainnya merupakan dokter Palestina yang mengambil pendidikan spesialis di Universitas Indonesia dan Universitas Gajah Mada. Ke depan, BSMI bersiap mendampingi penerima beasiswa mahasiswa Palestina di Indonesia lainnya hasil kerja sama dengan Kemendikbud.
Keberangkatan BSMI ke Gaza
Relawan BSMI diberangkatkan ke Gaza. Diwakilkan oleh Ketua Umum BSMI, Muhammad Djazuli Ambari S.KM,MSi, dan relawan Lucky Pransiska. Kedua relawan ini merupakan tim aju (tim awal) yang akan membantu rakyat Palestina dengan memberikan bantuan alat-alat kesehatan berupa alat orthopedi senilai USD 60.000 dan melakukan persiapan penjemputan terhadap 12 penerima beasiswa BSMI yang akan melanjutkan pendidikan di Indonesia.
 
Pemberangkatan ini kami jadikan dua gelombang. Tim pertama, tim aju, sejumlah dua orang dan akan disusul oleh tim inti sejumlah lima belas orang. Karena sesuai dengan pengalaman kami sebelumnya, pengalaman 2009 dan 2010, kami melakukan dengan pola yang sama agar lebih efisien.” Jelas Muhammad Djazuli Ambari SKM M.Si, Ketua Umum BSMI dalam konferensi pers yang digelar Kamis (22/11) siang.
Tim kedua akan diberangkatkan setelah tim aju kembali ke Indonesia. Tim kedua terdiri atas dokter-dokter spesialis yang akan mendukung kegiatan operasi di Shifa Hospital Gaza, memberikan bantuan alat orthopedi, alat anestesi dan alat-alat operasi lainnya, bantuan obat-obatan, pelatihan perawatan luka korban perang metode stem cell (teknologi kultur jaringan plus alatnya), serta penjemputan 12 warga Gaza penerima program beasiswa BSMI kerja sama dengan Kemendikbud RI.
“Mereka membutuhkan obat dan alat kesehatan, karena alat kesehatan masuknya sulit. Obat atau alat kesehatan yang seharusnya cukup untuk beberapa bulan, karena serangan Israel bisa habis dalam waktu mingguan bahkan dalam hitungan hari. Oleh karena itu, bantuan seperti ini yang dibutuhkan dan kita kirimkan.” Jelas dr. Basuki Supartono, Dewan Pembina BSMI yang juga menjadi narasumber di konferensi pers BSMI, ”Yang kita gunakan ini dana ummat. Pengiriman pertama yang hanya terdiri dari dua orang dan pola dua gelombang keberangkatan ini demi menghemat dana agar lebih bermanfaat dan efektif . Bantuan pun dimaksimalkan tepat guna.” tutupnya.
Bantuan kebutuhan medis merupakan pemenuhan pelayanan dan perawatan korban serangan Israel. Sedangkan penjemputan 12 warga Gaza penerima beasiswa BSMI merupakan program khusus BSMI dalam rangka capacity building SDM Palestina. Keduanya merupakan alternatif bantuan kemanusiaan untuk Gaza.
Bagi masyarakat yang ingin menginfaqkan hartanya untuk bantuan kemanusiaan ini dapat mengirimnya melalui Bank Syariah Mandiri no rek 116.0033.568 , atau BNI Syariah no rek 260.260.007.  Atas nama Bulan Sabit Merah Indonesia (ziy)

Perjalanan ini masih panjang. Membutuhkan kerja-kerja yang profesional. Ini hanyalah salah satu pal tonggak yang harus dilewati.

Bulan Sabit Merah Indonesia

RUU Kepalangmerahan  yang saat ini baru saja diupayakan ke Paripurna DPR pasca pemaparan pendapat fraksi di Badan legislatif DPR RI ternyata belum disepakati secara bulat oleh keseluruhan fraksi.
Konvensi Jenewa mengakui adanya tiga lambang kemanusiaan di dunia ini, yaitu Bulan Sabit Merah (digunakan oleh tiga puluh negara, terutama negara-negara Islam dan negara di timur tengah), Palang Merah, dan Kristal Merah (hanya digunakan oleh satu negara yakni Israel).

Seperti diketahui RUU yang tengah bergulir ini seakan-akan wakil rakyat yang ada di senayan bersukacita bahwa lambang kemanusiaan di Indonesia yang diakui adalah lambang Palang Merah. Ditambah pula penggiringan opini adanya berbagai kepentingan yang hendak “mengkudeta” lambang Palang Merah di Indonesia yang pada dasarnya itu sebuah pengalihan substansi tentang polemik pengaturan lambang dan gerakan kemanusiaan di Indonesia.

Lepas dari masalah lambang, untuk RUU yang membahas masalah kemanusiaan dan sosial namun judulnya adalah RUU Kepalangmerahan dan mengkhususkan diri kepada pengaturan oganisasi kepalangmerahan & lambang, maka…

Lihat pos aslinya 194 kata lagi