Ketemu Gadis Berbahasa Inggris di Masjid Huxie (2)

 

Masjid Huxi adalah tujuan berbuka selanjutnya, dengan pertimbangan lokasinya tidak jauh dari hotel.  Bahkan resepsionis mengatakan, “Very close from here”.

Meskipun sudah memegang alamat, yaitu di : 3 Lane, 1328 Changde Road, Putuo District, Shanghai (上海市普陀区常德路1328弄3).

tetap harus konfirmasi ke bagian navigator hotel.  Minta navigator menulis alamat tersebut dalam bahasa dan huruf China.  Baru ditunjukkan ke sopir taksi.  Ini penting mengingat sopir taksi hanya bicara bahasa China, sehingga kita tidak bisa berkomunikasi apa pun selama perjalanan.

Khusus di masjid Huxi, porsi yang disiapkan bisa sampai 300-400an setiap harinya.  Dan dananya juga murni dari swadaya jamaah!  Bedanya dengan di masjid Pu Dong, di Huxi ada pemisahan ruang makan antara jamaah laki dan perempuan.  Laki-laki menempati tempat yang tetap yaitu di sebelah ruang sholat utama, sedangkan kaum wanita biasa menempati beranda depan masjid atau di beranda lantai 2.  Seorang teman menengarai masjid ini berdasarkan banyaknya tanaman baik asli maupun sintetik.  Contohnya, di beranda depan dipercantik dengan adanya naungan pergola dan hiasan tanaman rambat sintetis. Beranda lantai 2 labih cantik lagi dengan tulisan Allahu Akbar yang tersusun dari rangkaian bunga.

Komposisi takjil berupa teh tawar hangat, kurma, roti (bisa Nan diiris 8 atau semacam roti tawar yang tebal) dan kuah.  Kuah ini gunanya untuk mencelupkan roti dan dimakan dengan sumpit.  Setelah roti habis kuahnya diminum.  Kuah selalu berasa gurih, bisa kuah tomat, kuah kacang merah atau  semacam barley berkuah putih.  Karena selama tiga kali berbuka di masjid Huxie saya tidak menemukan nasi, maka insiden sumpit tidak terjadi.

Di masjid ini saya berkenalan dengan muslimah muda Shanghai, yaitu Fatimah dan Aminah. Kaum muslimin biasanya mempunyai 2 nama, yaitu nama china dan nama islam.  Nah, kedua gadis ini sungguh tipikal wanita Tiongkok yang makin elok dengan hijabnya.  Pakaiannya khas anak muda jaman sekarang, celana jins, sepatu kets, kemeja lengan panjang dipadu cardigan.  Dan keuntungannya….mereka bisa bahasa Inggris!  Ini cukup melegakan mengingat sejak kemarin saya bicara body language terus.  Dari kedua mereka saya dapat info tentang sebuah masjid lagi yang bisa dijadikan destinasi berbuka.  Masjid Fu You Road, namanya.  Supaya jelas saya minta mereka menuliskan dalam bahasa dan huruf China.  Dan saya terpukau mengamati betapa lincah jemari tersebut mengukirkan huruf Hanzi yang mirip kaligrafi.

Masjid Huxi Persiapan Menjelang Berbuka

Persiapan berbuka di Masjid Huxie

Masjid Huxi Tampak Depan dan Toko Daging Halal

Tampak Depan Masjid Huxi dan Toko Daging Halal di Sebelah Kiri

 

Diajari Pakai Sumpit di Masjid Fu You Road

Berbekal alamat dari Fatimah, sampailah kami ke masjid Fu You Road yang beralamat di 378 Fuyou Rd, Huangpu Qu.  Masjid ini terbilang kuno karena dibangun pada 1870.  Lokasinya pun berada di kawasan kota tua, tak jauh dari taman yang berasal dari dinasti Ming, yaitu Yu Garden

Masjid Fu You Road

Tampak Depan Masjid Fu You Road

 

Masjid Fu You Road Sholat Wanita

Ruang Sholat Wanita di Masjid Fu You Road

Keseluruhan masjid bernuansa kayu, bahkan lantainya pun dari parquette.  Demikian pula ruang makan yang terletak di sebelah ruang sholat utama.  Hanya ada satu ruang makan sehingga jamaah laki dan perempuan berada di ruang yang sama.  Saya semeja dengan ibu Aisyah, yang selalu mengira saya berasal dari Malaysia.  Sudah dijelaskan bahwa saya dari Indonesia, dan ia pun juga berkali-kali melafalkan kata Indonesia, namun di kesempatan berikutnya yang tercetus adalah Malaysia lagi…Malaysia lagi!

Di masjid Fu You Road ini makanan berbuka lebih banyak dan terkesan mewah.  Ada sepiring besar kweetiau yang gemuk-gemuk, roti Nan tergeletak di meja dalam keadaan sudah diiris 8 bagian, semangkuk besar mie daging sapi, dan sepaket buah-buahan warna-warni.  Saya katakana warna-warni karena memang banyak warna, antara lain anggur merah dan hijau masing-masing 2 butir, ceri merah dan hitam juga masing-masing 2 butir, sebuah leci, seiris jeruk dan seiris kiwi.  Nah, bisa dibayangkan kan, betapa colorfulnya.  Bisa ditebak, baru meneguk teh dan menelan sepotong roti dicelup kuah mie maka kenyanglah saya.  Sementara orang-orang makan dengan lahap dan diakhiri dengan meneguk kuah mie lagsung dari magkuk.  Ibu Aisyah mengamati saya makan rupanya gemas, langsung saja dia pegang tangan saya dan mengajari cara memegang sumpit.

“Ayo dipraktekkan”, kira-kira demikian katanya.

“Seandainya mangkuk ini ada tutupnya tentu sudah kubawa pulang mie sapi ini”, batin saya.  Ini karena melihat orang lain sudah beranjak pergi untuk menunaikan sholat maghrib berjamaah.  Bagaikan bisa membaca pikiran saya, bu Aisyah datang membawa kantung plastik dan tutup mangkuk.  Cekatan dibereskannya mangkuk saya, dimasukkan ke kantung plastik.

“Nah, siap dibawa pulang,” ujarnya sambil menggamit lengan saya menuju ruang sholat.

Aah…..persaudaraan Islam tak kenal sekat wilayah dan bahasa.  Yang ada hanyalah keimanan dan ketaqwaan yang sama. [nin]

 

Iklan

4 thoughts on “Ketemu Gadis Berbahasa Inggris di Masjid Huxie (2)

  1. Qiqiqiqiqi…..lucu ya ibu Aisyah, gemesan. Mesjid Fu You Lu udah jauhhhhhh lebih bagus dan rapi dar tahun 2005, sepertinya direnovasi gede2an oleh pemerintah. Yang lucu nih, kalau gak di sebelahnya atau sebrangnya mesjid ada toko jualan bikini. Lucu aja menurutku karena tetangganya mesjid tapi jualan barang begituan. Ya gitu deh, namanya juga minoritas.

    Jemaah perempuan di mesjid Fu You Lu ada yang muda nggak? Dulu yang datang tua tua semua. Mereka kagum sama mukena saya. Rasa rasanya cuma orang Indonesia aja yang pake mukena kalau sholat. Belakangan ditiru orang Malaysia, tapi buatannya kasar. Bangsa bangsa lain kalau sholat pake baju aja, soalnya kan udah berkerudung.

    Mbak Prita, waktu di mesjid Huxi pas hari apa? Hari Jumat gak?
    Kalau hari Jumat, ada bazaar di jalan depan mesjid, Banyak yang jualan makanan. Dulu saya ke sana setiap Jumat, makanannya enak enak. Eh tapi mbak Prita ke sana pas bulan puasa ya, tutup kali ya mereka.

    Saya dulu kalau beli bakso ya di mesjid Huxi itu. Awalnya susah, karena mereka bikin baksonya cuma menjelang tahun baru Cina. Tapi demi melihat wajah saya yang memelas karena pengen bakso, mereka nanya ke supplier, apakah mau mengerjakan. Alhamdulillah mau. Baksonya enakkkkkk, ada rasa jahenya. Sejak itu, kalau saya pengen bakso, selalu beli di sana. Kalau beli saya woro2 ke temen2, jadi bisa beli banyak, bisa sampe ratusan butir.

    Waktu mau ngadain halal bihalal, saya pesen ati sapi di mesjid Huxi juga. Kudu pesen jauh hari, karena biasanya mereka gak jual jerohan, dibuang kali ya, entahlah. Waktu ambil pesanan hati sapi, masih anget, baru disembelih kayaknya.

    Kalau saya dateng, mereka udah apal, nih dia langganan bakso. Hahahahaha….

    Ada lanjutannya gak?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s