Archive | Januari 2017

Tur Jalan Kaki di Ljubljana (2)

Hari kedua di Ljubljana adalah hari bebas buat saya. Sendirian lagi! Ini karena suami mengikuti sebuah workshop sedangkan saya tidak. Sementara kongres baru resmi dibuka pada malam harinya.

Maka di pagi hari yang menggigil dan berkabut itu saya menghangatkan diri sejenak di kafe sebelah dengan secangkir teh sembari merancang itinerary.  Kemana enaknya? Dan naik apa? Peta kota sudah bolak balik dibuka.  Sayangnya Tourist Guide Book yang kemarin dicomot dari bandara ternyata berbahasa Jerman.  Duuh…. Siapa yang bisa ditanya?

Di depan gedung Ljubljana Exhibition and Convention Centre (warga setempat menyebutnya GR singkatan dari Gospodarsko raztavische) terdapat sebuah kios majalah.  Penjualnya bernama Dunja, seorang wanita setengah baya yang ternyata ramah dan yang terpenting…bisa bahasa Inggris!  Atas petunjuk Dunja inilah,  saya pun mulai menyusuri jalan Slovenska Cesta .

“Lurus saja, kira-kira 1 kilometer lantas belok kiri”, begitu pesannya.  Tak lupa ia tambahkan, “Tenang saja, di kota ini semua serba dekat.

Dan ternyata, kata-kata “serba dekat”, “cepat saja”, “tidak makan waktu lama” banyak diucapkan oleh warga setempat.  Baik oleh sopir taksi, penjaga kios, resepsionis hotel, maupun oleh pramusaji rumah makan.  Ini untuk menunjukkan betapa kecil kota ini, sehingga kita tidak perlu khawatir tersesat.

Menyusuri trotoar, jalan kaki sendirian adalah hal yang sudah jarang saya kerjakan di Jakarta.  Maka kesempatan ini betul-betul saya nikmati.  Jalan kaki dengan nyaman dan santai.  Saat tungkai mulai pegal tinggal istirahat sejenak di bangku-bangku yang tersedia di pedestrian.  Seperti umumnya kota di Eropa, pedestrian di Ljubljana bersih dan indah. Tampak ada sesuatu yang cantik dan menarik, berhenti dulu buat difoto.  Kalau mulai ragu karena tak kunjung sampai, cukup mampir ke kios terdekat sekadar  memastikan jalan. Alhasil setengah jam saya baru tiba di tujuan.

20160929_100457

Pedestrian Slovenska Cesta

Memasuki jalan Copova Ulica sepanjang lebih kurang 100 meter, tibalah saya di kawasan kota tua atau Center.  Terdapat sebuah plasa yaitu Presernov Trg tempat  orang banyak berkumpul.  Di tengah terdapat sebuah patung laki-laki berwarna hijau.  Itulah patung Preseren, seorang penyair yang salah satu puisinya “Zdravljica”  diadaptasi menjadi lagu kebangsaan Slovenia.

preseren-square-or-presernov-trg

Preseren Square. Tampak patung Preseren di kejauhan

Tak jauh dari patung, terdapat jembatan yang menjadi landmark kota, yaitu Triple Bridge.  Dinamakan demikian karena jembatan putih ini terdiri dari tiga jembatan yang menyatu di pangkalnya dan pecah tiga di ujungnya. Triple Bridge dibangun pada 1929 sampai 1932 oleh arsitek Joze Plecnik ini kecil dan pendek saja. Di bawahnya mengalir tenang sungai Ljubljanica yang airnya berwarna hijau tenang.  Sesekali kapal kecil cantik dan sarat penumpang melintas, membelah sungai dan membuat itik-itik yang berenang berebutan menepi.  Di pinggir sungai berderet meja kursi restoran tertata cantik.   Sementara  tanaman rambat menutupi dinding bangunan yang memagari sungai.  Dedaunan yang mulai berubah warna pertanda musim gugur telah tiba.  Ingin mengabarkan keindahan ini kepada suami, namun apa daya alat komunikasi tak berfungsi.

multi-color-leaves

warna warni daun rambat musim gugur

Puas memandangi sungai, saya beralih ke deretan penjual suvenir.  Tempatnya masih di pinggiran sungai.  Sebenarnya hanya lapak-lapak sederhana berupa  meja-meja terbuka semacam bazaar di negeri kita.  Aneka benda dijual di sana.  Mulai yang murah meriah, seperti kartu pos, gantungan kuci, magnet kulkas, sampai kerajinan kayu, botol hias dan keramik.  Awasss….jangan lapar mata! Dalam hati mulai menghitung-hitung…siapa saja yang bakal dikasih oleh-oleh.  Inilah kelebihan bangsa Indonesia saat di luar negeri….yang dipikirkan adalah buat tangan untuk orang-orang rumah, kantor, keluarga besar…dan seterusnya.

 

suvenir-kaca

Deretan Botol Hias sebagai Suvenir

Kebelet? Tenang saja karena di setiap ujung jembatan disediakan toilet.  Perlu turun tangga untuk menuju toilet tersebut.  Bersih dan gratis.  Oya, sistim pelistrikan  hemat  efisien yang berlaku di Ljubljana awalnya membuat saya kaget.  Jadi lampu di toilet dan menyala berdasarkan sensor gerak.    Bila sedang kosong otomatis ruang toilet akan gelap.  Kagetnya karena saat memasuki ruangan, tiba-tiba lampu menyala sebelum kita menyentuh steker (yang memang tidak ada).  Dan saat di dalam toilet pastikan jangan sampai berdiam diri terlalu lama karena lampu bisa tiba-tiba mati sendiri.  Ha..ha…betul-betul kaget saat mengalami untuk pertama kalinya.

 

kafe-dan-suvenir-di-tepi-sungai

restoran di tepi sungai Ljubljanica

Capek keliling, akhirnya saya masuk ke Tourist Information Centre di ujung Preseren Trg.  Tadinya saya cuma mau cari Tourist Information Book yang versi Inggris yang ternyata banyak sekali bertumpukan di rak brosur  .  Mendadak saya terpikir untuk ikut tur.  Ada banyak sekali pilihan tur.  Mau seharian, atau jam-jaman, mau jalan kaki atau naik sepeda, atau naik kapal, semua tersedia programnya.  Mau tur kuliner, jalan ke kastil, wisata museum, wisata alam, sejarah…Pakai guide orang atau digital….tinggal pilih saja.  Rupanya wisata digarap habis-habisan di kota kecil ini.  Dengan memperhitungkan waktu tersedia dan uang euro yang tidak banyak, maka pilihan jatuh ke tur keliling center selama 2 jam dengan biaya 10 euro.    Cukuplah sampai sore hari saat saya harus kembali ke GR untuk menjemput suami.  (bersambung)

Catatan tentang ponsel.

Belajar dari pengalaman keluar negeri sebelumnya, termasuk waktu umroh, maka saya manfaatkan paket kuota yang ditawarkan oleh provider telepon seluler.  Karena saya pengguna T**koms*l maka sebelum berangkat sudah saya isi pulsa “secukupnya”, yang dalam hitungan keseharian di Indonesia lumayan mahal.  Saya pun mendaftar untuk paket roaming hemat yang tersedia.  Namun apa daya, ternyata komunikasi tak berfungsi.  Kecuali di tempat-tempat dengan wifi gratis.  Awalnya, dipikir salah settingan hape.  Kotak-katik sana sini bahkan sampai dipandu dari Jakarta saking gapteknya.  Tetap gagal berkomunikasi.  Mengandalkan SMS bisa bangkrut.  Apalagi kalau sampai berbicara.  Biaya melambung fantastis.  Sampai akhirnya tiba waktu kepulangan kuotanya tetap tidak berfungsi.  Dan ternyata di Indoneisa setelah ditanyakan provider tersebut di atas, rupanya memang tidak tersedia layanan kuota hemat untuk negeri Slovenia.  Lalu bagaimana dengan ratusan ribu yang sudah kami relakan untuk daftar kuota???? Raib begitu saja tanpa ada kejelasan!!

Pelajaran yang bisa diambil : jangan sekali-kali daftar kuota dan membayar sejumlah biaya apabila TIDAK ADA PENAWARAN dari provider yang bersangkutan.  Risikonya, uang tidak kembali seperti yang saya alami.

Alhamdulillah….di Ljubljana dalam sehari ada 1 jam Wifi gratis di seluruh penjuru kota.  Cirinya, tiba-tiba bertubi-tubi masuk pesan WA.  Sayangnya terkadang saya tidak menyadarinya, sehingga pas mau membalas pesan-pesan tersebut ternyata waktu sudah habis.

 

Iklan

Ljubljana, Si Mungil yang Cantik (1)

Kalau bukan karena keikutsertaan pada perhelatan FIMS16 yang merupakan kongres tahunan dari Federation of Sport Medicine di kota Ljubljana mungkin sampai sekarang saya juga tidak tahu dimana letak kota ini.  Keikutsertaan itu pun karena ada tugas yang diemban oleh suami tercinta untuk membacakan papernya di kongres tersebut.  Makin besar keingintahuan tentang kota yang katanya kecil dan sepi ini.

posisi-slovenia

Slovenia

Slovenia adalah sebuah negeri kecil di Eropa Tengah, berbatasan dengan Italia di sebelah barat, Hungaria dan Austria di sebelah utara, Kroasia di sebelah timur, dan laut Adriatik di sebelah selatan.  Negeri seluas 20.273 kilometer persegi ini berpenduduk sekitar 2,1 juta orang, yang mayoritas beretnis Slovenia (83%), etnis Bosnia dan Kroasia (dahulu tergabung dalam Yugoslavia) sebanyak 5,3%, dan sisanya Italia, Hungaria dll.  Sebelum tahun 1990 Slovenia merupakan negara bagian dari Yugoslavia, dan baru pada 25 Juni 1991 resmi mendeklarasikan diri sebagai negara merdeka dengan ibukotanya Ljubljana.  Slovenia menjadi anggota Uni Eropa sejak Mei 2004 dan baru 2007 menggunakan mata uang Euro.

Ljubljana sebagai ibukota Slovenia merupakan kota kecil yang cantik.  Dengan luas 275 km2, dan penduduknya hanya 280 ribu jiwa membuat kota yang terletak 298 dpl ini sangat nyaman untuk ditinggali.  Uniknya, Ljubljana dengan status sebagai ibukota, mempunyai bendera sendiri yang berbeda dengan negara Slovenia.  Bendera tersebut berwarna hijau putih dan di tengah-tengahnya terdapat seekor naga hijau di atas kastil warna merah.

Naga hijau sangat ngetop di Ljubljana karena ia merupakan maskot kota.  Ini ada kaitannya dengan mitos jaman Yunani dulu. Dimana Jason, si pendiri kota Ljubljana ternyata kalah dalam pertempuran melawan naga hijau di Ljubljana Marsh. Kenapa musuh malah jadi maskot, itu pertanyaan yang belum terjawab. Naga hijau ada di puncak kastil tercetak di bendera, di Dragon Bridge betengger 4 naga hijau di keempat gapuranya, ada naga di kaos-kaos, di kartu pos, di gelas, magnet kulkas, dan di gantungan kunci.

Pesawat Turkish Air yang kami tumpangi landing dengan mulus di bandara  Jozeta Pucnika setelah menempuh penerbangan selama 3 jam dari Istanbul.  Selamat datang di Ljubljana!  Hawa sejuk awal musim gugur menerpa muka tatkala kami melangkah keluar dari bandara kecil itu.  Hanya tampak beberapa orang di area kedatangan. Sepi.  Saya celingak celinguk mencari taksi.  Sampai akhirnya bertanya ke salah seorang penjemput.  Agak suprise juga dengan responnya yang sangat ramah untuk ukuran orang Eropa.  Orang tersebut mau mengantar untuk mendapatkan taksi dan bahkan teriak untuk memangil sopirnya.

welcome-to-ljubljana

Kejutan kedua kami dapatkan di dalam taksi.  Pengemudiya yang bernama Muri ternyata seorang muslim.  Ia imigran Bosnia yang sudah puluhan tahun tinggal di Ljubljana.  Saya merasa Allah menjawab kekhawatiran kami menjelang berangkat.  Khawatir apa? Tidak lain dan tidak bukan adalah tentang makanan halal…..