Denyut Jantung Janin, Bagaimana Memantaunya? (episode 2)

Bagaimana Cara Mendengarkan DJJ?

Ada berbagai cara untuk mendengarkan denyut jantung janin. Cara yang paling sederhana adalah menempelkan telinga ke perut ibu. Sering kita lihat foto-foto romantis seorang calon bapak dalam pose menempelkan telinga di perut hamil istrinya. Betulkah ia bisa mendengar denyut jantung tersebut? Atau hanya sekedar bergaya selfie untuk diunggah ke media sosial? Hanya yang bersangkutan yang bisa menjawabnya. Kalau di foto itu perut hamil sudah tampak besar, maka kemungkinan besar denyut jantung tersebut memang bisa didengar. Tempelkan telinga langsung ke dinding perut dan berkonsentrasilah. Maka akan terdengar suara detakan halus dan teratur. Untuk bisa didengarkan secara langsung suara jantungnya, si janin sudah harus berada di usia trimester 3 (di atas 7 bulan).

Dulu para bidan (dan juga dokter) menggunakan alat bantu berupa semacam stetoskop dari kayu yang disebut dengan funanduskop. Bentuknya seperti corong atau terompet pendek. Penggunannya, bagian mulut terompet ditempelkan di dinding perut ibu hamil dan telinga kita menempel di pangkal terompet. Cukup melelahkan terutama apa bila dinding perut si ibu hamil cukup tebal, alias bumil tersebut sangat gemuk. Dengan menggunakan funanduskop ini, denyut jantung janin sudah bisa dideteksi semenjak kehamilan 20 pekan. Tentu saja sebelum terjun memeriksa bumil bersenjatakan terompet kayu tersebut, terlebih dahulu ada sesi latihannya. Tujuannya adalah mengenali bunyi jantung di antara suara-suara lain didalam rongga perut. Lho, memang ada acara apa di perut bumil kok sampai ramai ? Ha..ha…bukan acara pesta, namun beberapa organ lain di dalam perut bisa mengeluarkan bunyi juga. Di antaranya adalah bunyi usus, dan bunyi pembuluh darah ibu. Untuk itu si pemeriksa harus tahu perbedaannya.

Cara belajar mengenali denyut jantung janin ala mahasiswa kedokteran jaman dulu cukup unik. Yaitu, sebuah jam tangan yang berdetik ditaruh di bawah bantal dan kita harus bisa mendengarkannya dari atas bantal. Silakan dicoba! Sulit? Pantaslah saat tes kesehatan, calon mahasiswa kedokteran harus dipastikan punya pendengaran yang prima.

Kalau sekarang, sudah ada alat pemantau DJJ yang jauh lebih praktis, yaitu Doppler. Bentuknya macam-macam, ada yang portable ukuran saku, sampai yang seukuran textbook tebal. Bertenaga batere yang bisa diisi ulang. Dengan alat doppler ini, janin berusia 12 pekan sudah bisa dideteksi denyut jantungnya. Untuk usia yang lebih dini, pemantauan DJJ bisa menggunakan doppler yang tertanam dalam alat USG. Jantung sebagai organ vital yang mengalirkan darah ke seluruh tubuh sudah mulai bekerja semenjak janin berusia 6 minggu – saat panjangnya baru 1 sentimeter! MahaBesar ALLAH!

Bagaimana memantau DJJ secara kontinyu?

Terkadang DJJ perlu dipantau secara kontinyu tanpa terputus. Apabila pemantauan kontinyu tersebut direkam bersamaan dengan perekaman kontraksi rahim dan gerak janin maka akan tampak sebuah pola.   Pola tersebut secara keseluruhan menggambarkan kesejahteraan janin di dalam rahim. Alat yang digunakan untuk merekam DJJ tersebut adalah Kardiotokografi. Cara pemakaiannya adalah dengan menempelkan 2 sabuk ke perut ibu hamil. Pada sabuk pertama terdapat alat penyadap (transduser) untuk merekam DJJ. Sabuk ini ditempelkan di lokasi paling keras terdengarnya DJJ (punktum maksimum). Sedangkan di sabuk kedua terdapat alat penyadap untuk mendeteksi kontraksi rahim. Sabuk kedua ini ditempelkan di bagian rahim yang mengalami kontraksi paling kencang, yaitu di puncak rahim. Kedua sabuk dihubungkan ke alat KTG. Untuk mendeteksi pergerakan janin, ada sebuah tombol yang dikendalikan oleh ibu. Bila janin bergerak maka ibu harus memencet tombol itu.   Durasi perekaman rata-rata selama 10 menit, namun apabila ada hal-hal yang mencurigakan tidak ada salahnya untuk memperpanjang perekaman.

Dengan mengamati grafik hasil perekaman DJJ akan bisa disimpulkan apakah janin masih sejahtera atau tidak. Apabila ternyata kondisi janin gawat, maka harus segera diambil tindakan untuk melahirkannya.

 

One thought on “Denyut Jantung Janin, Bagaimana Memantaunya? (episode 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s