Archive | Februari 2016

DENYUT JANTUNG JANIN (episode 1)

Setiap kali memeriksa seorang ibu hamil selalu saya perdengarkan denyut jantung janin yang iramanya seperti derap kaki kuda tersebut. Dengan alat doppler, denyut jantung sudah bisa didengar sejak usia kehamilan duabelas pekan, tatkala janin masih berukuran 2 sentimeter. Dengan doppler USG kita bisa mendengar denyut jantung di usia yang lebih dini lagi, yaitu 7 pekan. Saat itu ukuran janin masih satu sentimeter. Masya Allah!

 

 

Selain memperdengarkan saya juga menghitung frekuensinya. Dengan USG, frekuensi harus dihitung terlebih dahulu, sedangkan dengan alat doppler,frekuensi langsung muncul dalam angka digital. Tak dinyana ternyata para ibu sangat perhatian dan mengingat hasil pemeriksaan pekan sebelumnya. Tatkala saya menyebutkan angka 145 x per menit, misalnya, maka segera disusul dengan pertanyaan, “Kok minggu lalu 153 kali, dok? Mengapa frekuensinya menurun?”

Atau bisa juga begini, saat saya menyebutkan sebuah angka, 137 kali per menit, maka pertanyaan selanjutnya adalah, “Kenapa secepat itu? Normal tidak?”

Sehingga pertanyaan besarnya adalah berapa normalnya Frekuensi Denyut Jantung Janin?

Mari kita telusuri ……

Jantung memang salah satu organ yang dibentuk dan berfungsi paling awal. Hal ini wajar sehubungan dengan tugasnya sebagai pemompa darah ke seluruh tubuh. Dengan aktifnya sirkulasi maka kehidupan akan terpelihara dan tumbuh kembang akan berlangsung. Sekali jantung berdenyut maka pantang untuk berhenti. Ibarat syair Khairil Anwar …”sekali berhenti, sudah itu mati”

Berhubung janin dalam rahim tidak bisa dilihat secara langsung, maka harus ada indikator yang menunjukkan bahwa janin tersebut baik-baik saja, atau justru sedang dalam masalah yang gawat. Indikator tersebut adalah Denyut Jantung Janin (DJJ). DJJ dihitung frekuensinya, dipantau iramanya dan dikorelasikan dengan kondisi ibu. Frekuensi normal DJJ adalah 120 – 160 kali per menit. Jauh lebih cepat daripada denyut jantung manusia dewasa yang 60-80 kali per menit . Karena itu sangat normal apabila DJJ hari ini 145 dan pekan kemarin 153 kali per menit.

Peningkatan DJJ bisa terjadi dari faktor janin, misalnya janin banyak bergerak. Dari faktor ibu, misalnya ibu demam. Atau bisa juga faktor lingkungan, misalnya saat rahim berkontraksi, kompresi kepala janin saat berada di dasar panggul, atau keadaan dimana terjadi hipoksia (penurunan suplai oksigen ke janin). Masih dibilang aman apabila kondisi DJJ cepat itu segera pulih kembali menjadi normal apabila gangguan dihilangkan. Namun apabila gangguan tersebut tidak bisa segera dihilangkan, maka DJJ cepat (takikardia) bisa berpotensi membuat jantung “lelah”, maka akibatnya akan terjadi sebaliknya yaitu DJJ melambat (bradikardia). Ini kondisi bahaya

Bagaimana Memantau DJJ Secara Kontinyu??

Bersambung ………

 

Iklan

UANG RUSAK, BAGAIMANA SOLUSINYA?

Musibah tak dapat ditolak. Pada suatu saat lemari kayu jati – yang waktu beli digaransi bebas rayap- ternyata kalah juga oleh serbuan rayap yang berasal dari lantai. Maka terjadilah, semua barang habis dilahap oleh hewan kecil-kecil itu. Dari buku, kain batik, baju,termasuk….uang kertas. Memang primitif sekali saya ini menyimpan uang kertas di dalam lemari! Saya ingat, waktu itu dalam kondisi tergesa-gesa harus pergi, sehingga belum sempat menyetorkan ke bank.

Uang sobek masih bisa diselotip. Tapi kalau geripis sampai hampir separuh bagian….tentu hilang nilainya. Sempat termangu-mangu juga untuk beberapa lamanya. Menyesali betapa cerobohnya saya. Belum lagi memikirkan buku-buku yang terpaksa harus direlakan masuk keranjang sampah. Kalau kebanjiran atau kebakaran, masih bisa digolongkan force majeure. Naudzubillah min dzaalik! Tapi ini kemakan rayap….! Salah siapa? Rayap? Lemari?

Sampai akhirnya saya memberanikan diri menanyakan apakah saya bisa menukarkan uang rusak tersebut ke bank syariah langganan saya. Bank syariah tertua di Indonesia, dimana saya menjadi nasabahnya semenjak pertama kali berdiri di negeri ini, demi menghindari yang syubhat-syubhat. Jawaban dari petugas bank syariah, saya disuruh menanyakan hal ini ke bank konvensional plat merah.

“Kalau bank Mandiri bilang bisa ditukar, maka insya Allah bisa, bu”, demikian penjelasannya.

Maka beberapa waktu kemudian saya ke bank tersebut. Penjelasannya sebagai berikut :

Uang rusak yang bisa ditukar melaui Bank Mandiri (BM) atau langsung ke Bank Indonesia (BI). Kalau ke BM sifatnya adalah kita menyetor uang rusak tersebut ke rekening kita sendiri. Nantinya oleh bank akan diteruskan ke BI. Adapun syarat yang diajukan oleh BM adalah sbb:

  1. Bentuk fisik uang masih bisa dikenali
  2. Kerusakan tidak melebihi 1/3 bagian uang
  3. Nomor seri masih ada yang utuh (lengkap)
  4. Bagian yang robek ditambal dengan kertas sehingga menjadi seukuran aslinya
  5. Mendapatkan pemotongan 15% dari pihak bank
  6. Bank Indonesia mungkin akan pemotongan juga tapi tidak diketahui prosentasenya

Alternatif kedua adalah langsung menukarkan ke BI dan nanti akan diganti dengan uang tunai utuh. Ada dua cara menukarkan ke BI. Cara pertama adalah datang langsung ke kantor BI Pusat. Cara kedua adalah dengan memanfaatkan kantor BI keliling yang sudah ada jadwal tetapnya.

Info di dapat dari twitter BI yaitu @bank_indonesia , hotline BI di (021)131

Link : bit.ly/1CwG7Eo

Dari informasi per telepon , ternyata untuk penukaran uang rusak langsung ke BI tidak perlu melakukan penambalan uang yang sungguh menyita waktu tersebut. Alhamdulillah

 

Akhirnya dilakukanlah penukaran uang rusak tersebut ke BI, tepatnya di gedung C. Petugas menghitung uang tersebut sekaligus menyeleksinya apakah masih memenuhi syarat untuk ditukarkan. Kesimpulannya semua lembaran merah tersebut memenuhi syarat, yang artinya akan ada penggantian sesuai jumlah nominal. Alhamdulillah!!

Berikut ini petunjuk BI sebagai panduan menangani uang rusak :

1. Masyarakat dapat menukarkan uang rupiah yang tidak layak edar dengan uang rupiah layak edar di BI atau di kantor kas keliling BI, atau bank lain yang disetujui BI

2. Yang termasuk golongan uang tidak layak edar adalah : uang lusuh, uang cacat, uang rusak, uang yang sudah ditarik dari peredaran. Uang rusak sehingga tidak layak edar adalah uang yang hilang sebagian (lebih dari 50mm2), ada lubang (lebih dari 10 mm2), ada coretan, sobek (lebih dari 8 mm), dan uang ditambal selotip (lebih dari 225 mm2)

3. Uang rusak yang diberi penggantian sesuai nominal adalah sbb :

A. Fisik uang lebih dari 2/3 ukuran aslinya dan uang masih dapat dikenali ciri keasliannya

B. Uang rusak masih merupakan suatu kesatuan dengan atau tanpa nomor seri yang lengkap dan ukurannya lebih dari 2/3 ukuran aslinya serta masih dapat dikenali keasliannya

3. Uang rusak tidak merupakan satu kesatuan tetapi terbagi paling banyak 2 bagian terpisah dan kedua nomor seri uang tersebut lengkap serta ukurannya lebih dari 2/3 ukuran aslinya

 

 

Mudah?

Ya…kemudahaan penukaran ini didukung juga dengan kemudahan akses menuju Bank Indonesia. Akan lain ceritanya apabila kita berdomisili di lokasi 3T (Tertinggal, Terpencil, Terluar). Patut diapresiasi dan didukung kerja para petugas Bank Indonesia yang mau bersusah payah menempuh perjalanan panjang dan sulit guna mencapai lokasi 3T tersebut. Untuk apa gerangan? Tak lain dan tak bukan adalah untuk memberikan fasilitas bagi warga di daerah tersebut untuk menukarkan uang-uangnya yang sudah tak layak edar dengan uang baru. Uang lama yang sudah ditarik dari peredaran, uang lusuh, uang rusak , semuanya diganti dengan yang baru. Semua itu adalah kewajiban pemerintah yang kalau perlu ditingkatkan frekuensinya. Kalau tidak, jangan heran apabila WNI di perbatasan lebih kenal ringgit Malaysia dan Peso Philipina daripada rupiah.