MASJID NABAWI 2005-2015 [catatan umroh 2]

Masjid Nabawi tetap anggun. Mempesona. Setelah tahun 2005 menginjak lantai dinginnya untuk kali pertama, sepuluh tahun kemudian saya diberikan Allah kesempatan untuk kembali bersua. Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat, wajar sekali apabila banyak sekali perubahan. Meskipun demikian tetap saja beberapa hal masih sama, tetap menjadi ciri khas masjid nabi ini. Catatan saya tentang perubahan-perubahan tersebut antara lain : Nabawi - Sunrise Nabawi-Peringatan Batas Imam

  1. Payung-payung di pelataran. Dulu pelataran sangat panas di siang hari. Paling terasa di saat sholat dhuhur. Selama duduk menunggu waktu sholat, bolehlah pakai payung. Tapi di saat sholat tentu tidak mungkin. Bahkan saya sering menjumpai pemandangan seperti ini : jamaah sholat perempuan duduk berleret mengikuti bayangan tiang. Sekadar berlindung di keteduhan bayangan memanjang. Saya tersenyum saat melihat pemandangan itu. Sekarang dengan adanya payung-payung raksasa tersebut pelataran jadi teduh. Payung membuka dan menutup secara mekanis. Di saat malam, masjid dan menaranya bertaburan cahaya. Payung dalam kondisi menutup. Beranjak siang dan matahari meninggi maka mengembanglah payung-payung tersebut laksana jamur raksasa merekah. Dalam foto di atas tampak bola matahari baru terbit dan payung baru menutup.
  2. Inspeksi tas. Pemeriksaan tas atas semua jamaah perempuan masih dilakukan namun tak seketat dulu. Yang penting jangan masukkan ponsel berkamera ke dalam tas yang akan diperiksa. Apalagi kamera DSLR, jangan sekali-kali ya. Kamera saku atau kamera HP masukkan ke dalam saku baju. Kemudian sodorkan tas untuk diperiksa sebelum diminta. Sekarang bahkan orang sibuk berfoto ria hatta itu di balik punggung asykar. Di dalam masjid, berselfi, wefi atau sekadar memotret bagian-bagian masjid menjadi pemandangan yang sangat biasa. Meskipun demikian di setiap pintu masuk masih tertulis dengan running text “dilarang memotret di dalam masjid”. Sebenarnya sungguh sayang kalau keindahan interior maupun aktivitas di dalam masjid tidak terabadikan. Ini menurut pendapat saya. Asalkan kegiatan tersebut jangan sampai mengganggu waktu sholat dan mengganggu kenyamanan jamaah lain.
  3. Pemisahan tempat sholat untuk jamaah perempuan dan laki-laki masih diberlakukan. Sama seperti dulu. Pintu perempuan ada 2 buah, salah satunya adalah pintu Utsman.   Namun di dalam area perempuan masih dipisahkan lagi antara perempuan yang membawa bayi/anak dan yang tidak. Area dibatasi dengan pintu kayu tebal yang bisa digrendel. Ada peringatan di setiap pintu, ditambah asykar yang berjaga di sana untuk mengarahkan para jamaah. Uniknya, peringatan dalam bahasa Indonesia ada salah tulis , yakni  “tanpa” ditulis “tanap” . Pintu tersebut juga akan dikunci saat giliran jamaah perempuan berziarah ke Raudhah. Setelah diumumkan bahwa waktu ziarah ke Raudhah telah tiba, maka rombongan yang akan ziarah digiring ke shaf terdepan kemudian pintu dikunci. Yah, semacam penyeterilan area begitulah. Namun harus saya akui bahwa sistim pengaturan ke Raudhah sekarang sudah lebih baik dibandingkan 10 tahun yang lalu. Bahkan antara jamaah asal Asia Tenggara yang mereka sebut dengan Melayu, dan Asia Tengah/Selatan yang fisiknya lebih besar pun dilakukan pemisahan saat persiapan menuju ke Raudhah. Alhamdulillah, pada kali ini saya dapat “menikmati” ziarah ke Raudhah. Mengetahui batas-batas mana Masjid Nabawi yang awal dan yang perluasan, melihat mimbar imam, dan mengetahui Raudhah tidak hanya dari warna karpetnya saja.

Nabawi - Bahagian Khusus Wanita Tanap Anak

  1. Para jamaah yang sudah lansia dan sudah sulit untuk melakukan sholat secara normal alias harus duduk di kursi, dulu harus menenteng sendiri kursi lipat mereka. Sekarang tak perlu membawa-bawa kursi kemana-mana, karena di dalam masjid sudah disediakan kursi lipat. Ada wadahnya. Siapa yang butuh tinggal ambil, buka kursi, dan duduk. Setelah selesai tentu harus dikembalikan ke tempatnya.

Madinah-Wadah Kursi Lipat

  1. Perubahan yang lain tentu semua sudah tahu….tak lain adalah makin banyaknya hotel. Sehingga hampir keseluruhan sisi dari Masjid Nabawi sudah berhadapan dengan pintu hotel. Namun Alhamdulillah, masih tersisa lahan untuk bangunan megah non hotel. Yaitu gedung The Exhibition of The Beautiful of Allah names. Ada apa saja di dalam gedung pameran ini? Mohon sabar menunggu tulisan saya berikutnya…..(nin)

3 thoughts on “MASJID NABAWI 2005-2015 [catatan umroh 2]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s