Perjuangan Mencapai Gua Hira [Catatan Umroh 1]

Dalam rangkaian ibadah haji atau umroh, kunjungan ke gua Hira sama sekali bukan merupakan syarat apalagi rukun. Gua yang terletak di Jabal Nur (jabal = gunung) ini lebih merupakan situs sejarah. Pendakian Jabal Nur juga merupakan optional dari city tour Makkah al Mukarromah. Maka tak semua anggota grup mendaftarkan untuk kunjungan ke gua Hira. Sewaktu ibadah haji tahun 2005, kami hanya ditunjukkan ancar-ancar lokasi gua dari kejauhan. Melihat leretan manusia di Jabal Nur yang terjal sembari dipanggang terik matahari membuat keinginan jadi surut seketika.

Namun, ada resep jitu untuk yang mau hiking ke gua Hira, yaitu berangkat sebelum subuh. Otomatis, “Harus ikhlas kehilangan sholat subuh di Masjidil Haram”. Meskipun tawaran ini ditujukan buat para usia muda – dan anak-anak tentu menyambut dengan antusias – suami tetap ingin kami berdua ikut. “Jangan khawatir, kalau sekiranya tidak kuat kita duduk-duduk saja di bawah”, demikian janji beliau.

Maka jam 4 dini hari kami sudah berkemas dan 30 menit kemudian sudah duduk berimpitan di minibus sewaan, meluncur ke Jabal Nur yang berjarak sekitar 5 kilometer dari Masjidil Haram. Tidak menggunakan bus resmi grup umroh karena tur ini tidak tercantum dalam daftar kunjungan. Sudah disepakati bahwa untuk 1 orang dikenakan biaya 30 SR.

Mobil berhenti di dekat sebuah mushola. Kami akan menunaikan sholat subuh terlebih dahulu. Tapi ternyata mushola tersebut masih terkunci. Maklumlah, model mushola di Saudi Arabia ini pakai pintu layaknya rumah tinggal. Beberapa saat kami celingak celinguk tiba-tiba muncullah seorang pemuda bergamis putih berjalan sedikit tergesa. Rupanya dia si pembawa kunci. Setelah membuka pintu ia pun langsung menuju ke depan mimbar dan melantunkan adzan. Merdu suaranya. Usai adzan, imam datang dan memimpin sholat subuh.

Suasana di lokasi awal pendakian mirip dengan di desa Penanjakan, menjelang naik ke gunung Bromo. Perumahan penduduk, terdapat warung-warung makanan dan cindera mata, dan raungan mesin-mesin mobil angkutan. Bedanya, angkutan di sini didominasi taksi. Hebat juga taksi Mekkah yang berupa sedan dan mobil SUV sekelas Avanza mampu naik dengan menderum-derum.

Menengok ke atas, tampak bayang-bayang hitam Jabal Nur tinggi menjulang. Seketika nyali ciut mengingat hiking terakhir saya adalah saat SMA, 32 tahun lampau!

Bismillah…mulailah perjalanan ini. Hawa sejuk segar, matahari belum terbit membuat kami semangat dalam melangkahi tiap anak tangga. Pemandangan sekeliling didominasi oleh bebatuan, gunung batu maupun jurang yang makin lama makin tampak dalam. Sekitar 15 menit mendaki di sebelah kiri mulai tampak kerlap kerlip cahaya. Kota Mekkah di keremangan subuh! Beberapa meter lagi menanjak mulai tampak jam raksasa Makkah, Royal Clock Tower atau Abraj al Bayt yang tingginya mencapai 601 meter. Sangat memukau! Dulu…..Rasulullah mengamati Ka,bah dari ketinggian sini.  Namun sekarang bangunan Ka’bah tak tampak karena sudah ‘tenggelam’ oleh bangunan hotel.

Dan langit di timur pun semakin memerah pertanda sang surya akan beranjak naik. Maka berpalinglah ke kanan….akan tampak pemandangan yang membuat diri ini begitu kecil di tengah kemegahan alam semesta yang diciptakan Allah SWT. Kita akan melihat bola merah matahari berada di tengah-tengan pegunungan batu dalam berbagai gradasi. Allahu Akbar!

Pemandangan Kota Makkah di Saat Subuh dari Jabal Nur

Fajar Menyingsing

Beberapa puluh meter mendaki bersama suami, terpaksa kami harus mengaso sejenak untuk memulihkan napas dan denyutan jantung. Haus…! Tapi apa daya air minum terbawa oleh anak-anak yang sudah tak tampak lagi sosoknya karena langkah mereka jauh lebih cepat. Beberapa kali kami berpapasan atau bersalipan dengan para jamaah berbagai negara yang juga mengaso.

Tiba-tiba seorang ibu tua – tampaknya jamaah asal Turki – yang sedang dalam perjalanan turun menggamit saya, dan dengan bahasa isyarat dia menyerahkan tongkatnya kepada saya. Saya terkejut dan menolak sambil mengucap terimakasih. Bayangkan, melihat keriput wajahnya usia si ibu saya taksir sudah 60an, lha kok malah tongkatnya mau dikasihkan ke orang yang lebih muda. Tapi si ibu tetap memaksa sambil mengisyaratkan bahwa perjalanan turun sudah tak memerlukan tongkat lagi. Maka saya terima tongkat tersebut dengan ucapan terimakasih yang tulus.  Ia ingin berbuat baik mengapa kita hambat? Nanti pada gilirannya, tongkat itu juga dapat jadi sarana saya berbuat baik.

Dengan melawan haus dan jantung yang seolah mau copot, akhirnya tibalah kami di puncak Jabal Nur! Tepat jam menunjukkan pukul 7.30 WSA. Yang terpikir saat itu adalah, betapa prima fisik Rasulullah SAW juga istrinya Khadijah ra. Terbukti hampir setiap malam gelap gulita beliau mengunjungi tempat ini yang pastinya waktu itu belum ada tangga-tangga yang memudahkan pendakian. Demikian pula ibu Khadijah yang konon beberapa kali mengunjugi Rasulullah saat sedang berada di dalam gua.

Sudah selesai? Ternyata belum, karena untuk mencapai gua tempat Rasulullah menerima wahyu pertama itu rupanya kita harus turun sedikit ke arah barat dan kemudian sampai pada jejeran beberapa batu raksasa yang membentuk celah. Terdapat tulisan di batu tersebut : “Baab Ghaar” yang bermakna Pintu Gua. Nah, kita harus melewati celah sangat sempit yang hanya muat satu orang tersebut. Sudah begitu, harus bergantian dengan jamaah yang juga mau lewat dari arah yang berlawanan, yaitu mereka yang sudah selesai kunjungan ke gua. Baru teringat peran penting pak Ogah di perempatan-perempatan jalan di Jakarta!

Singkatnya, setelah berhasil melewati celah tersebut kami tiba di sebuah tempat datar yang terbuka. Ada batu besar lagi bertuliskan lafadz surat Al Alaq ayat 1-5 , itulah pintu gua. Gua Hira sendiri ternyata sempit saja, berukuran sekitar 1 x 2 meter. Lantainya sebagian batu dan sebagian keramik. Ada 2 lembar sajadah terhampar. Jamaah berebutan untuk sholat di atasnya. Sebuah perbuatan yang tidak ada tuntunannya.

Di Depan Gua HiraPintu Gua

Memori saya langsung terbang ke masa hampir 1500 tahun lampau. Saat seorang laki-laki berusia 40 tahun, sedang sendirian dalam keheningan dan kegelapan tiba-tiba dikagetkan dengan kemunculan sosok laki-laki lain bercahaya putih. Jibril, laki-laki bercahaya tak dikenal itu, kemudian mendekapnya seraya memintanya melakukan sesuatu yang tak mampu diperbuatnya. Membaca! Ya, membaca! Menelusuri huruf demi huruf ternyata dapat menambah ilmu. Apa daya, Muhammad seorang yang buta huruf saat itu. Padahal, membaca adalah perintah Allah yang pertama bagi utusanNya. Sekaligus perintah bagi seluruh umatnya kelak. Tak pelak, sang malaikat penyampai wahyu harus mengeja untuk kemudian ditirukannya. Wajar, saking takut dan gemetarnya, bergegaslah ia turun gunung terjal berbatu itu menuju kehangatan rumahnya, menuju belahan jiwa yang menenangkannya, Khadijah binti Khuwailid.

Sejenak pandangan saya layangkan ke sekitar gua. Gunung batu di mana-mana. Nuansa coklat menyergap mata. Syukurlah, cuaca sangat bersahabat di pagi itu. Kami kembali ke puncak menuju “rest area”. Ada warung minuman dan makanan kecil, dan ada pula warung suvenir. Jangan heran apabila di antara makan kecil di warung terselip mi instan buatan Indonesia! Sambil makan jeruk kami ikut mendengarkan taushiyah berbahasa Inggris dari grup asal Kanada.  Di pojok sana, grup jamaah asal Pakistan berdzikir keras. sedangkan di luar warung sekelompok jamaah Turki sedang sholat sunnah.

Khawatir terlalu panas, kami segera beranjak turun.  Perjalanan turun Alhamdulillah bisa dijalani tanpa istirahat. Memakan waktu kira-kira setengah jam. Di turunan yang lebih santai ini, sempat bersua dengan beberapa satwa yang sudah pada bangun. Monyet, kucing, dan kawanan burung Merpati seolah menyapa jamaah.

Monyet Gunung

Yang unik adalah ide anak ke 4, Abdillah KF. Tiba-tiba saja dia sudah menyalip dengan membawa tas plastik besar. Rupanya jengkel dengan banyaknya sampah yang bertebaran di sepanjang undakan, dia berinisiatif memunguti sampah-sampah kering tersebut. “Aku mau GPS. Gerakan Pungut Sampah”, ujarnya sambil memasukkan botol plastik dan kaleng minuman ke dalam tasnya. Apa daya, baru turun beberapa meter, sampah sudah memenuhi 2 tas besar yang ditentengnya. Sebenarnya, kalau saya boleh saran ke pemerintah Kerajaan Saudi Arabia, situs-situs sejarah Islam seyogyanya dipelihara, dirawat, dan dijaga kebersihannya.   Apatah jadinya kalau nanti 20 – 30 tahun lagi generasi muda sudah tidak dapat menikmati keelokan Jabal Nur dikarenakan dipenuhi gunungan sampah?

Sesuai janji, dalam perjalanan turun ini saya memberikan tongkat kepada seorang ibu yang mendaki sendirian dan tampak kepayahan.  Semoga sedikit dapat mengurangi bebannya. (nin)

13 thoughts on “Perjuangan Mencapai Gua Hira [Catatan Umroh 1]

    • Betul, mbak, tingkat kebersihannya rendah sekali. Belum lagi vandalisme. Bahkan, cukup banyak saya tengarai tulisan nama2 Indonesia di batu2. Adapun sikap pemerintah KSA yang seolah acuh tak acuh terhadap situs bersejarah kemungkinan karena saking takutnya mereka terhadap pemujaan yang berlebihan dari para jamaah haji/umroh. Namun bagaimanapun juga…memang pengalaman yang luar biasa.

  1. Aku malah nggak ke Gua Hiro Bu, waktu itu Ibu saya batuk parah dan demam pulang umroh yang kedua. Jadinya pas rombongan kesana, aku gak ikutan …. hiks, insyallah kapan-kapan kalau kesana lagi harus ke Gua Hiro🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s