Hamil Palsu [Bukan Klenik Bukan Sihir]

Ternate, awal 2000

Seorang wanita muda berbadan subur masuk ke ruang pemeriksaan diiringi oleh wanita lain yang tampak lebih tua, mungkin ibunya. Ternyata tidak hanya berbadan subur, tetapi rupanya si wanita muda itu juga hamil.

“Bu dokter, ini sudah lewat bulannya tapi belum juga lahir. Tolong diperiksa apa masih normal”, itu kata pembuka dari sang ibu. Sedangkan si calon ibu muda tampak tenang-tenang saja. Ia merupakan pasien baru, sehingga sebelum ini saya tak memiliki data apa pun.

Setelah wawancara singkat meliputi tanggal haid terakhir, bagaimana aktivitas gerakan janin dan apakah sudah merasakan kontraksi yang semua saya catat di berkas rekam medik, maka si ibu muda dipersilakan naik ke tempat pemeriksaan oleh bidan asisten saya. Periksa punya periksa….tak teraba batas puncak rahim, yang seharusnya kalau sudah cukup bulan akan sangat mudah ditemukan di bawah tulang dada. Dugaan saya, mungkin karena dinding perutnya terlalu tebal. Meraba bagian tubuh janin sulit, apalagi menemukan denyut jantung janin. Jangan- jangan sudah lewat waktu betulan dan sudah terjadi insufisiensi plasenta sehingga janin akhirnya…..

Jalan terakhir…USG. Ternyata, tak tampak apa pun. Tak ada tanda-tanda kehamilan. Seluruh pemeriksaan fisik dan penunjang selaras tidak ada yang bertentangan. Karena setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium, test kehamilan pun negatif. Maka jelaslah, ini kasus hamil palsu.

Maka sekarang giliran saya yang harus menjelaskan kepada ibu dan putrinya tersebut. Makan waktu, tentunya. Belum lagi mereka harus menjelaskan kepada keluarga yang lain.

###

15 tahun kemudian, di ibukota …..

Pasien berikutnya yang masuk ke ruangan konsultasi adalah nyonya Fulan, dia pasien lama. Bahkan persalinan anaknya yang kedua sayalah yang menolongnya. Riwayatnya cukup mengundang simpati. Empat kali hamil, terdiri dari 2 kali keguguran dan 2 kali lahir normal, namun kedua bayi yang lahir normal tersebut wafat di usia di bawah 1 tahun. Sehingga saya menyambutnya dengan bahagia dan penuh rasa syukur tatkala ia mengabarkan kehamilannya yang sudah mencapai usia 7 bulan.

“Mungkin juga sudah delapan bulan dok, kalau lihat perutnya yang sebesar itu”, ujar ibu nyonya Fulan yang berusia 60an.

“Bu dokter, tapi ada orang yang nyembunyiin bayi saya. Jadi nanti mungkin tidak terlihat ya, dok. Sudah beberapa bidan dan dokter juga tidak bisa melihatnya,” ucapan bu Fulanah saat saya sedang bersiap-siap memeriksa.

“Lho, siapa yang menyembunyikan, bu? Memangnya bisa?”, saya menyahut sambil meraba perutnya dan meraba massa di atas pusatnya. “Jadi selama ini ibu sudah periksa kemana saja?” kali ini mencoba mencari denyut jantung janin yang akhirnya tidak ketemu.

“Yah, namanya orang, pastinya ada saja yang gak suka sama saya, bu dokter. Nah, tidak ada kan bu dokter”, nyonya Fulanah rupanya menangkap raut muka saya yang keheranan dengan tampilan di monitor USG. Kosong. Tak tampak janin, dan bahkan rahim tampak kecil. Rahim normal ukuran tidak hamil!

Naah….ini kasus hamil palsu lagi. Tapi kali ini si ibu menyadari bahwa ‘hanya dia yang merasa hamil’ sedangkan orang lain tidak bisa mendeteksi keberadaan janinnya.

Kembali ke tempat duduk, ibu nyonya Fulanah – yang tentu saja mendengar percakapan kami di balik tirai – kontan jadi resah. Mungkin setelah berkeliling ke beberapa dokter dan bidan yang mengatakan tidak ada kehamilan, akhirnya mereka menyandarkan pada jawaban saya hari ini. Mungkin juga karena ingat, sayalah yang menolong persalinan terakhirnya.

Sepertinya saya harus menjelaskan terlebih dahulu kepada ibunya, yang relatif masih bisa berpikir logis. Maka nyonya Fulanah saya minta pergi ke laboratorium dulu untuk beberapa test dan ibunya saya tahan di ruangan. Membutuhkan beberapa waktu lamanya sampai si ibu mau dan mampu memahami. Meskipun pertanyaan besarnya adalah, “Lalu perutnya yang membuncit itu berisi apa?” Seperti yang sudah diduga, hasil test kehamilan adalah negatif. Akhirnya nyonya Fulanah saya konsulkan ke dokter spesialis penyakit dalam untuk menagani kadar gulanya yang meningkat.

###

janin usia 8 minggu, jantungnya sudah berdenyut

janin usia 8 minggu, jantungnya sudah berdenyut

Hamil palsu bukan masalah santet atau klenik. Meskipun pernah sekali dua kita baca di surat kabar kuning, cerita seorang ibu yang kehamilannya mendadak hilang. Kasus seperti ini dikenal dalam dunia medis dengan sebutan Pseudocyesis. Dasar penyebabnya adalah masalah psikologis, yaitu keinginan yang sangat kuat untuk hamil. Bisa juga karena ketakutan kehilangan orang yang disayanginya (suami). Emosi yang kuat ini menyebabkan perubahan hormonal, yaitu terhentinya produksi hormon gonadotropin sehingga mengakibatkan berhentinya haid. Emosi jugalah yang mendasari timbulnya berbagai keluhan khas hamil, misalnya mual, sebah, payudara tegang, bahkan sampai keluar cairan kolostrum. Adapun perut yang membesar umumnya disebabkan oleh timbunan lemak atau kembung belaka. Pembuktian bahwa tidak ada kehamilan berasal dari pemeriksaan USG, atau ronsen.

Tentu saja diperlukan tata komunikasi yang baik dengan si ibu, suaminya, bahkan dengan keluarga besarnya untuk menjelaskan masalah ini. Siapa yang tidak kaget, saat harap-harap cemas menunggu lahirnya si jabang bayi yang tinggal menghitung hari mendadak ada informasi bahwa perut yang membesar selama ini hanya berisi usus dan lemak, tanpa ada janin di dalamnya. Dokter pun disarankan untuk mendokumentasikan dengan baik semua hasil pemeriksaan yang sudah dikerjakan, karena jangan sampai terjadi pemutarbalikan fakta, malah dokternya yang dituduh menipu, memberikan keterangan palsu. Na’udzubillah.

Mengingat kasus hamil palsu seperti ini umumnya menimpa seseorang yang sangat mendambakan kehamilan, maka saya menyarankan pasangan yang sedang melakukan program hamil untuk senantiasa dekat dengan Allah SWT.  Berdoa kepada Allah selaku pemilik dan pemelihara segala kehidupan. Berusaha,  dengan berkonsultasi kepada ahlinya, yang mana si ahli tersebut adalah juga manusia biasa yang ilmunya juga berasal dari Allah, dan dalam mengobati juga menyadarkan keberhasilannya kepada Allah.  Dan terakhir adalah tawakkal…menyerahkan hasil dari usaha dan doa tersebut – lagi2 – kepada Allah.

Kenapa demikian? Di saat seseorang galau dengan keinginan hadirnya seorang bayi, maka banyak pihak yang dengamn senang hati “membantu” untuk mengeruk keuntungan pribadi.  Acap kali saya temui, seorang wanita dinyatakan hamil oleh “orang pintar” atau “ajengan anu” tapi dengan syarat Pantang untuk diperiksa oleh dokter atau bidan.  Sekali saja ia mendatangi bidan, maka kehamilannya langsung lenyap. Nah!

23 thoughts on “Hamil Palsu [Bukan Klenik Bukan Sihir]

    • kalau yang no 1, katanya dulu pernah test dan hasilnya positif. Ini bisa saja terjadi, karena pada hakikatnya test kehamilan adalah reaksi kimia, yang mendeteksi hormon. Namanya positif palsu. Kasus no 2 awalnya juga test dan hasilnya negatif. Namun dirinya tetap tenang saja karena katanya, dulu pas melahirkan anaknya yang kedua juga dites, dan hasilnya negatif. Ini pun tidak salah, karena hormon HCG (yang bikin positif di test pack) itu kadar puncaknya adalah usia 8 minggu, setelah itu berangsur2 menurun.

    • waiyyaki. Memang peristiwa seperti tersebut di atas sangat mudah dikait2kan, Dan kaitan yang paling gampang adalah dengan klenik dan mistik. Apalagi kalau si ibu yang jadi korban tersebut bungkam. Tidak mau ke dokter karena takut….

  1. o…gitu tho penjelasan medisnya…
    hatur nuhun dok…

    ya Robb, meski saya memang berharap hamil, tapi ya gak gitu2 amat juga sih… (atau belum?) :v
    saya masih enjoy2 aja menikmati hidup dengan slogan “mari maiinn…” :))

  2. Penjelasan yang logis. Ternyata tes bisa memberikan hasil positif palsu. Kalau begitu harus di tes dua kali untuk memastikan, tentunya dengan jarak yang tidak berdekatan. Begitu ya, bu dokter?

    • Serupa tapi tak sama. Kalau yang dimaksud keguguran (abortus) adalah lahirnya janin yang berusia kurang dari 28 minggu (ada definisi lain yang menyebut 20 minggu). Sedangkan pada kasus janin meninggal terus mengerut, kalau tidak lahir dinamakan missed abortion

  3. dok…bagaimana cara menyadarkan org tersebut?sedangkan dia yakin dgn kehamilannya? saya sedih dok sahabat saya mengalaminya dan dia percaya dia hail,,, usia kehamilan 8 bulan

    • Maaf slow response. Untuk menyadarkan seseorang yang terobsesi hamil, sebaiknya dilakukan pendekatan terlebih dahulu sehingga dia menaruh kepercayaan kepada kita. Setelah itu baru diluruskan jalan pikirannya, diajak ke dokter. Biasanya setelah melihat USG dan tidak nampak janin barulah lambat laun di percaya bahwa kehamilannya palsu. Namun ada juga orang pintar yang melarang dengan keras korbannya untuk USG dengan ancaman kalau sampai USG maka janinnya mati dan menghilang! Ini semua adalah kedok agar tidak ada yang protes atas penipuan2 yang dilakukannya. Bantulah teman tersebut dengan doa dan ayat Rukyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s