Archive | Juli 2014

Bumil Mudik…..Kiat Aman dan Sehat

Hidup memang berputar dengan cepat.  Semakin cepat tatkala ada berbagai peristiwa yang mengoyak hati. Seperti misalnya, peristiwa dibombardirnya Gaza oleh penjajah Israel, disusul dengan tertembaknya pesawat Malaysian Airlines MH17 di perbatasan Ukraina. Sedih……

Apa akibatnya? Seperti baru kemarin mengadakan acara Tarhib Ramadhan (menyambut datangnya bulan suci Ramadhan)…..ternyata sekarang Ramadhan sudah mendekati usai.  Rasulullah menyontohkan, pada 10 hari terakhir beliau malahan “tancap gas” meningkatkan ibadahnya dan ditambah dengan i’tikaf di masjid.  I’tikaf pada hakikatnya adalah mencoba keluar dari arus pusaran waktu dengan merenung.  Kontemplasi.  Berdzikir. Mengaji. Tadabbur. Tetapi faktanya, meskipun di masjid-masjid tertentu jamaah i’tikaf bisa memenuhi seluruh area sholat bahkan sampai selasar, namun kalau dihitung dan diprosentase jamaah yang “i’tikaf”  di mal dan pertokoan atau di depan televisi ternyata lebih banyak.

Demikian juga dengan sebuah fenomena besar, yang konon hanya terjadi di Indonesia – dan tidak ada di negara mana pun – adalah mudik. Mudik di Indonesia memang tidak tanggung-tanggung.  Jutaan orang bergerak serentak, merayap di jalan raya dan menyemut di terminal serta stasiun kereta api.  Tujuannya adalah pulang kampung.

Nah di sinilah inti tulisan ini.  Ternyata para ibu hamil (bumil) pun terimbas dan ter

 

Hikmah Sakit

Bulan Ramadhan hampir berlalu sepekan……
Bersamaan dengan itu, musim pancaroba masih berjalan.  Terkadang panas, terkadang hujan. Meskipun menurut ilmu geografi seharusnya di bulan Juli ini adalah puncak kemarau.  Ada hikmahnya, yaitu puasa kita tidak terlalu berat dikarenakan cuaca panas masih diseling dengan hujan.  Udara pun berubah menjadi sejuk.  Alhamdulillah.
Namun di lain pihak, di musim pancaroba ini virus-virus beterbangan.  Yang daya tahan tubuhnya rendah pun jadi tumbang.
Penyakit yang cepat penyebarannya adalah yang ditularkan melaui pernafasan.  Maka batuk, pilek, sakit tenggorokan pun berdatangan.  Dalam sehari bisa 3 atau 4 orang bumil yang kontrol rutin dalam keadaan sakit.  Maka terkadang ada bersin, ada batuk berdahak, dan hidung tersumbat di dalam kamar praktek. Menghadapi yang demikian, selalu ada risiko tertular.
Terkadang saya berpikir, sebaiknya yang pakai masker yang sehat atau yang sakit ya? 🙂
Tulisan ini tidak berlanjut dengan membahas penyakit, namun tentang hikmah di kala sakit.  Selalu ada kesempatan untuk bersyukur dan mengambil hikmah, demikian ajaran agama kita.
maternityroom.www.omsakthi.org
15 HIKMAH DIKALA SAKIT

1. Sakit itu dzikrullah
Mereka yang menderitanya akan lebih sering dan syahdu menyebut Asma Allah dan kalimat thoyyibah dibanding ketika dalam sehatnya.

2. Sakit itu istighfar
Dosa-dosa akan mudah teringat, jika datang sakit sehingga lisan terbimbing untuk mohon ampun.

3. Sakit itu tauhid
Bukankah saat sedang hebat rasa sakit, kita makin sadar tentang Yang Maha Penyembuh?

4. Sakit itu muhasabah
Dia yang sakit akan punya lebih banyak waktu untuk merenungi diri dalam sepi, menghitung-hitung bekal kembali.

5. Sakit itu jihad
Dia yang sakit tak boleh menyerah kalah; diwajibkan terus berikhtiar, berjuang demi kesembuhannya. (berobat kepada ahlinya, berobat dengan tidak melanggar akidah, red)

6. Bahkan Sakit itu ilmu
Bukankah ketika sakit, dia akan memeriksa, berkonsultasi dan pada akhirnya merawat diri untuk berikutnya ada ilmu untuk tidak mudah kena sakit.

7. Sakit itu nasihat
Yang sakit mengingatkan si sehat untuk jaga diri. Yang sehat hibur si sakit agar mau bersabar. Allah cinta dan sayang keduanya.

8. Sakit itu silaturrahim
Saat jenguk, bukankah keluarga yang jarang datang akhirnya datang membesuk, penuh senyum dan rindu mesra? Karena itu pula sakit adalah perekat ukhuwah. (tetap menjaga adab-adab menjenguk orang sakit, red)

“Barang siapa mengunjungi orang sakit maka ia akan didukung oleh penghuni langit” (HR Tirmidzi)

9. Sakit itu gugur dosa
Barang haram tercelup di tubuh dilarutkan di dunia, anggota badan yang sakit dinyerikan dan dicuci-Nya.

Rasulullah bersabda, “Jangan kamu maki demam karena sebenarnya demam itu menghilangkan dosa layaknya batu asah menghilangkan karat besi”. (HR. Muslim)

10. Sakit itu mustajab doa
Imam As-Suyuthi keliling kota mencari orang sakit lalu minta didoakan oleh yang sakit.

11. Sakit itu salah satu keadaan yang menyulitkan syaitan;

diajak maksiat tak mampu-tak mau; dosa lalu malah disesali kemudian diampuni.

12. Sakit itu membuat sedikit tertawa dan banyak menangis; satu sikap keinsyafan yang disukai Nabi dan para makhluk langit.

13. Sakit meningkatkan kualitas ibadah;
rukuk-sujud lebh khusyuk, tasbih-istighfar lebih sering, tahiyyat-doa jadi lebih lama.

14. Sakit itu memperbaiki akhlak
kesombongan terkikis, sifat tamak dipaksa tunduk, pribadi dibiasakan santun, lembut dan tawadhu.

15. Dan pada akhirny.. mari kita bersyukur Allah SWT masih ingat pada kita dengan memberi kita sakit.

Dan meskipun demikian, seyogyanya kita tidak berdoa minta sakit, atau lantas abai menjaga kesehatan dengan tujuan supaya sakit.
Bahan tulisan :
1. Sebuah milis (terimakasih untuk dr. BTP, SpOG)
2. Fiqih untuk Orang Sakit, DR. Muhammad Manshur, Najla Press

 

Puasa Bumil dan Puasa Busui, Bagaimana Baiknya?

makanansehat republika.co.id

 

Bulan Ramadhan telah berjalan 3 hari. Namun pertanyaan dari para bumil, busui, serta bumil merangkap busui masih banyak mengalir.  Dalam prakteknya, sejak awal Sya’ban saya sudah mulai memberikan penyuluhan tentang puasa ini kepada para pasien.

Sebenarnya untuk seorang bumil yang sehat, baik dirinya maupun janinnya, tak ada hambatan untuk berpuasa. Namun hal ini tentu saja tak dapat disamakan untuk semua orang. Simak dulu kriteria bumil sehat, yaitu sebagai berikut :

1. Berat badan sebelum hamil tidak termasuk kategori underweight.  Untuk itu perlu dihitung dulu dengan rumus IMT atau Indeks Massa Tubuh

yaitu :

                                  IMT = BB (kilogram)/TB (meter) kuadrat

Setelah mendapatkan hasil IMTnya, cocokkan ke dalam tabel berikut :

< 22                   + BB kurang (underweight)

22 – 25               = BB normal

25 – 29               = BB berlebih (overweight)

> 29                    = obesitas

2. Kenaikan berat badan selama hamil normal. Lebih jelasnya bisa dibaca di postingan sebelum ini.

3. Berat badan janin normal sesuai usia kandungannya

4. Kehamilan tidak disertai dengan anemia (kurang darah) yaitu kadar Hb < 10,5 g%

5. Kehamilan sudah memasuki usia aman, yakni trimester 2 ( 4 bulan ke atas)

6. Kehamilan tidak disertai dengan komplikasi penyakit tertentu, misalnya preeklamsia, hipertensi, diabetes, penyakit jantung, paru, asma, ginjal, dll

Nah, untuk bumil yang memenuhi kriteria tersebut di atas, silakan berpuasa.

Namun bila dalam menjalani puasa bumil mengalami hipoglikemia (penurunan kadar gula darah), maka diwajibkan berbuka.

Tanda dan gejala hipoglikemia adalah sbb :

1. Badan lemas tak bertenaga

2. Keluar keringat dingin

3. Gemetaran

4. Kliyengan atau pandangan berkunang-kunang

Jangan sampai memaksakan diri dikarenakan sayang membatalkan puasa yang sudah terlanjur sampai tengah hari, misalnya.

Demikian juga bila dalam menjalani puasa ternyata terdapat penurunan BB > 5% berat sebelumnya, maka dianjurkan untuk tidak melanjutkan puasa.

Bagaimana dengan Busui?

Tentu saja yang kita bicarakan di sini adalah busui yang sudah selesai nifasnya yaaa.

Ini syarat dan ketentuannya :

1. Bayi sudah berusia lebih dari 3 bulan.  Dengan asumsi, pada usia tersebut bayi sudah pintar menyusu, demikian pula produksi ASI sudah lancar. Ibu juga sudah bisa menyesuaikan diri dengan peran barunya sebagai ibu

2. Untuk busui yang masih dalam fase ASI Eksklusif  (ASIX), harus tersedia stok ASI Perah (ASIP) yang cukup

3. BB Bayi menunjukkan kenaikan yang standar sesuai dengan umurnya. Sesuai dengan grafik BB yang ada di Kartu Menuju Sehat (KMS)

4. Ibu dalam kondisi sehat dan telah pulih 100% .  Bila setelah puasa ternyata produksi ASI jauh menurun atau bayi menjadi rewel, maka jangan pikir panjang, sudahilah puasa ibu

Bagaimana kalau si ibu punya jabatan rangkap, yaitu menyusui sambil hamil atau sebaliknya…

Khusus yang double job seperti ini, mohon pengertiannya untuk tidak puasa! Kasihan dong si janin dalam rahim. Janin ini tanpa bisa memilih harus rela dinomortigakan…teganya…teganya….egoisnya sang ibu…. 😦

Jangan juga melakukan ini, demi ingin ikut puasa, bayi disapih dan ASI diganti dengan Sufor. Duuuh……………….

Karena, kalau kita kembali kepada hakikatnya, maka sebenarnya bumil dan busui itu masuk golongan yang dapat keringanan untuk tidak puasa. Hanya saja setelah mengetahui bahwa puasa yang ditinggalkan harus diqodho, maka para bumil dan busui pada ngotot pingin puasa. Ya kan…ya kan…..?

Meskipun memang harus diakui bahwa aura bulan Ramadhan beserta ibadah puasa memang magis.  Hari-hari yang sama terus berganti, namun kenapa semuanya jadi terasa beda kala Ramadhan tiba. Untuk itulah diperlukan keikhlasan dari para bumil dan busui (untuk tidak ikut berpuasa).  Percayalah, pahala ibadah tidak hilang. Lagipula masih banyak ibadah dan amal perbuatan lain yang ganjarannya berlipat-lipat hari biasa, yang masih bisa dilakukan.

Landasan :

1. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (Surat Al Baqarah 183). Yaitu dalam beberapa hari tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblahbaginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.  Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka berpuasa) membaya fidyah (yaitu) memberi makan seorang miskin.  Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya.  Dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (Al Baqarah 184)

2. “Sesungguhnya Allah melepaskan kewajiban berpuasa serta meringkas sholat kepada musafir, dan kewajiban puasa kepada ibu hamil dan menyusui (HR Tirmidzi)

3. Ibnu Abbas berkata:” Ibu menyusui dan wanita hamil apabila takut akan kesehatan anak mereka, hendaknya berbuka lalu (membayar fidyah dengan) memberi makan (HR Abu Dawud)