Bandara atau Garasi? [wamena 2]

Wamena adalah ibukota kabupaten Jayawijaya, provinsi Papua. Kota ini terletak di sebuah lembah yang indah dikelilingi oleh pegunungan Jayawijaya.  Maka, satu-satunya jalur transportasi ke Wamena  adalah lewat udara. Dari Jakarta, Wamena bisa ditempuh dengan dua kali penerbangan.  Jakarta – Jayapura yang memakan waktu 4,5 jam dan dilanjutkan dengan Jayapura – Wamena selama 30 menit.

Kami menggunakan jasa Garuda Indonesia (tergabung dalam skyteam–iklan) untuk penerbangan langsung dari SoekarnoHatta ke Sentani di Jayapura. Berangkat jam 23.50 WIB dan tiba jam 7 pagi WIT. Sholat subuh dilakukan di pesawat. Dan pemandangan matahari terbit juga dapat dinikmati dari jendela pesawat.  Subhanallah! Selama 4,5 jam penerbangan mendapatkan dua kali konsumsi. Malam dapat roti dan paginya sarapan.  Yang unik…dalam perjalanan pulang dengam Garuda Indonesia juga, makan siangnya berupa ubi rebus sebagai pengganti nasi.

Fajar dari Jendela

Bandara Sentani di pagi hari.  Belum terlalu ramai.  Kami minta jasa portir untuk mengurus bagasi sejumlah 5 koli berupa barang-barang bantuan untuk aksi kemanusiaan. Nah, portir tersebut tidak antri melainkan langsung mengambil bagasi2  tersebut di mobil pengangkutnya.  Setelah itu kami berjalan ke ruang keberangkatan yang letaknya bersebelahan melalui sebuah pintu penghubung.

Uniknya di Sentani ini….dimana-mana ada tulisan peringatan “Dilarang Membuah Ludah Pinang” ditempel di tembok. Rupanya, kebiasaan makan sirih pinang yang mengakibatkan ludah berwarna merah ini dibarengi dengan kebiasaan meludah sembarangan.  Hmmmmh……

Peringatan Dilarang Makan Pinang

Penerbangan ke Wamena dengan pesawat TriganaAir jenis Boeing 737-200.  Lumayan stabil.  Karena ada jenis lain ATR yang ukuran lebih kecil dan berbaling-baling, saya bayangkan akan kurang nyaman.  Ada konsumsi berupa teh kotak.  “Baru mau ngliyep….kok sudah sampai”, ujar suami.  Sedangkan mata saya tak mungkin terpejam karena pandangan tak lepas dari jendela “melahap” semua keindahan hutan dengan warna hijau yang bergradasi bagaikan relief di peta timbul.  Masya Allah…indah sungguh Indonesia ini ya Allah.

IMG_6158

Mendaratlah kami di bandara Wamena.  Tidak ada yang namanya ruang kedatangan, yang ada hanyalah lantai beralas semen dengan ban berjalan kecil untuk bagasi.  Demikian juga tampak depan bandara….Lho, kok seperti garasi ya…?

Namun hawa dingin sejuk beserta deretan penjual pinang yang menggelar dagangan di depan pagar bandara segera mengalihkan perhatian saya tentang bandara yang mirip garasi itu.  Hanya suami yang menggumam tentang “kemana larinya dana otsus untuk Papua. Kalau sekedar bikin bandara yang agak nggenah saja pasti bisa lah”

Ruang Kedatangan Bandara Wamena

SELAMAT DATANG DI WAMENA!!

 

Keterangan foto :

1. Terbit fajar di timur tampak dari jendela pesawat

2. Peringatan dilarang makan pinang

3. Pemandangan Elok di Atas Danau Sentani – Bagai Sepotong Surga jatuh ke Bumi

4. Ruang kedatangan bandara Wamena

20 thoughts on “Bandara atau Garasi? [wamena 2]

  1. 4.5 jam kayak 6.5 jam gara2 beda waktu ya.

    Dana otsus dikorupsi, katanya begitu. Yang ngorupsi ya putra daerah yang jadi petinggi Papua. Makanya suka sebel sama orang2 yang menghujat pemerintah Indonesia yang menganak tirikan Papua.

      • saya di jayapura 45 menit dr bandara sentani. di jaypura knp blm ada bsmi ya dok. kmrn sy tnya di twitter bsmi wamena blm ada yg jyoura.

        oh iya sy skrg di smrg, tugas belajar🙂
        kalau berkenan blog sy yg ini di follow juga, yg ini baru🙂

      • Oh, di Semarang utk berapa lama? Setelah selesai tubel, balik ke Jayapura lagikah? Kalau di Jayapura masih utk beberapa tahun ke depan, mungkin bisa inisiasi pembentukan BSMI Jayapura. OK, insya Allah di follow

  2. Iya ya … bandara atau garasi mobil..?? Lebih bagus terminal bus deh, jelas ke-terminal-annya …;)
    Kemaren capres bilang lagi waktu debat Capres, jika dia dapat mandat dari rakyat, akan ada pembangunan ‘tol laut sampai ke Timur ,,, ntar, lihat aja kenyataannya?😀

    • Betul….mari kita tunggu yang namanya Tol Laut. Seperti apa bentuknya, saya juga belum bisa membayangkan. Tapi yang jelas, untuk menjangkau daerah tengah Papua ini yang dibutuhkan adalah pesawat. Selama ini yang jadi andalah adalah pesawat para misionaris. Kenapa bukan pemerintah saja yang fasilitasi?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s