Melangkah ke Wamena (1)

Peta Papua

Sebagai orang Indonesia, malu juga kalau sampai usia setengah abad ini belum menginjak pulau tertimur di Indonesia , Papua.  Tiga kali BSMI terjun ke Papua.  Yang pertama dan kedua adalah saat terjadi gempa bumi di Nabire, dan yang terakhir saat terjadi banjir bandang di Wasior.  Namun di tiga kesempatan itu, saya tidak terpilih untuk berangkat.

Karena itu, saat menjalin kontak dengan relawan BSMI di Wamena, dr. Mukri Nasution via twitter,  saya sengaja minta supaya beliau mengadakan satu acara bakti sosial sehingga dengan demikian saya bisa menengok bumi cendrawasih tersebut.  Alhamdulillah, harapan jadi kenyataan (semoga, ya Allah).  BSMI cabang kabupaten Jayawijaya akhirnya siap untuk dideklarasikan!

Tak hanya deklarasi, tetapi digelar juga berbagai acara penunjang, salah satunya adalah bedah buku.  Saya tawarkan untuk membedah buku saya yang pertama, Membentangkan Surga di Rahim Bunda. Dokter Mukri menyambut baik acara ini dan antusias menyiapkan segala sesuatunya.  Salah satu yang mendasari keantusiasan dokter asal Padang ini adalah tingginya kasus PMS (Penyakit Menular Seksual) di kalangan para ibu di sana.  Bahkan,  kasus HIV sudah menjadi ‘makanan sehari-hari’.

Beberapa pekan menjelang acara – yang baru digelar hari Sabtu yad – mereka sudah memesan buku tersebut.  Saat saya katakan bahwa akan lebih hemat kalau bukunya saya bawa nanti pas berangkat saja, mereka menolak.  Alasannya, sudah banyak yang antri mau beli.  Lho kok? Pas kebetulan ada seorang relawan BSMI Jayawijaya yang sedang ada keperluan pulang kampung dan mampir ke Jakarta, pak Bambang nama relawan tersebut, membawa 20 eksemplar buku MSRB.  Memang lebih hemat kalau dibawa sebagai bagasi, karena ongkir JNE ke Papua harganya….wah!! Pakai kilat khusus bisa sedikit lebih ekonomis.

Tak disangka, sepekan kemudian masuk laporan bahwa 20 eksemplar buku tersebut telah habis terjual.  Lho, jadi nanti pas acara bedah buku jualan apa, dong?

“Tolong nanti ibu dokter bawa lagi saja, bu. Karena ini pun sudah ada yang pre order 20 orang”.

Ndilalah, stok di gudang penerbit Qultum Media pun habis.  Pesanan 40 eksemplar hanya dikirim 32. *kalau kehabisan di penerbit, alhamdulillah juga. Semoga bisa segera masuk cetakan ke 2. aamiin*

Saat iseng saya tanya, “Dijual berapa bukunya? Kan untuk BSMI sudah ada diskon”.

Jawabannya mengagetkan.  Mereka bilang harga buku saya yang di toko 59.000 terdongkrak menjadi 80.000! Hah…kok bisa segitu? Memang begitu, ibu.  Coba saja hitung kalau pakai ongkir, mahal sekali bukan.

Memang tak salah apa yang mereka katakan.  Pengalaman hidup di Maluku Utara 14 tahun yang lalu menunjukkan hal yang sama.  Harga di Indonesia Timur bisa 3X lipat harga di Jawa.  Bahkan, harga premium yang mencapai 50 ribu seliter pun bisa terjadi.  Oooh…negeriku.

Insya Allah beberapa jam lagi pesawat Garuda akan tinggal landas menuju Jayapura, dan dari sana akan dilanjutkan dengan pesawat Trigana menuju Wamena.  Setidaknya, itulah rute yang akan kami jalani. Semoga Allah memudahkan dan menlindungi perjalanan ini. Semoga membawa berkah dan manfaat untuk para saudara muallaf di Wamena.  Aamiin.

Nantikan cerita selanjutnya……..

 

8 thoughts on “Melangkah ke Wamena (1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s