Archive | April 2014

“Lahir Normal”….Apa dan Bagaimana? [P4 dan P5]

Sampailah kita di bagian terakhir dari serial lahir normal. P4 dan P5 adalah Psikis dan Penolong.
PSIKIS
Psikis disini yang dimaksud adalah kesiapan mental calon ibu. Apakah dia sudah dewasa secara kejiwaan? Apakah dia sudah siap menghadapi proses persalinan ini? Apakah dia menghendaki kehamilannya? Ternyata semua itu berpengaruh terhadap kemajuan suatu persalinan. Ibu hamil yang pencemas cenderung akan mudah panik saat timbul rasa nyeri yang makin lama makin hebat. Panik plus sakit, membuat seseorang berteriak-teriak tak terkendali. Bahkan yang lebih seru, ia bahkan bisa marah-marah dan memaki.

Siapa saja bisa jadi sasaran kemarahannya. Namun yang paling sering biasanya suami. Bisa dimaklumi, suamilah yang berhasil membuat dirinya hamil, tapi sekarang cuma sibuk sms karib kerabat bahwa istrinya melahirkan…sebentar lagi. Karena itu, hedaknya setiap kehamilan adalah kehamilan yang diinginkan dan diharapkan berdua. Bukan keinginan salah satu pihak saja. . Bila sudah siap menerima kehamilan dan segala risikonya, maka untuk menetralisir rasa sakit saat persalinan, bekalilah diri dengan berbagai ilmu tentang kehamilan dan persalinan. Ilmu ini, selain diperoleh dari buku, juga bisa dari dunia maya. Namun bijaksanalah menyerap ilmu dari dunia maya,. Pilihlah yang sumbernya adalah orang yang kompeten dan dapat dipercaya. Selain itu ibu hamil bisa mengikuti kursus atau kelas-kelas pranatal. Latihlah fisik dengan tetap berolahraga, mengikuti kelas senam hamil, serta makan makan yang sehat dan bergiziai. Jagalah berat badan agar tetap terkendali, agar tubuh cukup lentur untuk mengambil posisi tertentu untuk bersalin. Olahraga yang dilakukan teratur juga membuat pernapasan jadi panjang dan teratur. Penelitian membuktikan bahwa ibu hamil yang berilmu akan lebih siap dari pada yang tanpa bekal.

PENOLONG dan PENDAMPING

Apatah jadinya apabila si ibu sudah cukup tenang dan terkendali dalam proses persalianan damun pendampingnya mudah panik atau penolongnya kurang sabar. Meskipun menurut penelitian juga, bahwa proses persalinan akan lebih lancar apabila si ibu didampingi oleh keluarga terdekatnya – bissa suami, ibu, mertua, atau kakak perempuan, namun sifat pendamping juga harus jadi bahan pertimbangan. Tak jarang saya meminta penggantian pendamping, apabila ternyata pendamping malah bikin suasana kacau. Termasuk menghormati keinginan ibu bersalin. Ada di anatara mereka yang malah ingin sendirian tatkala bersalin. Kalau memang begini, ya sudah keluarga yang lain di luar saja…berdoa. Kultur masyarakat di Indonesia adalah : ibu bersalin di antar oleh keluarganya serombongan. Semua sesepuh turut serta dan masing-masing memberikan nasihat sendiri2. Bisa dibayangkan betapa riuhnya suasana. Karena itu, patuhilah apabila ada peraturan bahwa pendamping sebaiknya satu orang saja.
Kembali ke penolong. Penolong yang sabar, tentu akan mendukung kemajuan prosese persalinan. selain sabar, yang tak kalah pentingnya adalah informatif. Si ibu juga berhak tahu, sampai dimana proses persalinannya. Apakah kemajuannya sesuai dengan waktu, atau justru terjadi kemacetan persalinan sehingga membutuhkan tindakan tertentu. Beruntungklah di Indonesia, dimana penolong persalinan pada umumnya adalah dokter atau bidan tempat ia berkonsultasi selama kehamilannya. Di negara lain, bisa saja dokter tempat periksa hamil berbeda dengan dokter penolong persalinan. Dan itu memang sudah peraturan yang harus diikuti.
Catatan :mohon maaf apabila terjadi banyak salah ketik sehubungan dengan pembatan tulisan ini mengalami error, yaitu tidak tampil hurufnya, sehingga nulisnya jadi blind. Help…siapa dapat menolong ya…