“LAHIR NORMAL” … Apa dan Bagaimana? [P3]

Faktor Keberhasilan lahir normal yang ketiga adalah Passenger (penumpang)

Setelah mengetahui kedua unsur sebelumnya yaitu Power dan Passage (jalan lahir), maka penumpang yang melintasi jalan lahir menjadi penentu berikutnya.  Penumpang tersebut tak lain dan tak bukan adalah si jabang bayi.

Ada 2 faktor terkait bayi ini, yaitu :

1. Ukuran bayi :

Ukuran bayi meliputi berat badan secara umum dan ukuran kepala secara khusus. Berat badan bayi dianggap besar apabila taksirannya melebihi 3500 gram. Bila lebih dari 4000 gram maka sudah termasuk bayi besar (makrosomia).  Karena itu, bagi bumil yang trend kenaikan berat badannya cenderung cepat, perlu waspada.  Anggapan bahwa bayi makin gemuk berarti makin sehat tidak berlaku di sini (juga di masa-masa selanjutnya).  Bayi dianggap normal apabila dilahirkan pada usia cukup bulan (38-42 minggu) dan berat minimalnya 2500 gram.  Sebagai patokan garis besar, minimal berat badan janin di usia 28 minggu adalah 1000 gram dan di usia 34 minggu adalah 2000 gram.  Di usia 36-37  minggu, angka 2500 gram umumnya telah tercapai.

Beberapa  faktor yang memengaruhi berat bayi antara lain :  genetik,  konstitusi,  nutrisi, dan penyakit ibu.  Faktor genetik dan konsitusi sudah merupakan bawaan dari ibu, maka yang bisa dimanipulasi adalah faktor nutrisi dan penyakit.  Nutrisi tinggi kalori, selain menggemukkan ibu juga menggemukkan janin dalam rahim.  Karena itu, kalau tidak ingin bayi menjadi “giant”, perhatikan asupan kalori agar tidak berlebihan.  Untuk bumil dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) normal (22-25), kenaikan berat badan bisa 10-12 kg selama hamil.  Bila IMT >25, kenaikan di bawah 10 kg sudah cukup.  Komposisi makanan mengacu kepada piramida makanan.

Penyakit yang dampaknya ke berat badan janin adalah diabetes.  Kehamilan bersifat “diabetogenik”, artinya membangkitkan penyakit diabetes yang selama ini tersembunyi, dan memunculkan kondisi serupa diabetes.  Kalau kadar gula darah ibu tidak terkontrol, otomatis bayi hidup dalam kondisi kadar gula darah tinggi selama di dalam rahim.  Tumbuhlah ia menjadi “bayi gede”, dan saat lahir- hubungan dengan ibu lewat plasenta terputus – berisiko hipoglikemia. Bagi bumil yang di antara keluarganya (terutama orang tua) yang menderita penyakit diabetes, ada baiknya berkonsultasi ke dokter terlebih dahulu sebelum hamil.  Apabila sudah terlanjur hamil, perhatikan komposisi makanan agar rendah kalori namun penuh gizi. Pada saat kontrol hamil biasanya akan diperiksa gula darah untuk penapisan terhadap penyakit diabetes

IMG_0129

Bayi gemuk, rawan terjadi kemacetan persalinan akibat disproporsi kepala panggul.  Dan ada kemungkinan terjadinya kemacetan bahu di saat persalinan, yaitu suatu kondisi dimana kepala sudah lahir namun bahu sulit lahir.  Ini kondisi yang sangat tidak diharapkan oleh siapa pun.

Diameter kepala janin juga memegang unsur penting untuk mulusnya perjalanan lewat jalan lahir.  Diameter kepala sampai dengan 9,5 cm masih dianggap normal namun di atas itu sudah masuk kategori besar, yang rawan terjadi disproporsi kepala panggul juga.

2. Posisi bayi

Allah SWT sudah mengatur posisi bayi agar kepalanya cukup melewati panggul ibu.  Posisi tersebut adalah pada saat lahir  kepala bayi menunduk sehingga ubun-ubun kecil berada di depan ( arah tulang kemaluan).  Untuk mencapai posisi tersebut itu dalam perjalanannya bayi mengadakan 2 kali rotasi kepala.  Posisi tersebut sangat penting karena membuat diameter kepala menjadi paling kecil.  Sedikit saja bayi mendongak maka diameter sudah berubah lagi yang bisa mengakibatkan kemacetan persalinan.

Sekitar 3-4% bayi berada dalam posisi sungsang (kepala di atas, bokong atau kaki di bawah) saat lahir.  Meskipun posisi ini membujur, namun memperkecil peluang untuk lahir normal terutama untuk kehamilan pertama dan bayi besar.  Untuk persalinan berikutnya, dan bayi tidak terlalu besar, persalinan normal pada letak sungsang masih dimungkinkan.

Kelainan letak yang lebih jarang adalah janin melintang.  Kejadiannya sekitar 1:500 kehamilan.  Bila posisi lintang ini menetap, maka tidak ada jalan lain kecuali lahir lewat operasi sesar.

Macam-macam Letak Sungsang

5 thoughts on ““LAHIR NORMAL” … Apa dan Bagaimana? [P3]

    • Alhamdulillah…berapa berat penumpangnya? Kadonya berupa doa saja ya. U’iidzuka bikalimatillahittaammah min kullisy syaithaani wa haammah wa min kulli ‘ainillaammah
      *nanti kalau hamil lagi baru buka lagi catatan di blog ini*

  1. Bu Dok, jadi nginget2 lagi deh pas ngelahirkan 7-9 tahunan lalu.
    sebelum lahir udah setumpuk buku hamil sampe seribu satu pertanyaan about new baby hehehe… jleret pink? buka buku dulu. apa apa, pertanda apa gtu, langsung dicocokkan ama bukunya.

    sampe pas si baby pertama ngengek, kebingungan nyari halaman buku tentang feces bayi dan cara menanganinya hahaha… nostalgiah.

  2. lha komennya koq masuk yang disini yah….? salah klik komen tadi. harusnya di judul yg terbaru soal kematangan si ibu/pendamping. error juga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s