“LAHIR NORMAL” …Apa dan Bagaimana? [P1]

“Lahir Normal”….sepertinya menjadi kata mutiara baru di kalangan ibu hamil (bumil).

Pasalnya semua bumil berharap bisa lahir normal.  Ini ditandai dengan pertanyaan standar dan klasik setiap bumil, yaitu “Dokter, apakah saya nanti bisa lahir normal?”  Ya, kalau pertanyaan ini ditanyakan ketika usia kehamilan sudah menginjak trimester 3 memang masih relevan.  Tetapi terkadang baru didiagnosa hamil, dengan usia kehamilan baru 7 atau 8 minggu, sudah terlontar pertanyaan tersebut, maka tentu saja jawabannya adalah ….”Semoga….berdoalah agar Allah memudahkan kehamilan dan persalinannya nanti. Jalan masih panjang”.

Kehamilan adalah peristiwa yang dinamis.  Artinya dari waktu ke waktu selalu ada perubahan yang terjadi.  Beberapa perubahan memang sudah ada standar normalnya, jadi sedikit banyak bisa diprediksi.  Tetapi kita harus selalu siap dengan perubahan yang tidak disangka-sangka.  Karena itu diperlukan kontrol hamil secara berkala.  Dan di atas semuanya peran doa, dzikir, dan ibadah yang lain tetap mutlak adanya.

Kembali ke masalah lahir normal.  Yang diistilahkan dengan lahir normal adalah melahirkan bayi cukup bulan dengan berat badan cukup,  melalui jalan lahir, dalam hal ini adalah vagina.  Sedangkan lawannya adalah melahirkan lewat operasi sesar. Sebagaimana kehamilan,  peristiwa persalinan juga dinamis, bisa lancar dan mudah namun bisa juga terjadi hambatan di tengah perjalanan.  Selama ini yang menjadi patokan untuk keberhasilan lahir normal adalah faktor 5P  .  Apakah itu…..

P1 : POWER

Power adalah kekuatan yang berasal dari ibu. Ada 2 macam power, yaitu kontraksi dan tenaga mengejan.  Kontraksi yang dimaksud adalah kontraksi rahim yang datang secara teratur dan adekuat. Disebut adekuat apabila kontraksi tersebut mengakibatkan pembukaan dan penipisan mulut rahim, serta mampu mendorong bayi turun memasuki jalan lahir.  Kontraksi yang adekuat bersifat sebagai berikut : timbul setiap 2-3 menit, lamanya 40-45 detik, kekuatannya cukup, dan ada masa istirahatnya.  Kontraksi adekuat ini biasanya nyeri.  Meskipun kontraksi ini hilang timbulnya di luar kendali ibu, namun pada ibu yang lemah dan kehabisan tenaga, kontraksi biasanya juga ikut-ikutan melemah.  Demikian juga pada ibu yang menderita anemia (kurang darah), kontraksinya juga kurang kuat sehingga mengakibatkan persalinan lama.

IMG_0150

Power kedua adalah tenaga mengejan.  Berbeda dengan kontraksi, tenaga mengejan ini sepenuhnya dalam kendali ibu.  Ibu yang sehat insya Allah akan mempunyai tenaga yang cukup untuk mengejan.  Hanya saja yang sering terjadi adalah cara mengejan yang tidak efektif.  Akibatnya, ibu lelah karena sudah terlalu lama mengejan, namun bayi tak kunjung lahir.  Persalinan yang begini, kalau kepala bayi sudah berada di dasar panggul (tinggal keluar saja) bisa dibantu dengan alat, misalnya ditarik dengan alat vakum atau forseps (tang).  Persoalannya, bagaimana cara mengejan yang efektif itu? Allah SWT sebenarnya sudah menyiapkan refleks mengejan saat kepala bayi menekan persarafan yang ada di dasar panggul.  Namun sering karena gelisah dan panik di tengah-tengah rasa nyeri yang mendera maka refleks tersebut menjadi tidak terkoordinasi.  Untuk mempelajari teknik pernapasan dan cara mengejan bisa mengikuti kelas senam hamil atau pregnancy class.  Selain itu, ibu bisa melakukan olahraga berenang.  Cara menarik dan menghembuskan napas tatkala berenang sangat mirip dengan saat persalinan.  Dan yang tak boleh dilupakan, ibu bersalin harus tenang dan rileks sehingga terjalin kerjasama yang baik dengan penolong persalinan  (bersambung………..)

 

Keterangan Gambar : Kurva yang menggambarkan standar kemajuan persalinan

 

 

 

12 thoughts on ““LAHIR NORMAL” …Apa dan Bagaimana? [P1]

  1. Mbak Prita, suka dengar salah ngeden yang akhirnya ada yg bengkak2 kaki atau tangan atau jg leher, bahkan ada yg sampai pembuluh darah di mata pd pecah (?) betulkah itu krn salah ngeden ..??

    Waktu melahirkan si Bungsu.. (InshaAllah) proses kelahirannya cepat, dan ndak pakai dijahit, dan sendiri pula, eehh sama Bidan sih hehe tp ndak ditemanin keluarga maksudnya.

    Terus disini tidak boleh pakai korset sehabis melahirkan, dimarahin malahan, itu knp mbak..?? Khan enak rasanya kalau perut pakai korset/gurita, berasa jejeg gitu.

    • Waah…nostalgia ya, teh. Sebenarnya yang tepat bukan “salah”, tapi ya mengejan yang kurang efektif itu. Mengejan sih iya, tapi energi tidak tersalurkan ke jalan lahir, melainkan ditahan (atau tertahan) di tenggorokan atau dada. Bisa saja terjadi pecah pembuluh darah di mata. Tapi tidak sampai menyebabkan bengkak di leher. Apalagi bengkak di tangan atau kaki, malah gak ada hubungannya🙂
      Adapun kalau sudah kelahiran yang ke sekian, biasanya jalan lahir sudah lebih lentur dan kecepatan pembukaan memang meningkat, jadi prosesnya bisa lebih singkat. Ini nanti dibahas di P yang selanjutnya.
      Pemakaian gurita, korset, setagen, itu sebenarnya ya cuma bikin perut terasa jejeg atau singset. Sama sekali tidak membuat perut langsing kembali. Sebenarnya tidak ada ruginya pemakaian gurita, karena itu saya juga kurang paham kenapa sampai dimarahi sama bidan Jerman…he…he…

      • Jazakillah khoir keterangannya… Siap meluncuur…

        Nah itu dia kenapa ngga dipelototin gitu yaaa..?? Hehe
        Tp beneran Mbak temen bengkak2 tangan kaki gitu kata dia salah ngeden, krn setelah melahirkan trs pd bengkak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s