Archive | Maret 2014

“LAHIR NORMAL” … Apa dan Bagaimana? [P3]

Faktor Keberhasilan lahir normal yang ketiga adalah Passenger (penumpang)

Setelah mengetahui kedua unsur sebelumnya yaitu Power dan Passage (jalan lahir), maka penumpang yang melintasi jalan lahir menjadi penentu berikutnya.  Penumpang tersebut tak lain dan tak bukan adalah si jabang bayi.

Ada 2 faktor terkait bayi ini, yaitu :

1. Ukuran bayi :

Ukuran bayi meliputi berat badan secara umum dan ukuran kepala secara khusus. Berat badan bayi dianggap besar apabila taksirannya melebihi 3500 gram. Bila lebih dari 4000 gram maka sudah termasuk bayi besar (makrosomia).  Karena itu, bagi bumil yang trend kenaikan berat badannya cenderung cepat, perlu waspada.  Anggapan bahwa bayi makin gemuk berarti makin sehat tidak berlaku di sini (juga di masa-masa selanjutnya).  Bayi dianggap normal apabila dilahirkan pada usia cukup bulan (38-42 minggu) dan berat minimalnya 2500 gram.  Sebagai patokan garis besar, minimal berat badan janin di usia 28 minggu adalah 1000 gram dan di usia 34 minggu adalah 2000 gram.  Di usia 36-37  minggu, angka 2500 gram umumnya telah tercapai.

Beberapa  faktor yang memengaruhi berat bayi antara lain :  genetik,  konstitusi,  nutrisi, dan penyakit ibu.  Faktor genetik dan konsitusi sudah merupakan bawaan dari ibu, maka yang bisa dimanipulasi adalah faktor nutrisi dan penyakit.  Nutrisi tinggi kalori, selain menggemukkan ibu juga menggemukkan janin dalam rahim.  Karena itu, kalau tidak ingin bayi menjadi “giant”, perhatikan asupan kalori agar tidak berlebihan.  Untuk bumil dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) normal (22-25), kenaikan berat badan bisa 10-12 kg selama hamil.  Bila IMT >25, kenaikan di bawah 10 kg sudah cukup.  Komposisi makanan mengacu kepada piramida makanan.

Penyakit yang dampaknya ke berat badan janin adalah diabetes.  Kehamilan bersifat “diabetogenik”, artinya membangkitkan penyakit diabetes yang selama ini tersembunyi, dan memunculkan kondisi serupa diabetes.  Kalau kadar gula darah ibu tidak terkontrol, otomatis bayi hidup dalam kondisi kadar gula darah tinggi selama di dalam rahim.  Tumbuhlah ia menjadi “bayi gede”, dan saat lahir- hubungan dengan ibu lewat plasenta terputus – berisiko hipoglikemia. Bagi bumil yang di antara keluarganya (terutama orang tua) yang menderita penyakit diabetes, ada baiknya berkonsultasi ke dokter terlebih dahulu sebelum hamil.  Apabila sudah terlanjur hamil, perhatikan komposisi makanan agar rendah kalori namun penuh gizi. Pada saat kontrol hamil biasanya akan diperiksa gula darah untuk penapisan terhadap penyakit diabetes

IMG_0129

Bayi gemuk, rawan terjadi kemacetan persalinan akibat disproporsi kepala panggul.  Dan ada kemungkinan terjadinya kemacetan bahu di saat persalinan, yaitu suatu kondisi dimana kepala sudah lahir namun bahu sulit lahir.  Ini kondisi yang sangat tidak diharapkan oleh siapa pun.

Diameter kepala janin juga memegang unsur penting untuk mulusnya perjalanan lewat jalan lahir.  Diameter kepala sampai dengan 9,5 cm masih dianggap normal namun di atas itu sudah masuk kategori besar, yang rawan terjadi disproporsi kepala panggul juga.

2. Posisi bayi

Allah SWT sudah mengatur posisi bayi agar kepalanya cukup melewati panggul ibu.  Posisi tersebut adalah pada saat lahir  kepala bayi menunduk sehingga ubun-ubun kecil berada di depan ( arah tulang kemaluan).  Untuk mencapai posisi tersebut itu dalam perjalanannya bayi mengadakan 2 kali rotasi kepala.  Posisi tersebut sangat penting karena membuat diameter kepala menjadi paling kecil.  Sedikit saja bayi mendongak maka diameter sudah berubah lagi yang bisa mengakibatkan kemacetan persalinan.

Sekitar 3-4% bayi berada dalam posisi sungsang (kepala di atas, bokong atau kaki di bawah) saat lahir.  Meskipun posisi ini membujur, namun memperkecil peluang untuk lahir normal terutama untuk kehamilan pertama dan bayi besar.  Untuk persalinan berikutnya, dan bayi tidak terlalu besar, persalinan normal pada letak sungsang masih dimungkinkan.

Kelainan letak yang lebih jarang adalah janin melintang.  Kejadiannya sekitar 1:500 kehamilan.  Bila posisi lintang ini menetap, maka tidak ada jalan lain kecuali lahir lewat operasi sesar.

Macam-macam Letak Sungsang

Iklan

“LAHIR NORMAL”, Apa dan Bagaimana? [P2]

lanjutan …………..

Tibalah kini saatnya P 2, yakni Passage atau Jalan.

Berhubung bahasan ini tentang proses persalinan, maka tentu saja “jalan: yang dimaksud adalah Jalan Lahir.

Ada 2 jenis jalan lahir yakni jalan lahir keras dan jalan lahir lunak.  Ini penjelasannya :

1. Jalan Lahir Keras

Sesuai dengan namanya, jalan lahir keras adalah tulang-tulang panggul.  Panggul seorang wanita mempunyai bentuk yang khas, istimewa.  Bentuk ini memungkinkan seorang bayi melewati rongganya. Seorang ilmuwan bernama Caldwell Molloy membagi bentuk panggul manusia menjadi 4, yaitu panggul ginekoid, panggul platipeloid, panggul android, dan panggul   anthropoid.  Panggul wanita normal adalah panggul ginekoid.  Rongga Panggul terbentuk  dari 3 pasang tulang yang bergandengan.  Bedakan juga antara pinggul (yang suka goyang ) dan panggul.  Kalau pinggul bisa tampak dari luar, dan lebarnya bisa diukur oleh seorang tukang jahit, maka panggul lebih berkonotasi ke tulang, dan luas tidaknya untuk keberlangsungan sebuah persalinan diukur oleh dokter.

Apakah orang yang gemuk lantas berpanggul luas dan orang kurus panggulnya sempit? Belum tentu! Karena ternyata luas panggul tidak terkait dengan gemuk kurusnya seseorang melainkan dengan ukuran tinggi badannya.  Dari hasil penelitian batas tinggi badan yang rawan berpanggul sempit adalah 145 cm! Meskipun begitu hal ini tidak mutlak.  Ada orang yang tingginya 143 cm namun mampu melahirkan bayi-bayi dengan berat normal, namun sebaliknya, ada juga orang dengan tinggi 170 cm tetapi ternyata kepala bayi tak muat lewat panggulnya. Mungkin saja si 170 cm ini panggulnya bertipe android, alias panggul laki-laki 🙂

Ada juga, panggulnya sempit namun bayinya juga kecil, sehingga muat dan lahir normal.  Namun ada juga panggul normal tapi bayinya kelewat besar, sehingga tak muat.  Nah, yang begini ini namanya disproporsi kepala panggul.  Allah pun sudah mempersiapkan jalan lahir keras ini dengan paripurna.  Menjelang kelahiran ada hormon yang berfungsi untuk melongarkan sendi-sendi dan jaringan ikat sehingga memudahkan proses persalinan

Bidang Stasion Nol

2. Jalan lahir lunak

Jalan lahir lunak terbentuk dari jaringan otot.  Mulai dari rahim, mulut rahim, sampai vagina…itulah jalan lahir lunak.  Apakah bentuk rahim normal? Adakah tumor yang menghalangi keluarnya bayi? Apakah mulut rahim dapat membuka sinkron dengan dorongan kontraksi dan tekanan kepala bayi? Demikian juga di vagina, adakah yang menghalangi keluarnya jabang bayi? Semua itu harus diobservasi dan dievaluasi. Mulut rahim sebagai pintu keluar memegang peranan penting.  Sel-sel di mulut rahim ini pada saat yang sudah ditentukan akan berespon terhadap hormon inisiasi persalinan sehingga mulut rahim akan menipis dan membuka.  Padahal, selama 9 bulan mulut rahim tersebut “terkunci” erat demi menahan sang jabang bayi agar tak meluncur keluar. Allahu Akbar !! (nin)

 

keterangan gambar : kepala bayi memasuki pintu panggul (gambar dari buku Ilmu Kebidanan, Prof. Sarwono)

Bersambung

 

“LAHIR NORMAL” …Apa dan Bagaimana? [P1]

“Lahir Normal”….sepertinya menjadi kata mutiara baru di kalangan ibu hamil (bumil).

Pasalnya semua bumil berharap bisa lahir normal.  Ini ditandai dengan pertanyaan standar dan klasik setiap bumil, yaitu “Dokter, apakah saya nanti bisa lahir normal?”  Ya, kalau pertanyaan ini ditanyakan ketika usia kehamilan sudah menginjak trimester 3 memang masih relevan.  Tetapi terkadang baru didiagnosa hamil, dengan usia kehamilan baru 7 atau 8 minggu, sudah terlontar pertanyaan tersebut, maka tentu saja jawabannya adalah ….”Semoga….berdoalah agar Allah memudahkan kehamilan dan persalinannya nanti. Jalan masih panjang”.

Kehamilan adalah peristiwa yang dinamis.  Artinya dari waktu ke waktu selalu ada perubahan yang terjadi.  Beberapa perubahan memang sudah ada standar normalnya, jadi sedikit banyak bisa diprediksi.  Tetapi kita harus selalu siap dengan perubahan yang tidak disangka-sangka.  Karena itu diperlukan kontrol hamil secara berkala.  Dan di atas semuanya peran doa, dzikir, dan ibadah yang lain tetap mutlak adanya.

Kembali ke masalah lahir normal.  Yang diistilahkan dengan lahir normal adalah melahirkan bayi cukup bulan dengan berat badan cukup,  melalui jalan lahir, dalam hal ini adalah vagina.  Sedangkan lawannya adalah melahirkan lewat operasi sesar. Sebagaimana kehamilan,  peristiwa persalinan juga dinamis, bisa lancar dan mudah namun bisa juga terjadi hambatan di tengah perjalanan.  Selama ini yang menjadi patokan untuk keberhasilan lahir normal adalah faktor 5P  .  Apakah itu…..

P1 : POWER

Power adalah kekuatan yang berasal dari ibu. Ada 2 macam power, yaitu kontraksi dan tenaga mengejan.  Kontraksi yang dimaksud adalah kontraksi rahim yang datang secara teratur dan adekuat. Disebut adekuat apabila kontraksi tersebut mengakibatkan pembukaan dan penipisan mulut rahim, serta mampu mendorong bayi turun memasuki jalan lahir.  Kontraksi yang adekuat bersifat sebagai berikut : timbul setiap 2-3 menit, lamanya 40-45 detik, kekuatannya cukup, dan ada masa istirahatnya.  Kontraksi adekuat ini biasanya nyeri.  Meskipun kontraksi ini hilang timbulnya di luar kendali ibu, namun pada ibu yang lemah dan kehabisan tenaga, kontraksi biasanya juga ikut-ikutan melemah.  Demikian juga pada ibu yang menderita anemia (kurang darah), kontraksinya juga kurang kuat sehingga mengakibatkan persalinan lama.

IMG_0150

Power kedua adalah tenaga mengejan.  Berbeda dengan kontraksi, tenaga mengejan ini sepenuhnya dalam kendali ibu.  Ibu yang sehat insya Allah akan mempunyai tenaga yang cukup untuk mengejan.  Hanya saja yang sering terjadi adalah cara mengejan yang tidak efektif.  Akibatnya, ibu lelah karena sudah terlalu lama mengejan, namun bayi tak kunjung lahir.  Persalinan yang begini, kalau kepala bayi sudah berada di dasar panggul (tinggal keluar saja) bisa dibantu dengan alat, misalnya ditarik dengan alat vakum atau forseps (tang).  Persoalannya, bagaimana cara mengejan yang efektif itu? Allah SWT sebenarnya sudah menyiapkan refleks mengejan saat kepala bayi menekan persarafan yang ada di dasar panggul.  Namun sering karena gelisah dan panik di tengah-tengah rasa nyeri yang mendera maka refleks tersebut menjadi tidak terkoordinasi.  Untuk mempelajari teknik pernapasan dan cara mengejan bisa mengikuti kelas senam hamil atau pregnancy class.  Selain itu, ibu bisa melakukan olahraga berenang.  Cara menarik dan menghembuskan napas tatkala berenang sangat mirip dengan saat persalinan.  Dan yang tak boleh dilupakan, ibu bersalin harus tenang dan rileks sehingga terjalin kerjasama yang baik dengan penolong persalinan  (bersambung………..)

 

Keterangan Gambar : Kurva yang menggambarkan standar kemajuan persalinan