Archive | Desember 2013

Mengeja Seribu Wajah Indonesia lewat Love Journey #2

Alhamdulillah, akhirnya buku antologi travelling yang ditunggu-tunggu telah terbit, yaitu Love Journey#2; Mengeja Seribu Wajah Indonesia.

Merasa akrab dengan judulnya? Ya , buku ini adalah sekuel kedua dari serial Love Journey yang digagas oleh Mb. Dee dan Mas Lalu Abdul Fattah. Keunikan keduanya berbeda.  Kalau Love Journey #1 berkisah tentang Cinta dalam Setiap Perjalanan , maka di Love Journey #2 ini berbicara tentang seribu wajah Indonesia.  Setting dalam setiap tulisannya adalah negeri jamrud khatulistiwa, Indonesia.

Indonesia, tempat lahir beta, demikian senandung Ismail Marzuki. Tentu kita pun cinta Indonesia. Meskipun Indonesia tidak selalu indah, tidak selalu makmur,  tidak selalu aman, tidak selalu nyaman.  Namun lebih banyak yang tetap cinta, lebih banyak yang merasa bahagia, dan lebih banyak masih kerasan tinggal di negeri ini.  Karena itulah, judul seribu wajah Indonesia tidak selalu mengungkapkan yang indah-indah saja, tentang Indonesia.

Dari 20 kontributor, terselip nama saya. Keduapuluh penulis ini terpilih dari 68 peserta audisi. Dalam buku ini saya mengisahkan tentang pengalaman hidup di Ternate selama 6 bulan, semasa menjadi anggota tim Kesehatan Gabungan TNI-Depkes pada 1999-2000. Selebihnya, silakan baca sendiri bukunya.

Berikut ini adalah spesifikasi buku yang diterbitkan oleh Diva Press ini:

 

LJ#2

          Oleh : Lalu Abdul Fatah dkk
Harga : Rp. 58000
Ukuran : 13 x 19 cm
Tebal : 368 hlm
Terbit : Desember 2013

Sedangkan para kontributor adalah sbb:

Kontributor: 
  1. Dinar Okti Satitah – Menolak Lupa
  2. Huzer Apriansyah – Orang Akit, Orang Rimba, dan Sisi Lain Nusantara
  3. Dina Y. Sulaeman – Orang-Orang Subaltern
  4. M. Saipul – Dayung Sang Hudoq
  5. Bustomi Menggugat – Eksotisme Madura 2013
  6. Dian Onasis – Mengeja Cinta di Permukaan Batang Hari Sembilan
  7. Farchan Noor Rachman – Lasem
  8. Dwi AR – Gadis Polos dalam Kotak Ajaib
  9. Lina W. Sasmita – Mendapati Banyak Hikmah di Pulau Karas
  10. Meinilwita Yulia – Perempuan Perkasa Pembuat Saka
  11. Helene Jeane Koloway – Hell in Paradise
  12. Feni Kurniati – Perjuanganku Belum Usai
  13. Arabia – Kabar dari Ujung Negeri
  14. dr. Prita Kusumaningsih – Warna-Warni Ternate
  15. Katerina – Anak Penjual Tebu di Lembah Harau
  16. Arini Tathagati – Di Balik Warna-Warni Batik Pekalongan
  17. Lomar Dasika – Terlalu Turis Bikin Meringis
  18. Eaz Eryanda – Lupa Rinca
  19. Manik Priandani – Rampai Kehidupan di Kaki Merapi
  20. Viola Malta Ramadhani – Lindungan Impian

“Love Journey#2 membuka mata saya tentang cara baru menikmati bumi Indonesia, tak melulu tentang keindahan alam dan pariwisata yang memukau. Namun lebih dari itu, ada petualangan yang seru, pelajaran hidup penuh hikmah hingga realitas pahit negeri yang kita cintai ini”.
[ Ihwan Hariyanto, owner Mozaik Indie Publisher]

Selain mencari di toko buku, teman-teman yang berminat bisa PO ke saya.  Syarat dan ketentuan berlaku, ya…..

Pembeli lewat saya berhak dapat harga 52 ribu saja. Plus dapat 2 bonus yaitu , 1 exp majalah BSMI terbaru dan sudah tercatat sebagai donatur BSMI sebesar 5 ribu rupiah! Sedangkan kewajiban pembeli cuma 1, yaitu membayar ongkos kirim. Menarik bukan? 😀

 

 

 

Apa Salah Kondom?

alat-kontrasepsi-kondom
Benda ini tiba-tiba saja jadi ngetop. Disebut-sebut di media sosial, menjadi bahan pembicaraan para mahasiswa dan menjadi tema diskusi di berbagai organisasi. Ini semua berawal dari adanya “Pekan Kondom Nasional”(PKN) yang digelar oleh Komite Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) bekerjasama dengan DKT (sebuah perusahaan kondom), dan didukung oleh Kemenkes RI. PKN diselenggarakan dalam rangka hari AIDS sedunia yang diperingati setiap 1 Desember. Kegiatan ini kontan menuai kontroversi di masyarakat baik di ibukota maupun di seluruh kota di Indonesia. Meskipun menurut KPAN, kegiatan pekan bagi-bagi kondom ini sudah berlangsung sejak 2002, namun ternyata penolakan dari masyarakat tahun ini begitu masif dan merata. Hasil akhirnya, baru sehari dijalankan, kegiatan PKN dinyatakan dihentikan.
Sebenarnya keberadaan kondom di muka bumi ini sudah sangat lama. Menurut sejarah di wikipedia, kondom sudah dikenal sejak abad ke 17. Jaman dulu, kondom terbuat dari usus hewan, selaput ikan, atau bahan linen yang licin. Tujuan awalnya memang untuk mencegah penularan penyakit, namun pada jaman itu sarung kondom diggunakan berulang kali tanpa pernah dicuci! Maka, alih-alih menjadi pencegah penyakit, kondom malah jadi sumber penularan penyakit.
Kondom karet mulai diciptakan pada 1870. Kala itu, kondom masih dapat digunakan berulang kali sampai robek. Namun, disarankan untuk dicuci sesudah digunakan. Produksi secara massal baru dilakukan pada 1894 oleh perusahaan Goodyear dan Hancock. Pada 1880 kondom dibuat dari bahan lateks, namun pemakaian secara luas baru pada 1930an. Pada saat itu kondom sudah lebih tipis dan hanya untuk sekali pakai saja.
Mengapa dinamakan kondom? Ada beberapa versi. Versi pertama, kata kondom berasal dari nama kota “Condom” di provinsi Gascony, barat daya Prancis. Konon, para pria di kota Condom ini sangat tergila-gila pada seks. Versi kedua, kondom berasal dari nama seorang dokter bangsawan di Inggris. Dokter Condom inilah yang memperkenalkan sebuah corong untuk melindungi kemaluan pangeran Charles II dari penularan penyakit kelamin. Versi ketiga, nampaknya yang paling logis : kata kondom berasal dari kata Latin condus yang berarti baki atau nampan penampung. Wallahu a’lam.
Sedangkan gelar “bapak Condom” disematkan kepada Gabriello Fallopia, seorang dokter asal Italia yang menengarai adanya sepasang saluran telur pada rahim wanita yang kemudian disebut dengan tuba Fallopii. Pada tahun 1500an, Gabriello ini menciptakan semacam sarung linen yang digunakan untuk menutupi alat kelamin pria guna mencegah kehamilan. Sarung ini kemudian diuji coba pada 1000 orang laki-laki dan dinyatakan sukses.

Dari sudut ilmu Obsgin, kondom lebih bermakna sebagai salah satu alat kontrasepsi. Saat ini kondom merupakan satu-satunya alat kontrasepsi pria. Sayangnya, partisipasi para bapak dalam menggunakan kondom ini tergolong rendah. Sepintas nampaknya kurang adil. Bayangkan, tugas mulia : hamil, melahirkan, menyusui, ada di pundak seorang ibu. Giliran menjaga supaya tidak hamil , masih tanggungjawab ibu juga. Namun apa boleh buat, karena pil KB pria belum juga lulus uji fertility recovery maka sampai saat ini para bapak belum punya banyak pilihan dalam berKB. KB pria, pilihannya hanya 2 yaitu kondom dan vasektomi. Vasektomi, sebagaimana halnya tubektomi, tidak dianjurkan dikarenakan sifatnya yang permanen, kecuali atas indikasi medis (kehamilan membahayakan ibu). Ada 1 cara lagi, yaitu sanggama terputus (coitus interruptus atau ‘azl), yang bisa dikerjakan bekerjasama atas ridho istri.
Kembali ke soal kondom, saya khawatir apabila PKN dilanjutkan, akan mendorong pencitraan kondom yang cenderung negatif. Pembagian kondom ke tempat-tempat umum dan kampus sangat disayangkan. Meskipun hal ini dibantah oleh pihak penyelenggara, namun banyak saksi yang mengaku melihat, mendengar, bahkan menerima sendiri paket kondom tersebut. Belum lagi ada bus besar yang bergambar artis yang terkenal dengan buka-buka aurat tampil berpose seronok. Beberapa saksi di media sosial juga mengaku bahwa para petugas pembagi kondom tersebut berkomentar, “Ntar kondomnya dicoba ya, mas, dengan pacarnya!” Menyuruh zina??!!
Akar penularan HIV/AIDS adalah pergaulan bebas dan narkoba. Seharusnya dua hal inilah yang diberantas. Namun para pengambil keputusan selalu berdalih bahwa memberantas keduanya sangat dan amat sulit.
Apa sebenarnya yang dimaui penyelenggara? Hal-hal seperti inilah sebenarnya yang ditolak oleh masyarakat. Masyarakat akan menjadi antipati dan malu berKB dengan kondom. Padahal kondom sebagai alat kontrasepsi merupakan golongan yang berefek samping minimal. Kalaupun ada efek samping, itu sangat jarang.Yang pernah dijumpai adalah alergi bahan lateks pada pihak istri. Sedangkan efek samping lainnya lebih bersifat subyektif. Meskipun angka kegagalan masih lebih tinggi dibandingkan dengan alat kontrasepsi efektif, namun tak sedikit pasangan yang sukses mengatur jarak kelahiran anak-anaknya dengan berKB kondom. Disebutkan bahwa angka kegagalan kondom sebagai alat kontrasepsi sekitar 2 – 15%.
Perlindungan terhadap PMS merupakan salah satu kelebihan kondom yang lainnya. Namun khusus untuk HIV, ternyata kondom tak sepenuhnya efektif. Masih ada pro dan kontra tentang bisa tidaknya pori kondom ditembus oleh virus HIV. Pihak yang kontra menyatakan bahwa pori kondom yang berukuran 1/60 mikron masih lebih besar dibandingkan ukuran virus yang 1/250 mikron. Pihak yang pro menyatakan bahwa meskipun pori kondom masih lebih besar ukurannya daripada virus HIV, namun virus tetap sulit menembus pori dikarenakan ada faktor ketebalan kondom. OK, kalau memang mau mengintensifkan penggunaan kondom, bikin saja posko di kompleks pelacuran. Apa artinya sosialisasi kondom yang cuma seminggu dengan pekerjaan PSK yang levelnya 24/7/365?

1. [http://www.facebook.com/notes/science-of-universe/sejarah-kondom-dan-perkembangannya/10151832474825150]
2. http://majalahkesehatan.com/8-metode-kontrasepsi-kelebihan-dan-kekurangan/
3. http://wikipedia.com
4. http://kepri.bkkbn.go.id/
5. http://newmasgun.blogspot.com/2013/12/dusta-kondom-dapat-cegah-aids-virus-hiv.html
6. http://sosbud.kompasiana.com/2013/12/04/info-sesat-pori-kondom-ditembus-virus-hiv-613663.html