Tidak Ada Sertifikat Halal? Belum Tentu Halal Makan di Resto Ini…

logo Halal MUI

Berikut ini adalah pernyataan dari seorang anggota Komisi Fatwa MUI, ust. Irfan Helmi.

Sehubungan dengan banyaknya pertanyaan terkait produk pangan yang beredar di masyarakat, saya sampaikan hal-hal sebagai berikut :

1.Bahwa produk JCo Donuts and Cofee, roti Bread Talk, Roti Boy, Holland Bakery, Papa Ronz Pizza, Izzi Pizza, es krim Baskin ‘n Robbins. Dapur Coklat, Starbuck Coffee, Richeese Keju, Coffee Bean, juga Resto Solaria, Hanamasa, Rice Bowl, Dead Bean, Burger King, semuanya BELUM BERSERTIFIKAT HALAL, sehingga MUI tidak menjamin kehalalannya. Namun tidak otomatis semua produk tersebut pasti haram.

2. Bahwa tidak benar jika dikatakan “MUI mengeluarkan pengumuman bahwa restoran berikut haram” dan bahwa “ini semua mengandung gelatin dari daging dan lemak babi”, karena untuk memastikannya harus melalui proses audit.

3. MUI tidak pernah mengeluarkan “Sertifikat Haram”, karena istilah tersebut tidak dikenal di lingkungan MUI.

4. Hendaknya hati-hati dalam menyebarkan info yang dapat meresahkan masyarakat. Lakukanlah klarifikasi (tabayyun) terlebih dahulu. Ingat surat Al Hujuraat ayat 6

5. Untuk mengetahui produk apa saja yang sudah halal, bisa dilihat di buku Direktori Halal tahun 2013-2014

Ditulis di Bogor 31 Agustus 2013
Saya mengutipnya dari majalah Oase

Tambahan dari saya, sebenarnya masih banyak lagi daftar produk makanan dan resto yang belum terjamin kehalalannya. Bahkan, untuk resto, jumlahnya masih lebih banyak daripada yang sudah tersertifikasi halal. Karena itu, diperlukan sikap kritis dan kehati-hatian dari kita sendiri. Selain sikap bisa menahan diri, yaitu tidak makan sembarangan juga diperlukan pengetahuan tentang bahan-bahan makanan yang berpotensi haram.
Di samping menghimbau MUI agar bersikap aktif dalam melakukan sertifikasi halal serta memberikan pencerahan ke masyarakat, kita sendiri juga bisa mendorong agar sebuah resto/tempat makan/minum melakukan sertifikasi halal untuk produknya. Bisa dengan memberikan masukan di laman/medsos mereka, bisa juga melakukan gerakan untuk ‘memboikot’ kunjungan ke resto tertentu. Selama ini pihak pengusaha tidak tergerak untuk melakukan sertifikasi karena mereka berpikir, ada atau tidak sertifikat halal, toh pengnjung tetap berbondong-bondong antri untuk makan/beli produk. Dan saya yakin bahwa para pengunjung tersebut sebagian besarnya adalah muslim.
Kalau pengusaha mendapatkan keuntungan dari konsumen muslim, maka sudah sewajarnyalah kalau mereka memrioritaskan kehalalan produknya. Sebagai konsumen, kita BERHAK untuk mendapatkan konsumsi halal, minimal di negeri kita sendiri!

20 thoughts on “Tidak Ada Sertifikat Halal? Belum Tentu Halal Makan di Resto Ini…

  1. tadinya saya mikir…. judul postingan ini adalah “Tidak Ada Sertifikat Halal? Belum Tentu Haram Makan di Resto Ini” sesuai dengan poin nomor satu😀

  2. Sejak dokter “woro-woro” halal is my life. kami sekeluarga jadi lebih selektif untuk jajan diluar rumah. makasih banyak infonya dok.

  3. Yang beredar dari kalangan liberalis adalah pembusukan MUI, mereka gembar-gembor mempropagandakan bahwa Sertifikat Halal itu bisa “dibeli” di MUI sebagai lembaga yang korup *itu kata mereka*

    Semangat membubarkan MUI itu juga terasa saat seorang wanita (CN) aktivis kesetaraan gender, kader Golkar, yang kebetulan sbg bendahara MUI itu terkena kasus korupsi (suap). Para liberalis (JILers) menggiring opini bahwa MUI diisi oleh para pejabat-pejabat korup, sehingga layak dibubarkan. Apalagi mereka juga mengingatkan kasus soal investasi bodong yang melibatkan MUI. Ini juga didukung oleh media TEMPO yang lebih mengedepankan latar belakang wanita CN sebagai MUI daripada kapasitasnya sebagai kader Golkar.

    Dari upaya pencitraan yang jelek ini bisa berdampak orang akan don’t care dengan sertifikat halal. Miris sekali. Nanti saya coba siapkan tulisan untuk meng-counter para JILers itu.

    Ayo, bu, tetap semangat untuk terus berjuang mempromosikan tentang Halal-Haram, karena ini fundamental sifatnya dalam ajaran Islam.

    • Setuju, pak. Media dicounter dgn media dan opini dicounter pula dgn opini. Satu syaratnya, yaitu kekompakan! Btw, pak Iwan sdh ikutan di milis Halal Baik Enak yg dikomandani oleh para aktivis halal di antaranya pak Anton Apriyantono, mantan mentan?

    • Selamat memasak! Bumbu2 yg sdh sertifikat halal saat ini sdh cukup lengkap, baik utk masakan maupun utk kue2. Tinggal kitanya, yg hrs jeli dan selektif pas memilihnya. Kejelian dan keselektifan inilah yg kita terapkan pas terpaksa hrs makan di luar

  4. kemarin jeng amal posting foto path dr temannya: makan menu ayam di salahsatu resto yang di hebohkan sertifikasinya, ada ulat nongol di ayam nya:0 kesehatan plus higienitasnya di ragukan juga

    • Masya Allah, masih ada ulatnya?? Tapi, saya jadi bertanya juga, ulat biasanya ada di sayur karena pencucian yang kurang bersih dan seksama. Lha kalau ulat di ayam goreng, mungkinkah itu belatung yang tumbuh dari ayam busuk? Rasanya tidak, karena rasa ayam busuk pasti beda. Kemungkinan lain, ada lalapan selada dalam menu ayam tersebut, jadi ulatnya berasal dari selada.

    • kalau sekedar cabai ditumbuk sih mestinya halal, ya. Tapi masalahnya, ada bahan2 campuran yang bisa bikin tidak halal suatu bahan makanan. Sayang sekali saya tidak tahu titik kritis dari masakan korea. Karena itu, pilih saja resto Korea bersertifikat halal. Yang saya tahu ada 1, yakni “Seoul Garden”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s