Archive | Oktober 2013

Please, help … Isi Survey Miras untuk Melindungi Anak Indonesia dari Bahaya Miras

Sambil menunggu disahkannya Pergub DKI tentang MIRAS, kita jangan berdiam diri. Bahaya miras ini sudah mencapai titik yang membahayakan. Di negeri ini membeli miras semudah membeli snack. Miras ada di minimarket dan warung sekitar kita, dapat diakses oleh siapa pun, besar kecil, tua muda, anak sekolah sampai para pemuda.

Iwan Yuliyanto

Bismillah …

Menyebarluaskan pesan dalam chirpstory dari uni Fahira Idris, Ketua Gerakan Nasional Anti Minuman Keras (GENAM), agar kita semua berkenan meluangkan waktu mengisi Survey Miras, Survey Pendapat Masyarakat tentang Minuman Keras (miras) di:

Lihat pos aslinya 142 kata lagi

Tidak Ada Sertifikat Halal? Belum Tentu Halal Makan di Resto Ini…

logo Halal MUI

Berikut ini adalah pernyataan dari seorang anggota Komisi Fatwa MUI, ust. Irfan Helmi.

Sehubungan dengan banyaknya pertanyaan terkait produk pangan yang beredar di masyarakat, saya sampaikan hal-hal sebagai berikut :

1.Bahwa produk JCo Donuts and Cofee, roti Bread Talk, Roti Boy, Papa Ronz Pizza, Izzi Pizza, es krim Baskin ‘n Robbins. Dapur Coklat, Starbuck Coffee, Richeese Keju, Coffee Bean, juga  Hanamasa, Rice Bowl, Dead Bean, , semuanya BELUM BERSERTIFIKAT HALAL, sehingga MUI tidak menjamin kehalalannya. Namun tidak otomatis semua produk tersebut pasti haram.

2. Bahwa tidak benar jika dikatakan “MUI mengeluarkan pengumuman bahwa restoran berikut haram” dan bahwa “ini semua mengandung gelatin dari daging dan lemak babi”, karena untuk memastikannya harus melalui proses audit.

3. MUI tidak pernah mengeluarkan “Sertifikat Haram”, karena istilah tersebut tidak dikenal di lingkungan MUI.

4. Hendaknya hati-hati dalam menyebarkan info yang dapat meresahkan masyarakat. Lakukanlah klarifikasi (tabayyun) terlebih dahulu. Ingat surat Al Hujuraat ayat 6

5. Untuk mengetahui produk apa saja yang sudah halal, bisa dilihat di buku Direktori Halal tahun 2013-2014

Ditulis di Bogor 31 Agustus 2013
Saya mengutipnya dari majalah Oase

Tambahan dari saya, sebenarnya masih banyak lagi daftar produk makanan dan resto yang belum terjamin kehalalannya. Bahkan, untuk resto, jumlahnya masih lebih banyak daripada yang sudah tersertifikasi halal. Karena itu, diperlukan sikap kritis dan kehati-hatian dari kita sendiri. Selain sikap bisa menahan diri, yaitu tidak makan sembarangan juga diperlukan pengetahuan tentang bahan-bahan makanan yang berpotensi haram.
Di samping menghimbau MUI agar bersikap aktif dalam melakukan sertifikasi halal serta memberikan pencerahan ke masyarakat, kita sendiri juga bisa mendorong agar sebuah resto/tempat makan/minum melakukan sertifikasi halal untuk produknya. Bisa dengan memberikan masukan di laman/medsos mereka, bisa juga melakukan gerakan untuk ‘memboikot’ kunjungan ke resto tertentu. Selama ini pihak pengusaha tidak tergerak untuk melakukan sertifikasi karena mereka berpikir, ada atau tidak sertifikat halal, toh pengnjung tetap berbondong-bondong antri untuk makan/beli produk. Dan saya yakin bahwa para pengunjung tersebut sebagian besarnya adalah muslim.
Kalau pengusaha mendapatkan keuntungan dari konsumen muslim, maka sudah sewajarnyalah kalau mereka memrioritaskan kehalalan produknya. Sebagai konsumen, kita BERHAK untuk mendapatkan konsumsi halal, minimal di negeri kita sendiri!