Paket Keripik Pisang Itu…..

Paket berupa kardus besar itu datang lagi untuk kesekian kalinya. Dari nama pengirimya, saya sudah menduga isinya. Bermacam-macam keripik dan kue kecil. Kue dan keripik itu tentu saja tak habis oleh kami sekeluarga. Sehingga banyak kerabat dan sejawat yang dapat bagian pula. Semoga menjadi bagian dari amal ibadah pengirimnya juga.

Siapa pengirim keripik itu?
Sebelumnya saya tak pernah mengenalnya. Di suatu pagi, tiba-tiba saja ia muncul. Tentang bagaimana ia bisa menemukan saya di belantara Jakarta ini ternyata unik.
Bayangkan, ia adalah seorang janda dengan 2 anak laki-laki yang masih sekolah.  Aslinya orang Makassar, tapi karena tinggal di Jawa Tengah, maka ia pun fasih berbahasa jawa halus. Di kota kecil P,  ia mengontrak sebuah rumah kecil menempel di rumah induk.  Ia beruntung karena si pemilik rumah itu orang baik.  Seperti biasanya, kegiatan sehari-harinya adalah memasak. Hingga di suatu pagi ia bertandang ke warung langganannya, berbelanja ala kadarnya. Tapi sesobek kertas pembungkus bawang menarik perhatiannya, begitu tuturnya kepada saya. Di kertas itu, yang ternyata potongan sebuah majalah lama, ada nama dan alamat saya waktu diwawancara.  Meskipun demikian, sampai sekarang saya juga tidak tahu apa nama majalah itu.

Lalu…..entah apa yang mendorongnya untuk datang menemui saya, berdasarkan data dari sesobek majalah! Katanya, ia mau bekerja. Menghidupi dua anaknya yang tanpa bapak semenjak bertahun-tahun yang lalu. Ya, ia janda dengan dua anak laki-laki yatim.
Sebenarnya saya tidak setuju dengan rencananya itu. Meninggalkan  anak yang masih butuh bimbingan ibu dengan bekerja di Jakarta yang terkenal ganas. Tapi ia memaksa. Alhamdulillah, tak berapa lama ada yang bersedia menampungnya bekerja sebagai perawat orang tua. Namun pekerjaan itu tak lama dilakoninya. Saya kira, itu bukan panggilan jiwanya. Kembalilah ia kepada saya.
Akhirnya, saya anjurkan ia balik ke kampung halamannya. Dua anaknya akan saya bantu biaya sekolahnya, Insya Allah. Untuk dirinya, sedikit modal buat berdagang.

“Saya punya keahlian bikin keripik”, akunya.

Seperti itulah yang ia jalani sampai sekarang. Usahanya terus berkembang, dari keripik pisang, bikin tambahan rempeyek,dan sekarang sudah kewalahan mengatasi pesanan. Terutama saat lebaran.
Dan, dengan pemilik rumahnya pun kami jadi kenalan.  Sering juga induk semang tersebut memberikan kesaksian tentang putra-putra si janda yang rajin sholat malam dan membersihkan masjid. Di saat shubuh datang paling awal untuk melantunkan adzan. Yang sungguh taat kepada ibunya, orang tua tunggalnya. Komunikasi kami adalah dengan SMS. Lho…punya ponsel?? Tidak. Ia cuma pinjam ponsel pemilik rumah untuk SMS. SMS nya panjang…penuh dengan ucapan terimakasih dan doa.

Berita yang membuat saya terpesona adalah saat anaknya yang sulung diberi hadiah pergi umroh oleh pak Kiai di masjid tempat ia beradzan tiap subuh. Tapi oleh anaknya, karena cinta dan terimakasih kepada ibundanya, hadiah umroh itu diserahkan kepada nya. Maka berangkatlah sang janda untuk umroh! Naik pesawat… Tinggal di hotel……. Masya Allah!

Dan siang ini, datang lagi paket kardus besar untuk yang kesekian kalinya. Dari nama pengirimnya, saya sudah menduga isinya…. (nin)

 Saat ini anak pertama si janda sudah lulus SMA dan bekerja di sebuah pertambangan di NTB.  Sembari bekerja, ia kuliah dengan biaya sendiri.  Adiknya, juga sudah menamatkan SMAnya, tetap tinggal di rumah menemani sang ibu. Ia pun berkuliah di sebuah akademi.  Dua tahun terakhir ini ibunya yang sudah semakin tua sering sakit-sakitan. Aktivitas berdagangnya pun sudah berkurang.  Semoga Allah SWT selalu merahmati keluarga kecil itu. 

gambar dari antarafoto.com

22 thoughts on “Paket Keripik Pisang Itu…..

  1. kisah yang hebat.. sang anak semoga barokah ya mengumrohkan ibundanya.. mendapat pekerjaan keren di ntb.. dan adiknya lulus dengan segera pun bisa bekerja keren.. ibunya segera sehat..

  2. Kisah yang indah. Makasih dah share cerita indah ini mba. Perjuangan untuk mereka yang ingin hidup lebih baik selalu jadi inspirasi. Semoga mereka selalu diberi berkah melimpah dan untuk mba dan keluarga juga.

    • Memang ulet sekali keluarga kecil itu. Bahkan di kala musim hujan rumahnya kena terjangan banjir, tapi selalu ada yang bisa dikerjakan. Anak2nya memang dapat peringkat atas di sekolahnya, tapi di SNMPTN tetap saja kalah bersaing. Aamiin dan terimakasih atas doanya…..

  3. Wah ini kisah nyata. Subhanallah luar biasa perjuangan si ibu. Alhamdulillaah putra2nya tumbuh jadi orang2 soleh begitu. Putra2nya belum menikah ya dok? Mudah2an kelg tsb diberi Allah menantu2 yg baik dan cucu yg lucu2 untuk si nenek.

    Maaf awalnya tadi sy kira ini cerita fiksi gt dok. Maklum di wp ini kok banyak ternyata yg suka post semacam cerpen gt ( sy masih sedikit shock culture krn terbiasa dg MP dulu).

    • Iya, betul mbak, ini kisah nyata dan sampai sekarang saya pun masih berkomunikasi dengan si ibu tersebut. Putra2nya belum ada yang menikah, semoga diberikan jodoh yang baik dari ALlah SWT. Btw, kemana saja kok gak pernah muncul? Gak seperti di MP dulu lho. Apa karena Surabaya semakin panas?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s