Archive | September 2013

Cerita Ponsel (di Pesawat)

IMG_7081

Masih segar dalam ingatan kita tatkala media ramai memberitakan tentang pramugari yang dipukul penumpang karena tidak terima saat ditegur karena masih menggunakan ponsel dalam pesawat.

Dasar hukum prelarangan tersebut adalah UU no 1 tahun 2009 tentang Penerbangan pasal 412 ayat 5-7 tentang penggunaan HP di dalam pesawat bisa dihukum penjara 2 tahun atau denda 200 juta. Bila mengakibatkan kecelakaan maka dihukum penjara 5 tahun atau denda 2,5 M. Bila mengakibatkan matinya orang dihukum 15 tahun penjara.
Nah, berikut ini adalah kejadian yang saya alami berkenaan dengan ponsel di dalam pesawat.

Begini ceritanya….
Di pesawat plat merah, beberapa tahun yang lalu. Pesawat siap-siap taxi, tiba-tiba lagu nada panggil berbunyi. Oh, rupanya ada penumpang yang belum mematikan ponsel. Segera didengungkan peringatan. Seorang bapak tampak berusaha mematikan ponselnya. Tampaknya berhasil. Tapi tak berapa lama ponsel tersebut kembali bernyanyi. Maka pramugari pun menghampiri kursi bapak tersebut. Sang bapak kembali berkutat dengan ponselnya, berusaha mematikan. Berhasil? Ternyata belum. Nada panggil kembali menggema. Ia semakin gelisah karena pramugari mulai bermuka tegang. Dengan sedikit panik, karena semua tombol sudah dipencet namun tak juga off, maka usaha terakhir adalah melepas batere ponsel tersebut. Naah…baru beres!

Kejadian sepekan yang lalu, justru pramugari tidak terlalu tegas saat menjumpai penumpang berponsel.
Di pesawat cap singa jurusan Surabaya-Banjarmasin, seorang nenek tua asyik mengobrol dengan kerabatnya dengan suara keras yang saya perkirakan bisa didengar oleh seisi pesawat. Pramugari sudah memberikan pengumuman persiapan tinggal landas, di antaranya tentang kewajiban mematikan HP, namun ia masih terus mengobrol. Anehnya, beberapa kali pramugari berseliweran di dekatnya, karena kebetulan ia duduk di gang, tak ada seorang pun yang menegurnya. Pengumuman untuk mematikan HP akhirnya diulangi. Entah tak mendengar karena asyik mengobrol, atau memang sengaja karena materi obrolannya belum selesai, ia masih asyik berbincang dengan suara kerasnya. Pesawat pun mulai menggelinding, melakukan taxi. Nenek tak bergeming. Saya yang duduk di gang sebelahnya sudah merasa gemas, ingin segera mencolek, mengingatkan. Tapi suami saya mencegah.
“Saya mau tahu, apa tindakan pramugari”, katanya.
Saat ada pramugari melintas menuju ke kursi awak kabin, saya tak tahan untuk tidak memanggilnya.
“Mbak, mohon diingatkan beliau ini”, saya menghentikan langkahnya seraya menunjuk sang nenek.
Pramugari berhenti dan terdiam. Rupanya ia menunggu nenek jeda bicara, baru menegur. Tapi dasarnya orang sedang ngobrol seperti mitraliur, mana ada jeda?
“Mbak, mohon ditegur, dong” , saya igatkan sekali lagi. Bukannya apa-apa, telinga ini juga sudah protes karena desibel suara nenek demikian tinggi.
Namun rupanya pramugari merasa tak senang dengan teguran saya kepadanya. Nampak hal itu pada wajahnya. Ia pun menegur nenek seperti terpaksa.
Apa reaksi nenek? Ia mengomel panjang pendek sambil menyudahi pembicaraannya.
“Memangnya saya gak pernah apa naik pesawat. Ini kan belum terbang, kenapa ribut soal hape!”
Alhamdulillah, beberapa detik kemudian pesawat tinggal landas. Nenek kelelahan mengomel, ia pun tertidur.
Satu jam dua puluh menit kemudian, pesawat pun mendarat di bandara Syamsudin Noor. Nenek membenahi rambutnya, rapi-rapi. Eeeh…ternyata jepit rambutnya terlepas dan menggelinding ke kursi depan, di kelas eksekutif. Tanpa ragu, ia melepas seat belt dan berlari mengejar jepit rambut. Pramugari yang masih terikat di kursi awak kabin hanya melongo………… (nin)

Iklan

(Pekan ASI Sedunia) Menyusui di Kantor, Bagaimana Enaknya?

 

MENJELANG KEMBALI BEKERJA

 

Hari-hari menjelang habisnya masa cuti bersalin bagi ibu menyusui terkadang membuat galau.  Bukan hanya karena harus meninggalkan si bayi yang baru berusia 3 bulan (bahkan ada yang cuti bersalin  hanya dijatah 2 bulan, atau yang lebih ekstrem lagi, 40 hari!), tapi juga memikirkan bagaimana kelanjutan dari pemberian ASI eksklusif (selanjutnya disingkat ASIX).

 

Disambung dengan susu formula?

 

“Oh, tidaaaaakkk! Aku tidak sekejam itu”, demikian tanggapan para ibu sejati.

 

Memang, semua itu bisa disiasati, asalkan tahu hak dan kewajiban ibu bekerja yang juga menyusui. Demikian juga si ibu juga mesti rela bersusah payah dan sedikit repot dalam hari-harinya.

 

Awalnya, sekitar 1 bulan sampai 2 pekan sebelum masa cuti habis, mulailah dengan mengumpulkan  ASI perah (selanjutnya disingkat ASIP).  Ini nantinya sebagai stok awal ASIP.  Caranya tentu saja dengan memerah ASI dari payudara dan menyimpannya dalam berbagai wadah.  Mengapa saya katakan berbagai wadah? Ya, karena banyak pilihan wadah untuk menyimpan ASIP tersebut. Di antaranya:

 

  1. Botol kaca (ada yang bertutup karet dan ada yang bertutup plastik), ada yang khusus untuk ASIP, ada pula yang menggunakan botol bekas minuman You C 1000
  2. Botol plastik (pastikan keamanan bahannya), atau botol  bermerk yang biasanya digunakan untuk dot
  3. Kantung plastik seukuran es mambo atau yang lebih besar
  4. Kantung klip plastik khusus untuk ASIP
  5. Wadah lain yang bertutup dan berbahan aman.

 

Nah, biasanya bayi cukup kenyang dengan menyedot habis ASI dari satu payudara, dan kemudian tertidur. Saat itulah, kosongkan ASI pada payudara sebelahnya dengan cara memerah. Ada berbagai macam cara untuk mendapatkan ASIP, yaitu :

 

  1. Memerah dengan tangan (ini yang paling dianjurkan)
  2. Memerah dengan pompa elektrik (bisa agak santai, tapi harga lebih mahal)
  3. Memerah dengan pompa manual

 

Alat atau cara apa pun yang dipilih, pastikan bahwa kondisinya bersih.  Tangan harus dicuci dulu sebelum memerah. Demikian juga apabila memerah menggunakan alat, maka peralatan tersebut harus dalam keadaan telah dicuci sehingga bersih, baik sebelum maupun sesudah penggunaan.  Bila produksi ASI baik, sekali memerah bisa mendapatkan minimal 100 cc dari kedua payudara. Ingat, memerah ASI harus dalam situasi dan kondisi yang tenang dan menyenangkan.  Bahkan ada yang menganjurkan si ibu untuk melihat foto bayinya sembari memerah.  [nin]

bersambung

 

 

 

Paket Keripik Pisang Itu…..

Paket berupa kardus besar itu datang lagi untuk kesekian kalinya. Dari nama pengirimya, saya sudah menduga isinya. Bermacam-macam keripik dan kue kecil. Kue dan keripik itu tentu saja tak habis oleh kami sekeluarga. Sehingga banyak kerabat dan sejawat yang dapat bagian pula. Semoga menjadi bagian dari amal ibadah pengirimnya juga.

Siapa pengirim keripik itu?
Sebelumnya saya tak pernah mengenalnya. Di suatu pagi, tiba-tiba saja ia muncul. Tentang bagaimana ia bisa menemukan saya di belantara Jakarta ini ternyata unik.
Bayangkan, ia adalah seorang janda dengan 2 anak laki-laki yang masih sekolah.  Aslinya orang Makassar, tapi karena tinggal di Jawa Tengah, maka ia pun fasih berbahasa jawa halus. Di kota kecil P,  ia mengontrak sebuah rumah kecil menempel di rumah induk.  Ia beruntung karena si pemilik rumah itu orang baik.  Seperti biasanya, kegiatan sehari-harinya adalah memasak. Hingga di suatu pagi ia bertandang ke warung langganannya, berbelanja ala kadarnya. Tapi sesobek kertas pembungkus bawang menarik perhatiannya, begitu tuturnya kepada saya. Di kertas itu, yang ternyata potongan sebuah majalah lama, ada nama dan alamat saya waktu diwawancara.  Meskipun demikian, sampai sekarang saya juga tidak tahu apa nama majalah itu.

Lalu…..entah apa yang mendorongnya untuk datang menemui saya, berdasarkan data dari sesobek majalah! Katanya, ia mau bekerja. Menghidupi dua anaknya yang tanpa bapak semenjak bertahun-tahun yang lalu. Ya, ia janda dengan dua anak laki-laki yatim.
Sebenarnya saya tidak setuju dengan rencananya itu. Meninggalkan  anak yang masih butuh bimbingan ibu dengan bekerja di Jakarta yang terkenal ganas. Tapi ia memaksa. Alhamdulillah, tak berapa lama ada yang bersedia menampungnya bekerja sebagai perawat orang tua. Namun pekerjaan itu tak lama dilakoninya. Saya kira, itu bukan panggilan jiwanya. Kembalilah ia kepada saya.
Akhirnya, saya anjurkan ia balik ke kampung halamannya. Dua anaknya akan saya bantu biaya sekolahnya, Insya Allah. Untuk dirinya, sedikit modal buat berdagang.

“Saya punya keahlian bikin keripik”, akunya.

Seperti itulah yang ia jalani sampai sekarang. Usahanya terus berkembang, dari keripik pisang, bikin tambahan rempeyek,dan sekarang sudah kewalahan mengatasi pesanan. Terutama saat lebaran.
Dan, dengan pemilik rumahnya pun kami jadi kenalan.  Sering juga induk semang tersebut memberikan kesaksian tentang putra-putra si janda yang rajin sholat malam dan membersihkan masjid. Di saat shubuh datang paling awal untuk melantunkan adzan. Yang sungguh taat kepada ibunya, orang tua tunggalnya. Komunikasi kami adalah dengan SMS. Lho…punya ponsel?? Tidak. Ia cuma pinjam ponsel pemilik rumah untuk SMS. SMS nya panjang…penuh dengan ucapan terimakasih dan doa.

Berita yang membuat saya terpesona adalah saat anaknya yang sulung diberi hadiah pergi umroh oleh pak Kiai di masjid tempat ia beradzan tiap subuh. Tapi oleh anaknya, karena cinta dan terimakasih kepada ibundanya, hadiah umroh itu diserahkan kepada nya. Maka berangkatlah sang janda untuk umroh! Naik pesawat… Tinggal di hotel……. Masya Allah!

Dan siang ini, datang lagi paket kardus besar untuk yang kesekian kalinya. Dari nama pengirimnya, saya sudah menduga isinya…. (nin)

 Saat ini anak pertama si janda sudah lulus SMA dan bekerja di sebuah pertambangan di NTB.  Sembari bekerja, ia kuliah dengan biaya sendiri.  Adiknya, juga sudah menamatkan SMAnya, tetap tinggal di rumah menemani sang ibu. Ia pun berkuliah di sebuah akademi.  Dua tahun terakhir ini ibunya yang sudah semakin tua sering sakit-sakitan. Aktivitas berdagangnya pun sudah berkurang.  Semoga Allah SWT selalu merahmati keluarga kecil itu. 

gambar dari antarafoto.com