Archive | Mei 2013

“Membalut Luka Gaza” versi Republika

Hari Jum’at ini koran Republika berkenan meresensi buku antologi saya Membalut Luka Gaza.  Bagi yang tidak sempat membaca, atau tidak kebagian korannya, silakan membacanya di sini. Terimakasih untuk pak Irwan Kelana yang telah membaca dan menuliskan resensi ini.

Bedah buku yamg pertama Insya Allah akan diadakan di Pekan Baru pada 14 Juni 2013 yad, bertepatan dengan Mukernas BSMI yang ke-4.  Saya tunggu kehadiran para sahabat di kota minyak tersebut

republika 24 mei 2013

Iklan

(Buku Baru) TERSENYUM DI GAZA, TANPA DARAH DAN AIR MATA

2013-04-17-10-21-32_membalut luka gaza_thumb_150_

Gaza adalah kota sebagaimana kota-kota lain di dunia. Meskipun fakta menunjukkan bahwa Palestina adalah satu-satunya negera di dunia yang terjajah secara fisik, dan 8.184 warga Palestina terbunuh oleh Israel sejak 1987.  Fakta-fakta tersebut adalah dua dari delapan fakta tentang Palestina yang menjadi pembuka buku setebal 167 halaman yang diterbutkan oleh Salsabila ini.

Sebagaimana judulnya, Membalut Luka dikonotasikan sebagai tindakan untuk membantu penyembuhan sebuah luka.  Sehingga tulisan para dokter dan relawan BSMI lain saat bertugas di Gaza lebih banyak yang bersifat ringan dan bahkan canda. Wahai dunia, lihatlah Gaza ini.  Tengoklah keseharian warganya. Bagaimana mereka menyikapi kepedihan akan kehilangan keluarga tercinta, rumah tinggal, maupun kesempatan hidup bebas? Ternyata semangat itu masih ada.  Bahkan kita belajar banyak dari mereka.

Bacalah tulisan dr. Basuki, spesialis bedah tulang, bagaimana ia mengungkapkan kebahagiaannya saat sekardus bola kaki yang dibawanya diterima dengan penuh kehangatan oleh Perdana Menteri Ismail Haniyya.  Bola ‘made in Indonesia’ itu adalah lambang persahabatan yang universal.  Di tiap sudut jalan kumuh atau tanah lapang coklat berdebu di kota Gaza, akan mudah kita jumpai anak-anak dan pemuda bermain bola. (Kembalikan Semangat dengan Bola, halaman 33)

Atau ‘ketakutan’ dr. Jamal, seorang spesialis mata saat mendengar ledakan bom jarak dekat untuk pertama kalinya.   “Jantungku serasa melorot ke kaki.  Aku terduduk di lantai. Saat itu yang terpikir hanya satu: aku akan mati”. “Kamu takut?” ayah Yasi menepuk pundakku.  “Bom seperti itu sudah biasa”, ujarnya. (Takut Mati, halaman 45)

Dr. Erick, seorang spesialis anestesi, menyatakan keheranannya karena daya tahan nyeri yang luar biasa dari seorang pasien tatkala luka bakar akibat bomnya sedang dibersihkan.  Atau makanan yang tetap hangat saat ditinggalkan untuk operasi selama beberapa jam (Keajaiban-keajaiban Itu, halaman 67)

Atau, ibu Sinta Yudisia, sang novelis yang merasakan kehangatan di perkebunan zaitun.

Saya sendiri menyumbangkan beberapa tulisan di buku ini.  Rekaman saya di Gaza meliputi beberapa hal, dari kegembiraan warga  Gaza akan dibangunnya sebuah water bom yang mereka sebut “mad water” sampai keidahan craft berupa tusuk silang yang menghiasi banyak properti.

Tak seperti buku lain yang memaparkan perang, luka, darah, dan tangis.  Kita bisa ringan membaca buku ini.

Pemesanan bisa langsung lewat saya, dengan diskon 10% dari harga toko yang 29.000.  Ongkir gratis untuk wilayah Jabodetabek!

Atau silakan berburu Membalut Luka Gaza di toko-thttps://drprita1.wordpress.com/wp-admin/post.php?post=1007&action=editoko buku yang ada ……..

 

Justru Ayam yang Tidak Halal

moslem meal di SQ

Di kartu menu, untuk light meal tertulis Seared Chicken in Basil Beloute with Seasonal Vegetables and Roasted Potatoes untuk pilihan pertama. Sedangkan pilihan keduanya adalah Gulai Kambing (bahasa kulinernya seperti ini : Indonesian Lamb Curry with Stirfried Vegetables and Steamed Rice).  Karena di rute sebelumnya (Jakarta Singapura) saya sudah makan daging, maka saya sudah berniat untuk makan ayam saja.

Jam 2 dinihari pembagian makanan dimulai.  Setengah mengantuk saya menyebutkan menu pilihan saya itu, dan setengah mengantuk pula saya sekilas mendengar pramugara yang berkulit agak gelap itu menyebut-nyebut non halal untuk pilihan chicken.  Namun karena sudah tersetting dalam pikiran saya yang masih setengah sadar itu untuk memilih chicken, maka saya tetap meminta diberikan ayam.  Sang pramugara memberikan menu yang saya minta, namun ia mengatakan

“Ini tidak halal.  Bukannya anda muslim?”

Setelah suami saya mengingatkan saya sekali lagi, barulah saya mulai “bangun”.

“Kenapa sih tadi dia ngotot bilang ayam ini gak halal? Ini kan cuma ayam campur sayur dan kentang?” saya setengah protes.

“Gak tahu, ya.  Tanya saja sendiri”, suami menjawab sambil mulai menyendok nasi gulainya.  Biasanya, kalau di pesawat, saya dan suami sudah janjian untuk memilih menu yang berbeda.  Tujuannya supaya bisa saling menyicipi 🙂

Penasaran, saat si pramugara etnis India itu lewat, saya cegatlah dia untuk minta penjelasan.

Yes, madame, this is a western chicken.  So the chicken in non halal. Sedangkan yang kambing, ia disembelih di Singapura, yang saya tahu pasti, halal”, ungkapnya menjelaskan. Khas pramugari/a di Singapore Airlines, saat bercakap-cakap dengan penumpang mereka selalu berlutut di sebelah kita.

“Oooh, kalau begitu ini informasi yang sangat berharga, sehingga saya patut berterimakasih kepada anda”, saya menjawab jujur.

Dan saya melirik penumpang di sebelah saya yang mengganti menu chickennya dengan kambing.

Dan ternyata request “moslem meal” saat check in tidak berlaku di semua rute.  (nin)

(SQ, Singapura – Dubai, 26 Maret 2013)

Foto : menu di SQ pada rute Jakarta Singapura.  Ada kode MOML, Moslem Meal, sesuai request saat check in.  Sayangnya request tersebut tidak berlaku di penerbangan lanjutannya.