[Halal is My Life] Makan Makanan “Halal”, Tetap Harus Waspada

Tulisan ini,bersama tulisan yang lain, bisa dibaca juga di majalah AULIA edisi Februari 2013. Terkadang kita merasa tenang saja karena makan di resto yang sudah jelas halal. “Lho, kok tahu dengan jelas kehalalannya?” “Ya, kan cuma sea food. Gak jual masakan B2 dan gak pakai minyak B2 juga” “Betulkah seperti itu? Pengalaman dari komunitas Halal Baik Enak saat melaksanakan wisata kuliner halal menemukan bahwa hanya kurang dari 10% resto yang ada di mal-mal ternama, yang mempunyai sertifikat halal. Dari 40an resto, hanya 1 atau paling banyak 2, yang sudah bersertifikat halal.  Itu pun didominasi oleh resto fastfood berwaralaba”. “Jadi sisanya jualan makanan haram, dong?” “Makanan yang disajikan memang halal.  Tapi yang bikin tidak halal bisa dari bumbu, penyedap, pencelup, dll.  Jadi yang asalnya halal bisa berubah menjadi haram gara-gara bahan-bahan tambahan tersebut”. Kiat-kiat inilah yang Insya Allah saya (dan keluarga) lakukan saat makan di luar: 1.  Untuk makanan di resto, kami sekeluarga selalu memilih yang sudah bersertifikat halal, yang ditandai dengan adanya logo Halal MUI (lihat gambar)  Kalau ragu, tentu ditanyakan saja secara langsung.  Kalau tidak punya sertifikat halal dan jenis makanannya berisiko tidak halal, misalnya rawan penggunaan angciu atau rhum, maka saya tanyakan langsung ke dapurnya. Jangan menanyakan ke pramusaji, karena mereka biasanya tidak tahu menahu tentang proses pengolahan masakan. Melongok ke dapur, saya tanyakan bahan-bahan tambahan yang dipakainya serta saya minta ditunjukkan botol kemasannya. Misalnya: “Pak, pakai angciu tidak? Terkadang mereka jawab langsung “ya atau tidak”. Tapi bisa juga berkilah, “Kalau ibu gak mau angciu juga bisa kok”. Nah, yang jawab belakangan ini biasanya memang pakai angciu. Hati-hati! Kalau jawabannya “tidak pakai angciu”, jangan selesai dulu karena angciu bisa tampil dengan berbagai macam nama, misalnya ‘cuka beras’, ‘arak beras’, ‘saos raja rasa’.   Alhamdulillah, karena mata sudah terlatih mengamati merk, maka kita bisa menyimpulkan ada tidaknya sertifikat halal dari penambah rasa tersebut. Kalau meragukan, tinggalkan saja. Bagaimana kalau terpaksa? Pilih makanan yang aman dari penambahan bahan halal, misalnya soto, rawon, dsb.  Jangan pilih masakan sea food, atau tumis2an (misalnya: cah kangkung), karena biasanya ditambah angciu. Alhamdulillah, selama ini masih dilindungi Allah karena kami sekeluarga termasuk yang konservatif, jarang makan di luar, atau kalau pun makan, hanya di resto tertentu yang sudah dikenal dengan baik. Pernah ding, satu kali terjebak makan di resto yang sekarang sedang ramai dibicarakan karena sangat ramai padahal belum bersertifikat halal, yaitu Sol**ia.  Ternyata sepulang dari resto itu, ada anggota keluarga yang terkena diare. Semenjak itu kapok makan di sana lagi.  Pertama dan terakhir! 2.  Makan di rumah makan kecil atau warung tenda atau makanan keliling. Di sini kita lebih mudah lagi dalam memeriksa bahan2 tambahannya.  Cara bertanyanya sama dengan di resto, dan malah kita bisa lihat satu persatu botolnya.  Ada satu rumah makan yang justru malah berkonsultasi tentang kehalalan berbagai macam bumbu tambahan.  Saya mengajari bagaimana mencari logo halal MUI di sebuah produk yang merupakan jaminan kehalalan produk tersebut.  Kalau ternyata bahan2nya Insya Allah sudah halal, saya himbau agar mereka mendaftarkan produknya agar bersertifikat halal MUI 3.  Ada selebaran tentang makanan yang berisiko tidak halal gara-gara ada tambahan bahan haram.  Selebaran tersebut saya gandakan.  Ditaruh di tempat umum, di kantin RS untuk diambil oleh pengunjung kantin,dan dibagikan kepada para penjual makanan keliling.  Reaksi mereka adalah : “Kok saya baru tahu sekarang, sih!” “Kenapa tidak disosialisasikan sejak dulu.  Bagaimana dong selama ini yang saya makan?”.  Jadi kesimpulannya,  sebagian dari masyarakat itu BELUM TAHU.  Tugas kitalah untuk menyebarkan pengetahuan ini.  Namun ada juga segolongan masyarakat yang tahu risiko2 keharaman suatu makanan gara2 bahan tambahan, namun mereka TIDAK BERANI untuk menanyakan ke pemilik/petugas resto. Itu baru resto.  Masih ada lagi kerawanan pada produk-produk roti, donat, dan cake dari bakery ternama.  Belum lagi makanan hotel, terutama hotel berbintang. Dan juga makanan dari catering, saat kita menghadiri undangan pernikahan.  Jadi….hati-hati! Jadilah auditor untuk diri kita sendiri, keluarga, dan kerabat terdekat terlebih dahulu.  

 
 

 

66 thoughts on “[Halal is My Life] Makan Makanan “Halal”, Tetap Harus Waspada

  1. Terimakasih telah mengingatkan, bu.
    Benar, lebih baik menjadi auditor sendiri ketika jajan di luar.
    Wah, saya ketinggalan informasi nih kalo Sol***a rame dibicarakan, padahal kami kalo ke mall, resto itu kadang-kadang jadi tempat melepas lelah.

    • Terimakasih kembali, pak. Setelah self auditor berjalan dengan baik, maka kita harus mulai melangkah keluar untuk berperan sebagai da’i halal, pak. Terkadang miris, melihat resto yang belum jelas kehalalannya tapi ramai dikunjungi oleh keluarga muslim…… ^__^

    • pasti tidak serta merta kita dipersilakan masuk ke dapurnya. Terkadang saya melongok saja dari jendela kecil yang ada. Mereka pasti juga tidak serta merta bilang ini itu haram…..Biasanya kata pamungkas yang saya pakai adalah, “Anda berani tidak menanggung dosa kalau ternyata saya makan makanan haram dari yang anda sajikan dan katakan halal?”
      Juga bukan sekali dua kami balik kucing, tidak jadi makan di satu resto gara2 meragukan. Memang saos tersebut sangat sering digunakan mbak Yana. Bahkan nasgor gerobakan pun pada pakai. Disitulah mirisnya…..

    • Itu idealnya. Namun suatu saat , suatu hari, sengaja gak sengaja pasti kita pernah kesasar makan di resto atau bahkan cuma warung tenda atau lesehan. Masalahnya, fenomena ini tidak hanya monopoli resto besar atau hotel berbintang, lho. Hati2 dengan makanan sari laut di pinggir-pinggir jalan, misalnya. Atau abang penjual nasgor dan bakgor dengan gerobak dorongnya. Mereka menggunakan angciu lebih karena tidak tahu. Akankah kita berdiam diri?

  2. daripada parno sama halal ga halal di resto, mendingan masak sendiri..
    tfs budokter.. setidaknya kitanya juga kudu waspada.. ada langganan seafood di semarang yang kokinya haji, dijamin halal deh ga pake angciu segala ato cuka beras..

    • bukannya parno juga, mbak Tin. Tapi yang langganan seafood di Semarang itu, kalau mau lebih tenteram, beliau daftarkan resto nya utk dapatkan sertifikat halal MUI. Atau minimal, semua bahan tambahan yang beliau gunakan mestilah ada logo halal MUInya (seperti di gambar, mbak)

      • Baru sore ini langsung menemukan merek cui itu. Hikss….
        Ternyata ketidak halalan itu ada sedekat itu ya bu…

        Btw, saya masih belum tau kenapa cui itu ga halah? Belum sempat browsing…😦

      • Wow, anak kos yang sangat berbakat dibidang investigasi. Langsung bergerak dan menemukan tersangka. Ciu (bukan cui) itu masuk kategori arak aka khamr. Sesuatu yang memabukkan. Sedikit banyak, sama saja haramnya.

  3. Tfs ya dok… Tapi sering sekali kalau ngomongin tentang makanan halal&sertifikat halal MUI, mesti dibilangnya ‘hukum asal makanan itu boleh. Ga ada sertifikat halal MUI bukan berarti haram’. Suka bete sendiri. Malah jadi debat hehe *curcol*

    • Memang betul,tidak ada sertifikat Halal MUI itu bukan berarti haram, tetapi tidak ada jaminan bahwa itu memang benar2 halal. Gpp, mbak, yang penting tetap kritis dan tidak hantam kromo, semua jenis makanan disantap tanpa cek n ricek….. Tetap berjuang!

  4. saya pernah bu, waktu atasan dpt kiriman cake dr klien dr bakery ternama*ya krn ketidaktahuan jg,ikutan nyantap, ternyata make rhum, langsung puyeng-.-‘ sejak saat itu suka milih2 kl dpt makanan di kantor,sering klien kirim cake- skrg bisa di itung make jari jajan di luar, paling2 ya menu turki, yang bumbunya ya gt2 aja, suami masuk resto fastfood aja ga pernah mau di sini:ditambah disini ga ada sertifikasi halal, cuma bentuk himbauan dr departemen tertentu disetiap label makanan, tidak mengandung dolmus*b2, tp tetap aja ada produsen nakal dgn merk2 tertentu apalagi kl urusan ekonomi msh ‘akrab’ sm isr**, jd disini kudu pinter2 milih produk yg terpercaya,mungkn ini jg alasan kuat keluarga muslim turki *kecuali daerah kota besar* jrg yg menghabiskan waktu makan di resto2 gt, frekuensinya ga sesering org indo*krn byk mall jg kali ya bu skrg-.* byk tempat pilihan makan, budaya jajan di luar ga begitu kuat disini,jd mau ga mau bener2 kudu akrab sm dapur skrg:) sepanjang saya di turki, blm pernah gitu acara kumpul keluarga makan bersama nyewa kursi di restoran:)) pasti duduk manis dirumah salah satu keluarga

    • ini tanggapan saya mbak Rahma :
      1) Cake (terutama tiramisu, blackforest, fruitcake, klapper taart), puding dan vlanya, vla kue sus, bika ambon dsb (ayo kasih tambahan dong yang pakar di kuliner), itu memang rawan bersentuhan dengan yang tidak halal, yaitu rhum, wine,atau nira (utk bika ambon), Itulah kenapa kita harus hati2. Dulu…..jaman saya kecil, yang namanya bikin vla, ya wajib ada rhumnya. Itu karena ketidaktahuan belaka. *istighfar*

      2) Kultur timteng yang saya amati memang suka kumpul di rumah. Ngundang makan, di rumah. Tidak perlu rame2 hanya 1-2 keluarga. Hal ini jarang saya dapati di Jakarta, khususnya. Sedangkan di Indonesia, memang sudah terkenal konsumtifnya. Buktinya, seberapa banyak dibangun mal, berapapun dibangun minimarket dan maximarket,akan selalu dikerumuni dan dibeli.

      3. Tentang lembeknya sertifikasi halal di Turki mungkin ya karena iklimnya. Artinya dorongan untuk menyertifikasi itu yang tidak ada. Perbandingannya, di Saudi pun, makanan dan minuman beredar bebas saja.

      Justru di negeri jiran (malaysia/singapura yang kita lebih tenang makan, karena lembaga sertifikasi halal nya bergigi) . Seharusnya makan di negara dengan penduduk muslim terbesar itu akan semakin tenang, tetapi ternyata perjuangan masih panjang.

      • makasih bu, wah ternyata byk ya kue2 gitu, *apalagi saya ga bs bikin,tau beli aja, jd kudu mulai belajar nih:) dulu sering bgt di kantor lama,dpt hadiah2 dr klien cake2 gitu.

        *bener ya bu, di negara mayoritas muslim juga butuh perjuangan:S krn rasain sendiri di turki, jd masuk ke kultur dan ngikutin gaya mereka menjamu makan2 dirumah ada bagusnya juga buat benteng.

    • Terimakasih kembali. Ayo, segera ngobrolin topik ini ke ayah. Seafood di pinggir jalan, akan lebih gampang lagi ngeceknya mbak Cindy. Ambil botol-botol sausnya satu persatu, tanyakan isinya. Cek logo halalnya. Isi perlu ditanyakan karena bisa saja antara kemasan dan isi berbeda. Memang bagi yang belum tahu, penambahan angciu ke masakan seafood itu, hampir2 wajib, karena bisa untuk menghilangkan amis.

  5. Sy baca tlsn ini d majalah aulia jg dok.. yg edisi januari jg ada tlsn dr.? Jd penulis ttp mjlh aulia kah dok?

    Oia, dr kenal dgn dr. Lenny g? Ktanya beliau kl sc sll dgn dr. Beliau titip slm buat dr… hehe..

    #kmrn slh tmpt komen

    • ya, ini memang copas plus edit dari yang saya tulis di AULIA. Tentunya kalau di AULIAnya ada pengalaman dari orang lain. Silakan disimak. Di majalah tersebut saya dapat amanah sebagai pengasuh rubrik Konsultasi Kesehatan.
      Dr. Lenny di Sukabumi? salam kembali untuk beliau, ya. Lama tak bersua

    • kehalalan obat2an termasuk urgen untuk dituntaskan. Saya sudah mulai dengan di apotik RS sendiri. Saya minta tiap PBF untuk memberikan sertifikat halal bagi obat2an yang dimasukkan ke apotik. Ternyata mereka punya!! Meski itu tidak selalu dari MUI, melainkan dari luar negeri. Ada Prancis, Jerman, Thailand, dll. Sisanya….masuk kategori darurat! Semoga yang darurat ini juga akan segera terpecahkan. Syaratnya : pejabat Indonesia tidak sibuk korupsi sana sini!

  6. Matur nuwun bu sharing ttg makanan halalnya. InsyaAllah lebih teliti lagi kalau makan di luar. Ini langsung kontak anak saya yg kuliah di Depok , untuk lebih hati2 memilih warung/tempat makan, maklum jauh dari rumah. Mudah2an dia dan kawan2nya bisa bikin list mana2 saja yang aman kehalalannya supaya bisa manfaat buat mahasiswa2 muslim lainnya yg tinggal di sekitar kampus.🙂

    • alhamdulillah, bu. Semoga bermanfaat buat ananda (btw, kuliahnya dimana? Ada 1 anak saya yang juga jadi penghuni kota kampus, Depok),dan jugabuat kita sendiri. Memang yang paling aman adalah rumah makan/warung yang sudah mendapatkan sertifikat dari MUI, namun kalau belum punya sertifikat, ya kita sendiri yang harus jadi auditor halalnya. :-))

      • Anak saya namanya Hana kuliah di Fasilkom sama dengan Dipta Tanaya ( sy lht blog ibu lwt blognya Dipta ) inshaaAllah sama dgn anak ibu juga hehe.
        Anak saya itu ngontrak sendirian di Kober, lalu makanannya ya beli, ada nasi goreng, somay, lalu seafood dll. Malah minggu lalu mereka mabit di kontrakannya Hana , eh pesannya seafood dari rumah makan di Margonda. Ini tadi langsung sy telp Hana utk kalau bisa sama teman2nya buat list mana2 saja yg makanannya kehalalannya aman utk sekitar kampus dan Margonda. Lalu list itu bisa disharingkan ke teman2 muslim se kampus , inshaaAllah bermanfaat sekali. Saya benar2 merasa diingatkan sekali nih bu, tersadarkan bhawa ciu yang mungkin sdh lazim dipakai oleh pedagang2 kecil malah, (istighfar ). Mesti sering2 tanya sebelum membeli. Kalau misalnya ada selebaran yg bisa membantu, Alhamdulillah bu kalau saya bisa di sharing kan . Email saya : itaboedir@indochito.biz Jazakillah bu…:)

      • Terima kasih bu Prita atas selebarannya dan info milis halal baik enak, mudah2an bisa jadi pencerahan buat banyak orang sesama muslim🙂

      • bu dr Prita, bbrp hari lalu sempat ke Lotte Mart, sekalian ngecek bumbu2 dan bahan pembuat kue, alhamdulillah sdh bnyk yg berlabel halal dari MUI. Ada bbrp yg stempel Halalnya dari Europe (fermipan), ada yg Malaysia ( Roti Boy ) dan dari Amerika.
        Kalau di deret cuka, kok saya blm lht yg sdh ada label halal dari MUI. Walau itu merek lokal. Kira2 gmn itu bu ?

      • wah, bu Ita, saya lambat respon. Mohon maaf ya… Di samping kesibukan, sehingga posting pun tidak dilakukan, juga karena saya sedang cari info tentang cuka yang ibu tanyakan itu. Saya hampir tidak pernah pakai cuka, sedangkan saya telusuri daftar produk halal ternyata tidak terdapat item cuka. Nah, pada kesempatan ke supermarket, saya coba telusuri rak cuka dan alhamdulillah, ada cuka yang sudah bersertifikat halal MUI. Merknya Dixi (cmiiw). Oya, saya menemukannya di supermarket S***r Indo. Demikian, bu Ita

  7. Masih agak sungkan dok kalau tanya2 gitu. Alhamdulillah saya jajannya di warung makan makanan tradisional macam mi jawa dan mi ayam😀
    Selebihnya suka masak sendiri. Kalau makanan yang agak2 seafood jarang2, tapi rasanya perlu juga titi teliti lagi seperti yg dr. Prita tulis diatas.

    Tulisan arab halal saja blm pasti menjaimin ya dok kalau bukan dr MUI?
    Bbrp waktu lalu sempat org2 ribut g mau makan es krim magnum yg di ingridients nya disebutkan adanya kode tertentu yang katanya itu masih produk dr babi. Tapi jelas2 magnum sertifikatnya MUI, lalu disusul lagi produk luwak white cofee dengan isu yg masih sama dgn magnum.
    Kalau sy pribadi sy masih menjadikan sertifikat MUI sbg pegangan krn informasi isu tsb sumbernya jg tidak jelas. Kalau menrt dr. Prita bgmn?

    Kalau bakerry yg memasang sertifikat MUI di tembok tp fotocopy itu sah tdk ya dok sertifikasiny?
    Terima kasih dok🙂

    • Mbak Diah, saya coba jawab satu persatu ya.
      1. Rasa sungkan mungkin karena belum terbiasa. Insya Allah kalau dibiasakan nanti tidak sungkan lagi. Memakan makanan yang terjamin kehalalannya adalah hak kita.
      2. Mie Ayam itu bukan makanan tradisional,lho. Jadi tetap harus waspada. Di dunia masak memasak, menggunakan angciu untuk seafood, nasgor, miegor itu hukumnya hampir wajib. Dan hampir tidak ada pula yang menganggap bahwa itu haram.
      3. Menuliskan kata “halal” dengan tulisan arab, itu namanya “self claimed”. Tetap belum terjamin kehalalannya. Tetap saya perlakukan interograsi terlebih dulu.
      4. Menjadikan sertifikat halal MUI sebagai pegangan kehalalan? Sikap tsb sdh betul. Meskipun sekarang juga berkembang wacana adanya lembaga sertifikasi halal milik swasta, sebagaimana yang akan diluncurkan oleh PBNU
      5. Kalau sudah ada logo halal MUI tetapi masih ragu, bisa dicek di daftar halal yang ada di majalah Halal atau kunjungi http://www.indohalal.com/
      6. Sekaligus bisa menjawab pertanyaan tentang bakery yang memasang sertifikat MUI dalam bentuk kopi, silakan dicek di situs tsb
      Alhamdulillah….akhirnya terjawab sudah pertanyaan2nya. Btw, sekarang dimana? Yogya atau Semarang? Insya Allah saya akan ada acara di Solo pada awal Maret

      • Syukran dok jawabnnya lengkap sekalu.
        Sy sementara di semarang dok. Menunggu kelahiran adiknya yusuf. Mohon do’anya dr dr. Prita. Rencana stl diijinkan dokter buat perjalanan jauh sy nyusul suami ke jayapura dok, suami dinas di univ cendrawasih sekarang dok🙂

      • Alhamdulillah sudah 6 bulan dok, mau masuk 7
        انشـــــاء الله awal juni HPLnya dok
        Nanti sy hub dr. Prita kalau mau ke jayapura dok🙂 terima kasih banyak perhatiannya🙂

      • pernah baca di AULIA
        kalau di Malaysia jelas terpampang ya resto mana yang menyediakan makanan halal / non halal
        semoga Indonesia bisa seperti itu..

  8. ya, kita sedang menuju ke arah sana. Semoga….. Allah memberikan kekuatan iman. Karena, ciri khas warga Indonesia -yang saya perhatikan – kalau ada resto baru langsung saja diserbu tanpa tanya-tanya kehalalannya. Majalah AULIA memang concern dengan rubrik halalharam yang diasuh oleh pak Nurbowo

      • Assalamualaikum..sya mau nanya bu terkait artikel angciu dalam raja rasa..apa benar kalau saos raja rasa termasuk angciu?karena setau sya angciu yg mengandung alkohol apabila dimasukan dlm penggorengan saat memasak akan memicu keluarnya api..sedangkan raja rasa tidak..kalau boleh tau kecurigaan akan kandungan anciu dlm raja rasa apa sudah diteliti sebelumnya?atau cuma kecurigaan semata?mohon informasinya terima kasih

  9. angciu sih kalau menurutku tidak haram. aneh saja kalau MUI (tuhannya orang islam di Indonesia) menyatakan angciu haram. Kalau diminum sebotol ya haram, karena bisa memabokkan. Tapi kalau untuk memasak yang cuma 1sdt ya ga haram. pusing mikirin orang islam di indonesia ini. anehnya, korupsi kok tidak masuk fatwa MUI ya? berarti korupsi bagi MUI ga haram ya? cape dech…

    • Terimakasih atas kunjungannya. Tentang keharaman angciu, landasannya adalah hadits nabi Muhammad SAW yaitu “Yang banyaknya memabukkan, maka sedikitnya pun haram”. Contoh gampang dalam keseharian, bila kita mendapati sepotong kaki kecoa dalam minuman kita atau ada bangkai ulat di antara lalapan kita, tentu kita membuang minuman/makanan tersebut, meskipun dari segi rasa tetap tidak ada perubahan. Demikian,pak, semoga menjadikan periksa.

  10. Mohon indo kalo oleh2 semarang bandeng juwana erlina pandanaran, lapis legit dyriana, bakpia nya dan rorti gankel relnta halal ga?

    • mohon maaf sangat terlambat merespon. komentar ini menyelip dan baru ketemu. namin demikian saya tetap menjawab, semoga jawaban ini bermanfaat juga untuk yang lain. untuk mengetahui apakah suatu produk sudah bersertifikat halal MUI atau belum, bisa dengan berbagai cara :

      1. melihat langsung pada kemasan, dan pastikan ada logo halal MUI seperti pada gambar. sertifikasi halal tidak harus dari LPPOM MUI pusat, tapi bisa juga dari LPPOM MUI daerah.
      2. mengunjungi website http://www.halalmui.org ,dan ikuti petunjuk untuk pencarian produk halal
      3. dengan sms : ketik halal [spasi] merk kirim ke 98555

      Demikian, semoga bermanfaat

  11. Hmmm..saya rada sedikit merasa heran,apabila yg dipermasalahkan adalah kandungan alkohol kenapa buah kelengkeng,durian,dan sebagian obat batuk yg ada kandungan alkohol tidak diharamkan..wkwkwkwkw

    • terima kasih sudah mampir. Begini, kalau kandungan alkohol pada buah yang terjadi secara alamiah, itu tidak apa. Yang tidak boleh kalau buah2 tertentu sengaja diproses agar muncul alkohol. Misalnya, orang memeram anggur dan kemudian jadi miras, atau pada proses pembuatan tuak. Demikian juga pada kasus obat batuk. Di sebagian obat batuk memang ada yang mengandung alkohol dengan alasan sebagai pelarut. Tapi ternyata tanpa pelarut alkohol pun, obat batuk tersebut tetap dapat berkhasiat. Karena itu, kalau ada pilihan obat batuk non alkohol, sbaiknya memilih yang non alkohol. Tetap berkhasiat dan lebih aman serta halal.

      • Assalamualaikum dr..apa benar kalau saos raja rasa termasuk angciu?karena setau sya angciu yg mengandung alkohol apabila dimasukan dlm penggorengan saat memasak akan memicu keluarnya api..sedangkan raja rasa tidak..dan dikomposisi raja rasa itu sndirI tidak mengandung angciu…kalau boleh tau informasi bahwa nama lain angciu adalah saos raja rasa dari mana ya?terima kasih bu dr..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s