Parmi dan Grande Multi Para

Parmi (sebut saja begitu), perempuan usia 41 tahun itu duduk terdiam di depan saya. Perutnya tampak membuncit, berisi janin usia 7 bulan.  Sudah beberapa kali saya mengingatkannya untuk menggunakan alat kontrasepsi, namun beberapa kali juga ia kelupaan.  Sekarang ia datang untuk memeriksakan kehamilannya yang ke-10.  Dan, baru pertama kali ini ia datang kontrol.  Kalau mengingat saat kehamilan anaknya yang ke-9, dimana sekian kali ia datang ke bidan namun sekian kali pula ditolak dikarenakan kasusnya yang sudah masuk risiko tinggi.  Kali ini ia didampingi anak pertamanya, ibu muda  yang sudah memberinya dua cucu. Untuk kesekian kalinya, saya menawarkan penggunaan alat kontrasepsi.  Kali ini, pemasangan AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim= IUD) pasca plasenta lahir.  Sebuah terobosan baru dalam berKB, yakni AKDR diinsersikan ke dalam rongga rahim sesaat setelah lahirnya ari-ari.  Sehingga, setelah melahirkan, yang bersangkutan langsung menggunakan alat kontrasepsi saat itu juga.

Melihat bu Parmi terdiam saya akhirnya jatuh iba. Kenapa ‘kesalahan’ (kalau memang itu bisa disebut sebagai ‘kesalahan’) hanya jatuh pada pundaknya?  Bukankah seorang perempuan (baca: istri) tidak mungkin bisa hamil tanpa peran serta suami? Apakah layak, perempuan yang sudah menanggung beban hamil dan melahirkan di usia yang tidak muda lagi masih harus dibebani lagi dengan pertanyaan “kenapa kok masih hamil juga?”

“Memang, saya pengen bapak saya disunat lagi aja, dok”, tiba-tiba anak perempuannya nyeletuk.    Saya jadi senyum-senyum mendengar istilah ‘disunat lagi’ itu. Rupanya si anak perempuan tersebut cerdas juga dalam menangkap pemikiran saya.

Kasus seperti bu Parmi jelas termasuk kehamilan risiko tinggi.

Pertama, berisiko dari segi usia yang sudah di atas 40 tahun.  Usia lanjut, ibaratnya mobil, mulai ada mesin-mesin tubuh yang kinerjanya menurun.  Saat hamil, mudah terjadi komplikasi-komplikasi.  Diabetes dan hipertensi yang memang menjadi ‘bangkit’ saat hamil, akan muncul lebih dini dan nyata.  Elastisitas otot dan persendian menurun.

Kedua, risiko dari segi jumlah kehamilan yang sudah lebih dari 4 kali.  Kehamilan seperti ini istilahnya adalah ‘grande multi para’.    Otot rahim sudah berkurang elastisitasnya sehingga kemampuan untuk berkontraksi dengan baik setelah bayi lahir agak berkurang.  Padahal, kemampuan untuk berkontraksi tersebut sangat diperlukan guna menghentikan darah  setelah proses persalinan.  Sehingga, ibu-ibu grande multi para sangat rawan untuk mengalami perdarahan pasca persalinan.  Belum lagi kualitas sel telur yang sudah menurun di usia kepala empat ini, menyebabkan lahirnya bayi penyandang sindroma Down meningkat.

Selesai disitu? Tidak!  Di lain pihak sering kita dengar para selebritis dan wanita karir dengan tingkat kehidupan di atas rata-rata serta justru memilih hamil dan melahirkan di usia ‘matang’ (bahasa eufemisme dari usia 40 an tahun).  Dengan status gizi yang prima dan derajat kesehatan yang optimal mereka pun melahirkan bayi yang sehat. Sehingga paradigma bahwa 40 tahun adalah usia risiko tinggi sempat bergeser sejenak.  Benarkah? Jawabannya, tidak.  Karena – sayangnya – dibandingkan dengan ibu selebritis ternyata ibu semacam bu Parmi jumlahnya jauh lebih banyak!

Bu Parmi dan banyak lagi yang senasib, terjebak dalam lingkaran setan sbb : pendidikan rendah sehingga pengetahuan tentang kesehatan reproduksi juga rendah.  Pendidikan rendah juga berkaitan erat dengan kemiskinan.   Akses untuk menggunakan kontrasepsi terbatas dikarenakan minimnya pengetahuan dan daya beli yang rendah.  Meskipun pemerintah telah menyediakan alat kontrasepsi cuma-cuma di puskesmas, namun tetap mereka tak dapat menjangkaunya. Inilah kelanjutan percakapan saya dengan bu Parmi :

“Bu, nanti pakai fasilitas Kartu Jakarta Sehat (nya Jokowi) saja, ya.  Punya, kan?”

Ia menggeleng.

“KTPnya DKI, kan, bu?”

“Gak punya KTP.  Kapan hari ada yang mau bantu bikinkan, minta uang 700 rebu”, jawabnya.

“Kalau begitu  pakai Jampersal saja.  Syaratnya cuma KK dan Surat Nikah”, usul saya.

“Lah, memangnya Mamah punya surat nikah?” kali ini anaknya menyahut.

“Bikin KK taripnya 500 rebu”, sambung bu Parmi lemas.

Sehingga mereka seperti warga ilegal.  Hidup tanpa identitas dan terserak di belantara ibukota ini. Mereka juga makanan empuk para calo KTP dan KK.  Mana mereka tahu bahwa pembuatan KTP dan KK itu gratis? Sedangkan saya  dimintai 10 ribu karena terlambat sepekan urus KTP saja sudah mencak-mencak.  Karena identitas tak jelas maka fasilitas pelayanan kesehatan dari pemerintah pun tak dapat mereka nikmati.

Karenanya, seperti yang sudah-sudah, persalinan bu Parmi ini nanti akan difasilitasi oleh ZISKES BSMI.  Dan seperti rencana saya, Insya Allah akan dilakukan pemasangan IUD pasca plasenta untuknya.  Daripada sang bapak “disunat lagi”…….🙂

NB. Baca jenis-jenis kehamilan risiko tinggi yang lain

34 thoughts on “Parmi dan Grande Multi Para

  1. Mereka seperti Bu Parmi ini sepertinya banyak di negeri ini. Ketika saya ke kampung nenek di salah satu kabupaten besar di Jawa Timur, ada keluarga miskin tapi anaknya banyak banget, sekitar 8-9 juga. Tulang punggung keluarganya cuma si ayah yg sbg buruh tani. Si ibu jelas gak sanggup bekerja karena harus “ngopeni” anak-anaknya yg masih balita.

    Kalo ada kegiatan penyuluhan2 kesehatan di kelurahan atau di balai desa, mereka2 yg mengalami nasib yg sama dg Bu Parmi ini jelas lebih banyak yg terkendala datang, karena kesibukannya “ngopeni” atau bekerja.

    Tenaga penyuluh jelas terbatas jumlahnya. Apa baiknya mereka yg magang di sekolah semacam Akper itu fokus menyasar ke rumah2 mereka ya, door-to-door memberikan penyuluhan, seperti konsep yg dipakai Jamaah Tabliq?

    • Lingkaran setan yang harus diputus, pak. Pendidikan rendah-ketidaktahuan-ekonomi rendah-kemiskinan-ketidakberdayaan-menghasilkan keturunan yang berkualitas rendah. Para mahasiswa akper itu memang punya sesi ke masyarakat, tapi ya cuma beberapa pekan saja. Akar semua ini sebenarnya adalah korupsi. Dana untuk penyuluhan dikorup sehingga para kader kesehatan yang mau door to door tidak dapat bayaran yang cukup. Mereka cuma jadi sasaran janji-janji para politikus. Mohon doa agar proyek desa binaan BSMI di Pantura dan Priangan selatan dapat terus berjalan dengan baik, sehingga meski skala kecil setidaknya kita telah berbuat

  2. ya ampun pada ga tahu kalu bikin ktp & kk gratis gitu? informasi kurang keserep disegala lapisan.. pengetahuan belum merata ternyata.. apalagi soal kontrasepsi dan kehamilan diusia 40an.. ini pun anak yang ke10?
    harus ada penyuluhan berkelanjutan nih mbak.. sepakat dengan m.iwan, door to door, ato bapak/ibu erte ditraining biar informatif ke warganya..

    • Rame2nya kan cuma di koran saja, mbak Tin. Di gang-gang sempit dan kumuh atau di lapak-lapak pemulung, masih banyak yang seperti ini. Dengan gaung yang seperti sekarang, arus pendatang di DKI masih mungkin akan terus bertambah.

      • Iya setuju Bunda, arus pendatang legal maupun ilegal di DKI bakal nambah terus. Semuanya berpusat di Jakarta. Apalagi sekarang rumah sakit dan sekolah udah gratis. Seharusnya ada pemerataan…

      • Betul, Prita. Adanya KJS, buat orang mudah datang ke RS, dan cenderung mengabaikan pemeliharaan kesehatan supaya tidak sakit. Faktor preventif dispelekan. Rumah sakit membludak. Operasi bisa tertunda 2 bulan. Yang betul-betul penting jadi terlantar. UMR di DKI naik setinggi langit, bikin orang beramai-ramai kerja di DKI. Jokowi harus berpikir masalah ini secara mendalam dan jangka panjang.

  3. “Sehingga mereka seperti warga ilegal. Hidup tanpa identitas dan terserak di belantara ibukota ini. Mereka juga makanan empuk para calo KTP dan KK”

    T^T
    seperti udah jatuh dijatohin tangga pulak… =,=

    • Sudah jatuh ditimpa tangga. Saya jadi teringat kasus anak SD yang wafat karena infeksi berat pasca pelecehan seksual (yang ternyata oleh bapaknya). Ceritanya, uang santunan sebesar sekian puluh juta saat akan dibawa ke bank, ternyata hilang karena dihipnotis orang!

  4. Ya Allah .. smg persalinan Bu Parmi dilancarkan., Aaamin .,
    oh iya Bu .. terkait ‘grande multi para’ ., bila ada seorang Ibu yang menginginkan kehamilan > 4 kali ., apakah ada tips jitu untuk mengantisipasi hal tersebut ? Adakah usia maksimal spy masih dpt melahirkan normal di persalinan ke 5,6,7, .. dst. ??

    • kalau menurut ilmu kesehatan reproduksi, dianjurkan setelah usia 35 tahun tidak ada kehamilan dan persalinan lagi. Kalau nikahnya umur 20, sedangkan jarak antar kelahiran 2-2,5 tahun. Hitung sendiri berapa anak yang “dihasilkan?”
      Persiapkan diri sebelum hamil. Bayi yang sehat dilahirkan dari ibu yang sehat.

  5. Rasanya pengen datengin ibu itu deh? antara geregetan dan gigit jari, sambil mo ndatengin jokowi kesana hehehe dah beranak pinak 10 tapi msh blm py KTP, terus anak 1-9 apa punya akta kelahiran ga ya😦

    rantai ini yang harus dihapus ujung2nya,kebodohan indentik dgn kemiskinan, kemiskinan jadi bulan2an org yg berkuasa :((

  6. harusnya pembuatan KTP gratis itu disosialisasikan pada grass root seperti bu Parni ini….Banyak faktor yang menyebabkan mereka seperti warga ilegal di jakarta, meski kk dan ktp gratis, oknum yg serakah memanfaatkan ketidak tahuan dan ketidak mengertian mereka untuk menjadi mangsa….kasihan ya .
    apakah ini yang disebut kebodohan???? saya kira tidak, tapi kondisi membuat mereka dianggap bodoh, kemmiskinan membuat mereka takut untuk berhadapan dan berurusan dengan oknum kelurahan, sebab semua orang juga tau bahwa kalau berurusan dengan kelurahan ujung2nya pasti DUIT…..lha minta pengantar RT/RW aja harus pake duit…

    Ach gak tau lagi saya mau bilang apa….bingung…

    Jadi ingat dulu saya pernah tinggal di condet sebentar, punya tetangga org asli sana, suaminya tdk mengijinkan istrinya kb, akhirnya setiap tahun turun mesin, hingga anak ke 13 di usia 35 tahun….dia gak tahan dan minum ramuan nenas muda di tanah abang, yang akhrnya itu janin dikeluarin di kamar mandi dalam bentuk potongan2 yang hancur……achhh mengerikan😦

    • Tidak ada kata lain untuk mengomentari kejadian di Condet tsb selain T.R.A.G.I.S!! Mbak Jasmine tahun berapa di Condet? Itu kampung yang saya tempat sekarang…
      Sebenarnya bu Parmi dan keluarganya itu sudah menajadi keluarga binaan ZISKES BSMI. Artinya, untuk pelayanan kesehatan itu dicover dari uang zakat yang masuk ke BSMI. Tapi, setidaknya mereka kan juga harus berdaya. Problemnya adalah, dari pemerintah sudah ada fasilitas, tapi kelompok2 marjinal tersebut memang identitas tidak lengkap. Di lain pihak, pemberian fasilitas juga sangat rawan penyelewengan, tidak tepat sasaran, dll. Hatta di pemerintahan yang sekarang ini. Kalau mbak Jasmine berkenan berzakat di ZISKES silakan kunjungi linknya yang ada di tulisan tsb

      • itu kejadian tahun 1987 mbak, saya sempat tjnggal sekitar 6 bulan , sebelum rumah di depok selesai dibangun, sementara kita sdh digusur dari tebet akibat pembangunan jalan tembus kp melayu kuningan…….
        iya juga ya, kaum marjinal yg terpinggirkan karena banyak faktor, mereka nya juga enggan reffooot, maunya terima beres, emang susah……..

      • itulah yang saya tangkap. Dari pihak mereka juga tak mau reffooooot. *soalnya,kalau mau belajar refffot harus ke benua seberang, sih* Btw, mbak dulu Condetnya di mana? Batu Ampar, Balekambang, kampung tengah?

  7. iya.. yang seperti ini masih banyaak sekali di negeri ini..
    duh..
    biaya2 bikin ktp, kk, surat nikah.. pungli2.. *sediih

    • Kedua-duanya banyak. Golongan marginal maupun golongan pungli. Hanya orang2 yang sadar hukum yang bisa menolak atau melawan tatkala haknya dilanggar. Karena itu memberdayakan sesama termasuk tugas kita juga…. Siap, kan??

  8. Mbak, kirim surat atau sms ke Jokowi – Ahok, supaya mereka tahu dan dicarikan jalan keluar. Mau nomer hapenya? Saya punya.
    Kalau email gak tahu. Coba aku carikan.

  9. Urut dada bacanya, sekaligus geram. Secara teori bikin KTP dan KK memang gratis tapi praktiknya di RT, RW Kelurahan phuiii mahalnya… Saya tahun 2006 bikin KTP kena 250 ribu, bahkan saat saya tanya ke kantor kelurahan meski dengan surat-surat yang lengkap sekalipun diminta 50 ribu…. apalagi tahun 2013 ini ya bu…. Pak Jokowi ini tolong dicek kelapangan donk praktik pungli bikin KTP ini..

    • Alhamdulillah, seumur-umur bikin KTP dan KK tidak pernah ditarik bayaran. Pernah, sih kami ngasih pak RT…habis kasihan karena beliau yang sudah sepuh, jalan tertatih-tatih ke rumah warganya mengantar -waktu itu – SPT PBB. Tapi…kalau ngurus perijinan, jangan tanya. Banyak mulut yang siap mencaplok! Mau bertahan gak pakai uang? Silakan, tapi rasakan sendiri puyengnya dilempar sana sini seperti bola pingpong! Kuncinya adalah berani dan tahu alur pengurusan.

  10. jadi selama ini bu parmi ga punya ktp ya.saya juga terbiasa ga kelaur dana untuk pengurusan surat2.eh saking begitu saat buat akte ngurusin sendiri di kecamatan keb lama harus pake saksi sgala…hahahaha

  11. saya kemarin dpt link dr kompasiana: ada yg bilang proyek baru e-ktp ternyata ga bs di fotocopy, chipnya bs rusak, trus gmn ya bu kl urus2 surat kan suka diminta fotocopy ktp? kok ga disosialisasikan juga tuh ‘cacat’nya ektp, buang2 anggaran entar ujungnya.
    nenek saya anaknya 15 dok:D 4 meninggal , apa jaman dulu blm ada kb ya dok hehe, tp fisik beliau termasuk kuat jg buat org seumurannya,skrg udah sepuh banget*jd kangen* ga kebayang kl zaman skrg punya anak sebanyak beliau-.*

    • Wah, kalau e-KTP kebanyakan difotocopy bikin rusak chip saya malah baru tahu, mbak Rahma. Padahal sdh berapa kali KTP saya dikopi. Jadi nanti kalau discan gak masuk datanya, bisa2 dianggap KTP palsu dan penduduk ilegal, begitu? Repot, dong?
      Jaman dulu, kalau sebelum tahun 1970 an, memang belum ada KB. Tapi penduduk juga masih belum banyak, polusi rendah, jadi orang relatif lebih sehat. Dari 15 org, 4 meninggal. Berarti 26% nya. Cukup tinggi juga utk ukuran sekarang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s