Film Habibie-Ainun, Pelajaran Sejarah Sekaligus Pelajaran untuk Pasutri

“Ibu Ainun, berbahagialah anda.  Tidak banyak istri yang berangkat dengan jemari tergenggam suami terkasih saat berpulang kepada Sang Kekasih, Pencipta kita semua.  Tak semua suami bisa berkata tegar, menemukan kesabaran setelah meredam jerit yang kalau melengking pun sebenarnya wajar.  Setelah menekan rasa dalam-dalam di dada, kami semua mendengar, langsung atau tidak, suamimu berkata,”Kami sekeluarga rela melepasnya.  Kami menyintai, tetapi Allah jauh lebih menyintainya” (mengutip tulisan Darmawan Sepriyosa dalam Republika 240510), berkenaan dengan wafatnya dr. Hasri Ainun Habibie, SpA.  Innalillahi wa innailaihi roji’uun.(QN saya di MP pada 24 Mei 2010)

Kover buku Habibie Ainun dalam 4 bahasa.detik hot

Film Habibie Ainun termasuk film yang dibuat tanpa gembar gembor.  Berita bahwa film ini sudah dirilis justru saya dapatkan setelah melihat foto SBY usai menonton di sebuah bioskop XXI.  Konon kabarnya SBY dan bu Ani tampak lebih dari satu kali menyusut matanya selama film berlangsung.  Sementara buku Habibie-Ainun sendiri telah saya baca semenjak baru terbitnya di akhir 2010.  Buku setebal 323 halaman ini ditulis sendiri oleh Prof. DR. Ing. Bacharuddin Jusuf Habibie tanpa editor.  Hal ini tampak dari bahasanya yang Habibie banget.  Sering terjadi pengulangan kata-kata, tidak mengindahkan penempatan titik maupun koma.  Namun semua itu justru saya rasakan sebagai aura keaslian dan kesejatian dalam proses pembuatannya.  Tidak dipungkiri bahwa Habibie menulis buku ini dalam kondisi excited yang menyala-nyala dalam kalbunya.  Benaknya dipenuhi oleh kata-kata yang  mendesak untuk segera ditumpahkan.  Saat itu belum lama dari wafatnya belahan jiwanya.  Sehingga hatinya baru merasa lega dan plong setelah tulisan tersebut selesai. (referensi dari sini)  Bayangkan, Ibu Ainun wafat pada 22 Mei 2010 dan buku terbit pada bulan November tahun yang sama.

Film dibuat based on buku.  Tentu saja – dengan berbagai pertimbangan baik teknik, politik  maupun komersial- tidak semua bagian buku dapat diterjemahkan dalam bahasa film.  Peristiwa penting seperti pembentukan ICMI, ada di buku namun tidak ada di film.  Sebaliknya, beberapa scene di film ternyata tidak ada di buku.  Misalnya, adanya tokoh pengusaha Sumohadi yang diceritakan ingin menguasai proyek strategis Habibie namun ditolak, tidak didapatkan di buku.  Padahal di filmnya, ditunjukkan berbagai strategi , Sumohadi dalam menaklukkan Habibie.  Dari yang sekedar mengirim parcel dengan diselipi sekotak jam tangan mewah, menyodorkan uang sekoper penuh, sampai menggunakan senjata primitif yaitu wanita cantik.  Bahkan sampai-sampai bu Ainun berkomentar, “Wah, habis ketemu wanita cantik, ya”.  Habibie dengan lugunya menjawab, “Oh, saya nggak lihat.  Si Rubi (Rubiyanto, ajudan beliau) yang tahu”. Memang pada saat si wanita mulai membuka blazernya tiba-tiba pak Rubi masuk ruangan dan langsung meringkusnya. Sedangkan Habibie masih asyik mempelajari sebuah proposal.

Film dibuka dengan suasana di sebuah SMA, dimana Rudi dan Ainun muda sama-sama bersekolah di tahun 1955.  Peristiwa yang direkam adalah saat guru ilmu pasti menjejerkan mereka berdua – yang dikenal karena kepintarannya – dan mengatakan “kalian cocok untuk menjadi suami istri”.  Kontan teman-teman sekelasnya bersorak ramai.  Setelah adegan Habibie mengata-ngatai Ainun dengan ‘gemuk’, ‘hitam’, seperti ‘gula jawa’ langsung melompat ke Jerman.  Di tahun 1960 an Habibie ambruk di ruang kelas dan dilanjutkan dengan perawatan di rumah sakit akibat sakit TBC Tulang (hanya disebutkan di film).  Demikian juga saat ia menuliskan “sumpahku” yang berisi tekadnya untuk mengandikan ilmunya untuk bumi pertiwi.

Film ini tidak melulu berisi keharuan-keharuan.  Diselipkan juga adegan-adegan memancing tawa, misalnya saat mereka sedang ‘berpacaran’ di dalam becak yang tertutup karena hujan.  Tiba-tiba becak berhenti dan tukang becak membuka penutup depan.  Kaget.  “Lho, pak, tidak usah dibuka dulu.  Biarkan saja”.

“Tapi ini sudah berhenti hujannya”, ujar pak becak .

“Ya tidak apa-apa.  Biarkan saja tertutup”, lanjut Habibie yang agak gusar karena acaranya terganggu.

“Tapi, ini juga sudah sampai”, pak becak menjawab kalem.

Atau di adegan ini. Usai  presentasi tentang prototipe pesawat untuk dibuat di Indonesia Habibie memasuki toilet dan mendengar obrolan 2 orang yang sedang BAK. Yang seorang menceritakan tentang pesawat AS yang ditembak jatuh di perang Irak- Iran.  “Tiba-tiba terdengar bunyi nguuuuung…nguuuuung.  Pesawat Indonesia lewat.  Tentara di bawah mau menembak tapi dicegah oleh temannya.  Kata tentara satunya, kalau pesawat Indonesia sih gak ditembak juga bakal jatuh sendiri!” Pas di saat itu lewatlah Habibie  yang membuat kedua orang itu langsung ‘jleb!’

Namun ada juga adegan yang tidak bermaksud melucu namun terasa ‘lucu’ (semoga ini tidak mengurangi nilai film ini), yakni saat Habibie diangkat jadi wapres.  Usai adegan mengucapkan sumpah jabatan, tampak foto Habibie (Reza) disandingkan dengan foto Pak Harto (asli).  Tentu saja tidak cocok! Bikin ketawa! Kenapa tidak pakai foto Habibie asli saja?

Saya sebelumnya skeptis dengan pemeran pak Habibie maupun bu Ainun.  Sepertinya bakal ‘jauh’ banget kalau pak Habibie diperankan Reza Rahardian dan bu Ainun oleh BCL.  Tapi ternyata mereka berdua mampu membawakan peran berat tersebut dengan baik.  Terutama Reza, yang meskipun terlalu jangkung, namun berhasil menirukan gerak gerik dan raut muka khas Habibie.  Dari cara bicara yang cepat sambil mata membelalak, cara berjalan yang mirip Mr. Bean (kata anak saya), sampai cara meredam kegelisahan dengan memainkan jemarinya. Demikian juga BCL yang kesehariannya lincah ternyata mampu bersikap anggun dan kalem seperti bu Ainun.  Konon, BCL memerankan bu Ainun ini atas rekomendasi langsung dari eyang Habibie. Pujian juga untuk sang sutradara Faozan Rizal.  Hanung Bramantyo yang tadinya diisukan jadi sutradara, berperan menjadi Sumohadi, si pengusaha misterius.

Setting beberapa kota di Jerman turut menambah keindahan film ini.

Kalaupun ada kekurangan adalah pesan sponsor yang terlalu vulgar.  Ada sirop cap buah pinang ikut nampang. Bu Ainun mau potret resmi kenegaraan dimake up dulu dengan kosmetik Wardah. Apa iya harus sampai sebegitunya?

Film ini ditujukan untuk remaja mengingat ada beberapa adegan romantis, meskipun dibawakan dengan santun.  Pertimbangkan apabila akan membawa anak-anak, meskipun saya sendiri juga membawa anak usia 13 dan 10 tahun.  Cucu Habibie yang berusia 4 dan 6 tahun juga ikutan menonton. (nin)

48 thoughts on “Film Habibie-Ainun, Pelajaran Sejarah Sekaligus Pelajaran untuk Pasutri

    • Ya, itu salah satu adegan mengharukan yang malah tidak ada di buku. Tapi diberitakan bahwa pak Habibie mengawaql sendiri pembuatan film ini. Semoga pemimpin generasi sekarang mengambil pelajaran dari peristiwa ditutupnya IPTN tersebut

  1. Wah saya jadi pengin nonton juga kalau gitu, kata teman saya yang nonton, pemeran Habibinya kurang.. hehee

    Dokter, InsyaAllah saya jadi ke jakarta nanti tanggal 11-12 Januari. Dan kebetulan hp saya akhir pekan kemarin pas pulang diambil orang dua-duanya, hehhee. Minta tolong disms lagi nomer njenengan ya Dok🙂 nomer saya sudah saya urus jadi tetap pakai nomer yang kemarin. Trimakasih..

  2. Aku nonton berdua sama Mamah. Bagus banget filmnya, tidak melulu soal cinta yang umum. Tapi ini cinta yang luar biasa. Mengainspirasi banyak orang🙂

      • Gencar juga sih, saat baru terbitnya di akhir 2010. Sekarang tampak mejeng lagi di Gramed seiring dengan filmnya yang box office. Memang mbak Evi sekarang ada dimana? Sebetulnya di toko buku online juga ada atau e booknya
        Apa mau saya belikan, mbak? :))

      • E-booknya udah aku klik, tapi belum ada.
        Oo gencar saat baru terbit 2010, lha aku mudiknya kemaren (Juni – Agustus 2012), pantesan gak ketemu.

        Aku di Amerika mbak. Wah makasih tawarannya. Kalau nggak merepotkan boleh deh. Nanti saya transfer harga bukunya, tapi bukunya di mbak Prita aja dulu, nunggu temenku ke Indonesia biar dibawain ke US, daripada dikirim ke sini. Mahal ongkos kirimnya.

        Makasih yooo.
        Kalau ada DVDnya, boleh juga. Eh tapi mau yang original, gak mau yang bajakan.

      • oh, sori ya kalau saya ngasih link kosong jadinya😦
        Boleh, Insya Allah nanti saya belikan, mbak Evi. Saya tunggu kabar selanjutnya kalau sudah ada teman yang mudik. Wooow…ongkir ke Duluth bisa sepuluh kali lipat harga buku.

  3. saya nonton filmnya tapi gak baca bukunya… saya salut di bagian pengabdian istri kepada suami…. saat bu ainun udah punya karir cemerlang di Jerman dan akhirnya melepaskan semua karirnya demi ikut suami…

    • Terimakasih kunjungannya. Sekarang bukunya booming lagi karena terimbas film. Ada bagian2 yang hanya ada di buku, dan sebaliknya. Jadi ada baiknya beli juga itu buku. Kalau semua dikerjakan dengan ikhlas, tidak ada rasa terpaksa, dan kedua belah pihak (suami-istri) bekerja sama dengan penuh kasih sayang, Insya Allah berkah.

  4. Lapor… udah nonton bu dokter🙂
    Sayang, karena harus mengantar ponakan ke toilet lebih dulu, saya jadi terlambat masuk ke bioskopnya, jadi gak dapat masa remaja pak dan ibu Habibie😦

    Nonton film ini saya baru tahu loh kalo ibu Ainun itu dokter.

  5. Nggak bisa nonton huhuhu😦
    Tapi, alhamdulillah sudah baca bukunya dan dapat jumpa dengan Prof. Habibie😀

    Untuk filmnya nunggu dvdnya (bisik-bisik: atau mungkin dunlutannya😛 ) saja deh😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s