Archive | Januari 2013

Sel Punca dan Sebuah Karya

Alhamdulillah, atas ijin Allah Subhanahu wa Ta’ala…. , doa panjang kami selama 3 tahun  akhirnya terjawab saat suami saya  berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul:
“Regenerasi Tulang Rawan Hialin pada Defek Osteokondral melalui Penyuntikan Intra Artrikular Suspensi Sel Punca CD 34+ Darah Tepi Manusia, Asam Hialuronat, TGF B1, IGF, PG, dan Fibronektin pada Tikus Spraque Dawley”
 
di hadapan sidang senat terbuka pada Selasa, 29 Januari 2013 di Aula FKUI yang dingin.
dengan predikat Cumlaude
Beritanya ada di sini
Sedangkan edisi cetaknya ada di Kompas tanggal 30 Januari halaman dengan judul  Sel Punca Darah Tepi Bisa Diubah Menjadi Sel Tulang Rawan.
Ceritanya ringkasnya:  sel punca yang berasal dari darah tepi terbukti bisa menumbuhkan sel kondrosit (tulang rawan) pada tikus. Nantinya  diharapkan untuk pengobatan osteoarthritis ( pengapuran sendi) bisa dilakukan dengan sel punca yang berasal dari darah tepi orang itu sendiri.
Perjalanan penelitian ini masih panjang.  Mohon doa agar beliau dapat mengamalkan ilmunya dengan baik serta berkah.  Aamiin yaa Robbal Aalaamiin
NB.   Pontang panting, jungkir balik dan kuras tabungan tersebut ternyata mendapat apresiasi dari tim penguji mengingat beliau bukan staf pengajar.  Adanya nada2 skeptis dan pertanyaan retoris “kenapa mesti bersusah payah sekolah dan mahal kalau tidak berdampak untuk kepegawaiannya” menjadi kenangan manis setelah ini.  Barakallah dan apresiasi untukmu, ayah anak-2 ku!
Iklan

Parmi dan Grande Multi Para

Parmi (sebut saja begitu), perempuan usia 41 tahun itu duduk terdiam di depan saya. Perutnya tampak membuncit, berisi janin usia 7 bulan.  Sudah beberapa kali saya mengingatkannya untuk menggunakan alat kontrasepsi, namun beberapa kali juga ia kelupaan.  Sekarang ia datang untuk memeriksakan kehamilannya yang ke-10.  Dan, baru pertama kali ini ia datang kontrol.  Kalau mengingat saat kehamilan anaknya yang ke-9, dimana sekian kali ia datang ke bidan namun sekian kali pula ditolak dikarenakan kasusnya yang sudah masuk risiko tinggi.  Kali ini ia didampingi anak pertamanya, ibu muda  yang sudah memberinya dua cucu. Untuk kesekian kalinya, saya menawarkan penggunaan alat kontrasepsi.  Kali ini, pemasangan AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim= IUD) pasca plasenta lahir.  Sebuah terobosan baru dalam berKB, yakni AKDR diinsersikan ke dalam rongga rahim sesaat setelah lahirnya ari-ari.  Sehingga, setelah melahirkan, yang bersangkutan langsung menggunakan alat kontrasepsi saat itu juga.

Melihat bu Parmi terdiam saya akhirnya jatuh iba. Kenapa ‘kesalahan’ (kalau memang itu bisa disebut sebagai ‘kesalahan’) hanya jatuh pada pundaknya?  Bukankah seorang perempuan (baca: istri) tidak mungkin bisa hamil tanpa peran serta suami? Apakah layak, perempuan yang sudah menanggung beban hamil dan melahirkan di usia yang tidak muda lagi masih harus dibebani lagi dengan pertanyaan “kenapa kok masih hamil juga?”

“Memang, saya pengen bapak saya disunat lagi aja, dok”, tiba-tiba anak perempuannya nyeletuk.    Saya jadi senyum-senyum mendengar istilah ‘disunat lagi’ itu. Rupanya si anak perempuan tersebut cerdas juga dalam menangkap pemikiran saya.

Kasus seperti bu Parmi jelas termasuk kehamilan risiko tinggi.

Pertama, berisiko dari segi usia yang sudah di atas 40 tahun.  Usia lanjut, ibaratnya mobil, mulai ada mesin-mesin tubuh yang kinerjanya menurun.  Saat hamil, mudah terjadi komplikasi-komplikasi.  Diabetes dan hipertensi yang memang menjadi ‘bangkit’ saat hamil, akan muncul lebih dini dan nyata.  Elastisitas otot dan persendian menurun.

Kedua, risiko dari segi jumlah kehamilan yang sudah lebih dari 4 kali.  Kehamilan seperti ini istilahnya adalah ‘grande multi para’.    Otot rahim sudah berkurang elastisitasnya sehingga kemampuan untuk berkontraksi dengan baik setelah bayi lahir agak berkurang.  Padahal, kemampuan untuk berkontraksi tersebut sangat diperlukan guna menghentikan darah  setelah proses persalinan.  Sehingga, ibu-ibu grande multi para sangat rawan untuk mengalami perdarahan pasca persalinan.  Belum lagi kualitas sel telur yang sudah menurun di usia kepala empat ini, menyebabkan lahirnya bayi penyandang sindroma Down meningkat.

Selesai disitu? Tidak!  Di lain pihak sering kita dengar para selebritis dan wanita karir dengan tingkat kehidupan di atas rata-rata serta justru memilih hamil dan melahirkan di usia ‘matang’ (bahasa eufemisme dari usia 40 an tahun).  Dengan status gizi yang prima dan derajat kesehatan yang optimal mereka pun melahirkan bayi yang sehat. Sehingga paradigma bahwa 40 tahun adalah usia risiko tinggi sempat bergeser sejenak.  Benarkah? Jawabannya, tidak.  Karena – sayangnya – dibandingkan dengan ibu selebritis ternyata ibu semacam bu Parmi jumlahnya jauh lebih banyak!

Bu Parmi dan banyak lagi yang senasib, terjebak dalam lingkaran setan sbb : pendidikan rendah sehingga pengetahuan tentang kesehatan reproduksi juga rendah.  Pendidikan rendah juga berkaitan erat dengan kemiskinan.   Akses untuk menggunakan kontrasepsi terbatas dikarenakan minimnya pengetahuan dan daya beli yang rendah.  Meskipun pemerintah telah menyediakan alat kontrasepsi cuma-cuma di puskesmas, namun tetap mereka tak dapat menjangkaunya. Inilah kelanjutan percakapan saya dengan bu Parmi :

“Bu, nanti pakai fasilitas Kartu Jakarta Sehat (nya Jokowi) saja, ya.  Punya, kan?”

Ia menggeleng.

“KTPnya DKI, kan, bu?”

“Gak punya KTP.  Kapan hari ada yang mau bantu bikinkan, minta uang 700 rebu”, jawabnya.

“Kalau begitu  pakai Jampersal saja.  Syaratnya cuma KK dan Surat Nikah”, usul saya.

“Lah, memangnya Mamah punya surat nikah?” kali ini anaknya menyahut.

“Bikin KK taripnya 500 rebu”, sambung bu Parmi lemas.

Sehingga mereka seperti warga ilegal.  Hidup tanpa identitas dan terserak di belantara ibukota ini. Mereka juga makanan empuk para calo KTP dan KK.  Mana mereka tahu bahwa pembuatan KTP dan KK itu gratis? Sedangkan saya  dimintai 10 ribu karena terlambat sepekan urus KTP saja sudah mencak-mencak.  Karena identitas tak jelas maka fasilitas pelayanan kesehatan dari pemerintah pun tak dapat mereka nikmati.

Karenanya, seperti yang sudah-sudah, persalinan bu Parmi ini nanti akan difasilitasi oleh ZISKES BSMI.  Dan seperti rencana saya, Insya Allah akan dilakukan pemasangan IUD pasca plasenta untuknya.  Daripada sang bapak “disunat lagi”……. 🙂

NB. Baca jenis-jenis kehamilan risiko tinggi yang lain

Serial Plasenta (1) : Yang Tidak Normal tentang Plasenta

Setelah pernah membahas tentang  plasenta yang normal, maka kini giliran yang tidak normal tentang plasenta.  Tentu saja yang tidak normal menurut pandangan medis.

R.Insersi Tali Pusat Centralis

Inilah beberapa kelainan dan kondisi tidak normal pada plasenta tersebut :

Plasenta Previa

Lokasi plasenta  menutupi jalan lahir.  Jalan lahir yang terhalang oleh plasenta bisa seluruhnya atau sebagian saja.  Hal ini mengakibatkan terjadinya perdarahan-perdarahan di masa kehamilan.  Perdarahan tersebut bisa sedikit-sedikit, namun bisa juga banjir darah sehingga ibu datang dalam kondisi syok dan anemia.  Perdarahan yang banyak tersebut bisa mengancam keberlangsungan hidup bayi dalam kandungan, bahkan ibunya juga.  Ciri khas perdarahan yang disebabkan oleh plasenta previa adalah darahnya segar dan tidak disertai rasa nyeri akibat kontraksi.   Tak jarang darah keluar saat ibu sedang tidur-tiduran atau sedang mengerjakan aktivitas sehari-hari.  Diagnosa plasenta previa dibuat pada usia kehamilan di atas 28 pekan ( 7 bulan).  Mengapa? Kalau dijumpai plasenta yang menutup jalan lahir di usia muda (trimester 1 atau 2), peluang untuk bergesernya plasenta (migrasi plasenta) cukup besar.  Kalau memang benar plasenta previa, maka bayi tidak dapat lahir melalui prosedur yang normal, melainkan harus melalui operasi sesar. 

Solusio Plasenta/Abruptio Plasenta :

Plasenta terlepas dari perlekatan dengan dinding rahim sebelum terjadinya persalinan.  Akibatnya pasokan oksigen untuk bayi terganggu.  Berakibat fatal untuk bayi apabila tidak segera dilahirkan. Berbeda dengan perdarahan pada plasenta previa, perdarahan pada solusio plasenta cenderung sedikit-sedikit namun berwarna lebih gelap dan disertai rasa nyeri yang menetap.  Rasa nyeri tersebut berasala dari timbunan darah antara plasenta dan dinding rahim. Solusio Plasenta ini termasuk dalam kondisi emergensi.  Bila dijumpai janin masih hidup, maka dilakukan operasi segera (cito), Kebalikannya, bila janinnya ternyata sudah wafat, maka diusahakan persalinan normal.

Retensio Plasenta

Setelah bayi lahir, plasenta tidak dapat terlepas dengan sendirinya dari dinding rahim.  Akibatnya, untuk melepaskannya harus dengan bantuan tangan penolong persalinan.  Batas waktu menunggu untuk plasenta terlepas sendiri dari dinding rahim setelah bayi lahir adalah 30 menit.

Insufisensi Plasenta :

Sebuah kondisi dimana fungsi plasenta sebagai sarana transportasi nutrisi dan oksigen untuk bayi mengalami penurunan.  Akibatnya, bayi mengalami hambatan dalam pertumbuhannya (Pertumbuhan Janin Terhambat atau Intra Uterin Growth Retardation).  Ditandai dengan ukuran plasenta yang lebih kecil dari normal serta tali pusat tampak layu.  Berat badan bayi kurang (di bawah 2500 gram), meskipun usianya sudah cukup bulan. Salah satu penyebabnya adalah ibu menderita anemia (kurang darah), tekanan darah tinggi (hipertensi), atau penyakit kronis lain di masa kehamilan.

Plasenta Akreta :

Selama kehamilan memang plasenta melekat di dinding rahim. Namun setelah lahirnya bayi dan rahim mengerut, maka perlekatan tersebut akan lepas sehingga plasenta pun ikutan lahir.  Pada keadaan yang namanya plasenta akreta, akar-akar plasenta jauh tertanam sampai ke lapisan otot rahim.  Akibatnya ia tak dapat lepas dengan sendirinya dan juga tak dapat lepas dengan bantuan tangan penolong persalinan.  Terjadilah perdarahan yang hebat pada sang ibu.  Bila bagian plasenta yang mengalami akreta tidak banyak, perdarahan masih mungkin dihentikan dengan tindakan pembersihan rahim dengan kuret atau dengan pemasangan tamponade dalam rongga rahim.  Namun bila perdarahannya sangat hebat dikarenakan plasenta yang akreta dalam bagian yang besar, maka harus dilakukan tindakan penyelamatan dengan cara mengangkat rahim ibu. (nin)

Gambar : seonggok plasenta sesaat setelah lahir (koleksi pribadi)

Film Habibie-Ainun, Pelajaran Sejarah Sekaligus Pelajaran untuk Pasutri

“Ibu Ainun, berbahagialah anda.  Tidak banyak istri yang berangkat dengan jemari tergenggam suami terkasih saat berpulang kepada Sang Kekasih, Pencipta kita semua.  Tak semua suami bisa berkata tegar, menemukan kesabaran setelah meredam jerit yang kalau melengking pun sebenarnya wajar.  Setelah menekan rasa dalam-dalam di dada, kami semua mendengar, langsung atau tidak, suamimu berkata,”Kami sekeluarga rela melepasnya.  Kami menyintai, tetapi Allah jauh lebih menyintainya” (mengutip tulisan Darmawan Sepriyosa dalam Republika 240510), berkenaan dengan wafatnya dr. Hasri Ainun Habibie, SpA.  Innalillahi wa innailaihi roji’uun.(QN saya di MP pada 24 Mei 2010)

Kover buku Habibie Ainun dalam 4 bahasa.detik hot

Film Habibie Ainun termasuk film yang dibuat tanpa gembar gembor.  Berita bahwa film ini sudah dirilis justru saya dapatkan setelah melihat foto SBY usai menonton di sebuah bioskop XXI.  Konon kabarnya SBY dan bu Ani tampak lebih dari satu kali menyusut matanya selama film berlangsung.  Sementara buku Habibie-Ainun sendiri telah saya baca semenjak baru terbitnya di akhir 2010.  Buku setebal 323 halaman ini ditulis sendiri oleh Prof. DR. Ing. Bacharuddin Jusuf Habibie tanpa editor.  Hal ini tampak dari bahasanya yang Habibie banget.  Sering terjadi pengulangan kata-kata, tidak mengindahkan penempatan titik maupun koma.  Namun semua itu justru saya rasakan sebagai aura keaslian dan kesejatian dalam proses pembuatannya.  Tidak dipungkiri bahwa Habibie menulis buku ini dalam kondisi excited yang menyala-nyala dalam kalbunya.  Benaknya dipenuhi oleh kata-kata yang  mendesak untuk segera ditumpahkan.  Saat itu belum lama dari wafatnya belahan jiwanya.  Sehingga hatinya baru merasa lega dan plong setelah tulisan tersebut selesai. (referensi dari sini)  Bayangkan, Ibu Ainun wafat pada 22 Mei 2010 dan buku terbit pada bulan November tahun yang sama.

Film dibuat based on buku.  Tentu saja – dengan berbagai pertimbangan baik teknik, politik  maupun komersial- tidak semua bagian buku dapat diterjemahkan dalam bahasa film.  Peristiwa penting seperti pembentukan ICMI, ada di buku namun tidak ada di film.  Sebaliknya, beberapa scene di film ternyata tidak ada di buku.  Misalnya, adanya tokoh pengusaha Sumohadi yang diceritakan ingin menguasai proyek strategis Habibie namun ditolak, tidak didapatkan di buku.  Padahal di filmnya, ditunjukkan berbagai strategi , Sumohadi dalam menaklukkan Habibie.  Dari yang sekedar mengirim parcel dengan diselipi sekotak jam tangan mewah, menyodorkan uang sekoper penuh, sampai menggunakan senjata primitif yaitu wanita cantik.  Bahkan sampai-sampai bu Ainun berkomentar, “Wah, habis ketemu wanita cantik, ya”.  Habibie dengan lugunya menjawab, “Oh, saya nggak lihat.  Si Rubi (Rubiyanto, ajudan beliau) yang tahu”. Memang pada saat si wanita mulai membuka blazernya tiba-tiba pak Rubi masuk ruangan dan langsung meringkusnya. Sedangkan Habibie masih asyik mempelajari sebuah proposal.

Film dibuka dengan suasana di sebuah SMA, dimana Rudi dan Ainun muda sama-sama bersekolah di tahun 1955.  Peristiwa yang direkam adalah saat guru ilmu pasti menjejerkan mereka berdua – yang dikenal karena kepintarannya – dan mengatakan “kalian cocok untuk menjadi suami istri”.  Kontan teman-teman sekelasnya bersorak ramai.  Setelah adegan Habibie mengata-ngatai Ainun dengan ‘gemuk’, ‘hitam’, seperti ‘gula jawa’ langsung melompat ke Jerman.  Di tahun 1960 an Habibie ambruk di ruang kelas dan dilanjutkan dengan perawatan di rumah sakit akibat sakit TBC Tulang (hanya disebutkan di film).  Demikian juga saat ia menuliskan “sumpahku” yang berisi tekadnya untuk mengandikan ilmunya untuk bumi pertiwi.

Film ini tidak melulu berisi keharuan-keharuan.  Diselipkan juga adegan-adegan memancing tawa, misalnya saat mereka sedang ‘berpacaran’ di dalam becak yang tertutup karena hujan.  Tiba-tiba becak berhenti dan tukang becak membuka penutup depan.  Kaget.  “Lho, pak, tidak usah dibuka dulu.  Biarkan saja”.

“Tapi ini sudah berhenti hujannya”, ujar pak becak .

“Ya tidak apa-apa.  Biarkan saja tertutup”, lanjut Habibie yang agak gusar karena acaranya terganggu.

“Tapi, ini juga sudah sampai”, pak becak menjawab kalem.

Atau di adegan ini. Usai  presentasi tentang prototipe pesawat untuk dibuat di Indonesia Habibie memasuki toilet dan mendengar obrolan 2 orang yang sedang BAK. Yang seorang menceritakan tentang pesawat AS yang ditembak jatuh di perang Irak- Iran.  “Tiba-tiba terdengar bunyi nguuuuung…nguuuuung.  Pesawat Indonesia lewat.  Tentara di bawah mau menembak tapi dicegah oleh temannya.  Kata tentara satunya, kalau pesawat Indonesia sih gak ditembak juga bakal jatuh sendiri!” Pas di saat itu lewatlah Habibie  yang membuat kedua orang itu langsung ‘jleb!’

Namun ada juga adegan yang tidak bermaksud melucu namun terasa ‘lucu’ (semoga ini tidak mengurangi nilai film ini), yakni saat Habibie diangkat jadi wapres.  Usai adegan mengucapkan sumpah jabatan, tampak foto Habibie (Reza) disandingkan dengan foto Pak Harto (asli).  Tentu saja tidak cocok! Bikin ketawa! Kenapa tidak pakai foto Habibie asli saja?

Saya sebelumnya skeptis dengan pemeran pak Habibie maupun bu Ainun.  Sepertinya bakal ‘jauh’ banget kalau pak Habibie diperankan Reza Rahardian dan bu Ainun oleh BCL.  Tapi ternyata mereka berdua mampu membawakan peran berat tersebut dengan baik.  Terutama Reza, yang meskipun terlalu jangkung, namun berhasil menirukan gerak gerik dan raut muka khas Habibie.  Dari cara bicara yang cepat sambil mata membelalak, cara berjalan yang mirip Mr. Bean (kata anak saya), sampai cara meredam kegelisahan dengan memainkan jemarinya. Demikian juga BCL yang kesehariannya lincah ternyata mampu bersikap anggun dan kalem seperti bu Ainun.  Konon, BCL memerankan bu Ainun ini atas rekomendasi langsung dari eyang Habibie. Pujian juga untuk sang sutradara Faozan Rizal.  Hanung Bramantyo yang tadinya diisukan jadi sutradara, berperan menjadi Sumohadi, si pengusaha misterius.

Setting beberapa kota di Jerman turut menambah keindahan film ini.

Kalaupun ada kekurangan adalah pesan sponsor yang terlalu vulgar.  Ada sirop cap buah pinang ikut nampang. Bu Ainun mau potret resmi kenegaraan dimake up dulu dengan kosmetik Wardah. Apa iya harus sampai sebegitunya?

Film ini ditujukan untuk remaja mengingat ada beberapa adegan romantis, meskipun dibawakan dengan santun.  Pertimbangkan apabila akan membawa anak-anak, meskipun saya sendiri juga membawa anak usia 13 dan 10 tahun.  Cucu Habibie yang berusia 4 dan 6 tahun juga ikutan menonton. (nin)

2012 in review – Hadiah Tahunan dari WP

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2012 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

600 people reached the top of Mt. Everest in 2012. This blog got about 12.000 views in 2012. If every person who reached the top of Mt. Everest viewed this blog, it would have taken 20 years to get that many views.

Click here to see the complete report.

Awalnya saya pikir hanya sekadar ucapan Selamat Tahun Baru dari admin WP, tapi ternyata lebih dari itu!  Resume dari sebuah blog yang tadinya ingin saya kerjakan sendiri *anganangan* namun ternyata sudah dibuatkan oleh  WP dengan lebih lengkap.  Sebuah pelayanan prima yang tidak hanya sebatas slogan.  Dan merupakan  satu lagi kelebihan WP yang tidak kita dapatkan di MP.

Poin pertama adalah tentang pengunjung yang mencapai 12.000 orang.  Kalau saya amati memang pengunjung di WP lebih banyak daripada MP.  Apa sebabnya? Saya sendiri belum bisa menjawabnya.  Namun banyaknya pengunjung tersebut berbanding terbalik dengan komentar.  Komentarnya miniiimm. Padahal untuk memberi komen di WP itu tidak harus jadi member dulu.  Beda dengan MP, dimana untuk komen seseseorang harus jadi MPer dulu. Dan dengan cerdiknya WP membuat si pemilik blog tersanjung, dengan cara membandingkan antara jumlah pengunjung dengan pendaki puncak Everest!  Ada-ada saja!

Rekor kunjungan dalam 1 hari selama ini adalah 286 orang.  Jujur,selama di MP belum pernah lapak saya dikunjungi oleh lebih dari 100 orang per hari.  Tapi ya itu tadi….286 orang dalam sehari dan postingan yang terbanyak dilihat hari tersebut adalah “Keajaiban Plasenta” itu tidak berbekas, alias tanpa komen!

Sedangkan tulisan yang banyak dibaca sejak WP saya berdiri di bulan Agustus adalah “Ibu Hamil, Bolehkah Minum Es?” Kelihatannya sederhana, namun dalam maknanya.  Ternyata, sampai dengan saat ini, setelah lebih dari 10 tahun saya bergaul dengan para ibu hamil , isu tidak boleh minum es masih tumbuh subur di kalangan para ibu hamil maupun para orang tua dan mertuanya.  Miris? Iya tentu saja.  Namun ini semakin menguatkan tekad saya untuk terus berbagi lewat jurnal-jurnal maya sesuai dengan bidang yang saya geluti.

Terakhir, ada 5 besar komentator.  Tentu saja mereka-mereka ini harus diapresiasi.  Diberi ucapan terimakasih.  Meskipun pihak WP juga dengan bijaknya meminta kita memfollow dan mengucapkan terimakasih kepada mereka.

Inilah para komentator tersebut :

1. Mb. Rahma Balci nun jauh di Turki, sahabat sejak MP, sejak pengantin baru sampai sekarang sedang menikmati jadi bumil.  Terimakasih, mb. Rahma.  Semoga isi blog saya dapat bermanfaat dalam menjalani kehamilan di negeri orang

2. Mb. Tintin, tetangga dekat sebenarnya dan sudah pernah kopdar.  Beliau juga sahabat dari MP, dengan pengalaman sebagai blogger yang sudah jauh melebihi saya.  Terimakasih, mbak Tin, semoga kopdar kedua yang kita rencanakan dimudahkan Allah di tahun 2013 ini, ya

3.Mb. Antung Ayana, penulis yang tinggal di Pontianak.  Baru menjalin kontak dengan beliau semenjak di WP, padahal waktu di MP sudah sering melihatnya berseliweran.  Terimakasih, mbak.  Semoga bisa jumpa di tanah khatulistiwa.

4. Mb. Ria, dara penyuka craft yang tinggal di Bandung.  Sahabat sejak MP juga.  Terimakasih atas komen2nya sehingga menyemarakkan rumah maya saya.

5. Pak Iwan Yuliyanto, yang selama ini banyak saya tanya soal perWPan, dan terutama adalah saya menyukai permainan piano Nana – putri beliau- yang bisa membuat saya deja vu.  Terimakasih, pak.