Kisah Seorang Dokter dan Perjuangan ASInya

PROLOG :

Tulisan dibawah ini saya kutip dari http://kesehatan.kompasiana.com/ibu-dan-anak/2012/12/14/asi-dan-energi-cinta-yang-meluap-luap-516650.html.  Ditulis oleh seorang SpOG muda yang menimba ilmu di tempat yang sama dengan saya.  Meskipun berbeda jarak bilangan tahun yang cukup jauh, namun ternyata energi yang menggerakkan tetap sama.  Silakan menyusuri kalimat demi kalimatnya. Semoga mendapatkan limpahan energi yang semakin meluap…..

ASI dan Energi Cinta yang Meluap-luap

Niken A. Zafrullah, dokter kandungan, ibu 2 anak

Sudah banyak orang tahu, ASI adalah makanan terbaik untuk bayi. Banyak pula yang paham, ASI tak tergantikan oleh susu formula termahal manapun. Banyak yang bertekad untuk menyusui bayinya secara eksklusif, atau bahkan sampai dua tahun penuh seperti anjuran kitab suci. Pun tak perlu pengesahan dari Komnas HAM maupun Komnas Perlindungan Anak untuk memahami bahwa ASI adalah hak bayi, dan kewajiban ibu untuk memberikan. Namun, tak sedikit yang kecewa karena gagal untuk menggenapkan penyususan hingga 6 bulan, lupakan target 2 tahun penuh itu. Banyak di antara wanita, dan suaminya, yang mengeluhkan berbagai kendala, sehingga tujuan mulia penyusuan harus terhenti di tengah jalan. Diiringi isak tangis dan perasaan teriris, banyak pasangan yang terpaksa membuka kaleng, membuatkan susu formula lalu memberikannya pada buah hati mereka.

Perkenalkan, saya seorang dokter kandungan, ibu 2 orang anak. Di mata beberapa sahabat, saya dipandang ‘sukses’ menyusui. Sebagai ibu bekerja, saya berhasil menyusui Abel, anak pertama saya, sampai 2 tahun penuh, termasuk di dalamnya tetap menyusui Abel saat dia berusia 18 bulan dan saya dinyatakan hamil lagi. Kemudian saya juga menyusui Adam, anak kedua, sampai sekarang ia berusia 11 bulan. Di samping itu, saya menjadi ibu donor ASI bagi 6 bayi lainnya.

Benarkah saya ‘sukses’? Anda yang menilai. Banyak rekan yang ingin tahu apa rahasia sukses saya. Tak terhitung yang datang kepada saya mengeluhkan berbagai halangan dalam proses penyusuan, dan ingin dicarikan solusi. Tak sedikit yang menangis dan ‘mutung’ menghadapi perjuangan dalam menyusui. Ya, meskipun semua orang tahu menyusui adalah hal normal dan natural, hanya mereka yang masuk dan ikut berproseslah yang tahu bahwa menyusui adalah sebuah perjuangan. Perjuangan yang menguras keringat, darah dan airmata.

Keringat? Ya, karena memposisikan bayi pertama kali untuk bisa menyusu efektif itu tak jarang sampai berkeringat. Menghadapi situasi ‘bingung puting’, keringat menetes tanpa segan-segan. Memompa ASI saat ibu bekerja itu memerlukan usaha yang tak enteng. Menyusui itu berkorban keringat. Darah? Tak percaya bahwa menyusui itu meneteskan darah? Tanyakan pada mereka yang merasakan putingnya lecet. Nyerinya tak terkira. Wahai para ayah, pernahkhh Anda merasakan lecet di lutut karena jatuh menggores aspal? Hanya lecet saja, tidak sampai luka. Perih kan? Nah, bayangkan lecet itu terjadi di puting payudara ibu menyusui dengan saraf sensoris yang 100 kali lipat dari sensoris lutut, belum tentu Anda sanggup menanggung. Lalu jika lecet itu tak berkesudahan, disebabkan posisi dan pelekatan mulut bayi ke payudara ibu yang tak kunjung diperbaiki, maka lecet itu akan mengerung, membentuk ulkus terbuka dengan darah yang tampak nyata. Menyusui itu membutuhkan pengorbanan darah nyata yang mengalir. Ngeri? Tak hanya ngeri, juga nyeri. Karena itulah menyusui juga menguras airmata. Meski telah menguras keringat dan berdarah-darah, ibu menyusui juga harus menyaksikan bayinya masih terus rewel meski telah menyusu terus-menerus. Keadaan yang membuat ibu mertua dan suami atau bahkan tetangga meragukan ‘keabsahan’ ASI untuk bayi. Tudingan ‘ASI-mu tak cukup’ atau ‘ASI-mu tak berkualitas’ yang kerap datang, disertai jerit tangis buah hati, tak urung menggoyahkan pertahanan ibu yang telah bertekad bulat sekalipun untuk menyusui. Bimbang, itu yang terasa. Airmata, itu yang mengalir.

Semua yang saya sebut di atas, pernah saya jalani. Meski saat hamil saya sudah mencari tahu seluk-beluk ASI dan laktasi, sayapun pernah di titik terendah sebagai ibu baru dalam kubangan keringat, darah dan air mata. Ironisnya, mental saya sampai jatuh oleh kata-kata orang yang harusnya tidak saya hiraukan. Dia, asisten yang saya bayar untuk membantu mengasuh anak saya kelak saya bekerja. Seorang asisten yang hanya lulusan SD. Dia berkata, “ Adek Abel nangis terus, Bu. ASI Ibu kurang. Majikan-majikan saya sebelum ini pakai susu yang mahal-mahal, anaknya sehat-sehat semua lho, Bu.” Dengan kondisi sebagai ibu baru yang kurang tidur, menderita puting lecet dan mendengar anaknya menangis tak terputus, tak diragukan lagi, airmata sayapun berderai-derai.

Tapi lihatlah saya kini, bekerja sebagi dokter kandungan. Jam kerja relatif lebih panjang daripada pekerja kantoran, disertai panggilan-panggilan mendadak karena pasien melahirkan. Jam memompa ASI yang tak jarang baru 6 jam kemudian terulang, tak tunduk pada ketentuan 2 – 3 jam sekali ASI harus dikeluarkan, karena memenuhi jadwal operasi dan praktik di polikliniik kebidanan dan kandungan. Belum lagi beban stres pekerjaan yang tak jarang membuat ASI hanya malu-malu menetes saat diperah. Tapi Abel berhasil tak tersentuh susu formula (selain yang diam-diam diminumkan asisten saya itu, dari kaleng susu yang dibawakan rumah bersalin sebagai ‘sangu’) sampai 2 tahun. Adam juga ‘suci’ karena hanya minum ASI, selain MPASI rumahan yang saya buat.

Apa rahasia ‘sukses’ saya itu? Cinta. Hanya itu.

Okelah, saya akan membagi beberapa pemikiran yang melandasi tindakan saya untuk menyusui. Yang pertama, adalah pemahaman bahwa ASI yang terbaik. Dalam pengetahuan saya sebagai dokter, ASI tak tergantikan oleh apapun. Sebagai dokter kandungan yang saat itu sedang cuti melahirkan, saya tahu bagaimana kesibukan pekerjaan saya ‘mengancam’ kelangsungan proses menyusui saya. Sebagai seorang adik, saya bergidik menyaksikan kakak perempuan saya yang bekerja, jungkir balik memompa ASI bagi anaknya, yang kebetulan ASI-nya boleh dibilang ‘kejar tayang’. Padahal kakak saya adalah pekerja kantoran, yang ritme hidupnya teratur, jam kerjanya ‘9 to 5’, 5 hari kerja dalam seminggu. Sedangkan pekerjaan saya? Tapi, sebagai seorang ibu yang melihat bayi yang baru dilahirkannya, saya merasakan jatuh cinta yang sangat dalam.

Tak lulus saya sebagai peserta didik dokter spesialis kebidanan dan kandungan, bila otak saya tidak bisa diputar untuk menguasai keadaan. Dengan dukungan suami yang penuh cinta, keterpurukan dalam keringat, darah dan airmata yang berderai-derai saya hentikan dengan menghubungi konselor laktasi. Saya dibantu untuk memperbaiki pelekatan mulut Abel ke payudara saya. Beres, puting menyembuh, darah tak lagi mengucur, dan Abelpun menggendut dalam waktu sebulan bertambah 1800 gram dari berat lahir. Keyakinanpun memuncak, ASI saya bagus dan cukup. Sayapun menyusun strategi untuk mendepo ASI sebanyak-banyak sebelum mulai bekerja lagi. Tepat di pagi hari sebelum masuk kerja, saya berhasil mengumpulkan 120 botol ASI dalam kurun 5 minggu pasca kelahiran. Sayapun melenggang dengan tenang untuk kembali ke ‘pelukan’ pasien-pasien saya. Akan halnya asisten yang telah menjatuhkan mental saya? Akhirnya dia terbukti ‘telah lancung ke ujian’. Selain diam-diam meminumkan susu formula ke Abel, diapun terbukti mencuri, dan gemar bergunjing ke tetangga. Nah, Allah telah membukakan jalan bagi saya. Asisten itu saya berhentikan. Maaf, saya tidak butuh energi negatif macam itu.

Muluskah proses menyusui setelah itu? Telah saya katakan, menyusui itu perjuangan. Stres pekerjaan, jam kerja yang menyambung jam jaga dilanjutkan jam kerja lagi, sehingga harus meninggalkan rumah 36 jam nonstop, 2 kali seminggu, tidak saya sombongkan sebagai hal yang mudah. Ciutnya nyali saat melihat ASI segan menetes saat dipompa, kerap menghampiri. Beratnya mata saat harus tetap berjaga untuk tetap menyusui atau memompa ASI di tengah malam sungguh menggoda untuk menyudahi semuanya dan memilih tidur saja.

Tapi kemudian saya tanya diri sendiri. Untuk apa saya masih di rumah sakit, pukul 1 dini hari, dan dengan baju yang berlumuran darah orang lain? Untuk pasien. Bayi siapa yang saya lahirkan pukul 4 shubuh? Bayi orang lain. Lalu, pantaskah saya mengeluh malas memompa ASI demi bayi saya sendiri di rumah? If you’ve gone that far for someone else’s baby, how far would you go for your own baby? Pertanyaan itu membentuk repetisi di benak saya. Lalu saya pandangi Abel dalam tidurnya. Wajah yang damai itu. Wajah yang lucu itu. Wajah yang tak berdaya itu. Menimbulkan keinginan untuk melindunginya, memberinya yang terbaik, mengorbankan apapun deminya, termasuk jiwa raga saya. Belum lagi perasaan yang timbul saat menyusuinya. Perasaan dicintai secara absolut oleh seorang makhluk hidup di dunia ini. Perasaan yang membuat cinta yang telah ada ini semakin meluap-luap. Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya tersadar bahwa di dunia ini ada yang lebih daripada menjalani hidup sebagai dokter dan sebagai istri.

Adalah menjadi Ibu, membuat hidup saya sangat berarti karena dibutuhkan mutlak oleh manusia mini yang ternyata hidup dan punya masa depan. Melindunginya menimbulkan cinta. Mencintainya menimbulkan rela. Mencintainya membutuhkan media pengungkapan. Media itu adalah menyusui. Jika orang menyebutkan bahwa ASI adalah hak bayi, maka saya memandang menyusui adalah hak ibu. Ibu berhak untuk mengungkapkan cintanya yang meluap-luap. Ibu berhak merasakan bahwa dari organ terintimnya, yaitu payudara, bisa memuaskan anaknya, darah dagingnya. Ibu juga berhak merasakan adanya koneksi yang menghubungkan ia dengan bayinya meski tanpa ada kata terucap. Ibu berhak untuk mendapatkan pendengar absolut, yang setia mendengarkan dendangnya walaupun sumbang tak tentu nada. Ibu berhak untuk tetap dicium, apapun aroma yang menguar dari tubuhnya. Ibu berhak atas perasaan nyaman yang tak terlukiskan saat menyusui bayinya. Ibu juga berhak merasa yakin, bahwa saat ia bekerja, sang buah hati di rumah tetap merasakan ‘sari’ sang ibu, melalui ASI perah. Sayalah ibu itu. Saya berhak atas semua itu. Menyusui adalah hak saya.

Maka, timbullah energi untuk menguasai keadaan. Energi untuk menerobos segala halangan yang menghadang. Energi untuk membangunkan saya di malam hari. Energi untuk mengenyahkan kemalasan. Demi cinta saya untuk Abel, juga Adam kini. Juga cinta untuk suami, yang darinya saya bisa punya dua anak mengagumkan. Jadi, apa rahasia saya untuk sukses menyusui? Tak ada. Saya hanya punya cinta yang meluap-luap. Itu saja.

EPILOG :

Ternyata energi itu tetap ada, bukan? Semoga setelah ini para ibu akan kembali terpompa semangatnya, yang dengan semangat itu mampu mengalirkan kembali ASI (yang katanya) hanya tersendat-sendat.  Ketahuilah bahwa yang betul-betul tidak bisa menyusui dikarenakan kelainan genetik/hormonal hanya sekitar 1% saja, bahkan kurang dari itu.  Semoga setelah membaca, para bapak akan bersemangat untuk mendukung dan melindungi istrinya, ibu dari anaknya agar terjaga pemberian ASInya.  Dan juga buat para ibu dan ibu mertua, sang nenek dengan cucu baru, sadar dan bahagia, bahwa demi kualitas keturunannya, maka sang putri rela bersusah payah.  Karena itu perlu diberi semangat dan penguatan mental.

NB. Boleh tengok tulisan terkait di sini

28 thoughts on “Kisah Seorang Dokter dan Perjuangan ASInya

    • waduh, saya ditodong mbak Tin cerita ASI. Boleh percaya boleh tidak, tapi sebaiknya percaya saja, yang jelas kelima anak saya ASIX semua, dan 3 diantaranya ASI 2 tahun. Kalau mau kisahnya, ya mesti indent dulu karena masih mau ngerjakan beberapa tulisan lain😀

  1. Tanya dooong bu dokter.. Anak saya sebentar lagi umurnya 6 bulan.. bakalan MPASI deh.. Nah, sebaiknya setelah 6 bulan ke atas itu susunya tetep ASI saja, atau boleh ikut dibantu juga dengan susu formula ?? Terima kasih sebelumnya…

  2. bu… pernah dengar tentang “kibulansusu”… yg katanya setelah dua tahun, selepas dari ASI, ggak perlu lagi minum susu apapun…. anak sapi aja kalau udah besar nggak mau minum susu sapi, keenapa manusia disuruh minum susu sapi….. *pernah baca begitu*

    • tidak benar info tersebut, pak. Kecuali bagi yang alergi terhadap laktosa (protein susu). Ada pun menyamakan manusia dengan sapi (“anak sapi saja kalau sudah besar makan rumput”), tidak bisa diterima juga, kan. Rasulullah juga di masa tuanya masih minum susu, dan susu merupakan salah satu minuman favorit beliau. Sapi diciptakan ALlah selain untuk daging dan tenaganya, juga untuk diperah susunya. Di surga kelak (insya Allah), akan kita jumpai pula sungai susu! Subhanallah!!

  3. salut… dulu saya tidak mampu memberi ASI pada baby karena saat itu koass IGD yg harus 7x24jam tdk boleh pulang. tekanan kondisi membuat ASI tdk keluar ditambah pesimisme semakin buat prod. hilang sama sekali. semoga nanti bisa menyusui full 2 thn utk putra kedua…

    • Insya Allah….semoga dimudahkan. Memang sekarang anak pertama sudah usia berapa? Dulu anak pertama saya juga lahir pas koass, tapi alhamdulillahnya, bagian2 besar (obgin – bedah) yang mengharuskan jaga ‘intern’ (istilah utk jaga 2 pekan tidak pulang), sudah saya jalani pas hamil. Jadi tinggal bagian kecil, yang kalau pun jaga hanya sampai jam 9 malam. Ada 1 stase di luar kota, maka saya bawa pengasuh dan suami (baru lulus dr.), carikan rumah kos. Jadi saya pulangnya tidak ke asrama RS, tapi ke kos-kosan…:-).

  4. Ping-balik: Kenapa gagal/menyerah ng-ASI? « Blognya Bunda Ze

  5. Alhamdulilah dok,… tepat bgt saya baca ini bu dokter, tatkala semangat pompa saya sedang menurun. baby saya dok udh usia 16 bulan, masih asi gak mau di kasih sufor sedangkan ASIP saya hanya 100 ml (sebelumnya bisa 400 ml) karena sudah tidak rutin pumping nya dok. gmana ya dok, apa perlu ke klinik laktasi? atau minum vit dan makan sayur dan buahnya di tambah? saya kepikiran malah jadi tambah gak keluar ASIP. katanya kan kalo pumping juga harus kondisi relaks, gak stress (terutama kerjaan). mohon sarannya dok,..
    makasih ya buuu…

    • Alhamdulillah, bayi bu Lia cerdas juga. Ia tidak mau sufor dan hanya mau ASI. Tidak perlu cemas, karena di usia 16 bulan ini tentu makanan dan minuman yang dikonsumsi bayi sudah sangat bervariasi, mendekati orang dewasa, bukan? Sehingga tak perlu khawatir bayi akan kekurangan nutrisi. Nah, setelah ibunya agak tenang, baru mikir produksi ASI. Saya anjurkan bu Lia mengonsumsi suplemen, baik susu, multivitamin maupun suplemen khusus untuk memperbanyak ASI (biasanya yang berbahan dasar daun katuk). Jadwalkan memberi ASI di saat perut bayi kosong sehingga hisapan bayi akan kuat. Selamat meneruskan ASI hingga 2 tahun,bu Lia.

  6. Subhanallah.. Terharuuuu..!
    Sedang cari cerita2 menggugah untuk teman biar tetap semangat ngasi ASIX, eh.. Nemu blog dokter. Senangnya..
    Saya putri H. Nurjaya dari Rangkasbitung, masih ingat Dok?🙂

    • Masya Allah…..tentu masih ingat. Mekipun kalau ketemu di jalan mungkin lupa wajahnya.Maklumlah, dulu waktu saya sering ng titip anak di Rangkas kan masih kecil, ya.
      Sekarang dinasnya dimana?
      Anak saya yg dulu sering dititip ke ibu juga sedang persiapan UKDI

  7. Saya ingn skli asi eklsf utk putr sy tp suami dan klrga tdk mndkung mrka blg susu sy sdkit nnti gk knyng lalu d blikan sufor plg mhl ktne bgus kndngn dha ny bkin pnter…sy rgu utk asi sy aplg bdne sy ktne tmbh krus ngsih asi…Gmn y bu dktr Mmprjuangkn asi utk ptri sy yg notaben ny klrga tdk mndkung

    • Alhamdulillah masih berkeinginan untuk ASI Eksklusif. Tetap semangat ya. Langkah pertama adalah mencari sekutu yg kompak. Paling baik kalau suami sendiri. Atau seorang profesional, misalnya tenaga kesehatan yg dipercaya atau konselor laktasi. Tapi kalau tidak ada ya tetap semangat utk berjuang sendiri. Terima saja kalau keluarga membelikan sufor mahal. Tapi, prioritas pertama biarkan bayi menyedot ASI sampai mentok baru kemudian sufor. Dengan rangsang hisap terus menerus, ASI akan keluar deras in syaa Allah. Kedua, jangan tunjukkan muka panik dan tampak putus asa. Saat menyusui bayi menyingkirlah ke kamar. Kalau perlu dikunci. Sehingga kegiatan menyusui bisa berlangsung tanpa intervensi. Ketiga, konsumsi suplemen multivitamin sehingga fisik tampak bugar. Jugs konsumsi booster ASI. Berkonsultasilah dengan dokter atau bidan untuk mendapatkan booster ASI yang bagus. Salam ASIX!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s