Archive | Desember 2012

Ini Dia….! Tempat-Tempat Dimana Orang Tidak Bisa Merokok Seenaknya

Kawasan tanpa rokok menurut Undang-Undang no 36 tahun 2009 tentang Kesehatan:

PASAL 115

  1. FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN
  2. TEMPAT PROSES BELAJAR MENAGAJAR
  3. TEMPAT ANAK-ANAK BERMAIN
  4. TEMPAT IBADAH
  5. ANGKUTAN UMUM
  6. TEMPAT KERJA
  7. TEMPAT FASILITAS UMUM DAN TEMPAT LAIN YANG DITETAPKAN

PASAL 199 AYAT (2)

SETIAP ORANG YANG DENGAN SENGAJA MELANGGAR KAWASAN TANPA ROKOK SEBAGAIMANA DIMAKSUD DALAM PASAL 115, DIPIDANA DENDA PALING BANYAK RP 50.000.000,00 (LIMA PULUH JUTA RUPIAH)

Undang-undangnya jelas, sanksinya juga jelas.  Tapi penerapannya masih melempem.  Di sebuah pasar grosir yang menjadi proyek percontohan area belanja tanpa rokok, jelas-jelas pemilik toko dan pengunjungnya merokok! Di dalam resto di sebuah mal, para pengunjung kebal kebul.  Tatkala saya protes kepada petugas resto, mereka pun ketakutan untuk memperingatkan para perokok tersebut.  Demikian juga di restorasi sebuah kereta eksekutif, ternyata malah dijadikan tempat merokok para penumpang yang sudah kebelet! Protes kepada petugas restorasi pun percuma karena mereka tidak berani menegur.  Dalihnya, “memang begitulah para penumpang”. Padahal jelas-jelas tercantum di majalah KA bahwa peningkatan pelayanan KA saat ini salah satunya adalah berupa tindakan tegas dan denda bagi para perokok di dalam kereta.

Kalau sudah begini, mau tak mau kita sendiri yang harus protes! Siapa lagi yang bertanggungjawab terhadaap kesehatan kita kalau bukan diri sendiri.  Ajarkan anak sedini mungkin untuk tidak menyukai asap rokok dan memrotes kalau ada orang dewasa merokok di dekatnya.

Tulisan ini sebagai bentuk kemirisan hati tatkala melihat seorang istri membelikan rokok untuk suaminya!

 

RT”@YLKI_ID: telp call center Dinas Pariwisata jk temukan org mrokok di hotel & restauran: 021-5263921…sanksinya:… http://fb.me/6AzWU9pdW

Penghargaan untuk Para Ibu! Hak Menyusui pun Dijamin Undang-Undang

UNDANG-UNDANG

REPUBLIK  INDONESIA

NOMOR 36 TAHUN 2009

TENTANG

KESEHATAN

PASAL 126

(1) Upaya kesehatan ibu harus ditujukan untuk menjaga kesehatan ibu sehingga mampu melahirkan generasi yang sehat

dan berkualitas serta mengurangi angka kematian ibu.

(2) Upaya kesehatan ibu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi upaya promotif, preventif, kuratif, dan

rehabilitatif

(3) Pemerintah menjamin ketersediaan tenaga, fasilitas, alat, dan obat dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan ibu

secara aman, bermutu, dan terjangkau.

PASAL 128

(1) Setiap bayi berhak mendapatkan air susu ibu eksklusif sejak dilahirkan sampai 6 (enam) bulan, kecuali atas indikasi

medis.

(2) Selama pemberian air susu ibu, pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara

penuh dengan penyediaan waktu dan  fasilitas khusus.

(3) Penyediaan fasilitas khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diadakan di tempat kerja dan tempat sarana umum.

PASAL 129

(1) Pemerintah bertanggung jawab menetapkan kebijakan dalam rangka menjamin hak bayi untuk mendapatkan air susu

secara eksklusif.

(2) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah

PASAL 200

Setiap orang yang dengan sengaja menghalangi program pemberian air susu ibu eksklusif sebagaimana dimaksud dalam pasal 128 ayat (2), dipidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah)

Penjelasan:

Pasal 128  ayat (1) : yang dimaksud dengan “pemberian air susu ibu eksklusif” dalam ketentuan  ini adalah pemberian hanya air susu ibu selama 6 bulan dan dilanjutkan sampai dengan 2 (dua) tahun dengan memberikan makanan pendamping ASI (MP-ASI) sebagai tambahan makanan sesuai dengan kebutuhan bayi.

Yang dimaksud dengan “indikasi medis” dalam ketentuan ini adalah kondisi kesehatan ibu yang tidak memungkinkan memberikan air susu ibu berdasarkan indikasi medis yang telah ditetapkan oleh tenaga medis.

Sehingga….. tidak memberikan ASI eksklusif bisa dikategorikan melanggar hak bayi dan dengan demikian melanggar undang-undang!

Wahai kaumku, Selamat hari ibu!

Kisah Seorang Dokter dan Perjuangan ASInya

PROLOG :

Tulisan dibawah ini saya kutip dari http://kesehatan.kompasiana.com/ibu-dan-anak/2012/12/14/asi-dan-energi-cinta-yang-meluap-luap-516650.html.  Ditulis oleh seorang SpOG muda yang menimba ilmu di tempat yang sama dengan saya.  Meskipun berbeda jarak bilangan tahun yang cukup jauh, namun ternyata energi yang menggerakkan tetap sama.  Silakan menyusuri kalimat demi kalimatnya. Semoga mendapatkan limpahan energi yang semakin meluap…..

ASI dan Energi Cinta yang Meluap-luap

Niken A. Zafrullah, dokter kandungan, ibu 2 anak

Sudah banyak orang tahu, ASI adalah makanan terbaik untuk bayi. Banyak pula yang paham, ASI tak tergantikan oleh susu formula termahal manapun. Banyak yang bertekad untuk menyusui bayinya secara eksklusif, atau bahkan sampai dua tahun penuh seperti anjuran kitab suci. Pun tak perlu pengesahan dari Komnas HAM maupun Komnas Perlindungan Anak untuk memahami bahwa ASI adalah hak bayi, dan kewajiban ibu untuk memberikan. Namun, tak sedikit yang kecewa karena gagal untuk menggenapkan penyususan hingga 6 bulan, lupakan target 2 tahun penuh itu. Banyak di antara wanita, dan suaminya, yang mengeluhkan berbagai kendala, sehingga tujuan mulia penyusuan harus terhenti di tengah jalan. Diiringi isak tangis dan perasaan teriris, banyak pasangan yang terpaksa membuka kaleng, membuatkan susu formula lalu memberikannya pada buah hati mereka.

Perkenalkan, saya seorang dokter kandungan, ibu 2 orang anak. Di mata beberapa sahabat, saya dipandang ‘sukses’ menyusui. Sebagai ibu bekerja, saya berhasil menyusui Abel, anak pertama saya, sampai 2 tahun penuh, termasuk di dalamnya tetap menyusui Abel saat dia berusia 18 bulan dan saya dinyatakan hamil lagi. Kemudian saya juga menyusui Adam, anak kedua, sampai sekarang ia berusia 11 bulan. Di samping itu, saya menjadi ibu donor ASI bagi 6 bayi lainnya.

Benarkah saya ‘sukses’? Anda yang menilai. Banyak rekan yang ingin tahu apa rahasia sukses saya. Tak terhitung yang datang kepada saya mengeluhkan berbagai halangan dalam proses penyusuan, dan ingin dicarikan solusi. Tak sedikit yang menangis dan ‘mutung’ menghadapi perjuangan dalam menyusui. Ya, meskipun semua orang tahu menyusui adalah hal normal dan natural, hanya mereka yang masuk dan ikut berproseslah yang tahu bahwa menyusui adalah sebuah perjuangan. Perjuangan yang menguras keringat, darah dan airmata.

Keringat? Ya, karena memposisikan bayi pertama kali untuk bisa menyusu efektif itu tak jarang sampai berkeringat. Menghadapi situasi ‘bingung puting’, keringat menetes tanpa segan-segan. Memompa ASI saat ibu bekerja itu memerlukan usaha yang tak enteng. Menyusui itu berkorban keringat. Darah? Tak percaya bahwa menyusui itu meneteskan darah? Tanyakan pada mereka yang merasakan putingnya lecet. Nyerinya tak terkira. Wahai para ayah, pernahkhh Anda merasakan lecet di lutut karena jatuh menggores aspal? Hanya lecet saja, tidak sampai luka. Perih kan? Nah, bayangkan lecet itu terjadi di puting payudara ibu menyusui dengan saraf sensoris yang 100 kali lipat dari sensoris lutut, belum tentu Anda sanggup menanggung. Lalu jika lecet itu tak berkesudahan, disebabkan posisi dan pelekatan mulut bayi ke payudara ibu yang tak kunjung diperbaiki, maka lecet itu akan mengerung, membentuk ulkus terbuka dengan darah yang tampak nyata. Menyusui itu membutuhkan pengorbanan darah nyata yang mengalir. Ngeri? Tak hanya ngeri, juga nyeri. Karena itulah menyusui juga menguras airmata. Meski telah menguras keringat dan berdarah-darah, ibu menyusui juga harus menyaksikan bayinya masih terus rewel meski telah menyusu terus-menerus. Keadaan yang membuat ibu mertua dan suami atau bahkan tetangga meragukan ‘keabsahan’ ASI untuk bayi. Tudingan ‘ASI-mu tak cukup’ atau ‘ASI-mu tak berkualitas’ yang kerap datang, disertai jerit tangis buah hati, tak urung menggoyahkan pertahanan ibu yang telah bertekad bulat sekalipun untuk menyusui. Bimbang, itu yang terasa. Airmata, itu yang mengalir.

Semua yang saya sebut di atas, pernah saya jalani. Meski saat hamil saya sudah mencari tahu seluk-beluk ASI dan laktasi, sayapun pernah di titik terendah sebagai ibu baru dalam kubangan keringat, darah dan air mata. Ironisnya, mental saya sampai jatuh oleh kata-kata orang yang harusnya tidak saya hiraukan. Dia, asisten yang saya bayar untuk membantu mengasuh anak saya kelak saya bekerja. Seorang asisten yang hanya lulusan SD. Dia berkata, “ Adek Abel nangis terus, Bu. ASI Ibu kurang. Majikan-majikan saya sebelum ini pakai susu yang mahal-mahal, anaknya sehat-sehat semua lho, Bu.” Dengan kondisi sebagai ibu baru yang kurang tidur, menderita puting lecet dan mendengar anaknya menangis tak terputus, tak diragukan lagi, airmata sayapun berderai-derai.

Tapi lihatlah saya kini, bekerja sebagi dokter kandungan. Jam kerja relatif lebih panjang daripada pekerja kantoran, disertai panggilan-panggilan mendadak karena pasien melahirkan. Jam memompa ASI yang tak jarang baru 6 jam kemudian terulang, tak tunduk pada ketentuan 2 – 3 jam sekali ASI harus dikeluarkan, karena memenuhi jadwal operasi dan praktik di polikliniik kebidanan dan kandungan. Belum lagi beban stres pekerjaan yang tak jarang membuat ASI hanya malu-malu menetes saat diperah. Tapi Abel berhasil tak tersentuh susu formula (selain yang diam-diam diminumkan asisten saya itu, dari kaleng susu yang dibawakan rumah bersalin sebagai ‘sangu’) sampai 2 tahun. Adam juga ‘suci’ karena hanya minum ASI, selain MPASI rumahan yang saya buat.

Apa rahasia ‘sukses’ saya itu? Cinta. Hanya itu.

Okelah, saya akan membagi beberapa pemikiran yang melandasi tindakan saya untuk menyusui. Yang pertama, adalah pemahaman bahwa ASI yang terbaik. Dalam pengetahuan saya sebagai dokter, ASI tak tergantikan oleh apapun. Sebagai dokter kandungan yang saat itu sedang cuti melahirkan, saya tahu bagaimana kesibukan pekerjaan saya ‘mengancam’ kelangsungan proses menyusui saya. Sebagai seorang adik, saya bergidik menyaksikan kakak perempuan saya yang bekerja, jungkir balik memompa ASI bagi anaknya, yang kebetulan ASI-nya boleh dibilang ‘kejar tayang’. Padahal kakak saya adalah pekerja kantoran, yang ritme hidupnya teratur, jam kerjanya ‘9 to 5’, 5 hari kerja dalam seminggu. Sedangkan pekerjaan saya? Tapi, sebagai seorang ibu yang melihat bayi yang baru dilahirkannya, saya merasakan jatuh cinta yang sangat dalam.

Tak lulus saya sebagai peserta didik dokter spesialis kebidanan dan kandungan, bila otak saya tidak bisa diputar untuk menguasai keadaan. Dengan dukungan suami yang penuh cinta, keterpurukan dalam keringat, darah dan airmata yang berderai-derai saya hentikan dengan menghubungi konselor laktasi. Saya dibantu untuk memperbaiki pelekatan mulut Abel ke payudara saya. Beres, puting menyembuh, darah tak lagi mengucur, dan Abelpun menggendut dalam waktu sebulan bertambah 1800 gram dari berat lahir. Keyakinanpun memuncak, ASI saya bagus dan cukup. Sayapun menyusun strategi untuk mendepo ASI sebanyak-banyak sebelum mulai bekerja lagi. Tepat di pagi hari sebelum masuk kerja, saya berhasil mengumpulkan 120 botol ASI dalam kurun 5 minggu pasca kelahiran. Sayapun melenggang dengan tenang untuk kembali ke ‘pelukan’ pasien-pasien saya. Akan halnya asisten yang telah menjatuhkan mental saya? Akhirnya dia terbukti ‘telah lancung ke ujian’. Selain diam-diam meminumkan susu formula ke Abel, diapun terbukti mencuri, dan gemar bergunjing ke tetangga. Nah, Allah telah membukakan jalan bagi saya. Asisten itu saya berhentikan. Maaf, saya tidak butuh energi negatif macam itu.

Muluskah proses menyusui setelah itu? Telah saya katakan, menyusui itu perjuangan. Stres pekerjaan, jam kerja yang menyambung jam jaga dilanjutkan jam kerja lagi, sehingga harus meninggalkan rumah 36 jam nonstop, 2 kali seminggu, tidak saya sombongkan sebagai hal yang mudah. Ciutnya nyali saat melihat ASI segan menetes saat dipompa, kerap menghampiri. Beratnya mata saat harus tetap berjaga untuk tetap menyusui atau memompa ASI di tengah malam sungguh menggoda untuk menyudahi semuanya dan memilih tidur saja.

Tapi kemudian saya tanya diri sendiri. Untuk apa saya masih di rumah sakit, pukul 1 dini hari, dan dengan baju yang berlumuran darah orang lain? Untuk pasien. Bayi siapa yang saya lahirkan pukul 4 shubuh? Bayi orang lain. Lalu, pantaskah saya mengeluh malas memompa ASI demi bayi saya sendiri di rumah? If you’ve gone that far for someone else’s baby, how far would you go for your own baby? Pertanyaan itu membentuk repetisi di benak saya. Lalu saya pandangi Abel dalam tidurnya. Wajah yang damai itu. Wajah yang lucu itu. Wajah yang tak berdaya itu. Menimbulkan keinginan untuk melindunginya, memberinya yang terbaik, mengorbankan apapun deminya, termasuk jiwa raga saya. Belum lagi perasaan yang timbul saat menyusuinya. Perasaan dicintai secara absolut oleh seorang makhluk hidup di dunia ini. Perasaan yang membuat cinta yang telah ada ini semakin meluap-luap. Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya tersadar bahwa di dunia ini ada yang lebih daripada menjalani hidup sebagai dokter dan sebagai istri.

Adalah menjadi Ibu, membuat hidup saya sangat berarti karena dibutuhkan mutlak oleh manusia mini yang ternyata hidup dan punya masa depan. Melindunginya menimbulkan cinta. Mencintainya menimbulkan rela. Mencintainya membutuhkan media pengungkapan. Media itu adalah menyusui. Jika orang menyebutkan bahwa ASI adalah hak bayi, maka saya memandang menyusui adalah hak ibu. Ibu berhak untuk mengungkapkan cintanya yang meluap-luap. Ibu berhak merasakan bahwa dari organ terintimnya, yaitu payudara, bisa memuaskan anaknya, darah dagingnya. Ibu juga berhak merasakan adanya koneksi yang menghubungkan ia dengan bayinya meski tanpa ada kata terucap. Ibu berhak untuk mendapatkan pendengar absolut, yang setia mendengarkan dendangnya walaupun sumbang tak tentu nada. Ibu berhak untuk tetap dicium, apapun aroma yang menguar dari tubuhnya. Ibu berhak atas perasaan nyaman yang tak terlukiskan saat menyusui bayinya. Ibu juga berhak merasa yakin, bahwa saat ia bekerja, sang buah hati di rumah tetap merasakan ‘sari’ sang ibu, melalui ASI perah. Sayalah ibu itu. Saya berhak atas semua itu. Menyusui adalah hak saya.

Maka, timbullah energi untuk menguasai keadaan. Energi untuk menerobos segala halangan yang menghadang. Energi untuk membangunkan saya di malam hari. Energi untuk mengenyahkan kemalasan. Demi cinta saya untuk Abel, juga Adam kini. Juga cinta untuk suami, yang darinya saya bisa punya dua anak mengagumkan. Jadi, apa rahasia saya untuk sukses menyusui? Tak ada. Saya hanya punya cinta yang meluap-luap. Itu saja.

EPILOG :

Ternyata energi itu tetap ada, bukan? Semoga setelah ini para ibu akan kembali terpompa semangatnya, yang dengan semangat itu mampu mengalirkan kembali ASI (yang katanya) hanya tersendat-sendat.  Ketahuilah bahwa yang betul-betul tidak bisa menyusui dikarenakan kelainan genetik/hormonal hanya sekitar 1% saja, bahkan kurang dari itu.  Semoga setelah membaca, para bapak akan bersemangat untuk mendukung dan melindungi istrinya, ibu dari anaknya agar terjaga pemberian ASInya.  Dan juga buat para ibu dan ibu mertua, sang nenek dengan cucu baru, sadar dan bahagia, bahwa demi kualitas keturunannya, maka sang putri rela bersusah payah.  Karena itu perlu diberi semangat dan penguatan mental.

NB. Boleh tengok tulisan terkait di sini

Serial kanker Serviks (3) – Penyebab dan Pencegah

Disebabkan Virus ?

Dahulu, banyak teori dikemukakan dalam rangka mencari penyebab dari KLR, namun penemuan terakhir menyatakan bahwa  penyebab KLR dikaitkan dengan infeksi Virus Papilloma Manusia (Human Papilloma Virus = HPV).  Ini berdasarkan pada kenyataan bahwa  virus HPV ditemukan pada 99,7% penderita KLR.  Virus HPV sendiri ada bermacam-macam,sedangkan yang didakwa sebagai pemicu KLR adalah HPV tipe 16 dan 18.  Dua tipe HPV lagi, yaitu 6 dan 11, berkaitan dengan infeksi virus Condyloma Accuminata (jengger ayam)

 

penampakan virus HPV

penampakan virus HPV

Ternyata Bisa Dicegah

Saat ini, telah tersedia vaksin untuk mencegah infeksi HPV tipe tertentu (tipe yang mayoritas menjadi penyebab KLR).   Keefektifan vaksin ini sudah terbukti 100% untuk HPV penyebab KLR, khususnya tipe 16 dan tipe 18, meskipun saat ini masih terus dalam penelitian.  Ada lagi HPV tipe 6 dan 11 yang menyebabkan infeksi virus Condyloma Accuminata.  Nama virusnya cantik, tetapi akibatnya bikin bergidik, karena Condyloma Accuminata ini menimbulkan lesi di kelamin menyerupai jengger ayam!

Untuk mendapatkan vaksin ini bisa menghubungi rumah sakit/dokter kandungan/dokter umum terdekat. Ada 2 macam vaksin, yaitu vaksin bivalen (mencegah infeksi HPV tipe 16 dan 18) dan vaksin quadrivalen (mencegah infeksi HPV tipe 16, 18, 6, dan 11). Tentu saja, harga vaksin quadrivalen lebih mahal.

contoh vaksin bivalen

contoh vaksin bivalen

gambar 2 . contoh vaksin quadrivalen

Siapa saja yang bisa memanfaatkan vaksin ini? Seluruh wanita dalam rentang  usia 10-55 tahun.  Jadi, selain kepada ibu-ibu, vaksinasi ini juga bisa diberikan kepada remaja putri apabila sudah memenuhi batas usia minimal.  Tidak harus sudah menikah.  Vaksin diberikan sebanyak 3 kali dengan interval 1 bulan dan 6 bulan.  Misalnya, bulan Januari vaksinasi ke-1, maka vaksinasi ke-2 nya di bulan Februari, dan vaksinasi ke-3 (terakhir) di bulan Agustus.

Pemberian kepada wanita yang sudah menikah disyaratkan dalam kondisi bebas infeksi HPV, yang dibuktikan dengan pemeriksaan Pap Smir normal, serta tidak dalam kondisi hamil. Namun vaksinasi pada masa menyusui diperbolehkan.  Sayangnya, harga vaksin ini masih tergolong mahal, yakni berkisar antara 700 ribu sampai 1 juta perkali suntikan (tergantung merk/jenis).  Namun kendala harga dapat diatasi dengan menabung atau sistim arisan, misalnya.  Bukannya kesehatan memang bukan segalanya, tapi tanpa kesehatan segalanya bukan apa-apa? (nin)

T.A.M.A.T.

Serial Kanker Serviks (2) – Deteksi Dini, Kapan dan Siapa?

Saat Allah menciptakan penyakit, maka Allah ciptakan pula obatnya.   Demikian pula pada penyakit ganas seperti kanker serviks ini, Allah berikan ilham pada manusia untuk menemukan cara deteksi dininya.  Kanker serviks termasuk penyakit kanker yang deteksi dini sangat berperan penting.

cervix.www.hopkins

gambar menunjukkan perbedaan antara mulut rahim normal, dan yang terkena kanker.  Diunduh dari http://www.hopkins.com

 

Ada 2 macam deteksi dini yang saat ini dikenal.

Pap Smir

Yang pertama yakni deteksi dini untuk KLR yang  telah lama ada, yaitu pemeriksaan pap smir (Pap Smear). Pemeriksaan ini ditemukan oleh George Papaniculou pada 1950 dan memang diindikasikan untuk pemeriksaan massal.    Pemeriksaan yang mudah dan murah ini telah terbukti menurunkan kejadian KLR.  Pap smir dianjurkan dikerjakan setahun sekali oleh wanita yang sudah menikah, sampai usia menopause.  Kenapa untuk Pap Smir diharuskan sudah menikah? Pertama, pemeriksaan dilakukan dengan cara membuka vagina.  Kedua, amat sangat jarang, KLR diderita oleh mereka yang belum pernah melakukan hubungan intim.  Meskipun pada saat itu tidak ada keluhan sama sekali, tidak berarti Pap Smir menjadi percuma, karena KLR stadium dini memang tidak memberikan keluhan dan secara kasat mata penampilan leher rahim juga tampak normal-normal saja.

cytobrush.www.pathologysciences.com

Pap Smir juga bisa dikerjakan dimana saja, misalnya di ruang praktek dokter/bidan, klinik, rumah sakit, bahkan pada pemeriksaan massal bisa dilakukan di rumah-rumah, atau gedung sekolah.  Harganya pun terjangkau.  Hanya saja pemeriksaan ini membutuhkan fasilitas laboratorium sitopatologi.  Di luar negeri hal ini bisa diatasi dengan pengiriman sediaan lewat jasa pos.  Sayangnya di Indonesia belum terbiasa dengan cara ini. Gambar menunjukkan alat untuk mengambil sediaan sel-sel mulut rahim, yaitu spatula Ayre (atas) dan Cytobrush (bawah).  Gambar diunduh dari http://www.pathologysciences.com.

IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat)

Saat ini juga ada deteksi dini yang lebih sederhana dan lebih cepat diketahui hasilnya, yaitu pemeriksaan IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat).  Sama seperti Pap Smir, pemeriksaan ini dapat dilakukan dimana saja, asalkan tersedia larutan asam asetat.  Kelebihannya, IVA tidak memerlukan fasilitas laboratorium patologi dan hasil pemeriksaan dapat diketahui saat itu juga.  Namun kelemahannya, hasil yang diperoleh dari IVA sangat kasar.  Pada IVA hanya dapat dilihat ada tidaknya kelainan, tanpa bisa dijelaskan jenis kelainannya.  Sedangkan hasil Pap Smir meskipun makan waktu beberapa hari namun ada deskripsi dari apa yang ditemukan.  Soal harga, tentu saja biaya IVA jauh lebih murah dibandingkan Pap Smir

Sayangnya, meskipun deteksi dini dengan pap smir sudah terbukti efektif dalam menurunkan angka kesakitan akibat KLR yang dengan sendirinya menurunkan angka kematian,  tidak sedikit wanita yang enggan untuk melakukannya.  Alasannya bermacam-macam, dari masalah sibuk, tidak sempat sampai ke masalah “takut” kalau nanti ditemukan “apa-apa”.

Perlu diketahui bahwa pemeriksaan ini sama sekali tidak menimbulkan nyeri.   Syaratnya pun mudah.  Asalkan tidak sedang haid, hamil dan tidak sedang menggunakan obat-obatan yang dimasukkan lewat vagina.  Masih ditambah lagi dengan sebuah anjuran untuk tidak melakukan hubungan suami istri pada 24 jam sebelumnya.

Bagaimana interpretasi hasil Pap smear?

Klasifikasi Hasil Pap Smear dan (klasifikasi WHO)

  • Kelas I             : jinak (WHO : normal)
  • Kelas II            : sel abnormal minimal, termasuk jinak (WHO : atipik skuamosa)
  • Kelas III           : sel mencurigakan ganas, tapi belum diagnostik kanker (WHO : displasia ringan/displasia sedang)
  • Kelas IV           : sel sangat mencurigakan ganas (WHO : displasia berat/karsinoma in situ)
  • Kelas V            : sel diagnostik kanker (WHO : karsinoma invasif/adenokarsinoma)

Di samping itu terkadang dijabarkan pula hasil temuan lain, misalnya adanya kuman-kuman dan sel lekosit (darah putih).

Bagaimana interpretasi pemeriksaan IVA?

Hasil pemeriksaan IVA cuma dua, yaitu positif ada kelainan, atau negatif.  Dikatakan ada kelainan kalau pada pengolesan dengan asam asetat pada mulut rahim tampak perubahan warna putih yang khas.   (nin)

masih bersambung ……

 

Serial Kanker Serviks (1) – Perkenalan Pertama

Kanker Serviks atau Kanker Leher Rahim (KLR) adalah kanker yang menyerang area mulut/leher rahim seorang wanita . Kanker ini merupakan jenis keganasan yang terbanyak diderita oleh kaum wanita, baik di Indonesia, maupun di dunia.  Tertinggi angka kesakitannya, tertinggi pula angka kematiannya. Namun selama ini masih saja ada yang rancu membedakan antara serviks (mulut rahim) dengan rahim.  Kanker yang banyak memakan korban ini justru menyerang mulut rahim, yang hanya seluas kira2 2 x 2 cm saja.

cervix.www.services.epnet.comjpg

Penyebab yang melatarbelakangi kondisi tersebut adalah terlambatnya para penderita mendatangi dokter, sehingga saat ditemukan pertama kali kanker sudah dalam stadium lanjut.    Adapun penyebab kenapa sampai terlambat berobat adalah karena kanker ini pada stadium awal tidak menunjukkan gejala yang berarti.   Para penderita umumnya  tidak merasakan gejala apa pun padahal dirinya sudah tersesrang kanker tersebut .

Pada tahap dini, pemeriksaan dengan mata telanjang pun tidak menemukan kelainan apa pun, alias masih tampak normal-normal saja.  Disinilah pentingnya, deteksi dini!  KLR yang ditemukan dalam tahap dini, angka kesembuhannya bisa mencapai 90%. Dengan deteksi dini, kelainan yang masih dalam tingkat perubahan sifat sel sudah bisa diketahui untuk kemudian ditindaklanjuti dengan terapi.

Siapa yang berisiko untuk terserang kanker serviks? Ingat berisiko bukan berarti pasti kena! Namun risikonya lebih tinggi dibandingkan wanita lain.

Saat ini hanya ada 3 faktor risiko utama yang memudahkan seseorang terserang KLR, yaitu :

  1. Kontak seksual pada usia yang sangat muda
  2. Multipartner seksual
  3. (lagi-lagi) Merokok (aktif dan pasif)

Perokok pasif3.stopsmokingway.com

Dan ada beberapa risiko yang menyertai penderita kanker KLR yakni :

  1. Sering melahirkan
  2. Faktor nutrisi
  3. Penyakit hubungan seksual, terutama Herpes dan HIV
  4. Penggunaan kontrasepsi hormonal yang lama

Didapatkan juga bahwa para wanita yang suaminya dikhitan angka kejadian KLR lebih rendah daripada yang suaminya tidak dikhitan.  Hal ini dikarenakan pada pria yang dikhitan akan lebih jarang terinfeksi dengan HPV. (nin)

bersambung

Falsafah Warna-Warna

Warna selalu ada dalam hidup kita.  Sadar atau tidak, kita pun terpengaruh oleh warna itu. Berawal dari rangsangan visual, kemudian dipersepsikan oleh otak, mempengaruhi hati dan jiwa, dan pada akhirnya bisa berdampak ke fisik.

Menurut pakar komunikasi visual, ada tiga kategori warna, yakni

1. Warna hangat : merah, merah muda, jingga, ungu, emas. Warna ini berefek meningkatkan kegairahan, menstimulasi

semangat.

2. Warna dingin : hijau, pirus, perak. Warna ini menenangkan serta membawa rasa sejuk.  Orang bertubuh gemuk, akan tampak lebih kurus jika mengenakan pakaian dengan warna dingin

3. Warna netral : coklat, gading, abu-abu, hitam

Daniar Wikan (http://daniarwikan.deviantart.com/journal/) mengistilahkan bahwa warna adalah bahasa yang disembunyikan.  Penjelasannya begini :

1. Warna bisa mewakili usia teretentu  : warna remaja cenderung cerah dan bersaturasi tinggi

2. Warna bisa mewakili suasana hati: orang berduka cenderung mengenakan pakaian hitam/gelap

3. Warna bisa menunjukkan kepribadian: merah menunjukkan berani, kuning percaya diri

4. Warna menunjukkan status sosial tertentu : sosek tinggi warna keemasan dan berkilau

5. Warna menunjukkan jenis  kelamin : ada warna maskulin (biru tua) dan warna feminin (pink)

6. Warna sebagai penanda waktu : di ruangan dgn warna panas waktu rasanya lebih cepat berlalu sehingga suasan kerja terburu-buru

Silakan diperiksa dan diterapkan sendiri, apakah benar begitu??

Sedangkan Al Qur’an punya konsep sendiri tentang warna.

Merah  : “Dan di antara gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang bermacam-macamwarnanya, dan ada (pula) yang hitam pekat”  (QS 35:27)

Putih menunjukkan sedih dan duka yang mendalam : “Aduhai duka citaku terhadap Yusuf,” dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan (QS 12:84)

Namun putih juga menunjukkan bersih dan berseri : ” Pada hari yang pada waktu itu ada muka yang menjadi putih berseri…”  “Adapun orang-orang yang menjadi putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (Surga)…) [QS 3:106-107)

Hijau dipakai untuk melambangkan surga dan kesuburan : “Dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelas emas dan memakai pakaian hijau dari sutra” (QS 18:31) atau “Apakah kamu tidak melihat, bahwasanya Allah menurunkan air dari langit lalu jadilah bumi itu hijau?”  (QS 22:63) atau “Yaitu Tuhan yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau …(QS 36:80)

Kuning  menunjukkan warna hewan (sapi) tapi juga untuk tumbuhan yang layu :” Musa menjawab:”Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning …”(QS 2:69) atau  ” Seolah-olah ia iringan unta yang kuning” (QS 77:33), atau ” Kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya menjadi kuning dan hancur ” (QS 57:20)

Hitam, menujukkan kelam, muram dan gelap :” Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap ALlah mukanya akan menjadi hitam” (39:60) atau “Dan dalam naungan asap yang hitam…” ( 56:43)

 

Bahan dan inspirasi :  Tarbawi no 285/XIV

Gambar : pixabay.com