Hari Pahlawan vs Tanggal Cantik

10 – 11-12, memang kombinasi angka yang cantik dan unik.  Di satu pihak, angka 10 dan 11 yang merefleksikan tanggal 10 November yang kita kenal sebagai “Hari Pahlawan”.  Namun di tahun 2012 ini kombinasinya jadi “cantik”.  Sebagaimana tahun – tahun sebelumnya, kombinasi tanggal cantik diburu-buru sebagai tanggal momen bersejarah dan berharga, misalnya pernikahan, bahkan kelahiran.

Di rumah sakit, tidak sedikit para calon orang tua yang membuat request khusus agar anaknya bisa lahir di tanggal unik ini.  Tentu saja kelahirannya dengan jalan operasi.  Karena kelahiran normal sampai sekarang tetap saja tidak dapat diprediksi kapan terjadinya, hatta dilakukan induksi persalinan.  Sedangkan yang sudah terjadwal dengan operasi saja masih bisa meleset! Misalnya kalau tiba-tiba terjadi pecah ketuban atau kontraksi, sehingga mau tak mau jadwal operasi harus dimajukan.

Yang lebih heboh tentu adalah tanggal cantik yang dikaitkan dengan pernikahan.  Seperti halnya hari ini, ada 4 acara pernikahan yang harus kami hadiri sekaligus.  Padahal pekerjaan rutin tetap berlangsung seperti biasa alias tidak libur.  Untuk itu perlu disiasati dari segi rute dan waktu.  Pernikahan mana yang harus dikunjungi terlebih dahulu, dan mana yang belakangan.  Ini bukan soal undangan di gedung mewah atau rumah di gang sempit, melainkan semata-mata soal rute dan kemacetan lalu lintas.

Seorang sepupu yang baru saja menjadi kakek, alias baru mendapatkan anugerah berupa cucu bercerita, bahwa saat menikahkan anaknya yang jatuh pas di tanggal cantik, ternyata justru para sahabatnya tidak semuanya bisa hadir.  Bukan karena menghianati pertemanan, ini sekali lagi masalah teknis, yaitu karena kesulitan memenuhi undangan yang berjibun sementara lokasinya tersebar di seluruh Jakarta.  Tahu sendiri, melintasi rimba jalan raya di ibukota bukan sesuatu yang mudah alias membutuhkan perjuangan paripurna.  Apalagi pernikahan di gedung kebanyakan dibatasi hanya 2 jam.  Sulitnya lagi, 2 jam itu waktunya sama : jam 11 – 13 di siang hari atau jam 19 – 21 di malam hari.

“Uniknya lagi”, sambung sepupu saya itu.  ” Saya mengirimkan undangan untuk seorang kolega, namun saya pun menerima undangan mantu dari kolega tersebut”.  Saling mengundang di saat yang bersamaan semata-mata demi tanggal cantik.  tentu saja mereka tidak bisa saling hadir…..

Seorang paman yang sudah menjadi ‘orang yang dituakan’ juga menceritakan pengalaman uniknya.  Pada suatu hari, di tanggal cantik, ia menerima dua undangan untuk satu acara pernikahan. Rupanya baik dari pihak mempelai perempuan maupun mempelai laki sama-sama mengundang beliau.  Ada-ada saja….

Bagi tamu, memang lebih leluasa  kalau pernikahan itu diadakan di rumah, dimana jam undangan yang tertera sangat fleksibel, misalnya  jam 11 sampai selesai. Namun pengalaman menghadiri model pernikahan seperti ini adalah saat kita datang pas pengantinnya sedang istirahat, sholat maupun ganti baju.  Dan sampai dengan waktu pulang, kita tidak berjumpa dengan salah satu atau bahkan sepasang pengantin tersebut.  Memang tidak mungkin kan, seseorang dengan baju nikah dan dandanan ribet harus terus berdiri dan tersenyum selama 6 jam lebih!

Gedung-gedung yang disewakan untuk keperluan nikah pun laku keras di tanggal cantik. Salah seorang kemenakan bercerita bahwa ia memesan gedung untuk pernikahan dirinya yang diadakan pada 10-10-10 semenjak setahun sebelumnya! Nah, selama setahun itu pacaran dong? 🙂

Saya pun teringat saat sibuk mencari gedung untuk pernikahan kami dulu.  Karena boleh dibilang mendadak, maka gedung yang saya incar ternyata sudah penuh terbooking, bahkan di hari kerja! Namun setelah mata ini menyusuri kalender kegiatan yang terpampang di ruang sekretariat gedung tersebut, ada satu tanggal yang terjepit dalam keadaan kosong alias belum terbooking.  Sementara tanggal sesudah maupun sebelumnya sudah penuh.  Ternyata pas di hari sabtu, dua pekan ke depan.  Tanpa pikir  panjang, langsung saya pesan di tanggal misterius tersebut sekaligus bayar uang muka!  Acara pernikahan pun, Alhamdulillah berlangsung dengan khidmat dan lancar.  Baru setelah selesai resepsi, seorang kawan ayah menanyakan kepada beliau, kenapa kok berani mengadakan hajatan di tanggal 1 Suro!

Aah, terbukalah rahasia tanggal pernikahan kami yang semula saya anggap misterius itu.  Tanggal 1 Suro alias 1 Muharram dianggap tabu untuk bikin hajatan. Karena itulah, di tengah-tengah tanggal yang sudah penuh terbooking, ternyata hari Sabtu di tanggal 14 Agustus 1988 yang lalu itu bertepatan dengan 1 Muharram. Orang-orang tidak ada yang berani bikin hajatan.  Sungguh blessing in disguise buat kami.

Salah sendiri, siapa suruh percaya mistik!

NB.

1. Sebagai hari pahlawan, hari ini kemensos mengajurkan kita untuk mengheningkan cipta sejenak pada pukul 08.15 waktu setempat.

2. Selamat tahun baru, 1 Muharram 1434 H yang bertepatan dengan `15 November 2012.  Percayalah, Insya Allah tak akan ada hal buruk terjadi kalau menikah pada tanggal tersebut.  Wallahu a’lam

33 thoughts on “Hari Pahlawan vs Tanggal Cantik

  1. jadi banyak yang memilih sbg tanggal merit karena bulan ‘jawa’nya baik. coba klo pas suro nggak bakal juga diburu.
    kan orang2 kita masih percaya bulan baik dan bulan yg pantang?

    • nah, dulu saya milih tanggal yang ternyata 1 Suro itu awalnya gak sengaja, dan memang gak tau tentang per’tabu’ an itu. Kalau sekarang, Dzuhijjah itu bulan jawanya adalah bulan Besar. Bulan baik buat hajatan…begitulah, mbak Ina, gambaran di masyarakat kita

  2. Bulan depan 12.12.12 ya mbak Prita…
    hhhmmmm ngadain apa ya? hehehe
    Saya dulu nikah diundur 2 bulan, krn ngga mau berantem sama calon mertua, yo wess..nunggu sajalah…katanya bulan Safar ngga boleh buat nikahan juga ya?

    • 12-12-12 jatuh di hari kerja, teh. Ooo…gitu sejarahnya ya, teh. Kalau kata mertua saya bulan safar boleh mengadakan pernikahan. Aah, kalau menurut saya sih. bikin hajatan itu tergantung cuaca: musim hujan=banjir atau musim kemarau = panaaaassss

      • yang saya amati, keluarga di barat (eropa) cenderung membuat resepsi bersifat privat ya. Hanya keluarga dan sahabat yang sangat dekat. Sedangkan di Indonesia justru sebanyak mungkin yang diundang. Dan terselip juga harapan untuk “balik modal”, teh.

    • Duuh….berasa keren. Memang mudah mengingatnya, tahun baru Hijriyah. Dan semakin lama semakin jauh jaraknya dengan tahun masehinya, sampai nanti ketemu lagi dengan tanggal masehi tersebut. Tanggal 1 Suro, tabu untuk bikin hajatan (bukan hanya pernikahan), demikianlah menurut wong Jowo sing percoyo😛. Lihat saja di hari Kamis kemarin, meskipun long weekend, tapi tidak ada satu pun janur melambai pertanda hajatan. Memang yang demikian itu menyulitkan diri sendiri, ya…..

  3. Kepercayaan tabu nikah di bulan suro emang masih kuat mbak. Mertuaku sendiri dulu ga’ ngijinin aku nikah tanggal 1 suro. Padahal enak lho nikah dibulan suro, bahan2 utk bikin hidangan lebih murah,,hi,,hi,,*dasar otak bakul*😀

  4. Barakallah Bu Dokter…
    Cerita tanggal nikahnya Ibu unik banget hehe….

    Dan Alhamdulillah bisa ketemu di sini setelah MP digusur… (karena kemarin sabtu menemani Nurul kontrol ke Ibu, jadi dapet alamat blognya ibu dech :-))

      • Iya Bu Ukhuwahkita😀

        Iya setuju Bu Dokter, harus terus diberikan banyak kisah seperti yang Ibu alami. Ternyata masyarakat kita lebih banyak enggak rasionalnya dan lebih banyak ketakutan karena “kata orang tua dulu harus begini dan begitu”. Apalagi soal tanggal, hari baik dan sebagainya…

        Wah kira-kira sampai akhir tahun mungkin ya Bu MPnya masih bisa dipake, terutama untuk menyelamatkan file2…hehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s