Di Tengah Kepungan Mal dan Minimarket

2011, MINIMARKET di JAKARTA ada 1.868 buah (meningkat 5% dalam 3 tahun terakhir), sementara itu PASAR TRADISIONAL hanya 153 buah (stagnan dalam 3 tahun terakhir) [litbang kompas 2/1/12]

Sebuah kios tradisional di Duri maupun Pekanbaru.  Di sana sangat jarang terlihat minimarket AM/IM. Kalau pun ada, adalah waralaba lokal. Semoga bisa terus dipertahankan (koleksi pribadi)

@nafazprint : minimarket sdh kelewat berceceran dimana-dimana, harus pemerintah harus mengamalkan apa yang menjadi peraturan dan buang oknum pemerintahan yang gampang menyetujui dengan cara ilegal😦

@fightforfreedom : Ada fakta yang sungguh miris:

Di Jakarta ada 2162 minimarket tanpa ijin.
Di Bogor ada 400 minimarket tanpa ijin.
Di Bandung ada 70 persen minimarket tanpa ijin.
Di Surabaya hanya 6 dari 209 mini market yg telah memiliki ijin operasi.

Itu semua berdasarkan kondisi tahun 2011. Beritanya ada pada link masing2 kota tsb. Bisa jadi akan sama kondisinya di daerah – daerah lainnya di Indonesia.

Ini menjadi bukti kalau pemda setempat tidak sungguh – sungguh memberikan perlindungan kepada para pedagang tradisional, dalam menghadapi persaingan dg pasar modern dan minimarket yang kian menjamur.

Sungguh miris ya, mbak Prita.

Oiya, mbak Prita, kebetulan kami juga membahasnya dg hangat di blog saya yg berawal dari review novel HANUM.
Link: [Novel] HANUM Melawan Praktek Kanibalisme Pasar

Novel ini sungguh memberikan penyadaran dengan mengungkap kondisi terkini tentang praktek kanibalisme pasar. Di negeri ini memang aneh ya, mbak Prita… program – program ekonominya tidak menyentuh azas ekonomi kerakyatan spt yg tertuang dalam UUD 1945 pasal 33.

Sampai saat ini di tingkat nasional, terdapat 28 ritel modern utama menguasai 31% pangsa pasar ritel dgn omzet Rp 70,5 trilyun. Kalo di rata2 satu ritel modern menikmati Rp 2,5 trilyun omzet/tahun. Anehnya, porsi terbesar keuntungan tersebut hanya dinikmati oleh 10 ritel modern inti seperti Indomaret, Alfamart, Supermarket Hero, Carrefour, Superindo, Foodmart, Yogya, Ramayana, Hypermart Carrefour, Hypermart, Giant, LotteMart, dan Indogrosir. Kondisi ini jelas mengarah pada praktik monopoli atau oligopoli, yg bertentangan dgn semangat UU no. 5 th 1999 mengenai Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

Dari pihak Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) sudah sering minta kpd pemda2 untuk menghentikan izin pendirian minimarket tanpa batas karena sangat merugikan pengusaha mikro. Iya kalo izin.. kenyataannya banyak khan yg gak ada izinnya.

Menurut pemantauan APPSI, pertumbuhan minimarket pada satu titik lokasi otomatis mematikan minimal 20 warung masyarakat. Jika pendiriannya yg liar itu dibiarkan, kelangsungan hidup masyarakat pada strata paling bawah akan punah. Kematian 20 warung di sekitar minimarket, berarti jumlah jiwa anggota keluarga yang kehilangan sumber pendapatan lebih besar dibandingkan daya tampung satu minimarket.

Memang pada era globalisasi sekarang ini, semua kegiatan usaha diizinkan. Tentu saja perlu regulasi dan pengendalian yg baik di lapangan. Sehingga jika pertumbuhan minimarket dalam jumlah tertentu serta zonasi yg tepat, itu tidak akan mematikan usaha masyarakat warung rumahan.

Sastrawan A.A. Navis pernah menulis sebuah cerpen dg judul “Robohnya Surau Kami”, yg menceritakan ditinggalkannya surau sbg pusat peribadatan akibat keacuhan yg dilakukan oleh umatnya sendiri.
Kini, sudahkah kita pantas berkata “Robohnya pasar kami” atau “Robohnya warung kami” akibat kekurangpedulian kita semua?  Geram juga sih melihat praktek kanibalisme ekonomi di negeri ini.
Bayangkan, 1 mall mematikan sekitar 100 pedagang, dan 1 minimarket mematikan sekitar 20 pedagang warung / toko kelontong. Sementara yg menikmati profit yg luar biasa itu hanya segelintir pemodal. Kebanyakan franchise minimarket itu milik konglomerat. Dengan matinya usaha – usaha kecil maka makin melebarkan gap, yg kaya semakin kaya, yg miskin semakin miskin dan terkubur.

Ketika para pedagang di kampung – kampung atau di pasar – pasar tradisional itu gulung tikar, karena tidak kuat menyewa lapak yg seiring dg menurunnya omset, … untuk bisa tetap survive, kebanyakan mereka memilih untuk berjualan secara liar (di pinggir jalan) guna mendekatkan diri dg pembeli, yg tentunya beresiko terjadinya penggusuran oleh petugas tibum (ketertiban umum) dari dinas tata kota. Inilah mengapa pedagang kaki lima tumbuh subur di negeri ini. Nasib… ibaratnya di gang / di pasar mereka mati, di pinggir jalanpun mereka terlindas.

Ini baru dilihat dari satu sisi saja ya, mbak Prita, yaitu dari kacamata pertumbuhan ekonomi rakyat kecil. Belum kalo dilihat dari sisi perubahan budaya yg mengarah ke gaya hidup konsumerisme dan hedonisme yg tertawan oleh iming – iming diskon dan fasilitas – fasilitas kemudahan belanja (padahal sebenarnya menjerat).

@saya : betul, pak. UUD semua. Para pejabat itu dengan mudah disuap dengan beberapa lembar voucher belanja. Saya melihat sendiri bahwa IMB nya pun menggunakan IMB rumah tinggal, dimana seharusnya IMB Tempat Usaha. Kalau tak salah ingat, di Pekanbaru dan Duri jarang ada 2 minimarket itu ya. Demikian juga di Jerman/Belanda…tidak ada yang model minimarket seperti di kampung kita ini. Meskipun akibatnya, untuk beli ini itu (kebutuhan rumah tangga yang habis mendadak) jadi tidak mudah.

@jampang : di lingkungan tempat tinggal saya, mini market berjejer…. jadinya syaikhan lebih kenal mini market drpd warung tradisional

Alhamdulillah, pemprov DKI STOP bangun mal.  Pemberian ijin untuk membangun pusat perbelanjaan yang luasnya di atas 5.000 m2 dihentikan hingga tahun 2012.  Alasannya…sepi penjual dan pembeli.  Semoga ijin pembangunan MINI MARKET di kawasan pemukiman juga di STOP! (15 Juli 2011)

PT AMRT, sebagai perusahaan ritel terbesar di Indonesia membukukan kenaikan laba sebesar 40,21% di kuartal ketiga tahun ini.  Angkanya meningkat dari 226,34 M menjadi 317,36 M.  Pembukaan gerai baru tercapai 98,5% di tahun ini, yaitu 788 gerai dari target 800 gerai.  Total gerai yang sudah dibangun ada 6.585 gerai.  (republika, 29 Oktober 2012)

Di tengah ruwetnya mengatur dan menata lokalisasi pedagang kaki 5, terpampang kemegahan industri ritel.  Prediksi saya ada hubungan baik langsung maupun tidak langsung antara pertumbuhan PKL dan pertumbuhan minimarket.  Ditunggu perda yang bergigi tajam untuk mengatur pertumbuhan gerai-gerai baru!  Penataan munculnya gerai baru harus meliputi semua lini, semenjak dari pemberian ijin, pengecekan ijin bagi gerai yang sudah ada, sampai peraturan tata tertib pembentukan gerai.

4 thoughts on “Di Tengah Kepungan Mal dan Minimarket

  1. saya ngerasa banget bu, bapak dan ıbu saya dr dulu pedagang, punya toko dı rumah, toko kelontong, darı jarak yang engga begıtu jauh dr rumah ada mınımarket 2-.- jadı lumayan terımbas, padahal masıh kampung…toko orangtua jadı serıng sepı, untung bapak saya kreatıf, sekarang nyambı lagı buka usaha gılıngan tepung dan kelapa, jadı lumayan kalau toko sepı masıh ada pendapatan laın. Kontras banget dengan dı negara baru saya tınggal sekarang: pemerıntahnya yang sangat melındungı usaha rakyatnya, dekat apartemen saya ada mınımarket 2, tapı setıap senın ada paazar*pasar rakyat yang lokasınya menutup akses jalan besar* padahal sepanjang jalan ıtu, selaın mınımarket , ada 2 mall dan hypermarket dı ujung jalan besarnya, tapı ekonomı tetap jalan, dan pemerıntahnya kasıh kelonggaran buat pedagang dı paazar 1 mınggu sekalı ını. ga pedulı dekat hypermarket juga:)) pedagang gelar lapak dı depan mınımarket juga bıasa aja..hanya 1 hr dalam semınggu, apalagı dı kota kecıl, sangat protektıf sekalı, mall dan waralaba ınternatıonal pun masıh ke hıtung jarı, kecualı dı daerah2 wısata. masıh terkendalı dısını mınımarketnya.

    • untuk memutihkan dosa mereka dalam mengurangi rizki warcil sekitar, maka dibuatlah berbagai program penarik hati, seperti pemberian modal dan pelatihan. Memang yang bermasalah itu birokrasinya kok, mbak Rahma. Perijinannya gak beres. Dan, seperti info dari pak Iwan, sebagian besar minimarket tidak berijin. Salut atas kegigihan ayah mbak Rahma. Semoga berkah usaha beliau.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s