Tentang Kehidupan Anak (1)

[PORNOGRAFI ANAK] Tak perlu mengunggah foto anak-anak ke internet.  Foto anak-anak yang lucu menurut anda, bisa menjadi sangat menggairahkan di mata predator anak (Republika, 27 Maret 2012) 68% anak pernah mengakses media pornografi. 43% merasa jijik, dan 22% anak merasa biasa saja saat melihat materi pornografi. Tempat anak melihat materi pornografi, 40% di rumah/kamar pribadi, dan 12% di rumah teman. Alasan anak melihat media pornografi, 21% iseng, dan 19% penasaran (dari sumber yang sama).  Memang yang dijadikan contoh adalah foto anak yang terbuka. Misalnya anak 6 tahun cuma pakai handuk. Tapi konon tak tertutup kemungkinan foto sopan pun bisa dimanipulasi. Bahkan, akun yang disetting ‘for contact only’ kabarnya juga bisa ditembus. Intinya, kita harus cerdas dan hati2 dalam menyikapi kemajuan teknologi ini

Bayi tertawa 200 kali perhari, sementara orang dewasa hanya 15 kali per hari.

Para orang tua dihimbau untuk melakukan investasi kesehatan jiwa sejak dini kepada anak-anaknya. Caranya : diajari beradaptasi, tidak dimanja, dan tidak dituruti semua kemauannya (Menkes pada peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia).  Fyi, jumlah penderita gangguan jiwa di Jakarta adalah 14,1 % dari jumlah penduduk. Angka tersebut lebih tinggi dari angka nasional yang 11,6%.  Anak2 yang demikian umumnya tidak punya daya tahan terhadap stress. Meskipun, terjadinya gangguan jiwa bukan hanya karena dimanjakan. Dan tidak semua anak manja mengalami gangguan jiwa. Ada banyak faktor lain, termasuk genetik. Perilaku antisosial juga termasuk gangguan jiwa juga, sih. Misalnya, kenakalan, suka tawuran, mudah terjerumus ke narkoba, mencuri, dll.   Menurut penelitiannya dinkes “sumber stress org Jakarta adalah : stress di tempat kerja, kemacetan di jalan, persaingan, kegagalan, dan kurang kasih sayang ortu”. Itu semua adalah sumber stress yang umum sebenarnya. Cuma mungkin di Jakarta intensitasnya jauh lebih tinggi.

2 anak saya (SD dan SMP) berangkat sekolah dengan beban 4,5 kg di punggungnya. *protes pelajaran yg terlalu dipaksakan* *protes penerbit buku teks yg jor2an tebal dan harganya* Ditambah lagi bel masuk jam 06.30 (kebijakan Foke demi mengurangi macet, sementara ortunya yang kerja, jamnya malah disiangkan)…jadi jam 05.30 (di Jakarta masih gelap) anak-anak sudah pada keluar di jalan-jalan.  @mawaddah1985 : dulu pas SMP gak boleh bawa loose leaf buu.. bukunya harus satu per satu
belum lagi pas SMA, dibedain buku catatan, PR, latihan dan harus disampul coklat…
belum lagi buku paket, LKS
1 pelajaran 3 buku tulis… 1 buku paket, 1 LKS…
1 hari 3-5 pelajaran… 1 hari bawa berapa beban tuh,.. hihi@iahsunshine : kasian ya dok… belum lagi pelajarannya yang makin berat… saya sering juga temui anak-anak SD yang bawa tas troly…  @itsmearni : ya ampun beban anak sekarang
beban fisik dan psikologis

fisik : bawa buku tebel2 dan berat
psikologis : pelajarannya makin berat

hiks @subhanallahu : dibuat e-book aja semuanya Dok, entar bawa Ipad atau sejenisnya aja🙂

Tidak ada kaitan ilmiah antara warna dengan jenis kelamin anak [perempuan – pink; laki2 – biru]. Itu semua cuma untuk keuntungan bisnis.  69% balita yg memilih warna terang (merah/merah muda/biru) sebagai warna favoritnya, mengidentifikasinya sbg warna yg membangun rasa senang. Sisanya, 31%, memilih warna nuansa gelap (coklat, hitam, abu2), mengidentifikasikan dgn rasa sedih, depresi, dan murung. Sementara itu, MERAH adalah warna yg pertama dikenali bayi, setelah dia mampu membedakan hitam (gelap) dna putih (terang), pada usia 6 pekan – 2 bulan. Sedangkan KUNING merupakan warna yang paling terang untuk mata manusia, sehingga mudah dikenali balita. Anak yg tidur di kamar bernuansa warna HIJAU lembut, akan lebih nyenyak tidurnya. (Dept of child development, California State University, 2009, dikutip oleh Ayahbunda April 2012) @yudimuslim : baik dok!
sejak baca tulisan ini, saya terus mengenalkan warna2 primer ke anak. begitupun saya terus berkomunikasi secara sederhana dengan anak. Alhamdulillah ada sebuah perubahan yang baik.  @Diancambai : saya udah berusaha gak terlalu ketat urusan warna mbak. tp kl billa dpt hadiah atau kado dr sodara2, selaluuuu nuansa pink.. sy jg bete beli baju di mal, selalu rata2 nuansa pink utk cewe. walhasil si billa suka pink… ugh….😦 @myshant : tapi begitu bayi laki dipake’in warna pink, orang2 sekitar rame komen , “cowok kok dikasih warna pink”
pengen nampolin satu-satu …hihihihihi . @simplyindah :sama seperti mainan ya dok, ga harus juga kalo cowo main mobil dan cewe main boneka. Tapi dah terlanjur di masyarakat luas, kalo pink ya kesanya kecewe-cewean (padahal cewe sekarang lebih seneng ungu) nah kalo warna2 gelap lebih ke arah cowo

4 thoughts on “Tentang Kehidupan Anak (1)

  1. iya itu soal foto anak yang dipamerkan pernah dibahas di empi, apalagi saat mandi dan berenang.. kitanya harus waspada dengan meng-upload foto di dunia maya..

    soal tas punggung, kog ya jaman sekarang kebangetan.. setuju tuh kalu pake ipad saja..😀

  2. Dan himbauan kehati-hatian dalam mengunggah foto anak juga dibahas di majalah Ayah Bunda. Padahal majalah itu juga punya peran dalam memanasmanasi hati ibu untuk saling upload foto anak.
    Demikian juga soal beban anak sekolah. Baru sekarang diknas nyadar, mau menyederhanakan kurikulum SD. Tapi….itu berarti perubahan kurikulum, berarti lahan baru untuk bikin buku, dagang buku, dll. Oooh…

    • OK, mbak Mita. Semoga bermanfaat. Ini sebenarnya kumpulan QN (quick note) saya di MP. Saya kumpulkan yang setema dan kemudian diunggah bareng2 di WP. *benar2 kurang kerjaan ya*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s