[Ternate] Ke Daerah Konflik kok Bawa Keluarga?

Ya, pertanyaan itulah yang kami terima dari berbagai pihak saat kami mengumumkan akan melaksanakan tugas – wajib kerja  sebagai dokter spesialis – ke Ternate.  Maklumlah, waktu itu pertengahan tahun 2000.  Dan daerah Maluku selama setahun terakhir situasinya panas bergolak.  Beberapa kali konflik – perang saudara- pecah dengan hebat.  Bahkan keji.  Ujung-ujungnya provinsi tersebut dimekarkan dengan memecah Maluku (ibukotanya Ambon) dan Maluku Utara (beribukota Ternate).  Konflik tak kunjung henti. Dari Maluku merambat ke Maluku Utara, merambat lagi ke Maluku Tenggara.

Suatu malam, beberapa bulan sebelum keberangkatan, rumah kami kedatangan serombongan pengungsi asal desa Galela, Halmahera Utara.  Mereka terdiri dari beberapa perempuan dan anak-anak.  Cerita-cerita keji yang selama ini kami dengar lewat media massa, seperti pembantaian wanita hamil dan anak-anak bayi, malam itu kami dengar langsung dari mulut para saksi hidup itu.  Mungkin mereka mendengar aktivitas yang dilakukan suami saya dan teman-teman dari FKUI saat melakukan pelayanan medis di Tual, Maluku Tenggara sehingga akhirnya mereka mengunjungi rumah kami.  Salah seorang dari pengungsi tersebut akhirnya saya rekrut menjadi baby sitter untuk anak keempat saya yang waktu itu masih bayi.

Pertengahan 2000, hanya berbilang hari dari kelulusan suami saya sebagai dokter spesialis bedah tulang, dibukalah lamaran dari Depkes bagi dokter yang berminat untuk bergabung dalam tim Kesgab (Kesehatan Gabungan) antara Depkes-TNI untuk bertugas di daerah konflik Maluku Utara.   Menjelang penutupan pendaftaran, ternyata jumlah dokter masih kurang.  Sampai-sampai pihak depkes menelepon ke rumah (belum ada ponsel, yang ada cuma radio panggil alias pager) guna memastikan apakah kami jadi berangkat.  Kami memang pernah menyatakan berminat, tapi kalau mendadak pikir-pikir juga.  Anak empat, yang terkecil masih bayi, belum bisa jalan.  Yang pertama duduk di SMP Boarding School, dan yang kedua di kelas 6 SD sedang menghadapi UAS.  Kontrakan rumah habis, jatuh tempo di bulan yang sama, dan kami belum memutuskan pindah kemana?  Dihadang masalah yang bertubi-tubi tersebut, masih ditambah dengan pertanyaan seperti di awal tulisan ini.  Ya Allah…..mohon ditunjukkan jalan keluar. 

Yang berbahagia dengan penugasan ke Ternate ini tentu saja si baby sitter yang asli Halmahera itu. Betapa tidak, dengan kedudukannya sebagai baby sitter otomatis ia akan kami ajak dan itu berarti dirinya dapat pulang kampung dengan cuma-cuma.  Dan benar, Allah SWT memudahkan keberangkatan ini.  Kontrak rumah diperpanjang.  Anak pertama yang di boarding school ditinggal, dan anak kedua ditinggal sementara sampai ia menyelesaikan UAS.  Maka kamilah satu-satunya anggota tim kesgab yang berangkat dengan rombongan beranggotakan 5 orang : suami-istri, 2 anak kecil, dan 1 baby sitter!

Hari keberangkatan adalah hari yang berurai air mata.  Penyebabnya, kami meninggalkan 1 anak, perempuan satu-satunya, di rumah bersama budenya.  Sedangkan yang di boarding school relatif lebih tenang bagi saya untuk meninggalkannya.  Tapi the duty must go on! Sekarang atau nanti kewajiban ini harus ditunaikan.  Kami tidak mau punya hutang dengan rakyat dan negara.  Lewat Kesgab ini, kami dapat diskon 50% jangka waktu,  menjadi hanya 6 bulan. Sementara honornya juga di atas standar karena bertugas di daerah konflik.  Dobel bonus, bukan?

Dan sore itu mendaratlah pesawat  MNA jenis Fokker yang kami tumpangi di bandara Sultan Baabullah. Oya, di Manado tim Kesgab terpecah dua, ke Maluku (Ambon) dan Maluku Utara (Ternate).  Pesawat yang berkapasitas cuma 15 orang itu sukses bikin sakit telinga!
Kata si baby sitter , “Selamat Datang di kampung saya, Mi (ummi). Saya yakin si kecil ini akan segera jalan setelah di sini!” Sementara si kecil yang dibicarakan asyik ndheprok di pelataran landasan. Bersyukurnya, kami punya kenalan lama di tanah ini.  Mereka membantu kami dengan sebuah rumah di kawasan Kalumpang.  Sehingga kami tak perlu tinggal di Dharma Ibu (sebuah rumah sakit kecil yang tidak dipakai lagi akibat konflik, dan dijadikan asrama sekaligus posko tim Kesgab).

Malam itu….saya menghirup udara Ternate!
Esoknya, saya rasakan hangatnya matahari Ternate.  Sebuah pulau mungil bak mutiara di tengah laut.  Di tengah-tengah pulau, Allah menancapkan gunung Gamalama. Sehingga bagi warga Ternate, hanya ada dua arah, yaitu “ka gunung” dan “ka lao” (arah ke gunung dan arah ke laut).  Duduk di tepi jalan depan rumah, menengok ke kiri tampak sang gunung dengan gagahnya, dan menengok ke kanan tampak laut dengan riak keperakan tertimpa matahari.  Sungguh tak terbayangkan baru berbilang pekan silam, terjadi pertumpahan darah membasahi pulau elok ini.

Di kota, suasana masih berantakan.  Banyak rumah yang ditinggal penghuninya.  Gedung-gedung dengan kaca pecah,  kosong melompong tanpa aktivitas.  Beberapa diantaranya, termasuk sebuah gedung bioskop, dijadikan asrama pengungsi.  Mereka adalah warga dari pulau-pulau kecil di sekitar yang mengungsi ke dalam kota dikarenakan suasana yang lebih kondusif dibandingkan di kampung.

Tiba di rumah sakit umum yang bakal menjadi tempat tugas saya, seorang sejawat dokter bedah (juga anggota tim kesgab dari periode sebelum saya) mendekat.  Ia mengatakan bahwa selama tidak ada dokter kandungan, mau tak mau ialah yang bertanggungjawab terhadap bangsal kebidanan dan kandungan.
“Dan karena saya dengar ada dokter kandungan mau datang, sudah saya siapkan pasien pertamamu.  Wanita, pengungsi, melahirkan 3 hari yang lalu dan sampai sekarang plasentanya (ari2) belum lahir juga!”

He…he…he…Masya Allah!  Sebuah sambutan yang “manis”.     

NB. Terimakasih untuk keluarga besar Kasuba atas bantuan selama 2000-2001 di Ternate

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s