[Love Journey] Cinta di Gaza (2)

CINTA 2
Sudah ditetapkan bahwa tempat menginap  tim kemanusiaan BSMI adalah di rumah sakit Al Shifa.   Sedangkan saya, diinapkan di Al Shifa Maternity Hospital.  Saya dipersilakan duduk di ruang duduk sederhana sembari menanti kamar dibereskan.  Beberapa saat menunggu, terdengar suara ribut.  Dari arah kamar perawatan, rupanya.  Lalu keluar seorang pria berwajah kusut dan wanita yang menggendong bayi merah.  Mereka membawa beberapa baju dan selimut, bergegas pergi mengikuti perawat jaga.  Perawat lain membereskan kamar, dan sebentar kemudian mempersilakan masuk kamar.  Ditaruhnya selimut yang masih dalam bungkusan plastik.
“Maafkan kami, ini kamar pasien yang sedang tidak dipakai. Semoga bisa  beristirahat dengan nyaman”, ujar petugas dari manajemen rumah sakit.
Kamar itu sangat sederhana.  Dengan tempat tidur periksa yang tinggi dan berbunyi.  Dan aromanya sungguh tak dapat terlupa.  Aroma persalinan – darah campur ketuban – yang saya hafal betul.  Mereka tentu tak mempunyai persediaan air yang cukup untuk membersihkannya.  Ya, ini kota perang.  Rumah sakit ini adalah sentra perujukan korban agresi Israel selama 3 pekan. Jadi maklumilah tatkala kita harus mandi dengan air sedingin es, dan tanpa penerangan. Tapi aroma itu sungguh melekat dalam benak saya.  Dan bagi saya, itulah pertanda cinta.  Menggusur pasien, demi menghormati tamu dari negara lain yang jauh, Indonesia.



gambar 3. Di kamar rumah sakit

CINTA 3
Ada kunjungan ke sebuah universitas, yaitu Islamic University of Gaza.  Rombongan relawan dari berbagai negara disambut layaknya pejabat oleh jajaran civitas academica.  Diberikan piagam penghargaan layaknya pahlawan.
“Padahal….apalah yang kami lakukan”,  ujar beberapa anggota tim.


Dan, sekali lagi saya menemukan cinta itu.  Seusai acara seremonial, rombongan dipersilakan makan siang di kantin.  Anggota pria dan wanita terpisah.  Saya semeja dengan seorang bidan, dan dua orang dosen.  Hidangan yang mewah, menurut ukuran kota yang dalam keadaaan gencatan senjata pasca agresi, membuat saya terpancing untuk komentar.  Oya, hidangan itu adalah satu bungkus aluminium foil kebab komplit ukuran besar, sekotak nasi bryani beserta lauknya ayam mindi, sebotol air dan sekaleng coca cola!
Saya bisikkan kepada Abeer Barakat, sang dosen,
“Mengapa kalian menyuguhkan Coca Cola? Bukankah coca cola ini produk Amerika, dan sekaligus juga Yahudi?” “Tahu tidak.  Di  Indonesia, hampir setiap hari kami berdemonstrasi menentang agresi Israel atas Gaza. Dan kami berusaha untuk memboikot segala produk Yahudi.  Coca Cola salah satunya”.

Namun jawaban Abeer sungguh menyentuh hati.  “Ya sister, kami mendatangkan minuman ini lewat terowongan.  Kami mempertaruhkan nyawa untuk itu.  Demi bisa menjamu kalian, tamu-tamu kami yang datang dari negeri jauh”. Itulah cinta.


Meski belakangan saya tahu bahwa warga Gaza memang menggemari minuman cola.  Dan persahabatan dengan Abeer masih terjalin sampai hari ini. (nin)    
Keterangan foto (semua koleksi pribadi):

1. Kamar tidur di Al Shifa Maternity Hospital
2. Penyambutan di Islamic University of Gaza
3. Bersama para dosen wanita.  Abeer, yang pakai syal orange

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s