[WKS1] Kereta Rangkas – Jakarta, Bareng Kambing dan Kelapa

Memenuhi permintaan para ibu di MP (terimakasih untuk bu Julie [ http://bundel.multiply.com/%5D dan teh Dewi [http://rhedina.multiply.com/] yang telah menyemangati!), maka sebelum bercerita tentang saudara-saudara kita suku Baduy, ijinkan saya menuliskan kenangan tentang kereta Rangkas – Jakarta.  Kereta jurusan inilah yang dulu mengalami tragedi Bintaro dan terakhir…. pembakaran gerbong.


Kalau dilihat dari segi geografis, sebenarnya jarak antara Rangkasbitung dan Jakarta tidak jauh.  Hanya sekitar 90 kilometer.  Dan itu bisa ditempuh dalam waktu sekitar 2 jam. Di masa kami WKS jalan tol Jakarta – Merak belum dibangun.  Maka, sarana transportasi yang paling sering  digunakan adalah kereta api, dan bus.  Kami lebih sering berkereta api, meski dari segi kenikmatan  lebih rendah (sedikit) dari bus. Artinya, naik kereta api tidak nyaman, sedangkan naik bus kurang nyaman.

Kenapa lebih sering jadi orang sepur? Itu semata karena akses ke stasiun Tanah Abang lebih mudah dari rumah (mertua) yang berlokasi di kawasan Pasar Rebo.   Kalau naik bus, maka kita terlebih dahulu harus menuju ke terminal Kalideres, dimana perjalanan Cililitan – Kalideres sudah merupakan perjuangan tersendiri.  Demikian pula teman-teman sejawat para dokter di Kabupaten Lebak yang lain.  Mereka rata-rata tidak berminat untuk tinggal di puskesmas, jadi banyak yang jadi penumpang commuter dengan kereta api Rangkas –Jakarta ini.


Ada 2 jenis kereta, langsam dan patas.  Patas tentu lebih nyaman, namun hanya ada 1 pemberangkatan siang hari.  Maka kami pun lebih sering menunggang kereta langsam.  Di setiap stasiun, seberapa pun kecilnya, akan disambangi.    Alhasil, kereta ini setiap 15-30 menit pasti berhenti.  Dan  uniknya, selalu saja ada yang naik maupun turun di setiap stasiun pemberhentian.


Pada sebuah stasiun, naiklah seorang pedagang dengan menuntun sepeda.  Sementara itu, di dalam sudah ada 2 ekor kambing plus rerumputannya.  Karena anak-anak takut dengan embikan kambing yang jaraknya cuma sejangkauan tangan kecilnya itu, maka kami pun beringsut lebih ke dalam.  Siapa tahu lebih lega.  Aah … ada juga ruang kosong di sebelah sana!  Dan, kami jumpai seorang pedagang kelapa sedang duduk selonjoran di atas ratusan buah kelapa bawaannya.  Pantas tidak ada orang di pojokan sini, rupanya kelapa yang bergelundungan memenuhi lantai kereta!

Naik kereta langsam begini tidak perlu terlalu banyak bawa bekal.  Buat apa? Toh, mau apa saja ada yang jual.  Kalau sekedar minuman panas, hangat, maupun dingin plus makanan kecil itu sudah biasa.  Jual majalah, koran, buku TTS, buku agama, semir sepatu juga sudah jamak.  Demikian juga peminta-minta sumbangan. Dari yang model tembak langsung pakai kaleng/kotak, ceramah dulu, atau bagi-bagi amplop, silakan pilih sendiri.   Yang unik, penjual baju bahkan cd dan perlengkapannya tidak sungkan-sungkan berpromosi 5 ribu tiga!  Kereta pun bisa berfungsi sebagai pasar hewan.  Karena bukan hanya kambing seperti yang saya sebutkan tadi, melainkan ada juga burung, ayam, itik,menthog, dan lain-lain.

Meski terkadang menjengkelkan, tapi ternyata toserba a la kereta langsam ini ada manfaatnya juga.  Pada suatu Sabtu siang yang terik,  kami bermaksud pulang kampung ke Jakarta.  Anak-anak sudah agak lelah dan mengantuk setelah 1 jam lewat menempuh perjalanan berdesakan dari Leuwidamar ke Rangkasbitung.  Sampai di kereta mereka minum Fanta (sst…waktu itu terkadang masih suka minum soft drink macam begini.  Kalau sekarang sudah stop!).  Saat kereta mulai beringsut, penumpang yang berjubel, berbaur dengan bermacam bau-bauan membuat salah satu anak muntah.  Maka basah dan merahlah semua bajunya, termasuk baju saya.  Hmmmm…..salah sendiri tidak bawa baju ganti!   Alhamdulillah, lewat pedagang baju anak-anak.  He..he..akhirnya dengan limaribu rupiah sudah dapat sepotong kaos anak sablonan yang cukup bagus. Lumayan buat ganti. Yang paling sengsara kalau kemalaman di kereta.  Tidak ada lampu! Penerangan berasal dari lilin para pedagang asongan. Mereka memasang lilin dan dikurung dengan gelas plastik bekas kemasan air minum.
Mau lebih sengsara lagi??  Sudah kemalaman, hujan pula.  Keadaannya sama.  Gelap-gelapan plus kelap-kelip lilin,  bonus tampiasan air hujan dari jendela kereta yang macet tidak bisa ditutup (nin)

nb. Semoga pak DI tidak perlu ngamuk lagi untuk membenahi transportasi negeri ini.

Sumber gambar :

mediaindonesia.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s